romantis

Sweet in Passion – Chapter 12

wattpadsipSweet in Passion

Dan Randypun sama. Ia masih tak habis pikir, kenapa ia mencetuskan ide gila itu? Hidup bersama tanpa cinta? Seks bersama tanpa cinta? Dan memiliki bayi bersama tanpa cinta? itu hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin dirinya melakukan semua itu tanpa sedikitpun perasaan yang ikut campur tangan? itu hampir mustahil. Apa dirinya sudah mulai terpengaruh oleh Febby? Apa Febby kini sudah mulai membuatnya candu? Randy sendiri tidak tahu, yang jelas untuk saat ini ia masih ingin memiliki Febby di sisinya, bersamanya, dan ia masih belum ingin melepaskan Febby hingga tercetuslah ide gila tersebut yang ia yakini suatu saat nanti akan semakin menyesatkannya.

***

Chapter 12

 

Randy mulai menjalankan aksinya. Kali ini dicumbuinya wanita yang sudah berada dibawahnya dengan sangat panas. Dia mulai menghisap, melumat, bahkan menggigit bibir bawah wanita tersebut. Lidahnya juga mulai menari-nari bersama dengan lidah wanita tersebut. Ohh astaga, bercumbu dengan orang yang dicintainya memang sangatlah nikmat. Pikirnya kemudian. Apalagi mengingat mereka sudah hampir tak pernah melakukannya.

Sedangkan Marsela, wanita yang sudah di tindihnya tersebut hanya bisa mendesah nikmat. Menggeliat kesana kemari, membuat Randy semakin tak bisa menahan dirinya.

Namun tiba-tiba saja bayangan wanita itu muncul begitu saja di benaknya. Wanita yang mungkin saat ini sedang memasak makan malam untuknya, wanita yang selama beberapa bulan terakhir selalu menemani hari-harinya. Membuat malam-malamnya terasa panas meski sebenarnya suasana di sekitarnya dingin karena musim hujan. Randy  tiba-tiba menghentikan aksinya, menatap ke arah Marsela dengan tatapan tak terbacanya. Sialan! kenapa semua jadi sesulit ini? pikirnya kemudian.

“Cut!” Teriakan itu menyadarkan Randy. Dia sadar bahwa dirinya harus melakukan adegan tersebut dari awal lagi. Sial!!

“Ran, kamu ada masalah? Aktingmu tadi benar-benar bagus, tapi kenapa kamu menghentikannya sebelum ku suruh?!” Teriakan sang sutradara membuat Randy semakin frutasi.

“Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku nggak bisa melakukannya.” Desis Randy dengan tajam.

“Aku tidak peduli. Ulangi lagi hingga sebagus dan sealami mungkin.” Lanjut Sutradara itu lagi.

“Terserah apa katamu.” Randy berujar dengan dingin lalu meninggalkan lokasi syuting tersebut. Marsela yang melihatnya langsung mengikutinya dari belakang.

Akhirnya Randy sampai di ruang ganti, ia tidak menyadari jika Marsela sudah mengikutinya dari belakang dan menutup pintu ruang ganti tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?” Randy terlihat sangat tidak suka dengan apa yang sudah di lakukan Marsela.

“Kenapa kamu bersikap seperti ini padaku?” Tanya Marsela dengan nada lirih dan mulai menangis sesenggukan.

Randy benar-benar mulai merasa tak nyaman dengan suasana di sekitarnya. Dia juga tak tau kenapa dirinya bisa seperti ini.

Ini sudah dua bulan sejak dia mengusulkan ide gila itu kepada Febby. Ide untuk tetap berhubungan seksual walau tanpa cinta, ide untuk mempunyai seorang bayi diantara pernikahan mereka. Dan kini Randy sadar jika hal itu mulai mempengaruhi hidupnya. Bayangan akan diri Febby kini selalu menari-nari di pikirannya. Tak ada lagi Marsela, alasan utama Randy saat menikahi Febby.

Saat ini pikirannya sudah berbelok kearah lain. Tujuannya tak lagi lurus seperti semula. Apakah hatinya juga seperti itu? Apa Hatinya juga sudah berbelok tanpa ia sadari? Ahhh Entah lah, yang jelas Randy sekarang ini tidak mampu berdekatan dengan wanita lain bahkan jika itu hanya sekedar adegan dalam Film.

