romantis

Sweet in Passion – Chapter 14

wattpadsipSweet in Passion

Chapter 14

 

Randy masih menatap Marsela yang kini sedang duduk menundukkan kepala di hadapannya. Pikirannya kacau, antara tega dan tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Marsela. Bagaimanapun juga, ia masih menyayangi Marsela walau kini ia yakin jika Marsela tidak ada lagi di hatinya.

“Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Kata Randy membuka suara.

“Aku tidak ingin membahas itu.” Jawab Marsela sambil menggelengkan kepalanya.

“Marsela, ku mohon padamu jangan membuatku sulit.”

“Aku tidak pernah menginginkan semua ini menjadi sulit, Ran!” Marsela  mulai menangis dan berteriak histeris. Untung saja Randy sudah memilih kafe di dekat rumahnya yang menyediakan tempat yang privat hingga Randy tidak khawatir lagi jika ada wartawan dan lain sebagainya untuk mengawasi mereka.

“Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan Febby.” jawab Randy kemudian.

“Ran, apa kamu sudah benar-benar mencintainya?” Marsela mencoba memberanikan diri menanyakan pertanyaan tersebut. Randy hanya terdiam seakan tidak mampu menjawab pertanyaan dari Marsela.

“Aku bertanya padamu Ran,  apa kamu sudah mencintainya?!” kali ini kekesalan Marsela tidak dapat di bendung Lagi. Dia semakin berteriak histeris.

“Ya.  Aku mencintainya.” jawab Randy dengan tenang dan tegas.

“Apa?” Marsela tercengang dan tampak tak percaya.

“Aku mencintainya. Aku mencintainya hingga seakan-akan aku bisa gila tanpanya. Dia membuatku candu, dia membuatku frustasi hanya karena tidak berada disisinya. Aku tidak tahu sejak kapan dia mulai masuk ke dalam hatiku, menggantikan posisimu, dan menolak untuk mengembalikannya padamu. Yang aku tahu saat ini aku benar-benar mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya. Bahkan aku tidak bisa lagi berpaling kepada wanita lain walau wanita itu adalah dirimu, Marsela.”

‘Plaaakkkkk’

Tangan Marsela mendarat sempurna di pipi Randy.

“Kamu benar-benar keterlaluan  berbicara seperti itu padaku.”

“Maafkan aku, aku hanya ingin kamu mengerti  kalau kita tidak bisa bersama lagi.” Kata Randy kemudian. Keduanya lalu sama-sama terdiam, hanya sesekali terdengar isakan dari Marsela.

“Marsela, maafkan aku,  aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa supaya kamu mau memaafkanku.” Lanjut Randy.

Marsela masih saja menangis. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Randy mulai gelisah, belum Lagi dia memikirkan Febby yang saat ini mungkin sudah amat sangat marah terhadapnya.

“Maafkan aku Marsela,  aku akan meninggalkanmu sekarang.” Kata Randy sambil berdiri dan akan bergegas pergi.

Marsela yang mengetahuinya seketika meraih tangan Randy dan memeluknya.

“Jangan pergi,  aku mohon jangan tinggalkan aku.” Rengek Marsela sambil memeluk lengan Randy.

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi.”

“Aku membutuhkanmu, Ran.”

“Febby lebih membutuhkanku. Aku minta maaf.” Kali ini Randy berkata sambil melepas paksa rangkulan Marsela. Lalu pergi tanpa mempedulikan tangis Marsel yang semakin menjadi.

Randy berlari kembali ke arah rumahnya sambil menghubungi seseorang.

“Halo?” kata suara di seberang.

“Chik,  jemput  Marsela di kafe Louis dekat rumah gue.”

“Apa yang terjadi? Kenapa gue yang jemput? Lo kemana?”

“Jangan banyak tanya, gue sudah putus sama dia, tolong jemput dia.” Randy menjawab  masih dengan berlari. Dirinya harus segera sampai di rumah untuk bertemu Febby dan menjelaskan semuanya. Dengan cepat Randy menutup teleponnya begitu saja tidak mempedulikan Chiko  yang berteriak dan mengumpat terhadapnya.

