romantis

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby story)

Yang belom baca part 1 silahkan klik di sini

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

“Ada apa Robb?”

“Eemm, apa dulu aku mengenal wanita yang bernama Bintang?”

Pertanyaanku sontak membuat Ibu membulatkan matanya seketika. Terlihat dengan jelas jika ia sangat terkejut dengan pertanyaanku. Kenapa? Apa dulu aku memang mengenal wanita yang bernama Bintang? Karena jujur saja, aku tidak merasa asing dengan nama itu, dan melihat Bintang, Ibu dari Bulan, aku merasakan jika ada sesuatu yang salah di antara kami. Apa ini hanya perasanku saja?

***  

 

Part II

-Robby-

 

“Ke, kenapa kamu bertanya tentang nama itu?” tanya Ibu dengan wajah yang sudah memucat. Aku tahu kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Ada apa Bu? Ibu terlihat panik.”

“Ibu nggak panik. Tapi kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang Bintang?”

“Bintang itu Ibu dari Bulan, teman baru Ivander. Dan kupikir, aku merasakan sesuatu saat kami bertemu tadi.”

Ibu tampak shock dengan penjelasanku. Ada apa ini?

“Robby, Bintang itu bukan siapa-siapa, jadi kamu tidak perlu lagi bertemu dengannya. Lagian, nggak bagus terlalu dekat dengan orang asing.”

“Aku hanya merasakan sesuatu Bu.”

“Perasan kamu saja!!!” Ibu bahkan menjawab pertanyaanku dengan sedikit berteriak. Aku hanya hilang ingatan, aku tidak bodoh. Ada yang ibu sembunyikan dariku tentang wanita yang bernama Bintang. Entah Bintang Ibu dari Bulan, atau Bintang yang lainnya.

Aku hanya diam, sedangkan Ibu memilih pergi meninggalkanku setelah mengelak dari semua pertanyaan yang ku ajukan.

Bintang… siapa sebenarnya kamu?

***

Aku kembali memparkirkan mobilku di bawah pohon beringin di pinggiran jalan. Keluar dari dalam mobil, aku memasuki sebuah gang kecil, dimana di sana terdapat sebuah rumah mungil yang di tinggali Bintang dan Bulan.

Aku berjalan menuju ke rumah itu. Tampak sepi, dan aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Lama aku berdiri di halaman rumah kecil itu, hingga kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan terlihat sosok wanita dari dalam.

Dia Bintang. Dan jantungku berdebar seketika.

Bintang tampak terkejut menatap keberadaanku. Matanya terpaku menatap mataku, da kupikir, dia sedikit berkaca-kaca.

“Ke, kenapa anda di sini?” tanyanya.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Jawabku sembari sedikit mendekat ke arah Bintang.

“Maaf, saya sibuk.”

“Bintang.” Panggilku. Memanggil namanya saja kembali membuatku bergetar. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi?

“Tolong, jangan lagi temui saya.”

“Kita benar-benar pernah saling mengenal dulu, kan?” kucekal pergelangan tangan Bintang sedangkan tubuhku berjalan semakin mendekat kearahnya.

“Saya mohon. Jangan seperti ini.” Rontanya. Tapi aku tak beduli. Kuseret Bintang masuk ke dalam rumahnya lalu ku tutup pintu rumahnya dan menguncinya.

“Apa yang anda lakukan?!” tanyanya dengan suara yang di buatnya keras.

“Saya tidak ingin mempersulit kamu Bintang, saya hanya ingin tahu kebenarannya. Apa kita pernah mengenal sebelumnya atau tidak?”

“Saya sudah menjawab, kalau kita tidak pernah saling mengenal.”

“Tapi tubuh kamu tidak berkata begitu.” Ucapku dengan nada dingin.

“Kamu tahu, apa yang saya rasakan ketika pertama kali saya membuka mata dan mendapati seluruh ingatan saya hilang? Semuanya Hampa Bintang. Saya merasa jika diri saya adalah orang terbodoh di dunia ini. Saya tidak mengingat apapu, tidak dapat merasakan perasaan apapun. Tapi satu hal yang saya rasakan saat itu. Perasaan sesak di dada yang entah kenapa membuat saya berpikir jika ada sesuatu yang salah di sini. Ada sesuatu hal besar yang harusnya tidak pernah saya lupakan. Dan ketika melihat kamu untuk pertama kalinya, perasaan seperti itu kembali muncul. Hati saya seakan mengingat kamu, tapi tidak dengan kepala saya.” Jelasku sungguh-sungguh.

Bintang hanya ternganga mendengar penjelasanku.

