romantis

Sweet in Passion – Chapter 9

fh1-copySweet in Passion

Part ini pendeekkkk bgt.. hahhahahah happy reading!!

Chapter  9

 

Febby mulai membuka matanya ketika kesadaran merenggutnya kembali dari mimpi indah yang dialaminya setiap malam. Dan dia mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Tak ada Randy di sebelahnya. Apa lelaki itu sedang sibuk? pikirnya.

CFebby mulai menggerak-gerakkan badannya yang terassa amat sangat pegal karena pergulatannya semalam dengan Randy. Ini sudah satu minggu setelah malam dia mabuk bersama Randy karena bertemu dengan kakaknya di Restoran. Dan selama itu pula setiap malam Randy selalu menyentuhnya.

Ini tidak benar, jika ia hanya menginginkan bayi seharusnya ia menolak Randy dan membuat jadwal yang benar, bukan malah membiarkan Randy menyentuhnya setiap saat, pikirnya lagi. Apa ia sudah termakan oleh pesona seorang Randy Prasaja? Tikad, tidak, ini bukan karena itu. Pikir Febby lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalaya.

Febby lalu bergegas membersihkan diri, lalu menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Ketika akan membuka kulkas, Febby  menemukan sebuah note yang di tempelkan di pintu kulkas.

 

“Istriku.  Aku tunggu kau di kantor manajemenku saat makan siang,

Ingat, harus membawa masakan yang enak yaa….”

                             Suamimu tersayang… Randy Prasaja.

 

Febby lalu menggelengkan kepalanya. “Benar-benar gila, apa dia pikir aku tidak bekerja? menyusahkan orang saja” katanya lalu meneguk susu yang baru di ambil di dalam kulkas.

“Dan lagi, apa dia bilang, Istriku? Huuhh, apa dia sedang merayuku? Mungkin dia memang sedang kehabisan obatnya.” Gerutunya lagi.

***

“Apa yang lo lakuin di situ? Lo kaya orang gila senyum-senyum sendiri.” Suara Chiko mengagetkan Randy.

“Lo gangguin gue aja.” gerutu Randy.

“Hari ini kan lo nggak punya jadwal shooting? Ngapain lo kemari?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Boleh aja sih, tapi gue bosen ihat muka gila yang lo tampilin.” Canda Chiko.

“Dasar sialan!” Randy mengumpat sambil tersenyum lebar.

“Bagaimana rumah tangga lo?” setelah tertawa bersama, tiba-tiba Chiko menanyakan kabar rumah tangga Randy.

“Rumah tangga apa? Nggak biasanya lo nanyain rumah tanga gue.” Jawab Randy cuek.

“Gue pikr kalian semakin mesra  saja setiap harinya.”

“Mesra? yang bener aja. Nggak ada hari selain berkelahi sepeti kucing dan tikus antara gue dan Febby, kami cuma mesraa saat di atas ranjang, itu doang hahhahahha.” Randy tetawa lebar begitupun dengaan Chiko yang ikut tertawa sembari meninju bahu Randy.

“Siang.” tiba-tiba suara suara lembut itu menyela candaan mereka. Itu Marsela.

Seketika tubuh Randy menegang, tawanya langsung lenyap begitu saja.

“Marsela, kemarilah, kita sedang bercandaan.” Ajak Chiko.

“Maaf, aku cuma numpang lewat, aku sedang ada pekerjaan. katanya kemudian sambil berlalu pergi.

“Kalian punya masalah?” tanya Chiko pada Randy ketika Marsela sudah pergi.

“Sebentar, gue pergi dulu.” Kata Randy sambil berlari mengejar  Marsela. Chiko melihat mereka dengan tatapan sendu. Bukan tanpa alasan, karena sebenarnya sudah sejak lama Chiko memiliki perasaan terhadap Marsela, namun dia memendamnya karena mengetahui jika Marsela memiliki hubungan special dengan Randy, temannya sendiri.

***

“Marsela, apa yang terjadi? kenapa kamu bersikap aneh sama aku?” tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Marsela.

“Apa? Aku bersikap aneh? kamu yang sudah berubah smaa aku!” tanpa di sangka Marsela berteriak keras kearah Randy.

Randy lalu menarik tangan Marsela, mengajaknya ketempat yang sepi. Setelah itu ia langsung memeluknya.

“Sayang,  aku tidak berubah,aku tetap sama, rasa cintaku padamu tetap sama.” Bisik Randy pada Marsela, tapi entah kenapa Randy merasakan sesuatu yang aneh ketika mengucapkan kalimat tersebut.

“Tapi seminggu terakhir kamu selalu menghindariku jika aku ingin bertemu, kamu sekarang bahkan terlihat lebih mesra dengan istrimu itu.” Jawab Marsela di sela-sela isakannya.

