romantis

Sweet in Passion – Chapter 8

fh1-copySweet in passion

Brian hanya tersenyum ke arahnya. “ Lo boleh seneng karena gue pergi, tapi lo harus ingat,” Brian kemudian berbisik ke arah Randy, “Febby memang istri lo, tapi gue berani jamin kalau Febby tertarik sama gue.”

Randy membulatkan matanya seketika.

“Brengsek!!!” umpatnya keras-keras pada Brian yang sudah berjalan keluar dari dalam ruangan Febby.

“Hei, ini rumah sakit kamu tidak perlu berteriak seperti itu.” Lagi-lagi Febby memukul lengan Randy.

“Haisshh.. apa kamu nggak bisa sedikit bersikap lembut sama aku?!” Randy kembali berteriak karena frustasi.

Febby lalu meninggalkan Randy begitu saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda jika dia sudah menyerah dengan sikap kekanak-kanakan yang di perlihatkan oleh Randy.

“Sial!! perempuan ini benar-benar.” Gerutu Randy sambil mengikuti tepat di belakang Febby.

***

Chapter 8

 

“Apa nanti malam jadwal kita untuk membuat bayi?”  Tanya Randy tanpa ekspresi masih dengan menyantap Steaknya. Mereka sekarang ada di sebuah restoran untuk makan siang bersama.

“Apa kamu bisa berhenti membicarakan hal itu?” Febby bertanya dengan kesal.

“Apa aku harus mulai minum Vitamin?”

“Hei, berhenti bicara itu atau aku membatalkan rencana kita.”

“Hahahhaah baiklah, baiklah, aku kan hanya menggodamu saja, kamu kaku banget.”

“Aku memang seperti ini.” jawab Febby sambil mengangkat bahunya.

“Pantas saja nggak ada  lelaki yang tertarik denganmu.” Mendengar perkataan Randy, Febbypun langsung menegang. Sekelebat ingatan mulai menari-nari dalam pikirannya. Ingatan masa lalu yang pahit untuk di ingat.

“Kamu kenapa? wajahmu pucat.” Randy sedikit khawatir saat melihat Febby hanya terdiam terpaku.

“Enggak”

“Apa kamu sakit?” Febby hanya menggelengkan kepala saat Randy bertanya padanya.

Tiba-tiba tatapan mata Febby tertuju pada sepasang lelaki dan perempuan, mereka terlihat amat sangat bahagia. Febby terperangah saat melihat mereka ada di tempat yang sama dengannya. Seketika itu juga Febby terlihat gugup dan sontak berdiri tak percaya. Sedangkan sepasang lelaki dan perempuan itupun mempunyai reaksi yang sama dengannya. Terkejut tak percaya ketika bertemu dengan Febby di restoran yang sama.

“Kakak.” tanpa sadar Febby mengucapkan kata itu. Randypun langsung berdiri dan menoleh ke belakang ke arah pandangan Febby.

Lelaki dan perempuan itu kemudian berjalan menuju kearah Febby. “Sedang apa kamu di sini?” tanya  si perempuan dengan nada ketus.

“Aku… Uum, maksudku, kami sedang makan  bersama.” jawab Febby seramah mungkin.

“Kenapa harus di sini? Kenapa tidak cari restoran lain?” Lanjut wanita itu masih dengan nada ketusnya. Sedangkan si lelaki hanya sibuk memperhatikan Febby  dengan detail.

“Hei Nona, kami yang lebih dulu di sini,  jika anda  tidak suka melihat kami, silahkan angkat kaki dari sini.” jawab Randy yang mulai merasa kesal dengan keketusan wanita tersebut.

“Randy.” Febby  mencoba meredam amarah Randy.

“Rupanya ini suamimu yang terkenal itu? apa kamu bahagia? Kupikir tidak. Karena pernikahan kalian penuh dengan rekayasa dan skandal.” Cibir wanitaa tersebut.

“Hei, jaga mulut anda, atau..” Randy seakan sudah tidak dapat membendung amarahnya lagi, memangnya siapa wanita ini? bisa-bisanya dia berbicara seperti itu dihadapannya dan uga Febby.

