romantis

Sweet in Passion – Chapte 5

asipSweet in passion

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

Chapter 5

 

Febby mulai panik engan apa yang di lakukan Randy. Di dorong-dorongnya tubuh Randy supaya menjauh dari tempat tidur yang kini mereka baringi.

“Hei, pergi sana, kenapa kamu tidur di sini?” Febby masih saja mendorong-dorong tubuh Randy.

“Aku merindukanmu ayang, aku merindukaanmu.” Goda Randy encoba membuat Febby takut dengan apa yaang ia lakukan. Randy berusaha memeluk Febby sedangkan Febby sendiri masih berusaha meronta dengan tatapan ngerinya.

“Pergi, pergi, apa yaang kamu lakukan?” kali ini Febby memukul-mukul Randy dengan bantal yang ada di dekatnya.

“Hei, Febby. Aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu berlebihan seperti itu.” Gerutu Randy sembari mengusap lengannya sendiri yang sedikit sakit karena pukulan-pukulan yang di berikan oleh Febby.

Febby menghentikan aksiya. Napasnya sedikit terengah karena bergulat dengan tubuh Randy yang tentunya lebih besar dari pada tubuhnya.

“Baiklah, kita akan berbagi kamar, tapi aku tidak mau berbagi ranjang.” Ucap Febby kemudian.

“Apa maksudmu?”

Febby menunjuk sebuah ofa yaang lumayan panang  dan seketika itu juga Randy tahu apa yang di maksud oleh Febby. Tidur di sofa? Yang benar saja.

“Maksudmu aku harus tidur di sana? Yang benar saja. Aku tidak mau. Ini kan ranjangku.” Randy berkata dengan penuh keangkuhan.

“Lalu, apa kamu akan memaksa seorang perempuan tidur di atas sofa sedangkan kamu yang laki-laki tidur nyaman di atas ranjang? Huh, dasar, tidak jantan.” Gerutu Febby yang seketika itu juga membuat Randy membulatkan matanya seketika.

“Apa? Apa katamu? Tidak jantan? Apaa kamu ingin meihat bagaimana jantannya diriku?” tanya Randy dengan setengah marah.”

Febby bergidik ngeri ketika tahu apa yang di maksud dengan Randy.

“Dalam mimpimu tuan, lebih baik pergi sana, aku benar-benar tidak ingin satu ranjang denganmu.”

Randy menghela napas dengan kasar. Mau tidak mau ia harus mengalah. Lagi pula, ia tidak akan mungkin tidur berdua di atas ranjang dengan Febby malam ini. Oh yang benar saja. Kejantanannya seak tadi tidak berhenti berdenyut nyeri, mungkin jika Febby menggodanya, ia akan meledak saat itu juga. Lebih baik ia mengalah sebelum tubuhnya lepas kontrol.

“Baiklah. Nikmati tidur indahmu tuan puteri.” Ucap Randy setengah kesal dengan menarik sebuah bantal untuk di bawanya ke sofa yang tadi di tunjuk oleh Febby.

Febby sendiri hanya mampu tesenyum penuh dengan kemenangan. Ia sedikit tidk menyangka jika Randy aan mengalah dengannya.

Febby akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur senyaman mungkin. Ia bahkan tidak mempedulikan Randy yang meringkuk dengan gelisah di atas sofa.

Berkali-kali Randy mengucapkan sumpah serapahnya karena kesakitan menahan gairahnya. Belum lagi sofa yang di tempatinya sama sekali tidak membantu karena panjangnya tidak lebih dari selutut Randy, hingga membuat Randy tidur meringkuk melipat lutunya. Randy yakin jika besok pagi ia akan bangun dalam keadaan pegal-pegal. Ahh sial!!!.

***

Paginya…

Febby merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Ia merasa nyaman karena merasakn sesuatu yang hangat menempel tepat di elakang puggungnya, sesuatu yaang mirip dengan dada bidang seseorang. Rasanya nyaman, nyaman, dan hangat. Dengan spontan Febby menggeliat, seakan mencari-cari kehangatan dari sesuatu yang menempel tepat di belakangnya tersebut.

