romantis

Elena – Chapter 2 (Kekasih gelapku)

Elena
Elena

 

 

Andrew menatap dengan tatapan meremehkan pada motor yang di tunggangi Yogie. Memang tampak sedikit berbeda dengan terakir kali yang ia lihat. Tapi Andrew tetap tidak yakin Yogie dapat memenangkan balapan kali ini, meski dulu Yogie hampir selalu memenangkan balapan tersebut, tapi kini Yogie terlalu lama absen dari balapan, dan itu pasti akan mempengaruhi penampilannya malam ini.

“Jadi lo mau apa?” Tanya Andrew.

“Gue mau yang sedikit menantang.”

“Apa?”

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

***

Chapter 2

Kekasih gelapku

 

“Kencan satu malam dengan dia.” Ucap Yogie sambil menunjuk ke arah Elena.

Ucapan Yogie tersebut membuat Andrew dan beberapa temannya menatap Yogie dengan mulut ternganga. Sedangkan Elena sendiri hanya menatap Yogie dengan tatapan santainya, seperti tidak terusik sedikitpun.

“Lo sinting? Lo boleh minta apa aja, tapi tidak dengan dia.” Ucap Andrew setengah marah.

“Kenapa? Lo kayaknya sudah yakin banget kalau gue yang menang.”

“Lo nggak akan menang.”

“Kalau gitu, gue mau dia yang jadi taruhannya.”

“Sialan!!” Umpat Andrew tepat di hadapan Yogie.

Elena menarik lengan Andrew lalu mengajaknya sedikit menjauh. Elena berbisik pelan pada telinga Andrew.

“Turuti saja apa maunya.”

Andrew menatap Elena dengan tataopan terkejutnya. “Kamu kenal sama dia?”

“Dia teman SMA ku dulu.”

“Elena, dia setengah gila, aku baru mengenalnya tiga tahun yang lalu, saat kami bertemu di salah satu klub motor. Dia tidak pernah memiliki kekasih, tapi hampir setiap malam bercinta dengan wanita murahan, aku nggak mau kamu jadi salah satu mangsanya.”

“Kalau aku bilang bahwa aku pernah bercinta dengannya, gimana? Kamu mau terima tantangannya?”

“What?!!” teriak Andrew keras-keras sambil menatap Elena. “Jadi kamu menyuruhku menerima tantangannya karena kamu ingin kencan lagi dengannya?”

“Sial!! Bukan begitu, aku hanya mau kamu nunjukin sama dia kalau dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu, dia nggak pantes kencan lagi denganku. Jadi, terima tantangannya dan jangan biarkan bajingan tengik itu menang.”

“Elena.”

“Andrew!! Kamu mau membuatku malu karena memiliki pacar yang cemen karena nolak tantangan temannya?”

“Aku bukan pacarmu, ingat itu.” Gerutu Andrew.

“Ya, tapi sekarang aku sedang berpura-pura menjadi pacar sialanmu, jadi jangan membuatku malu di hadapannya.”

Andrew menghela napas panjang. Sial!! Yogie benar-benar sialan. Astaga, ia tidak akan membiarkan bajingan sialan itu menang darinya.

***

Dengan gelisah Elena tidak berhenti menengok ke arah jalan tempat di adakannya balapan tersebut. Ini sudah hampir seperempat jam berlalu, sedangkan Yogie maupun Andrew belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Siapakah yang akan menang?

Tadi, sebelum balapan di mulai, Yogie tidak berhenti menatap dirinya. Dan entah kenapa itu membuat Elena sedikit terpengaruh dengan tatapan tengil yang di lemparkan Yogie padanya.

Yogie bahkan sedikit berbisik padanya jika lelaki itu pasti akan keluar sebagai pemenang dan berkencan dengannya sekali lagi. Oh, Elena akan membunuh Andrew jika hal itu terjadi.

Tak lama, sorot lampu motor dari kejauhan semakin mendekat. Jantung Elena berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Siapa yang akan menang? Akankah Yogie memenangkan balapan kali ini? Oh yang benar saja.