“Randy, cukup!” seru Febby sambil menarik tangan Randy. Febby  takut kalau Randy melakukan sesuatu yang fatal terhadap wanita di hadapan mereka. “Kak, kami sudah selesai, kami aakan pergi kalau misalnya kehadiran kami di restoran ini membuat kakak tidak nyaman.” Lanjut Febby  kepada wanita tersebut.

“Apa kamu sudah gila? Aku nggak mau pergi! kalau dia tidak suka harusnya dia yang pergi, bukan kita.” Desis Randy pada Febby.

“Randy…” Febby  berbisik dengan nada memohon.

“Kenapa kita tidak makan bersama saja.” Lelaki di sebelah perempuan itu berkata dengan nada dinginnya.

“Aku rasa tidak perlu, kami sudah selesai.”

“Tidak! Kita makan lagi, bersama.” Kali ini Randy memotong perkataan Febby dengan tegas dan menatap tajam ke arah lelaki dan perempuan di hadapannya. Sebenarnya ada apa dengan mereka bertiga? Kenapa Febby  jadi berubah lemah begini? Randy benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka.

***

Mereka berempat lalu makan bersama dengan kecanggungan masing-masing.

“Bagaimana kabarmu?” wanita itu membuka percakapan dengan nada yang dibuat-buat.

“Aku baik-baik saja kak,” jawab Febby dengan sedikit hormat.

“Sebenarnya dia siapa?” tanya Randy dengan nada yang tak enak di dengar karena Randy masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin Febby terlihat begitu menghormati wanita tersebut.

“Jadi kamu belum mengenalku? Aku Dea, kakak Febby.” sahut wanita yang mengaku bernama Dea tersebut.

“Apa?” Randy menatap Febby tak percaya. “Kamu punya kakak? Kenapa aku tidak tahu? dan ku rasa aku tidak melihatnya di pernikahan kita.” Lanjut Randy masih dengan nada tak percayanya.

Febby hanya diam membisu.

“Sebenarnya ada apa dengan kalian bertiga? kalian tidak terlihat seperti keluarga.” ucap Randy kembali.

Febby berdiri seketika dan kembali menatap Randy dengan tatapan tajam. “Randy,  itu bukan urusanmu, lebih baik sekarang kita pergi dari sini. Permisi.” ucap Febby kemudian pergi begitu saja di ikuti oleh Randy yang sesekali memanggil namanya.

“Apa kamu puas?” tanya lelaki yang berada tepat di sebelah wanita bernama Dea tersebut, dia adalah Leo, suami Dea, sekaligus mantan kekasih Febby.

***

“Hei, apa yang kamu lakukan? ayo cepat buka pintunya!” teriak Randy menggedor pintu kamar Febby. Randy mengira jika Febby akan mengurung dirinya sendiri tapi nyatanya, wanita itu  membuka pintunya.

“Hentikan itu, kamu bisa merusak pintu kamarku.” Febby berkata dengan cuek lalu berusaha menutup pintu kembali, tapi Randy sudah menahannya.

“Kamu menangis?”  tanya Randy  ketika mengetahui  mata Febby  yang sudah sembab.

“Bukan urusanmu.” Jawab Febby dengan ketus.

“Hei, kamu benar-benar membosankan.”

“Ya, aku memang  membosankan.”

“Astaga, kamu itu nggak pantas jadi cewek cengeng.”

“Biarin!”

Randy menghela napas panjang. “Mau menemani aku minum? Aku punya persediaan bir kaleng.”

“Aku tidak pernah minum, tapi, sepertinya itu bukan ide yang buruk.”

“Bagus, itu baru namanya gadisku.”  kata Randy sambil meninggalkan Febby yang terngangah karena ucapannya. “Aku tunggu di bar dapur!” Teriak Randy kemudian.

Gadisku? sejak kapan aku menjadi gadisnya?  Febby bertanya-tanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ahh… mungkin dia sedang kehabisan obatnya. Pikirnya lagi dalam hati.

