romantis

Sweet in Passion – Chapter 7

asipSweet in passion

Febby  memalingkan wajahnya ke samping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

 “Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

 

***  

 

 

Chapter 7

 

Febby membuka matanya ketika kesadaran mulai merenggutnya dari mimpi indah yang ia alami semalam.

Mimpi? apakah semua hanya mimpi?

Seketika itu juga Febby langsung terduduk memandangi sekelilingnya. Ruangan ini bukan kamarnya, dan kenapa terasa begitu dingin? dan benar saja saat ia  melihat tubuhnya, ternyata ia masih dalam keadaan telanjang bulat dengan selimut yang sudah melorot sampai ke pinggang.

Febbypun menarik selimutnya kembali, pipinya memerah mengingat kejadian panas semalam. Astaga, mereka begitu panas. Bagaimana ia harus bersikap di hadapan Randy nantinya?

Tiba-tiba Febby mencium aroma masakan khas, membuatnya merasa lapar. Apakah Randy memasak? Untuknya? Yang benar saja, jangan terlalu percaya diri, pikirnya. Febby lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari pakaiannya, dan berakhir memukul kepalanya sendiri, merutuki dirinya sendiri. Tentu saja, bukankah tadi malam dia melangkah ke kamar ini dengan telanjang bulat? lalu apa yang harus ia lakukan? apa ia harus keluar dengan selimut dan berantakan seperti ini? atau ia meminjam salah satu kemeja Randy  mungkin? yang benar saja, bisa-bisa Randy nanti mengira jika ia menggodanya kembali. Bodoh.. bodoh.. bodoh.. Sambil memukul-mukul kepalanya Febby mengutuk dirinya sendiri.

“Mau sampai kapan kamu memukuli kepalamu itu?” Suara khas itupun menyadarkan Febby yang tenggelam dalam pikiran-fikiran anehnya. “Kamu sudah bangun? Kenapa tidak keluar?” Tanya Randy lagi.

Randy sendiri kini memang sudah rapi dengan T-shirt warna putih dan celana pendeknya.

“Uum, itu.. pakaianku..” Ucap Febby ragu, pipinya bahkan tidak berhenti memerah.

“Ada apa dengan pakaianmu?” Goda Randy. Sebenarnya Randy sudah tahu apa maksud Febby, tapi entah kenapa pagi ini dirinya ingin mengganggu wanita itu.

“Uum,  apa kamu bisa mengambilkannya.. untukku?” Suara Febby pelan hampir tak terdengar.

“Apa?” Goda Randy lagi sambil memelankan suaranya.

“Pakaianku, apa kamu bisa mengambilkannya.. untukku?” Lagi-lagi Febby mengatakannya sambil malu-malu. Wajahnya sudah merah seperti tomat. Membuat Randy berusaha keras menahan tawanya.

“Apa? aku tidak mendengarnya.” lagi-lagi Randy menggoda kali ini dengan senyuman nakalnya. Melihat itu, Febby seperti sudah pada batas kesabarannya.

Febbypun menghela napasnya panjang sebelum gunung di kepalanya mulai meletus.

“RANDY,  KARENA KAMU SUDAH MEROBEK BAJUKU TADI MALAM MAKA SEKARANG CEPATLAH AMBILKAN PAKAIAN GANTIKU!” Febby pun berteriak karena  mulai jengkel.

Bukannya takut, Randy malah menertawakan Febby.

“Hei, apa ada yang lucu?”

“Hahahah kamu, kamu menggemaskan sekali.” kata Randy masih dengan tertawa.

“Menggemaskan?”

“Pakailah ini.” Randy mengambilkan sebuah kemeja di dalam lemarinya dan melemparkannya begitu saja ke arah Febby.

“Kenapa harus pakai ini? kamu kan bisa mengambilkan bajuku di kamar sebelah?”

“Aku malas.” Jawab Randy cuek.

“Hei.. Randy!!!” Teriak Febby kesal.

