By. Admin · Non Fiksi

Behind The Scene – Hurt Love Series & MBA Series

untitled-1

 

Behind The Scene

 

Aku membuka mataku dan baru menyadari jika kini aku berada di sebuah tempat asing. Tempat yang sama sekali tak pernah ku datangi, tapi secara bersamaan aku juga merasa jika aku pernah melihat tempat ini.

Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru, tapi aku tidak melihat apapun, yang kulihat hanyalah kabut putih di antara sebuah tangga yang terbuat dari kaca yang menjulang tinggi ke angkasa.

Aku mengerutkan kening. Bukankah ini tempat dimana Brandon bertemu dengan Alisha di dalam mimpinya? Pikirku. Apa kini aku juga sedang bermimpi? Oh yang benar saja. Jika aku benar-benar bermimpi maka aku ingin bertemu dengan semua pangeran yang ku ciptakan saat ini juga.

Mengingat hal itu, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sesekali memukul kepalaku sendiri. Bodoh!!! Bagaimana bisa aku masih memiliki sebuah fantasi saat umurku sudah tak lagi muda?

Aku memutuskan untuk menaiki tangga-tangga itu dengan sesekali berdoa supaya tangga itu tidak pecah karena berat badanku yang berlebihan. Bicara tentang berat badan, aku menatap tubuhku sendiri, dan rasa shock seketika kurasakan.

Tubuhku benar-benar ramping, padahal aku tidak ingat jika aku pernah diet. Kulitku putih mulus, padahal seingatku aku sudah berhenti melakukan injek sejak Tiga tahun yang lalu dan ku pikir aku sudah kembali menghitam setelah itu. Gaunku berwarna putih bersih dengan beberapa aksesoris yang membuatnya terlihat mewah. Aku juga mengenakan sepatu berwarna putih yang menyatu dengan kulit kakiku. Ku rabakan jemariku ke arah kepalaku dan aku merasakan rambutku yang sudah tertata rapi, belum lagi beberapa aksesoris yang menempel di kepalaku.

Please, aku membutuhkan kaca saat ini juga. Jika apa yang ku bayangkan benar-benar terjadi padaku saat ini, maka aku akan melakukan selfie cantik lalu ku sebarkan di akun instagramku, supaya dapat menampar beberapa kakak kelas yang dulu suka mengejek bahkan sok cantik di depanku.

Lupakan!!!

Lagi pula, bukannya ini hanya mimpi?

Oke, aku melanjutkan langkahku hingga aku berada di ujung tangga. Ku pikir, ujung tangga itu akan membawaku ke luar angkasa seperti impianku selama ini. Ya, satu-satunya hal yang sangan ku inginkan adalah berada di luar angkasa dan melihat bumi dari sana. Well, itu mustahil kecuali jika aku menikah dengan presiden Barack Obama atau Pangeran inggris mungkin. Hahahahha, abaikan.

Di ujung tanga itu aku mendapati sebuah taman, taman indah lengkap dengan kabut warna putihnya.

Tunggu! Aku merasakan De Javu, ku pikir aku pernah membayangkan tempat ini. Ahh ya, ini adalah tempat alam bawah sadar Revan saat dia koma dan bertemu dengan Lita. Jadi, apa aku sekarang sedang koma? Jangan ngelantur!!!

Aku melanjutkan langkahku menyusuri jalanan setapak, tamannya benar-benar sangat indah, dan tak lama, keindahan ini semakin sempurna ketika aku mendapati sesosok lelaki yang sedang berdiri menatapku dengan senyuman lembutnya. Lelaki itu hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan apapun, bisa di bayangkan bagaimana perutnya yang kotak-kotak yang biasa di sebut Roti Sobek oleh anak-anak di Grup Edan. Kakinya tidak beralaskan sandal maupun sepatu, ya, dia bertelanjang kaki. Dan dia sangat tinggi.

“Hai.” Sapanya sambil mengulurkan jemarinya padaku.

Kuraih jemari itu dan kurasakan jika dia begitu nyata. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Dia selama ini hanya ada dalam fantasiku, tapi bagaimana mungkin kini aku dapat menyentuhnya dengan sangat nyata?

“Mas Revan.” Kataku.

Ya, dia Revano Putera. Sosok yang kuciptakan dalam novel Please stay with me. Dia adalah sosok yang paling di benci oleh reader, aku tahu karena dia benar-benar menyebalkan, tapi entahlah, ku pikir aku selalu mencintainya ketika aku menulis tentangnya.

“Ya, aku.”

“Kok kamu di sini? Kenapa kita bisa bertemu?”

“Kenapa? Aku juga nggak tahu.”

Dia sedikit menyunggingkan sebuah senyuman dan itu membuatku ikut tersenyum. Jantungku berdegup kencang seketika. Apa ini yang di rasakan Dara ketika bertemu dengan lelaki ini? Ini benar-benar gila.

“Author…”

Aku memekik ketika sebuah lengan memelukku dari belakang. Ku tolehkan wajahku dan aku mendapati sepasang mata cokelat nan indah sedang menatapku dengan tatapan yang paling lembut.

