romantis

Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

romantic-boyfriend-girlfriend-whatsapp-dp-profile-pic-2Bintangku (Robby Story)

Tittle : Bintangku (Robby Story)

Genre : Romance, Hurt

Part : I

Author : Zenny Arieffka

Note : Uhhuuk, kalian masih ingat Robby Hermawan kan? Ya, dia adalah cowok yang suka dengan Allea di cerita Because its you. Dia juga sepupu Renno dan kakak dari Tannia. Yang sudah baca Because its you pasti tau lah ya.. hahahhahaha Betewe, Awalnya aku nggak ada niat bikin cerita dia, cuman saat itu ada salah satu teman Chat yang ternyata dia kesemsem sama karakter Mas Robby ini. – Hallo Ahbib An Nisa, iya, cerita ini riques dari kamu..- hehehehhe. Dia berharap aku mau bikin ceritanya Robby saat itu, dan aku nggak janji. Tapi kemaren, tiba-tiba ide bersliweran gitu aja. Dan sayang kalo nggak di tulis, lagian aku juga sedang suntuk dengan masalah Revisi dan Editing ceritaku yang mau naik cetak, so, aku anggap ini sebagai pelarian aja biar aku nggak stress, hahahhahah. Hanya 3 part kok, dan semuanya udah selesei aku tulis, aku akan Update secara berkala yaa… buat yang tanya “Thor, kenapa nggak lanjut cerita yang masih On going dulu sih?” hahhahahah kaliaan tau Mood? Ya, semua itu karena Mood. Bukannya aku nggak mau lanjut, aku gampang bosan, dan terkadang aku butuh pelarian untuk melawan kebosananku.. hahahhaha. Lagian cerita2 itu udah ending ku tulis kok, iya, My beloved Man dan The lady killer 2 udah habis ku tulis. Tinggal nunggu update setelah aku selesei nyetor naskah My Young Wife ke redaksi penerbitan dulu yaakk hahahhahahaha. Maapkeun.. maapkeun.. hahhahahah BTW, curhatku kepanjangan. Udah gitu aja, happy reading dahh…

PART I

Bintang-

Aku berjalan dengan langkah tergesah sembari membawa sebuah bingkisan besar. Bingkisan besar untuk puteri kecilku. Namanya Bulan. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke lima. Ah, tak terasa jika aku sudah membesarkan seorang puteri selama lima tahun terakhir. Aku kembali menatap bingkisan tersebut lalu tersenyum puas. Bulan selalu menginginkan hadiah ini, sebuah boneka teddy bear berukuran besar. Tentu saja aku tak mampu membelikannya mengingat pekerjaanku hanya sebagai seorang penjahit biasa. Aku melangkahkan kakiku lebih cepat lagi, seakan tak sabar sampai ke sekolahan puteri kecilku tersebut.

Saat sampai di sekolahnya. Ku lihat sekolahan itu sudah sepi. Sedikit khawatir mengingat aku tak pernah terlambat menjemput Bulan sebelumnya. Akhirnya aku menuju ke pos satpam, menanyakan keberadaan Bulan. Biasanya jika semua murid sudah pulang dan aku belum menjemputnya, Bulan akan menungguku di pos satpam tersebut.

“Maaf pak, emm, anak-anak sudah pulangan ya?”

“Oh, iya Mbak, mungkin sejak sekitar lima belas menit yang lalu.”

“Lalu anak saya di mana pak?”

“Neng Bulan?”

“Iya, Bulan pak.”

“Loh, tadi Neng Bulan sudah di jemput sama seseorang Mbak, saya kira ayahnya.”

Aku membulatkan mataku seketika. Bagimana mungkin Bulan di jemput seseorang? Ayahnya? Bulan bahkan tak memiliki Ayah. Tanganku gemetar, mataku berkaca-kaca. Oh, Bulanku, kamu kemana nak..

“Mbak, Mbak kenapa?”

“Pak, anak saya nggak mungkin di jemput ayahnya. Itu pasti penculik.” Rengekku yang sudah tak bisa menahan tangis. Astaga, siapa sih yang tega menculik puteri mungilku?

“Penculik Mbak?” Si pak satpam tersebut tampak terkejut. “Kayaknya nggak mungkin Mbak, si mas yang bawa Neng Bulan itu orang baik kok, bahkan sering menemui Neng Bulan di sini.”

“Lalu siapa dia Pak? Saya tidak memiliki satupun saudara, dia tidak mungkin saudara kami.” Aku masih menangis. Astaga, Bulan, aku tidak ingin kehilangan kamu nak…

Tak lama, sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan pos satpam tersebut. Dan dari dalam mobil tersebut keluarlah puteri kecilku dengan berbagai macam bingkisan di tangannya. Dia berlari ke arahlku sambil berteriak memanggilku.

“Ibuuuuuuuuu……”

Aku berjongkok lalu memeluknya erat-erat. Oh Bulanku. Bulan yang menerangi malam-malam gelapku, akhirnya kamu kembali nak. Aku memeluknya sangat erat, seakan tak ingin Bulan pergi meninggalkanku. Hingga kemudian ku rasakan bulan terbatuk-batuk karena pelukan eratku.

“Mungkin anda memeluknya terlalu erat.”

Aku membulatkan mataku seketika saat mendengar suara itu. Suara yang tentunya tak asing di telingaku. Itu suara…….

