romantis

Sweet in Passion – Chapter 15 (End)

wattpadsipSweet in Passion

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

 

Chapter 15(End)

 

Apa kamu mendengarku? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku bahkan bisa gila jika tidak melihatmu.” kata Randy lagi dengan penuh penegasan.

“Tidak! Mana mungkin kamu, kamu-” Febby tidak dapat berkata-kata lagi.

“Ya, itu memang tidak mungkin untuk Randy yang dulu, tapi Randy yang berada di hadapanmu adalah Randy yang berbeda. Randy yang bodoh, yang bisa dengan mudahnya jatuh ke dalam pesonamu. Randy yang gila hanya karena tergoda olehmu, Randy yang bisa mati hanya karena tidak bersamamu. Aku mencoba menyembunyikan semuanya darimu, tapi sepertinya aku gagal, perasaanku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, apalagi ketika aku melihatmu dengan lelaki lain.” jelas Randy panjang lebar.

Lagi-lagi Febby tak dapat berkata apa-apa. Dirinya terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang seakan-akan ingin meledak karena pernyataan cinta yang sedang di ungkapkan oleh Randy.

“Febb, maafkan aku, aku tahu aku bersalah, mari kita mulai semuanya dari awal, aku mohon.” Randy menggenggam telapak tangan Febby dan memohon dengan tulus.

“Tidak! Aku tidak bisa.” jawab Febby sambil melepaskan genggaman tangan Randy dan berpaling membelakangi Randy.

Randy benar-benar sangat terkejut dengan penolakan yang di berikan oleh Febby. Baru kali ini dirinya ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.

“Aku tidak bisa memulainya dari awal karena itu tandanya aku harus menghapus dan melupakan semua waktu yang sudah kita lalui selama ini, aku tidak bisa, karena semua waktu itulah yang membuatku mencintaimu.” kalimat terakhir Febby membuat tubuh Randy menegang dan kaku seketika.

Febby lalu membalikkan badannya kembali untuk menghadap Randy. Ia kemudian mendaratkan telapak tangannya tepat pada dada bidang Randy.

“Aku tidak bisa melupakan semuanya, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah kita mulai, dan aku pikir, aku tidak akan bisa mengakhirinya nanti.” ucap Febby dengan sedikit menunduk dan masih merabakan kedua telapak tangannya pada dada Randy.

Febby terlihat sangat malu mengatakan kalimat-kalimat yang tadi baru saja ia ucapkan. Astaga, seumur hidupnya ia tidak pernah mengatakan kata-kata menggelikan seperti itu.

Berbeda dengan Randy, perkataan Febby tersebut membuat Randy semakin tidak dapat menahan diri. Diraihnya pinggang Febby lalu disambarnya bibir Febby, mengulumnya, menuntutnya seakan-akan Randy hanya bisa bertahan hidup dengan ciuman Febby.

Febby sendiri mulai mengerang, mendesah hanya karena ciuman yang di berikan oleh Randy. Randy  benar-benar mempengaruhinya. Lelaki di hadapannya  ini benar-benar terlihat panas dan menggoda,

Astaga, sejak kapan Febby menjadi semesum ini? Sejak kapan di dalam otaknya hanya terpikirkan kata bercinta, bercinta dan bercinta saja? Apa karena hormon kehamilan yang mempengaruhinya? Ya, tentu saja karena hormon sialan itu. Pikir Febby.

Randy mulai menjalankan jari jemarinya di seluruh punggung Febby, menggodanya, membuat Febby merinding hanya karena sentuhan yang di berikan oleh Randy.

Randy lalu mulai membuka resleting baju Febby yang berada di punggung belakangnya. Sedikit demi sedikit tanpa melepaskan ciumannya. Randy mulai mencumbui rahang hingga leher Febby, dan itu membuat Febby semakin menggila.

“Kamu, Uuggh, mau apa?” Tanya Febby yang masih memejamka matanya, menikmati semua cumbuan dari Randy.

“Mau apa lagi? tentu saja kita akan bercinta.” jawab Randy dengan santai masih dengan mencumbui tengkuk leher Febby.

“Apa? Astaga, Ran.” Febby terlihat seakan-akan susah berkata-kata.

“Hemm.” Hanya itu jawaban Randy yang saat ini sudah mulai menurunkan baju Febby. Dan meremas gundukan yang berada pada dada Febby.

“Kita,  tidak boleh, melakukannya.. eemmpptt..” Febby  menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan gairahnya.

“Kenapa?”

“Karena aku, hamil.” Kata Febby dengan susah payah.

Randy menghentikan cumbuannya seketika dan mulai memandang Febby dengan tatapan tajamnya.

“Apa orang hamil dilarang bercinta?” tanya Randy  penuh dengan penekanan.

