romantis

Sweet in Passion – Chapter 13

wattpadsipSweet in Passion

 

 

Chapter 13

 

Febb, Aku menginginkanmu.” tanpa di sangka perkataan itu melucur dengan sempurna dari bibir Brian, dan itu membuat Febby membulatkan matanya seketika  karena terkejut dengan perkataan yang di lontarkan oleh Brian.

Febby seketika melepaskan diri dan menjauh saat  mendengar perkataan Brian, ia tahu jika ini tidak benar, ini salah, dan dia harus mengakhirinya sebelum terlambat.

“Brian, maafkan aku.” Kata Febby Lirih.

“Aku tahu.” jawab Brian dengan nada  kecewa. “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.” Lanjut Brian lagi. Sedangkan Febby hanya mengangguk patuh.

***

Randy berjalan mondar-mandir di depan pintu Rumahnya, dia sedang menunggu seseorang, siapa lagi jika bukan Febby, istrinya.  Tadi siang Randy berniat kerumah sakit untuk menjenguk Febby yang sedang bekerja sekalian untuk mengajaknya makan siang. Namun ketika sampai di rumah sakit, lagi-lagi dirinya di kecewakan karena Febby tidak berada di sana, lebih parahnya lagi Febby keluar dengan orang yang selama ini membuatnya cemburu yaitu si Brengsek Brian.

Lama Randy menunggu kedatangan Febby  di rumah sakit, tapi Febby  tak juga kembali padahal hari sudah mulai sore. Apa selalu seperti itu? Apa Febby  selalu bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan Brian? Bukankah Febby saat itu sudah berjanji jika akan menghindari Brian? Mengapa Febby mengingarinya?

Akhirnya dengan kesal Randy memutuskan untuk pulang dan menunggu Febby di rumah. Seperti Saat ini, Randy belum tenang jika belum mendapat kabar tentang Febby.

Tak lama orang yang di tunggu-tunggupun akhirnya datang. Randy tak dapat membendung amarahnya lagi ketika melihat Febby pulang bersama dengan lelaki bajingan itu. Randy menatap Febby dengan tatapan membunuhnya.

Febby sedikit bergidik melihat tatapan membunuh yang di lemparkan Randy padanya, namun Febby tak menghiraukannya, ia masih kesal dengan Randy  yang selama ini sudah membohonginya.

“Baiklah, terimakasih karena kamu sudah bersedia mengantarku pulang.” kata Febby dengan Ramah.

Brian yang memang tidak keluar dari dalam mobilnya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu diapun kembali menancap pedal gasnya dan menghilang dibalik tikungan jalan.

Febby lalu membalikkan badan dan berjalan dengan santainya menuju ke arah pintu rumah tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan Randy  yang menatapnya dengan tatapan membunuhnya.

“Kamu sedang apa diam disitu? Kamu lupa membawa kunci rumah lagi?” tanya Febby dengan nada santainya.

“Apa kamu tidak melihat jika aku sedang menunggumu?” desis Randy dengan menahan amarahnya.

“Menungguku? Yang benar saja, memangnya untuk apa kamu menungguku?”

Randy sedikit tidak mengerti dengan sikap Febby yang tiba-tiba seperti sedang kesal dengannya. Bukankah seharusnya dirinyalah yang kesal terhadap Febby?

“Kita harus bicara, penting.” Kata Randy kemudian.

“Sudahlah, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku lelah.” Jawab Febby kemudian.

Tapi Randy tidak menyerah begitu saja, dan dia langsung To the Point menanyakan pertanyaan yang sudah lama menari-nari di pikirannya.

“Apa hubunganmu dengan si Brian?” tanya Randy  tajam dengan mencekal pergelangan tangan Febby.

“Bukan urusanmu.” Jawab Febby datar sambil melepaskan cengkraman tangan Randy.

“Febb, aku tidak akan bertanya dua kali dan jangan membuatku marah.” ancam Randy dengan suara penuh penekanan.

Febby menghela napas dengan kasar kemudian mejawab pertanyaan Randy.

“Kami keluar bersama, makan bersama, kami kencan kami ciuman apa itu sudah cukup?” Febby berkata dengan nada sedikit mengejek.