“Ran..” Panggil Marsela lagi karena tak ada jawaban dari Randy.

“Maafkan aku, aku hanya tidak ingin menyakiti hati Febby.” Jawab Randy dengan pelan.

“Apa? Tapi kamu menyakiti hatiku!” Marsela mulai berteriak kesal.

“Aku minta maaf.” Kata Randy lagi.

“Apa kamu mencintainya?” Tanya Marsela kemudian. Randy hanya diam membatu. “Randy, aku bertanya padamu apa kamu mulai mencintainya?!” Marsela kembali berteriak.

“Maafkan aku, aku tidak yakin.”

“Kamu jahat! Kamu menghianatiku.” Kata Marsela yang kini sudah menangis.

“Marsela, aku tidak tahu jika ini akan menjadi serumit ini.” Kata Randy sambil menggenggam kedua telapak tangan Marsela.

“Lepaskan aku!!”  Marsela menghempaskan tangan Randy, dan mulai berbalik meninggalkan Randy sendiri.

***

“Astaga, ini benar-benar membuatku gila.” Gerutu Febby masih dengan menenggelamkan wajahnya diantara lengannya. Kali ini Febby sedang duduk memeluk lututnya diatas closet. Ia menunggu sesuatu yang membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya.

Test Pack…

Ya, dirinya saat ini sedang menunggu alat itu bekerja sesuai dengan fungsinya. Akhir-akhir ini Febby  memang merasa sedikit aneh dengan tubuhnya. Dia gampang lelah dan suka tidur sebarangan. Meski dia tidak merasakan mual seperti wanita hamil pada umumnya tapi entah kenapa dirinya yakin kalau saat ini dia sedang berbadan dua.

“Ya, sudah Lima menit, kita lihat bagaimana hasilnya, semoga ini berhasil.” Dan mulailah ia melihat satu persatu hasil di Test Pack Tersebut dan…

Kecewa…

Hasilnya Negatif.

“Sialan, kenapa bisa Negatif?” Gerutunya dalam hati. “Haiishh, aku benar-benar bisa gila.” katanya sambil mengacak-acak rambutnya.

Tiba-tiba Bell pintu rumahnya berbunyi. Akhirnya dia bergegas menuju ke arah pintu dan membukanya.

“Hai.” Kata wanita cantik yang kini sudah berada di hadapannya. Dialah Miranda. Kakak perempuan Randy.

“Kak Mira? sedang apa kakak di sini?”

“Apa memang seperti itu caramu menyambut kedatanganku?”

“Ah, maaf, Ayo masuklah, kak.” Ajak Febby kemudian.

“Ada apa? Kamu terlihat berantakan sekali tidak seperti biasanya.” Mira bertanya heran karena mendapati rambut Febby  yang sedikit berantakan.

“Ah, tidak ada apa-apa kak, apa yang ingin kak Mira minum?”

“Nggak usah repot-repot, ayo temani aku berbelanja.”

“Apa? Sekarang?” Tanya Febby dengan raut kagetnya.

“Tentu saja. memangnya kapan lagi?”

“Baikah, aku ganti pakaian dulu.”  Setelah Lima belas menit berlalu. Febby akhirnya siap untuk keluar bersama Mira, kakak iparnya.

***

“Apa kamu sedang ada masalah dengan Randy?” tanya Mira kemudian ketika mereka berada di sebuah kafe setelah puas berbelanja.

“Uumm, tidak kak, aku tidak punya masalah apapun dengannya.”

“Dia aneh.”

Febby mengerutkan keningnya. “Anek kenapa, kak?”

“Dia ke kantor beberapa hari terakhir ini, apa kamu tahu kenapa dia bisa tergugah untuk mengunjungi kantor kami?”

“Benarkah? bukankah itu bagus, kak?” tanya Febby kemudian.

