romantis

Elena – Chapter 6 (Menghindariku?)

elena-copyElena

“Ayo ikut masuk, kamu terlihat kacau.” Bisik Elena dengan suara serak.

“Kalau aku masuk, aku akan bercinta denganmu.”

“Bukan masalah, setiap malam kita melakukan itu, bukan?”

“Kali ini benar-benar bercinta, bukan hanya sekedar seks.”

Elena terdiam sebentar kemudian berkata lagi. “Kamu akan menganggapku sebagai wanita itu?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kamu butuh pelampiasan?” tanya Elena lagi.

Yogie mengangguk. “Dan juga pelepasan.” Jawabnya dengan tegas.

“Well, untuk malam ini, kamu bisa menganggapku sebagai wanita manapun.” Setelah perkataan Elena tersebut, secepat kilat Yogie menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi menggodanya. Yogie menarik tubuh Elena hingga tubuh wanita tersebut berada di atas pangkuannya dengan posisi menghadapnya tanpa sedikitpun melepaskan pagutan bibirnya. Yogie kembali melumat bibir Elena dengan panas hingga wanita tersebut mengerang dalam ciumannya dan tak mampu menolaknya lagi.

***

Chapter 6

-Menghindariku?-

 

“Al… Shit, Alisha, Oh, kamu benar-benar membuatku gila.” Entah sudah berapa kali Yogie meracau ketika ia mendapatkan kenikmatan lagi dan lagi dari tubuh di bawahnya kini.

“Aku tidak bisa berhenti, Al, aku tidak bisa berhenti.” Lagi, dan lagi Yogie menyebut nama itu tanpa mempedulikan sedikitpun ekspresi wanita yang berada di bawahnya.

“Aku akan sampai, sial!! Aku akan sampai.” Dan Yogie kembali mengerang panjang ketika pelepasan itu terjadi.

Yogie memeluk tubuh di bawahnya, kemudian berbisik di sana dengan suara seraknya.

“Aku mencintaimu, Al, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini.”

Yogie menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher wanita di bawahnya tanpa mempedulikaan jika wanita itu kini sudah memeluk tubuh Yogie erat-erat dengan lengan rapuhnya.

***

Yogie membuka mata dan merasakan nyeri yang amat sangat di kepalanya. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati dirinya masih terbaring dalam keadaan telanjang bulat di sebuah kamar yang sangat di kenalnya, kamar Elena.

Yogie sedikit menyunggingkan senyumannya ketika mengingat betapa panasya mereka bercinta semalam, tentu sama panasnya dengan malam-malam sebelumnya. Yogie bangkit dan baru sadar jika kamar tersebut sudah kosong.

Kemana Elena? Apa wanita itu sudah berangkat ke kantor? Meninggalkannya? Tidak seperti biasanya. Gerutu Yogie dalam hati. Yogie bangkit dan sesekali memijit pelipisnya. Ia meraih pakaiannya yang masih berserahkan di lantai dan mengenakannya satu persatu.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Dengan mata yang sedikit terpejam, Yogie mengangkat telepon tersebut.

“Kamu di mana? Ini sudah jam sebelas, dan kamu belum sampai di kantor? Kamu tentu tahu kesibukan kita di hari senin…”

Yogie mematikan ponselnya seketika. Itu pak Roy, atasannya. Sial! Padahal Yogie berharap jika yang menghubunginya tadi adalah Elena, nyatanya, wanita itu tidak menghubunginya. Apa Elena sibuk? Mungkin saja.

Yogie akhirnya bergegas keluar dari apartemen Elena laalu bersiap pulang ke apartemennya sendiri. Sepertinya hari ini dirinya tidak akan masuk kerja, biarlah ia di pecat, toh itu tidak akan membatalkan perjanjiannya dengan Elena.