Tapi kemudian Elena merasakan jantungnya berhenti berdetak ketika sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Sial!! Itu Yogie, dan lelaki tengil itu benar-benar memenangkan balapan kali ini, yang itu tandanya ia akan kencan sekali lagi dengan laki-laki brengsek itu.

Yogie membuka penutup helmnya, kemudian mengerlingkan matanya pada Elena seakan mengejek Elena.

Elena menatap Yogie dengan kekesalan yang seakan sudah mengakar di kepalanya. Bagaimana bisa Yogie mengalahkan Andrew? Tak lama, Andrew datang dan berhenti tepat di sebelah motor Yogie.

Elena menatap Andrew dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan Andrew sendiri seketika turun dari atas motornya lalu menuju ke arah Elena.

Andrew membuka penutup helmnya kemudian menatap Elena dengan tatapan penyesalan.

“Elena, aku minta maaf, aku..”

Elena pergi begitu saja sebelum Andrew menyelesaikan kalimatnya. Ia kesal, sangat-sangat kesal. Bagaimana mungkin Andrew bisa kalah dengan mudah oleh Yogie, dan Yogie? Astaga.. laki-laki itu benar-benar sialan dengan senyuman tengilnya.

***

Malam itu juga Elena pulang dengan Yogie yang mengantarnya. Elena tidak merasakan canggung sedikitpun, yang ada ia merasa sangat kesal karena tadi Yogie mendesak untuk melakukan kencan tersebut malam ini juga.

Kencan yang berarti menyerahkaan diri sekali lagi dengan Yogie.

Oh yang benar saja. Elena tidak pernah ingin bercinta lebih dari sekali dengan lelaki asing seperti Yogie. Ya, Yogie termasuk lelaki asing untuknya.

Lelaki itu memang temannya saat SMAnya dulu, tapi Elena sama sekali tidak pernah memandang keberadaan Yogie saat itu. Yogie bukanlah siapa-siapa di mata Elena, tapi entah kenapa  saat melihat Yogie malam itu, Elena merasakan darahnya seakan mendidih karena suatu gairah yang tak di mengertinya.

Apa itu karena pengaruh alkohol yang ia minum malam itu? Ya, tentu saja karena Alkohol.

Yogie menambah kecepatan laju motornya hingga membuat Elena mau tidak mau berpegangan dengan pinggang Yogie. Dengan spontan Yogie menarik sebelah tangan Elena lalu melingkarkannya pada perutnya sendiri.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Elena dengan ketus.

“Ingat, kamu teman kencanku malam ini.”

Dan Elena kembali terdiam. Sial!! Ia benar-benar menjadi bahan taruhan, dan betapa bodohnya ia mau melakukannya. Apa karena Yogie? Tidak!!!

***

Tak lama, mereka berhenti di sebuh hotel. Elena mengerutkan keningnya ketika Yogie tanpa canggung lagi mengajaknya berhenti di hotel tersebut.

Elena turun dan menerima ajakan Yogie untuk masuk ke dalam hotel, memesan kamar, kemudian menuju ke arah kamar pesanannya tersebut.

Ketika pintu kamar tersebut di tutup, Yogie lantas membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Elena yang sudah berdiri tepat di belakangnya.

Elena sendiri masih berekspresi datar. Ia mencoba menyembunyikan kekesalannya pada Yogie, bagaimanapun juga yang patut di salahkan bukan Yogie yang memenangkan pertandingan tersebut, tapi dirinya sendiri yang  dengan mudah menerima tantangan Yogie.

Jemari Yogie tiba-tiba terulur, mengusap lembut pipi Elena dan itu benar-benar membuat Elena merasakan sebuah desiran aneh di dadanya.

Mata Elena menatap mata Yogie, seakan tidak takut dengan apa yang akan di lakukan oleh lelaki tersebut. Elena bahkan terlihat jika dirinya tidak terpengaruh sedikitpun oleh apa yang di lakukan Yogie.

“Kamu masih secantik dulu.” Entah kenapa suara Yogie tiba-tiba terdengar serak.

