romantis

Elena – Chapter 4 (Hadiahku)

elena-copyElena

Walau cerita ini sepi peminat, tapi entahlah, saya sangat bersemangat menulis lanjutannya. jadi kemungkinan akan Fast update (Jika banyak waktu luang), saya harap readers yang baca cerita ini nggak bosen yaa.. hahhahahah

Banyaaaaaaaakkkkkk Typo!!!

“Singkirkan pikiran mesummu Yogie, kamu tidak akan pernah mendapatkan hal itu.”

Yogie menaruh sembarangan berkas-berkas yang tadi di bawanya di meja Elena, kemudian iaa berjalan cepat menuju ke arah Elena, menarik wanita tersebut hingga berdiri tepat di hadapannya kemudian tanpa basa-basi lagi menyambar bibir Elena dengan ciuman panasnya.

Yogie menarik tubuh Elena hingga menempel sepenuhnya pada tubuhnya. Pangkal pahanya kembali berdenyut nyeri karena menginginkan sebuah pelepasan.

Elena meremas kemeja yang menempel pada dada bidang Yogie. Oh, lelaki ini benar-benar sangat menggairahkan, membuat Elena selalu di bayangi pikiran-pikiran erotis ketika berada di dekat lelaki ini.

Yogie melepaskan pagutannya, kemudian dengan napas terengah ia berbisik serak pada Elena.

“Aku ingin memasukimu saat ini juga.”

Elena membulatkan matanya seketika. Yogie gila!!! Dan astaga, bagaimanaa mungkin ia menjadi sama gilanya dengan Yogie karena saat ini ia mengininkan hal yang sama dengan lelaki tersebut??

 

Chapter 4

-Hadiahku-

 

“Kita tidak bisa melakukan itu di sini, Gie.” Ucap Elena yang suaranya sudah sangat serak.

“Kata siapa? Aku bisa melakukan apapun yang kumau.”

Please, tidak sekarang, tidak di sini.” Elena memohon. Yang benar saja, saat ini Elena juga sangat menginginkan Yogie, tapi demi Tuhan, mereka sedang berada di dalam ruang kerjanya yang mungkin saja sewaktu-waktu bawahannya bisa saja mengetuk pintu dan masuk.

“Aku benar-benar menginginkanmu.”

“Percaya atau tidak, akupun juga menginginkanmu, Gie. Tapi astaga, kita tidak bisa melakukannya di sini.”

“Oke.” Yogie mengalah. “Tapi kesepakatan kita…”

“Ya, aku tahu, mulai saat ini kesepakatan kita sudah berlaku.”

“Jadi, kita sudah menjadi sepasang kekasih?”

“Ingat, hanya saat kita berdua, kita akan berssikap seperti orang asing ketika di hadapan oraang lain.”

“Oke, bukan masalah.” Yogie melirik sekilas ke arah jam tangannya. “Aku harus kembali, di sini, aku hanya staf biasa, jadi aku tidak bisa seenaknya.”

Elena mengangguk. “Pergilah.”

“Boleh minta cium?”

“Tidak!!! Kamu tidak akan pergi kalau kita membali berciuman.”

Yogie tertawa lebar. “Ya, aku akan menyimpan ciuman kita untuk nanti malam.”

Yogie kemudian pergi begitu saja meninggalkan Elena dengan debaran jantungnya yang seakan menggema di dalam ruangan.

***

Sorenya, Elena sampai di apartemennya dengan tubuh yang sudah lelah. Kenyataan jika Yogie malam ini akan ‘Berkunjung’ ke apartemennya membuat Elena sedikit bersemangat. Entah apa yang di lakukan lelaki itu hingga kini membuat Elena seakan ketagihan dengan sentuhan panas yang di berikan oleh Yogie.

Elena menuju ke kamar mandi di dalam kamarnya dalam keadaan telanjang bulat. Ia kemudian menyalakan air hangat, lalu menuangkan sabun cair hingga bathubnya penuh dengan busa. Ahh berendam sebentar mungkin akan menghilangkan rasa lelahnya.

Sebenarnya Elena sangat tidak suka bekerja di kantor ayahnya, tapi bagaimana lagi, bagaimanapun juga dirinya akan menjadi satu-satunya pewaris Pradipta Group. Jika di suruh memilih, Elena akan memilih menjalankan bisnis fasion kecil-kecilan yang ia bangun bersama beberapa temannya di luar negri. Tapi keadaan mengharuskannya pulang dan menjalankan tugasnya sebagai pewaris tunggal perusahaan ayahnya.