Febby yang sudah setengah telanjangpun akhirnya salah tingkah dengan tatapan yang di berikan oleh Randy.

“Uum, tidak, hanya saja-” Febby tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi ketika Randy kembali menyambar bibirnya.

Randy lalu melepaskan ciumannya “Kita hanya main-main sebentar, aku yakin itu tidak akan mengganggunya.” Kata Randy yang saat ini sudah meloloskan seluruh pakaiannya membuat Febby berpaling dari pandangan indah di hadapannya itu.

“Uum, tapi itu kurang bagus, karena usia kandunganku masih rawan.”

“Astaga,kita hanya sebentar sayang, aku janji tak akan menyakitimu.”

“Tapi-”

“Demi Tuhan Febb. apa kamu ingin membuatku gila? Aku sudah hampir meledak, dan astaga,  jika menikahi dokter akan sesulit ini aku tidak akan pernah mau menikahi dokter lagi.” Gerutu Randy dengan kesal.

“Baiklah.” Febbypun akhirnya mengalah. “Sekarang bagaimana? apa kita disini?” tanya Febby sedikit canggung dan gugup.

Randy tersenyum menyeringai. “Tentu tidak sayang, kita butuh suasana baru.” Kata Randy yang lalu mengangkat tubuh Febby dan  membuat Febby terpekik karenanya.

Randy menurunkan Febby di ruangan khusus yang di sediakan Randy untuk memajang koleksi-koleksi pakaiannya, tepat di depan kaca besarnya. Randy lalu melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Febby dengan sensual hingga saat ini Febby berdiri dihadapannya tanpa sehelai benangpun sama seperti dirinya. Randy menatapi setiap jengkal dari tubuh Febby, membuat Febby salah tingkah karenanya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Aku hanya sedang mengamati makananku.”

“Apa? Makanan?”

Randy lalu tersenyum melihat ekspresi Febby. “Aku ingin bercinta denganmu, dengan menggunakan perasaan, aku tidak hanya menginginkan seks. Jadi kumohon nikmatilah semua ini.” Kata Randy sambil mendekatkan diri pada diri Febby dan mulai mencumbu Febby penuh dengan gairah. Jari jemari Randypun sudah menggoda kedua payudara sintal Febby, membuat Febby semakin menikmati permainan ini.

Cukup lama keduanya saling mencumbu saling menyentuh satu sama lain membuat keduanya semakin bergairah dengan permainan ini. Randy lalu membalikkan tubuh Febby hingga membelakanginya, dan menghadapkan tubuh mereka berdua pada kaca besar yang berada di hadapan mereka. Randy  lalu mencumbui setiap jengkal punggung halus Febby, dan meninggalkan jejak-jejak basah di sana.

Tanpa menunggu lagi Randy mengangkat Sebelah paha Febby lalu menenggelamkan diri sepenuhnya pada pusat diri Febby dari belakang, membuat Febby terpekik karena sensasi yang di rasakannya.

“Astaga, uugh, Apa yang kamu lakukan? Astaga.”

Randy sedikit tersenyum menggoda Febby. “Aku ingin percintaan kita kali ini menjadi percintaan yang paling erotis. Lihat dihadapanmu, aku ingin kamu melihat betapa seksinya dirimu dan betapa panasnya diriku saat berada didalam dirimu.” kata Randy sambil menunjuk kaca di hadapan mereka.

“Aku ingin kita berdua sama-sama menyaksikan apa yang sedang kita lakukan.” lanjut Randy lagi sambil memulai aksinya membuat Febby mendesah tak keruan.

Febby sudah tak dapat berkata-kata lagi. Ia terlalu sibuk dengan peraasaan dan gairah yang bercampur aduk didalam dirinya. Astaga, Randy benar, bercinta di depan kaca benar-benar sangat seksi dan erotis, membuat Febby tak dapat menahan dirinya sendiri. Satu tangan Randy mulai menggenggam jemari Febby yang berpegangan pada kaca di hadapannya. Randy juga masih mencumbui punggung dan tengkuk Febby tanpa menghentikan aksinya.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Randy di sela-sela cumbuannya.

“Astaga, ini, uugghh, ini benar-benar seksi.” desah Febby dengan susah payah.

“Apanya yang seksi, sayang?” Randy tak mau berhenti menggoda.

“Tubuhmu, yang berkeringat.”

“Kamu menyukainya?”

“Sangat suka.”

Randy lalu tersenyum. “Istriku yang nakal.” dan Randy akhirnya mempercepat lajunya masih dengan mencumbui punggung serta pundak Febby. Yang dilakukan Febby hanyalah mendesah pasrah sambil memejamkan matanya, menikmati setiap detik percintaan panasnya dengan Randy. Astaga, Randy benar-benar membuat Febby gila dan liar saat ini.