Akhirnya Randypun sampai di rumahnya dengan napas yang sudah terputus-putus. Dibukannya pintu rumahnya dengan Kasar.

“Febb, Febby..” teriak Randy sambil mencari-cari keberadaan Febby. Tapi dia tidak menemukannya.

Randy masih saja mencari Febby di setiap sudut rumahnya, tapi tetap saja dirinya tak menemukan Febby, astaga, kemana perginya wanita itu? Randypun akhirnya memeriksa lemari pakaian Febby, dan sedikit lega karena pakaian Febby masih lengkap di sana.

Randy lalu menyandarkan tubuhnya di lemari  pakaian tersebut. Sambil mengacak-acak rambutnya sesekali Randy menyumpahi dirinya sendiri. Sialan! dirinya benar-benar sangat Bodoh. Harusnya ia tidak meninggalkan Febby terlalu lama tadi.

***

Febby masih berjalan tak tentu arah di atas trotoar. Dirinya tidak tahu harus pergi kemana. Rumah orang tuanya berada di luar kota. Tidak mungkin dirinya pergi kesana. Begitupun dengan rumah sakit. Kemaren setelah dirinya sadar dari pingsan  di rumah sakit, dirinya mengajukan cuti hamil sejak dini karena dirinya sudah tidak dapat menerima aroma khas rumah sakit lagi.

Febby juga masih belum ingin kembali ke rumah Randy. Hatinya benar-benar sakit. Randy benar-benar tak berperasaan. Lagi-lagi air mata itu jatuh kembali, membuat  Febby menertawakan dirinya sendiri. Sebodoh inikah dirinya hingga bisa jatuh cinta dengan lelaki seperti Randy Prasaja?

Ya, dirinya memang telah jatuh cinta. Jatuh cinta yang sangat parah,  hingga ia tidak tahu harus berbuat apa nanti ketika lelaki itu pergi meninggalkannya.

Febby lalu duduk di bangku halte pemberhentian Bus. Ia menunduk  dan menangis tersedu-sedu, tidak memperdulikan orang yang berlalu-lalang memperhatikannya.

“Hei,  apa yang terjadi? Kenapa kanu disini?” suara itu sontak mengagetkan Febby, membuat Febby mengangkat kepalanya dan tampaklah wajah tampan yang sudah berlutut dihadapannya. Itu Brian.

“Brian.” dan tanpa pikir panjang lagi Febby melemparkan dirinya ke dalam pelukan Brian sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan Brian sendiri walau masih sedikit terkejut, ia tetap membalas pelukan Febby dan tidak memperdulikan orang-orang yang sudah mengerumuni mereka bahkan tak sedikit yang mengabadikan foto mereka.

***

Febby masih setengah sadar ketika Brian menggendongnya dan membawa ke apartemen lelaki tersebut. Tadi ketika mereka berpelukan, orang-orang yang mengenali Brian sontak mengerumuni mereka, dan semakin bertambah. Hingga Brian tadi sempat meminta tolong kepada managernya untuk mengirim Bodyguard ke tempat mereka.

Bahkan tadi Brian masih setia memeluk Febby walau mereka sudah di dalam mobil hingga membuat Febby merasa nyaman dan tertidur di pelukan Brian. Astaga, seandainya saja Randy seperti Brian, mungkin Febbby tak akan mau melepaskan apalagi meninggalkan Randy seperti saat ini.

Febby  mengernyit ketika merasakan kepalanya berdenyut pusing karena memikirkan Randy. Brian yang melihatnya sedikit tersenyum melihat ekspresi yang sedikit aneh dari wajah Febby.

“Apa kamu sudah bangun?” Tanya Brian kemudian.

Febby hanya menggeliat sedikit, nyaman dengan Brian yang masih setia menggendongnya. Brian lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Febby.

