romantis

Sweet in Passion – Chapter 6

asipSweet in Passion

Chapter 6

Febby keluar dari rumah sakit dengan tatapan anehnya terhadap Randy. Ia masih tidak habis pikir jika Randy mau datang ke tempat kerjanya hanya untuk mengajaknya makan malam. Pasti lelaki ini memiliki rencana lain di balik itu semua.

Dan astaga, Febby tidak akan pernah melupakan ekspresi para pegawai rumah sakit tadi ketika melihat Randy yang baru sekali itu menginjakkan kaki di rumah sakit tempatnya bekerja.

Ya, hampir seluruh pegawai rumah sakit memang mengidolakan Randy semenjak lelaki itu memainkan sebuah Film yang berjudul The Lady Killer, yang membuat namanya melambung tinggi. Randy benar-benar sukses menyihir para kaum hawa dengan aktingnya sebaga Dhanni Revaldi, si Lady Killer yang cinta mati dengan pasangannya.

Oh yang benar saja, bahkan saat itu Febby pun sangat mengidolakan sosok Randy. Hanya saja, gossip tentang lelaki itu selalu buruk. Dia selalu di kaitkan dengan model-model papan atas, bahakan tak sering foto-foto intimnya dengan beberapa kekasihnya bocor ke tangan wartawan.

Randy menjadi Aktor yang sangat di cari beritanya, karena dirinya memang sangat jarang tampil di depan umum jika bukan untuk keperluan kerjanya. Maka jangan heran, ketika kabar pernikahan mereka mencuat, banyak orang yang meragukan kebenarannya.

Randy Prasaja, seorang aktor papan atas menikah dengan seorang dokter biasa? Yang benar saja. Banyak sekali yang ingin mengetahui kisah cinta mereka hingga sampai di pelaminan, tapi tentu saja Randy maupun Febby tidak akan pernah buka suara jika pernikahan mereka terjadi hanya karena sebuah perjodohan konyol dari kedua orang tua mereka.

“Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu baru sadar kalau punya suami yang tampan?” tanya Randy penuh percaya diri tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.

“Huh, terlalu percaya diri itu tidak bagus.” Febby mendengus kesal karena sikap Randy yang telalu percaya diri. Ya, tidak di pungkiri, sebenarnya tadi Febby melamun sembari menatap ke arah Randy karena mengagumi lelaki di sebelahnya itu.

Randy terihat begitu tampan dengan T-shirt warna hitam, celana pendek santainya, lalu topi yang bertengger di kepalanya. Lelaki itu tampak begitu keren dan ya, wajar saja jika para pegawai rumah sakit tadi hampir menjerit karena kedatangannya.

“Lalu apa yang sedang kamu pikirkan sambil menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kamu lagi berfantasi liar terhadapku.” Randy berkata dengan wajah datar tanpa ekspresinya, padahal kini hatinya sedang terkikik geli membayangkan Febby yang mungkin saja sedang berfantasi liar seperti dirinya beberapa hari terakhir. Ahhh Febby benar-benar membuat Randy gila. Setelah ciuman panas mereka pagi itu, Randy sama sekali tidak bisa berpikir jernih, yang ia inginkan hanyalah memasuki diri Febby, Febby, dan Febby. Tidak ada yang lain selain wanita itu. Apa ini yang di sebut dengan rasa penasaran?

“Berfantasi liar? Dasar mesum!” seru Febby dengan sedikit meninju lengan Randy. “Aku hanya masih heran. Untuk apa kamu datang ke rumah sakit? Kamu tidak mungkin hanya datang untuk mengajakku makan malam, kan?”

“Aku hanya ingin melihat suasana tempat kerjamu. Rupanya membosankan sekali.”

“Hei, siapa bilang kerja di rumah sakit itu menyenangkan? Kami berurusan dengan nyawa, kami tidak bisa seenaknya melalaikan tugas, atau bahkan bermain-main dengan pekerjaan kami. Pekerjaan kami adalah pekerjaan yang mulia, jadi jaga ucapanmu tentang pekerjaan yang membosankan itu.” Jawab Febby dengan sedikit tersinggung.

