romantis

Love Between Us – Part 11 (Calon Mertua?)

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Part 11

-Calon mertua?-

Denny menatap Aira yang sudah duduk manis di pinggiran ranjangnya. Gadis itu tampak segar karena baru saja selesai mandi, tapi terlihat jelas jika gadis itu tidak nyaman dalam duduknya. Denny baru saja keluar dari dalam kamar mandi berjalan santai menuju lemari kecil yang berada tepat di hadapan Aira. Mengambil t-shirt lalu memakainya sesekali melirik ke arah Aira yang pipinya sudah merona merah. Aira tidak nyaman berada di dekatnya, Denny tahu itu. Tapi ia tidak ingin menyerah, bagaimana pun juga harus membuat Aira percaya lagi dengannya.

“Jadi, kenapa kamu mutusin aku saat itu?” tanya Denny tanpa basa-basi lagi sembari duduk tepat di sebelah Aira. Dengan handuk kecil yang masih melingkari lehernya. Sesekali Denny mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk tersebut.

Aira masih diam, ia masih kesal dengan Denny. Pastinya sekarang ia sedang gugup setengah mati karena berdekatan dengan pria yang tadi tidak berhenti mencumbunya. Ia merasakan jemari Denny meraih telapak tangannya, kemudian menggenggamnya erat-erat. Aira mengangkat wajahnya menatap wajah Denny yang terlihat sendu di matanya.

“Aku mohon, kasih tahu aku dimana letak kesalahanku. Aku akan memperbaikinya.”

Aira memalingkan wajahnya dengan berkata, “berapa banyak kekasihmu?” Denny mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Aira.

“Maksud kamu?”

“Aku sudah tahu semuanya, Den. Kamu hanyalah pria yang memanfaatkan kelebihanmu untuk mendapatkan gadis kaya dan mengeruk hartanya kan?”

“Aira, aku masih nggak mengerti apa yang kamu bicarakan?”

“Siapa wanita yang jalan sama kamu siang itu?” todong Aira marah.

“Jalan sama aku? Kapan? Aku nggak pernah jalan sama wanita manapun selain dengan kamu, dan..” Denny tampak berpikir sebentar. “Tunggu dulu, kamu melihatku?”

“Nggak, tapi ada yang melihatmu dan dia memberitahuku!” ucap Aira dengan ketus.

“Siapa?”

“Itu nggak penting Denny! Yang penting adalah kamu jalan dengan gadis lain lalu mengeruk hartanya. Mungkin itu juga nanti yang akan kamu lakukan denganku.”

“Kamu berpikir terlalu jauh,” ucap Denny seraya memaksa tubuh aira untuk menghadap ke arahnya.

“Dengar, aku nggak pernah main-main kalau sudah memiliki hubungan dengan seorang wanita. Kamu hanya salah paham, dan aku bisa menjelaskan semuanya. Aku nggak pernah keluar dengan gadis lain selain kamu dan adikku. Jadi bisa aku pastikan yang kamu lihat kemaren adalah Clarista, adikku.”

“Bagaimana aku percaya?. Sedangkan aku sendiri nggak tahu, apa kamu benar-benar punya adik atau hanya adik bohongan. Kamu terlalu misterius. Dan aku capek menebak-nebak sendiri tentang kamu Den.”

“Oke,” Denny kemudian mengusap sebelah pipi Aira sembari berkata, “besok, aku akan mengajakmu pulang ke rumah orang tuaku.” Aira membulatkan matanya seketika. Ia tidak menyangka jika Denny akan secepat itu mengenalkan dirinya pada kedua orang tua pria tersebut. Aira memang ingin tahu lebih tentang Denny, tapi bukan berarti langsung berkenalan dengan orang tuanya.

“Uumm, aku hanya ingin mengenal kamu lebih dekat lagi. Bukan berarti aku ingin kamu  mengenalkan aku secara langsung dengan orang tua kamu.”

“Kenapa? Kamu nggak mau? Aku hanya berusaha lebih serius denganmu Aira.” Denny menundukkan kepalanya sedikit malu. “Kita sudah melakukan ‘itu’, jadi aku pikir,” ucapnya tersendat, “aku ingin lebih serius lagi denganmu.”

“Denny, aku belum terlalu mengenalmu.” Aira memberikan pandangan ragu. Mereka baru mengenal satu sama lain. Apa yang ia harapkan jika Denny hanya memberikan harapan ilusi.

“Maka dari itu, besok aku akan menceritakan semuanya padamu.” Denny kemudian merengkuh tubuh Aira, memeluknya sesekali mengecup puncak kepalanya.

“Maafkan aku karena aku melakukan cara curang tadi.”

“Ayah akan membunuhku kalau dia tahu.”  Aira merasa bersalah.

