romantis

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 3(End)

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Haii haii.. maap ngaret yaa.. hahahha tadi malam aku asih gonta ganti tampilan blog biar yg baca blog ini nggak bosen, ehh akhirnya aku ketiduran.. buahaahhaha jadi baru sempat Up siang ini deh… happy reading aja dehh kalo gitu… di bawah link untuk part 1 dan part 2 nya yaa…

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

***

Part III

-Bintang-

 

Lumatan itu semakin melembut. Mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Ciuman ini semakin intens, membuatku sesekali mendesah saat menikmatinya.

Mas Robby melepaskan cekalan tangannya pada tanganku, kini kedua telapak tangannya menangkup kedua pipiku, sedangkan bibirnya masih tak berhenti mencumbuku. Oh, aku benar-benar merindukan dia, merindukan ciumannya, sentuhannya, dan kasih sayangnya, bolehkah aku berharap supaya dia kembali padaku?

Tiba-tiba bayangan seorang anak laki-laki kecil dengan seorang wanita menghampiri pikiranku. Bagaimana mungkin aku kini berciuman dengan sorang laki-laki yang mungkin saja saat ini sudah beristri? Meski dia dulu belum menceraikanku, tapi ku pikir kami sudah berpisah setelah lebih dari Lima tahun tak bertemu. Apalagi kenyataan jika Mas Robby memiliki seorang putera, pasti kini dirinya sudah memiliki seorang istri.

Sekuat tenaga kudorong dada Mas Robby menjauh dari tubuhku, melepaskan pangutannya pada bibirku dengan napas yang sudah terengah.

“Kita tidak bisa melakukan ini.” Ucapku dengan suara yang sudah bergetar. Kumohon, jangan menangis sekarang Bintang. Lirihku dalam hati.

“Kenapa? Kamu masih menyangkal masalalu kita?” tanyanya dengan kening yang berkerut seperti sedang menahan suatu kesakitan.

Aku melihat mas Robby memijit pelipisnya sendiri. Apa dia sedang sakit?

“Dengar Bintang, walau aku belum dapat mengingat dengan jelas bagaimana hubungan kita, tapi aku cukup tahu, kalau… kalau…” Mas Robby tak dapat melanjutkan kalimatnya karena tubuhnya lebih dulu ambruk ke lantai. Dia pingsan, dan aku berteriak panik.

***

Aku menatap lelaki yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Astaga, hal ini terulang lagi. Masih teringat jelas di dalam otakku ketika menatap mas Robby yang terbaring tak berdaya lima tahun yang lalu. Saat itu aku di paksa untuk meninggalkan dia. Dan aku benar-benar pergi meninggalkannya.

Kini, setelah aku membangun hidup beru dengan Bulan, kenapa dia kembali bertemu denganku? Apa takdir belum puas mempermainkanku?

Aku menjauh darinya. Pergi ke Jakarta dan hidup di lingkungan kumuh. Tapi aku tidak pernah menyangka jika lagi-lagi aku akan bertemu dengannya.

Aku mengusap air mataku yang tidak berhenti menetes. Lima tahun berlalu dan hatiku tetap sama, aku tidak bisa berpaling pada laki-laki lain, dan jujur saja, aku tidak dapat membayangkan jika Mas Robby memiliki wanita lain.

Tuhan, aku harus bagaimana? Aku harus seperti apa? Aku tidak bisa membiarkan dia berada di dekatku saat aku tahu jika semua itu akan menyakiti hati wanita lain. Dengan tekad bulat aku berdiri dan bersiap meninggalkannya. Tapi ketika kakiku akan melangkah pergi, pergelangan tanganku di cekal oleh Mas Robby.

“Jangan pergi.” Lirihnya.

Aku menatap ke arah Mas Robby seketika. Matanya sudah terbuka, dan tampak berkaca-kaca.