***

“Febby! hentikan itu. Kamu sudah minum banyak, kamu bisa mabuk nanti.” Randy berkata sambil menyambar kaleng bir yang ada di genggaman Febby. Mereka sedang duduk bersama di depan sebuah meja bar yang ada di dapur rumah mereka.

“Aku tidak peduli.” Jawab Febby cuek.

“Aku juga tidak peduli kalau kamu mabuk, aku hanya nggak mau membersihkan sisa muntahanmu nanti.” gerutu Randy lagi.

“Kamu benar-benar cerewet!” kata Febby sambil menatap Randy.

Beberapa saat kemudian Suasana menjadi hening. Lalu…

“Aku mencintainya..” Perkataan Febby  itupun mengagetkan Randy.

“Maaf?”

“Kak Leo, suami dari kakakku. Aku mencintainya.”

“Apa kamu sudah gila?” Randy terbelalak dengan apa yang di katakan Febby.

“Kejadian itu sudah delapan tahun yang lalu.” Febby menghela napas panjang, mengingat-ingat masalalu pahitnya. “Aku mencintai lelaki teman kakakku sendiri, kamipun menjadi sepasang kekasih, tapi suatu hari aku memergoki Kak Leo sedang bersama Kak Dea, kakaku. Aku hanya diam berpura-pura tidak mengetahuinya. Hingga suatu hari pengakuan kak Dea membuat hatiku benar-benar hancur. Dia Hamil, dan mereka menghianatiku.”

Randy menatap Febby dengan tatapan tak percaya, Febby sendiri mulai meneteskan airmatanya. “Mereka menikah, tapi itu tidak membuat kak Dea tenang. Dia semakin membenciku, dia mengira jika aku masih mencintai bahkan menggoda suaminya. Jujur saja pada saat itu aku memang masih menyimpan perasaan dengan kakak iparku sendiri, tapi aku sudah mencoba menguburnya dalam-dalam, jangankan menggoda bicara saja aku tidak pernah lagi.” Febby lalu meneguk minumannya kembali.

“Berhentilah meminum itu.” kata Randy kali ini dengan nada serius namun lembut.

“Puncaknya adalah ketika aku melanjutkan studyku ke luar negri, ketika aku kembali dengan gelar sebagai seorang Dokter, kakakku sudah tidak ada di rumah, dia sudah tidak ingin seatap lagi denganku. Dia masih takut aku menggoda suaminya. Padahal saat itu aku sudah tidak menyimpan perasaan apapun pada kak Leo lagi.” Febby kembali menangis tersedu.

“Kak Dea berkata jika aku sudah menikah, memiliki seorang anak, dan bahagia dengan mereka, kak Dea akan kembali lagi menjadi kakakku seperti dulu.  Aku tahu dia  hanya ingin pembuktian jika aku sudah tidak mencintai suaminya lagi.”  Lalu Febby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Sebenarnya apa salahku? kenapa dia membenciku? Bukankah seharusnya aku yang membencinya? bukankah mereka yang sudah menghianatiku?” Febby menangis dan terlihat frustasi.

“Kakakmu dan suaminya benar-benar sialan!” geram Randy. “Jadi itu sebabnya kamu sangat menginginkan seorang bayi?  untuk membuktikan pada kakakmu?”

Febby hanya mengangguk.

“Jadi ini tidak ada hubungannya dengan menopouse?

Febby kembali mengangguk.

Lalu tiba-tiba Randy menangkup kedua pipi Febby dengan kedua telapak tangannya. Menghadapkan wajah Febby tepat ke atah wajahnya.

“Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu. Mari buktikan kepada kakakmu kalau kamu sudah memiliki aku, dan kamu bahagia bersamaku.” Tubuh Febby merinding ketika mendengar kata-kata tegas tapi lembut yang diucapkan oleh Randy. Dan belum sempat Febby  menanggapi pernyataan Randy, tiba-tiba Randy menempelkan bibirnya pada bibir Febby dengan lembut, sangat lembut.

Keduanyapun berciuman dengan lembut sambil menutup mata masing-masing. Menikmati setiap gelenyar panas yang seakan menjalari sekujur tubuh mereka. Randy yang pertama kali membuka matanya dan berdiri, dia menarik Febby yang masih duduk di kursi barnya. Menjalankan jari jemarinya ke seluruh tubuh Febby. Febbypun sudah meremas dan mengacak-acak rambut Randy.