“Ayolah, jangan basa-basi lagi. Lakukan apa yang kamu mau lalu antar aku pulang.” Ucap Elena dengan nada angkuhnya.

Rahang Yogie mengeras. Ia tidak suka Elena bersikap seperti itu padanya, seakan wanita itu tidak memikili rasa apapun padanya. Sial!! Memangnya rasa apa? Tentu saja Elena tidak akan mungkin memiliki rasa apapun padanya, tidak dulu, tidak sekarang maupun nanti.

“Tidak segampang itu Elena.”

“Lalu?”

Yogie mendekatkan wajahnya pada wajah Elena, mengecupi pelipis Elena dengan kecupan basahnya. “Malam ini kamu harus bersikap layaknya seorang kekasih.”

Elena tersenyum miring, ia bahkan tidak menghiraukan perasaannya yang mulai sedikit terganggu dengan kedekatannya bersama Yogie. Dengan gerakan menggoda, Elena melingkarkan lengannya pda leher Yogie, kemudian berjinjit dan menggapai bibir Yogie. Melumatnya sebentar dengan gerakan menggoda.

Yogie mengerang karena ciuman singkat yang di berikan Elena. Sedikit demi sedikit Yogie mendorong tubuh Elena hingga tubuh mungil itu menempel pada dinding. Yogie menempelkan kejantanannya yang sudah menegang dari balik jeans yang di kenakannya. Oh, ia benar-benar menginginkan Elena untuk membungkus dirinya saat ini juga.

Elena melepasakan tautannya pada bibir Yogie kemudian berkata lembut di sana. “Malm ini aku memang kekasihmu, lakukan apapun yang kamu mau lalu biarkan aku pergi.”

“Kalau aku tidak akan membiarkanmu pergi, bagaimana?”

“Perjanjian tetaplah perjanjian Yogie, tatangan itu hanya kencan satu malam denganku, jadi, setelah ini anggap saja semuanya tidak pernah terjadi.”

“Oke, tapi aku mau semua dilakukan sepanas mungkin.”

“Setuju!” jawab Elena cepat.

Dan setelah jawaban tersebut, tanpa membuang waktu lagi, Yogie menyambar bibir ranum milik Elena yang sejak tadi sudah menggodanya, melumatnya dengan panas. Sedangkan jemarinya kini ssudah menangkup sebelah payudara Elena, menggodanya, mendambnya, membuat Elena mengerang dalam ciumannya.

Pangkal paha Yogie berdenyut, mendesak-desak supaya cepat di lepaskan, tetapi, Yogie menahannya. Malam ini ia harus menikmatinya, Elena juga harus menikmatinya. Mereka melakukan hal ini dengan sama-sama sadar, dan Yogie ingin Elena merasakan betapa berharganya malam ini dengannya.

Satu per satu Yogie melucuti pakaian yang di kenakan Elena, membuat tubuh seksi Elena terpampang jelas tepat di hadapan Yogie. Yogie menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana mungkin Elena memiliki tubuh seindah ini?? Siapa saja yang sudah pernah melihatnya? Apa si brengsek Andrew melihat tubuh Elena yan seperti ini setiap hari?

Dan seketika itu juga Yogie merasakan dadanyaa terasa panas. Ia cemburu, sangat cemburu, belum lagi kenyataan jika Elena mungkin saja seorang wanita nakal, wanita yang dengan gampang menyerahkan tubuhnya untuk lelaki lain. Apa Elena wanita seperti itu?

Dengan kasar Yogie kembali melumat bibir Elena, menggigitnya, seakan memberi hukuman bagi wanita itu. Sedangkan Elena sendiri juga membalas setiap perlakuan yang di berikan Yogie padanya. Jemarinya sudah terulur membuka resleting celana yaang di kenakan Yogie.

Tangan halus Elena mengusap bukti gairah yang terpampang jelas pada tubuh Yogie, Yogie semakin mengerang dengan perlakuan lembut yang di berikan Elena.

“Apa yang kamu lakukan padaku?” Suara Yogie benar-benar serak.