“Baik Yang Muia.” Goda Randy.

“Bodoh!!” umpat Febby kesal.

Randy tertawa lebar. “Aku sedikit risih dengan tatapan pegawai rumah sakit tadi. Apa mereka tidak pernah melihat artis ke rumah sakit itu?”

“Tentu saja pernah, banyak artis yang berobat di rumah sakit kami. Hanya saja mungkin itu pertama kalinya untukmu menginjakkan kaki di sana, makanya mereka melihatmu dengan tatapan aneh mereka.”

“Tapi nggak segitunya juga kali, sampai tadi ada yang jatuh saat melihatku. Hahhahaha lucu sekali.”

“Lucu katamu? Mereka mengidolakanmu. Sedangkan kamu sendiri seakan tidak peduli dengan mereka.”

“Tidak peduli bagaimana? Aku tidak tahu kalau mereka mengidolakanku. Kalau aku tahu mungkin aku akan melakukan jumpa fans di sana, pasti menyenangkan sekali.”

“Huh, kamu akan membuat geger seluruh penjuru rumah sakit. Asal kamu tahu, mereka semua sangaat mengidolakanmu saat kamu memainkan peran sebagai Lady Killer.”

Randy tertawa lebar. “Oh ya? Film itu lagi? Membosankan sekali. Dhanni Revaldi tidak apa-apanya dengan sosokku yang sebenarnya.”

“Oh ya? Ingat bung, kalau tidak ada Dhanni Revaldi, namamu tidak akan setenar seperti saat ini.” Febby mengingatkan.

Randy masih saja tertawa lebar. “Jadi, apa aaku harus jumpa fans di rumah sakit itu?”

“Sepertinya tidak perlu, kamu sudah di cap sebagai artis sombong oleh mereka.”

“Bagaimana mungkin? Kenapa bisa seperti itu?”

“Ya, karena sepertinya mereka lebih menyukai sosok Renno Handoyo dari pada si Dhanni Revaldi.” Perkataan Febby menyiratkan arti tersendiri.

“Renno Handoyo? Maksudmu si Brian sialan itu?” geram Randy.

Ya, film The Lady Killer memang debut pertama dari Randy  saat itu yang memerankan peran sebagai Dhanni Revaldi, pemeran utama film tersebut. Sedangkan Brian yang saat itu sudah menjadi penyanyi juga menerima tawaran untuk menjadi pemain pendukung sebagai Renno Handoyo. Sudah menjadi rahasia umum jika keduanya menjadi rival berat setelah film tersebut. Gosip menyebutkan jika keduanya benar-benar terlibat cinta lokasi dengan si pemeran utama wanita hingga keduanya berakhir dengan saling memusuhi satu sama lain.

“Ya, Brian.”

“Apa yang membuatnya merebut posisiku?” Randy masih tidak berhenti menggeram.

“Karena dia sering ke rumah sakit, membawakan kami makan siang, menyapa seluruh pegawai rumah sakit yang di temuinya, dan bersikap ramah dengan kami.”

Secepat kilat Randy menginjak pedal remnya membuat Febby terbentur dashboard mobilnya.

“Hei, apa kamu nggak bisa nyetir dengan benar!” Febby berseru marah.

“Kenapa dia sering ke rumah sakit?”

“Hanya main dan makan siang, apa itu salah?”

“Apa dia ke sana untuk menemuimu?” kali ini Randy bertanya penuh penekanan sembari menatap tajam-tajam ke arah Febby.

“Hei, memangnya itu menjadi urusanmu? Ingat, kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing, jadi walau dia sering datang menemuiku, itu bukan urusanmu.”

“Itu urusanku, Febby.”

“Bukan!”

“Haiss!! Kamu benar-benar.”

“Apa? Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku?” tantang Febby.

“Jangan membuatku kesal Febby, atau aku akan melakukan itu lagi di sini.” Ancam Randy.

“Melakukan apa?” Febby masih tidak berhenti menantang Randy.

“Menciummu sampai kehabisan napas hingga kamu memohon padaku untuk memasukimu saat ini juga.”