“Uuggghhh, aku… menginginkannya sekarang.” ucap Randy dengan serak dan sedikit mendesah.

“Lakukanlah..” jawab Febby pasrah.

Lalu Randypun menarik Febby agar berdiri. Mendorong Febby ke belakang hingga punggung wanita tersebut membentur kulkas besarnya.

Masih dengan mencumbui Febby, sesekali Randy menggigit bahkan mengisap leher dan bibir Febby, Randy juga sudah melepaskan rok dan semua kancing kemeja Febby.

Febby kini berdiri hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, padahal sekarang Randy masih berpakaian lengkap.

Ketika Randy mulai membuka dalaman Febby, tiba-tiba Febby menghentikan ciumannya.

“Apa yang kamu lakukan?!” Tanya Febby dengan nada terkejut sambil berusaha menutup tubuh polosnya dengan kedua lengannya.

“Apa maksudmu? aku akan melakukannya sekarang.” Jawab Randy.

“Disini? dengan lampu menyalah seperti ini?”

“Tentu saja, kamu pikir apa?”

“Uumm, aku hanya malu dan terlalu gugup.”

Dan tanpa di sangka-sangka Randy tertawa lebar. “ Oh, ayolah, aku akan mengajarimu berbagai cara, berbagai gaya, dan aku akan membuatmu menjadi liar ketika di ranjang.”

“Apa kamu sudah gila?”

“Aku bukan hanya gila, aku memang sudah tergila-gila.” Lalu Randy melanjutkan aksinya kembali, mencumbui setiap lekuk tubuh Febby, membuat Febby mengerang nikmat.

“Ran..dy…”

“Hemm..” Jawab Randy malas, kali ini ia sudah mengulum puncak payudara Febby, membuat Febby mendesah sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.

“Uugghh.. Ran..dy…” panggil Febby lagi.

Randy menghentikan aksinya seketika dan memandang Febby dengan tatapan tajamnya “Kali ini apa lagi?” tanya Randy dengan nada kesal, ia sudah berdenyut nyeri dan hampir meledak, tapi Febby seakan menggodanya dengan panggilan-panggilan yang penuh dengan desahan.

“Uumm, aku pikir ini bukan posisi yang baik untuk mendapatkan seorang bayi.”

Randy memutar bola matanya dengan kesal. “Apa kamu tahu jika kamu dapat mematikan gairahku seketika hanya  karena kamu terlalu cerewet? berhentilah menjadi perempuan cerewet! Aku sudah hampir meledak dan aku tidak percaya kamu membuatku kesal dengan omong kosongmu itu.” Gerutu Randy dengan kesal.

“Tapi aku seorang dokter, aku  membaca di buku jika melakukannya dengan berdiri kecil kemungkinannya untuk hamil.”

“Kamu benar-benar kaku dan membosankan.”

“Ya. aku memang seperti itu.” Febby sedikit tersinggung.

“Tapi aku suka.” Meski di katakan dengan cuek dan sedikit enggan, jawaban itu membuat Febby ternganga. Belum sempat Febby membalas pernyataan Randy, Randy sudah menyerangnya kembali.

“Emmmpptt… Emmmpptt…” Febby mencoba untuk bicara kembali di sela-sela ciumannya.

“Diamlah! aku tidak peduli tentang pembuatan bayi itu, kita bisa melakukannya di lain hari, tapi untuk malam ini, aku ingin kamu dan aku sama-sama menikmatinya tanpa ada tujuan untuk mendapatkan bayi sialan itu.” ucap Randy kemudian.

Dan tanpa permisi tiba-tiba Randy mengangkat sebelah  kaki Febby, menyilangkan di pinggangnya dan memasuki diri Febby begitu saja. Febby bahkan tidak tahu entah sejak kapan Randy membuka celananya sendiri, yang dia tahu kini Randy masih mengenakan kemeja putihnya, lelaki itu hanya menanggalkan celana dan boxernya saja.