“Uugghh, jangan menggeliat terus, sayang. Kamu akan membangunkan sesuatu.” Febby mendengar suaraa parau nan seksi tepat di belakangnya, kemudian ia juga merasakan sesuatu yang basah menempel pada kulit lehernya, membuatnya sedikit merinding karena sentuhan tersebut.

Seketika utu juga, mataa Febby terbuka lebar-lebar. Ia sadar sepenuhnya jika kini ada seseorang yang sedang memeluknya dari belakang.

Febby akhirnya menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Randy yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya.

“HEIII… APA YANG KAMU LAKUKAN??!!” Teriak Febby yang seketika itu juga membuat Randy terbangun dan menutup kedua telingannya.

“Apa kamu bisa berhenti berteriak? Ini masih pagi tahu!”  seru Randy sesekali mengusap teliganya yang tidak berhenti berdengung karena teriakan Febby.

“Kenapa kamu bisa tidur di sini, Huh?”

“Kenapa baagaimana? Kamu pikir aku bisa tidur di sofa kecil itu semalaman? Yang benar saja.”

“Jadi kamu pindah kesini sejak tadi malam?”

“Tentu saja.” Jawab Randy dengan cuek.

“HEII, DASAR!!!” Febby kembali berteriak tapi kemudian dengan spontan Randy membungkam mulut Febby lalu menerjang tubuh wanita tersebut hingga kini Febby berada tepat di bawah tindihan Randy. Febby ingin berteriak tapi tak bisa karena telapak tangan Randy membungkamnya.

“Aku akan melepaskan tanganku kalau kamu berhenti berteriak.” Ucap Randy. Febby akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dan Randypun akhirnya melepaskan bungkaman tangannya.

“Kamu benar-benar gila! Apa yang kamu lakukan di atasku?” Febby mendesis tajam karen menahan amarahnya.

Randy hanya mengangkat sebelah alisnya dengan melemparkan tatapan penuh arti pada Febby. Tak lupa Randy juga menampilkan senyuman mengejeknya pada wanita tersebut.

Tiba-tiba Febby sadar jika dirinya merasakan sesuatu yang mengganjal dan berdenyut di bawah sana.

“Apa itu? Hei…. kamu benar-benar menijikkan!” seru Febby.

“Setiap pagi memang seperti itu.” Jawab Randy dengan tersenyum menyeringai.

“Heii, pergi dari sini, apa yang kamu lakukan di atasku, pergi…” gertak Febby dengan sesekali memukul-mukul dan mendorong dada bidang Randy. Secepat kilat tangan Randy menyambar pergelangan tangan Febby kemudian memenjarakannya di atas kepala Febby.

“A, apa yang akan kaamu lakukan?” Febby benar-benar gugup dengan kedekatannya bersama Randy.

“Apa kamu takut?” pertanyaan Randy di sertai dengan seringaian nakalnya.

“Tentu saja tidak!!” Seru Febby.

“Baiklah.”

“Baiklah ap…” Febby tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Randy tiba-tiba saja sudah menyerang bibirnya. Pertama, yang Febb lakukan hanyalah menolak, menolak dan menolak, tapi kemudian ketika di rasakannya ciuman Randy semakin lembut dan menuntut, akhirnya Febby luluh juga. Ia mulai tergoda, kemudian sedikit demi sedikit membuka bibirnya serta membalas ciuman Randy.

Febby membuka sedikit bibirnya, membiarkan lidah Randy menelusuk masuk ke dalam kemudin bertautan dengan lidahnya. Oh, keduanya ssesekali mengerag satu sama lain karena terpancing oleh gaairaah yang tiba-tiba saja terbangun.

Posisi keduanya sangat intim, dengan randy yang berada tepat di atas tubuh Febby dan mencengkeram kedua pergelangan tangan Febby.

Randy kemudian melepaskan cengkeraman tangannya ketika ia merasakan Febby membalas ciumannya. Dengan spontan Febby mengalungkan lengannya pada leher Randy, jemarinya sesekali meremas-remas rambut coklat gelap milik suaminya tersebut. Sedangkan jemari Randy sendiri entah sejak kapan sudaah menelusup maasuk ke dalam lingerie yang di kenakan Febby.

Jemari Randy masih terus menjelajahi kulit halus milik istrinya tersebut, kemudian ia berhenti pada kedua gundukan yang terasa kenyal tepat pada dada Febby.