“Dia nggak akan tahu, tidak sekarang, sebelum kamu menjadi istriku.” Aira terbelalak. Istri? Apa maksud Denny dengan istri?

***

Malam harinya, Denny benar-benar mengantarkan Aira ke rumah gadis tersebut. Di halaman rumah sudah ada Indra yang menundukkan kepalanya. Denny lantas keluar dari dalam mobil Aira lalu menuju ke arah Indra.

“Pak Rizky terlihat marah,” ucap Indra pada Denny sambil memberikan kunci motor Denny.

“Aku sudah membawanya pulang, Pak Rizky nggak akan marah lagi.” Jawab Denny dengan santai. Ia lalu berlari menuju ke arah Aira yang kini sudah menunggunya tepat di depan pintu rumah gadis itu.

“Aku takut ayah marah.” Aira terlihat gelisah. Ia meremas tangannya.

“Aku akan tanggung jawab.” Denny sambil mengusap lembut pipi Aira. Di lihatnya bibir ranum Aira yang entah kenapa kini membuat Denny seakan tidak bisa menahan dirinya. Ia mendekatkan wajahnya, berusaha untuk menggapai bibir ranum Aira. Sedangkan Aira sendiri hanya mampu memejamkan matanya, tapi ketika bibir mereka hampir saja bertautan. Pintu dihadapan mereka terbuka seketika menampilkan sosok sangar di baliknya.

Itu Rizky, ayah Aira.

Mereka saling menjauhkan diri dengan wajah merah masing-masing. Aira menundukkan kepalanya, sedangkan Denny terlihat tidak gentar menatap tatapan berapi dari ayah Aira.

“Baru pulang Aira?” ucap Rizky dengan nada dinginnya.

“Saya tadi sedikit ada perlu dengan Aira.” Denny yang menjawab. Aira ketakutan hingga tidak bisa bicara apapun. Ia merasa tertangkap basah.

“Ayah pikir hubungan kamu dengan anak saya sudah berakhir saat kamu membuatnya menangis beberapa hari yang lalu.”

“Itu hanya salah paham Om. Saya sudah memperbaikinya.”

“Benarkah begitu Aira?” tanya Rizky sambil menatap puterinya yang kini sudah bergelayut dilengan Denny.

“Ya, ayah.” Tak berani melihat mata sang ayah yang sekelam malam.

“Kalau begitu, masuklah. Dan kamu, cepat pulang. Ini sudah malam!” ucap Rizky dengan tegas lalu pergi meninggalkan Denny dan Aira yang masih mematung di depan pintu rumahnya.

“Uum, aku nggak bisa memikirkan bagaimana kalau ayah tahu apa yang kita lakukan tadi.”

“Mungkin dia akan membunuhku.” Jawab Denny dengan sedikit tersenyum.

“Jangan bercanda, ini nggak lucu tahu!” gerutu Aira.

Denny kembali membelai pipi Aira dengan lembut. Itu bagaikan candu baginya, pipi yang merona seakan ingin menggigitinya lembut. “Aku tahu, kamu belum memaafkanku. Tapi aku akan berusaha membuatmu memaafkanku dan menerimaku kembali. Aku benar-benar nggak mau kamu meninggalkan aku, Aira.”

Aira menunduk malu. Pipi memanas mendengar ucapan dari Denny.

“Sudahlah, aku mau masuk dulu,” ucap Aira sambil bergegas msuk. Sebenarnya ia hanya ingin sedikit menghindari Denny. Oh, Denny benar-benar membuatnya gugup setengah mati. Jantungnya tidak berhenti jumpalitan ketika mendengar kalimat-kalimat manis yang terucap dari bibir pria itu.

“Aira!” panggil Denny sambil meraih pergelangan tangan Aira. Secepat kilat Denny menariknya kemudian mengecup lembut kening Aira. “Besok aku akan menjemputmu. Aku akan mengenalkanmu dengan orang tuaku.” Denny sedikit berbisik.

Aira hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Denny. Dulu, pria itu selalu bersikap dingin dan cuek terhadapnya, tapi kenapa kini Denny bersikap sangat manis padanya.

Apa Denny benar-benar mencintainya?

***

Aira menaiki tangga dengan hati yang ringan berbunga-bunga malah. Beban yang ada dihatinya kini telah berangsur pergi dan hampir hilang. Ia membayangkan betapa manisnya sikap Denny sampai tidak menyadari bahwa Rizky berdiri di ruang keluarga. Dengan mata menyalang ia memperhatikan leher Aira yang terdapat bercak kemerahan seperti kissmark. Ia mengetahui sejak di depan pintu.

“Aira?!” Aira cukup terkejut.

“A.. Ayah..” ucapnya tergagap.

“Ayah, ingin bicara sama kamu!” ucapnya penuh penegasan. Aira menatapnya ketakutan. Seperti ada yang disembunyikan, pikir Rizky.