“Apa? Kalian-” Randy  tak dapat melanjutkan kata-katanya karena masih terkejut dengan apa yang dikatakan Febby. Febby berkencan dengan lelaki bajingan itu? Dan apa? Mereka berciuman?

“Kamu punya kehidupan pribadi sendiri dan aku memiliki kehidupan pribadi sendiri, jadi kita berdua sama-sama impas.” Jelas Febby lagi.

“Apa? Apa maksudmu?” Randy benar-benar tak mengerti.

“Kamu pikir aku wanita bodoh, aku dan seluruh warga negeri ini juga tahu kalau  kamu mempunyai hubungan khusus dengan wanita itu!” Jawab Febby dengansedikit berteriak, entaah kenapa tiba-tiba emosinya mulai tersulut begitu saja.

“Hei, ada apa denganmu? Aku tidak sedang membicarakan hubunganku dengan wanita lain.”

“Dan aku juga tidak suka membicarakan hubunganku dengan lelaki lain.” jawab Febby sambil bergegas masuk kedalam kamarnya tapi lagi-lagi Randy mencekal pergelangan tangannya.

“Kita sudah sama-sama janji akan menghindari mereka, tapi kenapa kamu mengingkarinya?” tanya Randy dengan tajam dan masih penuh dengan penekanan.

“Aku? Mengingkarinya? Seharusnya aku yang berkata seperti itu, kamu memang berjanji akan menghindari wanita jalang itu, tapi di belakangku kamu malah melakukan sebaliknya, bahkan kamu juga bermain film bersama tanpa sepengetahuanku!” Kali ini Febby sudah mulai berteriak. Febby  tidak tahu kenapa dirinya bisa sesensitif ini, rasanya ia ingin selalu meledak-ledak.

Randy  terkejut dengan pernyataan Febby. “Dari mana kamu tahu tentang film sialan itu?”

“Itu bukan urusanmu. Yang pasti aku tahu bahwa Kamu.Sudah.Membohongiku.”  Febby berkata dengan penuh penekanan di setiap katanya sambil menunjuk-nunjuk dada Randy.

Randy menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. “Kita harus bicara baik-baik, aku tidak ingin bertengkar denganmu.” Kata Randy pelan, sepertinya ia harus mengalah jika melawan sikap keras kepala Febby.

“Maaf, aku lelah. Aku ingin istirahat.” Febby menjawab tanpa bisa di ganggu gugat sambil meninggalkan Randy  yang masih berdiri membatu.

***

Febby  keluar dari kamarnya  dengan tergesa-gesa. Ini belum jam Enam pagi, tapi Febby sudah siap berangat ke rumah sakit. Bahkan Randy  saja belum keluar dari kamarnya. Dirinya terlalu malas untuk bertemu dengan Randy pagi ini.

Febby menjalankan mobilnya sendiri dengan pelan dan santai sambil menikmati suasana pagi di kota Jakarta. Tiba-tiba pikirannya kembali lagi kepada Randy. Astaga, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka nanti? Febby sepertinya sudah tidak sanggung hidup bersama dengan Randy  lagi. Apa  mereka harus berpisah? Bagaimana dengan Bayi? Ahh, lagi pula sampai saat ini dirinya belum hamil, bukan? jadi belum terlambat untuk berpisah. Pikirnya.

Febby menghentikan laju mobilnya. Ia lalu menyandaran kepalanya pada kemudi sambil menangis terisak. Kenapa Randy melakukan ini padanya? Kenapa Randy  tak bisa membuka hati untuk dirinya? Apa ada yang kurang dari dirinya dibandingkan wanita sialan itu? Batin Febby.

***

Siang ini Randy benar-benar dalam Mood yang buruk. Sepagi ini dia uring-uringan tak jelas. Bagaimana tidak, tadi malam setelah bertengkar hebat dengan Febby, dirinya tidak bisa tidur. Bayangan akan melakukan seks dengan marah dan kasar menari-nari di otak mesumnya. Febby terlihat semakin seksi dan menggoda saat sedang marah.