“Jadi saya mohon. Tolong jujur, apa kita pernah mengenal sebelumnya, atau tidak.”

Aku melihat Bintang menangis. Dia pernah mengenalku, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak yakin apa yang membuatnya mengingkari kenyataan itu.

“Maaf, tapi kita benar-benar tidak pernah bertemu sebelumnya.” Ucapnya sambil menundukkan kepala.

“Kamu berkata seperti itu tanpa berani menatapku. Dan aku tahu itu semua karena kamu berbohong.”

“Saya tidak bohong.”

“Kalau begitu tatap aku dan bilang kalau kamu tidak pernah mengenalku.” Desisku tajam.

Bintang masih menangis sesekali menggelengkan kepalanya. Aku tersenyum dan bersiap meninggalkannya.

“Terimakasih. Dengan begini aku mengerti, dan aku akan mencari tahu sendiri tentang kamu dan masalaluku.” Ucapku penuh dengan nada ancaman lalu melangkah pergi meninggalkan Bintang begitu saja.

***

Aku keluar dari dalam gang rumah Bintang lalu menuju ke arah mobilku yang masih terparkir di pinggir jalan. Sampai di sana, aku berdiri mengusap wajahku dengan kasar sesekali merutuki kebodohanku. Bodoh!!! Harusnya aku tidak perlu bersikap kurang ajar pada Bintang.

Ketika aku akan masuk ke dalam mobil, seorang laki-laki paruh baya memanggil namaku.

“Mas Robby, kan?

Aku mengerutkan kening ketika menatap laki-laki tersebut. Dia sudah sedikit lebih tua, mungkin seusia ayahku jika ayahku masih hidup. Penampilannya sederhana dan kini dia sedang membawa kotak sol sepatunya.

Ya, dia Tukang Sol Sepatu. Bagaimana bisa dia mengenalku?

“Uum, maaf, apa kita pernah mengenal sebelumnya?” tanyaku.

Bapak tersebut tampak terkejut. Wajahnya lalu memerah dan berkata. “Oh, maaf, mungkin saya salah orang. Maaf Pak.” Jawab bapak tersebut sambil permisi untuk pergi.

Aku berpikir sebentar. Kulihat pakaian yang ku kenakan serta mobil mewah yang berada di hadapanku. Apa mungkin tukang sol sepatu tersebut mengenalku? Lalu kenapa dia pergi? Apa dia berpikir aku bukan orang yang di kenalnya? Tapi dia bisa dengan tepat memanggil namaku.

Sial!!! Dengan cepat aku berlari mengikuti tukang sol sepatu tersebut lalu memintanya untuk berhenti.

“Pak, bapak kenal saya?” tanyaku lagi.

“Maaf mas, sepertinya saya salah orang.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Nggak mungkin, nama saya memang benar-benar Robby. Bapak kenal saya sebelumnya?” tanyaku lagi. Dan bapak tukang sol sepatu tersebut tampak bingung.

“Begini pak, saya kehilangan semua ingatan saya. Jadi bukan maksud saya bersikap sombong tidak mengenal bapak, tapi saya memang benar-benar hilang ingatan. Jadi saya mohon, kalau bapak mengenal saya sebelumnya, tolong ceritakan seperti apa saya yang dulu.”

Bodoh!!! Aku benar-benar seperti orang yang bodoh. Bahkan bisa di bilang aku Tolol. Ya, mau bagaimana lagi. Kehilangan ingatan memang membuatku menjadi bodoh. Bahkan jika ada orang yang sengaja membodohiku, mungkin aku akan percaya. Tapi entahlah, ku pikir tidak ada salahnya aku mempercayai laki-laki paruh baya di hadapanku ini.

“Jadi Mas Robby benar-benar hilang ingatan?” tanyanya dengan ekspresi terkejut.

Aku mengangguk lemah. “Ya, saya kehilangan ingatan sejak lima tahun yang lalu.”

“Oh, pantas saja saat itu saya tidak pernah melihat Mas Robby kembali pulang dengan mbak Bintang.”

Mataku membulat seketika, tubuhku menegang ketika laki-laki itu menyebut nama Bintang. Dia mengenalku, dia mengenal Bintang. Dan aku yakin, dia mengetahui semua masalaluku.

“Bapak mengenal Bintang juga?” tanyaku dengan wajah penuh harap.

“Tentu saja Mas, kita dulu kan tetangga saat di bandung.”

“Kita? Tetangga? Di Bandung?” tanyaku semakin bingung. “Kita perlu bicara pak.” Tegasku penuh dengan semangat.