“Apa kamu ingin menggodaku? Jika itu yang kamu inginkan, selamat, Kamu sudah berhasil menggodaku.” Kata Brian lagi sambil membaringkan Febby di ranjangnya dan langsung menindihnya.

Febby pun sontak ontak membuka matanya, terkejut dan tak menyangka jika Brian akan melakukan ini terhadapnya.

“Brian! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Febby setengah marah. Tapi kemarahan Febby itu berubah seketika menjadi tawa geli ketika Brian mulai menggelitk sambil mengecupi leher Febby.

“Hentikan Brian, hentikan, hahahahaha,kamu bisa membunuhku, astaga, hentikan.” Febby memohon karena geli dengan Brian yang masih menggelitiknya.

Brian yang merasakan tubuh Febby semakin lemas akhirnya menghentikan aksinya tersebut.

“Baiklah, aku berhenti, tapi ceritakan padaku apa yang terjadi denganmu.” Kata Brian sambil membenarkan duduknya.

Dan entah kenapa Febby dibuat semakin gugup saat Brian di dekatnya dan menatapnya tajam. Ada apa ini? Kenapa dirinya jadi gugup di hadapan seorang Brian Winata? bukankah selama ini Febby tidak pernah merasakan perasaan aneh seperti ini terhadan seorang Brian? Apa karena ciuman saat itu? Ohh sial!! Mau tak mau Febby harus mengaakui jika itu adalah ciuman yang sangat menggairahkan untuk Febby.

Dan ketika mengingat ciuman itu entah kenapa Febby langsung tersulut oleh sesuatu. Di dekatkannya bibirnya ke arah bibir Brian. Dan tanpa permisi seketika Febbymenempelkan bibirnya pada  bibir Brian dan menciumnya dengan ciuman panasnya.

Brian sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Febby, tapi dia menikmatinya. Tidak ada orang yang mampu menolak  ciuman dari seseorang yang dicintainya.

Ciuman Febbypun semakin menjadi. Brian bahkan sesekali mendengar desahan dari bibir Febby disela-sela cumbuan mereka. Ada apa ini? ada apa dengan Febby? dan sumpah demi apapun juga jika Febby tidak menghentikan ini, Brian tidak akan dapat menghentikannya sebelum  mereka berdua mencapai kepuasan masing-masing.

Akhirnya dengan terengah-engah, Febby menghentikan ciumannya. Wajahnya merah padam karena malu, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan Brian. Dia beruntung karena Brian dapat menahan gairahnya.

“Maafkan aku.” ucap Febby di sela-sela napasnya yang terenga-engah.

“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Braian sambil mengangkat dagu Febby hingga dirinya dapat memandang wajah Febby.

“Aku hamil. Mungkin ini harena hormonku yang sedang kacau.” jawab Febby dengan jujur.

Brian sedikit terkejut dengan pengakuan Febby, tapi tetap saja, kehamilan Febby tidak akan menghilangkan sedikitpun rasa cintanya terhadap Febby, entahlah, Febby benar-benar membuatnya tergoda.

“Lalu dimana Randy? kenapa kamu menangis disana sendiri tadi?”

“Kami bertengkar.” Febby menjawab sambil menundukkan wajahnya. Lagi-lagi air matanya menanti untuk keluar dari pelupuk matanya.

“Bukankah kamu pernah bilang kalau setiap kari kalian selalu bertengkar?”

“Kali ini berbeda, kami benar-benar bertengkar.” Kata Febby  yang mulai terisak.

Brian lalu memeluk tubuh Febby, mengusap-usap punggungnya. “Sudah, jangan menangis lagi, itu tidak baik untuk kondisimu.”

“Aku mencintainya, Brian, tapi aku tidak sanggup hidup bersamanya lagi, aku ingin kami berpisah.” Febby berkata di sela-sela tangisannya.