Ketika sampai di ruang tengan apartemen Elena, ia berpikir sebentar, kalau ia tidak masuk kerja, kenapa ia pulang? Bukankah lebih baik ia menunggu Elena di sini? Ya, menunggu Elena akan lebih baik di bandingkan pulang dan sendiri di apartemennya yang dingin.

Akhirnya Yogie memutuskan kembali ke kadam kamar Elena, membersihkan diri dan melakukan apapun yang ia bisa untuk menyambut kedatangan Elena.

***

Elena masih berkonsentrasi di hadapan layar monitornya. Saat ini ia sedang melakukan chatting dengan salah seorang temannya yang berada di luar negeri, chatting mengenai bisnis fasion yang sedang ia jalani tentunya. Tapi sesekali temannya itu bertanya tentang kabar Elena yang sudah beberapa bulan menetap di indonesia.

Elena sedikit bingung dengan perasaannya, sejak semalam, ia merasa tidak nyaman dengan Yogie, apa karena lelaki itu tidak berhenti menyebut nama wanita lain saat bercumbu dengannya? Apa karena alasan itu? Tidak!!  Sepetinya bukan karena itu. Elena tahu, seharusnya ia tidak peduli apa yang di ucapkan Yogie, yang harusnya ia peduikan adalah lelaki itu yang dapat memuaskan hasrat seksualnya, hanya saja, semalam…. ia merasa tidak puas. Ia merasa jika Yogie menyentuhnya seperti sentuhan Gilang, guru les privatnya yang setengah gila.

Elena menggelengkan kepalanya dan kembali menatap layar monitor di hadapannya. Megan ternyata sudah kembali membalas chatnya.

Megan : Jadi, apa kamu sudah menemukan pengganti Aaron? Dia kembali ke sini, dan aku bingung kenapa kamu masih tetap di negaramu?

Elena tersenyum. Ya, semua temannya memang hanya mengetahui jika dirinya tergila-gila dengan seorang Aaron Revaldi, padahal sebenarnya bukan begitu. Aaron bahkan tahu, jika Elena sudah menghilangkan perasaan sukanya pada lelaki tersebut.

Elena : Aku memiliki pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan, Meg.

Megan : Pekerjaan, atau seorang Pria?

Elena kembali tersenyum, entah kenapa ia mengingat Yogie, apa lelaki itu sudah bangun? Apa lelaki itu mencarinya? Ah, persetan dengan Yogie!

Elena : Benar-benar pekerjaan, Meg.

Megan : Well, bagaimana jika aku saja yang mendekati Aaron? Kupikir aku tertarik padanya.

Elena : Ya, silahkan, kupikir dia juga sedang sendiri.

Megan : Kamu putus dengannya?

Elena : Sepertinya begitu.

Megan : Ada yang ingin kamu ceritakan? Kupikir kamu sedikit kaku.

Elena berpikir sebentar, kemudian mulai mengetik kembali  apa yang terlintas di kepalanya.

Elena : Meg, jika kamu mengenal seorang pria, tapi pria itu sangat mencintai wanita lain, apa yang akan kamu lakukan? Maksudku, apa kamu akan tetap berhubungan dengan pria tersebut?

Megan : Tergantung bagaimana hubunganya.

Elena : Maksudmu?

Megan : Elena, kita tidak bisa selalu mengharap pada orang yang jelas-jelas tidak tertarik dengan kita. Berteman boleh, tapi jika berharap lebih, aku sarankan jangan, kamu akan tersakiti.

Kupikir aku sudah tersakiti. Elena sudah mengetik kalimat tersebut tapi kemudian ia menghapusnya lagi. Tersakiti? Oleh Yogie? Yang benar saja.

Megan : Elena, kamu masih di sana?

Elena : Ah ya, terimakasih sudah memberikan saranmu.

Megan : Kamu sedang memiliki masalah dengan seseorang?

Elena : Tidak, aku baik-baik saja. Dan ini sudah sore, sepertinya aku harus pulang karena aku sudah mulai lelah.