“Marsela, kamu tentunya tahu posisi kita tidak baik, dan aku melakukan ini semua demi dirimu.. mengertilah.” Randy mencoba meyakinkan Marsela, padahal kin, ia merasa jika hatinya sendiri tidak…. seyakin dulu.

Randy lalu menatap Marsela dengan tatapan menyalanya. “Aku merindukanmu.” bisiknya sensual. Seketika itu juga Randy mendaratkan bibirnya tepat di bibir Marsela. Melumatnya, mengulumnya penuh dengan gairah yang menyala-nyala. Keduanya pun berciuman panas cukup lama.

***

 

“Huuhh, dia benar-benar menyusahkan orang saja.” Lagi-lagi Febby  menggerutu sebal dengan sikap semena-mena Randy yang menyuruhnya pergi ke kantor managemen Randy dengan membawa makanan.

Saat ini Febby sudah berada di halaman kantor managemen Randy. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Dia Brian.

“Bian? Kenapa kamu ada disini? Kamu mengagetkanku saja.”  Setahu Febby,  Brian tidak berada dalam satu managemen yang sama dengan Randy.

“Aku hanya ingin menemui teman, dan tidak menyangka jika akan bertemu denganmu saat ini.” Jawab Brian dengan lembut. “Apa kamu lagi nyari Randy?” tanyanya lagi.

“Iya. si bodoh itu menyuruhku membawakan ini ke tempatnya bekerja.” Jawab Febby sambil menyodorkan kotak makannan besar sepeti kotak makanan orang ang sedang piknik.

“Apa itu? sepertinya enak,” tanya Brian sedikit tertarik

“Hanya Risol dan beberapa makanan ringan lainnya, apa kamu mau?” tawar Febby.

“Kamu sendiri yang memasaknya?”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi?”

“Kalau begitu aku mau.” Jawab Brian cepat.

“Baiklah, sekarang kita masuk dulu siapa tahu dia sudah menungguku.”

“Oke.” jawab Brian sambil mengikuti Febby di belakangnya. “Biarkan aku membantumu membawa itu.” Tawar Brian.

“Ahh tidak perlu, ini sangat ringan.”  Tolak Febby.

Ketika mereka melewati parkiran Febby melihat seorang yang mirip dengan Randy sedang menggandeng mesra seorang perempuan sembari berjalan cepat menuju ke sebuah mobil. Kedua orang itu tampak menutupi wajahnya seakan-akan tidak ingin orang mengenal mereka.

“Apa itu Randy?” tanya Brian yang sejak tadi ikut memperhatikan gerak-gerik kedua orang tersebut.

“Aku pikir juga begitu, apa dia mempunyai masalah?”

“Entahlah, lebih baik kita masuk ke dalam untuk memastikannya.” Jawab Chiko kemudian.

Akhirnya merekapun masuk ke dalam dan tidak menghiraukan orang yang meurut Febby mirip dengan Randy tersebut.

****

“Minum ini.” tawar Chiko pada Febby.

Ini sudah 2 jam sejak kedatangan Febby ke kantor management  Randy, tapi Febby tak bertemu dengan Randy. Kata Chiko tadi, Randy memang sedang keluar, dan Febby tahu jika yang tadi berada di parkiran itu berarti Randy dan pacarnya, Marsela.

Sial!

Febby mengumpat dalam hati. Untuk apa ia di suruh datang kemari jika Randy sendiri malah bersenang-senang dengan wanita lain. Dan Juga, apa ia terlalu bodoh, bisa-bisanya ia masih saja menunggu Randy selama kurang lebih Dua jam di tempat membosankan seperti ini.

“Aku akan pulang.” Kata Febby dengan sedikit dongkol terlihat di wajahnya.

“Aku akan mengantarmu.” Kata Brian yang ternyata sejak tadi menemani Febby menunggu kedatangan Randy.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” kata Febby dengan memperlihatkan senyumannya yang dipaksa.

“Tidak bisa, aku akan mengantarmu pulang karena kamu sudah menteraktirku makan siang yang sangat enak ini.” Brian masih tak mau mengalah.

“Kamu bisa saja, Oke,terserahmu saja.” akhirnya Febby mengalah dan membiarkan Brian mengantarnya pulang.

***

Ketika sampai dirumah…

Betapa terkejutnya Febby saat  mendapati Randy dan Marsela yang sedang berada di ruang keluarga sedang menonton Tv bersama dengan sangat mesra. Randy kala itu masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek santainya, sedangkan Masrsela sendiri mengenakan Hot Pants dengan atasan kemeja Randy. Mereka terlihat seperti pasangan yang baru saja selesai melakukan… melakukan… hubungan intim.