Ancaman Randy tersebut ternyata bena-benar mengena pada Febby. Febby tercengang dengan ancaman vulgar yang di berikan Randy padanya. Seketika itu juga Febby memalingkan wwajahnya menatap ke jendela kaca mobil di sebelahnya untuk menghindari tatapan mengintimidasi dari Randy.

***

Febby dan Randy akhirnya makan malam dalam keheningan. Sejak ancaaman Randy di dalam mobil tadi, Febby sudah tidak berani berkata-kata lagi. Ia hanya takut jika Randy melakukan ancamannya kemudian ia tidak sanggup menolaknya seerti pagi itu.

“Apa hubungan kalian?” pertaanyaan Randy membuat Febby mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata tajam milik Randy yang kini seakan sedang menelanjanginy.

“Maksudmu aku dan Brian? Kami hanya teman.” Jawab Febby sedikit malas.

“Ku pikir kamu terlihat menyukainya.”

“Tentu saja. Maksudku, Brian adalah penyanyi sekaligus aktor papan atas, siapapun pasti menyukainya.”

“Bodoh, bukan suka seperti itu maksudku.”

“Lalu?”

“Kamu cinta sama dia?” pancing Randy.

Febby sedikit tertawa mendengar pertanyaan Randy. “Cinta? Tidak! Cinta itu adalah kata terakhir dalam kamusku.”

Randy mengangkat sebelah alisnya. “kamu nggak pernah mencintai? Atau berpacaran?”

“Kamu pikir aku sebodoh dan sepolos itu? Tentu saja aku penah.” Jawab Febby cepat.

Randy diam sebentar sesekali mengawasi Febby yang sejak tadi tidak berhenti menundukkan kepalanya, seakan wanita itu sedang gugup ketika dirinya membahas tentang kehidupan wanita tersebut.

“Kenapa pagi itu kamu tidk menyuruhku berhenti?” pertanyaan Randy membuat Febby kembali mengangkat wajahnya seakan terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh lelaki tersebut.

“Apa kamu pikir orang yang sudah pada tahap second base bisa mengakhirinya begitu saja?” tanya Febby dengan suara yang di buat sesantai mungkin.

Randy mengangkat sebelah alisnya. “Second base? Kamu… mengerti istilah-istilah seperti itu juga?”

“Kamu pikir aku perempuan bodoh?”

Randy tersenyum miring. “Bukan begitu, kupikir seorang dokter seperti kamu adalah orang yang kaku dan membosankan serta tidak tahu tentang istilah-istilah seks seperti itu.”

Febby mendengus kesal dengan sindiran yang di berikan oleh Randy.

“Apa, kamu pernah bercinta sebelumnya?” pertanyaan tersebut tentu membuat Febby membulatkan matanya seketika.

Bercinta? Yang benar saja.

“Ten.. tentu saja, aku adalah wanita dewasa dengan usia yaang sudah matang. Mana mungkin aku masih perwan, aku tidak semembosankan itu tuan.” Febby berkata penuh dengan keangkuhan. Astaga, jangankan bercinta, berciuman saja mungkin bisa di hitung berapa kali.

Dulu, Febby memang pernah berpacaran sebelumnya, tapi pacaran yang sehat. Bukan dengan mudah memberikan apa yang ia punya pada kekasihnya. Febby dari keluarga baik-baik, tentu kekasihnya dulu sangat menghormatinya. Tapi entah kenapa di hadapan Randy, Febby tidak ingin terlihat sebagai wanita kaku dan bodoh yang tidak pernah bercinta. Ada apa denganmu Febb? Harusnya kamu bangga kalau kamu sampai saat ini masih dapat mempertahankan keperawananmu. Rutuk Febby pada dirinya sendiri.

“Benarkah?” tanya Randy dengan senyuman menggoda.

“Apa kamu perlu bukti?” tantang Febby.

“Baiklah, nanti kita akan membuktikannya.” Jawab Randy dengan santai yang seketika itu juga membuat Febby menelan ludahnya dengan susah payah.

Sial!! Apa ia kini sedang terperangkap pada jebakannya sendiri? Pikir Febby.

