Non Fiksi

Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

mwkMengenangnya (With Kai)

Note : Hanya Oneshoot yang ku dedikasikan untuk seorang yang pernah berada di masalaluku. ahh entahkah, aku kembali mengingatnya saja beberapa hari terakhir, akhirnya aku menulisnya di sini, Happy reading,,

Mengenangnya (With Kai)

 

Pagi ini aku mendengarkan lagu Radja. aku tidak tahu kenapa tiba-tiba suamiku memutar lagu itu, karena setahuku, lagu kenangan kami adalah lagu dari Wali.

Mendengar lagu itu, sontak aku teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah memiliki hatiku seutuhnya hanya dalam jangka waktu 9 hari.

Yeaah, dia kekasih lamaku selama 9 hari.

Sebut saja namanya Kai.

Aku lupa tepatnya bulan berapa, tapi seingatku, saat itu tahun 2007. Alif ( yg sekarang yg jadi suamiku) pacar pertamaku itu meninggalkanku begitu saja ke pulau seberang, tanpa pamit. Kalian tentu dapat membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Padahal kami baru menjalin kasih selama kurang lebih 2 bulan lamanya.

Sedih? Tentu saja, marah? Sangat dan sangat marah. Tapi aku bisa apa? Melarangnya? Yang benar saja.

Dua hari setelah alif meninggalkanku, sebuah nomor telepon baru menghubungiku. Dia mengaku bernama Kai. Kai, bukanlah orang jelek, jika boleh jujur, dia mantanku yg paling tampan dan kaya (bahkan melebihi alif, suamiku saat ini). Saat itu aku belum pernah bertemu dengannya, karena dia memang masih kuliah di luar kota.

Kami hanya berhubungan lewat telepon. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana rupanya saat itu, hanya saja mendengar suaranya membuatku berdebar-debar seperti di novel-novel yg pernah ku tulis. entah ini perasaanku saja, atau memang aku sudah menjadikan Kai sebagai pelampiasanku karena di tinggalkan Alif.

Dua minggu smsan dan telepon-teleponan. Kai pulang. Kalian tahu apa yang membuatku terkagum-kagum? Kai yg saat itu sekolah di daerah Malang, langsung menuju ke rumahku, masih dengan membawa tas ranselnya, dia tidak pulang ke rumahnya sendiri tapi langsung menuju ke rumahku, dan bertemu denganku untuk pertama kalinya.

Shock?

Tentu saja. Aku anak gadis biasa, tidak memiliki kelebihan apapun. Bahkan di bandingkan teman2ku, aku adalah gadis yg paling culun -dan jelek- tentunya. Dan aku tidak menyangka lelaki sekelas Kai mau repot-repot mendekatiku dan   ingin berkenalah denganku.

“Dek, kok diam saja?”

“Ahh enggak, mas.”

“Aku langsung ke sini tadi, nggak mampir kerumah, pengen ketemu kamu.”

“Ohh.”

“Dek, nggak papa kan kalau aku minta nomer kamu dari temanku?”

“Nggak papa kok, Mas.”

“Alif gimana Dek? Sudah hubungi  kamu?”

“Loh, Mas kenal Mas Alif?”

“Dia temanku dek.”

“Ohh…” hanya itu jawabanku.

“Dek, aku pengen menggantikan posisi Alif.”

“Maksudnya Mas?”

“Ayo di jalani saja, aku nyaman sama kamu, Dek.”

Dan… malam itupun kami resmi jadian. Hingga 9 hari kemudian aku memutuskan mengakhiri semuanya….

***

“Kai…. aku kangen kamu, Mas..”

***
Hari ke 7 aku jadian dengan Kai…

Entah kesialan apa yg terjadi denganku sore itu. Setelah sepanjang siang hujan lebat, akhirnya motor bututku yang ku parkir di pelataran sekolah mogok. Rasanya pengen nangis. Karena itu motorku satu-satunya.

Aku menunggui teman-temanku yang mencoba menyalakan motorku, tapi tidak ada yang berhasil. Hingga kemudian, aku melihat sosok itu datang.

Kai….

Astaga, jangan bayangkan bagaimana malunya aku saat itu. Sudah jelek, kusem, bau asem, muka berminyak, tanpa bedak, jerawat di mana-mana, dan laki-laki yang beberapa hari terakhir dekat denganku datang menemuiku dalam keadaan seperti itu? Ohhh sungguh, aku ingin menghilang saat itu juga.