“Aku hanya menuruti apa maumu, kita akan menjadi sepasang kekasih malam ini.”

“Hemm..”

“Buka bajumu, aku ingin melihat otot-otot kerasmu.” Elena berbisik  kemudian membantu Yogie membuka T-shirt yang di kenakan lelaki tersebut.

Elena menatap dengan lapar tubuh di hadapannya, tampak otot-otot terpahat dengan sempurna, membuat siapapun yang melihatnya ingin menyentuhnya.

“Sejak kapan kamu memiliki tubuh sebagus ini?” tanya Elena penasaran, karena setahunya dulu Yogie hanyalah seorang anak SMA yang kurus.

“Sejak jadi pengangguran.”

Elena menaikkan sebelah alisnya. “Pengangguran?”

Yogie mengangguk pasti, matanya tidak berhenti beradu pandang dengan mata Elena.

“Aku tidak memliki pekerjaan Elena, setelah lulus perguruan tinggi, aku hanya sesekali ikut bekerja di perusahaan saudaraku. Tapi bekerja di balik meja dengan menatap komputer benar-benar sangat membosankan, akhirnya aku keluar, dan menjadi pengangguran, setelaah itu waktu olahragaku semakin banyak hingga bisa membentuk ototku seperti ini.”

“Oh ya? Jadi kamu lebih memilih balapan nggak jelas sambil sesekali ke klub malam dari pada bekerja?”

“Ya.”

Elena menggelengkan kepalanya. “Sangat buruk.”

“Kenapa?”

“Kamu sudah setua ini dan tidak bekerja? Astaga.”

Yogie tertawa lebar. “Apa kamu takut aku tidak bisa menafkahi kamu dan bayi kita nanti?” tanya Yogie dengan tampang tengilnya.

“Ya, kalau aku takut seperti itu bagaimana?”

Tubuh Yogie menegang seketika, ia tidak menyangka jika jawaban Elena akan seerti itu. Terdengar serius dan entah kenapa sedikit mempengaruhi Yogie.

“Kamu ingin aku bekerja?”

“Ya, setidaknya kamu harus punya penghasilan.”

“Aku sudah punya penghasilan dari balapan, bukan hanya balapan liar, karena aku juga mengikuti beberapa Race resmi yang di adakan beberapa klub motor di kota ini maupun di luar kota.”

Elena tersenyum, jemarinya mengusap lembut pipi Yogie. “Itu bukan pekerjaan, itu Hobby yang menghasilkan uang.”

“Jadi, aku harus kembali bekerja?”

“Harus.” Jawab Elena.

Yogie semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh Elena, hasratnya kembali terbangun dengan perintah yang di berikan Elena, perintah yang menyiratkan jika wanita itu peduli padanya.

“Kalau aku kerja, apa yang ku dapat?” tanya Yogie dengan parau, bibirnya yang sudah menempel pada bibir Elena, bergerak menggoda.

“Kamu dapat uang.”

“Bukan itu sayang. Apa yang kudapat darimu?”

“Kenapa aku harus memberimu? Bukan menjadi urusanku jika kamu kerja atau tidak.”

“Kalau begitu, kenapa kamu memintaku supaya bekerja?” jemari Yogie meremas payudara sintal milik Elena, membuat Elena meloloskan erangannya.

“Sebab aku ingin melihatmu lebih baik.”

“Oh ya?” Yogie mendaratkan bibirnya pada puncak payudara Elena, menghisapnya sesekali menggodanya. “Hanya itu Elena?”

“Ah ya, teruskan, Astaga…” Elena mengerang ketika Yogietidak berhenti menggoda payudaranya. Jemari Elena meremas rambut di kepala Yogie, mendorong kepala Yogie supaya tidak menjauh dari dadanya.

“Aku bertanya Elena, apa yang kudapat jika aku sudah bekerja.”

“Kontaku.”

“Aku tidak butuh.” Jawab Yogie parau. Sebelah tangannya kini sudah mengusap lembut puncak diri Elena membuat Elena semakin kewalahan dengan apa yang di lakukan Yogie.