Megan : Baiklah, jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku, sampai jumpa Elena.

Elena : Bye, Meg.

Elena menghela napas panjang, kalimat Megan tadi seakan terukir dalam ingatannya. Elena tahu, jika pertanyaannya tadi tentu berhubungan dengan Yogie, dan astaga, untuk apa juga ia bertanya tentang Yogie?

***

Setelah seharian berada di apartemen Elena, Yogie merasa sedikit bosan. Ia sudah menghabiskan waktunya membersihkan seluuh penjuru apartemen Elena, memasak untuk makan siangnya sendiri, kemudian menonton televisi. Yogie bahkan mengusir tukang bersih-bersih yang biasanya membersihkan rumah Elena.

Kini, Yogie sedang santai menunggu kedatangan Elena untuk makan malam bersamanya. Bukan makan malam yang mewah, karena dirinya sendiri memang tidak bisa memasak. Ya, Yogie sendiri yang membuat makan malam tersebut.

Yogie hanya memanaskan beberapa masakan kaleng yang memang tersedia di lemari es di dapur Elena, pasta siap saji, dan juga, nasi goreng. Yogie tersenyum ketika mengingat jika makanan di hadapannya tidaklah cocok untuk makan malam bersama dengan wanita sekelas Elena. Oh, Yogie merasa dirinya benar-benar tidak pantas bersanding dengan Elena. Bersanding? Tidak! Untuk apa juga ia membayangkan bersanding dengan wanita yang jelas-jelas tidak menginginkannya?

Lamunan Yogie berhenti ketika mendengar pintu depan terbuka. Elena pulang. Dan seketika itu juga Yogie berdiri seakan menyaambut kedatangan Elena.

***

Elena pulang dengan suasana hati yang kacau. Percakapannya bersama Megan benar-benar mempengaruhinya. Bagaimana bisa ia memikirkan seorang Yogie? Lelaki yang sama sekali bukan tipenya?

Elena masuk ke dalam apartemennya dan terkejut mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu bediri tegap, mengenakan t-shirt santai, dan juga celana pendeknya. Dan, entah kenapa seperti itu saja, Yogie terlihat panas di hadapan Elena.

Elena benar-benar terpaku menatap Yogie, sesekali Elena melirik ke meja makannya yang di sana sudah tersedia beberapa masakan untuk makan malam. Apa Yogie yang menyiapkannya? Tidak mungkin!

“Hai.” Sapaan Yogie membuat Elena tersadar jika dirinya sudah lama mematung di sana.

“Hai juga. Kamu kok di sini?”

“Kenapa? Memangnya nggak boleh?”

“Bukan begitu, tapi-”

“Lebih baik kamu mandi, dan ayo makan malam bersama.”

“Aku-”

“Mau kumandiin?”

“Enggak!” jawab Elena cepat. Entah kenapa Elena yakin jika Yogie ikut masuk ke dalam kamar mandinya, lelaki itu pasti mengajaknya bercinta di dalam kamar mandi, dan becinta dengan Yogie kini menjadi hal terakhir yang Elena pikirkan. Bukannya Elena tidak lagi bergairah dengan lelaki tersebut, hanya saja, pikiran dan perasaannya sedang kacau.

“Oke, kalau begitu aku menunggumu di sini. Mandilah.”

Elena mengangguk dan dengaan canggung ia masuk ke dalam kamarnya. Canggung? Oh, sejak kapan ia canggung di hadapan lawan jenis? Elena, apa yang terjadi denganmu? Pikir Elena dalam hati sambil sesekali menggelengkan kepalanya.

Elena masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu kamarnya, kemudian menghela napas panjang. Bagaimana mungkin Yogie bisa begitu mempengaruhinya? Lagi-lagi pertanyaan itu terngiang di dalam ingatannya.