“Aku akan Sampai.” kata Randy lagi lalu dia menolehkan kepala Febby ke belakang dan melumat habis bibir Febby tanpa ampun ketika gelombang kenikmatan itu datang menghantam mereka.

Randy masih melumat bibir Febby meski mereka sudah tak menyatu lagi dengan tubuh wanita tersebut. Febby bahkan sudah terengah-engah hampir kehabisan napas. Dilepasnya cumbuan tersebut, dilihatnya Febby yang penuh dengan keringat yang astaga, membuat Randy menegang dan  menginginkannya kembali.

“Sialan!!” umpat Randy. Febby mengernyit mendengar umpatan Randy. “Aku tidak mengumpat terhadapmu, sayang, aku mengumpat pada diriku sendiri.”

“Dan apa kamu bisa menghentikan umpatan-umpatan itu dihadapanku? itu tak baik untuk bayi kita.”

“Astaga, aku bahkan hampir lupa jika kamu sedang hamil dan  kita akan memiliki bayi.”

“Ya, karena kamu terlalu sibuk dengan selangkanganmu” gerutu Febby sambil bergegas menjauhi Randy, tapi baru berapa langkah, Febby hampir terjatuh jika Randy tidak meraihnya.

“Apa kamu bisa lebih berhati-hati?”

“Ini semua salahmu! kamu membuatku hampir tidak bisa jalan karena lemas.”  Febby berbalik memarahi Randy.

Randy menghela napas panjang, mulai saat ini sepertinya dirinya harus lebih sabar meghadapi sikap Febby.

“Baiklah, aku memang bersalah Nyonya Prasaja, maafkan aku.” kata Randy yang kali ini sudah mengangkat tubuh Febby dan menggendongnya menuju ke atas ranjang di kamarnya.

“Kamu mau apa?”

“Mau apa lagi, tentu saja menidurkanmu.”

“Aku bisa tidur sendiri.”

“Hei, kamu tidak perlu gugup seperti itu. Kita sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing Jadi jangan berharap aku membiarkanmu memungkiri perasaanmu sendiri lagi.” Lalu Randy akhirnya membaringkan tubuh Febby di ranjang dan menyelimutiya. “Istirahatlah dulu, aku akan membuatkanmu makanan lalu aku akan membersihkanmu nanti.” lanjut Randy.

“Kenapa kamu perhatian sekali?”

“Astaga, apa bisa kamu tak banyak tanya dan hanya menikmati semua ini?”

“Tapi kamu terlihat aneh.” kata Febby sambil tersenyum.

“Ya, sekarang aku memang aneh. Karena aku menjadi lelaki bodoh yang tunduk dengan istrinya, apa kamu puas?”

Dan Febbypun hanya tersenyum mendengar pernyataan Randy. Randypun dengan santainya mengecup kening Febby, membuat Febby dirayapi oleh perasaan aneh di sekujur tubuhnya. Astaga, Randy manis sekali.

***

Setelah memasak dan mandi bersama Randypun membawakan Febby sebuah nampan yang penuh dengan makanan. Ada sebuah sup jagung, salad buah,  dan beberapa makanan lainnya. Randy tak lupa membuatkan Febby segelas susu. Astaga, sejak kapan Randy berubah menjadi lelaki yang perhatian dan manis seperti sekarang ini?

Randy masuk ke dalam kamar mendapati Febby duduk santai di atas ranjang masih dengan mengenakan kimono tidurnya.

“Ayo buka mulutmu, Haa…” Kata Randy yang saat ini sudah duduk di pinggiran ranjang dengan tangan yang sudah siap menyuapi Febby layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya.

Febby yang melihat tingkah laku Randy hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.  “Kamu menggelikan sekali.”

“Menggelikan? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.”

“Kamu tidak perlu seperti ini,  lagi pula aku hanya hamil, bukan sakit keras, jadi aku bisa makan sendiri.”

“Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu, apa kamu tidak ingin kita menjadi pasangan suami istri romantis seperti pada umumnya?”

“Sepertinya itu tidak akan terjadi, aku bukan tipe wanita romantis.”

“Benar, karena kamu wanita yang sangat kaku dan membosankan.” Kata Randy sambil tersenyum menggoda, sedangkan Febby hanya bisa membulatkan kedua matanya ke arah Randy. “Tapi aku mencintaimu, aku mencintaimu karena kamu kaku dan membosankan.” lanjut Randy lagi yang langsung membuat kedua pipi Febby memerah.

“Kamu tidak perlu mengucapkan kalimat itu lagi.” Kata Febby dengan malu-malu.

“Kenapa memangnya?”