“Ya, kamu tahu sendiri, bukan alasan orang tua kami menjodohkannya denganmu? Tentu itu berhubungan dengan masa depan Randy sendiri, keluarga kami sebenarnya kurang setuju dengan kehidupan Randy yang menjadi publik figur, kami sangat berharap semoga saja dengan menikah bersamamu pikirannya sedikit demi sedikit  terbuka dan dia lebih memilih perusahaan dari pada kehidupannya sebagai aktor.” Mira kemudian meminum minuman pesanannya lalu kembali bertanya pada Febby. “Apa kalian sudah melakukannya?” tanya Mira kemudian dengan nada menggoda.

“Melakukannya?” tanya Febby kembali karena sedikit bingung. Tapi ketika Febby menyadari apa maksud Mira,  seketika Febby membulatkan matanya. “Kak Mira ngapain bahas itu?”

“Kamu tenang saja,  anggap saja aku sebagai kakakmu sendiri. Lagi pula aku tidak akan bercerita dengan siapapun.” Ucap Mira yang kemudian  membuat Febby menghangat. Febby tak menyangka jika secepat ini ia akan mendapatkan kakak baru, bahkan mungkin lebih baik dari pada kakak kandungnya sendiri. “Berceritalah, apa dia benar-benar sudah melakukannya?” tanya Mira lagi.

“A- apa aku memang harus bercerita pada kak Mira? Ini memalukan sekali.” Febby menggerutu dengan wajah yang sudah memerah karena malu.

“Tentu saja, aku harus mengetahui semua yang dilakukan adik bodohku itu.”

Febby terkikik melihat kelakuan Mira yang sedikit kekanak-kanakan saat membahas tentan Randy. “Baiklah kak, umm, sebenarnya kami sudah melakukannnya, bahkan kami berencana memiliki seorang bayi.” jawab Febby dengan sedikit berbisik.

“Apa?? kalian benar-benar serius?!” Teriak Mira tak percaya dan itu membuat Febby menutup kedua telinganya seketika.

“Kak, kakak nggak perlu berteriak seperti itu.”

“Aku tidak peduli, ini kabar bahagia, dan kenapa kalian tidak membicarakan ini pada kami?” ya, tentu saja kabar ini menjad kabar yang membahagakan untuk Mira, karena Mira jelas tahu kenapa Randy dan Febby bisa menikah. Mereka korban perjodohan seperti dirinya, belum lagi Randy yang saat itu terlihat cinta mati dengan kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang model membuat Mira dan suaminya sempat mragukan jika pernikahan Febby dan Randy akan berhasil seperti pernikahannya.

“Kak, aku belum hamil, rencananya aku akan memberitahukan jika hubungan kami semakin membaik ketika aku hamil, tapi sepertinya…”

“Sepertinya apa?” Mira terlihat tak sabar.

“Sepertinya aku memang belum hamil. Astaga, ini benar-benar membuatku jengkel.”

“Tenang saja, bukankah dengan begitu kalian masih akan selalu melakukan ‘itu’?” Mira beerucap dengan senyum menyeringai.

Febby  hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka jika Randy mempunyai kakak dengan karakter unik seperti Mira. Dan Febby menyukainya.

***

“Apa ini?” tanya Alvin kepada Randy yang baru saja memberikan sebuah amplop berwarna cokelat padanya saat di tengah-tengah rapat.

“Surat pengunduran diri dari gue.” Randy menjawab dengan cuek.

“Ran, lo gila? Gue nggak sedang bercanda, ngapain lo ngundurin diri pada saat seperti sekarang ini?”

“Kalo lo nggak nyetujuin gue ngundurin diri, gue cuma mau satu hal, hilangin adegan itu dalam film.”

“Apa? Apa kamu bercanda?” sang penulis sekenario akhirnya ikut bicara dalam rapat tersebut. “Film itu di angkat dari sebuah novel, pembaca novel tersebut akan kecewa jika adegan-adegan tersebut di potong dalam filmnya, padahal adegan-adegan itu adalah poin pentingnya.”

“Poin penting? Kenapa kalian tidak membuat film porno aja sekalian.”

“Randy, jaga ucapan lo.” Geram Alvin karena kesal dengan Randy yang seakan tidak memiliki sopan santun.

“Begini ya, inti ceritanya adalah tentang cinta seorang pelacur, apa masuk akal jika tidak ada adegan-adegan seks dalam film tersebut? Adegan itu bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan pelacuran yang di alami si pemeran utama.” Jelas si penulis sekenario.