Elena menyapukan matanya ke seluruh penjuru ruangan dan baru menyadari jika ada yang beda di dalam kamarnya. Ada sebuah gitar di ujung ruangan, sebuah Playstation di meja televisi tepat di depan ranjangnya. Apa itu punya Yogie? Kenapa lelaki itu membawa barang rongsokannya kemari? Piki Elena.

Elena kemudian menuju ke arah lemari pakaiannya, membukanya dan berakhir dengan mengumpat karena mendapati beberapa pakaian pria di sana yang di yakini Elena adalah pakaiaan Yogie. Elena berlari ke dalam kamar mandinya dan mendapati ada sepasang handuk, yang satu miliknya dan satu lagi Elena yakin adalah milik Yogie, begitupun dengan alat-alat mandi, Elena bahkan melihat ada alat cukur beserta creamnya.

Sial!

Apa Yogie berniat tinggal bersamanya? Yang benar saja.

Elena kembali keluar dan menanyakan semua itu pada Yogie.

“Apa yang kamu lakukan dengan kamarku?”

“Apa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Tidak melakukan apapun, katamu? Kamu membawa barang-barangmu ke dalam kamarku tanpa ijinku.”

Yogie mendekat, memebelai lembut pipi Elena, “Elena sayang, sebagian besar waktuku adalah di sini, bersamamu. Jadi tidak masalah bukan kalau aku membawa barang-barangku kemari?”

“Tapi aku tidak ingin tinggal seatap denganmu.”

“Siapa bilang aku ingin? Aku hanya membawa barang yang ku perlukan mana tahu kita bercinta sampai pagi dan aku lupa pulang.”

Elena menghela napas dengan kesal. Sial! Tentu saja yang ada di dalam kepala Yogie hanyalah kejantanannya saja. Bagaimana mungkin ia bepikir Yogie berharap tinggal bersamanya?

Elena membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sangat kesal. Ya, bagaimanapun juga, hubungannya dengan Yogie hanyalah hubungan timbal balik. Yogie membutuhkannya karena ia mampu memuaskan hasrat sekssual lelaki tersebut, begitupun dengan dirinya yang membutuhkan Yogie seperti membutuhkan udara untuk hidup, dalam hal seks tentunya.

***

Elena menyantap makan malam di hadapannya dengan diam. Ia masih kesal dengan sikap Yogie yang seenaknya sendiri. Bagaimanapun juga Yoge seharusnya minta ijin kepadanya jika ingin memboyong barang-barangnya tersebut.

“Masih marah, Honey?” Yogie bertanya dengan nada menggoda.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”

“Kenapa?”

“Kita tidak sedang melakukan seks, jadi jangan memanggilku dengan panggilan menggelikan seperti itu.”

“Ya, memang tidak sekarang,  tapi sebentar lagi.”

“Tidak ada sebenta lagi, Yogie, malam ini aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

“Bohong!” seru Yogie. Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh intimidasi. “Kamu berubah hari ini, kenapa? Apa karena semalam? Apa semalam aku berbuat brengsek padamu?”

“Semalam? Aku sama sekali tidak memikirkan malam-malam saat aku melakukan seks denganmu.” Elena berkata dengan santai tanpa

“Bercinta Elena, kita bercinta.”

Elena tersenyum miring. “Yogie, kamu memang sedang bercinta dengan wanita impian kamu semalam, tapi bagiku, itu tidak lebih dari sekedar seks.”

Rahang Yogie mengeras kesetika. “Baiklah, malam ini  aku menginginkan seks.” Yogie berbicara dengan nada frontal dan sedikit melecehkan.

“Sorry, malam ini tidak bisa.”

“Aku butuh alasan.”

“Periode bulanan.”

“Sial! Itu tidak mungkin!”

Well, nyatanya aku sedang menstruasi, kalau kejantananmu tidak bisa menunggu seminggu kemudian, kamu boleh pergi mencari perempuan lain.”