“Aira, lelah yah. Bisa besok saja?” Dari kejauhan Zeeva melihat kejadian itu. Ia baru keluar dari kamar Bunga. Aira,  putrinya memang terlihat kelelahan. Ia berjalan mendekat.

“Rizky, besok saja ceritanya. Aira sepertinya memang kelelahan.” Zeeva membujuk suaminya. Aira yang berdiri tegang menatapnya memohon dengan wajah yang pucat pasj. Rizky menghela napas.

“Baiklah, besok ayah akan minta  penjelasanmu!” Aira mengangguk.

“Iya, ayah.” Aira mencium pipi Rizky dan Zeeva. “Selamat malam.” Leher Aira tak luput dari pengamatan Rizky. Ia tertegun cukup lama dengan tanda itu. Rizky memandangi punggung putrinya. Rahangnya mengetat memikirksn jika benar itu terjadi.

“Kita ke kamar, waktunya tidur.” Zeeva menggandeng lengannya.

Didalam kamar Aira bersandar dibalik pintu sambil menarik napas panjang. Hari ini ia selamat. Dalam dirinya ketakutan, ceroboh dengan memberikan sesuatu yang paling berharga. Aira telah mengecewakan orangtuanya jika tau ia telah memberikan mahkotanya. Bukan memberikan dalam artian sebenarnya melainkan Denny yang memaksanya sampai terlena dalam sentuhan dan belaian yang memabukan. Hingga tak sadar jika yang mereka lakukan adalah kesalahan fatal. Rizky akan mengusirnya jika dirinya, hamil.

Hamil?

Aira tersentak kaget. Bagaimana jika dirinya nanti hamil?. Anak Denny?. Ia menjadi kalut. Perasaannya bimbang saat masuk ke kamar mandi. Memikirkan apa yang terjadi kelak.

***

Keesokan harinya Denny benar-benar menjemput Aira di rumahnya. Untung saja ayah Aira sudah berangkat ke kantor sejak pagi. Sehingga ia tidak perlu lagi menyiapkan seribu alasan untuk mengajak Aira keluar. Hanya ada Zeeva, mama Aira, yang menyambutnya saat ia menjemput di rumahnya.

Setelah cukup lama menunggu Aira yang bersiap-siap. Akhirnya gadis itu keluar juga dengan penampilan yang sangat cantik di mata Denny. Ia menatap Aira dengan tatapan penuh cintanya. Ingin sekali jemarinya mengusap pipi merona milik Aira, tapi ditahannya, karena kini, Zeeva masih ada di sana.

“Kamu sudah siap?” Aira hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa setelah kejadian tadi malam, ia selalu merasa gugup di hadapan Denny. Oh, pria itu sudah menyentuhnya? Aira masih belum percaya dengan kejadian semalam.

“Baiklah, ayo,” ajak Denny. Aira kemudian berpamitan dengan sang Mama. Kemudian mengikuti Denny menaiki motor pria tersebut. Ia sendiri akhirnya menjalankan motornya. Setelah cukup jauh berboncengan, Denny meraih pergelangan tangan Aira, melingkarkannya di perutnya sendiri. Sedangkan tangannya sendiri masih belum ingin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aira.

“Tetap seperti itu, biar nggak jatuh.” Denny dengar suara yang sedikit tidak terdengar karena terhalang helm yang dikenakannya.

“Kamu sendiri nggak takut jatuh? Menyetir dengan hanya satu tangan?”

“Aku sudah biasa.” Jawab Denny.

“Oh, tentu saja, kamu pasti sudah biasa membonceng cewek seperti ini” Gerutu Aira yang entah kenapa menjadi sedikit kesal.

“Nggak, Ai.”

“Ai?” Aira mengerutkan keningnya ketika Denny memanggilnya dengan sebutan itu.

Pria itu sedikit tersenyum dari balik helmnya. “Mulai sekarang, itu panggilan sayangku untuk kamu. Ai.” Ya ampun. Aira berterimakasih karena saat ini dirinya sedang berada di belakang Denny. Jika tidak, maka pria itu akan melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus karena ucapan sederhana itu.

‘Ai… sangat manis.’ Pikir Aira dalam hati. Tapi secepat kilat ia menggelengkan kepalanya. Denny sedang menggodanya. Aira menyadari itu. Gadis itu tidak ingin tergoda sebelum ia mengetahui semua penjelasan Denny.

***

Denny mengentikan motornya di depan sebuah gerbang besar dan tinggi. Aira bahkan sampai menengadah ke atas melihat ujung gerbang. Terlihat seorang satpam berlari membukakan pintu pagar  saat mengetahui Denny yang datang.

Denny kembali menjalankan motornya masuk. Aira masih tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya saat ini. Denny memarkirkan motornya di depan sebuah garasi, kemudian melepaskan helm yang di kenakannya.