“Kamu tahu? Aku malu saat kamu mengatakan ‘aku mencintaimu, aku mencintaimu,’ dan itu membuat jantungku seakan-akan ingin meledak.”

Dan tertawalah Randy dengan lebarnya saat mendengar pernyataan Febby.

“Febb, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu.” Kata Randy masih dengan tertawa.

Lalu setelah itu keduanyapun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ran.” Febby mulai membuka suara.

“Hemm..” Jawab Randy sambil menatap Febby dengan penuh perhatian.

“Bagaimana hubunganmu dengan Marsela?” Febby  mencoba untuk bertanya tentang masalah pribadi Randy, karena baginya masalah pribadi Randy sekarang juga akan menjadi masalah pribadinya.

“Aku sudah mengatakan padamu jika kami sudah berpisah. Aku tidak bohong mengenai itu.”

“Tapi kamu akan menyaitinya.”

“Lebih baik aku menyakitinya sekarang dari pada nanti, dan aku juga tak ingin menyakitimu, menyakiti hatiku, dan juga menyakiti hati orang yang mencintai Marsela.”

Febby mengangkat sebelah alisnya. “Orang yang mencintai Marsela?”

“Kamu tidak perlu tahu, tapi kuharap mereka nanti bisa bersatu dan bahagia.”

“Tapi, apa kamu benar-benar tidak menyesal memutuskannya? Maksudku, apa kamu tak takut jika perasaanmu ini hanya sementara saja denganku?”

“Apa kamu gila? Perasaan ini benar-benar perasaan nyata, aku bahkan sudah merasakan perasaan ini selama beberapa bulan terakhir, hanya saja aku terlalu malu mengakuinya padamu. Dan kumohon percayalah, perasaan ini benar-benar nyata untukmu.”

Febby lagi-lagi  hanya ternganga mendengar pernyataan dari Randy. Ini sudah seperti mimpi baginya, menikah dengan Randy karena dijodohkan, Febby tak pernah berfikir mereka akan berakhir saling mencintai mengingat sifat keduanya yang sama-sama keras kepala bahkan selalu bertengkar bagaikan kucing dan tikus.

“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy dengan nada sedikit menyindir.

“Astaga, apa kamu bisa berhenti menyebutnya lelaki bajingan? Brian orang yang sangat baik, tahu!”

“Aku tidak peduli.”

Febby menghela napas panjang. “Kami tidak ada hubungan apa-apa.” kata Febby jujur.

“Benarkah?” Randy masih tak percaya.

“Dia memang menyatakan cinta terhadapku, tapi aku sudah mengatakan padanya jika aku mencitaimu, dan aku hanya menganggapnya sebagai teman atau saudara saja.”

“Tapi kamu pernah mengatakan jika kamu dan dia pernah berciuman. Apa itu benar?” Randy masih mendesak seakan menuntut kebenaran.

Febby menelan ludahnya dengan susah payah karena tak tahu harus menjawab apa.

“Hehehehe,  itu, karena aku terlalu terbawa suasana.” kata Febby  pelan  sambil sedikit menyunggingkan senyuman anehnya.

“Apa?! Jadi kalian benar-benar sudah berciuman?!” teriak Randy.

“Iya, maafkan aku.”

“Kamu benar-benar keterlaluan!” Randy berkata dengan nada yang di buatnya marah.

“Hei, bukankah kamu lebih parah? Kamu bahkan bercinta dengan wanita lain saat kita sudah menjadi suami istri.” kali ini Febby yang pura-pura marah terhadap Randy.

Kini giliran Randy yang menelan ludahnya dengan susah payah, sepertinya ia memang harus mengalah menghadapi Febby, jika tidak, Febby akan gampang sekali meledak-ledak.

“Aku kan sudah minta maaf.” ucap Randy memelas.

“Baiklah, berarti kita sudah impas. Lagi pula aku benar-benar tidak ada hubungan yang spesial kok dengan Brian.” kata Febby kemudian. “Lalu bagaimana dengan film terbarumu dengan Marsela? Apa hubungan kalian sekarang tidak akan mengganggu film itu?”

Randy lalu memeluk Febby. “Kamu tenang saja, film itu masih tetap berlanjut, aku akan tetap berakting dengannya seprofesional mungkin. Apa kamu tau, ini bukan yang pertama untukku?”

Febby mengerutkan keningnya. “Bukan yang pertama? Apa maksudmu?”

“Dulu aku sering bercinta dan menjalin hubungan dengan lawan mainku dalam sebuah film, hubungan kamipun berakhir sebelum film itu selesai di garap, dan aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”

“Apa? Jadi kamu sudah bercinta dengan banyak wanita?!” Teriak Febby sambil  melepaskan pelukan Randy membuat Randy terpekik kaget dengan perubahan suasana hati Febby.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Lagi pula bukankah kamu sudah membaca semua gosip tentang skandalku?” kata Randy santai.