“Berhentilah berteriak, astaga, telingaku rasanya mau pecah saat mendengarkan suaramu.” ucap Randy sambil beranjak meninggalkan Febby. “Gunakan baju itu atau kamu kutendang dari kamarku dalam keadaan telanjang bulat?” Lanjut Randy lagi.

“Haissh, kamu ini benar-benar.” Gerutu Febby sambil melempari Randy dengan sebuah bantal. Randypun akhirnya tersenyum penuh dengan kemenangan.

***

“Apa?” Tanya Febby sedikit risih karena ia mengetahui jika sejak tadi Randy sedang memperhatikannya dengan senyuman-senyuman anehnya.

“Tidak, hanya saja… tadi malam….” Randy menggantung kalimatnya.

“Cukup!” potong Febby. “Aku tidak ingin membahas tentang tadi malam.”

“Benarkah? Padahal aku sangat penasaran sekali dengan sesuatu.”

“Aku tidak peduli.”

“Hei, kita sudah melakukan seks semalam, jadi apa salahnya kalau kita saling terbuka. Kupikir aku tidak terlalu mengenalmu selama ini.” Randy menyesap kopi di hadapanya kemudian melnjutkan pertanyaannya. “Jadi, yang pertama, kenapa kamu bohong?”

“Bohong tentang apa?”

“Tentang kamu yang sudah tidak perawan lagi.”

Oh, Febby benar-benar ingin menghilang saat ini juga. Bagaimana mungkin Randy bertaya tentang pertayaan menggelikan itu.

“Febby si perawan.” Goda Randy.

“Cukup! Bukan urusanmu aku masih perawan atau enggak.”

“Sekarang jadi urusanku Febby, karena aku yang membuatmu tidak perawan lagi.”

Please, sampai kapan kita akan membahaas masalah menggelikan ini?”

“Sampai kamu jujur.” Jawab Randy mantab.

Febby menghela napas panjang. “Oke, aku memang perawan, dan aku…” Febby menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah memerah. “Aku hanya malu karena kamu selalu menatapku dengan tatapan mengejek.”

Tatapan Randy tiba-tiba melembut. “Tidak ada yang salah dengan perawan, Febb. Perawan atau tidak, bagiku, kamu cukup terlihat menggoda.” Kali ini Randy berkata dengan tatapan menggodanya.

“Hanya ‘Cukup’?” Febby membulatkan matanya.

Randy tertawa nyaring. “Oke, oke, aku jujur. Kamu membuatku tergoda dan menegang seketika seperti sekarang ini.”

Febby menatap Randy dengan tatapan ngerinya. Apa benar Randy kembali menegang? Oh yang benar saja, Febby merasa gelisah jika mungkin saja tiba-tiba Randy kembali mengajaknya bercinta.

Well, karena aku sudah menjawab pertanyaanmu, berarti semuanya sudah selesai, dan kamu bisa melupakan kejadian semalam.”

Randy tersenyum miring. “Oh, kamu salah, sayang. Masih ada satu pertanyaan lagi.”

“Apa lagi sih? Apa nggak bisa kita lupain kejadian semalam? Aku risih membahas hal itu lagi dan lagi.”

“Aku hanya ingin tahu semuanya, semua alasan kamu hingga aku tidak merasa sedang di bodohi seperti saat ini.”

“Di bodohi? Maksud kamu?” tanya Febby tidak mengerti.

“Kenapa kamu tidak ingin aku menggunakan pengaman? Dan sepertinya tadi malam aku mendengarmu mengatakan ‘Bayi’, apa maksudnya?” Randy berkata secara terang-terangan sedangkan matanya menatap tajam penuh dengan intimidasi pada Febby.

“Bukan urusanmu” Lalu Febby berdiri dan akan beranjak dari tempat duduknya.

“Hei, kamu pikir aku sedang bercanda? Jawab aku atau ……”

“Aku memang menginginkan seorang bayi.” Potong Febby, dan jawaban tersebut membuat Randy terperangah.

“Apa maksudmu? Kamu pikir kita akan menikah sungguhan dan terikat selamanya?  Maaf, aku tidak berminat.” Jawaban Randy sengguh menyakiti hati Febby, tapi Febby mencoba tidak menghiraukannya.