***

Aku melirik kanan kiriku dengan sedikit tidak nyaman. Tadi aku mengajak mang Dadang, tukang sol sepatu tersebut ke sebuah restoran, tapi Mang Dadang menolak dan lebih memilih mengajakku ke sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan.

“Nggak nyaman mas? Maaf ya, dulu kita sering ngopi seperti ini saat masih di Bandung.” Aku termangu mendengar penjelasan mang Dadang. Benarkah dulu gaya hidupku seperti itu?

“Mas pasti makin bingung ya? Begini, saya mulai cerita saja apa yang saya tahu.”

Mang Dadang menyeruput kopi di hadapannya kemudian mulai bercerita padaku.

“Dulu, saya, istri dan anak saya tinggal di Bandung. Saya punya tetangga yang namanya Mbak Bintang, orangnya cantik Mas, tapi nggak lama, Mbak Bintang menikah, dan suaminya ikut tinggal di sana. Dan suaminya itu adalah Mas Robby.”

Tubuhku kembali menegang. Jantungku berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Aku? Suami Bintang adalah Aku?

“Penampilan awal Mas robby saat itu seperti sekarang ini, rapi, gagah, seperti orang kaya raya pada umumnya. Saya pikir saat itu mas Robby orang yang sombong, tapi ternyata enggak. Malah Mas Robby mau ikut saya kerja bangunan saat itu.”

“Kerja bangunan?” tanyaku dengan terkejut.

“Iya, kita dulu kan sering pindah-pindah kerja mas saat itu. Sampai kemudian Mas Robby jatoh dari lantai dua. Haduh, saya nggak tahu lagi mau gimana ceritain Mas. Mbak Bintang sedih banget. Pas dia pulang sendiri, saya pikir Mas Robby nggak selamat.”

“Saya parah?” tanyaku terpatah-patah.

“Iya, Mas kan harus operasi saat itu. Saya kasihan sama Mbak Bintang. Dia hamil besar saat itu mas. Dan butuh dana banyak buat biaya Mas Robby.”

Aku kembali tercengang. Tubuhku kembali menegang. Hamil? Jadi Bulan anakku?

“Nggak lama, Mbak Bintang pindah, saya nggak tahu kemana, tapi setahun setelah itu, saya juga pindah karena area rumah kita dulu kena penggusuran. Saya merantau ke jakarta sampai saat ini menjadi tukang sol sepatu…”

Mang Dadang terus bercerita, tapi aku sudah tak mampu lagi menerima cerita yang keluar dari mulutnya. Kepalaku terada berdentum, seakan puluhan, bahkan ratusan jarum kecil menusuk-nusuk otakku. Bayangan-bayangan itu berkelebat dalam ingatanku.

 

“Menikah? Yang benar saja.” bintang tampak terkejut dengan ucapanku.

“Ya, mari kita menikah, karena aku menyukaimu.”

“Enggak. Kita cuma pura-pura pak.”

“Dulu, tidak sekarang. Aku benar-benar menyukaimu Bintang.”

“Pak menikah bukan pekara mudah.”

“Dan aku akan membuatnya mudah untuk kita.”

***  

“Apa kita nggak salah melakukan ini?” Bintang bertanya dengan wajah sendunya ketika prosesi pernikahan kami selesai di selenggarakan.

“Enggak.”

“Tapi orang tua kamu tidak merestui kita, Pak.”

“Pak? Berhenti memanggil saya dengan panggilan ‘Pak’, saya suami kamu, bukan atasan kamu lagi.”

“Tapi pak…”

“Mas, Mas Robby.” Wajah Bintang memerah seketika mendengar permintaanku.

***  

“Bintang… aku mencintaimu.”

Ungkapan cintaku pada bintang terucap pertama kalinya ketika tubuhku berhasil menyatu dengan tubuhnya, tubuh istriku. Bintang, sejak kapan kamu membuatku jatuh bertekuk lutut mencintaimu?

“Aku juga mencintaimu.” Ucapnya dengan sedikit parau.

Ku kecup lembut bibir Bintang, bibir yang terasa manis saat indra perasaku menyentuhnya. Kulumat lagi dan lagi, seakan aku tak ingin berhenti membuainya dalam sentuhan penuh cinta.

“Aku mencintaimu Bintang, aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Lagi dan lagi aku merapalkan kalimat tersebut sepanjang malam ketika bercinta dengan Bintang. Wanita yang sangat ku cintai.

***  

Aku memijit pelipisku ketika memori itu kembali hadir. Kepalaku semakin terasa nyeri. Dan aku tak dapat menahannya lagi. Dengan spontan aku berdiri, membuat semua yang ada di sekitarku menatapku dengan tatapan terkejut mereka, termasuk Mang Dadang.

