romantis

Elena – Chapter 7 (Pergi dan Kembali)

elena-copyElena

Haiii.. maaf bgt baru lanjut.. hehehhehe pasti tau kalo akhir2 ini sibuk ama pindahan dan PO buku, jadi ngaret Upnya, sekali lagi maaf yaa.. huehehheheh happy reading…

“Kamu mengindariku? Elena?” pertanyaan Yogie membuat Elena membatu seketika.

Yogie melangkah mendekat, tatapan matanya fokus pada punggung Elena yang sama sekali tidak bergerak. Lenan Yogie kemudian terulur melingkari pinggang Elena dari belakang, kemudian menarik tubuh Elena hingga masuk ke dalam pelukannya. Yogie menunduk, membawa wajahnya pada helaian rambut Elena, menghitup aroma wanginya yang seakan memabukkan.

“Katakan, kamu sedang menghindariku, Elena?” ucapnya lagi kali ini di ikuti dengan kecupan basah menggoda pada permukaan leher Elena.

***

Chapter 7

-Pergi & kembali-

 

“Katakan, kamu sedang menghindariku, Elena?” ucapnya lagi kali ini di ikuti dengan kecupan basah menggoda pada permukaan leher Elena.

Elena memejamkan matanya frustasi. Ia kesal karena secara tidak langsung kini Yogie sedang menggodanya. Dan tergoda oleh Yogie merupakan hal terakhir yang terpikirkan di kepala Elena. Tapi di sisi lain, Elena juga tidak bisa menolak, semakin ia menolak Yogie, maka lelaki itu akan semakin ingin tahu apa yang terjadi dengannya.

Elena membalikkan tubuhnya kemudian melingkarkan lengannya pada leher Yogie. Mengecup singkat bibir Yogie kemudian berbisik di sana.

“Aku akan kembali, aku tidak akan lama.”

“Lalu apa yang aku lakukan saat kamu tidak ada?”

“Kamu bisa berbuat apapun, berkencan dengan siapapun.”

“Dan apa kamu juga berkencan dengan siapapun di sana?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kalau kamu sudah kembali?”

“Aku akan mencarimu lagi.” bisik Elena dengan pasti.

Secepat kilat Yogie melumat habis bibir Elena dengan ciuman panasnya. “Kamu tidak perlu mencariku, karena aku akan menunggumu di sini.” ucap Yogie kemudian kembali melumat bibir Elena, seakan tidak ingin melepaskan wanita itu dari pagutan bibirnya.

***

“Kenapa tadi malam kamu tidur di apatemenku?” pertanyaan Elena membuat Yogie mengangkat wajahnya. Saat ini keduanya berada di ruang tunggu bandara untuk mengantar Elena pergi.

“Memangnya nggak boleh?”

“Boleh, tapi itu sedikit aneh, mengingat kita tidak melakukan seks dan kamu tetap menginap di tempatku.”

“Apartemen sewaanku ACnya rusak, makanya aku numpang tidur di tempatmu.”

“Ohh.” Ada nada kecewa yang di tampakkan oleh Elena.

“Kenapa Andrew tidak mengantarmu?”

“Dia ke luar kota.” Jawab Elena asal.

“Jangan bohong Elena, tadi malam aku bertemu dengannya dan kami mabuk bersama.”

Elena membelalakkan matanya. “Apa?”

“Ya.”

“A-apa yang kalian bicarakan?”

“Banyak.”

Seketika itu juga Elena memucat. Apa si Andrew akan mengatakan status hubungan mereka yang sebenarnya?

“Kenapa Elena? Ada yang kamu sembunyikan dariku?”

“Enggak.”

“Lalu?”

“Lupakan saja! Aku harus cepat pergi.” Ucap Elena sambil berdiri dan bersiap pergi, tapi kemudian Yogie kembali meraih pergelangan tangan Elena.

“Gie.”

“Jangan terlalu lama.” Hanya tiga kata yang di ucapkan Yogie, tapi mampu membuat hati Elena berdesir.