“Kamu pikir aku juga berminat hidup sampai tua dengan orang sepertimu? Tentu saja tidak!”

“Lalu apa maksudmu dengan seorang bayi?”

“Aku hanya menginginkan bayi, dan aku tak peduli denganmu.”

“Aku masih tidak mengerti.” Jawab Randy bingung.

Febby menghela napas panjang, ia kembali duduk dan mulai menjelaskannya. “Kau tahu kenapa aku menerima perjodohan sialan ini dengan senang hati?” Randy hanya menggelengakan kepalanya. “Karena aku menginginkan seorang bayi, seorang anak yang kukandung dari rahimku sendiri. Aku tidak peduli dengan siapapun suamiku itu, toh aku juga tidak akan mencintainya, entah itu kamu ataupun orang lain, bagiku dia hanyalah pendonor sperma saja.”

“Apa?” Randy terbelalak kaget dengan apa yang di jelaskan oleh Febby.

“Kamu tenang saja, kamu tidak perlu takut jika aku menuntutmu untuk bertanggung jawab, karena itu tidak mungkin terjadi.” Lanjut Febby dengan santai.

“Siapa yang tahu kalau kamu nanti akan berubah pikiran dan menuntutku untuk bertanggung jawab.”

“TIDAK MUNGKIN” Febby menjawab dengan penuh penekanan.

Keduanya lalu termenung sebentar, sibuk dengan isi kepala masing-masing.

“Baiklah, aku akan membantumu mendapatkan bayi, tapi kamu harus bercerita denganku kenapa kamu sangat menginginkannya,”

Febby menelan ludahnya dengaan susah payah. Haruskah ia bercerita yang sesungguhnya pada Randy? Oh yang benar saja, ia tidak akan menceritakan apapun tentang masalalunya pada lelaki di hadapannya tersebut.

“Astaga, aku sudah mengatakan kalau itu bukan urusanmu, kita tidak harus mencampuri urusan pribadi masing-masin sama seperti sebelumnya.”

“Kalau begitu aku membatalkannya.”

“Apa? kamu sangat kekanakan.”

“Berceritalah atau kamu tidak akan mendapatkan bayi.” Ancam Randy.

Febby menghela napas panjang. “Baiklah, kamu tahu bukan kalau perempuan mempunyai jam biologis?” Randy hannya menggelengkan kepala. “Kamu benar-benar bodoh, wanita tidak seperti laki-laki yang bisa menghasilkan anak walau usianya sudah tua, wanita berbeda.”

“Dan apa kamu pikir sekarang kamu sudah mendekati masa-masa itu?”

“Manepous, kami menyebutnya manepous.”

“Hahahah kamu pikir aku bodoh? walaupun aku tidak sekolah di kedokteran aku juga tahu kalau manepous pada wanita terjadi  di atas usia 30 tahun, sedangkan kamu bukannya baru sekita dua puluh tujuh tahun?”

“Kamu benar-benar bodoh, apa kamu mengerti istilah Manepous Dini? tidak kan? bahkan dalam beberapa kasus wanita yang usianya baru dua puluh lima tahun bisa mengalami Manepous dini dengan kata lain dia tak akan bisa hamil.”

“Dan kamu takut kalu akan mengalami hal itu?” Tanya Randy.

Febby hanya mengangguk.

“Dan aku tahu kenapa kamu takut mengalami hal itu.” Febby hanya mengangkat sebelah alisnya. “Itu karena kamu terlalu kaku dan sering marah-marah makanya kamu takut kalau kamu mengalami Manepous Dini. Hahahhaa.” Kata Randy sambil tertawa lebar.

“Bodoh! Kamu benar-benar terlihat tolol di mataku. Manepous tidak ada hubungannya dengan kamu tukang marah atau tidak, kamu pikir manepous sama dengan penyakit jantung?”

“Astaga, aku hanya bercaanda, kamu terlalu kaku.” Randy berkata karea kesal dengan Febby yang menampilkan ekspresi tersinggungnya. “Well, kenapa kamu tidak melakukannya dengan orang yang kamu cintai?” pertanyaan Randy kali ini di utarakan dengan nada serius.

