romantis

Elena – Chapter 5 (Pesta)

elena-copyElena

Chapter 5

-Pesta-

 

Yogie terbangun dan mendapaati Elena di dalam pelukannya. Ini sudah dua minggu setelah kesepakatan mereka terjadi malam itu. Semuanya berjalan sesuai dalam kesepakatan. Elena selalu bersikp seolah tak mengenal Yogie ketika keduanya tidak sengaja bertemu di tempat umum. Begitupun sebaliknya. Kenyataan jika Yogie bekerja di kantor yang sama dengan Elenapun tidak berpengaruh. Toh Yogie hanya staf biasa, mana mungkin dengan leluasa bisa menemui Elena yang berkedudukan sebagai wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja.

Yogie menatap langit-langit kamar Elena, pikirannya seakan terbang pada masalalu, masa dimana dirinya sempat menyukai wanita yang berada dalam pelukannya saat ini.

Dulu, Yogie bukanlah lelaki bajingan dengan keinginannya untuk selalu melakukan seks, Yogie bukan pria seperti itu. Dia memiliki cinta, dan dia percaya dengan kata tersebut.

Yogie pernah menyukai Elena ketika SMA, tapi Elena yang populer seakan tidak pernah melirik ke arahnya. Lulus SMA, Yogie melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di kota ini, dari sanalah semua bermula. Pergaulan bebas mulai di kenal oleh Yogie, gonta-ganti pacarpun tidak terhindarkan. Hingga kemudian Yogie lulus dengan gelar sarjananya dan memilih bekerja di perusahaan Omnya daripada perusahaan keluarganya sendiri.

Ya, sebenarnya Yogie bukanlah orang tidak punya, ia cukup berada, hanya saja Yogie memilih hidup sendiri dan menyewa apartemen sederhana untuk ia tinggali dari pada harus tinggal di rumah orang tuanya yang mewah tapi seakan di anak tirikan.

Yogie memiliki seorang kakak laki-laki, namanya Yongki Pratama. Yongki di gadang-gadang oleh kedua orang tuanya sebagai pewaris perusahaan sang kakek, dan itu membuat Yogie merasa terasingkan. Semua tentang kakaknya, sedangkan ia sendiri seakan tidak di pedulikan oleh kedua orang tuanya. Yogie kesal, ia bahkan muak dengan keluarganya yang seakan di butakan oleh sebuah warisan. Akhirnya Yogie memilih hidup sendiri dengan menyewa apartemen sederhana asal jauh dari keluarganya.

Dasar pecundang! Yogie mengumpati dirinya sendiri. Ia memang membenci keluarganya tersebut, tapi tanpa tahu malu ia tetap menerima uang bulanan yang di kirim sang kakak padanya. Benar-benar memalukan!

Beberapa bulan bekerja di tempat Omnya, Yogie memutuskan untuk berhenti. Ia merasa tidak cocok bekerja di balik komputer dengan rutinitas monoton. Ia bosan. Akhirnya Yogie memilih berhenti dari perusahaan tersebut lalu berakhir dengan menjadi pengangguran.

Kehidupan malam, balapan liarpun kembali menjadi rutinitasnya karena nyatanya Yogie masih memikirkan kesenangan sepeti anak remaja dari pada memikirkan masa depannya.

Beberapa bulan yang lalu, ia bertemu dengan Alisha, seorang pengantar minuman di salah satu Pub. Dan Yogie jatuh hati pada wanita itu. Wanita cantik dengan penampilan yang sedikit tomboy. Sayangnya, Alisha lebih memilih menikah dengan Brandon, dari pada dengan dirinya.

Ahh mungkin wanita itu kini sudah bahagia dengan suaminya. Pikir Yogie, hanya saja, Yogie seakan belum bisa menerima kenyataan itu. Ia masih menyukai Alisha, tentu saja. Meski kini kehadiran Elena sedikit menyamarkan perasaannya pada sosok Alisha.

Yogie manatap ke arah Elena. Jemarinya terulur menggoda punggung telanjang Elena, membuat wanita itu menggeliat lalu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Yogie.

Elena Pradipta.

Apa yang terjadi denganmu?

Kenapa kamu berubah?

Pikiran-pikiran itu selalu mengganggu Yogie. Elena pernah berkata jika wanita itu memilih melajang seumur hidup dan hanya berhubungan seks untuk memuaskan hasratnya, dan Yogie penasaran, apa yang membuat wanita itu terlihat seperti… seperti… sedang putus asa?