“Doakan saja masalahnya cepat selesai.”

Yogie hanya mampu menganggukkan kepalanya. Kemudian dengan spontan ia mengecup lembut kening Elena.

Deg…

Deg…

Deg…

Untuk beberapa detik Elena hanya mampu mendengar detakan jantungnya sendiri yang seakan ingin meledak. Perlakuan lembut yang di berikan oleh Yogie benar-benar membuat Elena seakan salah tingkah.

“Aku akan tetap tinggal di apartemenmu.” Bisik Yogie. Dan Elena hanya diam membatu. Perasaannya terlalu aneh untuk menerima semua perlakuan Yogie. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?

***

“Kamu mencintai dia?” Elena memberanikan diri bertanya pada lelaki di hadapannya yang kini sudah setengah mabuk.

“Alisha maksud kamu? Tentu saja aku sangat mencintainya.” Yogie menjawab dengan nada sedikit frustasi.

“Lalu kenapa kamu tidak memperjuangkan dia?”

“Memperjuangkan? Dia bahkan sama sekali tidak melirikku. Aku tidak punya apa-apa di bandingkan suaminya.”

“Kamu akan mendapatkan yang lebih baik di bandingkan dia.” Hibur Elena.

“Lebih baik? Ya, tentu saja seperti kamu. Kamu seribu kali lebih baik di bandingkan Alisha. Tapi aku tidak tahu apa yang salah denganku, kenapa aku tidak bisa menggantikan posisi Alisha pada wanita lain termasuk kamu?”

“Karena kamu tidak ingin menggantinya.”

“Apa kamu mau menjadi penggantinya?” pertanyaan Yogie sontak membuat Elena menatap tepat pada manik mata Yogie.

“Maksud kamu?”

“Jadilah Alisha untuku.”

Elena terpaku dengan apa yang di katakan Yogie. Menjadi wanita lain untuk lelaki itu? Dapatkah ia melakukannya? Dan Elena tak dapat berpikir jernih lagi ketika Yogie menarik tubuhnya hingga lelaki tersebut kembali memiliki tubuhnya lagi dan lagi.

 

Bayangan itu kembali berkelebat di kepala Elena. Sudah satu bulan ia meninggalkan Yogie, kabur ke rumah keluarga Megan yang berada di Boston, Massachusetts . Entah apa yang Elena cari di sana, yang jelas, ia hanya ingin menjauh sedikit dari sosok Yogie, sosok yang entah kenapa mulai mengganggu pikirannya.

“Kamu melamun lagi?” Megan menghampirinya sembari membawa dua cangkir cokelat panas.

“Tidak, aku hanya-”

“Menghindari seseorang?”

Elena menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Megan. “Dari mana kamu tahu?”

“Mungkin saja, kamu terlihat aneh.”

“Apanya yang aneh?”

“Satu bulan ini kamu menghabiskan banyak waktu untuk diam melamun di kursi ini.”

“Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya.”

“Ya, selain itu, kamu juga tidak bosan untuk melakukan video call dengan lelaki di negaramu itu, siapa kamu bilang, Yogie? Diakah lelaki yang sedang kamu pikirkan?”

“Hanya teman.”

“Teman apa?”

“Seks, mungkin.”

Megan tertawa lebar. “Jadi kamu masih melakukan kebiasan burukmu itu? Menjalin hubungan dengan pria hanya untuk mencari kepuasan saja?”

“Entahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang ku rasakan saat ini.”

“Kamu hanya bingung Elena, kamu terlihat seperti seorang yang takut melangkah lebih jauh, kamu terlihat seperti seorang yang terpenjara dalam kenangan masalalu, siapa yang membuatmu seperti ini? Apa Aaron?”

Elena hanya termenung. Ya, Megan hanya tahu jika Elena sempat menyukai Aaron dulunya karena Elena pernah menceritakan hal itu pada Megan, hanya saja, bukan Aaron yang selama ini memenjarakan dirinya dalam kenangan masalalu, bukan Aaron pula yang seakan menceburkan dirinya dalam kubangan lumpur penuh dengan kesakitan.

