romantis

Sweet in passion – Chapter 11

asipSweet in Passion

Randy masih menikmati makan siangnya ketika tiba-tiba pandangannya teralih ke arah parkiran rumah sakit, tepat pada saat itu ia melihat istri yang ditunggunya itu keluar dari dalam mobil lelaki bajingan yang amat sangat di bencinya.

Jadi mereka makan siang bersama? lalu untuk apa ia menunggu wanita itu di sini seperti orang bodoh? geramnya dalam hati.

Sontak Randy berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin menghampiri lelaki bajingan itu dan memukulinya habis-habisan. Tapi untuk apa? bukankah itu akan semakin terlihat jika dirinya sedang cemburu? Apa? Cemburu? Apakah dirinya kini sedang cemburu?

***

Chapter  11

 

Dengan raut bahagia, Febby kembali keruangannya, lalu seorang suster datang menghampirinya dengan wajah sedikit heran.

“Ada apa?” tanya Febby kemudian.

“Kenapa Dokter Febby di sini?” tanya suster tersebut masih dengan wajah herannya.

“Kenapa apanya? Ini kan ruanganku.”

“Tapi bukankah seharusnya Dokter Febby sekarang sedang makan siang bersama suami dokter dikantin?”

“Makan siang? Dengan Randy maksudmu?” Febby berbalik bertanya. Suster itu hanya menganngguk. “Mana mungkin aku makan siang bersamanya di sini. Itu tidak mungkin..”

“Tapi tadi mas Randy menunggu dokter di kantin.” jawab suster itu dengan nada pasti.

“Apa? kamu bercanda? itu tidak mungkin.” bantah Febby tak percaya padahal dalam hatinya berharap itu benar-benar terjadi.

“Kalau Dokter Febby  tidak percaya silahkan bertanya pada teman-teman yang lain atau bisa juga Dokter Febby ke kantin langsung dan-”

Belum sempat suster itu melanjutkan kata-katanya, Febby langsung berlari menuju ke kantin rumah sakit. Entah kenapa ia benar-benar berharap jika Randy berada di sana menunggunya. Tapi sesampainya di kantin, ia sangat kecewa karena orang yang di harapkan tidak ada di sana.

Kamu sungguh bodoh Febb, untuk apa juga seorang Randy menunggumu di tempat seperti ini? Apa dia tidak ada kerjaan lain? lagi pula mungkin suster itu hanya mengerjaimu. Bodoh, bodoh, rutuknya dalam hati.

“Dokter Febby, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu penjaga kantin tersebut. Febby sedikit ragu, haruskah ia bertanya tengtang Randy kepada penjaga kantin tersebut?

“Ahh, tidak, lupakan saja.” Akhirnya Febby mengurungkan niatnya.

“Apa Dokter Febby ingin menemui suami anda? Sayang sekali dia baru saja keluar dari sini.”

“Apa? Jadi dia tadi benar-benar ke sini?”  Tanya Febby masih dengan wajah tak percayanya.

“Iya, bahkan dia menunggu anda dengan makan siang di kantin ini. Dan sedikit menimbulkan kegaduhan di sini tentunya.” jawab penjaga kantin tersebut dengan sedikit tersenyum.

Febby  hanya ternganga mendengar penjelasan penjaga kantin tersebut.  Untuk apa Randy menunggunya? pertanyaan itu berulang kali, muncul dalam benaknya.

***

Febby baru saja pulang dengan keadaan lelah. Tadi sore ada seorang pasiennya yang meninggal. Seorang anak yang sudah dua bulan lebih dirawat inap di rumahsakit tersebut. Dan Febby sendiri yang merawat anak itu. Astaga, itu benar-benar menguras emosinya.

Ketika ia masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya dia mendapati Randy yang sudah sibuk di dalam dapur. Apa yang sedang dilakukannya di dapur dengan berisik? Akhirnya Febby memutuskan  menghampiri Randy.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Febby sambil mendekati Randy.

“Aku membuat makan malam untuk kita.”

“Tumben sekali, apa ada perayaan?” tanya Febby lagi.

“Aku mendapat peran dalam Film baru.”

“Benarkah? Selamat.” Febby berkata sambil mencomot sebuah makanan yang di buat oleh Randy.  “Uumm, lumayan enak.” ucapnya kemudian.

“Masakaanku pastilah enak.”

Pede sekali. Ngomong-ngomong, siapa lawan mainmu nanti?”

Mendengar pertanyaan itu Randy menegang seketika. Haruskah dirinya jujur dengan Febby?

“Ahh, hanya artis pendatang baru.” Dan akhirnya Randy memilih untuk berbohong. Ada apa? kenapa dirinya memilih berbohong?