Elena menatap busa yang berada di tangannya. Adanya Yogie membuat hidupnya sedikit memiliki semangat. Ya, tentu saja karena kejantanan lelaki itu, memang karena apa lagi?

Elena bukan tipe wanita yang ingin di puja dengan cinta oleh seorang lelaki, dia juga bukan wanita dengan mimpinya di jemput oleh pangeran berkuda putih, percayalah, Elena tidak suka hal-hal menggelikan seperti itu. Elena lebih suka menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang di klub, atau mungkin membahas bisnis fasionnya yang kini sedang berjalan di luar negeri.

Kata Cinta tidak pernah ada di kamusnya. Dulu, Elena sempat menyukai teman sekelasnya. Namanya Aaron Revaldi, teman Yogie. Tapi tentu saja itu hanya sebatas suka. Aaron bahkan pernah dengan tegas memberi tahu pada teman-temannya jika tipe wanita idamannya adalah seperti Issabella Aditya. Dan setelah itu, tentu Elena mundur teratur. Ia tahu jika dirinya tidak akan mungkin bisa menggeser posisi Bella di hati Aaron.

Semasa sekolahnya dulu, banyak sekali teman prianya yang dengan terang-terangan mengakui jika suka dengan Elena. Elena tahu karena dia adalah sosok populer di sekolahnya, banyak pria yang mengantri untuk menjadi kekasihnya, tapi Elena tidak bisa menerima salah satu di antara mereka. Semua itu tentu karena si bajingan sialan bernama Gilang setiawan, seorang mahasiswa yang menjadi guru les Privatnya sejak SMP. Gilang menjadikan Elena sebagi pelampiasan hasrat seksual lelaki tersebut, memonopoli diri Elena, dan juga mengancam jika lelaki tersebut akan mempermalukan Elena remaja di depan teman-temannya dengan menyebarkan foto-foto bugil Elena.

Elena memejamkan matanya frustasi. Itu dulu Elena, dulu ketika kamu menjadi gadis bodoh. Pikirnya dalam hati.

Bertahun-tahun menjadi korban pelecehan seksual oleh Gilang membuat Elena sedikit demi sedikit berubah menjadi sosok yang gila seks. Semakin lama Elena bahkan rindu dengan apa yang di lakukan Gilang. Rindu akan sentuhan lelaki bejat itu, padahal lelaki itu tak pernah sekalipun menyentuhnya dengan lembut. Hingga akhirnya Elena sadar jika dirinya harus pergi, pergi meninggalkan semuanya, semua kenangan buruknya bersama dengan Gilang.

Elena kabur ke luar negeri, menjadi gadis bebas, sebebas burung merpati yang tidak memiliki sarang. Berkali-kali Elena bahkan bergonta ganti pasangan karena bosan. Seks bebaspun tidak terhindarkan karena pada dasarnya ia seakan candu dengan tubuh seorang lelaki. Apa itu efek yang di berikan si brengsek Gilang pada tubuhnya? Entahlah, Elena tidak tahu. Yang pasti, Elena membutuhkan seks seperti membutuhkan udara untuk bertahan hidup.

Bel apartemennya berbunyi. Elena sadar jika dirinya sudah terlalu lama berendam. Oh sial!! Kenapa juga ia mengingat tentang si Brengsek Gilang?

Elena bangkit, membersihkan dirinya dari busa dengan air dari shower. Apa yang datang itu Yogie? Mengingat itu entah kenapa Elena kembali bersemangat.

Sesekali Elena berpikir, apa keputusan yang di ambilnya ini terlalu jauh? Bercinta terus-menerus dengan seorang lelaki, Elena tidak pernah melakukan hal itu. Apa dengan Yogie ia akan berhasil melakukannya tanpa perasaan? Elena sangsi, tentu saja. Ia takut jika suatu saat nanti dirinya akan memiliki perasaan menggelikan pada lelaki tersebut, dan Elena tidak ingin hal itu terjadi. Tapi Elena kembali berpikir ulang, jika dirinya tidak melakukan hal ini, Elena akan kebingungan jika tiba-tiba tubuhnya panas dan haus akan sentuhan lelaki, ia tidak dapat mencari lelaki untuk menyentuhnya dan meredakan dahaganya, tidak di negeri ini.

Elena menghela napas panjang, meraih juba mandinya kemudian mengenakanya. Elena keluar sembari menggosok-gosok rambut basahnya, menuju ke arah pintu utama dan membuka pintu tersebut.

Sosok tinggi tegap dengan wajah tampan rupawannya berdiri di balik pintu. Lelaki itu tersenyum lembut, dan entah kenapa Elena sama sekali tidak menyukai senyuman tersebut karena membuat degupan jantungnya semakin menggila.