Apa hanya karena cinta Elena yang di tolak oleh Aaron mentah-mentah? Tidak mungkin karena itu. Yogie ingin tahu, tapi apa haknya untuk tahu? Toh mereka hanya terikat karena seks, bukan karena perasaan. Elena akan lari ketakutan jika dirinya mencoba mengorek informasi pribadi tentang wanita tersebut.

Yogie mendekatkan wajahanya ke arah Elena, mengecup hidungnya lembut. Hal yang sama sekali tidak pernah ia lakukan pada siapapun, tapi entah kenapa dengan Elena ia ingin melakukannya. Melakukan hal-hal yang manis untuk wanita tersebut.

Setelah mengecup lembut hidung Elena, bibir Yogie merambat turun dan mendapati bibir mungil Elena. Yogie mengecup lembut, menggodanya, hingga kemudian Elena membuka matanya.

“Sudah bangun?” tanya Elena dengan suara seraknya.

“Hemm.”

“Kenapa nggak bangunin aku?”

“Ini minggu, kita bisa di sini sampai siang.”

“Ya, minggu, hari yang sangat baik.” Elena mengeratkan pelukannya pada tubuh Yogie, sedangkan Yogie sendiri semakin menegang karena sentuhan halus dari kulit lembut Elena.

“Sudah jam sepuluh, mau mandi bareng?”

Elena menggelengkan kepalanya. “Katanya kita bisa di sini sampai siang? Ini minggu, jadi tidak perlu terburu-buru mandi.”

“Aku mau kamu nemanin aku.”

Elena mengerutkan keningnya. “Kemana?”

“Belanja.”

Satu kata itu membuat Elena mengerutkan kening sembari menatap Yogie dengan tatapan anehnya.

“Kamu nggak serius ngajak aku belanja, kan? Memangnya kamu tahu bagaimana seleraku?”

“Kamu meremehkan aku?” Yogie tersnyum miring. “Kamu memang lebih kaya dari pada aku Elena, tapi aku tahu bagaimana membuatmu senang meski dengan uang pas-pasan.”

Elena tertawa lebar. “Oke, aku mau ikut. Tapi kenapa tiba-tiba kamu mengajakku belanja?”

“Temani aku nanti malam.” Bisik Yogie serak.

“Kemana?”

“Sepupuku menikah, aku harus hadir ke pestanya, tapi aku tidak mungkin hadir sendiri seperti orang bodoh.”

Well, kamu juga nggak mungkin ngajak aku, ingat, aku nggak mau hubungan kita di ketahui orang luar.”

Yogie kembali tersenyum. “Kamu tenang saja, aku tidak akan mengajakmu sebagai kekasihku. Kita ke sana sebagai teman. Lagi pula, tidak akan ada yang peduli aku membawa siapa.”

Elena mengangkat sebelah alisnya. “Kamu bermasalah dengan keluargamu?”

Yogie bangun. “Tidak, kami hanya kurang akur.”

Elena ikut bangun kemudian dengan spontan memeluk tubuh Yogie. “Aku akan menemanimu, kamu tenang saja.” Entah kenapa Elena mengucapkan kalimat itu.

Yogie menatap Elena, entah apa yang di rasakan di dadanya saat ini. Degupannya semakin aneh  ketika tangan mungil Elena memeluk tubuh kekarnya.

“Setidaknya kita bisa numpang makan di sana.” bisik Elena yang kemudian membuat Yogie terkikik geli.

“Tapi sepertinya…” Yogie menggantung kalimatnya.

“Sepertinya apa?”

“Aku akan memakan sarapanku terlebih dahulu.” Secepat kilat Yogie menyambar bibir Elena, mendorong tubuh Elena hingga kini kembali dalam tindihannya. Mencium wanita tersebut penuh dengan gairah yang seakan tak kunung padam. Oh, Yogie benar-benar merasa jika dirinya seorang maniak seks ketika berada di dekat Elena. Elena bagaikan obat untuk dahaganya, tapi wanita itu seakan tidak bisa menyembuhkannya hingga kemudian membuat Yogie candu dan menginginkannya lagi dan lagi.

***

Elena hanya menatap Yogie dengan tatapan anehnya. Lelaki itu kini sedang memilihkan gaun untuknya, gaun malam yang mewah dan mahal tentunya. Apa Yogie bisa membayarnya? Pikir Elena.