Denny tersenyum menatap Aira yang masih tampak bingung dengan apa yang gadis itu lihat. Dengan lembut Denny membantu Aira melepaskan helm yang di kenakan gadis itu. Pipi Aira kembali merona dengan kelembutan yang di tunjukkan oleh Denny.

“Ayo masuk,” ucap Denny sambil menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Tunggu dulu, ini rumah siapa?” tanya Aira yang masih sedikit bingung.

“Rumah mama dan papaku. Ayo masuk,” Denny dengan senyuman lembutnya. Aira sendiri benar-benar tercengang dengan jawaban yang di dengarnya dari mulut Denny.

Mereka masuk ke dalam rumah. Denny seketika menuju ke arah taman mini di area samping rumahnya. Ia tahu jika mamanya pasti berada di sana dengan berbagai macam tanaman bunga-bungaan yang di rawatnya.

“Mama,” Denny memanggil ketika berada di area taman dan melihat seorang wanita yang tengah sibuk dengan tanaman hiasnya. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu menoleh, dan membulatkan matanya seketika ketika mendapati seorang yang sangat dirindukannya. Itu puteranya yang sudah lama tidak pulang.

“Denny!” ucap Clara senang. Mama Denny yang kini sudah berlari menghambur ke dalam pelukan puteranya.

“Astaga, akhirnya kamu pulang sayang. Mama kangen kamu, papa juga pasti kangen sama kamu. Tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.” Denny tersenyum.

“Aku juga kangen Mama, Papa, Clarista, dan juga rumah ini,” sahutnya.

“Kalau begitu jangan pergi lagi.” Rajuk Clara yang masih memeluk erat tubuh puteranya. Cukup lama keduanya saling berpelukan melepas rindu, hingga kemudian Clara menyadari jika Denny tidak pulang sendiri. Dilepaskannya pelukan Denny kemudian Clara melirik ke arah sosok gadis yaang berdiri menundukkan kepalanya tepat di belakang puteranya.

“Kamu, kamu bawa teman?” tanya Clara yang sat ini sudah mengamati Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis tersebut.

“Iya, aku nggak pulang sendiri, Ma.” Jawab Denny.

Clara tersenyum menuju ke arah Aira. “Hei, siapa namamu?” tanya Clara mencoba mengakrabkan diri.

“Aira tante,” jawab Aira dengan malu-malu. Ini pertama kalinya bertemu orangtua kekasihnya. Kekasih?, entah apa hubungan mereka yang jelas Aira dan Denny sudah terlampau jauh mengenai hubungan mereka. Aira bingung harus bersikap bagaimana.

“Wah, nama yang cantik secantik orangnya,” puji Clara. Pipi Aira memerah.

“Aku membawanya kesini untuk mengenalkannya dengan mama, papa dan juga Cla.”

“Oh ya? Wah, kalian pasti sangat dekat sekali.” Clara terlihat bahagia.

“Bukan hanya dekat, Ma.” Jawab Denny yang kini sudah meraih telapak tangan Aira kemudian menggenggamnya erat-erat.

“Aku akan menikahinya.” Kalimat terakhir Denny membuat Clara ternganga tak dapat menutup mulutnya. Begitupun dengan Aira yang sudah melebarkan matanya  karena kalimat terakhir yang diucapkan oleh Denny. Bukannya Aira tidak mau, tapi masih terlalu bingung dengan kenyataan di sekitarnya.

Bahwa Denny bukanlah sosok yang selama ini ia kenal. Denny bukanlah pria biasa dengan penampilan sederhananya. Nyatanya Denny adalah pria kaya raya yang mungkin saja memiliki banyak sekali rahasia yang Aira tidak tahu. Pria itu pandai sekali menyembunyikan jati dirinya. Bisa jadi pria itu juga banyak menyembunyikan rahasia masa lalunya.

Menikah? Apa Denny sedang bercanda?.

-TBC-

Advertisements

8 thoughts on “Love Between Us – Part 11 (Calon Mertua?)

  1. Cerita yg paling ditunggu..bikin penasaran tingkat tinggi..
    Akhirnya aira tau jati diri denny yaitu anak orang kaya..pastinya aira kaget banget..apalagi pas dikenalin sama mamanya denny, dan dibilang bakal dinikahin denny…gimana pendapat papanya denny ya mengenai aira 😮
    😱 OMG, papanya aira ngeliat tanda kissmark dileher aira..wah ketahuan dong mereka udah “itu” 😱😲😧

    Like

  2. aku cari part/chapter 12nya gak ada…aku penaasaran bangettttt…aku suka sma denny mirip papanya..selalu menepati janji..ini baru cowo cool…

    Like

  3. Kenapa author tidak update cerita ini lagi? Pdhal aku nunggu lama bgt.. Update d blog ini jg dong ceritanya.. Please…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s