“Bukan dia, Meg.”

“Lalu?”

 

“Katakan kamu mencintaiku! Katakan kamu mencintaiku!” lelaki itu menggeram dengan sedikit kasar, cengkeraman tangannya yang berada pada pipi Elena semakin mengeras, membuat Elena meringis kesakitan.

Lelaki tersebut mendorong tubuh mungil Elena hingga membentur dinding kemudian menghimpitnya di sana lalu dengan kasar  mengoyak pakaian yang di kenakan Elena. Elena hanya diam, meski matanya tidak berhenti meneteskan air mata. Untuk anak yang berusia Tujuh belas tahun, Elena masih belum mengerti jika dirinya kini sedang di lecehkan. Yang ia tahu hanyalah, bahwa ia tidak ingin membuat lelaki di hadapannya tersebut semakin marah.

Lelaki tersebut semakin menghimpit tubuh Elena, memojokkan Elena, seakan Elena tidak memiliki kesempatan untuk lari menjauh atau mengelak.

“Katakan Elena, katakan atau aku akan menyakitimu.”

Dan ketika lelaki tersebut sudah mengucapkan ancamannya, maka yang dapat Elena lakukan hanyalah pasrah. Dengan kasar lelaki itu memasuki dirinya begitu saja, dan itu membuat Elena merasakan kesakitan yang amat sangat. Sakit jiwa, dan sakit raga membuat Elena mau tak mau kembali menangis sesenggukan.

“Katakan Elena, katakan!!” Ancaman itu menggema pada telinga Elena.

“Aku mencintaimu, Aku mencintaimu, Gilang.”

Lelaki itu tesenyum miring, seakan puas dengan apa yang di katakan Elena. Ia mulai bergerak dengan kasar, memuaskan hasrat primitifnya hingga tak menyadari jika dirinya menorehkan luka yang amat dalam pada seorang gadis yang di paksa menjadi dewasa sebelum waktunya.

 

‘Praankkkkk.’

Elena terkesiap ketika menyadari cangkir yang di genggamnya jatuh begitu saja karena telah melamunkan masalalu kelamnya. Wajahnya pucat pasi, seperti orang yang benar-benar ketakutan.

“Kamu tidak apa-apa?” Megan bertanya dengan wajah khawatirnya. Ia tidak pernah melihat Elena seperti saat ini, apa yang terjadi dengan temannya itu.

Tanpa di duga, Elena  bangkit seketika. “Aku harus pergi.” ucapnya.

“Kemana?”

“Kembali ke negaraku.”

“Tapi kenapa?”

“Aku tidak bisa terlalu lama, aku merindukannya.”

“Merindukannya? Merindukan siapa? Temanmu yang bernama Yogie itu?”

Elena menggeleng cepat. “Merindukan sentuhannya.” Dan setelah itu, Elena beranjak ke kamarnya, ia lalu membersihkan diri dan membereskan pakaiannya. Ia harus segera pulang, ia harus bertemu dengan obatnya. Ya, sentuhan Yogie sudah seperti air yang meredakan dahaganya, seperti obat penghilang rasa sakit ketika ingatan kelamnya kembali menjangkiti pikirannya.

***

Yogie tidak berhenti menggerutu kesal. Hari ini lagi-lagi ia mendapat marah dari atasannya karena berangkat siang. Ahh jika saja bukan karena Elena, mungkin ia tak akan mau bekerja di kantor itu lagi.

Mengingat tentang Elena, membuat Yogie semakin kesal. Wanita itu entah kenapa tidak segera kembali, dan itu membuat Yogie frustasi. Selama satu bulan ini Yogie menghabiskan waktunya di apartemen milik Elena, ia tentu tidak memiliki nafsu lagi untuk bermain-main di club-club malam seperti dulu, dan ia tidak tahu kenapa kebiasaan buruknya itu hilang begitu saja.