Elena tidak pernah mengenal Yogie, siapa lelaki itu, dari keluarga kaya atau tidaknya Elena tentu tidak tahu, dan untuk apa ia mencari tahu? Toh ia tidak pernah tertarik menjalin hubungan dengan Yogie, tidak dulu, tidak sekarang, atau nanti. Eena hanya tertarik dengan kejantanan lelaki itu, ya tentu saja, memangnya apa lagi, Bodoh!

Tapi setelah di pikir-pikir, Yogie terlihat bukan dari kalangan menengah kebawah. Ia bertemu dengan Yogie beberapa minggu yang lalu di sebuah klub malam yang mewah, dan pastinya hanya kalangan menengah keatas yang bisa masuk klub itu.

“Apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Yogie membuat Elena tersadar dari lamunannya. “Kamu takut Andrew memergoki kita sedang jalan bareng?”

“Enggak, dia lagi keluar kota.”

“Ohh.” Hanya itu Jawaban Yogie. “Coba ini.” Yogie menyodorkan sebuah gaun berwarna hitam dengan potongan seksi tapi tetap terlihat glamour karena beberapa aksesoris bling-blingnya.

Elena mengerutkan keningnya. “Memangnya kalau muat, kamu mau membelikan ini untukku?”

“Tentu saja.”

“Kamu yakin?” tanya Elena lagi.

Yogie tersenyum lebar. “Sudah kubilang, aku memang tidak sekaya kamu, tapi aku masih bisa membuatmu senang dengan uang pas-pasan.”

Well, kita lihat, apa kamu bisa membayar semua keinginanku.” Ucap Elena dengan congkaknya.

Yogie mendekat, kemudian berbisik pada telinga Elena. “Aku akan membayarnya, Honey, tapi aku akan menagih jatahku untuk nanti malam.”

Elena menjauh, menatap Yogie dengan tatapan jijiknya. “Benar-benar bajingan!” umpat Elena sambil menjauh menuju ruang ganti sedangkan Yogie hanya mampu tertawa lebar melihat ekspresi yang di tampilkan Elena.

***

Malamnya…

Yogie dan Elena akhirnya menghadiri pesta itu, pesta pernikahan Kezia, sepupu Yogie.

Sejak tadi, jantung Elena tidak berhenti berdegup kencang, entah karena apa Elena juga tidak tahu, apa karena Yogie yang berubah seratus delapan puluh derajat dengan mobil mewah yang di bawanya? Oh yang benar saja, ini hanya mobil Rental, Elena. Gerutu Elena pada dirinya sendiri.

Lelaki yang kini sedang mengemudi di sebelahnya ini juga berpenampilan rapi dengan setelan hitamnya yang membuatnya terlihat bak CEO-CEO di film-film romantis maupun di dalam fantasinya ketika ia sedang membaca novel. Film Romantis? Novel? Memangnya sejak kapan kamu pernah mennton film romantis dan membaca Novel, Elena? Jangan ngaco!

Akhirnya Elena hanya mampu berkali-kali menghela napas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Kamu gugup?” tanya Yogie tiba-tiba.

“Eh? Kenapa aku gugup?”

“Kamu terlihat gugup? Tenang Honey, kamu tidak sedang menghadiri pesta keluarga kekasihmu, jadi santai saja.”

“Hei, sejak tadi aku santai, lagi pula kenapa juga aku harus gugup?”

Yogie hanya membalasnya dengan senyuman. Tak lama, sampailah mereka di tempat acara pernikahan sepupu Yogie tersebut.

Setelah keluar ddari dalam mobil lalu mengikuti Yogie masuk ke dalam pesta tersebut, Elena hanya mampu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuu ruangan. Pesta yang mewah, dan tentunya di hadiri banyak orang-orang penting. Sebenarnya siapa lelaki di sebelahnya ini? Kenapa lelaki itu bisa memiliki saudara yang terlihat kaya raya sekelas dengan dirinya?

“Terkejut Elena?” bisik Yogie.

“Kamu benar-benar bajingan! Kalau tahu ini pesta kalangan atas, aku tidak akan mungkin mau ke sini denganmu.”

“Kenapa? Malu berada di sini bersamaku?”

“Sialan!! Beberapa orang di sini pasti mengenalku sebagai pewaris Pradipta Grup. Apa yang ku bilang pada mereka tentang hubungan kita kalau ada yang bertanya?”

“Jawab saja, aku hanya bawahanmu, salah seorang staf biasa di kantormu.”

Elena mendengus kesal. “Aku tidak bercanda Yogie.”