Dengan santai Kai bertanya. “Motornya kenapa dek?”

Aku hanya bisa menundukkan kepala. “Uumm nggak tahu mas, mogok nih.”

“Sini, biar kubawakan ke bengkel temanku saja.”

“Terus, aku gimana?”

“Aku yang nganter pulang.” Setelah dia bicara seperti itu, dia pergi begitu saja, menuntun motorku menuju ke sebuah bengkel yang memang tak jauh dari sekolahanku.

Teman-temanku bercie-cie ria. Dan aku tidak peduli, yang kupedulikan saat itu adalah degupan jantungku yg seakan menggila.

Kai akhirnya kembali, dan langsung menaiki motornya. Dia menatapku sambil berkata. “Ayo, kenapa nggak naik?”

Teman-temanku dengan ndesohnya semakin menyorakiku dan membuatku ingin menyumpali mulut mereka satu persatu dengan kaos kaki yang kukenakan.

Akhirnya aku pulang, Kai benar-benar mengantarku. Ini pertama kalinya aku di jemput laki-laki saat pulang dari sekolah. Malunya minta ampun. Aku bahkan tidak berani menempel pada tubuh Kai yang aku yakini saat itu sudah wangi, sedangkan aku? aku yakin, bahkan satu meterpun kalian dapat mencium bau keringatku.

Tujuh hari ini, aku memang tak lagi memikirkan Alif. Kai selalu menghubungiku setiap waktu. Dan itu membuatku lupa dengan diri Alif. Hanya saja, saat aku akan tidur, bayangan Alif mencuat di pikiranku, dan itu kembali membuatku menangis.

“Kok diem aja, Dek?”

“Uuum, mas kok tahu motorku mogok tadi?”

“Tadi aku nggak sengaja jalan trus lihat kamu sama teman-temanmu.”

“Yang bener?”

“Iya, sumpah Dek.”

“Mas nggak malu jemput aku?”

“Ngapain malu? Kan jemput pacarku sendiri, bukan pacar orang.”

Dan astaga, kalo aku tidak ada di atas motor, mungkin saat ini aku sudah kejang-kejang karena salah tingkah.

“Mas masih lama di rumah?” Tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku setengah bulan di rumah, Dek.”

“Oh…” hanya itu jawabanku.

Akhirnya sampai juga di depan rumahku. Aku turun dari atas motor Kai. Kupikir dia langsung pergi, tapi dia malah ikut aku turun.

“Loh, mas masuk dulu?” Tanyaku bingung.

Aku melihat dia tersenyum dengan sedikit malu-malu.

“Euumm aku mau..” dia mencondongkan tubuhnya bersiap mengecup pipiku. Dan dengan spontan aku membalikkan tubuhku hingga membelakanginya.

Astaga, aku nggak mungkin membiarkan cowok ganteng mencium pipiku yg kusem dan berminyak. Yang benar saja.

Lama kami dalam posisi aku membelakangi Kai. Aku juga tidak tahu apa yg di rasakan Kai saat itu. yang ku pikirkan saat itu adalah perutku yang mulai mulas karena kedekatan kami.

Hingga kemudian, aku mendengar bunyi motor Kai tepat di belakangku.

“Dek, aku pulang.” Ucapnya. Dan dia pergi begitu saja tanpa menungguku berbalik menatapnya.

***

Kai… ingatkah kamu dengan hari itu???

***
Hari ke 8…

Hari itu adalah hari yang benar-benar membuatku gelisah. Sepanjang pagi hingga sore, Kai tidah ada sekalipun menghubungiku. Sms yang biasanya gencar dia lakukan, telepon yang biasanya sering menggangguku, hari itu sama sekali tidak ada.

Aku gelisah, apa Kai sedang marah denganku? marah karena aku menolak saat ia ingin mencium pipiku? Astaga, jika memang karena itu, aku bisa memberi alasan kenapa aku melakukan hal itu.

Aku hanya seorang gadis desa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berpacaran. Dulu, aku memiliki orang yang kusukai saat SMP, tapi kemudian orang itu secara terang-terangan menolakku di depan semua orang hingga membuat kepercayaan diriku runtuh seketika. Bahkan hingga kini, rasa terauma itu benar-benar membunuhku. membuatku selalu merendahkan diri dan sama sekali tak memiliki kepercayaan diri.