Tubuh Brian seketika kaku mendengar pernyataan Febby. Sedikit senang mendengar Febby ingin berpisah, tapi tetap saja Brian tidak bisa menyembunyikan kesakitannya saat mendengar Febby mencintai Randy, bukan dirinya.

“Tenanglah, aku yakin semuanya akan membaik.”

“Dia mencintai wanita lain, dia tega meninggalkanku demi wanita itu.” Febby masih saja terisak di dalam pelukan Brian.

“Tenanglah, aku disini, aku disini bersamamu, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kata Brian yang semakit mengeratkan pelukannya terhadap tubuh Febby.

***

“Apa yang terjadi?” Marsela mengangkat wajahnya dan menemukan wajah tampan bercampur dengan ekspresi khawatir dari Chiko.

Marsela tidak bisa berkata-kata Lagi ketika Chiko mulai memeluknya dengan erat. Ada apa dengan lelaki ini? Pikir Marsela dalam hati.

Sedangkan Chiko sendiri setelah memeluk Marsela, tanpa pikir panjang lagi langsung menggenggam tangan Marsela dan  menyeretnya keluar dari kafe tersebut. Marsela yang masih sedikit linglung tidak menolaknya, dia hanya mengikuti kemana perginya Chiko.

***

Lama mereka saling berdiam diri di dalam mobil. Akhirnya sampailah mereka pada apartemen milik Chiko.

“Kenapa kita ke sini?” Tanya Marsela yang tampak heran.

“Kupikir kamu belum ingin kembali ke apartemenmu dan sendiri meratapi nasib percintaanmu.”

Entah kenapa Marsela sedikit tersenyum mendengar perkataan Chiko dengan nada sedikit menyindir itu.

Di akui oleh Marsela, jika dirinya sedikit gugup saat ini ketika hanya berdua bersama Chiko. Entah kenapa mungkin karena pernyataan cinta Chiko beberapa hari yang lalu yang membuat Marsela seakan salah tingkah di hadapan Chiko saat ini.

Marsela mengakui jika dulu dia sempat pernah menyukai Chiko  sebelum menjalin hubungan dengan Randy. Namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Chiko yang saat itu sudah menjadi penyanyi  top negeri ini tidak akan mungkin melirik artis pendatang baru seperti dirinya, apalagi saat itu Marsela masih belum memiliki nama dan masih di ragukan bakatnya. Akhirnya perasaan itu di kubur Marsela dalam-dalam, dan Marselapun akhirnya memulai hubungan baru dengan beberapa teman prianya dan Randy salah satunya.

Tapi pernyataan Chiko Kemarin seakan-akan membuka kotak pandora yang sudah lama disimpan dan dikubur Marsela dalam-dalam di dasar hatinya, kotak pandora yang berisi rasa cintatak tersampaikan pada sosok yang kini duduk di sebelahnya.

Benarkah Chiko mencintainya?

Jika benar, Marsela mungkin saja tidak akan bisa menolaknya. Siapa yang sanggup menolak cinta dari Seorang  Chiko Febrian? Penyanyi papan atas negeri ini? yang kehidupan pribadinya sangat misterius di mata publik. Satu kalipun Chiko tidak pernah terlihat menggandeng wanita di acara formal maupun non formal. Chiko juga selalu menggunakan pemain pengganti saat melakukan adegan ciuman dengan semua lawan mainnya di dalam film yang pernah dibintanginya. Itu membuat para fans dan media semakin penasaran dengan sosok Chiko Febrian, tak terkecuali Marsela. Bahkan beberapa media dengan kurang ajarnya menyebut jika Chiko adalah seorang Gay karena tak pernah berdekatan dengan seorang wanitapun. Tapi sepertinya dikabarkan Gay lebih bagus menurut Chiko, dari pada digosipkan dekat dengan beberapa wanita.

“Chik, terimakasih kamu mau membawaku kemari.” Kata Marsela yang saat ini sudah duduk manis di ruang tamu Chiko.