“Kupikir kamu bukan tipe orang yang menghiraukan perkataan orang-orang di sekitarmu?”

“Ya, memang bukan. Tapi…”

“Ayo, tidak perlu di bahas lagi, tujuan kita ke sini adalah numpang makan, jadi nggak perlu memikirkan orang-orang yang berada di sini.”

“Kadang aku heran, apa yang ada di epalamu itu hanya makan dan seks saja?” cibir Elena da itu membuat Yogie semakin tertawa lebar.

Keduanya akhirnya memutuskan untuk ikut larut dalam pesta meski tidak di pungkiri jika pesta saat itu adalah pesta yang membosankan seperti biasanya. Elena sempat penasaran, sebenarnya mana keluarga Yogie? kenapa lelaki itu tidak mengajaknya ke tempat keluarganya? Dan untuk apa juga ia menginginkan hal itu? Elena menggelengkan kepalanya, menepis semua pikiran-pikiran aneh yang sempat melintas di otaknya.

Elena kemudian menatap ke arah Yogie, lelaki itu tampak menegang dengan rahang yang sudah mengeras, seperti sedang menahan sesuatu. Apa Yogie sedang bergairah? Oh ayolah Elena, berhenti memikirkan seks!

Elena mengikuti arah pandang Yogie, dan ia mendapati sepasang lelaki dan perempuan yang sedang menaiki pelaminan untuk memberi selamat bagi mempelai pengantin.

“Kamu mengenalnya?” tanya Elena begitu saja.

Yogie hanya menganggukkan kepalanya.

“Dia wanita yang pernah amu ceritakan padaku?”

Yogie kembali menganggukkan kepalanya sedangkan matanya sendiri tidak berhenti menatap sosok itu, sosok yang sangat ia rindukan, Alisha Almeera.

“Dia cantik, dan suaminya terlihat tampan.” Komentar Elena. “Mereka terlihat bahagia.” Lanjutnya.

Yogie merapikan pakaiannya kemudian bersiap menghampiri Alisha dan juga Brandon, suami wanita tersebut.

“Kamu mau kemana?” Elena sedikit khawatir kalau mungkin tiba-tiba Yogie akan membuat sesuatu yang memalukan nantinya.

“Menemui mereka.”

“Ayolah Gie, mereka sudah bahagia, biaran saja.”

“Ada yang ingin aku sampaikan pada Alisha.”

“Apa? Bahwa kamu mencintainya? Jangan bodoh! Kamu akan mempermaalukan dirimu sendiri.”

“Aku memang masih sangat mencintainya.” Perkataan terkhir Yogie membuat Elena melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Yogie seketika. Untuk apa juga dirinya melarang lelaki tersebut? Bukan menjadi urusannya jika Yogie akan mengutarakan perasaannya pada wanita itu. Pikir Elena. Elena hanya mampu pasrah melihat Yogie pegi meninggalkannya menuju ke arah sepasang suami istri yang seak tadi mereka perhatikan.

***

Bodoh!!

Untuk apa juga ia melakukan hal ini? Yogie tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri ketika ia menghadang Alisha dan juga Brandon.

“Ada apa?” Brandon bertanya dengan nada dinginnya, tapi itu tidak menyurutkan niat Yogie.

“Aku mau bicara sama Alisha.”

“Nggak bisa, bicara saja di sini.” Bantah Brandon lagi masih dengan nada dinginnya.

Yogie menatap Brandon dengan tatapan tajam membunuhnya, pun dengan lelaki di hadapannya tersebut yang menatap Yogie dan seakan ingin mendaratkan bogem mentahnya pada wajah Yogie.

“Aku benar-benar cinta sama dia, dia membuatku gila.” Yogie berkata tegas tepat di hadapan Brandon, Yogie tidak takut meski lelaki di hadapannya itu terlihat ingin menguliti Yogie hidup-hidup.

Brandon menyunggingkan senyuman sinisnya. “Dia sudah bersuami, dan kami sudah bahagia, jadi bisakah kau mengubur perasaan sialanmu itu?” Brandon berkata seakan menahan emosinya.

“Aku hanya mau bilang itu, bukan berarti aku mau merebutnya darimu.” Yogie mendesis tajam pada Brandon, kemudian tatapan matanya beralih pada sosok Alisha, sosok yang terlihat semakin cantik dan feminim karena kehamilan yang sudah sangat nampak. Tanpaa sungkan lagi, Yogie mengusap lembut pipi Alisha sembari berkata “Aku benar-benar mencintaimu, kali ini aku mengalah demi kebahagiaanmu, tapi saat aku mendengar kamu menderita karenanya, aku akan kembali merebutmu.” Pesan Yogie, lalu pergi begitu saja meninggalkan Alisha dan Brandon yang ternganga melihat kelakuannya.