“Aku sudah mengingatmu, jangan pergi.” Ucapnya lagi dengan suara nyaris tak terdengar. Dan dengan spontan aku menghambur ke arahnya untuk memeluknya erat-erat.

“Aku merindukanmu Bintang. Aku merindukanmu.”

Aku menangis sesenggukan saat mendengar ucapannya.

“Kenapa kamu tidak mencariku? Kenapa kamu meninggalkanku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Lanjutnya yang kini ku yakini jika mas Robby sudah ikut menangis denganku.

***

-Robby-

 

Ini sudah tiga hari aku di rawat di rumah sakit. Semua ingatkanku tentang Bintang sudah kembali pulih. Bintang istriku, dan aku berniat untuk menikahinya lagi nanti ketika aku sudahg sembuh. Selama tiga hari terakhir, Bintanglah yang merawatku di rumah sakit.

Ibuku bahkan tidak tahu jika aku sakit dan ingatanku sudah kembali pulih. Aku hanya menghubungi Ibu di malam pertama aku di rawat di rumah sakit, memberikan alasan jika aku harus keluar kota selama seminggu lamanya. Ya, dengan begitu Ibu tidak akan curiga saat aku sudah kembali bersama dengan Bintang.

Hubunganku sendiri dengan Bintang sudah kembali membaik. Bintang tak lagi menyangkal masa lalu kami. Dia bahkan membantu merawatku selama tiga hari terakhir. Sedangkan Bulan, ia titipkan sementara di rumah tantenya.

Aku melihat pintu ruang inapku di buka seseorang. Itu pasti Bintang. Saat sore seperti saat ini, dia memang datang, dan menemaniku hingga pagi. Bintang masuk, dia terlihat sedang membawakan sesuatu untukku.

“Sudah baikan Mas?” tanyanya sambil meletakkan rantang mungil di mejat tepat sebelah ranjang yang sedang ku baringi. Kepalanya tak berhenti menunduk, dan aku tahu jika dia masih bersikap canggung terhadapku.

“Belum.” Jawabku dengan suara parau.

“Kata dokter kamu sudah boleh pulang hari ini.”

“Tapi aku tidak ingin pulang.”

“Kenapa?”

“Di rumah tidak ada yang merawatku seperti kamu merawatku. Aku ingin kamu selalu perhatian seperti sekarang ini, meski aku harus sakit dulu.”

“Kamu nggak boleh ngomong gitu Mas, istri dan anak kamu pasti bingung nyariin kamu.”

“Kamu istriku, Bulan anakku.” Jawabku cepat.

“Mas, jangan begini. Oke, aku sudah mengakui jika kita memiliki masa lalu, tapi kumohon, jangan membawa masalalu untuk menghadapi masa yang akan datang. Aku sudah bahagia dengan Bulan, dan aku yakin kamu juga sudah bahagia dengan istri dan puteramu.”

“Bintang.”

“Mas, ini terakhir kalinya aku ke rumah sakit menjengukmu. Aku tidak mau merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita lain.”

“Wanita lain?” Aku bangun seketika. “Bintang, kamu salah paham. Aku tidak memiliki wanita lain.”

“Jangan bohong Mas, lalu bagaimana bisa ada Ivander kalau kamu tidak memiliki istri?”

“Astaga, jadi aku belum bercerita denganmu? Ivander adalah anak yang ku adopsi dari salah satu panti asuhan di Bandung. Usianya bahkan lima bulan lebih tua daripada Bulan. Kalau dia anakku sendiri, itu tandanya aku sudah menghianatimu ketika kita masih bersama dulu, Bintang.”

Aku melihat raut terkejut yang di tampilkan Bintang. Jadi selama ini dia salah paham terhadapku? Dia menyangka jika aku sudah menikah dan bahagia dengan wanita lain? Yang benar saja. Meski aku hilang ingatan, tapi hatiku seakan tidak kehilangan memorinya. Hatiku selalu menolak jika aku dekat dengan wanita lain, dan kini aku baru sadar jika semua itu karena hatiku sudah menyisihkan tempat abadi untuk seorang Bintang, meski ketika otakku tak dapat mengingatnya.