“Pergi dari sini! Pergi! Pergi!” ucap Febby yang kini sudah memukul-mukul Randy dengan bantal dan guling mereka.

“Hei, apa yang kamu lakukan? Aku hanya berusaha jujur padmu.”

“Aku tidak peduli, pergi! Pergi!” Febby masih saja memukuli Randy dengan bantal. Membuat keduanya terlihat seperti anak kecil yang sedang main perang-perangan.

***

Beberapa bulan kemudian…..

Febby merasa sangat gugup ketika dirinya berada dalam situasi seperti saat ini. Dalam keadaan perut buncit dengan seluruh mata tertuju padanya, Randy yang berjalan di sebelahnya menggenggam tangan Febby dengan erat seakan-akan mengatakan jika semua akan baik-baik saja.

Mereka berdua kini sedang menghadiri acara pemutaran perdana film “Passion of Love”, Film yang dibintangi Randy dan Marsela.

Febby gugup karena setelah pemutaran perdana nanti, akan ada sesi konferensi pers para pemainnya terutama Randy, dan mau tak mau Febby ikut dalam konferensi pers tersebut karena ia istri Randy. Belum lagi kabar yang belakangan ini ramai di gosipkan karena kedekatannya dengan rival Randy, yaitu Brian.

Ya, gosip kedekatan Febby dan Brian belum juga menghilang dari permukaan karena baik Febby atau Brian memilih bungkam tak memberikan komentar atau klarifikasi apapun mengenai itu. Randy melarang Febby untuk melakukan klarifikasi karena itu mungkin saja akan mengganggu kehamilan Febby. Randy bahkan berkata jika dirinyalah nanti yang akan melakukan konferensi pers terkait kabar kedekatan Febby  dengan Brian.

Akhirnya pemutaran perdana itupun selesai juga, Febby sedikit kesal melihat adegan demi adegan mesra yang dilakukan Randy dengan Marsela, mungkin karena hormon kehamilannya yang membua Febby menjadi lebih sensitif dengan keadaan di sekitarnya.

Saat ini mereka sudah duduk menghadap puluhan wartawan yang sedang meliput mereka, pertanyaan demi pertanyaanpun di jawab dengan baik oleh para pemain tak terkecuali Randy. Hingga akhirnya pertanyaan itupun  keluar dari salah seorang wartawan, wartawan yang bernama Amar, wartawan yang selalu mengorek apapun kabar kehidupan pribadi Randy, Randy bahkan sempat berpikir, apa wartawan itu terlalu mengidolakannya hingga selalu mencari masalah terhadapnya? Yang benar saja.

“Randy, bagaimana hubunganmu dengan Marsela? Kami pikir kalian ada dalam suatu hubungan.” Randy sedikit menegang dengan pertanyaan tersebut, sebenarnya ia tak tahu harus menjawab apa, ia tidak mau menyakiti perasaan Febby ataupun Marsela.

“Aku pikir semuanya sudah jelas jika aku dan Randy tidak ada hubungan apa-apa, kami sebatas rekan kerja.” kata Marsela yang tiba-tiba menjawab pertanyaan wartawan tersebut dengan tegas,  membuat Randy dan seluruh yang ada di ruangan tersebut terkejut dengan jawabannya.

“Ran, apa aku boleh sedikit bercerita dengan mereka?” tanya Marsela pada Randy dengan sedikit menyunggingkan senyuman.

Randy melihat Febby seakan-akan ingin meminta persetujuan dengan Febby, dan Febbypun hanya bisa mengangguk menyetujui permintaan Marsela.

Dan Marsela akhirnya mulai bercerita. “Sebenarnya kalian benar, dulu kami memang sempat menjalin kasih, tapi hubungan kami itu sudah lama retak dan berakhir. Jadi aku mohon berhenti membuat skandal tentang kami, Randy sudah bahagia bersama istrinya yang baik, dan akupun sudah bahagia bersama dengan pasanganku. Jadi sekali lagi kumohon berhenti membuat gosip tentang kami.”

“Lalu di mana pasanganmu saat ini, Marsela?” tanya seorang wartawan lagi.

“Ya, kami tidak akan percaya begitu saja sebelum ada bukti nyatanya.” Tambah seorang wartawan lagi. Dan ruangan itupun semakin gaduh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kekasih Marela. Wajah Marsela memucat karena ia mulai merasa tersudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, Marsela tahu jika dirinya tidak akan mampu menjawab satupun pertanyaan  yang dilontarkan wartawan tersebut karena mungkin saja Chiko tidak mau hubungannya dengan Marsela terekspos di depan publik. Ya, Marela mulai menjalin hubungan dengan Chiko, meski ia sendiri tidak yakin, hubungan apa itu namanya.