Sialan! bahkan saat bertengkar saja Randy  tidak bisa menghilangkan bayangan tubuh telanjang Febby dari dalam pikiran kotornya. Alhasil pagi ini ia bangun kesiangan dan mendapati Febby sudah tidak ada di dalam kamarnya. Sial!!

Semua Crew di lokasi syuting menjadi pelampiasan kemarahannya. Belum lagi kebosanan yang melanda dirinya karena harus menunggu si pemain pengganti yang sejak tadi mengulang-ulang adegan ranjang dengan Marsela karena kurang mendapat chemistery.

Sialan! Akhirnya Randy berdiri dengan sangar dan menyuruh si pemeran pengganti pergi.

“Adegan itu aku sendiri yang melakukannnya.” Kata Randy dengan tegas. Membuat semua orang yang berada di sana terperangah tak percaya menatap ke arahnya.

Adegan itu cukup panas. Film itu berjudul “Passion of Love”. Berkisah tentang Benny Andrean, seorang CEO muda yang ternyata tertarik dengan Fiona Adelia, yang hanya seorang wanita penghibur. Bisa di bayangkan berapa banyak adegan ranjang yang akan mereka mainkan nantinya. Randy sendiri berperan sebagai Benny Andrean, si CEO muda, sedangkan Marsela berperan sebagai Fiona Adelia, si wanita penghibur.

Randy akhirnya melakukan adegan itu. terlihat sangat  panas dan penuh gairah, membuat sutradara ikut ternganga. Apa yang terjadi dengan Randy? Dia bahkan bisa melakukan adegan yang sempat di tolaknya hanya dalam sekali Take dan itu tadi benar-benar sangat sempurna. Ekspresi yang di tampilkan Randy  benar-benar seperti seorang yang sedang kehausan bahkan terobsesi terhadap seorang wanita. Sangat cocok dengan karakter Benny Andrean yang terobsesi dengan tubuh seorang Fiona Adelia dalam Film tersebut.

God Job!! Bagus sekali, itu tadi benar-benar keren.” Kata Sang sutradara sambil menepuk-nepuk bahu Randy.

Randy yang masih membenarkan kimono tidurnya  –kostum yang dikenakan untuk syuting, hanya mendengus sebal.

“Terserah apa katamu, setelah ini, aku hanya ingin kalian menaikkan gajihku.”  Jawab Randy cuek lalu meninggalkan lokasi syuting tersebut begitu saja.

***

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Chiko yang saat ini sudah duduk di Marsela.

“Aku baik-baik saja,  aku hanya tidak menyangka jika Randy tadi mau melakukan adegan itu, padahal beberapa hari yang lalu dengan tegas dia menolaknya.”  Marsela berkata dengan pipi yang sudah merona, ia masih terinat adegan tadi ketika Randy tidak berhenti mencumbunya, entah kenapa itu membuat Marsela merindukan sentuhan dari lelaki tersebut yang sepertinya sudah lama sekali tidak ia rasakan.

“Dia aneh pagi ini, dia seperti orang yang sedang kesetanan.” Kata Chiko kemudian.

Marsela lalu tersenyum. “Aku tak peduli,  aku hanya bahagia bisa sedekat itu lagi dengannya walau hanya dalam adegan film.”

“Marsela.” lirih Chiko.

Marsela lalu memandang Chiko dengan tatapan tanda tanyanya. Kenapa lelaki dihadapannya ini berekspresi sepeti ini? Seakan-akan dia tersiksa dan tidak punya semangat lagi dalam dirinya.

“Iya?” tanya Marsela penuh dengan perhatian.

“Lupakan Randy.”  Chiko berkata dengan tegas.

“Kenapa kamu ngomong gitu?” Marsela sendiri tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan Chiko.

“Dia sudah tidak mencintaimu lagi, aku hanya tidak ingin kamu terluka karenanya.”

Marsela lalu berdiri dan bersiap untuk meninggalkan Chiko, tapi Chiko lebih cepat menangkap pergelangan tangan Marsela.

“Jangan pergi, aku membutuhkanmu.” Lirih Chiko.

Marsela diam membatu, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chiko.

“Chiko, apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Marsela yang masih tampak bingung dengan apa yang di katakan Chiko.