“Saya tidak peduli, sudah sangat jelas saya mengatakan jika saya tidak bisa melakukan adegan itu. Jika kalian tidak mau menghapus adegan itu kenapa kalian tidak mencari pemain pengganti saja?”

Dan semua yang berada di ruang rapatpun terdiam dengan perkataan Randy,  sedangkan Randy memilih pergi begitu saja meninggalkan rapat yang baginya sangat membuatnya jengkel.

***

“Lo kenapa lagi?” Sikut Chiko yang saat ini sudah duduk di sebelah Randy.

“Gue cuma nggak mau timbul gosip-gosip aneh yang membuat keluarga gue nggak tenang.” Jawab Randy kemudian.

Rapat tadi di akhiri dengan keputusan Randy tetap menjadi pemeran utama sedangkan untuk ‘Adegan Ranjang’ Akan tetap di lakukan hanya saja menggunakan pemeran pengganti sesuai dengan permintaan Randy.

“Keluarga? Maksud lo Febby?” tanya Chiko lagi.

“Emangnya salah ya kalo gue mikirin perasaannya? Dia kan istri gue.” Jawab Randy uek.

“Apa lo bener-bener cinta sama dia? Lo tau nggak, kalo sikap lo ini nyakitin hati Marsela.” Ya, Chiko  memang tidak suka jika ada yang menyakiti hati wanita pujaannya itu.

“Gue akan mutusin dia, secepatnya.”

“Apa?” teriak Chiko tak percaya.

“Entahlah, gue pikir, Marsela sudah nggak ada lagi di hati gue.” Randy berkata lirih.

“Ran, eangnya lo nggak inget apa alasan utama lo nikahin Febby? Semuanya karena lo ngelindungi Marsela dari ancaman keluarga lo, tapi kenapa sekarang lo malah ninggalin alasan utama lo?

“Semuanya semakin rumit.”

“Bukan semuanya, tai perasaan lo sendirilah yang rumit, lo nggak bisa ninggalin Marsela setelah dia kesetiaan yang selama ini di berikan pada lo.”

“Chiko, bukannya lo suka sama Marsela? kenapa lo selalu ngedungung Marsela sama gue?” tanya Randy sedikit heran, sedangkan Chiko hanya diam membatu setelah mendengar pertanyaan Randy.

“Lo tahu kalau gue-“

“Tau sejak lama.” Potong Randy cepat.

Chiko menghela napas panjang. “Gue cuma mau melihat dia bahagia walau nggak sama gue.”

“Dan dia nggak akan bahagia kalau selalu bersama orang yang sudah tidak mencintainya lagi. Gue sudah nggak cinta sama Marsela.” Dan jawaban tegas Randy tersebut membuat Chiko ternganga.

Benarkah Randy tidak mencintai Marsela lagi? Dapatkah dirinya menggantikan posisi Randy di hati Marsela? Pikir Chiko dalam hati.

****

“Kamu dimana?!”  teriakan Randy membuat Febby menjauhkan telepon genggamnya dari telinganya.

“Ran, aku akan menutup teleponnya  kalau kamu berteriak seperti itu lagi.” ancam Febby.

“Aku sudah berada di depan rumah, dan aku kelaparan, aku nggak bawa kunci umah karena kupikir seharian ini kamu berada dirumah dan menungguku pulang.” Randy masih saja mengomel.

“Hei, apa aku kurang pekerjaan sampai-sampai  aku menunggumu pulang? Aku di tempat Mama.” Jawab Febby kemudian.

“Mama? Mama siapa?”

“Siapa Lagi? tentu saja Mamamu.”

“Ngapain kamu di sana?”

“Mereka mengundangku makan malam di sini.” Jawab Febby dengan nada cuek.

“Ohh, jadi kamu enak-enakan makan disana sedangkan aku disini kelapara? kamu keterlaluan.”

“Nggak perlu sampai lebay gitu juga kali, kalau kamu lapar lebih baik kemarilah, Mama masak banyak.”

“Tunggu aku dan jangan habiskan makannannya.” kata Randy  yang kemudian diikuti dengan suara ‘Tutt.. tutt.. tutt…’ tanda jika Randy sudah memutus sambungan telepon tanpa permisi.