Secepat kilat kuraih pergelangan tangan Bintang kemudian menariknya hingga kini Bintang duduk di atas ranjang rumah sakit dengan posisi membelakangiku. Aku memeluk tubuh Bintang seketika lalu menyandarkan daguku pada pundaknya.

“Mas.”

“Kenapa kamu ninggalin aku? Kenapa kamu pergi dariku?”

“Uum, aku..”

“Apa ibu yang menyuruhnya?” tanyaku penuh selidik.

“Mas, bukan begitu. Saat itu aku perlu dana untuk operasi kamu. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa selain pada keluarga kamu.”

“Jadi kamu benar-benar datang kerumah ibu dan meminta pertolongan padanya?”

Bintang hanya menganggukkan kepalanya.

“Apa Ibu memaksamu pergi?”

Bintang menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, tapi aku cukup tahu diri karena aku merasa bersalah sudah membuat hidupmu sesah saat bersamaku, Mas. Aku nggak mau melihat kamu menderita.”

“Tapi tidak dengan meninggalkanku Bintang. Aku memang hilang ingatan, tapi hatiku selalu merasakan perasaan sesak tak nyaman, seperti ada sesuatu yang nggak seharusnya aku lupakan.”

“Maafkan aku.” Hanya itu yang di ucapkan Bintang.

Aku menghela napas panjang. “Oke, aku akan memaafkanmu, asalkan kamu mau menikah kembali denganku.”

Bintang membulatkan matanya seketika. “Mas. Aku nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Ibu tidak akan merestui kita.”

“Aku tidak peduli. Aku tetap akan menikahimu kembali.” Tegasku tak terbantahkan.

***

Aku akhirnya pulang, dengan Bintang dan Bulan bersamaku. Bintang terlihat gugup, dan tampak sekri raut ketakutan di wajahnya. Hanya saja aku selalu menggenggam tangannya, menenangkannya suapaya dia tidak gugup.

Sampai di rumah Ibu, aku lantas masuk masih dengan menggenggam telapak tangan Bintang. Sedangkan Bulan sudah tertidur dalam gendonganku.

“Robby, akhirnya kamu..” kalimat ibu menggantung ketika melihatku yang sudah berdiri dengan Bintang di sebelahku.

“Kenapa.. Kenapa..” Suara ibu terpatah-patah.

“Harusnya aku yang tanya Bu, kenapa ibu tega memisahkan kami?” tanyaku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, padahal kini emosiku sudah memuncak di kepala.

“Robby, Ibu nggak memisahkan.”

“Oh ya? Tapi kupikir dengan tidaak menceritakan tentang Bintang saat aku hilang ingatan, itu sama saja memisahkanku dengan Bintang Bu, lihat, aku sudah memiliki seorang puteri yang berusia lebih dari lima tahun, dan aku baru mengetahui kenyataan itu kemarin? Ibu pikir bagaimana perasaanku?”

“Robby, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Dan yang terbaik untukku hanya bersama dengan Bintang, Bu. Tolong Ibu mengerti.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku pada Bintang. Sedangkan dari sudut mataku, kulihat Bintang semakin menundukkan kepalanya.

“Bu, hanya dia yang mampu membuatku melupakan Allea, hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta lagi. Jadi kumohon, jangan memaksaku untuk meninggalkan dia.”

“Robby.”

“Aku akan kembali menikah dengannya. Dan keluar dari rumah ini dengan Ivander.”

“Mas.” Ucap Bintang. “Kamu nggak perlu lakuin itu.”

“Kenapa? Aku hanya ingin hidup bersama dengan orang yang kucintai, bersama istri dan anak-anakku.”

“Tapi kamu nggak bisa kembali menentang ibu, lalu berakhir mengerikan seperti lima tahun yang lalu. Aku nggak sanggup melihat kamu hidup susah Mas.”