Pacar pertamaku hanyalah Alif. Itupun hanya dalam jangka waktu 2 bulan, sebelum dia meninggalkanku begitu saja. Apa salah jika saat itu aku terkejut dengan apa yang di lakukan Kai? Ya, bisa di bilang Kai adalah orang pertama yang begitu dekat denganku.

Hingga sore, Kai tak kunjung menghubungiku. Nana, temanku menyarankan supaya aku menghubungi dia, tapi itu adalah hal terakhir yang akan ku lakukan. Sumpah demi apapun juga aku tidak akan pernah menghubungi laki-laki lebih dulu, bukan karena aku sombong, tapi aku terlalu takut, jika ternyata aku mengganggunya, atau membuatnya tidak nyaman. Akhirnya, aku membiarkan Kai yang tidak menghubungiku seharian tanpa mencoba menghubunginya.

sorenya, aku pulang sekolah dengan Nana, karena memang aku masih belum berani memakai motorku yang kemaren sempat masuk bengkel.

Kami pulang bersama dengan Nana memboncengku. tapi baru sekitar tiga kilo meter Nana menjalankan motornya dari sekolahan, kami di cegat oleh beberapa orang anak gadis dari sekolahan lain.

Apa Nana sedang membuat masalah? Pikirku saat itu. Akhirnya Nana menghentikan motornya, lalu kami sama-sama turun dan beberpa anak gadis dari SMA sebelah menghampiri kami.

“Ada apa ya?” Tanya Nana.

“Hei, kamu siapanya Kai?” Tanya seorang gadis dengan rambut pendeknya sembari menunjuk ke arahku.

“Aku?” Tanyaku bingung. “Uum, aku, teman.” Aku berbohong.

“Teman? Jangan-jangan kamu yang ngerebut Kai dari Ina?” Tanya gadis itu lagi sambil menunjung gadis lainnya yang mengenakan jilbab dan sedang menundukkan kepalanya.

“Loh, mbak, aku nggak pernah ngerebut siapa-siapa.” Jawabku sedikit tidak terima, karena aku memang tidak merasa pernah merebut Kai dari orang lain. Kai sendirah yang datang padaku saat itu.

“Halah alasanmu saja. Kai itu dulu selalu ngapelin Ina kalo dia pulang dari Malang, sekarang dia nggak lagi ke rumah Ina, dan kemaren kita lihat kamu sedang di bonceng dia lewat sini.”

“Memangnya Kai siapanya Ina?” Kali ini Nana yang ikut bertanya.

“Ya pacarnya lah. Bahkan mereka mau nikah juga, tuh lihatkan cincinmu, Ina.”

Aku hampir menangis saat itu ketika mendapati kenyataan jika Kai memiliki wanita lain di belakangku. Kenapa dia membohongiku? Kenapa dia mendekatiku? Kenapa dia membuatku tersakiti? Kenapa dia membuat luka yang sama seperti yang di berikan Alif padaku?

“Ya sudah, sekarang kamu ngaku nggak, kalau kamu pacarnya Kai?” Tanya gadis itu lagi.

“Enggak mbak!!” Jawabku tegas. “Aku cuma punya satu pacar, namanya Alif, dia sekarang sedang ke kalimantan. Kai cuma temannya, dan dia cuma temanku.” Jawabku setegas mungkin dan berharap suaraku tidak bergetar saat itu.

“Ya sudah. Kalo Kai ke rumahmu lagi, bilang, suruh nemuin Ina. Dan kalau bisa, jangan bolehin dia main ke rumahmu lagi. Kamu nggak kasihan sama Ina yang baik ini?”

“Ti, sudah, aku nggak apa-apa.” Ucap gadis yang bernama Ina itu dengan sedikit menenangkan temannya yang sejak tadi terlihat sedikit emosi.

“Ya sudah mbak. Nanti ku kasih tahu orangnya.” Jawabku setenang mungkin. Padahal saat itu perasaanku sudah tidak karuan.

Aku dan Nana akhirnya melanjutkan perjalanan pulang kami. Sesekali Nana menggerutu tidak percaya dengan apa yang di katakan para gadis itu. Bagi Nana, Kai adalah orang baik-baik.