“Akulah kekasihnya.” Dan suara gaduh itupun berhenti ketika seorang Chiko Febrian datang menghampiri Marsela dan meraih pinggang Marsela sambil mengatakan kalimat tersebut dengan tenang.

“Chiko Febrian? Itu, itu sepertinya tidak mungkin. Bukankah anda seorang-” salah seorang wartawan berkata dengan terpatah-patah saking terkejutnya.

“Aku tidak peduli apapun yang kalian gosipkan, tapi aku dan Marsela memang sedang menjalin suatu hubungan, bahkan kami akan melaksanakan pernikahan akhir tahun nanti.”

“Apa?” Banyak arang di ruangan tersebut saling pandang tak percaya dengan pernyataan Chiko yang mengejutkan tersebut. Marselapun demikian sama terkejutnya dengan pernyataan Chiko. Menikah? Yang benar saja.

“Wah, bagus sekali, ini benar-benar kabar yang membahagiakan, selamat Big bro.” kata Randy sambil berdiri dan tersenyum lebar serta menyalami Chiko. Randy merasa berterima kasih dengan hadirnya Chiko, dengan begitu dia tak lagi di sangkut pautkan dengan Marsela. Astaga, enak sekali hidupnya.

Dan semua orang di dalam ruangan itupun bertepuk tangan memberikan selamatnya pada Marsela dan Chiko. Tapi ada seorang wartawan yang sejak tadi memperhatikan ekspresi kurang nyaman dari Febby, siapa lagi jika bukan Amar, wartawan yang gemar sekali membuka skandal orang di hadapan publik.

“Nona Febby, sepertinya kali ini giliran anda untuk menjawab, ada hubungan apa anda dengan Brian Winata? Seperti yang di kabarkan beberapa bulan terakhir, apa benar jika anda memiliki skandal dengan penyanyi tersebut?” tanya wartawan tersebut yang sontak membuat seluruh isi ruangan kembali hening dan mengalihkan pandangan ke arah Febby.

“Uumm, saya, saya.-” Febby  benar-benar terlihat gugup.

Randy lalu menggenggam telapak tangan Febby seakan-akan memberi kekuatan untuk Febby.

“Istriku tidak ada hubungan apapun dengan Brian.” jawab Randy dingin dan dengan ekspresi kerasnya membuat siapapun yang memandangnya bergidik.

“Tapi,  kejadian waktu itu-” kata seorang wartawan yang seketika menghentikan kalimatnya saat Randy menatapnya dengan tatapan sangarnya.

“Mereka hanya berteman, saat itu Febby dan aku memiliki masalah, dan Febby hanya berusaha untuk bercerita dengan Brian tentang masalah kami. Akhirnya Brianlah yang membantu menyatukan kami kembali.” Randy mau tak mau sedikit berbohong dengan pernyataannya kali ini.

“Membantu? Bukankah kalian adalah Rival?”

“Hahaha siapa yang bilang seperti itu? Bukanya kalian sendiri yang mengabarkan seperti itu. Kami menjadi Rival hanya dalam Film ‘Lady Killer’, Sebenarnya aku dan Brian adalah teman akrab.” kata Randy sesantai mungkin lengkap dengan tawa mengejeknya.

“Teman akrab? Apa itu benar?” banyak yang menyangsikan, tentu saja.

“Tentu saja benar, bahkan lusa aku dan Febby berencana untuk menonton konser Brian bersama-sama. Benar, kan sayang?” tanya Randy pada Febby. Febby sendiri hanya sedikit tak percaya dengan pernyataan Randy tersebut.

Febby memang sudah mengidamkan untuk melihat konser solo Brian yang akan dilaksanakan lusa, Febby bahkan sudah meminta Randy menemaninya tapi Randy menolaknya mentah-mentah. Tapi kenapa pernyataan Randy saat ini berbanding terbalik? dan Febbypun hanya bisa mengangguk pesrah dengan pertanyaan Randy tadi.

“Tapi menurut kabar kalian kan tidak akur? ini terlihat seperti sandiwaramu saja.”

“Terserah apa kata kalian, lagi pula tidak ada gunanya juga aku bersandiwara di depan kalian. Karena setelah film ini, aku vakum selamanya dari dunia pertelevisian.”

Dan setelah penyataan Randy tersebut semua orang yang di dalam ruangan tersebut menjadi sedikit gaduh, banyak dari mereka yang bertanya-tanya apa benar apa yang dikatakan Randy barusan.

“Ran, apa yang kamu bicarakan? Kamu tidak perlu sejauh ini.” lirih Febby sedikit berbisik ke arah Randy.