“Kamu sangat seksi.” Bisik Randy dengan suara paraunya. “Aku ingin, aku ingin memasukimu saat ini juga.” Perkataan erotiss Randy membuat bulu-bulu halus d tengkuk Febby meremang.

“Lakukanlah…” Desah Febby yang sudah tidak tahan dengan dengan rasa aneh yang ini ia rasakan.

Randy terkejut. Ia pikir Febby akan menolaknya mentah-mentah, tapi di luar dugaan, Febby malah mengijinkan dirinyaa untuk menyentuh wanita tersebut.

“Apa kamu yakin?” tanya Randy yang masih sedikit tidak  percaya.

“Tentu saja!! Cepat lakukanlah  sebelum aku berubah pikiran.” Mata Febby sesekali terpejm menhan kenikmatan yang seakan menjalar di sekuur tubuhnya.

Secepat kilat Randy meembuka lingerie yang di kenakan Febby. Dan tampaaklah Febby yang hanya mengenakaan pakaian dalamnya saja.

“Sangat indah.” Randy susah payah mengucapkan dua kata tersebut dengan sesekali menelan luahnya.

Randy akhirnya mulai menjalankan aksinya. Mula-mula ia mengecupi wajah Febby dengan kecupan-kecupan kecil menggoda, dari kening, mata, hidung, pipi, dan ketika sampai di bibir wanita terssebut, Randy menggodanya.

“Sialan!! Kamu sangat manis.” Bisik Randy parau di tengah-tengah cumbuannya pada bibir Febby. Randy kembali menjalankan aksinya. Cumbuannya turun ke area leher Febby, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana, sesekali membuat tanda kepemilikan di sana.

Sebelum Randy turun kebawah lagi, Randy kembali mencumbu bibir Febby kemudian bertaanya sekali lagi dengan wanita tersebut.

“Apa kamu benar-benar yakin? Jik aku sudah turun, aku tidak bisa menghentikannya.”

“He’um.” Hanya itu jawaban dari Febby.

Randy kembali melumat bibir ranum Febby sebelum bersiap melanjutkan aaksinya untuk mencumbui sekujur tubuh istrinya tersebut. Tapi ketika ia akan bergerak turun, pintu kamar merekaa tiba-tiba terbuka dari luar.

“Om, tante.” Suara anak kecil itu memaksa keduanya menghentikan aksinya lalu menolehkan kepalanya masing-masing ke arah sura tersebut. Dan tampaklah Rocky, keponakannya yang nakal itu sedang berdiri ternganga di ambang pintu.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sini jagoan? Kamu akan meng…nggang….nggu…” Andrew, sang aayah Rocky yang menyusul Rocky di belakang bocah tersebutpun ikut tercengang melihat Randy dan Febby yang saat ini masih pada posisi intim mereka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” dengan spontan Andrew bertanya.

Randy yang masih mengenakan celana piyamanya akhirnya berdiri, sedangkan Febby, dengan wajah yang sudah meraah padam karen malu, ia menarik selimutnya untuk menutupi sekujur tubuhnya yang sudah setengah telanjang.

“Apa yang kalian lakukan? Harusnyaa aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di sini? Mengganggu saja.” Gerutu Randy yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Andrew dan puteranya.

Andrew tertawa lebar. “Hahahaha, setidaknya pastikaan pintumu terkunci. Ingat, di rumah ini masih ada anak kecil.”

“Kalian saja yang terlalu usil.” Randy msih saja menggerutu kesal.

Randy baru ingat, tadi maalam ketika ia susah tidur karena gelisah, dirinya beranjaak ke dapur untuk mengambil air minum. Namun ketika kembali masuk ke dalam kamarnya, Randy lupa untuk mengunci pintunya, ia hanya berjalan dengan santai menuju ke arah ranjang dan tidur tepat di sebelah Febby. Ahh sialan, ini semua karena keteledorannya sendiri.

“Hei, apa lagi yang kalian tunggu, cepat pergi dari sini.” Perintah Randy.

“Lo bener-bener ngusir kami?” goda Andrew.

“Haish, benar-benar. Cepat pergi atau ku tendang pantatmu dari sini.”