Ahh ya, aku belum cerita, Kai itu adalah sepupu dari Ale, pacar Nana. Nana tentu kenal dekat dengan Kai, dan dia sama sekali tidak percaya kalau Kai itu memiliki pacar lain selain aku. Sedangkan aku sendiri, sama sekali tidak menghiraukan pendapat Nana, pikiranku terlalu penuh dengan berbagai macam pikiran tentang Kai. Bayangan-bayangan saat Kai mencoba mendekatiku pun mencuat begitu saja.

 

Aku ingat, saat itu adalah hari kedua aku resmi menjadi kekasih Kai. Kai bercerita banyak tentang dirinya semasa hidup di Malang. Dia memiliki banyak Pacar. Tapi seluruhnya bukan wanita baik-baik. Aku tidak percaya, tentu saja. Memangnya aku mau di bodohi sama dia. Lalu besok malamnya ketika kami ketemuan kembali, Kai membawa beberapa Foto kedekatannya dengan beberapa gadis yang di sebut dengan mantannya. dan saat itu aku baru sadar, kalau Kai memang lelaki yang dengan gampang menunjuk mana wanita yang dia inginkan.

Saat aku bertanya. “Kenapa kamu nggak cari wanita baik-baik buat di jadikan pacar Mas?”

Dia menjawab “Wanita baik itu bukan untuk di jadikan pacar. Tapi untuk di jadikan istri.”

Aku tertawa dengan gombalannya. “Lah berarti aku bukan wanita baik-baik dong?”

“Memangnya kamu pacarku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku malu. astaga, bagaimana mungkin dengan begitu PDnya aku mengakui diri sebagai pacarnya.

“Uumm, nggak tahu lah.”

“Kalau aku nganggep kamu calon istriku, gimana?”

Tubuhku saat itu kaku seketika. Calon istri? Aku bahkan baru Lima belas tahun saat itu.

 

Aku ingat hari itu kami banyak tertawa, dan berakhir dengan kecanggungan karena Kai membahas tentang calon istri. tapi fokusku saat ini bukan pada bagian percakapan manis kami, tapi lebih pada bagian Kai yang mengaku memiliki banyak kekasih di luar sana.

Kai sudah mengakui sejak awal padaku, jika dia memiliki banyak kekasih di luaran sana, bukan tidak mungkin Ina adalah salah satunya.

Dan astaga, betapa bodohnya aku menaruh hatiku pada seorang Kai…

Ya, tidak bisa di pungkiri jika aku sudah mulai jatuh hati pada sosok Kai, sosok yang mampu mengalihkan perhatianku dari Alif, sosok yang sangat perhatian padaku, sosok yang pada saat itu membantu mengobati lukaku akibat kehilangan seorang Alif.

Ya, dalam waktu singkat, Kai membuatku jatuh cinta padanya.

Tapi aku sadar jika semua ini salah. Kai bukan orang baik untuku, dan aku tidak ingin melanjutkan kesalahan ini, aku tidak ingin tersakiti lebih jauh lagi nantinya, hingga kemudian, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya keesokan harinya..

Kai… maafkan aku, aku hanya tidak ingin kembali tersakiti… maaf….

***
Malam itu juga aku mengirim pesan pada Kai.

Aku : ‘Mas, aku pengen ketemu besok malam.’

Tak lama, ponselku kembali berbunyi, tanda Kai membalas pesanku.

Kai : ‘Beneran? Kamu kangen? Di mana Dek?’

Aku : ‘Di sekolah SD ku sedang ngadain pentas seni, kita ketemuan di sana saja Mas. Sambil nonton.’

Kai : ‘Ya sudah, ku jemput jam 7, Dek.’

Aku : ‘Jangan, aku di antar Mas Sani nanti.’ (Kalo kalian pernah baca cerita The Lady killer, pasti kenal Renno, nah Sani ini adalah Rennoku dalam dunia nyata hahahahha).

Kai : ‘kok di antar Sani?’

Aku : ‘Ya, aku sekalian ada perlu sama dia.’

Kai : ‘Baiklah. Met Bobok Dek.’

Dan aku tidak lagi membalas SMSnya itu. Aku seakan mencoba memungkiri sikap manis yang di berikan Kai padaku. Maaf Kai, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam.

***

Besok malamnya… tepat hari ke 9 aku jadian dengan Kai. Kai menatapku ketika aku sampai di tempat kami janjian saat itu.