“Kamu pikir aku sanggup melihatmu dan Bulan hidup susah seperti sekarang ini? Kamu pikir aku dapat memaafkan diriku sendiri saat tahu jika aku sudah melupakan kalian selama lima tahun terakhir?”

Bintang hanya diam, Dia menundukkan kepalanya menyadari jika perkataanku memang benar.

“Aku akan tetap pergi dari rumah ini jika Ibu masih tak dapat menerima hubungan kita.” Tegasku sekali lagi, lalu menyeret paksa Bintang masuk menuju ke kamarku.

***

Lima bulan berlalu…

Aku akhirnya bisa hidup bersama lagi dengan Bintang, Bulan, dan juga Ivander. Malam itu ketika aku pulang kerumah membawa Bintang dan Bulan, aku langsung pergi begitu saja meninggalkan rumah dengan membawa Ivander bersamaku.

Tiga hari setelahnya, aku kembali melakukan pernikahan dengan Bintang. Dan pernikahanku itu lagi-lagi tanpa restu orang tuaku.

Aku tidak mengetahui lagi bagaimana kabar Ibu. Mengingatnya membuatku sedih. Aku tidak bisa bersikap kasar pada Ibu, dan sebenarnya aku juga tak bisa meninggalkannya, tapi bagaimana lagi, aku juga tak dapat meninggalkan Bintang dan Bulan. Mereka terlalu berharga untukku. Dan mereka membutuhkanku. Akhirnya kini, kami hidup bersama sebagai keluarga kecil di dalam rumah kontrakannya.

Tentang pekerjaan, aku tetap bekerja di kantor Renno. Tentu saja aku membutuhkan pekerjaan yang bagus, mengingat kini aku memiliki dua orang anak yang harus di cukupi kebutuhannya. Beruntung Renno masih menerimaku dengan senang hati.

Berkali-kali Renno menasehatiku, menyuruhku untuk pulang. Tapi aku tak pernah mengindahkan sedikitpun nasehatnya. Yang ku ingin hanya satu, Ibu merestui hubunganku dan juga Bintang, sesederhana itu, maka aku akan kembali pulang. Tapi jika Ibu masih bersikukuh pada keinginannya, maka sampai kapanpun aku tidak akan pulang.

Aku melangkah, menuju ke sebuah kamar tempat Bulan dan Ivander tertidur nyenyak. Di sana masih ada bintang yang merapikan baju sekolah yang akan mereka kenakan besok.

Tanpa banyak bicara lagi, kupeluk erat tubuh Bintang dari belakang, sesekali mengecupi tengkuk lehernya.

“Sudah malam, kamu nggak istirahat?” tanya ku dengan suara parau.

“Sebentar lagi selesai. Aku harus menyiapkan semuanya supaya besok mereka tidak telat.”

“Istriku sangat rajin.” Aku kembali menggodanya, telapak tanganku kini bahkan sudah menyusup masuk di balik baju yang ia kenakan.

“Mas..”

“Aku merindukanmu.” Bisikku parau. Dan tanpa banyak bicara lagi aku memutar tubuh Bintang hingga menghadapku seutuhnya. Lalu kulumat habis bibirnya, mencumbu dengan panas hingga dia terengah. Ohh Bintang, kamu membuatku gila.

Akhirnya aku membimbingnya keluar dari kamar anak-anak menuju ke kamar kami. Sampai di dalam kamar, aku kembali menarik tubuhnya hingga menempel pada tubuhku, lalu kembali mencumbu bibir ranumnya, menggodanya hingga dia kewalahan dengan gairah yang berasal dariku. Sampai kemudian kami berakhir dengan tubuh menyatu, mengerang satu sama lain, dan saling menatap dengan tatapan penuh cinta masing-masing.