“Randy yang meneleponku. Dia ingin aku menjemputmu.” wajah Marsela sedikit menegang mendengar nama Randy disebut. “Kamu mau minum apa?” Tanya Chiko yang saat ini sudah berada di dalam dapur apartemennya.

“Uum, aku tidak yakin, tapi apa kamu punya bir? Aku ingin meminumnya.”

“Bir? Astaga,  ini bahkan belum siang hari, dan aku tidak memiliki Bir. Kalau kamu mau anggur aku akan mengambikannya untukmu.” Tawar Chiko kemudian.

“Terserah kamu saja, anggur juga boleh, aku hanya ingin minum pagi ini.”

Dan Chiko pun akhirnya kembali ke ruang tamu dengan membawa sebotol anggur dan dua buah gelas kosong. Mereka Akhirnya minum bersama.

“Kenapa kamu juga ikut minum?” tanya Marsela tak mengerti.

Chiko lalu tersenyum manis. “Aku minum untuk menemanimu, sekaligus merayakan putusnya hubunganmu dengan Randy.” Jawab Chiko dengan jujur.

“Kenapa kamu seperti itu? Kenapa kamu bahagia saat melihat aku menangis?”

“Aku tidak bahagia saat melihatmu menangis, aku hanya bahagia karena aku tahu jika ini akan menjadi tangismu yang terakhir, karena setelah ini aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.” Jawab Chiko dengan pasti.

“Chik, apa yang kamu bicarakan kemarin benar-benar nyata?” tanya Marsela yang ternyata masih penasaran dengan isi hati Chiko.

“Kamu perlu bukti? Kemarilah, aku akan memberikanmu bukti.” Kata Chiko sambil menarik tangan Marsela ke sebuah kamar.

Kamar yang sangat maskulin, yang berarti itu adalah kamar Chiko. Marsela terpana saat melihat kamar megah tersebut. Perabotannya, dekorasinya, dan..  apa itu adalah dirinyaa? Sebuah foto besar memenuhi dinding di atas kepala ranjang Chiko. Foto seorang wanita yang sedang berpose seksi.

Ya, Marsela jelas tahu jika itu foto dirinya. Salah satu foto yang diambil untuk cover majalah dewasa. Dan bagaimana mungkin Chiko bisa mempunyainya bahkan mencetaknya sebesar ini?

“Ya, itu dirimu, maaf jika aku tidak meminta ijin untuk memasang foto seksimu disini. Tapi aku benar-benar mengidolakanmu, bahkan lebih. Aku tidak bisa tidur jika belum melihat wajahmu.” Kata Chiko  yang kini sedang memperhatikan raut wajah terkejut Marsela.

“Bukan hanya itu, di sana masih banyak lagi.” Kata Chiko lagi sambil menunjuk sebuah lemari yang berisi beberapa buku dan album-album foto. “Setiap kali kamu melakukan pemotretan, aku akan meminta salinannya kepada managerku. Dan semua itu hanya aku dan dia yang tahu, maka dari itu hingga sekarang media tidak tahu apa yang kurasakan terhadapmu. Memang sedikit gila, aku sudah seperti seorang Psycopat yang terobsesi denganmu. Tapi beginilah aku. Aku mencintaimu sejak dulu, bahkan sebelum kamu mulai debut.” Kata Chiko kemudian.

“Tapi bagaimana bisa?”

“Aku terpesona oleh suaramu, Dan saat audisi, aku sendirilah yang memilihmu untuk masuk kedalam management kami. Tapi setelah kamu masuk, sepertinya kamu tidak tertarik denganku.” Kata Chiko dengan sedikit tersenyum pahit.

“Aku hanya bisa mengubur perasaanku, aku senang saat melihat kamu sukses meski kini kamu lebih memilih menjadi model dan bintang film daipada menjadi penyanyi, aku bahagia saat melihatmu bahagia  dengan para kekasihmu, tapi setelah Randy berkata dia tidak dapat membahagiakanmu lagi, aku pikir, aku bisa mengajarimu untuk mencintaiku supaya aku bisa membahagiakanmu.”