“Dasar, nggak tahu sopan santun.” gerutu Febby.

***

Tiga puluh menit kemudian akhirnya Randy sampai dirumah orang tuanya, dia langsung bergegas ke arah meja makan. Dis ana  sudah ada kakak iparnya, Andrew, dan Papanya yang duduk di meja makan. Kakaknya, Mira, terlihat sedang sibuk menata makanan. Sedangkan Febby dan mamanya masih terlihat sibuk di dapur sebelah meja makan lengkap dengan celemeknya.

Randy langsung mendaratkan pantatnya di kursi sebelah kakak iparnya tersebut. Dan langsung mengambil sepotong makannan dari meja makan, membuat Mira yang melihatnya langsung memukul tangannya.

“Jorok banget, cuci tangan sana dulu.” Kata Mira kemudian.

“Kasar banget sih.” Gerutu Randy. Dan mendengar suara Randy tersebut, Febby seketika  mangalihkan pandangannya ke arah meja makan.

“Kamu  sudah datang?” tanya Febby pada Randy.

“Ya, baru aja.”

“Bagaimana Shootingnya?” tanya Febby basa-basi dan itu membuat Andrew  tersenyum sambil menyikut Randy.

“Sejak kapan kalian bisa sedekat ini? bahkan kalian menanyakan kabar masing-masing.” Tanya Andrew sambil sesekali tersenyum mengejek.

“Hei, itu hanya dia yang selalu nanyain kabar gue, kalau gue, malas banget nanyain kabarnya.” Jawab Randy cuek.

“Kamu percaya diri banget, aku bertannya seperti itu juga hanya karena ingin berbasa-basi saja denganmu.” Sahut Febby dengan nada sedikit kesal. Dan itu membuat Nyonya Prasaja sedikit tersenyum.

Sepertinya sudah lama mereka tidak berkumpul dan saling mengejek seperti ini. Semuanya sejak ketegangan yang terjadi antara Randy dan Ayahnya, karena Randy lebih memilih menjadi artis di bandingkan meneruskan perusahaan keluarga. Dan semoga saja Febby bisa mengembalikan keutuhan keluarga mereka lagi.

“Sudah, sudah, hentikan omong kosong kalian.” Lerai Nyonya Prasaja. “Ran, ini Mama masakkan khusus untukmu, kamu baik kalau memakan makanan seperti ini.”  Lanjut Nyonya Prasaja ambil menyodorkan semangkuk besar berisi Ikan dan kuah yang panas.

“Apa ini Ma?” Randy bergidik melihat masakan Mamanya tersebut karena baginya masakan itu terlihat sedikit seram.

“Itu adalah Sup ikan Salmon lengkap dengan kacang-kacangannya.” Jawab Nyonya Prasaja kemudian. Tentu saja Randy tahu jika itu adalah Sup ikan, tapi ibunya benar-benar keterlaluan, ikan itu dibiarannya utuh, dan dimasak hanya setengah matang, belum lagi kacang-kacangan yang memenuhi mangkuk itu membuat Sup itu terlihat mengerika untuk Randy.

“Aku tahu Ma, tapi Mama tidak perlu mamasaknya seperti ini, ini terlihat menyeramkan.”

“Hei, Mama sengaja beli ikan yang masih utuh untukmu, itu memang terlihat menyeramkan, tapi itu bagus untuk kesuburanmu.” Jawab Nyonya Prasaja sedikit kesal dengan Randy  yang cerewet.

“Apa? Kesuburan?” Andrew dengan spontan bertanya dengan raut wajah kaget. Sedangkan Randy  sendiri juga terkejut dengan apa yang dikatakan Mamanya.

“Mira bilang jika kalian ingin segera memiliki bayi, jadi Mama memasak makanan untukmu yang di percaya bisa meningkatkan kesuburan kalian masing-masing.”

‘Gleekk…’

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa Ibunya tau rencana mereka? ini pasti rencana Mira, kakaknya yang masih suka jahil padanya. Dan Febby kenapa bisa menceritakan itu semua kepada kakaknya si mulut ember tersebut? Sial!! ini benar-benar membuat Randy semakin gila.