“Baru jam Enam, kamu sudah ke sini?” sapa Elena.

“Apa aku tidak boleh ke sini lebih awal?”

Elena mengangkat kedua bahunya. “Bukan masalah, hanya saja aku belum bersiap-siap. Lihat, aku baru selesai mandi.”

“Aku tidak peduli. Kamu masih terlihat cantik di mataku.”

“Oh yang benar saja, berhentilah menggombal jika kamu ingin kesepakatan kita tetap berjalan.”

Yogie tertawa lebar. “Mau makan? Aku membawakan masakan Cina.”

“Ya, aku suka sekali masakan Cina.”

“Apa aku tidak di persilahkan masuk?”

Kali ini Elena yang tertawa lebar. “Masuklah, anggap saja rumah sendiri.” Elena berjalan masuk, sedangkan Yogie megikutinya dari belakang kemudian menuju ke arah dapur apartemen Elena.

“Sebenarnya tukang bersih-bersih apartemen ini tadi sudah menyiapkanku makan malam, tapi sepertinya aku tertarik dengan apa yang kamu bawa.”

“Kita bisa makan bersama, aku akan menyiapkannya sementara itu kamu bisa berganti pakaian.” Ucap Yogie yang saat ini sudah mencari piring-piring di dapur Elena.

“Memangnya kenapa kalau aku hanya pakai juba ini?”

Yogie menatap Elena dengan intens. “Honey, kamu membuatku ingin menyingkirkan makanan ini lalu menyantap hidangan utama kita.”

“Mesum!!” seru Elena.

“Jika ku tidak mesum, aku tidak akan berada di sini untuk menagih ‘hadiahku’, Honey.” Yogie berkata sembari mengerlingkan matanya, menggoda Elena, dan Elena benar-benar tergoda karenanya.

“Aku tidak akan ganti baju, lagi pula sebentar lagi kamu akan membukanya.”

“Oh ya? Kamu yakin sekali, bisa jadi malam ini aku hanya akan numpang tidur di sini tanpa melakukan apapun.”

“Tidak mungkin!!”

Yogie tertawa lebar, kemudian dengan spontan ia menuju ke arah Elena, mengangkat tubuh Elena dan mendudukkannya di atas meja dapur.

“Jadi… kamu memilih tetap mengenakan juba ini saat kita makan malam bersama?” Yogie bertanya dengan suara yang begitu serak. Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Elena. Dengan spontan Elena mengecup singkat permukaan bibir Yogie.

“Ya, aku tetap mengenakan juba ini.” tantang Elena.

Jemari Yogie sudah terulur membuka ikatan juba yang di kenakan Elena, dan kini tampaklah tubuh bagian depan Elena yang polos tepat di hadapan Yogie.

“Sepertinya aku akan menyantap hidangan utama terlebih dahlu.”

“Sepertinya bercinta di meja dapur adalah hal yang menyenangkan.” Tambah Elena yang menyatakan setuju dengan apa yang akan di lakukan oleh Yogie.

Elena mulai  teregah ketika jemari Yogie mengusap lembut puncak payudara Elena, sedangkan matanya tidak berhenti menatap wajah Elena yang seakaan tersiksa oleh sentuhan yang di berikan Yogie.

Elena mengerang ketika Yogie mulai menggoda puncak payudaranya, ketika bibir Elena terbuka, secepat kilat Yogie menyambar bibir tersebut hingga ciumaan panas mereka tak terhindarkan lagi.

Sebelah tangan Yogie kini bahkan sudah mendarat sempurnya pada pusat diri Elena, menggodanya hingga membuat Elena benar-benar tak berhenti mengerang.

“Gie, please, please..” Elena memohon, sedangkan Yogie kini sudah menyambar puncak payudara ranum milik Elena. Menggoda dengan bibirnya, kemudian menikmati rasanya.

“Mereka berdua milikku.” Racau Yogie ketika menikmati puncak-puncak payudara tersebut.

“Ya, milikmu, hanya milikmu.” Elena ikut meracau.

“Kamu terasa manis.”

“Hemmm…” hanya itu jawaban Elena.

“Aku akan memasukimu.”

“Ya, lakukanlah, di sini, sekarang.”perintah Elena.

Secepat kilat Yogie melepaskan celana sekaligus dalamannya. Melepaskan sesuatu yang sejak tadi sudah berdenyut nyeri karena tergoda oleh Elena.

“Oh, kamu sangat menakjubkan.” Bisik Elena ketika menatap bukti gairah Yogie yang terpampang jelas di hadapannya.