***

Keesokan harinya…

Aku melihat Bintang masih sibuk menyiapkan bekal anak-anak di dapur, tapi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengodanya. Dengan santai aku memeluknya dari belakang. Aku bahkan tidak menghiraukan Bulan dan Ivander yang sedang sibuk menyantap sarapannya di meja makan.

“Mas, aku nggak enak di lihat anak-anak.”

“Memangnya kenapa? Mereka pasti mengerti kalau Papanya sangat mencintai Mamanya.”

“Ya, aku tahu, tapi tidak perlu mempamerkan kemesraan kita di depan mereka.”

“Biarlah, toh mereka asik dengan urusannya sendiri kan?” Bulan hanya menghela napas panjang, tanda jika dia mengalah dengan perdebatan kecil kami.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Aku mengerutkan kening ketika mendapati nomor baru yang menghubungiku.

“Halo?” akhirnya kau mengangkat telepon tersebut, karena ku pikir mungkin itu hal penting.

“Mas, cepat ke rumah sakit Centra Medika, ibu kena serangan jantung.” Tubuhku menegang seketika. Itu Tannia, adikku. Suaranya terdengar panik dan ketakutan. Dan astaga, dia bilang ibu terkena serangan jantung?

Aku tercengang cukup lama, hingga kau beru sadar ketika Bintang memanggil-manggil namaku.

“Ada apa Mas?”

“Kita harus ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit?”

“Ibu kena serangan jantung.” Bintang terkejut dengan jawabanku, secepat kilat ia membereskan peralatan dapur. Kemudian membereskan keperluan Bulan dan Ivander.

“Aku akan menghubungi guru mereka kalau hari ini mereka ijin.” Aku menganggukkan kepalaku begitu saja. Pikiranku terlalu kosong. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ibu? Apa yang harus ku lakukan? Aku benar-benar anak yang durhaka.

***

-Bintang-

Mas Robby terlihat sangat ketakutan. Aku tahu apa yang di rasakannya. Tentu dia takut kehilangan ibunya sebelum ia meminta maaf dengan apa yang sudah di lakukannya selama ini. Dia memilihku di bandingkan dengan ibunya sendiri, dan kini ibunya masuk rumah sakit. Tentu Mas Robby takut terlambat dan kehilangan ibunya.

Mas Robby kini masih duduk di kursi tepat sebelah ranjang Ibunya, dengan mata yang sudah basah karena menangis. Sedangkan Ibu sendiri masih belum ingin membuka matanya. Astaga, aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika ada apa-apa dengan Ibu Mas Robby.

Tiba-tiba Tannia duduk tepat di sebelahku. Sedangkan suaminya masih berdiri tepat di sebelah pintu masuk. Ya, Tannia, Adik Mas Robby memang sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya sejak dua tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu, Kak?” Aku terkejut mendengar sapaan yang di lontarkan Tannia yang terdengar ramah di telingaku. Kupikir dia tidak menyukaiku, tapi kenpa dia bersikap ramah padaku?

“Ba, baik.” Jawabku tergagap.

“Anak-anak gimana?” tanyanya lagi.

Aku meirik ke arah Bulan yang duduk tepat di sebelahku dengan memainkan mainannya bersama dengan Ivander.

“Baik juga.” Jawabku lagi.

Tannia kemudian meraih telapak tanganku kemudian menggenggamnya erat-erat. Aku menatapnya dan wanita itu berkaca-kaca.

“Maafkan aku Kak, dulu aku tidak mengerti apapun, dan aku hanya bisa bersikap egois. Sekarang aku mengerti apa itu cinta, aku mengerti kalian saling mencintai, dan tidak seharusnya aku dan Ibu memisahkan Mas Robby dan kak Bintang dulu.” Lirihnya dengan tulus.

Tanpa banyak bicara lagi ku peluk tubuh Tannia, dan aku ikut menangis dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Tannia, yang ku tahu adalah dia saat ini benar-benar tulus, aku merasakan ketulusannya.