Yogie kembali menuju ke arah Elena, tak lupa ia menyambar sebuah minuman beralkohol yang di bawakan seorang pelayan, mengeguknya hingga tandas tanpa menghiraukan tenggorokannya yang terasa terbakar karena minuman tersebut.

“Kita pulang saja.” ucap Yogie kemudian ketika berada tepat di hadapan Elena. Elena sendiri hanya mengerutkan keningnya. Sedikit paham jika semua tidak berjalan dengan baik untuk Yogie. Lelaki itu tampak kacau. Apa karena wanita tadi dan suaminya? Tentu saja. Dan Elena hanya bisa mengikuti Yogie keluar dari kerumunan pesta.

***

Yogie mengantar Elena ke apartemennya. Lelki itu kini tampak sedang menyadarkan kepalanya pada kemudi mobilnya. Elena sendiri meski kini sudah sampai di basement apartemennya, ia memilih tetap berada di dalam mobil Yogie untuk menemani lelaki tersebut.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Elena dengan lembut.

Yogie hanya menggelengkan kepalanya.

“Kamu boleh ikut masuk.” Tawar Elena.

Yogie kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu apa yang di rasakannya saat ini dan ia tidak yakin jika dirinya akan tidak bersikap kasar dengan Elena ketika wanita itu masih ada di sebelahnya seperti saat ini.

Tiba-tiba Yogie merasakan sebuah jemari lembut menyentuh jemarinya yang mencengkeram kemudi mobil. Yogie mengangkat wajahnya kemudian menatap ke arah emari tersebut. Matanya kemudian beralih pada mata Elena yang sedang menatapnya dengan tatapan lembutnya.

“Ayo ikut masuk, kamu terlihat kacau.” Bisik Elena dengan suara serak.

“Kalau aku masuk, aku akan bercinta denganmu.”

“Bukan masalah, setiap malam kita melakukan itu, bukan?”

“Kali ini benar-benar bercinta, bukan hanya sekedar seks.”

Elena terdiam sebentar kemudian berkata lagi. “Kamu akan menganggapku sebagai wanita itu?”

“Ya, sepertinya begitu.”

“Kamu butuh pelampiasan?” tanya Elena lagi.

Yogie mengangguk. “Dan juga pelepasan.” Jawabnya dengan tegas.

Well, untuk malam ini, kamu bisa menganggapku sebagai wanita manapun.” Setelah perkataan Elena tersebut, secepat kilat Yogie menyambar bibir ranum Elena yang sejak tadi menggodanya. Yogie menarik tubuh Elena hingga tubuh wanita tersebut berada di atas pangkuannya dengan posisi menghadapnya tanpa sedikitpun melepaskan pagutan bibirnya. Yogie kembali melumat bibir Elena dengan panas hingga wanita tersebut mengerang dalam ciumannya dan tak mampu menolaknya lagi.

***TBC***

Update lagi minggu depan, minggu ini saya habiskan untuk mengupdate bang Randy karena banyak yang nunggu yaa.. hehehhehe

Advertisements

7 thoughts on “Elena – Chapter 5 (Pesta)

  1. Ahh c Yogie trnyata blm move on jg,,malah terang2an mnyatakan cinta pd Alisha.. Pdhalkan ada Elena disampingnya,,jgn smpe km mnysal Yogie klo nntinya km di cuekin ama Elena heehehe
    keinget Elena hamil n mutusin Yogie,, di My Cool Lady

    Like

  2. jadi elena ma yongi ktemu lagi jauh sblom aaron ma bella nikah , bukti na waktu keyza nikah dia dateng ma elena sdang kan aaron masih d luar negeri …
    q pikir juga yongi bukan orang kaya , soal na dari awal dia hidup kek gitu … pantes mereka ber 2 cocok mereka sama” kekurangan kasih sayang keluarga kek na … ahhhh semoga mereka berjodoh , d tunggu next na bu.

    Like

  3. Segitu cinta matinya yah Yogie sama alisha kan dia nya udah bahagia sama mas brend , mending perhatiin elena aja bang , kayaknya elena mulai ada rasa sama bang Gie …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s