“Kamu suka?”

“Ya, sangat.” Jawab Elena tanpa tahu malu.

“Terimakasih, dan kuharap kamu tidak akan pernah bosan dengan ini.” Yogie menyatukan diri pada tubuh Elena dalam sekali hentakan. Keduanya menghela napas panjang ketika penyatuan tersebut terjadi.

Elena mengalungkan lengannya pada Yogie, sedangkan Yogie sendiri memilih mendaratkan kecupan-kecupan lembutnya pada Elena. Yogie melumat habis bibir Elena sedangkan yng di bawah ssana tidak berhenti bergerak mencari-cari kenikmatan.

Cumbuan Yogie kini bergerak turun ke sepanjang rahang Elena, kemudian berhenti di lekukan leher wanita tersebut. Yogie berhenti di sana kemudian menghadiahi Elena dengan gigitan-gigitan kecilnya.

“Oh sial!! Kamu benar-benar bajingan!” Racau Elena dengan umpatan-umpatan khasnya.

“Ya, aku memang bajingan.”

“Aku suka Gie, aku suka. Oh, cepat!! Kumohon bergeraklah cepat.”

Dan Yogiepun menuruti apa mau Elena. Ia bergerak cepat hingga sedikit demi sedikit ia mencapai puncak kenikmatan tersebut bersamaan dengan erangan panjang Elena.

Yogie menempelkan keningnya pada kening Elena, napasnya memburu begitupun dengan Elena, keduanya saling pandang tanpa kata. Hanya suara napas keduanya yang seakan menggema di segala penjuru ruangan.

Yogie kemudian tertawa ketika napasnya kembali normal. “Kamu membuatku gila, Honey.”\

“Begitupun denganku.” Balas Elena.

“Mau makan malam?” tawar Yogie yang seketika itu juga membuat Elena memukul dada bidang lelaki tersebut.

***

Yogie dan Elena kini berakhir di kamar Elena. Keduanya sedang sibuk menonton film horor bersama. Setelah percintaan panas mereka tadi, Yogie membopong tubuh Elena masuk ke dalam kamar mandi, kemudian mandi bersama dan melakukan seks kilat sekali lagi di bawah shower.

Setelah itu, keduanya memutuskan untuk makan malam bersama, dan kini, mereka berdua memutuskan untuk santai di ranjang besar Elena denga  pop corn dan film horor menemani mereka.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Yogie dengan ekspresi datarnya sambil sesekali memasukkan pop corn ke dalam mulutnya.

Elena mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa tiba-tiba tanya kabar? Aku baik-baik saja.”

“Dengan Andrew?”

“Andrew? Dia baik-baik saja.”

“Ku pikir kamu menyukai Aaron, tergila-gila padanya, tapi ternyata..”

“Kamu nggak tahu apa yang terjadi di antara kami, Gie.” Jawab Elena santai. “Kamu sendiri, apa kabar? Kupikir dulu kamu tidak seperti sekarang ini.”

“Apa dulu kamu pernah memperhatikanku?”

“Tentu saja, aku selalu memperhatikan Aaron, dan kamu selalu berada di dekat dia, bagaimana mungkin aku tidak memperhatikanmu juga.”

“Jadi kamu melihatku karena Aaron?”

“Ya.” Elena menjawab dengan pasti.

Yogie menghela napas panjang, ia tidak suka dengan kenyataan itu. “Aku berantakan.” Ucap Yogie kemudian.

Elena mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Elena tak mengerti.

“Kamu tadi bertanya bagaimana kabarku, dan aku menjawab jika saat ini aku berantakan.”

“Berantakan baagaimana?”

Yogie menghela napas panjang. “Aku tergila-gila pada wanita yang sudah menjadi istri orang. Aku ingin melupakannya, taapi sepertinya akan sangat sulit.”

“Kalau begitu cari saja penggantinya yang bisa mengalihkan perhatianmu dari wanita tersebut.” Elena memberi saran dengan nada cueknya.

“Ya, ini yang sedang kulakukan.”

“Jadi, kamu melakukan seks denganku untuk melupakannya?” tanya Elena tidak percaya.

Yogie menatap Elena kemudian tersenyum. “Maaf, tapi memang seperti itulah rencananya.”

Secepat kilat Elena memukul-mukul Yogie dengan gulingnya. “Dasar bajingan mesum!!” umpatnya.

Im sorry honey. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan ketika aku putus asa.”

Elena menggerutu kesal. “Memangnya dia seperti apa? Secantik apa hingga kamu tergila-gila?”