“Maafkan Ibu juga Kak. Aku yakin, Ibu juga menyesali perbuatannya dulu, hanya saja, Ibu terlalu malu untuk mengakuinya.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kalian nggak salah, aku mengerti kenapa aku dulu harur pergi meninggalkan Mas Robby, kalian nggak salah, karena aku tahu, kamu dan Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Mas Robby.”

“Tetap saja kami salah, Kak. Maafkan kami.”

Kali ini aku menganggukkan kepalaku. Mengalah dengan kekeraskepalaan Tannia. Ahhh, beginikah bahagianya mendapat restu dari sang adik?

***

Dua hari kemudian, ibu akhirnya membuka matanya. Dia belum bisa melakukan apapun, yang hanya bisa dia lakukan hanyalah menangis sambil menatap ke arah Mas Robby.

Aku memberanikan diri untuk mendekat dengan Bulan dan Ivander. Ibu yang melihatnya langsung mengulurkan jemarinya, mengusap lembut pipi Bulan dan mencubit gemas hidung Ivander. Aku tersenyum meski pipiku masih basah karena airmataku yang tidak berhenti menetes.

Ibu menatap ke arahku, kemudian mengisyaratkan supaya aku mendekat ke arahnya. Akhirnya aku mendekat, kemudian berbisik di telinga Ibu.

“Ibu harus sembuh. Kalau ibu sembuh, aku akan pergi meningglkan Mas Robby. Aku bahkan akan meninggalkan Bulan untuk kalian. Ibu harus sembuh.”

“Jangan pergi.” Dan jawaban serak dari Ibu, benar-benar membuatku mematung tak bergerak sedikitpun. Hanya dua kata tapi efeknya begitu dahsyat pada diriku.

***

Tiga bulan kemudian…

 

“Ayo, cepat pakai sepatunya sendiri-sendiri, periksa bukunya kembali, jangan sampai ada yang ketinggalan.” Ucapku sambil meninggalkan kamar Bulan dan Ivander.

Aku berjalan masuk ke dalam kamarku sendiri, dan mendapati Mas Robby masih berantakan di sana. Maksudku, dia masih telanjang dada dengan handuk kecil di pinggulnya.

“Mas, kamu kok belum siap-siap sih? Anak-anak sudah hampir siap.” Ucapku dengan nada sedikit kesal.

Mas Robby hanya tersenyum. “Kemarilah.” Dia meraih pergelangan tanganku kemudian memaksaku duduk di atas pangkuannya.

“Apa yang kamu lakukan?” pekikku ketika dia mulai memelukku erat dari belakang.

“Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan nada menggoda.

“Sudah ah, jangan nggombal terus.”

“Kok Nggombal sih?”

“Ucapan cinta kalau di ucapin terus menerus akan jadi membosankan dan tidak memiliki maknanya lagi.”

“Itu menurut kamu, tidak menurutku.” Jawabnya dengan mengerucutkan bibir. Aku tersenyum.

“Sudah, ayo siap-siap. Nanti telat ke kantornya.”

“Aku mau di siapkan.” Jawab Mas Robby dengan nada menggoda. Dan aku hanya mampu menggelengkan kepalaku.

Aku bangkit, kemudian menuju ke arah lemari, menyiapkan bahkan memakaikan kemeja untuk Mas Robby. Setelah dia selesai berganti dengan kemeja dan juga celananya. Dia memaksaku memakaikan dasi untuknya.

“Aku naik jabatan.” Bisiknya.

“Benarkah?”

Dia mengangguk pasti. “Renno benar-benar baik. Dia menaikan jabatanku. Bahkan dalam waktu dekat, dia memberikan sebuah aset perusahaan Handoyo Grup menjadi atas namaku.”

“Ya, dia benar-benar baik. Sangat pantas bersanding dengan Allea yang seperti malaikat.” Jawabku. Aku memang mengenal Allea, karena beberapa kali kami bertemu pada acara keluarga.