“Tenang saja, semuanya sudah kupikirkan masak-masak.” Randy kembali berbisik ke arah Febby. “Terimakasih untuk para teman-teman semua, para kru-kru yang pernah membantuku, para fansku, dan juga para wartawan yang selalu memperhatikanku. Terimakasih atas bantuannya selama ini.” kata Randy dengan tulus dan penuh hormat sambil menyunggingkan senyumannya.

“Randy, apa benar yang tadi anda sebutkan jika anda akan berhenti selamanya dari dunia hiburan.” tanya salah satu wartawan lagi untuk memastikan.

“Ya, saya benar-benar akan berhenti.” jawab Randy sambil menarik tangan Febby ntuk mengikutinya pergi.

“Permisi..” lanjutnya sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“Ran, lalu bagaimana dengan kontrak-kontrak kerjamu?”

“Ran, apa alasanmu berhenti?”

“Ran, bisakah anda jelaskan secara detail kenapa anda berhenti?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan wartawan yang  di abaikan begitu saja oleh Randy, Randy sendiri sudah tak peduli dengan apa yang akan ditulis wartawan tentang dirinya nanti, yang terpenting, ia akan menata kembali kehidupan rumah tangganya bersama dengan Febby dan calon bayinya tanpa adanya skandal murahan yang akan menggaanggu keharmonisan keluarga kecil mereka nantinya.

***

“Apa kamu tidak apa-apa? kenapa kamu diam saja?” tanya Randy yang saat ini sudah berada di dalam mobil.

“Uum, aku hanya tidak habis pikir denganmu.”

“Apa ada yang salah denganku?”

“Tidak, hanya saja, apa benar kamu akan berhenti dari dunia yag membesarkan namamu itu?”

“Kamu pikir aku bercanda? Aku benar-benar akan berhenti.”

“Tapi kenapa?”

“Tentu saja karena perusahaan keluargaku sudah membutuhkanku. Kamu tahu sendiri, bukan,  jika Kakakku tidak mungkin mau mengurus perusahaan  tersebut, jadi jika bukan aku siapa lagi?  Lagi pula bukankah ini tujuan keluargaku saat menjodohkan kita? Aku hanya ingin berterimakasih dengan Papaku, karena dia, aku memiliki istri yang baik dan cantik sepertimu.” Kata Randy sambil mencubit pipi Febby dan itu membuat Febby tersipu malu dengan pujian Randy. “Dan tentuya, istri yang seksi dan panas saat di ranjang.” lanjut Randy  lagi dengan tertawa cekikikan.

“Hei! Apa kamu bisa sekali saja menghilangkan otak mesummu itu, Mr. Prasaja?” Dan Randypun hanya tertawa melihat ekspresi Febby yang merah padam karena perkataannya.

***

“Randy, minta fotonya dong.”

“Ran, boleh minta tanda tangan?”

“Astaga, kamu tampan sekali.”

“Ya ampun, manis sekali.”

“Ran, aku penggemar setiamu.”

Astaga, Randy bisa gila karena di kerumuni oleh para fansnya. Saat ini dirinya sedang menonton konser solo Brian. Konser tersebut di adakan di sebuah ruangan yang sangat besar hingga mampu menampung ribuan penonton. Brian baru saja mengeluarkan mini album, dan saat ini lelaki itu sedang mengadakan konser solonya.

Randy tak habis pikir, bukannya ini konser Brian? kenapa para fans Brian malah meminta foto dengannya?

“Ahh,  menyebalkan sekali, membuat lelah saja.” gerutu Randy.

“Salah sendiri, kenapa juga kamu menjadi artis terkenal.”  jawab Febby cuek dan masih dengan memakan cemilannya.

“Hei, aku bukan artis lagi. Lagi pula apa ini? Kekanak-kanakan sekali. Kamu  kan sudah tua, dan apa kamu tidak lihat perutmu sudah besar begitu, pakai ikut acara seperti ini, membosankan sekali.” kata Randy sambil melempar poster Brian yang di bawanya serta bando lampu berbentuk tanduk setan yang berada di kepalanya dan di kepala Febby.

“Hei! Jangan di lepas. Ini kan permintaan dari anakmu.” Kata Febby sambil memakaikan kembali bando tersebut di kepalanya dan kepala Randy. “Lagian ini kan konser Brian, wajar kalau kita membawa poster Brian, dan nggak lucu kalau aku membawa postermu.”

“Setidaknya poster-posterku lebih panas dan lebih bagus dari pada poster sialan ini.” Randy tak berhenti menggerutu kesal.

Akhirnya tak lama Brianpun tampil membawakan lagu-lagu andalannya. Seluruh penonton berteriak histeris tak terkecuali Febby.

“Brian!! Astaga, dia keren sekali!!!” teriak Febby sambil berdiri seperti penonton lainnya.