***

“Kamu gila? kenapa kamu bisa menceritakan semuanya kepada nenek sihir itu?”  Tanya Randy pada Febby ketika mereka berada di dalam kamar Randy di rumah orang tuanya.

“Kamu keterlaluan kalau menyebut  Kak Mira sebagai Nenek sihir.”

“Biar saja, dia memang seperti nenek sihir.” jawab Randy cuek.

“Kupikir tidak ada salahnya bercerita dengan mereka.”

“Tapi mereka mengejekku.” Lagi-lagi Randy menggerutu, ia jengkel dengan situasi tadi apalagi saat Mira dan Andrew  sama-sama tertawa keras menertawakannya.

“Kamu jangan kekanak-kanakan. Mama hanya ingin kamu mengkonsumsi sup itu.”

“Percuma saja aku mengkonsumsi itu jika kita tidak melakukannnya dengan benar maka tetap saja tidak akan ada bayi.”

Febby mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan Randy dan melihat Randy  berjalan mendekatinya.

“Kamu mau apa?” tanya Febby sedikit panik.

Randy tersenyum menyeringai. “Apalagi? kita akan mencobanya.” kali ini Randy sudah berada dihadapan Febby dan langsung mengecupi leher dan pundak Febby. “Kamu harum, apa kamu tahu kalau  tadi aku sangat bergairah saat melihatmu mengenakan celemek itu di dapur? aku bahkan  berpikir untuk bercinta denganmu di meja makan saat itu juga.”

Randy  benar-benar sudah gila, ia bahkan tidak tahu apa yang sudah di katakannya, berdekatan seperti ini dengan Febby membuat pikirannya semakin tidak waras, dan dia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi kecuali bercinta dengan Febby.

Febby  lalu mencengkeram dada Randy dan mendorongnya menjauh. “Hei, Tuan Randy Prasaja, Tidak untuk malam ini.” Febby berkata tegas.

“Ayolah, apa kamu gila? kamu sudah menyulutku.” Randy tampak frustasi.

“Aku tidak bermaksud untuk itu, pikiranmu saja yang terlalu mesum.”

“Febby..”

“Aku tidak peduli! Randy, kita harus melakukannnya dengan benar, dan tidak bagus kalau kamu menyentuhku tiap malam, bukankah kamu mengatakan kalau kamu menginginkan bayi?” Jelas Febby.

“Sialan!! Aku tidak peduli dengan bayi sialan itu. Aku hanya membutuhkanmu.” Dengan spontan Randy berkata tanpa ia sadari.

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Febby tak mengerti.

Randy sedikit gelagapan saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. “ Aku,  aku hanya…” Randy mencoba mencari-cari alasan tapi tak menemukannya. “Arrggghh… terserah apa katamu, aku akan keluar!” Teriak Randy frustasi.

“Randy! kamu belum menjawabku.”

“Aku tidak peduli.” Dan menghilanglah Randy  dibalik pintu kamar tersebut.

Febby menghela napas panjang.

‘Aku hanya membutuhkanmu.’

Mengingat kata-kata Randy barusan membuat Febby tersenyum sendiri. Benarkah Randy membutuhkannya?

***

Febby  menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya. Hari ini hari yang sangat panjang dan melelahkan, Seorang pasiennya lagi-lagi meninggal dan kali ini karena kanker. Memang anak tersebut bukan pasiennya lagi karena sudah menjadi passien Dokter spesialis Kanker, tapi tetap saja dulunya anak tersebut adalah pasiennya, dan Febby merasa cukup dekat dengan anak tersebut.

Sesekali Febby menghela napasnya panjang. Sampai saat ini dirinya belum juga datang bulan, dan ia merasa badannya semakin lemah, tapi kenapa di Test Pack selalu menunjukkan Negatif? Ahhh mungkin dirinya terlalu stress hingga dirinya telat datang bulan, pikirnya kemudian.

Tiba-tiba telepon di ruang kerjanya berbunyi, Febbypun mengangkatnya. “Ya,  Dokter Febby di sini.”

“Apa anda baik-baik saja? Ada seorang tamu ingin menemui anda, Dokter.”

“Jika itu suamiku, suruh dia kembali, aku belum bisa menemuinya.”