“Kamu nggak sedang cemburu kan?” Mas Robby menggodaku.

“Enggaklah, kenapa aku cemburu?”

“Mungkin saja.” Jawabnya sembari mengangkat kedua bahunya. Dan aku hanya mampu tersenyum. Aku memang tahu, bagaimana hubungan rumit Mas Robby dulu yang menyukai Allea, tapi tentu itu tak lantas membuatku cemburu. Bagiku itu dulu, sekarang kami sudah bahagia, dan aku tidak peduli tentang masa lalu Mas Robby.

“Sayang, aku mau..”

“Mas, aku belum ngurusin Ibu. Nah, sudah rapi sekarang. Jadi aku mau ke kamar Ibu dulu ya.” Ucapku cepat sambil bergegas pergi. Tapi saat aku melangkah pergi, Mas Robby kembali menarik pergelangan tanganku dan tanpa banyak bicara lagi, dia menyambar bibirku dan melumatnya sebentar.

“Aku selalu menginginkan itu.” Ucapnya sambil mengerlingkan mata. Dasar penggoda!!! Umpatku dalam hati.

***

Pagi itu akhirnya kami sarapan bersama seperti biasanya. Hubunganku dengan Ibu Mas Robby sudah membaik. Sangat baik malah. Ibu ingin aku sendiri yang merawatnya selama dia dalam masa pemulihan, dan itu membuatku mengenalnya lebih baik dan lebih dekat.

Tannia sudah kembali tinggal di rumah suaminya. Dan akhirnya hanya ada Aku, Ibu, Mas Robby, Ivander dan Bulan lah yang tinggal di rumah ini dengan beberapa pengurus rumah.

Hidupku kini terasa begitu sempurna, begitu bahagia dengan orang-orang yang ku kasihi. Ahh.. semoga ini bukan hanya mimpi.

Setelah sarapan bersama, Ibu mengantar para cucunya untuk menuju ke halaman rumah dan bersiap berangkat ke sekolah dengan Mas Robby. Sedangkan aku sendiri masih sibuk membereskan bekal untuk mereka bertiga.

Kurasakan lengan Mas Robby meraih tubuhku hingga menempel pada tubuhnya.

“Kamu apaan sih Mas? Nggak enak di lihat mereka.” Bisikku sambil melirik ke arah beberapa pengurus rumah yang kini sedang sibuk membersihkan dapur.

“Kamu rajin sekali.”

“Tentu saja, aku menantu di rumah ini.”

“Hahaha, istriku mulai sombong.” Godanya. Dan aku hanya dapat tersenyum malu. Mas Robby mendekatrkan bibirnya pada telingaku, lalu berbisik di sana.

“Aku ingin memberikan Bulan dan Ivander seorang adik.” Aku membulatkan mataku seketika pada Mas Robby, sedangjkan dia hanya memasang cengiran khasnya.

“Nanti malam, kita akan memulai ritualnya.” Ucapnya lagi dan yang bisa ku lakukan hanyalah ternganga dengan kelakuannya. Astaga, sejak kapan dia berubah menjadi tukang penggoda seperti itu?

***

-Robby-

Bahagia…

Itulah yang ku rasakan saat ini dengan Bintang. Ibu sudah menerima kehadiran Bintang, dan tidak ada yang membahagiakanku selain hal itu. Bintang sangat menyayangi Ibu, begitupun sebaliknya, meski Ibu terlihat biasa-biasa saja dengan Bintang, tapi aku tahu, jika ibu sangat perhatian dengan istriku tersebut.

Bulan dan Ivander akhirnya masuk ke dalam mobil dengan di antar oleh Ibu. Setelah itu Ibu kembali masuk ke dalam rumah. Tinggallah aku yang hanya berdua dengan Bintang di halaman rumah.

Aku menghadap ke arahnya, sesekali mengecup bibir mungilnya.