“Biasanya… gaya apa yang kamu sukai?” tanya Randy dengan tatapan menggodanya.

Febby membulatkan matanya seketika. Pipinya kemudian memerah seketika saat membayangkan posisi-posisi berhubungan intim ketika dulu dirinya membaca buku-buku kedokteran saat masih di perguruan tinggi.

Misionaris? Doggie style? Atau… mungkin kamu lebih suka pegang kendali di atasku nanti?”

Cfebby merasakan suasana di sekitarnya menjadi panas karena ucaan-ucapan menggoda yang di lontarkan Randy yang entah kenapa mau tak mau membuat Febby berfantasi.

“Hei, apa kita sedang berdiskusi tentang seks sekarang? Di meja makan ini? Kamu benar-benar menjijikkan.” Gerutu Febby. “Asal kamu tahu, aku lebih liar daripada yang kamu pikirkan.” Pungkas Febby dengan nada yang di buatnya angkuh.

Ya, ia memang tidak boleh terlihat bodoh dan lemah di hadapan Randy, sebaliknya, Febby ingin dirinya terlihat liar hingga Randy tidak bisa mengejeknya atau mungkin melemparkan tatapan-tatapan mengintimidasi dari lelaki tersebut.

“Benarkah?” Randy maih melemparkan tatapan menggoda dengan tawa mengejeknya pada Febby. Ia terlihat tenang dan santai, padahal sebenarnya sejak tadi ia sedang menahan rasa sakit karena gairahnya yang seakan ingin meledak saat ini juga. Entah sejak kapan celananya sudah mengetat, menandakan jika ia tidak bisa main-main terlalu lama lagi.

“Aku ingin memasukimu malam ini juga.” Perkataan yang di lontarkan Randy benar-benar bukan godaan atau candaan belaka, sungguh, ia menginginkan Febby malam ini juga. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.

***

Pintu rumah itu tertutup dengan kerasnya, mengunci secara otomatis, seakan-akan tahu jika sang pemiliknya tidak akan sempat menguncinya. Entah sejak kapan kedua bibir itu saling melumat habis, saling mencecap kenikmatan, saling menggigit satu sama lain. Lidahpun saling menari merasakan rasa masing-masing. Deru napas yang terengah saling bersahutan menandakan bahwa mereka sudah cukup lama melakukan ciuman panas itu.

Tangan Febby sudah mengacak-acak tatanan rambut Randy, membuat Randy terlihat begitu panas dan seksi di mata Febby. Begitupun tangan Randy sudah mengangkat rok pensil yang di kenakan Febby hari itu sampai ke perut. Keduanya saling bergairah, memagut satu sama lain tanpa sedikitpun rasa canggung.

“Sialan!! aku tidak tahu kalau kamu senikmat ini.” Suara serak Randy keluar saat meremas bagian belakang tubuh Febby. Cumbuannya kini turun ke leher Febby, mengecapnya, menikmati rasanya, memberi tanda basah di sana.

Febby mengerang, mendesah dengan nikmat dan itu membuat Randy semakin mengetat.

“Jangan mengenakan pakaian membosankan seperti ini lagi di hadapanku.” kata Randy dengan membuka paksa blouse yang di kenakan Febby hingga robek.

“Aku akan berubah, Uugghhh…” jawab Febby sambil memejamkan mata dan mendesah saat tangan Randy sudah mendarat di dadanya.

“Aku suka melihatmu memakai lingerie..” Randy  terengah-engah mengucapkannya.

“Aku… Uugghh… aku akan membelinya..” Febby kesusahan menjawab saat Randy mulai mengecupi puncak payudaranya.

“Sialan! Tapi aku lebih suka melihatmu telanjang.” ucap   Randy sambil menyeringai, lalu mulai menggigit, menghisap dan menggoda puncak payudara Febby. Febbypun mendesah dengan kenikmatan yang baru di rasakannya saat ini.

“Oh, astaga, astaga..” Desah Febby saat jemari Randy mulai menggelitik titik sensitifnya. membelainya, mengusapnya dengan lembut. Membuat Febby tak sanggup berdiri sendiri dengan kedua kakinya.