“Ayah, apa yang di lakukan Om Randy dan tante tadi?” dengan polosnya Rocky bertanya pada sang ayah, daan itu membuat Randy sekaligus Andrew saling pandang sebentaar kemudian terkikik geli bersama.

“Rocky, Om akan memberikan kamu seorang adik kecil.” Andrew berkata tanpa menghilangkan tawa di wajahnya.

“Hei, hei, hei, apa yang Lo bilang sama dia? Cepat bawa iblis cilik ini pergi dari kamarku.” Ucap Randy sembari mengangkat tubuh mungil Rocky lalu menurunkannya sedikit lebih jauh dari pintu kamarnya.

“Hahahha Lo sudah sangat tegang?” goda Andrew.

“Gue nggak peduli, Lo sialan!” umpat Randy yang di sertai dengan menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya.

Ketika Febby mendengar pintu kamarnya tertutup, seketika ia bangung kemudian meraih kimono tidu yang tadi malam ia kenakan. Febby bangkit lalu mengenakan kimono tersebut tanpa mmperhatikaan Randy yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan anehnya.

“Hei, kamu mau kemana?” tanya Randy ketika melihat Febby yang berjalan melewatinya.

“Mandi.” Jawab Febby dengan cuek.

“Mandi? Jadi kita tidak melanjutkan yang tadi?”

“Apa kamu gila? Tentu saja tidak.”

“Kalau begitu aku ikut mandi denganmu.”

“Tidak!” seru Febby. “Kamu benar-benar menjijikkan.” Dengan cepat Febby menutup pintu kamar mandi tepat di hadapan Randy.

“Menjijikka? HEIII…. PEREMPUAN SIALAN…CEPAT BUKA PINTUNYA..” Randy berteriak nyaring karena frustasi dengan tingkah Febby, belum lagi pangkal pahanya yang tidak berhenti bedenyut nyeri karena ingin di puaaskan.

Febby membuka pintu kamar mandi sedikit kemudian berkata dengan datar. “Apa kamu bissa berhenti berteriak? Ini masih pagi, tahu.” Febby mengulang kata-kata tadi yang di ucapkan Randy padanya lalu menutup kembaali pintu kamar mandi. dan meninggalkan Randy yang hanya ternganga dengan apa yang di lakukan istrinya tersebut.

“Apa dia bilang? Haisshh, benar-benar membuatku gila.” Gerutu Randy pada dirinya sendiri sembari mengacak-acak rambutnya.

***

Sudah hampir seminggu kejadian pagi itu berlalu. Febby tidak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya paagi itu. Bagaimana mungkin ia hampir saja tergoda dengan seorang Randy? Pria dengan kemesuman tingkat tinggi. Febby tidak mengerti, tapi dia cukup sadar jika ada sesuatu di dalam diri Randy yang membuat lelaki itu mampu mempengaruhinyaa, membuatnya panas, hingga saat mengingatnya saja pipi Febby tidak bisa berhenti bersemu merah. Oh yang benar saja.

Kini, Febby semakin takut ketika harus berdua ssaja dengan Randy. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit lebih pagi dari sebelumnya dan pulang lebih malam dari sebelumnya. Ia hanyaa ingin menghinari Randy, berkomunikasi sedikit mungkin dengan lelaki itu, karena Febby sadar, jika berada di dekat Randy kini membuat tubuhnya seakan terpancing oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu itu apa.

Untung saja Randy juga sedang sibuk dengan pekerjaannyaa, jadi itu memudahkan Febby untuk menghindari lelaki terssebut.

Bunyi telepon di dalam ruangannya membuat Febby tersadar dari lamunannya. “Halo.” Sapa Febby.

“Ada seseorng yang ingin bertemu dengn anda, dokter.”

“Pasien kah?”

“Bukan Dok, Uum, itu..”

“Suruh saja masuk ke dalam ruanga saya.” Jawab Febby sedikit enggan lalu menutup teleponnya. Ah, siapa lagi yang akan menemuinya?