Chiko lalu berdiri, dan tanpa di sangka-sangka  ia memeluk erat tubuh Marsela.

“Marsela, Aku mencintaimu.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibir Chiko, dan itu membuat tubuh Marsela kaku, bibirnya ternganga, sedangkan pikirannya terasa kosong seketika.

***

Febby  berlari secepatnya ke ruang IGD. Pagi ini ada seorang ibu dan anaknya yang sedang mengalami kecelakaan, Si anak harus menjalani pembedahan di kakinya sedangkan Dokter bedah baru datang sekitar jam Sebelas siang. Akhirnya Febby yang datang membantu pembedahan pada kaki si anak.

Tapi entah kenapa sesampainya di IGD perasaan Febby benar-benar tidak enak, tapi Febby mengesampingkan perasaannya tersebut. Di dalam IGD sudah ada bebebrapa dokter muda yang masih magang menjalani serangkaian tindakan untuk ibu dan anak tersebut.

Febby bergegas cepat ke arah ranjang si anak. Dan mendapati Dua dokter muda sudah memberi beberapa tindakan. Ketika salah satu dokter mulai membedah kaki si anak yang terluka tersebut entah kenapa tiba-tiba perut Febby terasa penuh. Bayangan darah segar dan juga bau anyir dari darah tersebut seketika menusuk indera penciumannya. Membuat Febby mual hebat di dalam Ruang IGD tersebut.

Seluruh Dokter dan suster yang berada di dalam IGD tersebut langsung menghentikan aksinya masing-masing dan saling menatap satu sama lain. Sedangkan Febby  yang sudah tidak tahan lagi dengan bau darah tersebut seketika lari meninggalkan ruang IGD dan menuju ke toilet terdekat untuk memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.

Lama Febby berada di dalam toilet hingga ketika keluar dirinya sudah dalam keadaan lemas. Seorang suster kemudian datang menghampiri Febby.

“Dokter Febby, ada yang bisa saya bantu? Anda pucat sekali.”

Febby  hanya menggeleng lemas, belum sempat ia menjawab dirinya sudah jatuh terkapar tak sadarkan diri. Si susterpun seketika berteriak meminta pertolongan ketika mendapati tubuh Febby ambruk karena pingsan.

***

Febby membuka matanya mencoba untuk duduk tapi rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Bau macam-macam obat-obatan di ruangan itu begitu menusuk indera penciumannya, kenapa ini? kenapa dirinya jadi tidak tahan dengan bau-bauan tersebut?

Seorang dokter cantik datang menghampirinya, Dokter Desty, dokter spesialis kandungan. Kenapa dirinya ditangani oleh Dokter Desty? tanyanya dalam hati.

“Sore Dokter Febby, bagaimana keadaan anda? Astaga, anda menggemparkan seluruh rumah sakit hari ini, bagaimana bisa seorang Dokter akan muntah hebat bahkan pingsan setelah melihat darah?” Dokter Desty berkata sempari sedikit  tertawa mengejek.

“Saya juga tidak tahu Dok, kenapa bisa seperti itu.” jawab Febby sambil memijit-mijit kepalanya.

“Faktor Kehamilan.”

“Apa?” teriak Febby tak percaya.

“Iya Dok, anda hamil dan usia kehamilannya sudah Tujuh minggu, selamat.” Dokter Desty berkata  lagi kali ini dengan menyunggingkan senyuman manisnya.

Febby hanya terdiam tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana ini? bagaimana bisa seperti ini? bukankah ia memikirkan untuk berpisah dengan Randy tadi pagi? tapi jika dirinya hamil itu tidak akan memungkinkan untuk meminta berpisah dengan Randy. Arrgghhh, kenapa semuanya jadi seperti ini?

***

Akhirnya Febby pulang dengan di antar oleh salah seorang pegawai rumah sakit. Dengan kondisi Febby yang masih lemah taidk memungkinkan dirinya untuk pulang menggunakan mobil sendiri.

Randy yang malam ini lagi-lagi menunggu Febby di depan pintu rumahnya mengerutkan keningnya, ia heran, kenapa Febby pulang dengan diantar salah satu pegawai rumah sakit?