Secepat kilat Yogie berdiri dan pergi meninggalkan Elena begitu saja dengan ekspresi kesalnya. Sedangkan Elena sendiri seketika diam membatu. Ya, Yogie pasti akan pergi ketika dirinya sedang tidak bisa melakukan seks, lagi pula, memangnya kenapa kalau lelaki itu pergi? Toh hubungan mereka memang hanya sekedar seks, sangat wajar jika lelaki itu pergi ketika dirinya tidak dapat memuaskan hasrat seksual lelaki tersebut.

Elena kembali teringat tentang semalam, ketika ia menawarkan diri sebagai tempat Yogie menyalurkan semua pelampiasannya. Yogie menyentuhnya lagi dan lagi, seakan tidak ingin memberi ampun pada Elena, seakan lelaki itu sudah sangat lama tidak menyalurkan hasratya, seakan lelaki itu mencurahkan seluruh rindunya pada tubuh di bawahnya, dan yang Elena yakini saat itu adalah, tubuhnya hanya sebagai pengganti tubuh wanita yang begitu di cintai Yogie, wanita yang bernama Alisha Almeera, bukan Elena Pradipta.

***

Yogie menegak minumannya lagi dan lagi. Ia sangat kesal dengan sikap Elena yang beruba acuh padanya. Wanita itu bahkan bersikap seolah dirinya seorang bajingan sialan. Ya, tentu saja, bukankah ia memang seorang bajingan?

Yogie kembali menegak habis minuman yang baru saja di isi kembali seorang bartender di hadapannya.

“Gimana kabar lo?” sebuah tepukan di pundahknya di sertai dengan pertanyaan tersebut membuat Yogie menolehkan kepalanya dan menatap ke arah seseorang yang baru saja duduk di sebelahnya.

Itu Andrew. Untuk apa pria salan ini datang padanya?

“Baik.” Jawab Yogie datar sambil meminta si bartender mengisi gelasnya kembali.

“Lo terlihat kacau. Kenapa emangnya?”

“Sejak kapan lo tanya-tanya masalah gue?”

Andrew mengangkat kedua bahunya. “Apa salah kalau gue tanya?”

“Enggak.” Jawab Yogie singkat. Kemudian ada sesuatu yang menggelitik pikiran Yogie, memaksa Yogie untuk menanyakan sesuaatu pada Andrew.

“Drew,  lo masih pacaran sama Elena?”

Andrew tampak sedikit terkejut. Malam itu ketika Yogie keluar sebagai pemenang, Andrew tidak berhenti mengumpat. Yogie bahkan dengan brengseknya langsung membawa Elena pergi bersamanya. Setelah itu Elena bahkan tidak ingin berbicara dengan Andrew lagi karena kesal.

“Masih.” Desis Andrew menahan amarahnya. Ia tentu sangat kesal dengan sikap Yogie yang benar-benar menjadikan Elena sebagai taruhannya malam itu.

“Lo beneran masih pacaran sama cewek yang sudah bercinta dengan temen lo?” ejek Yogie.

Secepat kilat Andrew bangkit dan mencengkeram kerah Yogie. “Maksud lo apa?” Andrew kembali menggeram kesal.

Dengan santai Yogie berkata. “Tinggalin dia, Elena milik gue.” Kalimat tersebut terdengar begitu santai namun di ucapkan dengan tatap mata tajam yang mampu mengintimidasi orang di hadapannya.

***

Pagi itu, Elena sibuk memasukan beberapa potong bajunya ke dalam kopernya. Ia akan pergi, dan ia memang harus pergi sebelum semuanya semakin kacau.

Semalaman ia tidak bisa tidur, entah apa yang membuat pikirannya kembali gelisah. Jam dua dini hari ia bangun bergegas ke dapur untuk membuat cokelat panas, tapi kemudian ia mendapati Yogie yang sudah tertidur pulas di sofa ruang tengahnya. Elena terkejut, tentu saja. Untuk apa juga lelaki itu tidur di apartemennya padahal mereka tidak sedang melakukan seks.