“Pikirkan baik-baik rencanaku tadi.” Ucapku dengan suara serak. Ya, aku ingin menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander. Ah, pasti menyenangkan sekali jika banyak anak-anak di dalam rumah.

“Ya, Aku sudah memikirkannya.” Ucap Bintang sembari memainkan dasiku.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Jadi…”

“Ya, kita akan menambah seorang adik untuk Bulan dan Ivander.”

Aku tersenyum lebar. Ku tarik tubuh bulan hingga menempel pada tubuhku, kemudian kulumat habis bibir mungilnya dengan ciuman penuh hasratku, membuatnya sesekali mengerang dalam ciuman panas kami.

“Papa… Papa, kami sudah telat tahu. Papa..”

Suara cerewet dari dalam mobil menghentikan aksiku. Itu Bulan dan Ivander yang sepertinya memang sengaja menggangguku. Ahh dasar anak-anak nakal. Aku menatap Bintang, dia masih terengah karena ciuman panas kami, dan begitupun denganku.

“Aku mencintaimu.” Ucapku begitu saja tanpa sadar.

Bintang memejamkan matanya sebentar, berjinjit lalu mengecup lembut pipiku. “Aku mencintaimu juga.” Bisiknya.

Aku kembali tersenyum. “Baiklah, aku berangkat.” Ucapku sambil membalikkan tubuh lalu pergi menuju ke arah mobil, tapi baru beberapa langkah, aku kembali lagi dan secepat kilat aku mengecup lembut kening Bintang.

Aku kembali berbalik dan nuju ke arah mobil sembari berteriak. “Tunggu aku nanti malam.” Bintang hanya terlihat tersenyum, dia menertawakan kelakuanku. Begitupun dengan kedua bocah yang duduk di jok belakang mobilku. Keduaanya terlihat menggerutu kesal karena terlalu lama menungguku.

“Mau ice cream?” tanyaku saat mulai menyalakan mesin mobil.

“Mau, mau, mau.” Teriak Bulan dan Ivander secara bersama-sama.

“Baiklah, nanti Papa belikan ice cream yang banyak, dengan syarat, nanti malam harus bobok dengan Oma dan tidak boleh mencari-cari Mama, oke?”

“Oke, Pa.” lagi-lagi keduanya menjawab serentak. Dan aku hanya bisa tertawa dalam hati.

Ku jalankan mobilku keluar dari halaman rumahku, sesekali aku menatap ke arah Bintang. Dia tampak bahagia dan melambaikan tangannya pada kami hingga mobil yang ku tumpangi menjauh dari rumah. Aku masih melihat bayangan Bintang dari kaca spion mobilku.

Ahh wanita itu. Wanita sederhana yang mampu membuatku jatuh cinta. Terimakasih Bintang, sudah memberikan kebahagiaan ini untukku, terimakasih, sudah kembali hadir dalam hidupku… dan terimakasih, karena masih bersedia menjadi Bintangku…

 

***The End***

thank you udah membaca dan makacih bgt responnya.. ahhh nggak nyangka banyak yang suka kisahnya mas Robby heheheheh See you next story… *KissKiss

Advertisements

15 thoughts on “Bintangku (Side Story of Robby) – Part 3(End)

  1. Wah sweet .. akhirnya yg ditunggu diupdate jga .. di tunggu chapter slnjutnya dr cerita 2nya yg lain ya + cerita tentang kak maria(the lady killer)

    Like

  2. mantap untung udah bisa baca sempet kesel kemarin Gk bisa buka blog.a ish ngapa x Ya

    akhir .a semua bisa bahagia pengen punya keluarga seperti itu xixixi seru min Ada kisah lgi Gk yaa

    Like

  3. ternyata robby mesum juga yaa , q pikir dia polos ternyata 😄. akhir na happy ending juga buat mereka … d tunggu yaa bu cerita” lain na yng pasti lebih panas dan hot 😂😂.

    oya itu sii robby ko ganteng banget yaa , bikin q sesak napas .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s