“Apa yang terjadi? kenapa dia mengantarmu?” tanya Randy.

Febby yang pada dasarnya masih kesal dengan Randy akhirnya menjawab pertanyaan Randy dengan datar.

“Aku tidak bisa pulang sendiri.” jawab Febby sambil bergegas masuk.

Randy masih mengikuti dibelakang Febby. “Kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Randy dengan nada Khawatir.

“Aku hamil.” Jawab Febby dengan nada datar dan cueknya. Lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya meninggalkan Randy  yang berdiri ternganga begitu saja.

Randy tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, pikirannya penuh dengan kebahagiaan karena akan memiliki bayi bersama Febby. Astaga, dirinya benar-benar sangat bahagia, kenapa bisa seperti ini?

Diketuknya pintu kamar Febby dengan pelan.

“Febb, buka pintunya, aku mau bicara sesuatu denganmu.” Kata Randy dengan lembut tidak meledak-ledak seperti biasanya.

“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku lelah aku ingin tidur!” teriak Febby dari dalam kamarnya.

Jika biasanya Randy ikut berteriak dan melawan Febby, maka berbeda untuk kali ini. Randy berusaha untuk mengalah, Febby mungkin sedang sensitif karena kehamilannya, lagi pula Febby tidak akan bisa lari kemana-kemana, apa lagi meninggalkannya, karena mereka akan memiliki seorang bayi, seorang pengikat hubungan mereka. Pikir Randy dalam hati.

Dengan menyunggingkan senyum baghagianya Randy masuk ke dalam kamarnya dan kembali membawa sebuah bantal dan sebuah selimut tebal. Malam ini dirinya akan tidur di sofa ruang tengah tepat di depan pintu kamar Febby, Randy melakukan itu untuk berjaga-jaga siapa tahu Febby menginginkan sesuatu pada tengah malam.

Sial! Apa kini dirinya sudah menjadi suami siaga? Randy lagi-lagi tersenyum bahkan menertawakan dirinya sendiri, Astaga, betapa menggelikannya dirinya saat ini.

***

Pagi ini Febby kembali terbangun karena perutnya yang terasa penuh dan mual hebat. Astaga, bahkan kemarin hari saja dirinya tidak merasakan apapun efek dari kehamilan ini, kenapa sekarang sangat terasa sekali efeknya.

Febby mencium sesuatu aroma yang memicunya muntah pagi ini, aroma itu berasal ladi dapur. Dan ketika Febby masuk kedalam dapur dirinya melihat Randy yang sudah super sibuk dengan kompor dan peralatan lainnya di dalam dapur mereka.

“Apa yang sedang kamu masak?” tanya Febby dengan menutup hidungnya.

“Aku membuatkanmu sup ayam dengan rempah-rempah yang baik untuk nutrisi ibu hamil, tadi Mama sudah ku beritahu kabar bahagia ini dan dia menyuruhku memasakkanmu masakan ini.” Kata Randy  dengan semangat.

“Astaga, cepat buang masakanmu itu! Aku benar-benar tidak tahan menghirup aromanya.”

“Apa? Aku bangun pagi-pagi sekali untuk belanja dan memasakkanmu ini, tapi kamu-”

“Aku tidak menyuruhmu memasak, bukan? dan astaga, aroma masakanmu itu benar-benar membuatku mual dan ingin muntah hebat pagi ini.” jawab Febby dengan sedikit kesal.

Randy menghela napas panjang. Sepertinya dirinya harus ekstra sabar untuk mengahadapi Febby, Dan dirinya juga harus mengerti keadaan Febby saat ini. Di buangnya masakan buatannya tersebut tanpa membantah Febby lagi.

Febby yang melihatnyapun merasa tidak enak terhadap Randy.

“Maafkan aku, aku hanya terlalu sensitif.” Lirih Febby.

“Aku mengerti.” Jawab Randy dengan penuh kelembutan. “Apa yang ingin kamu makan pagi ini? Aku akan mencarikannya.” Randy berkata dengan semangat.

“Aku tak yakin, tapi mungkin Roti tawar akan bisa mengisi perutku.”

“Kamu yakin hanya ingin makan roti tawar?”