Yogie tersenyum. Ingatannya kembali pada sosok Alisha, sosok yang menurutnya berbeda dan sangat menarik.

“Namanya Alisha, dia seorang waiters bebuah Pub, dia sedikit judes dan juga tomboy, tapi aku suka. Entahlah apa yang membuat aku tertarik dengannya.” Yogie menjelaskan dengaan senyuman merekah di bibirnya.

“Lalu?”

“Dia menikah dengan seseoang. Brandon Revaldi, kakak Aaron.”

“Oh, aku turut prihatin.”

Yogie mengangkat kedua bahunya. “Its okay, mungkin dia bukan jodohku.”

Elena tersenyum mengejek. “Kamu percaya dengan jodoh?”

Yogie menatap Elena dan menjawab dengan penuh keyakinan. “Ya, aku percaya. Dan kamu?”

“Tidak!!! Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Aku sudah memutuskan untuk hidup melajang seumur hidup.”

Yogie hanya ternganga dengan apa yang di katakan Elena. Bagaimana mungkin di dunia ini ada wanita seperti Elena? Wanita ini memiliki segalanya. Entah berapa ratus lelaki yang mengantri untuk mendaptkannya. Tapi kenapa wanita ini seakan tidak berani mengambil langkah baru untuk bahagia?

“Apa yang tejadi denganmu, Elena?” tanya Ygie yang tatapan matanya sudah intens menatap Elena.

Elena menatap ke arah Yogie, lelaki itu tampak serius dengan pertanyaannya. Elena seakan mampu terhanyut karena tatapan mata yang diberikan oleh Yogie terhadapnya.

“Aku, aku hanya terlalu lelah.” Tanpa sadar Elena mengeluarkan kelimat tersebut.

“Apa yang membuatmu lelah?” suara Yogie terdengar begitu serak.

Elena tidak menjawab, ia hanya menatap Yogie dengan matanya yang sudah berkabut. Oh, bagaimana mungkin menatap Yogie seperti saat ini saja membuat Elena kalah? Kalah karena suatu perasaan aneh yang seakan tidak di mengertinya?

Secepat kilat Elena mengaaihkaan pandangannyaa ke arah lain. Ia menatap bekas kaleng bir di hadapannya.

“Birnya habis, aku akan mengambil yang baru.” Ucap Elena sambil bangkit. Tapi kemudian dengan spontan Yogie mencekal pergelangan tanganya hingga membuat Elena kembali menoleh ke arah lelaki tersebut.

Cukup lama keduanya saling pandang tanpa bersuara sedikitpun. Hingga kemudian Yogie melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Elena.

“Aku.” Yogie kembali menetralkan suaranya yang entaah kenapa tiba-tiba sedikit serak. “Aku ingin di bawakan air putih.” Yogie berkata asal-asalan. Sebenarya ia sangat ingin mengorek tentang kehidupan Elena yang seakan tertutup, hanya saja mungkin bukan sekarang waktunya.

“Baiklah, aku akan membawakan air untukmu. Ada lagi?” tawar Elena.

Yogie tersenyum miring. “Selusin kondom, mungkin.” Ucapnya dengan seringaian khasnya untuk mencairkan suasana.

“Bajingan tengik!” umpat Elena lalu pergi begitu saja meninggalkan Yogie dengan tawa lebarnya.

 

-TBC-

 

Advertisements

8 thoughts on “Elena – Chapter 4 (Hadiahku)

  1. OMG 😮 mereka tiada hari tanpa ‘itu’ ya 😀 . Jadi sekarang ceritanya si Yogie belum move on dari alisha,, kirain dia CLBK sama elena, ternyata Elena baru buat pelarian toh, kasian :v

    Like

  2. Yogie blm sadar klo dia mengalami CLBK ama Elena…
    Mirisnya kehidupan Elena di masalalu,,, trnyata dia gk mau mnjlin hbngan dgn org lain,,mgkin krn dia brpikir gk pantes,,,,krn dia udah gk brhrga lg… Sedihhh liat kehidupan Elena.

    Like

  3. ini mah lebih parah sri ramma 😂. 😂.
    do’a q semoga kalian berjodoh ☺☺.
    semoga yongie biza mnyembuh kan elena dari trauma masa lalu na , sampe dia mmtus kan melajang seumur hidup .. semoga yongie biza merima elena dengan masa lalu na yng kelam .

    Like

  4. Masa lalu elena yang kelam yahhhh aku suka gaya Yogie sewaktu ngajak bicara elena slengekan tapi tetep so sweet sii buat akunya ketawa tawa sendiri bacanya …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s