Menyadari hal itu hati Febby  terasa panas. Sambil berjalan di hentakkannya kakinya lebih keras agar Randy mengetahui kedatangannya. Randy sontak berdiri ketika menyadari Febby sudah pulang.

“Febbydengan spontan Randy memanggi Febby pelan.

Melihat Febby membawa kotak piknik, Randy baru menyadari jika tadi pagi ia menyuruh Febby datang ke kantor managmentnya untuk membawa makan siang.  Entah kenapa Randy  jadi merasa bersalah dan harus minta maaf dengan Febby.

“Febb, apa kamu tadi ke kantor managemenku?” tanya Randy sambil mengikuti Febby yang berjalan ke dapur. Marsela sendiri hanya menatap Randy dan Febby seperti seorang yang sedang menonton drama rumah tangga.

Febby tidak menghiraukan pertanyaan Randy. Dia lalu menata kembali makanan-makannan yang ia bawa tadi di dalam kulkas. Randy kesal karena Febby tidak menghiraukannya.

“Febby, apa kamu tuli?!” Teriak Randy kesal.

“Kalau aku tuli maka kamu adalah orang yang paling brengsek dan menyebalkan yang pernah ku temui.” Jawab Febby sambil menatap tajam ke arah Randy.

“Sial! Sebenarnya apa yang terjadi padamu? aku bertanya padamu dengan baik, tapi kamu malah tidak menghiraukannya.”

“Aku tak peduli!” Jawab Febby cuek sambil menuju ke arah kamarnya. Randy Masih saja mengikutinya dari belakang.

“Febby! Jawab pertanyaanku. Apa yag terjadi?”

“Apa yang terjadi katamu? apa kamu bodoh? kamu jelas-jelas menyuruhku ke kantor sialanmu itu tapi kamu malah berada disini, bercinta dengan wanita jalangmu itu.”

“Febby, jaga mulutmu!” desis Randy. “Lagi pula aku tidak berpikir kamu akan kesana, kamu bisa menolaknya.” Jawab Randy enteng.

Sial!! Bukannya meminta maaf  Randy  malah balik menyalahkan Febby.

“Apa? Jadi ini semua salahku sendiri? kamu benar-benar bajingan.”

“Berhenti mengumpatiku.” Randy kembali mendesis menahan amarahnya.

“Aku tidak peduli, kamu lelaki bajingan dan dia wanita jalang murahan.”

“Kamu..kamu.. sialan!” Umpat Randy tajam sambil menunjuk-nunjuk ke arah Febby. Randy kemudian tersenyum seakan menertawakan Febby dengan senyuman mengejeknya.

“Hei, apa kamu cemburu? Febby, harusnya kamu sadar kalau hubungan kita tidak seperti yang kamu bayangkan.” Lanjut Randy lagi.

“Apa kamu gila? Aku tidak mungkin cemburu terhadapmu.” Elak Febby. Lalu ia memberskan beberapa barangnya dan mulai melangkah keluar.

“Kemana kamu?” tanya Randy masih dengan mengikuti Febby di belakangnya tanpa menghiraukan tatapan dari Marsela yang sejak tadi memperhatikan tingkah lakunya.

“Bukan urusanmu, lebih baik aku pergi dari pada aku melihat wajah kalian berdua yang membuatku Mual.”

“Sialan!” Randy kembali mengumpat.

Febby lalu  membuaka pintu dan alangkah terkejutnya Randy ketika mendapati Brian yang sudah berdiri di depan pintunya.

“Ngapain lo di sini?” tanya Randy pada Brian dengan nada yang sama sekali tidak ramah.

“Aku yang mengundangnya.” Jawab Febby datar.

“APA?!” teriak Randy tak percaya.

“Aku tidak peduli denganmu. Kamu berkencan dengan wanita jalangmu, oke, aku juga akan berkencan.” Kata Febby sambil menggandengan lengan Brian dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Randy yang berteriak padanya.

“Febby, kalau kamu tetap pergi, jangan pernah pulang ke rumahku lagi!” Ancam Randy dengan kesal, tapi Febby masih tetap pergi seaakan tidak menghiraukannya. “Febby!! Argghh Sialan!!” umpat Randy keras-keras karena kekesalan yang sudah mengakar di kepalanya.

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 9

  1. Keterlaluan bgt km Ran,,,bawa selingkuhan kerumah…istri mana yg gk skit hati liatnya,,stju kencan aja ama Brian,,biar Randy tau rasa hufffttttt

    Like

  2. Jujur aja aku panas dingin klo liat org yg melanggar pernikahan… pengennya si randy ini krna sipilis biar dia kagk asal celup sana sini lagi… biar kapok

    Like

  3. rasa in u dan mang enak d cuekin maka na jangan seenak na az , udah selingkuh ma cewe lain malah dirumah sendiri , bener” minta d getok … udah feb pergi sana bareng brian.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s