“Oh Sialan!! kamu sudah sangat basah, sayang.” Ucap Randy sambil melumat kembali bibir Febby. “Aku suka sekali rasamu yang manis.” lanjutnya lagi.

Entah sejak kapan keduanya sudah saling menelanjangi satu sama lain, padahal mereka masih di depan pintu di ruang tamunya.

“Kaitkan kakimu di pinggangku, sayang.” Febby  membuka matanya dan mengernyit kearah Randy, menandakan jika dia tak mengerti.

“Kita akan pindah ke kamarku.” Febbypun akhirnya menuruti apa yang di perintahkan Randy.

Masih dengan mengecupi pundak Febby,  Randy akhirnya menggendong Febby menuju ke kamarnya.

Randy mulai membaringkan tubuh Febby, lalu menindihnya, dan mulai menyerang Febby dengan kecupan-kecupan kecil dari kening sampai ujung kaki Febby, membuat Febby merasakan gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan.

“Sial! Kamu benar-benar sangat indah.” Randy berkata saat melihat Febby yang sedang telanjang bulat dengan ekspresi kenikmatan saat berada di bawahnya.

Randy mengecup pusat diri Febby, dan sedikit memainkannya.

“Ohh, astaga… apa, apa yang kamu lakukan? Ohh astaga..” hanya itu yang mampu di katakan Febby saat dirinya mulai menuju puncak kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.

Randy tersenyum saat melihat ekspresi kenikmatan Febby yang berasal darinya. Membuatnya semakin kesakitan menahan gairahnya,

“Jangan pernah memperlihatkan ekspresi seperti ini di hadapan lelaki lain.” Katanya penuh dengan nada posesif. Lalu diapun mengecupi leher Febby kembali.

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

Febby merasakan sesuatu yang keras namun lembut menyentuh pusat diriny. Sebagai dokter Febby  tau jika ini akan terasa sakit mengingat ini adalah pengalaman pertamanya. Astaga, apa Randy akan memperlakukannya dengan kasar? Semoga saja tidak. Batin Febby berbisik. Apa ia haruss mengatakan pad lelaki itu bahwa kini ia masih perawan? Oh yang benar saja, ia tidak akan mengatakannya sebelum Randy mengetahuinya sendiri.

Lalu Febby memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya dan meremas Bed cover yang ada di bawahnya. Astaga.. ini benar-benar menegangkan. Pikirnya lagi.

Randy berusaha sangat keras menyatukan dirinya, namun masih belum bisa. Keringatnya sudah jatuh bercucuran di wajahnya.

“Sialan! Kamu sempit sekali.” katanya kemudian. “Sudah berapa lama kamu tak bercinta?” geramnya.

Ketika Randy masih berusaha menyatuka dirinya, tiba-tiba Randy merasakan sebuah penghalang di antara mereka. Randy menatap tajam ke arah Febby dengan tatapan ngerinya.

“Sial!! Jangan bilang kalau kamu, kamu, masih perawan.” Febby tidak menjawab, dia masih memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.

Randy mendekatkan wajahnya ke arah Febby.

“Buka matamu.” Ucapnya.

Lalu Febbypun membuka matanya. Menatap Randy seperti apa yang di perintahkan lelaki tersebut. Randy melihat ada ketakutan di dalam tatappan Febby.

“Maafkan aku, ini akan terasa sakit, tapi aku tidak bisa berhenti.” Lalu Randy mulai mencium kembali bibir Febby. Tanpa aba-aba lagi, Randy mulai mendorong kembali, mendesak masuk  dengan lebih keras, merobek penghalang dari penyatuan mereka.

Merekapun akhirnya menyatu dengan sempurna di iringi erangan kesakitan Febby yang sedikit terdengar di antara ciuman panas yang di berikan Randy. Bahkan Febbypun tidak sadar  jika dirinya sudah mencakar lengan Randy.

Randy berhenti mencium Febby, kini dia memeluk erat tubuh Febby sambil sesekali mengecup lehernya tanpa bergerak sedikitpun. Membiasakan Febby dengan dirinya yang kini sudah berada di dalam diri Febby.