Kini, rasa frustasinya itu seakan berkumpul menjadi satu di kepalanya, ia sangat merindukan Elena, menginginkan menyentuh wanita itu, dan ia frustasi karena tak dapat melakukannya. Sialan!! Elena benar-bena harus segera kembali.

Yogie berjalan cepat menuju ke arah motor sportnya, menaikinya kemudian memacunya menuju ke apartemen Elena.

Sampai di sebuah perempatan tak jauh dari kantor tempatnya bekerja, Yogie berhenti ketika lampu merah perempatan jalan menyala. Dengan spontan Yogie menyapukan pandangannya ke segala penjuru, kemudian tatapan matanya terpaku pada sosok yang sedang menikmati secangkir kopi sembari menatap layar notebooknya di teras sebuah kafe tak jauh dari perempatan jalan.

Yogie jelas mengenali sosok tersebut, dan entah kenapa dia ingin menghampiri sosok tersebut. Ketika lampu hijau menyala, Yogie memacu motornya memasuki kafe tersebut dan berniat menyapa sosok perempuan yang sudah lama tak di temuinya.

“Je? Kamu di sini?” tanya Yogie masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Wanita tersebut mengangkat wajahnya dan seketika ekspresi terkejut tampak pada wajah cantiknya.

“Yogie?” tanya wanita itu sembari berdiri seketika.

“Hai.” sapa Yogie, sedangkan wanita tersebut sontak memeluk tubuh Yogie.

“Hai, apa kabar?” tanya wanita itu dengan ramah.

“Baik, kamu sendiri?” Yogie bertanya balik.

“Aku juga baik.”

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Yogie yang saat ini sudah duduk tepat di hadapan wanita tersebut.

“Aku sedang santai.” Jawab wanita tersebut sambi melirik ke layar notebook di hadapannya.

“Maksudku, sejak kapan kamu suka nongkrong di kafe seperti ini?”

Wanita tersebut tertawa lebar. “Ini kafe milik suamiku, Gie, dan aku suka sekali menghabiskan waktu di sini saat sore menjelang.”

“Benarkah? Aku sering lewat sini, tapi aku tidak pernah melihatmu.”

“Mungkin saat itu aku sedang sibuk dengan puteriku.”

“Puteri? Kamu sudah punya seorang puteri?” wanita tersebut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Namanya Jihan, Yogie biasa memanggilnya dengan panggilan Jeje, panggilan sayangnya pada sosok cantik yang pernah mengisi harinya dulu. Ya, Jihan adalah mantan kekasih Yogie saaat SMA dulu.

“Je, aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi.”

Jihan tidak berhenti tersenyum melihat kelakuan Yogie yang masih tampak tak percaya dengan pertemuan mereka.

“Kamu berbeda Gie.”

“Ya, dan kamu juga berbeda. Apa ini? Kamu suka baca novel?” tanya Yogie sambil menunjuk tumpukan novel di sebelah notebook milik Jihan.

“Aku yang menulisnya.” Dan Yogie membulatkan matanya seketika.

“Kamu menulis Novel?”

Jihan menganggukkan kepalanya. “Sedikit.”

“Kuharap kamu tidak menulis kisah kita dulu. Hahahaha.” Yogie tertawa lebar di ikuti dengan tawa Jihan. Tak lama, Yogie merasakan ponselnya bergetar dalam saku celananya. Yogie merogoh sakunya dan mengangkat pangilan tersebut.

“Jemput aku di bandara.” Hanya empat kata tapi mampu membuat Yogie mengangkat ujung bibirnya, tersenyum karena kerinduannya akan segera terobati.

“Oke.” Jawabnya, lalu telepon tersebut di matikan begitu saja. Yogie tersenyum seperti orang gila, tidak menyadari jika Jihan sejak tadi menatapnya dengan rasa ingin tahu.

“Ada apa?” tanya Jihan.

“Aku harus segera pergi. Tapi, apa nanti aku boleh mampir lagi?”