“Ran, apa benar kalau kamu tadi siang ke rumah sakit menungguku?” tanya Febby tanpa memperhatikan raut wajah Randy.

“Engggak, untuk apa juga aku kesana?” Randy mengelak dengan memasang ekspresi sesantai mungkin.

“Benarkah? tapi kenapa para pegawai rumah sakit bilang kalau-”

“Mungkin mata mereka sudah rabun.” Potong Randy dengan sedikit panik.

“Rabun? Ya sudahlah, lagi pula aku juga tidak suka jika kamu ke rumah sakit.”

“Kenapa kamu tidak suka?”

“Karena kamu menyebalkan.” Febby sambil meninggalkan Randy begitu saja.

“Dasar!! wanita itu benar-benar. Apa dia tidak bisa sedikit bersikap manis kepadaku?” Gerutu Randy.

***

“Masakanmu cukup enak.” Febby kembali memuji Randy masih dengan melahap habis makanannya.

“Aku nggak butuh pujianmu.” jawab Randy cuek. “Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan si Brian?” tiba-tiba saja Randy menanyakan hal itu.

“Kamu nggak perlu tahu.”

“Febb, Aku hanya tidak suka ada gossip diantara kalian nanti, bagaimanapun juga itu akan berimbas pada karirku.”

“Aku juga tidak suka jika ada gosip antara kamu dan Marsela, karena itu akan menjadi bahan perbincangan di rumah sakit, dan aku ikut malu dengan gosip itu.” jawab Febby tak mau kalah.

Randy menghela napas panjang, tanda jika ia sudah menyerah.

“Baiklah. Aku akan menjauhinya, tapi kamu juga harus menjauhi Bian, bagaimana?”

“Kenapa tiba-tiba kamu mau menjauhinya?” Tanya Febby penuh dengan selidik.

“Aku melakukan semuanya hanya demi kebaikan kita bersama.” Lagi-lagi Randy mengelak. Sial!!! Febby benar-benar membuatnya gila. “Gimana? Aku akan menuuti apa maumu, dan kamu harus menuruti apa mauku sebagai gantinya.”

“Demi kebaikan bersama apanya. Tapi baiklah, aku akan menghindar dari Brian.” Kata Febby kemudian. Perkataan Randy memang tidak ada salahnya. Jika ia terlalu sering bertemu dengan Brian maka publik akan berpikir macam-macam, apalagi jika wartawan ikut campur membuat suasana seakan semakin panas. Bagaimanapun juga, Febby tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.

Tiba-tiba bell pintu Rumah merekapun berbunyi. “Siapa yang datang malam-malam begini? Mengganggu orang saja.” Gerutu Randy. Sedangkan Febby hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya Randy yang melangkah ke arah pintu, untuk membukanya.

Betapa terkejutnya Randy ketika mendapati siapa yang berada di balik pintu. Dia Dea dan Leo, kakak Febby dengan suaminya.

“Sedang apa kalian di sini?” Tanya Randy dengan nada yang tak enak di dengar.

“Kami hanya ingin berkunjung.” Dea menjawab dengan  santainya masuk kedalam rumah padahal Randy belum mempersilahkannya. “Hai Feb, bagaimana kabarmu?” tanya Dea pada Febby ketika sampai di ruang makan.

Febby sangat terkejut saat melihat kedatangan Kakaknya..

“Kak Dea ngapain ke sini?”

“Ngapain? Aku cuma mau mengunjungimu, dan hanya ingin memastikan jika kalian… Tidak.. Hanya… Sandiwara….” kalimat terakhir yang di ucapkan Dea bernada menyindir.

“Kamu pikir kami bersandiwara, Hah? menginaplah di sini, dan aku akan tunjukkan padamu betapa panasnya hubungan kami.” Akhirnya Randy pun tersulut emosinya.

“Hei, kamu ngomong apa sih?” Febby sangat kesal dengan apa yang di katakan Randy.

“Biar saja, biar dia mengetahui betapa panasnya hubungan kita.”

“Kamu fikir aku tidak tahu bagaimana skandalmu dengan penyanyi itu?” Kali ini Dea bicara dengan sedikit menantang Randy, sedangkan Leo, suaminya itu hanya diam membatu disebelahnya. “Kamu hanya menggunakan Febby supaya skandal busukmu itu tidak tercium dan kamu, Febby, kamu rela menikah dengan lelaki ini hanya karena ingin menutupi perasaanmu kepada suamiku, benar bukan?”.