Marsela ternganga mendengar penjelasan Chiko. Benarkah apa yang dikatakan lelaki ini?

“Marsela, apa kamu bersedia untuk kuajari mencintaiku?” Tanya Chiko memberanikan diri. Dan tanpa pikir panjang lagi Marsela mengangguk. Astaga, apa ini nyata untuknya? Seorang Chiko Febrian menyatakan cinta untuknya?

Dan dengan ekspresi bahagianya Chiko memeluk tubuhMarsela dengan erat. Lalu dilepaskannya pelukan tersebut, dan perlahan-lahan Chiko mendekatkan bibirnya ke arah bibir Marsela, semakin dekat, semakin dekat, hingga menempelah bibir tersebut dengan sempurna ke bibirnya. Sedangkan Marsela sendiri sudah memejamkan matanya. Menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh Chiko.

Ciuman lembut tersebut sedikit demi sedikit berubah menjadi panas, dan semakin panas. Chiko bahkan  sudah mendorong Marssela sedikit demi sedikit ke ranjangnya, membaringkannya dan menindihnya tanpa melepaskan ciuman tersebut.

Marsela sendiri sudah hilang kendali. Dia sudah mendesah dan mengerang nikmat. Melupakan semua sakit hatinya terhadap Randy. Kenapa bisa secepat ini luka hatinya terobati? Apa karena anggur yang dia minum tadi? Apa karena kenikmatan yang diperolehnya dari Chiko? atau apa karena Chiko yang sudah menggantikan posisi Randy dengan cepat dan mudahnya?

Arrgghhh… Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas saat ini dirinya merasa bahagia, bukan sedih seperti orang yang sedang patah hati.

***

Randy terbangun dari tidurnya yang pulas. Dikuceknya matanya sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Astaga, ini sudah pukul Tujuh malam, ia ketiduran berjam-jam di kamar Febby setelah lelah seharian mencari keberadaan istrinya tersebut.

‘Dimana Febby?!’  Batin Randy seakan meneriakkan pertanyaan tersebut.

Randy tadi sudah ke rumah sakit, tapi Febby tidak ada di sana. Suster penjagapun bilang jika Dokter Febby sudah mengajukan cuti hamil sejak dini karena tidak tahan dengan aroma rumah sakit.

Randy  juga sudah mencarinya ke rumah orang tuanya yang ternyata di sana masih ada Mira, kakaknya. Randy berpikir siapa tahu saja Febby mencari Kak Mira ke rumah orang tuanya. Tapi bukannya mendapatkan Febby di sana, ia malah dipukuli dan dimarahi habis-habisan dengan Kakaknya tersebut karena telah membuat Febby pergi, bahkan kakaknya tadi sempat memanggilnya dengan sebutan ‘Bajingan Bodoh’ di depan anaknya sendiri.

‘Astaga, kamu di mana Febb?’ desah Randy dalam hati.

Randy lalu bangun dan bergegas ke arah dapur, mengambil sekaleng Bir yang selalu tersedia di lemari pendinginnya lalu meminumnya. Kepalanya sedikit pusing memikirkan semuanya. Mungkin dengan sedikit minum akan mengurangi beban pikirannya. Tak lama teleponnya berbunyi. Di layar teleponnya terpampang nama Alvin. Dengan malas Randy mengangkat teleponnya.

“Apa yang terjadi? Lo dimana?” tanya suara di seberang.

“Gue di rumah, Ada apa?” tanya Randy dengan malas.

“Coba lihat televisi. Apa yang tejadi dengan kalian?”

Randy  lalu mematikan teleponnya kemudian menuju ke ruang tengah untuk melihat televisi. Di gantinya chanel demi chanel, dan dia berhenti pada sebuah chanel yang mengabarkan tentang dirinya, lebih tepatnya kehidupan rumah tannganya. Kabar itu berjudul ‘Istri aktor papan atas berpelukan dengan Aktor lainnya.’