Setelah telepon di tutup, Febby kembali dalam pikirannya. Bagaimana jika yang datang itu Randy? Randy? Ah, mana mungkin. Lelaki itu tentu sangat sibuk. Lagi pula jika ia ke rumah sakit ini tentu akan timbul kehebohan karena hampir seluruh staf wanita di rumah sakit ini mengidolakan suaminya tersebut. Tapi bagaaimana jika itu benaar-benar Randy? Bagaimana cara dirinya untuk menghadapi suaminya tersebut?

Dan pada saat pikirannya panuh dengan berbagai macam pertanyaan, pintu ruangannya di ketuk.

Febby menghela napas panjang sembari berkata “Masuk.” Namun ketika pintu tersebut di buka, Febby kembali menegang ketika mendapati orang di balik pintu tersebut adalah orang yang baru saja melintasi pikirannya.

“Kamu?” Febby berkata dengan spontan tanpa menghilangkan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Iya, ini aku. Kenapa? Kamu kaget kalau aku datang kemari?” tanya Randy dengan sedikit cuek.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin mengajak istriku makan malam. Aku merindukannyaa.” Randy berkata sambil melemparkan tatapan mengejeknya dengan sedikit menggoda Febby.

“Apa? Istri? Dan apa katamu? Merindukan? Jangaan sembarangan bicara, Randy.” Febby berusaha mengelak dengan memberi jawaban setegas mungkin, tapi nyatanya wajahnya tidak bisa berbohong kalau kini dirinya sedang malu-malu dengan rona merah di pipinya.

“Sembarangan bicara bagaimana? Kamu memang istriu, dan aku merindukanmu setelaah kemesraan panas kitaa pagi itu..” dan Febby semakin gugup di buatnya ketika Randy menyebut kaata ‘pagi itu.’

“Hei, jangan bahas itu lagi! Kamu benar-benar menyebalkan.”

“Terserah apa kataamu, yang penting sekarang ayo temani aku makan malam, cepat.” Perintah Randy sembari menarik lengan Febby.

“Aku tidak bisa, bagaimana nanti kalau aku ada pasien?”

“Jam kerjamu sudah selesai dua jam yang lalu. Jadi kamu jangan membohongiku lagi.”

“Aku tidak penah membohongimu.”

“Benarkah? Kamu pikir aku tidak tahu kalau beberapa hari terakhir kamu sengaja menjauhiku? Kenapa Febby? Apa karena kamu gugup berdekatan denganku? Karena pagi itu kita hampir bercinta?”

“Tidak!! Jaangaan baahas tentang pagi itu.”

“Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus ikut aku makan malam. Ada yang ingin ku rundingkan denganmu.” Pungkas Randy tanpa bisa di ganggu gugat.

***

“Uugghh.. uugghh..” Desahan demi desahan Febby semakin membuat Randy menggila.

“Apa kamu menggunakan kontrsepsi?” tanya Randy masih dengan mengecupi sepanjang leher jenjang milik Febby. Febby tak bisa menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya pasrah. “Apa kamu, ingin aku menggunakan, pengaman?” taanya Randy lagi dengan suara terpatah-patah.

“Tidak..” Suara Febby terdengaar sedikit kesal dan tertekan oleh kenikmatan yang sedang di rasakan wanita tersebut.

Randy mengangkat wajahnya seketika karena terkejut dengan jawaban Febby. “Tapi… kamu bisa..”

Febby membuka kedua matanya lalu menatap tajam ke arah Randy. “Randy, aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah seorang bayi, sekaarang ceepatlah memulainya, atau kamu tidak akan perna memulainya karena aku berubah pikiran.” Ucap Febby dengan nada sedikit kesal.

Randy tersenyum dengan apa yang di katakan Febby, wanita itu terlihat ingin sekali bercinta dengannya dan astaga, itu semakin membuat Randy menegang seakan ingin meledak.

“Baiklah jika itu keinginanmu, bersiaplah, aku akan memulainya, aku akan memasukimu saat ini juga sayang…”

TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Sweet in Passion – Chapte 5

  1. uhhhh kepala randy pasti pening banget tuh acaranya gagal karna keponakannya 😁😁😁😁😁 lagian pintunya kagak dikunci sich

    Like

  2. Ketika baca part ini aku ngerasain sensasi waktu aku baca Yogie sama elena interaksi mereka berdua yang cuek apa adanya buat aku senyum senyum ndiri waktu baca nya …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s