“Kafe ini terbuka lebar untukmu, Gie.” Jawab Jihan dengan lembut.

“Oke, aku pergi dulu, dan-” Yogie kemudian memeluk erat tubuh wanita tersebut. “Aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi.” Bisiknya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Jihan yang terpaku menatap punggung lebarnya yang semakin menjauh.

***

Yogie sedikit berlari menuju ke arah terminal kedatangan, Elena pasti sudah menunggunya, dan ia juga sama, menunggu untuk kembali menatap wajah cantik yang sudah sebulan terakhir tidak di temuinya.

Ahh, pasti menyenangkan sekali dapat menyentuh wanita itu, mencumbunya hingga kehabisan napas, membelai seluruh permukaan kulit lembutnya. Oh sial! Bahkan membayangkannya saja membuat Yogie tegang seutuhnya.

Setelah sedikit berputar-putar, akhirnya mata Yogie menangkap pada sosok tersebut, wanita itu tampak cantik dengan kacamata hitam yang bertenger di hidungnya, berdiri dengan mengenakan Dress selututnya, Coat dengan potongan modis yang lebih panjang dari Dress yang di kenakannya, kakinya tampak jenjang dan indah karena di balut dengan stiletto hitam, oh, Yogie menelan ludah susah payah menatap penampilan Elena yang entah kenapa sangat menggoda di matanya.

Tanpa di duga, Elena sedikit berlari ke arahnya, kemudian melingkarkan lengannya begitu saja pada lehernya dan wanita itu tidak malu lagi mencium bibirnya di depan umum. Elena mencumbunya dengan lebut, dan yang bisa Yogie lakukan hanya membalasnya.

Ciuman itu terputus ketika keduanya sama-sama kehabisan napas. Yogie menundukkan kepalanya menatap wajah Elena yang sudah lebih dulu menunduk.

“Kenapa?” tanyanya dengan suara serak tertahan.

“Ajak aku ke hotel terdekat.” bisik Elena dengan suara yang sama seraknya.

Yogie membulatkan matanya seketika. “Kenapa nggak pulang saja?”

Elena menggeleng cepat, ia mengangkat wajahnya hingga matanya menatap tepat pada manik mata Yogie yang sudah sedikit berkabut karena gairah.

“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama.” ucapnya penuh arti.

Yogie tersenyum lembut. “Oke, kita akan mencari hotel terdekat.”

***

Yogie menutup pintu di belakangnya, kemudian menatap Elena dengan tatapan merindunya. Wanita itu pasti merindukan sentuhanya, bisa di lihat dari ciuman menuntut yang di berikan wanita tersebut saat di bandara tadi.

Yogie berjalan menuju ke arah Elena, dan tanpa di sangka wanita tersebut memeluk tubuhnya erat-erat.

“Aku merindukanmu, Gie.”

“Benarkah?”

Elena menganggukkan kepalanya. “Merindukan sentuhanmu.”

“Ya, itupun yang kurasakan.”

“Aku mencium bau parfum wanita, Gie.” Elena sedikit menjauhkan wajahnya kemudian menatap Yogie seakan meminta penjelasan.

Yogie mengangkat kedua bahunya. “Aku hanya bermain-main dengan beberapa wanita seperti apa yang kamu sarankan.”

Elena mulai menggerakkan jemarinya untuk membuka kancing demi kancing kemeja yang di kenakan Yogie.

“Jadi kamu kencan dengan wanita lain saat aku tidak ada?”

“Ya, bukankah itu yang kamu sarankan?” Yogie berbohong.

Elena mengangguk, tapi konsentrasinya masih terarah pada kancing-kancing kemeja Yogie. “Aku tidak kencan dengan lelaki lain kemarin.”

“Benarkah? Apa itu yang membuatmu ingin segera ku sentuh seperti saat ini?”

