romantis

Sang Pemilik Hati – Chapter 1 (Bertemu dia)

sph2Sang Pemilik Hati

Chapter 1

-Bertemu Dia-

 

Empat  tahun kemudian

Nana mengendap-endap ketika keluar dari dalam kelasnya. Jam istirahat biasa ia habiskan di dalam perpustakaan, atau duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah. Tapi semuanya berubah sejak dua minggu yang lalu, sejak ia berstatuskan sebagai kekasih seorang yang populer di sekolahannya tersebut.

Nana Erieska, seorang gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tidak pandai bergaul dan terkesan nyaman dengan dunianya sendiri. Saat itu, Nana tidak sengaja bertabrakan dengan kakak kelasnya yang bernama Rino Permana. Salah satu murid laki-laki yang populer di sekolahnya. Nana terpesona, hingga tanpa ia sadari, ia mulai menyukai laki-laki tersebut.

Tapi sikap lelaki itu yang menyebalkan membuat Nana mengenyahkan segala perasaannya, membuatnya memungkiri apa yang ia rasakan pada lelaki tersebut.

Rino adalah pemuda tampan yang selalu berwajah murung. Sikapnya pendiam, dan itu membuat Rino di idolakan oleh banyak murid perempuan di sekolah tersebut. Tapi di balik sikap diamnya itu, Rino tak segan-segan mempermalukan orang yang tidak di sukainya. Termasuk Nana.

Saat itu, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu, Nana tidak sengaja menabraknya, lalu menumpahkan ice capucinonya pada seragam Rino. Rino saat itu hanya bisa menggeram kesal, tapi kemudian, tak lama ia memiliki jalan untuk membalas kekesalannya dengan mempermalukan Nana di hadapan banyak orang.  Ketika Rino mendapatkan surat yang di berikan Nana lewat sepupunya yang bernama Intan –teman sekelas Nana, dan Rino tak segan-segan membaca surat tersebut di hadapan umum, lalu menempelkannya di mading sekolah, membuat seluruh anak sekolah tahu jika Nana menyukai Rino, dan Rino mempermalukan Nana dengan menolak Nana mentah-mentah.

Alangkah malunya Nana saat itu, Nana bahkan enggan masuk sekolah lagi. Sungguh, meski Nana sempat menyukai Rino, tapi Nana tidak pernah menuliskan surat cinta untuk lelaki tersebut, memangnya dia gila apa? Lalu siapa yang menuliskan surat cinta tersebut? Satu-satunya yang terpikirkan dalam kepala Nana hanyalah ‘Rino yang hanya membuat berita palsu untuk mempermalukannya.’

Dasar pria tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia mempermalukanku dengan cara curang seperti itu? Pikir Nana. Dan sejak saat itu, Nana bersumpah jika Rino Permana adalah lelaki yang paling dia benci di dunia ini meski nyatanya ia masih mengagumi lelaki tersebut.

Bagaikan mimpi di siang hari, Dua minggu yang lalu Rino tiba-tiba mengungkapkan rasa sukanya pada Nana, dan yang paling menyebalkan adalah, Rino yang memaksa Nana untuk menjadi kekasihnya. Ada apa sebenarnya dengan lelaki itu? Berkali-kali Nana menanyakan pertanyaan tersebut dalam pikirannya.

Kini, hidup Nana di dalam sekolah berubah seratus delapan puluh derajat, saat istirahat tiba, dengan super menyebalkannya Rino menyeretnya  untuk makan siang bersama di kantin. Lelaki itu tidak bersikap lembut seperti orang yang sedang jatuh cinta pada pasangannya, Rino bahkan bersikap sebaliknya, seakan menjadikan Nana sebagai kekasih hanyalah sebuah jalan untuk memuluskan rencananya.

Ketika Nana berjalan mengendap-endap sambil menundukkan kepala, tiba-tiba ia berhenti ketika matanya menatap pada sepasang sepatu yang yang berada tepat di depan sepatunya. Nana mengangkat wajahnya dan mendapati Rino yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Mau kemana, Nana?”

“Uum, itu, umm.”

“Ayo ikut aku.”

Dengan kasar Rino menyambar pergelangan tangan Nana lalu menyeret Nana begitu saja ke arah kantin seperti biasanya.

“Lepasin Kak, aku nggak mau.” Nana meronta.

“Aku nggak peduli, pokoknya setiap istirahat, kamu harus menemaniku makan siang.”

“Tapi aku nggak mau!”