Sani yang mengantarku, ikut turun dari motornya lalu berjalan mengikutiku tepat di belakangku. Ahh ya, sedikit cerita tentang Sani, Sani adalah laki-laki yang mengenalkanku dengan Alif. Bisa di bilang, dia mak comblangku. Dia itu naksir berat dengan temanku yang bernama Dewi, tapi sayangnya, Dewi hanya memanfaatkan Sani. Dari situ, aku sempat menaruh hati pada Sani. Ahhh kalian jangan bilang siapa2 yaa.. huehehehehe. Tapi sayang sekali, Sani malah mengenalkan aku dengan Alif, dan mencomblangkanku dengannya. Akhirnya, perasaanku ku kubur begitu saja dan aku belajar mencintai sosok Alif.

Kembali pada permasalahan.

“Loh dek, kita jalan bertiga?” Tanya Kai sambil menatap Sani.

Akhirnya aku menoleh ke belakang dan mendapati Sani masih berdiri di belakangku.

“Kamu kok masih di sini Mas?” Tanyaku pada Sani.

“Aku mau nemenin kamu.”

“Kan sudah ada Aku, San.” Kai menyahut.

“Ingat Kai, Alif yang nyuruh aku jagain dia, bukan kamu.”

Oke, aku bingung. Kenapa mereka bawa-bawa nama Alif?

Aku melihat Kai maju mendekat ke arah Sani.

“Hei, San, kamu juga harus ingat, kalau kamu saat itu nggak mau kan di suruh jagain Jeni buat Alif? Makanya kamu nyuruh aku yang jagain Jeni.”

“Loh, kalian ngomong apa sih?” Aku semakin bingung disini. Jadi, Alif dalang semua ini??

“Gini dek, aku bisa jelasin.” Kai mulai menarik tanganku sedikit menjauh dari Sani, sedangkan Sani hanya bisa menatap kami sedikit lebih jauh.

“Dek, sebenarnya, Alif nyuruh Sani jagain kamu, biar kamu nggak pacaran atau dekat dengan cowok lain selama dia merantau, tapi saat itu Sani nggak mau, jadi dia nyuruh aku buat jagain kamu Dek.”

Shock. Itulah yang ku rasakan saat itu. M mm mmbmmm mhihgighjhogjmhkhJADI INI SEMUA DALANGNYA SI ALIF????

“Oh, jadi di sini aku cuma mainan kalian?”

“Bukan gitu Dek, Alif itu benar2 sayang sama kamu Dek, dia cuma nggak mau kamu kenapa2 makanya nitipin kamu sama teman2 terdekatnya.”

“KALO DIA SAYANG, DIA NGGAK AKAN NINGGALIN AKU TANPA PAMIT MAS.” Aku berteriak. Ya, aku masih ingat dengan jelas jika saat itu aku berteriak keras ke arah wajah Kai.

“Ninggalin? Dia kan masih hubungin kamu, kamu pikir aku nggak tahu?”

Tububku tegang seketika. Ya, sekitar lima hari entah satu minggu setelah Alif pergi, Alif kembali menghubungiku. Saat itu dia sudah berada di kota Bontang kalimantan timur. Hubungan kami canggung, hanya sebatas tanya kabar, itu saja. Dan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun, entah teman-teman terdekatku, atau Kai sekalipun. Aku hanya bilang kalau Alif meninggalkanku, dan kami sudah putus hubungan, padahal bukan seperti itu. Tapi darimana Kai mengetahui hal itu?

“Mas, darimana bisa tahu kalau Mas Alif masih hubungin aku?”

“Maaf, tapi aku pernah meriksa Hpmu, Dek.”

“Kok, kamu periksa sih? Kenapa?”

“Dek, memang awalnya aku cuman bantu Alif jagain pacarnya, tapi…”

“Tunggu mas, ada yang lebih penting. Ina itu siapa?” Tanyaku secara langsung sebelum keberanianku menghilang.

Kai diam seketika. Tiba-tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa? Apa dia benar-benar memiliki hubungan serius Dengan Ina?

“Kenapa Mas? Ina pacar kamu?”

Kai masih tidak menjawab.

“Teman-temannya ngelabrak aku kemaren, katanya aku ngerebut kamu dari Ina, jadi Ina beneran pacar kamu?”

“Ya.” Jawabnya dengan santai.

“Kamu kok tega sih Mas, lalu apa bedanya kamu dengan Alif yang nyakitin aku?”

“Kita nggak ada bedanya Dek, kamu juga masih diam-diam smsan dengan Alif di belakangku.”