Sedikit banyak, pertanyaan Yogie membuat Elena meringis malu. Ia sudah seperti seorang wanita yang haus akan belaian pria, dan Yogie mengatakannya secara gamblang padanya. Apa Yogie tidak bisa sedikit saja menjaga perasaannya?

“Ya, itu alasan kenapa sekarang aku sangat ingin di sentuh dimana-mana dan segera di puaskan.”

“Hanya ingin di puaskan?” pancing Yogie.

“Ya, hanya itu, memangnya apa lagi?”

Yogie sedikit kesal denga jawaban yang di berikan oleh Elena. Kenyataan jka Elena hanya merindukan sentuhannya membuat Yogie ingin marah. Tapi kenapa? bukankah hubungan mereka memang tak lebih dari hubungan seks? Kedekatan mereka tak lebih dari kedekatan akan sentuhan kulit masing-masing, bukan kedekatan yang lainnya.

Dengan tidak sabar Elena membuka kemeja yang di kenakaan Yogie, membuka kaus dalamnya hingga membuat tubuh bagian atas Yogie polos, menampilkan pahatan sempurna dari otot-otot bisepnya.

Pun dengan Yogie yang sudah membantu Elena membuka dress yang di kenakan wanita tersebut dan meninggalkan Elena berdiri hanya mengenakan Bra dan Panty dengan warna senada.

Elena semakin mendekat ke arah Yogie, dan dengan agresif ia mulai mencumbu bibir Yogie, seakan menuntut lelaki tersebut untuk segera memulai permainan tersebut.

Yogie yang sudah menegang akhirnya tak dapat menahan godaan dari Elena, ingin rasanya ia menghukum Elena karena sudah meninggalkannya begitu saja selama sebualan terakhir dengan cara menolak permintaan Elena, tapi nyatanya, ia lebih memilih meredakan nyeri di pangkal pahanya dan mengesampingkan harga dirinya.

Jemari Yogie kemudian menangkup kedua gudukan mengoda pada dada Elena, memainkan puncaknya dengan jemarinya yang lihai, membuat Elena melepaskan cumbuannya dan mengerang nikmat.

Dengan cekatan Yogie membuka kaitan bra yang d kenakan Elena, meloloskannya hingga membuat Elena berdiri dengan lekukan tubuhnya yang menggoda. Setelah puas memainkan dua puncak tersebut dengan jemarinya, Yogie akhirnya mendaratkan bibirnya pada puncak payudara tersebut secara bergantian.

“Oh, sial! Sentuh aku! Masuki aku, Gie!” seru Elena ketika Yogie sudah mengulum kedua puncak payudaranya.

Jemari Yogie kini bahkan sudah menyelinap ke dalam panty yang di kenakan Elena, membuat Elena semakin mengerang, mengacak-acak tatanan rambut Yogie ketika jemari itu membelai pusat dirinya, memasukinya dan menggodanyaa di sana.

“Gie, please.”

“Apa, Honey?”

“Masuki aku.”

“Aku sudah memasukimu.” goda Yogie.

“Dengan kejantananmu, sialan!” umpat Elena kesal karena Yogie tak berhenti menggodanya.

Dengan spontan Yogie merobek panty yang di kenakn Elena, mebuat Elena seakan terbakar dengan sikap panas yang di tampilkan Yogie.

“Kamu ingin bermain kasar?” tanya Elena sambil menyunggingkan senyuman miringnya.

“Sangat ingin.” Bisik Yogie dengan suara seraknya.

“Ingin memakai cambuk atau mengikat pergelangan tanganku di kepala ranjang dengan dasimu?”

“Berhenti bicara Elena! Kamu hanya akan membuatku meledak sebelum waktunya ketika membayangkan aku mengikatmu dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjang.”

Elena tertawa lebar, tapi kemudian tawanya tersebut terhenti seketika saat Yogie mendorong tubuhnya hingga telentang di atas ranjang hotel. Yogie bahkan segera menyatukan diri tanpa banyak bicara lagi.

“Uughh, kamu benar-benar bajingan!”