“Oh Shit! kamu benar-benar nikmat, apa ini nikmat untukmu juga?”

“Ya, ya, ini.. Ughhh… Randy..” Jawab Febby  lengkap dengan desahannya,

“Ya, mendesahlah. mendesahlah.. aku suka sekali suara desahanmu.. Oh sial!!”  umpat Randy sambil sesekali mengecupi leher Febby, meninggalkan jejak-jejak basah di sana tanpa menghentikan pergerakannya di bawah sana.

“Randy! Ohh, aku, aku…” Febby tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika puncak kenikmatan itu datang padanya.

“Sial! aku juga sudah akan datang.” Randy kembali mengumpat lalu sebelah tangannya memegang tengkuk Febby, mengarahkan wajah Febby ke wajahnya dan mulai melumat habis bibir Febby kembali  sambil mempercepat lajunya. Dan akhirnya Randy tenggelam dalam gelombang kenikmatan sambil mengulum bibir manis Febby.

Keduannyapun lemas karena percintaan panas mereka, Febby hampir saja terjatuh jika tidak mengalungkan lengannya ke leher Randy.

“Sialan! tadi itu benar-benar seksi.” Randy berkata masih dengan napas teregah-engah.

Febby hanya menunduk malu  wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ini pertama kalinya dia bergerak secara erotis di hadapan lelaki.

“Apa kamu tahu? kamu adalah wanita pertama yang membuatku meledak hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Ini benar-benar gila.”

“Uumm, apa itu aneh?” tanya Febby polos.

“Tentu saja, asal kamu tahu, aku tidak pernah bercinta dengan perempuan kurang dari lima menit seperti bercinta denganmu.”

Febby hanya tersenyum dan menunduk.

“Dan aku juga tidak pernah bergairah kembali setelah beberapa detik orgasme kecuali denganmu.”

Dan pernyataan Randy yang terakhir memaksa Febby menghentikan senyumannya, melihat ke arah pangkal paha Randy yang sudah kembali menegang, lalu kembali menatap ke arah Randy yang sudah menyunggingkan senyuman liciknya.

“Ran..dy.. apakah kamu…”

“Ya, aku menginginkanmu kembali.” Bisik Randy lembut di telinga Febby.

“Apa?!” Febby memebelalakkan matanya tak percaya.

Tapi Randy seakan tak menghiraukannya, Randy malah menggndong Febby dengan paksa menuju ke kamarnya.

“Randy!! turunkan aku…” teriak Febby sambil berusaha turun dari gendongan Randy.

“Tenanglah sayang, kita akan lakukan sesi kedua, sesi pembuatan bayi.” kata Randy masih dengan menyunggingkan senyuman liciknya.

“Tapi aku membaca di buku jika sperma kedua itu kurang optimal dalam pembuatan…”

“Persetan dengan buku-buku sialanmu itu!” Potong Randy Kemudian. “Febby! berhentilah menjadi kaku dan berhentilah membaca buku-buku aneh itu.” Lanjutnya kemudian.

“Buku aneh?” pikir Febby sebentar kemudian Febby kembali berteriak ketika sadar Randy sedang mengejeknya.

“Hei!! Buku kedokteran tidak aneh, tahu!!” Teriak Febby kemudian.

“Ya, tapi kamu semakin aneh saat membaca buku itu” jawab Randy dengan cuek dan santai.

“Aku tidak aneh! Aku hanya…” Lalu tanpa disangka, Randy memotong kalimat Febby dengan membungkam bibir Febby dengan (lagi-lagi) ciuman panasnya.

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 8

  1. Astagaaaaa Randy bilang aja klo lho ketagihan wkwkwkwkwk
    kesempatan bgt tuh hihihi..
    Punya kakak sprti itu psti sgt trsiksa,,ada2 aja tuh c Dea,hrusnya dia yg merasa malu dan brsalah pd adiknya sndri krn udah merebut pacarnya…

    Like

  2. haha randy parah febby sekarang sudah mejadi candu buat dia , tidak ada lagi (lupa nm pacar na) yng ada hanya febby dan febby … dea mah ga nyadar diri dia yng salah tapi malah febby yng d benci .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s