“Aku tidak punya.”

“Apa? Aku tidak dengar.” goda Randy.

“Aku tidak punya orang yang kucintai! Apa kamu puas?!” teriak Febby.

Randy kembali tertawa lebar karena melihat Febby yang meledak-ledak.

“Baiklah, baiklah,  aku akan membantumu mendapatkan bayi, tapi asal kamu tahu, aku melakukannya berdasarkan permintaaanmu dan aku tidak akan pernah melibatkan perasaan saat kita melakukan seks.”

Setelah berbicara seperti itu Randy langsung berdiri tidak memperhatikan Febby yang tercenung karena perkataan Randy.

Apa yang harus Febby lakukan? Haruskah Febby melanjutkan rencananya? Apa tidak apa-apa jika ia membohongi Randy seperti saat ini?

“Ayolah, cepat ganti baju, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Randy berkata sambil melirik ke arah jam tangannya.

Febby membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa kamu bercanda?”

“Tidak! ayo cepat, bukankah kamu selalu rajin dan tidak mau terlambat.”

“Baiklah.” JawabFebby sambil beranjak menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

***

“Jika tahu seperti ini aku tak akan mengantarmu.” Gerutu Randy sambil menandatangani beberapa fotoya yang di berikan beberapa pegawai rumahsakit.

Banyak dari mereka yang ingin foto bersama dengan Randy. Bahkan di luar rumah sakit ada beberapa wartawan yang mengikuti mereka.

“Berhentilah menggerutu, sebaiknya kamu tersenyum, kamu pasti nggak mau kalau foto jelekmu saat cemberut tersebar kemana-mana.”

“Aku tidak jelek!”

“Hei, jangan mulai lagi.”

Beberapa jam kemudian Randy terlihat lelah setelah mengikuti acara jumpa fans dadakan di rumah sakit tempat kerja Febby. ia merebahkan diri di sofa panjang yang memang tersedia dalam ruangan Febby sambil sesekali melihat Febby yang sedang sibuk mencatat sesuatu di mejanya dengan serius.

“Apa ini memang selalu membosankan seperti ini?” tanya Randy yang memang sudah terlihat sangat bosan di dalam ruangan Febby.

Febby mendongak menatap ke arah Randy. “Apa? pekerjaan ini tidak membosankan.”

“Ya, ya, tapi bagiku ini membosankan.” jawab Randy dengan santai.

“Tentu saja, karena kamu orang bodoh.” Febby menjawab dengan cuek tanpa sedikitpun menoleh ke arah Randy.

“Hei, kamu benar-benar….”

Krriiiingg.. Kriinggg…

Perkataan Randy terpotong oleh deringan telepon di atas meja Febby.

“Hallo?”

…….

“Apa?” Febby melirik sedikit ke arah Randy. “Baiklah, suruh dia masuk.” Lalu Febby menutup teleponnya.

“Siapa?” Tanya Randy curiga.

“Bukan siapa-siapa, hanya pasien, kenapa kamu masih di sini? apa kamu tidak mempunyai pekerjaan?”

“Apa kamu lupa jika aku adalah aktor  papan atas? bukan aku yang menunggu untuk pekerjaan tapi pekerjaan yang akan menunggu untukku.” Randy menyombongkan diri.

“Huuhh, benar-benar tidak profesional!”

Lalu tiba-tiba Febby mendengar pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.

“Masuk,” ucapnya, dan orang tersebutpun masuk. “Heii.. apa kabar?” tanya Febby sambil menghambur ke arah seorang pria yang baru masuk ke dalam ruangannya, dia adalah Brian, Brian Winata.

Melihat Brian yang masuk ke dalam ruangan Febby, entah mengapa tatapan Randy  menjadi menajam, apa lagi ketika melihat keakraban antara Febby dan Brian. Dengan spontan telapak tangannya mengepal seketika.