Mendengar itu emosi Febby benar-benar tersulut. Dia merasakan darahnya sudah mendidih. Ternyata tak ada  gunanya ia menutupi kemarahannnya selama ini, tak ada gunanya dia mengalah jika kakaknya masih saja berpikiran buruk terhadapnya. Mungkin ini saatnya ia menghadapi kakaknya itu. Biarlah, jika ia harus kehilangan seorang kakak, toh Dea  juga tak akan pernah kembali seperti dulu lagi nantinya.

“Cukup!” Febby berkata tajam dan penuh dengan penekanan.

“Kak, aku tahu dulu aku pernah mencintai suamimu. Tapi  demi tuhan sekarang aku sama sekali tak memikirkannya. Aku mencintai lelaki lain, dan dia adalah suamiku, Randy Prasaja. Seharusnya kamu yang menjaga suamimu baik-baik. Aku tak pernah mendekatinya tapi dia yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia selalu memata-mataiku dan diam-diam memperhatikanku dari jauh.” Entah kenapa Randy menegang saat Febby mengucapkan kalimat itu.

“Apa? kamu jangan terlalu percaya diri.” kali ini Dea yang mulai terpancing emosinya.

“Silahkan tanya sendiri pada dia. Bahkan tadi siang dia masih sempat mengikutiku dan mengamatiku dari jauh saat aku ke toko Ice Cream bersama Brian.”

“Apa itu benar?” Dea bertanya kepada Leo dengan penuh penekanan.

“Darimana kamu tahu?” Leo berbalik bertanya pada Febby. Sedangkan Febby sendiri tidak menghiraukan pertanyaan Leo. Ia memilih kembali bicara, mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam di dasar hatinya.

“Kak, selama ini aku berusaha supaya kamu mau menerimaku kembali, seharusnya aku yang marah kepadamu karena kamu yang sudah merebut kekasihku. Kamu yang sudah merebut dia dariku,  kamu yang menghianatiku, seharusnya kamu yang mendapat hukuman, seharusnya kamu yang mengemis permintaan maaf, bukan aku. Tapi aku mengalah kak, aku mengalah karena saat ini aku cukup merasa bahagia dengan kehidupanku. Aku bahagia dengan orang yang kusayangi, tapi kenapa kak Dea masih tidak bisa menerima semua itu?” Seluruh perasaan dan kesakitan yang di pendam oleh Febby selama ini akirnya keluarlah sudah. Febby meneteskan air matanya, sedangkan Dea hanya ternganga mendengar penjelasan adiknya itu.

”Sekarang aku minta kalian pergi dari sini, aku tidak mau kalian mengganggu hidupku lagi. Kak Dea,  selama ini aku diam karena aku masih peduli dan menganggapmu sebagai kakaku, tapi setelah malam ini, maaf, aku sudah tidak memiliki seorang kakak lagi.” Febby berkata setegas yang ia bisa.

Semuanya lalu terdiam. Semuanya tak ada yang menyangka jika Febby akan mengatatakan hal itu pada kakaknya sendiri. Bahkan Randy pun sempat bergidik. Ternyata istrinya itu menyeramkan juga ketika sedang marah.

“Kalian tunggu apa lagi? Bukankah istriku sudah mengusir kalian? Ekarang cepat angkat kaki dari sini atau ku tendang bokong kalian dari sini?” Tambah Randy dengan nada penuh dengan kemenangan.

Dea lalu bergegas pergi dengan kesal dan menghentak-hentakan kakinya, dia masih tak menyangka jika Febby akan melakukan ini terhadapnya. Dan Leo, suaminya itu bahkan sama sekali tak membelanya, apakah yang dikataaan Febby itu benar jika selama ini Leo lah yang masih memiliki perasaan kepada Febby? Tapi bagaimana mungkin? Apa yang kurang dari dirinya di bandingkan Febby?

“Wow,  itu tadi benar-benar keren.” kata Randy sambil bertepuk tangan ketika Dea dan Leo sudah pergi dari rumahnya.

“Keren apanya? yang benar saja.” Jawab Febby dengan muka datarnya.

“Aku lebih menyukaimu saat tegas seperti tadi dari pada kamu yang cengeng seperti kemaren.” lanjut Randy.

“Hei, aku tidak cengeng.” Bantah Febby.

“Tapi-” kali ini Randy berbicara dengan nada sensual dan mulai memepet tubuh Febby.

“Hei, apa yang kamu lakukan?” tanya Febby sedikit heran dengan perubahan tingkah laku Randy.

“Apa benar tadi yang kamu bilang jika kamu, Ehhm, mencintai lelaki lain,  dan dia, Adalah- Aku?” kali ini Randy mengetakan kalimat tersebut dengan nada yang menggoda.

“Hahhahah apa aku sudah gila? mana mungkin aku mencintaimu? itu hanya akting.” Febby mengelak sambil menghindar dari Randy.

“Apa?”