“Itu karena Alif pacarku.”

“Ina juga pacarku, dia bahkan sudah tunangan denganku!” Kai sedikit membentakku.

Aku terpaku melihat Kai yang terlihat Emosi. Dia benar-benar sudah memiliki tunangan. Dan bagaimana mungkin aku bisa menyukainya? Astaga.

“Gini Dek, kita nggak ada bedanya. Walau kita pacaran, kamu masih hubungan dengan pacarmu si Alif itu, kamu hanya melihatku sebagai pelarianmu Dek, iya kan?”

“Mas, kenapa seakan di sini aku yang salah?”

“Ya, kamu yang salah, kamu yang sudah buat aku berpaling.”

“Berpaling?” Aku masih bingung.

“Ya sudah lah, nggak ada gunanya aku jelasin sama kamu, sekarang mau kamu apa? Aku turutin.”

“Sampai di sini saja, mas.”

Kai menatapku, Dia terdiam cukup lama, hingga kemudian dia kembali bersuara.

“Kamu minta putus karena akan balikan sama Alif?” Aku hanya diam. “Ya sudah, terserah kamu.”

Kai pergi begitu saja, dan yg bisa ku lakukan hanyalah menangis. rasa ini rasa yg sama seperti Alif meninggalkanku.

“Jen.” Suara Saninmembuatku berbalik dan menatap ke arah Sani yang sudah berdiri tepat di belakangku.

“Maafkan aku, aku yg sudah membuatmu kenal dengan  Alif dan juga Kai. Maaf.”

Aku tak menghiraukannya, yang bisa ku lakukan saat itu hanyalahh menangis, menangis dan menangis.

***

Hampir 3 tahun berlalu… tepatnya bulan 7 – 2010

Banyak kejadian yang menimpaku selama kurun waktu hampir 3 tahun terakhir. Setelah putus dengan Kai pada saat itu, aku bukan lagi menjadi diriku sendiri.

Satu hal yang perlu ku ingat dan menjadi pelajaranku saat itu, jika hidup adalah sangat berharga, nikmatilah hidup selagi kamu masih bisa, jangan terlalu terbawa perasaan, keGR-an berlebihan, dan jangan terlalu menyukai orang jika kamu tidak ingin merasakan sakit pada akhirnya.

Aku benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Bahkan teman-temanku berkata jika aku terlalu berani.

Setelah putus dengan Kai, aku berpacaran dengan Sani, dengan Randy, dan entah dengan siapa lagi yang semuanya adalah teman dekat Alif. Aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bagaimana caranya aku melupakan Sosok Alif…

Ya, sosok Alif selalu berputar -putar pada kepalaku. Bahkan ketika kami kembali putus hubungan -benar2 putus Kontak- selama dua tahun.

Beberpa bulan setelah putus dengan Kai, aku memutuskan untuk ikut orang tuaku merantau ke kota Samarinda. Melanjutkan sekolahku disana, dan melupakan semua masalaluku ketika hidup di desa. Hanya saja, Alif masih selalu menghantui pikiranku. Dia seakan tidak ingin pergi dari otakku. Bahkan Kai saja aku sudah lupa bagaimana rupanya, tapi tidak dengan Alif.

Dan kini, bulan 7 – 2010 adalah saat dimana aku kembali lagi pulang ke desa.

Aku lupa, tepatnya itu hari ke berapa aku kembali pulang. Tapi seingatku saat itu aku baru pulang dari tes masuk perguruan tinggi di kota lamongan.

Ponselku berbunyi. Aku mengernyit saat menadpati sebuah sms dengan nomor baru di ponselku tersebut.

‘Apa kabar Dek?’

Aku tidak tahu itu siapa, tapi aku berani jamin jika itu adalah mantan pacarku dulu. Ya, semua mantan pacarku pasti memanggilku dengan panggilan Dek.

‘Ini siapa ya.’ Balasku.

‘Kai.’

Hanya tiga huruf tapi itu sukses membuat jantungku kembali dag dig dug seakan ingin meledak.

Aku terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yg terjadi. Kai kembali menghubungiku, kenapa? Kenapa pada saat seperti ini? Pada saat aku kembali menjalin kasih dengan Alif?

Ya, aku kembali jadian dengan Alif.