“Ada apa mas?”

“Saya harus pergi.”

“Loh, tapi..”

Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetku dan memberikannya pada Mang Dadang. “Pak, tolong nanti ke alamat sini, temui saya. Saya akan membantu bapak sebisa saya, dan terimaksih untuk ceritanya.”

Aku pergi begitu saja setelah selesai memberikan kartu namaku pada Mang Dadang. Ya, Mang Dadang pasti menolak jika aku memberinya uang, maka aku hanya bisa memberinya pekerjaan yang lebih layak untuknya.

Dengan sedikit terhuyung, aku memasuki mobilku, menyalakan meminnya kemudian melaju cepat, memutar balik ke arah rumah Bintang. Aku harus menemuinya, aku harus menemui Bintang, istriku…

***

-Bintang-

 

Aku takut.

Aku takut jika tiba-tiba Mas Robby mengetahui semuanya lalu memutuskan merebut bulan dariku. Tidak!! Aku tidak bisa membiarkan itu.

Dengan cepat aku memasukkan pakaianku kedalam tas-tas besar. Aku harus pindah rumah secepatnya. Saat ini Bulan masih berada di sebuah tempat les melukis. Ya, meski masih TK, tapi Bulan memperlihatkan bakat terpendamnya.

Dia pandai sekali dan suka sekali melukis. Akhirnya sejak tiga bulan yang lalu aku memasukkannya di sebuah tempat les untuk melukis rekomendasi dari guru TK nya.

Bulan adalah anak yang sangat lucu, dan dia sangat pintar. Aku tidak mungkin memberikannya pada siapapun meski itu ayahnya sendiri yang memintanya.

Tadi apagi aku terkejut ketika mendapati Mas Robby berdiri di depan rumah kontrakanku. Darimana dia mengetahui aku dan Bulan tinggal di sini? Astaga, jika dia tahu, maka tidak menutup kemungkinan ia akan tahu masalalu kami dan status Bulan.

Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bulan hanya puteriku dan dia tidak bisa di pisahkan dariku. Ketika aku sivbuk dengan berbagai macap pikiran di kepalaku, aku mendengar pintu depan rumah di buka dengan keras dari depan. Apa yang terjadi? Pikirku sembari bangkit dan menuju ke ruang tengah.

Tapi ketika aku sampai disana, tubuhku kaku seketika saat mendapati mas Robby yang sudah berdiri dengan tatapan tajam membunuhnya. Tidak, kumohon jangan bilang kalau dia sudah mengetahui semuanya tentang aku dan Bulan.

Tanpa banyak bicara lagi Mas Robby menutup pintu rumahku, lalu dia berjalan cepat ke arahku, mendorong tubuhku dan mengimpitnya di antara dinding.

“A, apa yang anda lakukan?” tanyaku dengan sedikit terpatah-patah.

“Kenapa kamu berbohong?”

Tuhan, pertanyaan itu seakan menghunus jantungku. Dia sudah mengetahui semuanya, dia sudah tahu tantangku dan juga Bulan. Apa dia sudah mengingat semua tentang masalalu kami?

Mas Robby mendekatkan wajahnya pada wajahku, bibirnya kini bahkan hampir menempel pada bibirku, dan yang bisa ku lakukan saat ini hanya menutup mataku.

“Katakan Bintang, kenapa kamu membohongiku?”

“Maaf.” Hanya itu jawabanku dengan suara yang sedikit ercekat di tenggorokan.

“Aku tidak akan mengampunimu Bintang. Aku tidak akan mengampunimu.” Dan setelah itu kurasakan sesuatu yang basah menyambar bibirku, melumatnya dengan panas dan juga kasar. Mas Robby menciumku secara membabi buta. Dan aku dapat merasakannya, rasa frustasi bercampur aduk dengan rasa rindu dalam ciumannya. Dan yang dapat ku lakukan hanyalah membalas apa yang sudah dia lakukan terhadapku saat ini.

 

-TBC-

Part 3 insha allah besok  malam yaa.. heheheh di bawah ini sedikit quote untuk part 3… ahh mas Robby ganteng bgt di sini.. jiaahahhahahah

Robby Hermawan
Robby Hermawan
Advertisements

14 thoughts on “Bintangku (Side Story of Robby) – Part 2

  1. Mom,kok semalam part 3 blm up ya?katanya mau di up tgl 5 des malam.sy tungguin smpe tidurnya kemalaman.eh tau2nya malah gk up part 3

    Like

  2. yaa allah akhir na robby mengingat bintang dan tbc ibu sangat menggangu … gmn reaksi ibu na entar yaa pas tau robby udah ingat semua na.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s