“Mike?” ucapku tak percaya. Sedangkan Mike hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Dengan spontan aku membalikkan tubuhku kemudian memeluk Mike erat-erat. Aku tidak peduli jika tiba-tiba Hana datang dan marah denganku, sungguh aku tidak peduli. Karena yang kupedulikan adalah memeluk erat sosok fantasiku ini selagi aku bisa.

Mike Handerson, seorang lelaki keturunan indo-Jerman yang memiliki mata cokelat nan indah. Dia sangat mencintai keluarganya, dan dia juga seorang pendendam, dendam yang membawanya pada cinta. Oh Mike, aku merindukan saat-saat menulismu sembari meneteskan air mata.

Lebay ya? Oke, lupakan.

“Kalian benar-benar nyata?” tanyaku lagi, karena nyatanya aku masih tak percaya.

“Ya, kami nyata.” Jawab Mike dengan pasti.

“Kami juga nyata.” Suara itu memaksaku menoleh dan menatap ke arah dua lelaki yang berjalan menuju ke arahku.

Tuhan!! Jika ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Itu adalah Osvaldo Handerson, bersama dengan Araka Andriano. Keduanya berpenampilan sama dengan Mike dan juga mas Revan. Hanya mengenakan celana panjang, kaki yang telanjang dan juga dada sekaligus perut kotak-kotak yang seakan  sengaja di pamerkan.

Aku meraba area bawah hidungku, semoga saja saat ini aku tidak mimisan. Oh, ini benar-benar gila!

Kak Aldo menghambur ke arahku, memelukku erat-erat sesekali mengangkat tubuhku, sedangkan Kak Raka hanya mampu menatapku dengan ekspresi datarnya. Ya, ekspresi itu.

“Astaga, bagaimana mungkin kalian bisa berkumpul di sini?”

“Kami cuma mau pamit, Thor.” Kak Aldo menjawab.

“Pamit? Pamit ke mana?” tanyaku bingung.

Mike mencengkeram kedua bahuku, memutar tubuhku hingga tepat menatap ke arahnya.

“Terimakasih sudah membuatkan kisah indah untuk kami. Kami tahu, kami bukan yang terbaik, tapi kami senang ketika ada beberapa reader yang ikut menangis, tertawa atau bahkan kesal dengan tingkah kami.”

“Ya, aku tahu itu, tapi bukan berarti kalian harus pamit pergi kan?”

“Tidak Thor, kami tidak pergi, sampai kapanpun kami tetap ada di sini.” Mike menunjuk dada kiriku.

“Tapi author tetap harus Move on, membuat kisah-kisah baru yang lebih baik lagi dari kisah kami, kami tidak ingin membayangi Author, jadi kami memutuskan untuk pergi dari ingatan Author.” Kak Raka ikut menjelaskan.

“Tidak!!!” seruku lantang. “Sejelek apapun cerita kalian, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku bahkan ingin selalu menghubungkan kalian dengan cerita-ceritaku yang lainnya.”

“Tapi Thor, itu akan sulit.” Kak Aldo memberi pendapat.

“Tidak akan sulit. Selama aku masih bisa menulis, aku ingin selalu mengenang kalian. Kak Aldo, bukannya kamu punya Axel dan Alexa? Apa kamu nggak mau mereka di tuliskan kisahnya? Kak Raka juga kan punya Rafe, apa nggak mau Rafe bertemu dengan Pincessnya?”

Well, semuanya terserah author, sih.”

“Maka dari itu, jangan tinggalkan aku, jangan pergi dari ingatanku. Mungkin semakin lama ingatanku tentang kalian akan sedikit mengabur, tapi aku akan mencoba membaca kisah kalian lagi, supaya aku dapat selalu mengingatnya.”

“Bener sepeti itu Thor?”

Aku mengangguk cepat. “Mas Revan aku ingat dengan sikap dinginnya, Mike, aku sangat ingat dengan mata cokelatmu dan juga sikapmu yang perayu, Kak Aldo adalah sosok yang kekanakan dan juga labil, sedangkan kak Raka adalah sosok datar tanpa ekspresi. Aku akan mengingat kalian semua meski aku menciptakan sosok baru lagi dan lagi, jadi jangan pernah pergi dari ingatanku. Jika aku lupa, maka muncullah dalam mimpiku. Aku akan kembali mengingatnya.”

Tiba-tiba aku merasakan Mike merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

Thanks, Thor. Tanpamu, kami nggak akan ada. Terimakasih sudah memberikan Hana yang begitu baik untuk menyadarkanku.” Aku tersenyum mendengar ucapan Mike. Mike melepaskan pelukannya kemudian tubuhku di raih oleh kak Aldo, dan lelaki itu memelukku erat-erat seperti yang di lakukan Mike padaku.

“Terimakasih sudah memberikan Sienna untukku. Terimakasih sudah menyayangiku.” Aku mengangguk dan membalas pelukan kak Aldo. Kak Aldo melepaskan pelukannya dan kini aku berhadapan dengan Kak Raka.