“Untuk apa dia kemari?” Tanya Randy dengan nada dingin dan entah sejak kapan dia sudah berada tapat di hadapan Brian.

“Gue mau ngajak dia makan siang.” Jawab Brian dengan  jujur dan cuek.

“Apa? Apa Lo nggak lihat di sini ada siapa?”

“Disitu ada Lo”

“Dan Lo lupa siapa Gue?”

“Haha, Sorry, tapi gue nggak kenal Lo.” Jawab Brian sambil sedikit menyeringai.

“Oke, kenalin, gue suaminya, dan gue ngelarang Febby untuk makan siang sama lo.” Randy berkata dengan tegas dan entah kenapa itu membuat Randy semakin terlihat jika lelaki itu sedang cemburu..

“Cukup!”  Kata Febby sambil menengahi. “Ada apa dengan kalian berdua? Dan kamu, bukannya kamu harus bekerja? kenapa kamu masih menguntitku disini?” pertanyaan Febby di tunjukkan pada Randy.

“Aku tidak menguntit.”

“Lalu apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Febby lagi sambil berkacak pinggang.

“Aku hanya ingin memastikan bahwa kaum tidak kelelahan karena seks maraton kita tadi malam.” Jawab Randy sambil melirik ke arah Brian dengan menyunggingkan senyum liciknya.

“Hei!!!” teriak Febby sambil memukul keras-keras bahu Randy.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Randy sambil mengusap-usap bahunya.

“Kamu pantas mendapatkannya, dasar otak mesum!” Febby masih saja memukuli lengan Randy.

“Kamu tidak boleh banyak marah atau membuang tenaga seperti ini, ini tidak baik untuk calon bayi kita nanti.” Kata Randy sambil memegangi kedua tangan Febby.

“Calon bayi?” Febby tampak bingung, tapi kemudian Febby mengerti saat melihat seringaian licik yang di tampilkan Randy. “ Hei, kamu benar-benar!!” Febby melanjutkan memukuli Randy.

“Kupikir, aku harus pergi.” Kata Brian yang sejak tadi sudah sedikit kurang nyaman dengan suasana di sekitarnya.

“Ehh, tapi bagaimana dengan makan siang kita?” Tanya Febby sedikit tidak enak.

“Lain waktu saja, toh di luar ada beberapa wartawan, aku takut jika itu akan menimbulkan gosip  buruk terhadapmu.”

“Brian, maafkan aku.”

“Maaf untuk apa?”

“Uum, karena…”

“Tidak perlu meminta maaf.” Jawab Brian cepat. “Masih ada lain waktu.” Lanjutnya lagi.

“Hei, kapan Lo perginya kalau ngomong terus? Lama banget.” Gerutu Randy.

Brian hanya tersenyum ke arahnya. “ Lo boleh seneng karena gue pergi, tapi lo harus ingat,” Brian kemudian berbisik ke arah Randy, “Febby memang istri lo, tapi gue berani jamin kalau Febby tertarik sama gue.”

Randy membulatkan matanya seketika.

“Brengsek!!!” umpatnya keas-keras pada Brian yang sudah berjalan keluar dari dalam ruangan Febby.

“Hei, ini rumah sakit kamu tidak perlu berteriak seperti itu.” Lagi-lagi Febby memukul lengan Randy.

“Haisshh.. apa kamu nggak bisa sedikit bersikap lembut sama aku?!” Randy kembali berteriak karena frustasi.

Febby lalu meninggalkan Randy begitu saja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda jika dia sudah menyerah dengan sikap kekanak-kanakan yang di perlihatkan oleh Randy.

“Sial!! perempuan ini benar-benar.” Gerutu Randy sambil mengikuti tepat di belakang Febby.

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 7

  1. Nggak tau kenapa aku lebih suka Sweet in Passion dari pada My Wife, menurutku lebih seru aja. Tapi My Wife juga tetep bagus. Fast updete kak,, FIGHTING!!

    Like

  2. Mbk zenny kelanjutan nya dg sweet in passion chapter 8 dn seterusnya mks ya yg semangat mbk…kutunggu karya mu yg lain mbk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s