“Kenapa? apa kamu ingin aku bena-benar mencintaimu?” Febby bertanya dengan menantang.

“Ten-tentu saja tidak, pasti sangat merepotkan sekali kalau kamu benar-benar mencintaiku.”

“Benarkah? Baiklah, aku janji tidak akan mencintaimu..”

“Terserah apa katamu. Tapi bagaimana rencana kita untuk memiliki bayi? bukankah alasanmu ingin memiliki bayi hanya karena ingin pembuktian kepada kakakmu, tapi sekarang kamu bahkan tidak memiliki kakak lagi.” tanya Randy lagi.

“Tidak akan ada bayi.” Jawab Febby cuek..

“Hei, bagaimana bisa begitu?!” Randy mulai berteriak. “Kita tetap pada rencana awal, kita akan memiliki bayi bersama.” lanjut Randy lagi.

“Apa kmau sudah gila? Kita tidak bisa melanjutkan rencana gila itu.”

“Memiliki bayi bukanlah rencana gila. Pokoknya aku tidak akan berhenti menjadi dono sperma sebelum kamu hamil.”

“Randy, tapi memiliki bayi bukan lagi menjadi pioritasku.”

“Tapi kini itu yang menjadi pioritasku.” Randy menjawab cepat penuh penekanan.

“Tap-tapi  kenapa tiba-tiba kamu yang ingin memiliki bayi? jangan-jangan..” Febby menggantung kalimatnya dengan nada penuh selidik.

“Jangan-jangan apa? kamu jangan berpikir yang macam-macam.” Randy berkata sambil menyentil kening Febby dan membuat Febby mengaduh.

“Randy, kalau kita memiliki bayi, berarti pernikahan ini adalah pernikahan yang sesungguhnya.”

“Tentu saja, kamu piki ini pernikahan mainan? pernikahan kita memang pernikahan yang sesungguhnya, kita juga melakukan seks dan bercinta dengan panas, apa lagi jika bukan pernikahan yang sesungguhnya.” Jawab Randy enteng.

“Tapi kita tidak saling mencintai.”

“Persetan dengan cinta. Kamu mencintai lelaki lain dan aku mencintai wanita lain, itu tidak akan mengubah apapun. Kita bisa melakukan seks tanpa cinta, begitupun dengan hidup bersama, kau dan aku akan tetap bisa hidup bersama walau tanpa cinta sialan itu. Bagaimana?” tanya Randy lagi.

“Uumm, apa benar ini tidak akan apa-apa?” Febby masih sedikit ragu.

“Tentu saja.” Jawab Randy pasti.

“Baiklah, aku akan mencobanya, lagi pula aku belum mau menjadi janda di usia muda.” Kata Febby kemudian sambil tertawa.

“Baik, berarti sekarag kita sudah memiliki kesepakatan, sekaang ayo lanjutkan makan lagi.” Ajak Randy kemudian.

Keduanya lalu melanjutkan makan malam bersama dengan pikiran masing-masing. Febby masih sedikit bingung dengan sikap Randy yang seakan yang ingin memiliki bayi. Jika mereka nantinya benar-benar memiliki bayi, itu berarti Febby akan terikat selamanya dengan Randy, apa itu yang di inginkan Randy? Mengikat dirinya? ahh sepertinya tidak mungkin. Lalu kenapa ia mau menuruti kata-kata Randy? Apa,  jangan-jangan ia sendirilah yang menginginkan adanya pengikat antara dirinya dan Randy?  Ahh.. tidak! Tidak! itu tidak mungkin. Febby yakin jika terikat dengan seorang Randy Prasaja adalah hal terakhir yang terlintas di kepalanya.

Dan Randypun sama. Ia masih tak habis pikir, kenapa ia mencetuskan ide gila itu? Hidup bersama tanpa cinta? Seks bersama tanpa cinta? Dan memiliki bayi bersama tanpa cinta? itu hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin dirinya melakukan semua itu tanpa sedikitpun perasaan yang ikut campur tangan? itu hampir mustahil. Apa dirinya sudah mulai terpengaruh oleh Febby? Apa Febby kini sudah mulai membuatnya candu? Randy sendiri tidak tahu, yang jelas untuk saat ini ia masih ingin memiliki Febby di sisinya, bersamanya, dan ia masih belum ingin melepaskan Febby hingga tercetuslah ide gila tersebut yang ia yakini suatu saat nanti akan semakin menyesatkannya.

 

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Sweet in passion – Chapter 11

  1. Skrg jd Randy yg sgt antusias pngn pnya bayi hahahaha
    Dea ktrlluan skli sih, ama adiknya sndri… Yg hrusnya disalahkan dirinya sndri dan jg suaminya yg blm move on sm Febby..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s