“Tidak Dokter, dia seorang wanita.”

Wanita? Ahh, itu mungkin kak Mira. “Baiklah, suruh dia masuk, aku baik-baik saja.”

Dan tak lama setelah telepon ditutup, masuklah sesosok wanita yang sama sekali tak di sangka oleh Febby. Kenapa dia ada disini? Ada urusan apa dia denganku? Pikir Febby.

“Kamu?” kata Febby tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ya, Aku, apa aku mengganggumu?” Tanya wanita tersebut yang ternyata adalah Marsela.

“Untuk apa kamu Kemari?”

“Sepertinya itu bukan sambutan yang baik untuk tamu.”

“Duduklah, dan tidak usah basa-basi, apa yang kamu inginkan?” Tanya Febby dengan nada ketus, Entah kenapa dia bisa bersikap seperti itu dengan Marsela, padahal jika di ingat-ingat Marsela tidak pernah bersikap kasar terhadapnya, Marsela hanya kekasih Randy, Suaminya. Dan entah mengapa itu membuatnya mendidih. Kenapa? Apa dirinya sedang cemburu?

“Baiklah, Aku hanya  berharap kamu mau menjauhi Randy.” Kata Marsela kemudian dengan tegas.

“Apa? Apa aku tidak salah dengar? Dia suamiku nona, aku tak mungkin menjauhinya, seharusnya kamu yang menjauhinya.” Entah dari mana datangnya kekuatan Febby untuk melawan Marsela tersebut.

“Dia kekasihku, kami saling mencintai!” seru Marsela dengan tajam.

Dan Febbypun seketika terdiam, ya, memang benar statusnya menguntungkan  karena dirinya sebagai istri sah Randy, tapi masalah cinta, Febby kalah. Randy tidak mencintainya, dan Febby tahu jika dirinya tidak dapat melawan Marsela karena itu.

“Apa kamu tahu, jika kamu sudah mengacaukan semuanya?” Lanjut Marsela lagi.

“Aku?” tanya Febby dengan wajah bingungnya.

“Ya. kamu sudah mengacaukan semuanya, kamu membuatnya tidak bisa konsentrasi saat shooting film, bahkan dia kurang mendalami saat melakukan adegan ranjang denganku.”

“Adegan ranjang denganmu?” Febby tercengang dengan penjelasan yang di berikan Marsela.

“Ya. dia berperan dalam film romantis denganku, dan kamu mengacaukannya. Jadi aku mohon padamu, Jauhi  Randy!”

Febby masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Marsela. Jadi selama ini Randy membohonginya? Randy masih berhubungan dekat dengan Marsela, bahkan bermain dalam sebuah film romantis bersama-sama? Tapi kenapa Randy membohonginya? Apa dirinya terlihat seperti wanita bodoh yang gampang di bohongi? Astaga, Febby tak dapat membayangkan bagaimana kedekatan Randy dan Marsela dalam film tersebut, apalagi jika mengingat Randy dan Marsela juga melakukan adegan Ranjang bersama, Arrgghhh… entah kenapa itu membuat emosiya semakin memuncak.

“Aku tidak akan pernah menjauhi suamiku, Nona, Dan sekarang angkat kakimu dari ruanganku, Sekarang juga!” seru Febby dengan tajam dan menyala-nyala. Sepertinya rasa cemburu sudah menguasainya.

Marsela yang mendapat perlakuan kasar dari Febby seketika pergi sambil sesekali mengumpat. “Dasar Wanita sialan! tidak tahu malu.” gerutunya sambil meninggalkan ruangan Febby.

“Dan anda  wanita jalang murahan.” Balas Febby sambil menutup pintu ruangannnya dengan keras, dia bahkan lupa jika dirinya berada di dalam rumah sakit.

Kepala Febby mendadak pusing, Febby memijit-mijit kepalanya. Astaga, wanita itu benar-benar menambah bebannya.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangannya. Seseorang yang sudah lumayan lama tak dilihatnya.

“Hei, apa aku mengganggumu?” tanya orang  itu yang tak lain adalah Brian. Astaga, mungkin memang Brian akan menjadi orang yang selalu menyelamatkannya, membuat moodnya membaik.