“Bukankah ini yang kamu inginkan, eh?” Yogie menyeringai sedangkan bagian tubuhnya yang mengeras tidak berhenti bergerak menghujam dengan gerakan menggoda, dan itu membuat Elena tersiksa karena kenikmatan bertubi-tubi yang di berikan oleh tubuh Yogie.

“Brengsek kamu, Gie!”

“Ya, aku memang brengsek, dan kamu jalang sialan!” Yogie kemudian memenjarakan kedua pergelangan Elena dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelahnya lagi sibuk menggoda puncak payudara Elena.

“Ohh, Gie, kamu membuatku gila!”

“Ya, Honey. Aku juga sudah gila.”

“Ya, ya, ya, teruskan. Ohh, Astaga.” racau Elena.

“Wanita nakal! Jalang sialan! Ohh, sial!” Yogiepun seakan tak ingin kalah dengan racauan-racauan yang di dengarnya dari Elena.

“Ohh, Astaga, Gilang, please, please buat aku berteriak. Oh sial!!” Elena masih meracau sambil memejamkan matanya, sedangkan Yogie seketika melambatkan pergerakannya sembari menatap intens ke arah wajah Elena.

Apa ia salah dengar tadi? Gilang? Siapa dia? Kenapa Elena memangilnya?

Elena membuka matanya ketika ia merasakan pergerakan Yogie mulai melambat. “Kenapa kamu melambat?”

Yogie hanya menggelengkan kepalanya. “Aku hanya ingin menggodamu.”

“Brengsek! Lakukan cepat, aku akan segera sampai.”

“Aku yang memegang kendali Elena, jadi terserahku.”

“Please Gie, please, buat aku berteriak saat ini juga.”

“Kamu yakin?”

“Sialan! Jika aku tidak berteriak, maka akan kutendang bokongmu keluar jendela dalam keadaan telanjang bulat.”

“Mengancamku, Elena?”

Please.” Elena kembali memohon.

Yogie tersenyum miring. Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Elena lalu berbisik di sana. “Aku akan membuatmu berteriak, tapi hanya meneriakkan namaku, bukan nama lelaki brengsek lainnya.” Belum sempat Elena mencerna kalimat Yogie, Yogie sudah kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Elena, melumatnya dengan kasar, seakan-akan ingin menghapus kenyataan jika wanita yang di cumbunya itu tadi baru saja memanggil nama lelaki lain selain dirinya.

Dan pada akhirnya, permainan panas mereka selesai ketika Elena mengerang penuh dengan kenikmatan di susul Yogie yang tak kalah puas dengan apa yang mereka lakukan.

Setelah cukup lama keduanya tenggelam dalam gelombang orgasme, Elena yang sadar lebih dulu akhirnya mendorong dada Yogie supaya lelaki tersebut lekas menarik diri dari tubuhnya.

“Ada apa?” tanya Yogie dengan sedikit malas.

“Kamu nggak pakek pengaman?”

“Aku baru pulang dari kantor, Elena, kamu pikir aku semesum itu hingga aku mengantongi alat kontrasepsi kemanapun aku pergi?”

Elena mengusap wajahnya dengan frustasi. “Shit!” umpatnya.

“Apa lagi sekarang?” tanya Yogie masih dengan nada malas-malasnya karena.

“Aku tidak lagi meminum pil sejak aku ke luar negeri sebulan yang lalu.” Dan seketika itu juga mata Yogie membulat ke arah Elena. Oh sial! Bagaimana kalau, kalau….

 

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Elena – Chapter 7 (Pergi dan Kembali)

  1. Nah kan akhirnya nama Gilang di sebut juga kan sama elena , dan Yovie knp egak jujur aja kali sebulan itu dia nunggu elena padahal elena udah jujur lho ..

    Like

  2. bagaimana ql hamil , yaa tinggal nikah ql hamil …gila mereka sepanas itu tapi q malah deg”an … penasaran seperti apa gilang itu sampe bikin elena kek gitu..
    dan yongie biza manis juga ternyata.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s