“Setidaknya roti tawar tidak beraroma dan tak menyulut rasa mualku.” Jawab Febby dengan pasti.

“Baiklah, aku akan mencarikanmu roti tawar.” Kata Randy sambil bergegas pergi.

“Hei, kamu mau kemana? Bersihkan itu dulu hingga tidak berbau.” Perintah Febby sambil menunjuk ke arah bekas-bekas masakan Randy tadi.

Randy mendengus sebal. “Jika membuatmu hamil akan merubahmu menjadi wanita cerewet yang menyebalkan, maka aku bersumpah tidak akan menghamilimu lagi.” gerutu Randy kemudian. Tapi Febby tidak menghiraukan dan malah pergi melemparkan diri di sofa depan televisi dan bersantai di sana.

***

Febby sedikit senang karena dirinya bisa memakan roti tawar yang dibelikan Randy dengan selamat tanpa mengeluarkannya kembali pagi ini. Dirinya sedikit berpikir untuk memaafkan Randy yang sudah membohonginya, mengingat perhatian Randy yang berikan terhadapnya pagi ini. Tapi, Aaahhh sepertinya jangan dulu. Febby masih ingin mengerjai Randy dahulu.

Tiba-tiba bell pintu rumah mereka berbunyi. Febby bergegas membuka pintu tersebut dan tampaklah sesosok wanita yang amat sangat di bencinya Saat ini.

Marsela.

Untuk apa dia kemari? tanya Febby dalam hati.

“Untuk apa kamu datang kemari?” tanya Febby dengan nada ketus tak sopannya.

“Aku hanya ingin bertemu dengan Randy.” Jawab Marsela dengan santainya. Belum sempat Febby menjawab, Randy sudah keluar dengan wajah terkejutnya.

“Marsela? Kenapa kamu kemari sepagi ini?” tanya Randy dengan wajah sedikit terkejut.

Marsela sedikit meringis karena rasa nyeri dihatinya, dia tidak suka dengan panggilan Randy yang tidak mesrah seperti biasanya.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu.” jawab Marsela kemudian. “Bisakah kita keluar sebentar?” tanya Marsela dengan tatapan penuh harap.

Randy menatap ke arah Febby, seperti seorang yang sedang meminta ijin. Sial!! sejak kapan ia meminta ijin kepada seseorang hanya untuk menemui kekasihnya sendiri?

“Kalau kamu meminta ijin denganku untuk keluar bersamanya, aku tidak akan mengizinkanmu.” Jawab Febby dengan tegas membuat Randy dan Marsela tak percaya dengan perkataan Febby tersebut.

“Febb, Aku hanya-”

“Ran, kamu hanya harus memilih. Pergi Bersamanya atau tetap disini bersamaku.” Kata Febby dengan tegas.

Randy lalu menurunkan bahunya dengan lemas. Dirinya tak mungkin meninggalkan Febby dalam keadaan seperti ini, tapi di sisi lain dirinya juga harus menyelesaikan masalahnya dengan Masela secara tuntas.

“Maafkan aku” Kata Randy  terhada Febby sembari megusap lembut pipi Febby sebentar. “Aku hanya pergi sebentar.” Lanjutnya lagi kali ini sambil mencengkeram pergelangan tangan Marsela dengan kasar dan mengajaknya pergi begitu saja dari hadapan Febby.

Febby sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang di lihatnya, ia merasa sangat terpukul. Bagaimana mungkin Randy tetap memilih Marsela dibandingkan dirinya yang saat ini sedang mengandung bayi lelaki tersebut?

Secinta itukah Randy teradap Marsela? Apa memang dirinya tak berarti sama sekali di mata Randy? pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar dalam pikiran Febby, membuat Febby semakin marah dan kesal terhadap Randy,  hingga kemudian beberapa bulir air mata itu jatuh dengan sendirinya dari mata indah milik Febby.

 

-TBC-

Advertisements

4 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 13

  1. feb jangan salah pham dulu , randy pergi buat nyelesain masalah na ko … akhir na febby hamil juga tapi masalah baru malah muncul lagi …
    smoga masalah na cepet selesai …

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s