Mendengar dan melihat kabar tersebut membuat Randy semakin meradang, apalagi dengan jelas terlihat gambar Febby sedang berpelukan dengan si Brengssek Brian. Dilemparnya remote televisi tersebut dan tanpa pikir panjang lagi Randy bergegas pergi untuk menemui Brian dan Febby.

***

Febby menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu milik Brian, ia kekenyangan sehabis makan malam bersama Brian. Astaga, disini benar-benar nyaman, di tambah lagi Brian yang memanjakan lidahnya dengan aneka macam masakan lezat ala lelaki tersebut. Ya, Brian pandai sekali memasak.

“Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Brian kemudian.

“Tidak, aku hanya ingin istirahat dan tidur. Aku sangat kenyang.”  Jawab Febby sambil tersenyum dan mengusap lembut perutnya.

“Baiklah, istirahatlah, aku akan membersihkan sisa makanan kita tadi terlebih dahulu.”

Dan Febby tidak membalas perkataan Brian lagi, karena matanya sudah sangat berat. Dia akhirnya tertidur di sofa ruang tamu Brian.

Tapi tiba-tiba, pintu apartemen Brian di gedor oleh seseorang. Febby  yang tadinya sudah setengah tertidur akhirnya bangun kembali. Astaga, siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu dengan keras seperti itu?

Febby melihat Brian yang akan bergegas ke arah pintu untuk membukanya tapi Febby melarangnya.

“Biar aku saja yang membukanya.” Kata Febby  kemudian karena memang dirinya yang lebih dekat dari pintu tersebut dari pada Brian yang masih berdiri di ruang makan.

Akhirnya di bukanya pintu tersebut dan tampaklah sosok yang sangat ingin ia hindari hari ini, sosok itu  berdiri dengan gagah dan tampang sangarnya. Febby tentu saja tampak sangat terkejut melihat kedatangan Randy yang kini sudah berada tepat dihadapannya.

“Apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang.” geram Randy sambil mencekal pergelangan  tangan Febby.

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy. “Lepaskan aku, aku tidak mau pulang!” Febby masih mencoba melepas paksa cekalan tangan Randy  tapi Randy tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Lepaskan dia.” Kata Brian yang sudah berdiri tepat di sebelah Febby.

Randy lalu melangkah tepat dihadapan Brian. “Lo nggak punya hak untuk nyuruh gue. Dia Istri gue, gue berhak ngapain aja sama dia.” Randy berkata dingin dan tajam tepat dihadapan Btian.

“Lo nyakitin dia.”

“Gue nggak akan pernah nyakitin dia.” Ucap Randy penuh penekanan, kemudian meninggalkan apartemen Brian sambil menyeret Febby yang masih sedikit meronta minta dilepaskan.

Sedangkan Brian sendiri hanya terdiam terpaku meratapi kekalahannya. Ya, Bria tahu jika dirinya sudah kalah, Febby bukan miliknya, Febby bahkan tidak mencintainya.

***

Randy mengendarai mobilnya dengan sangat cepat tanpa sedikitpun berbicara. Tampangnya benar-benar sangat sangar dan menakutkan untuk Febby. Tidak pernah Febby melihat tampang menyeramkan dari Randy seperti sekarang ini. Randy mungkin benar-benar sangat marah terhadapnya saat iti.

Entah kenapa itu membuat Febby seakan ingin menangis. Astaga, sejak kapan dirinya menjadi wanita yang super cengeng seperti sekarang ini? dan melihat Randy saat ini bukan kemarahan yang muncul di benak Febby. Tampang sangar dan ekspresi marah dari Randy entah kenapa membuat Randy  terlihat lebih Hot dan karismatik di mata Febby, membuat Febby seakan basah hanya karena melihatnya. Membuat Eun Hye menginginkan untuk melakukan seks dalam keadaan marah, mungkin itu akan terasa lebih panas dari pada biasa-biasanya, pikirnya.