“Ehh, Hai.” Febby menyapa balik sambil berusaha tersenyum.

“Ingin makan siang bersama?” Tawar Brian. Dan sepertinya Febby  tidak bisa menolaknya, ia harus menghirup udara segar di luar sana daripada duduk termenung sendirian di dalam ruangannya yang seakan menyesakkan dadanya.

Febby akhirnya mengangguk. “Baiklah, aku  ikut bersamamu.”

***

Entah mengapa Febby merasa nyaman berada di apartemen milik Brian. Saat ini mereka sedang makan bersama dalam diam, entah mengapa suasana mereka jadi canggung seperti sekarang ini. Setelah makan Febby akhirnya membantu Brian membersihkan ruang makan dan dapur bersama-sama.

“Kamu kenapa?” Brian mencoba membuka suara.

“Aku? memangnya aku kenapa?” Febby balik bertanya.

“Kamu lebih pendiam.”

“Aku hanya masih sedih, salah satu pasienku meninggal hari ini.”

“Apa? Maafkan aku, aku turut berduka karena itu.”

“Tidak apa-apa, mungkin itu yang terbaik untuknya dari pada dia harus menanggung kesakitan.”

“Dia sakit apa?”

Febby menghela napas panjang. “Umurnya baru 10 tahun, dan dia sudah mengidap kanker hati sejak 3 tahun yang lalu. Astaga, itu membuatku ingin selalu menangisinya.” Jelas Febby lirih.

Dan tanpa disangka-sangka Brian langsung memeluk tubuhnya. “Aku mengerti, menangislah jika ingin menangis.” Kata Brian menenangan Febby.

Ada perasaan aneh di hati Febby saat ini. Seandainya saja, Randy  yang melakukan ini mungkin Febby  akan lebih bahagia.

Dan tanpa di duga tiba-tiba Brian melepaskan pelukannnya, menatap Febby dengan tatapan penuh kerinduan. Di pegangnya dagu Febby, didekatkannya wajahnya dengan wajah Febby. Dan… didaratkannya bibirnya pada bibir lembut milik Febby.

Astaga, Brian sudah lama memikirkan hal ini, Brian mulai melumatnya, menghisapnya, menikmati manisnya bibir Febby, dan sialnya ini membuat Brian semakin menggila.

Bahkan Febby sendiripun tidak menghentikannya, Febby bahkan membalas ciumannya sambil menutup matanya, Febby juga ikut menikmatinya.

Ciuman itu berbeda dengan ciuman yang diberikan Randy, suaminya. Ciuman itu sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang, Febby bahkan meremang dengan aliran aneh yang menjalari tubuhnya saat ini. Ada apa ini? Seharusnya ia tidak melakukannnya, dirinya sudah bersuami. Ia tidak boleh berciuman dengan lelaki lain selain suaminya. Pikir Febby.

Dengan Sisa-sisa kesadarannya Febby melepaskan ciumann tersebut dengan napas yang terengah-engah. Keduanya sama-sama memerah. Entah kenapa mereka bisa berciuman seintens itu.

“Maafkan aku, aku terbawa suasana.” Akhirnya Brian membuka suara.

“Tidak, ini juga salahku, aku juga terbawa suasana.” Jawab Febby sambil menunduk. Ia  bahkan tidak berani menatap mata Brian.

Brian lalu memegang kedua bahu Febby, Membuat Febby  terpekik kaget dan seketika menatap tepat pada manik mata Brian.

“Febb. Aku menginginkanmu.” tanpa di sangka perkataan itu melucur dengan sempurna dari bibir Brian, dan itu membuat Febby membulatkan matanya seketika  karena terkejut dengan perkataan yang di lontarkan oleh Brian.

 

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 12

  1. Waaah. Parah .Brian klu fabby izinin Brian menyentuhnya sama aja kelakuan fabby sama Randy…
    Tapi Randy kaya nya. Udh cinta tuh sama fabby….😢

    Like

  2. tidakkkkkkkkkk cukup dengan satu ciuman tidak boleh lebih …
    nah loo sekrang ketahuan kan ql randy main film bareng marsela , dan pada akhir na randy mengakui ql sekrang dia udah jatuh cinta ma febby tapi masih gengsi buat mengakui .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s