Dan setelah seruan Nana tersebut, Rino menatap Nana dengan tatapan sangarnya, membuat Nana diam seketika tak berani membantah seorang Rino permana. Ya, tentu saja, siapa yang berani membantah tatapan sepasang mata tajam yang seakan dapat membunuh siapapun yang membantahnya?

***

Prayoga baru keluar dari dalam kamarnya ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh siang. Saat ia pulang ke rumah keluarga besarnya seperti saat ini, ia memang memilih menghabiskan waktunya di kamar, alasannya simpel, itu karena ia tidak ingin bertemu dengan adik tirinya dan membuat adik tirinya itu kesal hanya karena menatapnya.

Prayoga Abidzar putera, seorang pria muda dengan usia yang sudah menginjak 24 tahun. Memiliki tampang yang tampan nan rupawan, mampu membuat wanita manapun terpikat ketika melihat ketampanan yang terpahat sempurna di wajahnya.

Setelah lulus perguruan tinggi, Yoga memilih membantu ayah tirinya mengendalikan salah satu perusahaan keluarga yang berada di luar kota, tepatnya di kota Surabaya, dan itu membuat Yoga menghabiskan waktunya di Surabaya dan  hanya pulang ke jakarta saat weekend seperti sekarang ini. Hubungannya yang kurang baik dengan salah seorang adik tirinya membuat Yoga memilih pilihan tersebut. Ia tidak mungkin selalu tinggal di rumah keluarga besarnya sepeti saat ini ketika ia selalu mendapatkan tatapan kebencian dari adik tirinya itu.

Saat Yoga keluar dari kamarnya, ia mendapati sesosok gadis yang sudah berdiri tepat di pintu kamarnya. Namanya Kesha Permana, salah seorang adik tirinya yang cantik dan mungil. Tapi kenapa adiknya itu berada di situ saat ini? Bukankah ia harusnya masih sekolah?

“Mas.” Kesha menghambur ke dalam pelukan Yoga. Yoga sedikit terkejut dengan kelakuan gadis 14 tahun tersebut, tapi kemudian ia membalas pelukan adiknya itu.

“Hei, kamu nggak sekolah?”

“Enggak, aku sengaja bolos.”

“Kok bolos?”

“Tadi pagi mama bilang kalo Mas Yoga pulang, jadi aku memilih bolos, lagian ini hari sabtu, hanya ada pelajaran olah raga saja di sekolah.”

“Kok gitu? Mas Yoga nggak suka kalau Kesha suka bolos.”

“Kan aku bolosnya demi Mas Yoga.”

Yoga mencubit gemas hidung Kesha. “Sama saja tahu, namanya bolos itu nggak baik.”

Kesha mengerucutkan bibirnya ketika Yoga mulai menasihatinya. “Kan aku punya tujuan saat akan bolos.”

“Memangnya apa tujuan kamu?”

“Ngajakin Mas belanja.” jawab Kesha manja.

“Dasar.” gerutu Yoga sambil menyunggingkan senyumannya. “Baiklah, kalau gitu ayo kita belanja.”

“Yeaay.” teriak Kesha kegirangan. Dan Yoga hanya bisa terenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kesha, Yoga memang sangat menyayangi adik tirinya tersebut, begitupun sebaliknya, tapi kenapa adik tirinya yang satunya lagi tidak bisa menerimanya menjadi kakak seperti Kesha menerimanya? Kenapa Rino selalu melemparkan tatapan kebencian pada dirinya? Ya, adik yang sangat membencinya adalah seorang Rino Permana.

***

Nana tidak berhenti menggerutu kesal saat Rino tak berhenti menyeretnya ke sebuah Mall  yang tempatnya tak jauh dari sekolah mereka. Bukannya apa-apa, hanya saa ini pertama kalinya Nana membolos.

Saat istirahat tadi, Rino tidak menyeret Nana ke kantin seperti biasanya, tapi dia malah menyeret Nana ke arah parkiran motor di depan kantin sekolah, lalu menuju motornya dan memaksa Nana ikut serta dengannya. Kini, keduanya sudah berada di sebuah Mall dengan Rino yang masih menyeretnya menuju ke sebuah kafe.

“Kamu mau pesan apa?” tanya Rino sedikit acuh ketika sudah duduk di sebuah bangku di ujung ruangan kafe.

Nana hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan membosankan. Cepat pesan makan siang.”

“Aku nggak lapar, aku mau balik, nanti kita ketinggalan pelajaran.”