Alif ternyata sudah kembali pulang sejak bulan 5 – 2010. Dia meminta nomer Hp ku pada teman terdekatku. Akhirnya Alif menghubungiku. Sempat kaget saat itu, dan entahlah, bagaimana euforianya hatiku saat itu. Hanya saja aku mencoba meredamnya. Berpisah selama hampir 3 tahun, dan 2 tahun sisanya sama sekali tidak menjalin komunikasi membuatku merasa jauh dengan Alif. Akhirnya kami hanya say hallo, tanya kabar, dan sedikit bercerita. Tapi kemudian dia mengajakku kembali menjalin kasih, dan dengan bodohnya aku kembali menerimanya.

Kini, ketika aku sudah kembali ke kampung tempat asalku, aku kembali bertemu dengan Alif. Dan kami benar2 kembali menjalin kasih.

Tapi kenapa Kai datang pada saat seperti ini?? Karena lama aku tidak membalas Sms darinya, Kai akhirnya meneleponku, dan mau tak mau aku mengangkatnya.

“Kamu sudah pulang, Dek?”

“Ah, ya.”

“Aku tadi nggak sengaja lihat kamu, pas aku nongkrong di toko kaset tempat langganan kamu dulu beli kaset. Kamu beda ya?”

“Beda apanya mas?”

“Sekarang sudah bisa dandan. Dan… cantik.”

Oke, aku ingin berteriak saat itu juga bahwa AKU TIDAK SUKA DI RAYU!!!!

“Ah, biasa saja mas.”

“Kata teman-teman kamu pulang karena mau lanjutin sekolah di kota ya?”

“Iya.”

“Ngambil jurusan apa, Dek?”

“Informatika dan jaringan, Mas.”

“Wah, pinter main komputer dong nanti, mau ngajarin Mas nggak nanti?”

Astaga, aku ingin melempar ponselku saat itu juga. Apa Kai sedang menggodaku?

“Maaf mas, aku sibuk, lain kali lanjut lagi ya.”

“Dek.. dek..” aku menghentikan aksiku yang mau memutuskan telepon Kai ketika aku mendengar panggilannya.

“Apa mas?”

“Aku kangen sampean.” (Bhs. Indo : Aku kangen kamu)

Kai menutup teleponnya begitu saja. Sedangkan aku sendiri masih tecenung mendengar ucapannya barusan. Jen, cuman kangen, ingat, cuma kangen. Nenekmu juga kangen kamu, so what? Bukan masalah penting. Pikirku.

***

Hari berlalu terasa sangat cepat. Hingga tak terasa sudah bulan September 2010.

Aku menikah.

Ya, aku menikah, bukan dengan Kai, tapi dengan Alif. Banyak hal yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dan yang paling tidak bisa ku lupakan hingga kini adalah ketika aku dengan kekeras kepalaanku menyakiti hati kedua orang tuaku, karena aku memilih menikah dengan Brandalan seperti Alif, di bandingkan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Alif bukan orang yang dapat di banggakan. Aku tahu itu. Dia pengangguran, tukang mabuk, dan dia sesekali menggunakan obat. -itu dulu- tapi entahlah, sepertinya perasaanku sudah di butakan oleh cinta. Entah apa yang kulihat dari dia hingga aku berani melawan kedua orang tuaku.

Ahhh mungkin Alif memang jodohku… pungkasku.

Tepat tgl 26 September 2010. Kami sah menjadi suami istri. Meski bapak sempat tidak merestui hubungan kami, tapi akhirnya beliau menerima Alif. Bahkan pesta pernikahanku saat itu di selenggarakan dengan sangat meriah.

Semua yg di undang hadir. Tapi ada dua orang yang tidak hadir dalam pernikahanku. Yang pertama, Sani. Dia tidak hadir, entah karena apa. Padahal aku sangat berharap dia hadir. Terlepas dari aku yang pernah menjalin kasih dengan Sani, Sani adalah orang yang sudah mengenalkanku dengan Alif, dia mak comblang kami, tentu saja aku ingin dia hadir. Tapi nyatanya, dia tidak hadir.

Yang kedua, Kai…..

Ya, dia tidak hadir. Kai saat itu memang sudah lulus kuliah, dan kerja di daerah malang, tapi setiap sabtu dan minggu, dia pasti pulang. Dan pernikahanku saat itu memang jatuh pada hari sabtu dan minggu, tapi dia tetap tidak datang. Entahlah, apa yang terjadi dengannya. Tapi ku harap, hubungan kami nanti tetap baik.