Jantung Elena kembali berpacu cepat, padahal kini ia hanya melihat sosk yang tidur pulas seakan tanpa dosa. Elena akhirnya kembali maasuk ke dalam kamarnya, mengunci kamar tersebut dan berakhir dengan gelisah sepanang malam sampai pagi.

Kini, Elena sudah memutuskan sesuatu, ia akan pergi sementara, ya, setidaknya menjauh dari sosok Yogie.

Setelah menyiapkan semuanya, Elena keluar dari kamarnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati Yogie yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu tampak lebih segar, mungkin sudah mandi di kamar mandi sebelah dapur Elena. Tidak ada lagi bau alkohol seperti tadi malam.

Elena menatap Yogie dengan tatapan lembutnya, sedangkan lelaki itu tampak memperhatikan Elena yang sudah rapi dengan koper di tangannya.

“Kamu, mau kemana?”

“Aku akan kembali ke Luar Negri, ada masalah di sana.”

“Masalah? Masalah apa?”

Elena menghela napas panjang. Jelas ia tampak enggan terlalu lama berdebat dengan Yogie. “Aku memiliki usaha keecil di sana bersama dengan temanku, dan kini usaha itu sedang ada masalah.” Jelas Elena sambil pergi menuju ke arah dapur untuk mengambil ai minum.

“Berapa lama?” suara Yogie terdengar dingin, tapi Elena tidak ingin menghiraukan itu.

“Aku tidak yakin.”

“Kamu akan kembali?”

“Tentu saja, Ayah sudah mewariskan perusahaannya padaku, mana mungkin aku meninggalkanya.” Jawab Elena masih tidak menghiraukan Yogie yang kini sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Kalau begitu kenapa tidak kamu urus dari sini saja usahamu itu?”

“Tidak bisa, Megan baru saja menghubungiku, dan dia memintaku ke sana.” Elena menjawab masih dengan membelakangi Yogie. Ia seakan tidak ingin menatap dan terpesona pada lelaki di belakangnya tersebut. Terpesona?

“Kamu mengindariku? Elena?” pertanyaan Yogie membuat Elena membatu seketika.

Yogie melangkah mendekat, tatapan matanya fokus pada punggung Elena yang sama sekali tidak bergerak. Lenan Yogie kemudian terulur melingkari pinggang Elena dari belakang, kemudian menarik tubuh Elena hingga masuk ke dalam pelukannya. Yogie menunduk, membawa wajahnya pada helaian rambut Elena, menghitup aroma wanginya yang seakan memabukkan.

“Katakan, kamu sedang menghindariku, Elena?” ucapnya lagi kali ini di ikuti dengan kecupan basah menggoda pada permukaan leher Elena.

 

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Elena – Chapter 6 (Menghindariku?)

  1. Sngguh kmu ktrlaluan c Yogie,, makanya Elena mnghindarimu…
    Qu mndkungmu Elena,,biar Yogie merasa mnyesal dan kehilangan utk kedua kalinya…
    Smngaaattt Elena…

    Like

  2. kamu juga sich yongie bercinta ama elena manggil namanya alisha
    elena mulai merasakan getar getar cinta pada yongie

    kabar kamu mau hapus cerita”mu itu bikin shock lohhh kalo bisa ya jangan
    emang ada problem apaan sich saeng

    Like

  3. dasar yogie brengsek ga sadar ma kesalahan na sendiri , aaahhhhhhh q greget banget ma ff ini , yogie bener” membuat q ga fokus …

    Like

  4. Nah cepet atau lambat elena udah masuk dalam cinta Yovie dan Yogie blum menyadari itu ya Tuhan itu manusia berdua kenapa gak ngobrol aja sih tentang perasaan masing masing hadehhhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s