Kak Raka mengusap lembut puncak kepalaku. “Author membuat Felly sebagai satu-satunya wanita yang ku cintai ketika di dalam novel, apa author tidak ingin aku mencintai wanita lain?”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Kalau aku melenceng dan memilih mencintai Author, gimana?”

“Uum, mungkin suamiku akan membunuhmu.” Jawabku asal, dan itu membuat semua yang ada di sana menertawakanku.

Kak Raka merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, Thor, sama seperti kamu mencintaiku ketika menulis tentang kisahku.”

Aku menghela napas panjang. Ya, tentu saja aku mencintai kalian semua. Lirihku dalam hati.

Kak Raka melepaskan pelukannya dan kini aku sudah berhadapan dengan Mas Revan. Sosok yang benar-benar… enthlah, aku sulit menggambarkannya.

Mas Revan mengulurkan jemarinya pada pipiku, mengusapnya lembut hingga aku yakin itu bisa membuat pipiku memerah karena gugup.

“Semua sudah di katakan yang lain, aku nggak tau harus bilang apa lagi. Hanya terimakasih, dan terimakasih yang bisa ku katakan.”

Mas Revan kemudian meundukkan kepalanya dan berbisik di telingaku.

“Aku pernah mencintai Lita, dan kini aku sangat mencintai Dara. Terlepas dari semua sekenario novel yang kamu buat, aku mencintaimu, Thor.” Kalimat itu di ikuti dengan kecupan lembut di pipiku.

Kyaaaaaa aku dicium Revano Putera???? Semoga aku tidak pingsan.

Keempatnya kemudian menatapku dengan tatapan khas masing-masing. Aku sendiri hanya mampu menatap mereka sepuasnya. Ku pikir hanya ini satu-ssatunya kesempatan aku bisa melihat mereka senyata ini.

“Kami harus pergi, kuharap, kamu benar-benar tidak melupakan kami, Thor.” Mas Revan kembali berkata. Aku tersenyum dan mengangguk dengan pasti.

“Salam sayang untuk semua readers yang sudah membaca kisah kami.” Kak Aldo berucap.

“Ya, aku akan menyalamkan ke mereka.” jawabku.

Keempatnya tersenyum, kemudian mereka mulai terlihat samar, sama, dan.. Hilang. Aku berdiri sendiri di sana, di tengah-tengah taman yang indah dengan kabut warna putihnya.

“Mama.. Mama bangun.. Mama, cucu Mama, Mama…” kurasakan tubuhk bergoncang-goncang bersamaan dengan suara lucu dari Bella, puteri kecilku.

“Mama, bangun, cucu Mama..”

Dan aku membuka mata.

Ya, aku cuma bermimpi ketika bertemu dengan mereka. Kulihat Bella yang sudah bangun sambil membawa botol susunya yang sudah kosong. Dan aku tersenyum.

Inilah kehidupan nyataku, kehidupanku sebagai seorang ibu rumah tangga, tapi semua ini tidak menghalangiku untuk mengenal mereka. Revan yang dingin, Mike si perayu, Aldo yang kekanakan, atau Raka yang datar. Aku mencintai mereka semua meski hanya di dalam mimpi, dan ku harap, kalian para readerspun sama, mencintai mereka ketika membaca kisah mereka.

Terimakasih….

ZennyArieffka

12-01-2017

Advertisements

5 thoughts on “Behind The Scene – Hurt Love Series & MBA Series

  1. Gk bsa brkata2 deh,,, pokoknya jempol. Wuihhhh emng Author kereeeennn.. Qu sllu menunggu karyamu… Salam sayang buat Dede Bella yaaa

    Like

  2. Entah knpa membaca kisah kak author serasa berada di dlm cerita itu. Feel nya dpt bgt pokoknya. Bisa senyum2 sndiri, nangis, kadang bs sampai ikut geregetan sama tingkah laku cowok2 disini. Ceritanya nyandu bgt, bikin ketagihan baca. Lagi dan lagi.. … Author nya TOP bgt pokoknya

    Like

  3. apa yaa bingung mo bilang apa , inti na ikut larut dalam mimpi na author , senyum” geje trus berkaca” …
    q ga pernah membenci revan dari awal q jatuh cinta ma sikap dingin na dia (perasaan setiap tokoh yng ibu ciptakan selalu mmbuat q jatuh cinta deh )
    tapi ql mike q selalu penasaran ma dia , tapi q lebih jatuh cinta ma ka aldo , entah lah q sendiri juga tidak tau …
    tetap semangat yaa buuuuu , q selalu mununggu karya” u , mungkin q belom mmpu mmbeli semua novel” u , tapi q selalu berusaha mmbaca semua cerita u … tetap lah berkarya dan jangan hirau kan anjing yng menggonggong , mereka cuma iri az ma ibu ….
    😘😘😘😘. 😘. 😘. 😘. sukses trus yaa bu N semoga dede bella sehat trus .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s