Walau hanya menjadi seorang teman.

***

Pagi itu, aku masih ingat, tepat tanggal 27 september 2010. Aku bangun mendapati Alif yang sudah di sebelahku. Astaga, rasa debar-debar itu hadir begitu saja, aku masih tidak percaya jika aku akan berakhir di plaminan dengan Alif.

Aku bangun, lalu mandi. Dan ketika aku kembali masuk ke dalam kamar, Alif sudah duduk menungguku.

“Nggak mandi, mas?”

“Nanti aja.” Jawabnya.

“Pemalas.” Dan alif hanya menampilkan cengirannya.

“Dek, kamu nggak mau bukain itu?” Alif bertanya sembari membuka bungkusan-bungkusan kado yang berada di ujung ruangan.

Aku tersenyum penuh semangat. ahh ya, kata teman-temanku, salah satu yang mengasyikkan ketika menjadi pngantin baru adalah membuka kado dan juga amplop yang di terima dari sanak dan teman yang hadir.. hahahahhaha dan pagi itu, aku berdua dengan Alif sibuk membuka kado dari teman-teman kami.

Sialan!!! Kebanyakan kado berisi barang yang tidak penting. Bahkan bisa di bilang membuat ngakak sampek perutku mulas.

Ada yg memberi sebungkus kondom, pil kontrasepsi, plastik2 bekas, mentimun, mangga muda (apa mereka pikir aku mau buka warung rujak?) Dan masih banyak lagi kado2 tidak masuk akal yg membuat ngakak.

Tapi kemudian, ada sebuah kado yang membuatku tercenung cukup lama sebelum membukanya.

Kado dari Kai…

“Kenapa Dek?” Tanya Alif.

Aku sadar saat Alif bertanya padaku. “Ini, dari Kai, dia ke sini? Kok aku nggak lihat?”

“Dia nggak datang, cuma dia nitip itu aja buat kamu katanya.”

Aku tidak akan menulis di sini apa yang di berikan Kai padaku saat itu. Hanya saja, note yang di tulis Kai masih dapat ku ingat hingga saat ini.

‘Semoga berbahagia dek, aku yakin, Alif yang terbaik untuk kamu. Salam sayang, Kai.’

Alif bahkan ikut membaca note tersebut, dan berakhir tertawa lebar.

“Lebay.” Kata Alif.

Ya, Alif memang bukan orang yang romantis. Dan aku yakin, dia tidak akan pernah memperlakukanku seromantis mantan-mantanku yang lainnya.

“Apaan sih mas.”

“Kamu pernah jadian sama Kai?”

“Kenapa memangnya?” Aku balik bertanya.

“Kai pernah bilang sama aku, pas aku baru pulang bulan 5 kemaren. Dia minta maaf karena pernah jadian sama kamu, dan katanya sih, dia beneran suka sama kamu.”

“Ah yang bener mas?”

“Iya Dek, aku nggak bohong.”

“Tapi kan dia udah punya tunangan mas.”

“Tunangan? Dia udah putus lama kali dek sama tunangannya itu, bahkan sebelum aku berangkat ke kalimantan waktu itu.”

“Terus, kenapa dia nggak bilang sama aku?”

Alif mengangkat kedua bahunya. “Aku nggak tahu. Sudah lupain aja, jangan inget-inget dia lagi.”

“Kenapa?”

“Kok kenapa? Kamu kan sudah punya suami, masa inget-inget cowok lain sih?”

“Hahahha iya, aku lupa.”

Alif menyentil keningku. “Dasar bocah gemblung. Sudah, aku tak mandi dulu.”

Akhirnya Alif keluar dari kamar, dan mandi. Sedangkan aku, hanya mampu menatap bingkisan kertas kado dari Kai dengan mata nanar tapi dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.

Kai…. mungkin kita tidak berjodoh. Tapi aku yakin, Tuhan menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu. Terimakasih, sudah pernah mengisi hariku, saat Alif tak berada di sisiku. Terimakasih…..

 

***The End***

Advertisements

3 thoughts on “Mengenangnya (With Kai) – Cerpen True story

  1. hidup u indah yaa bu penuh warna , terlepas dari semua mantan u ternyata bapa na bella mang jodoh terbaik u … btw kai apa kabar , udah nikah belom dia , gmn perasaan ibu ql sekrang ketemu ma kai , masih suka deg”an ga ??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s