“Gie, Astaga…”

“Suka Elena?”

“Ahhh ya.”

“Jawab aku, apa yang kamu berikan jika aku sudah bekerja.”

“Tidak ada.” Elena menggigit bibir bawahnya ketika tiba-tiba Yogie menegakkan tubuhnya, mengangkat sebelah kaki Elena kemudian memasuki diri Elena begitu saja tanpa basa-basi lagi.

Elena mendesah panjang ketika Yogie terasa penuh di dalam dirinya. Matanya masih memejam sedangkan napasnya tidak berhenti memburu. Yogie tidak bergerak sama sekali, dan itu membuat Elena sedikit kesal.

“Kenapa kamu tidak bergerak?”

“Aku butuh jawaban.” Jawab Yogie santai sambil menatap dalam-dalam wajah Elena yang memerah karena gairah.

“Brengsek!! Aku akan bercinta denganmu, apa kamu puas? Sekarang cepat gerakkan bokongmu sebelum…”

“Bukan itu yang ku mau Elena.” Yogie sedikit tersenyum saat melihat Elena tidak berdaya.

“Lalu apa?”

“Menjadi kekasihku.”

“Tidak!! Aku sudah punya Andrew.”

Rahang Yogie mengeras karena marah. “Kekasih gelapku, Elena.”

“Persetan denganmu, kau tidak ingin bekerja? Aku tidak peduli!” Elena mulai marah dan Yogie tertawa.

“Bagaimana dengan ini?” Yogie menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit untuk menggoda Elena dan Elena kembali mengerang, meracau tidak jelas karena kenikmatan yang menghujam pada dirinya.

“Yogie, Please..”

“Please for what?”

“Bencinta denganku, buat aku berteriak.. Astaga, kamu membunuhku.” Racau Elena.

“Jawab, Ya.”

“Yogie…” Elena semakin mengerang ketika Yogie mempercepat lajunya.

“Please, say Yes.” Yogie mendaratkan kembali bibirnya pada puncak payudara Elena, sedangkan yang di bawah sana semakin menggila dengan gerakan menghujam yang semakin cepat.

“Yes, yes, yes….” Elena tidak tahu apa yang baru saja di katakannya, yang ia tahu bahwa ia akan terjebak dengan soerang Yogie hanya karena ketololannya.

Yogie tersenyum di antara kedua payudara milik Elena, ia puas dengan jawaban yang di berikan Elena. Yogie lalu mempercepat lajunya, membuat Elena mengerang panjang karena pelepasannya sedangkan Yogie sendiri sibuk mengatur gairahnya sendiri. Tak lama, meledaklah ia di dalam tubuh Elena.

Yogie tersugkur ke dalam pelukan Elena. Kepalanya tersandar pada pundak wanita tersebut. Sedangkan tubuh Elena sendiri masih bersandar pada dindng.

“Kamu berat.” Ucap Elena yang seketika itu juga membuat Yogie melepaskan diri dari wanita tersebut.

Yogie menatap Elena dengan tatapan penuh rasa bersalah. Sial!!! Ia benar-benar gila karena…..

“Ada apa?” tanya Elena tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Aku, aku tidak menggunakan pengaman.”

Elena membulatkan matanya seketika. Saat mendengar jawaban dari Yogie. Sial!!! Bagaimana mungkin ia bisa bercinta tanpa pengaman dengan Yogie??

-TBC-

Gimana lanjutannya yaa.. heheeeheh

Advertisements

7 thoughts on “Elena – Chapter 2 (Kekasih gelapku)

  1. Gk nygka setua itu Yogie gk kerja,,,gk nygka jg Elena memotivasi Yogie utk bkrja,,, mgkin prcakapan mrka akan mnjdi knytaan klo Elena hamil hehehe biar pd insaf tuh mrka brdua…

    Like

  2. panas panas dsni lagi ujan juga , keren keren asik yongi ga pke pengaman …
    q rasa mereka ber 2 mang bener” cocok , ga sabar nunggu kelanjutan na , buruan bu d nexttttttt …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s