“Kita nggak akan balik.” Pernyataan Rino membuat Nana membulatkan matanya seketika pada Rino. “Aku sudah meminta temanku mengambil tas  kamu yang ada di kelas, jadi kita nggak perlu kembali ke sekolah.”

“Nggak perlu kembali?”

“Ayolah, jangan membosankan, sekali-kali bolos kan nggak apa-apa.”

“Tapi aku nggak pernah bolos, Kak.”

Rino menyondongkan  kepalanya mendekat ke arah Nana. “Sekarang, aku yang akan mengajarimu untuk membolos.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan menjengkelkannya Rino mulai memesan makan siang untuk dirinya dan juga Nana.

Sepanjang makan siang, pikiran Nana sedikit gelisah. Tentu saja karena ini pengalaman pertamanya membolos. Bagaimana jika mereka tidak sengaja ketahuan oleh guru sekolah mereka? Bagaimana jika nanti mereka di hukum? Atau lebih buruknya sang guru mengirim surat pada orang tuanya? Oh Nana tidak bisa memikirkan hal itu.

“Na, kamu masih mau makan?” pertanyaan Rino membuat Nana mengangkat wajahnya menatap ke arah Rino. Lelaki itu tampak selesai memakan makan siangnya, sedangkan Nana sendiri masih sibuk mengacak-acak makanan di hadapanya karena gelisah.

“Enggak, aku mau cepat balik.”

“Oh, maaf, kita nggak akan balik ke sekolah.”

“Tapi kak.”

“Kamu harus nemanin aku.” Dan lagi-lagi Nana tak dapat menolak permintaan Rino. Oh sebenarnya apa yang di inginkan Rino darinya?

Setelah selesai makan siang, Rino benar-benar mengajak Nana ke mengelilingi segala penjuru Mall tersebut. Rino berjalan santai di depannya sedangkan Nana berjalan dengan menundukkan kepalanya, menatap ujung dari jaket yang ia kenakan, takut kalau-kalau ia bertemu dengan guru sekolah mereka atau orang yang ia kenal. Ahh, ia merasa menjadi maling saat ini.

Tiba-tiba, ia menabrak Rino yang berhenti mendadak tepat di hadapannya. Ada apa lagi sih? Pikir Nana. Nana kemudian mengangkat wajahnya dan menatap sesuatu dari balik tubuh Rino, sesuatu yang membuat Rino menghentikan langkahnya.

Dia…. Dia….

Nana tak dapat berkata apapun, matanya terpesona dengan sosok tampan yang ada di hadapan Rino dan dirinya, sosok tampan dengan mata memikat seperti Empat tahun yang lalu ketika ia bertemu dengan salah seorang teman kakaknya saat di antar sekolah. Bibir Nana ternganga, tak dapat mengatup dengan sendirinya karena terlalu terpana dengan sosok lelaki tersebut.

Apa itu lelaki yang sama dengan lelaki saat itu? Kenapa Nana merasa tidak asing menatap sorot mata itu?

***

Tubuh Yoga menegang ketika mendapati Rino, adik tiri yang sangat membencinya itu tak sengaja berada di tempat yang sama dengannya. Kesha bahkan dengan sikap manjanya menarik lengannya untuk menemui Rino.

Sungguh, bukannya Yoga tidak ingin, tapi kebencian Rino padanya membuat Yoga takut bertatap muka dengan Rino di hadapan umum, takut jika adiknya itu tidak bisa mengontrol emosinya. Yoga tentu tidak ingin menjadi bahan tontonan banyak orang ketika dirinya dan Rino bertengkar seperti biasanya.

Tapi, untuk apa adiknya itu berada di Mall ketika jam pelajaran masih berlangsung? Apa karena bolos?

Ketika Yoga mulai dapat mengendalikan dirinya, sosok cantik yang mengintip dari balik tubuh adikny itu membuyarkan semua pengendalian dirinya. Sosok manis yang sudah menarik perhatiannya sejak Empat tahun yang lalu. Sosok yang menjadi salah satu alasan kenapa ia masih mau pulang ke Jakarta.

Sosok itu…. Nana Erieska. Kenapa Nana di sini? Kenapa Nana bisa bersama denga Rino, adiknya? Apa hubungan keduanya?

 

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Sang Pemilik Hati – Chapter 1 (Bertemu dia)

  1. Hai kak zenny, seneng banget cerita ini di update lagi 😀 . Tapi entah kenapa aku lebih suka fersi yg dulu deh. Lebih kerasa feelnya, lebih greget gitu, tapi ini juga bangus si 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s