Dan astaga, apa ini? bahkan disaat-saat genting seperti ini Febby memikirkan untuk bercinta dalam keadaan marah dengan Randy? Gila!! Febby benar-benar merasa dirinya seperti wanita jalang.

Tak lama Randy akhirnya memarkirka mobilnya di tempat parkir rumahnya. Cukup lama keduanya berada di dalam mobil tanpa saling pandang atau saling melempar kata.

“Apa hubunganmu dengan dia.” Randy membuka suaranya yang terdengar sangat dingin di telinga Febby.

“Bukan urusanmu.” Febby menjawabnya dengan cuek.

Randy lalu menatap ke arah Febby dengan tajam.

“Febb, aku ingin ini semua selesai malam ini. Jadi jawab pertanyaanku dengan jujur,  ada hubungan apa antara kamu dengan lelaki bajingan itu?” tanya Randy lagi dengan penuh penekanan.

Entah kenapa Febby seakan-akan ingin meledak mendengar perkataan Randy.

“Apa kamu tahu, dia bukan bajingan, kamulah yang Bajingan!” teriak Febby tepat dihadapan Randy sambil menunjuk-nunjuk dada Randy. Lalu tanpa pikir panjang lagi Febby keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Randy yang mengejarnya dan memanggil-manggil namanya.

Randy  yang mengetahui emosi Febby sedang tidak stabil seketika mengejar Febby dan mencoba untuk mengalah. Diraihnya pergelangan tangan Febby lalu dipeluknya tubuh Febby dari belakang.

“Maafkan aku, maafkan aku, aku memang bersalah, maafkan aku.” ucap Randy masih dengan memeluk Febby dari belakang.

Febby benar-benar terkejut dengan perilaku apa yang di lakuka Randy. Tubuhnya kaku mendengar permintaan maaf yang terdengar tulus dari bibir Randy.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, maafkan aku.” Lagi-lagi pernyataan Randy semakin membuat tubuh Febby tidak bisa bergerak. Randy tidak ingin kehilangan dirinya? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan perempuan itu? pikiran Febby tak keruan menanggapi pernyataan Randy.

Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Randy memeluk Febby dari belakang. Keduanya sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Aku sudah berpisah dengannya.” Randy berkata lirih memecah keheningan membuat tubuh Febby bergetar hanya karena mendengar perkataan pengakuan Randy.

“Dan itu demi dirimu, aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu, aku meninggalkannya demi dirimu. Jadi aku mohon, maafkan aku, dan jangan tinggalkan aku.”

Astaga,  jantung Febby berdebar lebih cepat saat mendengar pernyataan Randy itu.

Febby lalu membalikkan badannya hingga menghadap Randy sepenuhnya. Lalu iapun memberanian diri untuk bertanya.

“Kenapa kamu meninggalkannya demi aku?”

“Karena aku mencintaimu.”

Randy mengatakannya dengan tegas seakan-akan tidak ingin di tolak dan tidak bisa di ganggu gugat. Febby yang mendengarnya hanya terganga, ia tidak menyangka jika Randy akan mengucapkan kata cinta kepadanya dengan setegas itu. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dirinya mampu mengucapkan kata cinta untuk Randy?

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 14

  1. Horeeee,,,qu sneng Randy langsung brkata jujur ama Febby klo dia udah jatuh cinta dgn Febby.. Dan smg Febby jg bsa jujur pd Randy klo dia jg mencintainya..
    Agar smua mslh mnjd beres…

    Like

  2. Marcela ma chiko berarti gak ada lagi penggangu di kehidupan randy…akhirnya randy ngomong juga ma febby tinggal febby yang harus jujur bahwa ia mencintai randy…

    Like

  3. haisssssss tbc na itu sangat menggangu , astaga knp d saat genting gini …
    syukur lah randy akhir na biza jujur dan buat brian mungkin belom rezeki (q ngebayangin brian itu kim hyun join 😊. )
    chiko ma marsela juga , d bayangan q mereka tetap jidi ma park boom .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s