Randy membuka matanya melihat Febby masih memejamkan mata karena menahan rasa sakit bercampur dengan gairah, terlihat ada air mata yang turun dari mata Febby. Di raihnya jemari tangan Febby, di tautkannya jari jemarinya dengan jemari Febby.

“Maafkan aku.” Ucap Randy sambil mencium jemari Febby yang masih dalam genggamannya. Febby membuka matanya, melihat ketulusan yang di tampakan oleh Randy, diapun tersenyum lembut dengan kelembutan yang di baru saja di berikan oleh lelaki tersebut..

“Apa aku sudah boleh bergerak?” Febby hanya menganggukkan kepalanya ketika Randy bertanya. “Aku ingin kamu menatapku saat aku melakukannya.” Ucap Randy sambil sedikit menggerakkan tubuhnya dengan lembut.

Pertama Febby merasa tidak nyaman, namun lama-lama gelombang kenikmatan itu muncul kembali, menghilangkan rasa sakit yang tadi menjalarinya. Febby mulai menikmati ritme permainan Randy.

“Sialan! Kamu benar-benar sempit, kamu akan membunuhku.  Oh Sial!!” Randy mulai meracau tak jelas karena kewalahan menghadapi gairah yang ia rasakan. “Sialan!!!” Dia hanya bisa mengumpat, mengumpat dan mengumpat karena kenikmatan tersebut. Febby benar-benar begitu sempit menghimpitnya, dan itu membuat Randy seakan tidak bisa menahan dirinya.

Jari jemari mereka masih bertautan satu sama lain. Randy mulai mempercepat ritmenya ketika merasakan Febby mencengkeramnya dengan erat.

“Ohh, Astaga, astaga…” dan puncak kenikmatan itupun kembali menghantam diri Febby.

Melihat Febby yang sudah mencapai kenikmatan, Randypun makin mempercepat lajunya. “Sialan!” Lagi-lagi Randy mengumpat karena tak dapat menahan gairahnya. Diciumnya kembali Bibir Febby dengan panas saat gelombang kenikmatan itu menghampirinya. Dan.. meledaklah dia di dalam tubuh Febby.

Randy ambruk di atas tubuh Febby saat keduanya masih menikmati pelepasan masing-masing. Deru napas mereka saling bersahutan, detak jantung merekapun menggema di antara sepinya ruangan.

“Brengsek!! Ini benar-benar ‘Wow’.” Randy kembali mengumpat sambil menghela napas panjang.

Febby  memalingkan wajahnya kesamping, ia merasa malu dan canggung dengan posisinya saat ini yang masih sangat intim.

“Kenapa?” Tanya Randy sedikit tersenyum karena melihat Febby yang memerah karena gugup.

Febby hanya menggelengkan kepalanya masih tak sanggup menatap wajah Randy. Randypun menarik dirinya dan berbaring di samping Febby.

“Tidurlah.” Perintahnya.

Febby akhirnya bangun, dan bersiap menuju ke kamarnya.

“Kamu mau kemana?” Tanya Randy sambil meraih pergelangan tangan Febby.

“Aku akan kembali ke kamar.” Jawab Febby yang masih memalingkan wajahnya tidak berani menatap Randy secara langsung.

“Tidurlah disini.” Lalu Randy menarik Febby ke dalam pelukannya. “Bersamaku.” Lanjutnya lagi.

Febbypun menurut walau ia tidak mengerti kenapa sekarang Randy selembut ini terhadapnya. Dan merekapun tidur bersama dengan berpelukan sepanjang malam .

-TBC-

Kyaaaa gimana Hot Partnya??? aku usahakan Fast update yaa…

Advertisements

5 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 6

  1. takluk juga akhirnya
    sama sama saling membutuhkan
    bentar lagi randy bakal ketagihan ama febby

    semua ceritamu inikan terhubung ama benang merah jadi kadang aku suka bingung juga kalo gk teliti ama ceitanya😄😄😄

    Like

  2. mereka mah saling mmbutuh kan tapi ego mereka terlalu tinggi , pada akhir na mereka tenggelam juga , bener” panas dan tinggal nunggu adegan d sopa 😂😂😃.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s