“Hei, kamu tidak perlu ikut-ikutan berteriak seperti itu, menggelikan sekali.” kata Randy sambil menarik tangan Febby, tapi Febby tak peduli, dia masih saja berteriak-teriak seperti penonton lainnya.

“Dasar! Kamu benar-benar, kamu harus ingat dengan perut besarmu itu.” Randy lagi-lagi menarik tangan Febby, ia tentu tidak suka dengan sikap Febby yang terlihat sangat antusias dengan penampilan Brian.

“Kamu ini kenapa? untuk apa kita menonton konser  jika kita hanya berdiam diri seperti ini?” Febby sedikit kesal dengan  Randy. Tapi kemudian Febby  kembali berteriak-teriak histeris layaknya  para fans yang sedang menonton konser idolanya.

Dengan cemberut, Randy akhirnya mengalah dari pada dirinya bertengkar kembali dengan Febby. Tapi tanpa di sangka-sangka, Brian yang sedang menyanyikan sebuah lagu berjalan menuju ke arah Febby, lalu meraih dan menggenggam tangan Febby, membuat semua mata tertuju pada Brian dan Febby, sedangkan Randy yang duduk di sebelah Febby hanya ternganga melihat keberanian Brian mendekati Febby di hadapan publik. Sialan! apa yang dia lakukan? gerutu Randy dalam hati.

Tepat pada saat itu, lagu yang dinyanyikan Brian selesai. Dengan mengatur napasnya Brian mulai berkata-kata dihadapan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, dan itu tak luput dari beberapa media yang menyiarkan acara tersebut secara langsung, maupun beberapa wartawan yang memang berada di lokasi tersebut.

“Pasti kalian akan menganggap jika aku dan wanita ini memiliki hubungan special. Ya, kami memang memiliki hubungan special. Dia temanku, bahkan aku menganggapnya lebih dari pada teman. Aku menyayanginya seperti aku menyayangi saudara kandungku sendiri, karena dia istri dari temanku.” Kata Brian panjang lebar sambil melirik ke arah Randy. Ruangan tersebut mendadak sunyi karena penjelasan yang di berikan Brian.

Randy sendiri tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan Brian, dia tidak menyangka jika Brian akan bersedia mengkonfirmasi hubungannya dengan Febby dan membunuh opini buruk publik tentang apa yang terjadi di antara mereka beberapa bulan terakhir.

Randy  lalu berdiri dan berbisik pada Brian. “Terimaksih karena kamu mau membantuku.” ucap Randy dengan nada penuh sahabat, ia bahkan menggunakan kata ‘Aku-kamu’ bukan ‘Gue-lo’ seperti sebelum-sebelumnya.

Brian tersenyum menyeringai.

“Gue nggak bantuin lo, gue cuma bantu wanita yang gue cintai.” Brian membalas bisikan Randy dengan bisikan yang sangat pelan hingga hanya Randy yang dapat mendengarnya.

“Sialan!” umpat Randy.

Lalu Brian hanya tertawa. “Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena lo sudah angkat kaki dari dunia hiburan ini.” Kata Brian pada Randy, lalu Brian kembali menatap Febby. “Berbahagialah, Aku akan selalu mendoakanmu supaya kamu bahagia.”  Kata Brian kepada Febby lalu pergi meninggalkan Febby dan Randy menuju kepanggungnya untuk bernyanyi kembali.

“Apa kalian ingin aku menyanyi lagi?!” tanyanya pada seluruh penonton saat kembali ke panggung besarnya.

Suara sorak sorai dari para penonton kembali pecah di ruangan tersebut, berbeda dengan Febby dan Randy yang saling menggenggam telapak tangan satu sama lain dan hanya diam membatu menatap ke arah Brian dengan perasaan masing-masing.

“Terimakasih,” bisik Febby pelan masih dengan menatap ke arah Brian dengan matanya yang sudah berkaca-kaca karena haru.

Randy menoleh ke arah Febby, kemudian merengkuh tubuh Febby ke dalam pelukannya. “Jangan menangis.” Bisik Randy.

“Aku menangis karena bahagia.”

“Benarkah? Apa karena aku?”

Febby mengangguk pasti dalam pelukan Randy. “Ya, karenamu, karena semua yang sudah terjadi padaku, aku bahagia, Ran.”

Randy memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. Beginikah rasanya bahagia karena cinta? Pikirnya.

Randy menganggukkan kepalanya. “Ya, aku juga sangat bahagia.” jawabnya pasti. Dan keduanya berakhir dengan saling berpelukan, penuh dengan cinta dan kasih sayang, di iringi dengan lagu merdu yang di nyanyikan oleh Brian.

 

-End-

Belom end sepenuhnya, masih ada Epilog…

Advertisements

3 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 15 (End)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s