Mataku menatap ke atah sepasang sepatu yang mahal tepat di hadapanku, sedikit demi sedikit aku mengangkat wajahku dan mendapati wajah itu, wajah tampan yang sangat mempesona, wajah yang dengan menatapnya saja mampu membuatku jatuh hati lagi dan lagi. Dia… Dia… kenapa ada di sini???

1362643141-1688685968
Robby Hermawan

***

“Pak ini kopinya.” Ucapku sesopan mungkin.

“Terimakasih.” Jawabnya datar.

Dasar muka tembok!! Pikirku. Ini sudah Tiga bulan atasanku yang bernama Robby Hermawan di pindah tugaskan ke kantor ini. Sialnya aku di angkat menjadi sekertaris pribadinya. Pak Robby benar-benar sangat datar, dan aku tidak suka. Entah apa yang terjadi dengannya tapi seharusnya ia tidak bersikap seperti itu pada kami bawahannya.

“Bintang, nanti malam temani saya makan malam dengan klien.”

Aku mengangguk hormat. “Baik pak.”

Dan hanya itu saja. Lalu dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Oh, sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki itu?

***  

Malam itu akhirnya aku menemaninya makan malam bersama dengan beberapa kliennya. Di sana ada Pak Renno Handoyo, CEO dari Handoyo Group, perusahaan pusat tempatku bekerja, ada juga klien tua bangka yang memang sejak tadi tidak berhenti melirikku. Oh, aku ingin pergi dari pada harus di pandang seperti itu. Akhirnya Pak Robby melihat ketidak nyamanannku.

“Maaf Mr. Edward, saya pikir anda tidak berhenti melirik ke arah wanita saya.” Aku tersedak seketika saat Pak Robby mengakuiku sebagai wanitanya. Apa dia salah makan obat? Dan semuanya tiba-tiba berjalan cepat. Pak Robby dengan gamblangnya mengenalkanku sebagai kekasihnya. Ayolah, apa ini mimpi? Jika iya, maka bangunkan aku.

Sepanjang makan malam, akhirnya aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, aku tak kmungkin bilang di hadapan semua orang jika Pak Robby berbohong.

Saat pulang..

“Biar saya antar.” Ucapnya lagi-lagi datar.

“Saya bisa pulang sendiri, Pak.”

“Kamu kekasih saya, ingat.” Dan aku diam seketika lalu menuruti apapun kemauannya. Oh Kekasih? Yang benar saja.

***  

“Kenapa anda melamun?” suara itu menyadarkanku dari lamunan. Air mataku menetes begitu saja ketika aku mengingat saat pertama kali aku terikat dengan seorang Robby Hermawan, ayah dari Bulan. Dan kini, lelaki itu ada di hadapanku, duduk memandangiku dengan tatapan anehnya.

“Ah, tidak.” Hanya itu jawabanku.

Ada apa denganmu Mas? Kenapa kamu tidak mengingatku? Lirihku dalam hati.

Tadi, pertama kali aku melihatnya kembali, aku benar-benar shock. Dia berbeda, dan dia sama sekali tak mengenaliku. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Dan yang membuatku sedih adalah fakta jika Mas Robby juga sudah memiliki seorang Putera yang seumuran dengan Bulan. Apa saat bersamaku dulu, dia juga bersama dengan wanita lain?

“Anda terlihat memikirkan sesuatu, dan juga terlihat mengamati saya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Astaga… haruskah aku bercerita jika kita pernah menikah bahkan dia belum menceraikanku?

“Umm, saya hilang ingatan sejak Lima tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Jadi saya tidak dapat mengingat siapapun yang ada di masa lalu saya.” Jelasnya, dan aku kembali termangu.

Hilang ingatan semenjak lima tahun yang lalu? Apa karena kecelakaan saat itu? Kecelakaan yang mengharuskanku meninggalkan dia?

Lima tahun yang lalu…

Aku masuk ke dalam sebuah rumah kontrakan kecil dengan napas terengah. Astaga, hamil sembilan bulan benar-benar membuatku kelelahan dan sangat sulit sekali bergerak. Tapi aku tidak boleh manja, aku harus bekerja keras, aku tidak ingin membiarkan Mas Robby sendiri yang bekerja keras untuk menghidupiku.

Hidup dia sudah sangat kesusahan. Aku tahu kalau dia tidak pernah susah. Dia dari kalangan berada. Dia adalah keponakan pemilik perusahaan Handoyo Group yang besar itu, tentu dia bukan dari kalangan biasa. Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa dia memilihku.

Aku hanya pegawai rendahan saat itu yang beruntung naik jabatan menjadi sekertaris pribadinya. Hubungan kami yang mulanya hanya karena terpaksa, lama-lama membaik. Mas Robby bahkan terang-terangan mengakui perasaannya padaku, dan ingin menikahiku.

Aku sendiri sudah yatim piatu sejak kecil. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan, sedangkan aku besar karena didikan dari tanteku. Setelah mampu menghasilkan uang sendiri, aku memilih mengontrak sebuah rumah kecil, dan aku masih tidak menyangka jika Mas Robby memilihku sebagai wanita yang pantas bersanding dengannya.

Hubungan kami saat itu sangat sulit. Orang tua Mas Robby –Ibunya- tentu sangat menolak hubungan kami,begitupun dengan Tannia, adik semata wayang mas Robby. Aku cukup sadar diri karena aku tahu dimana posisiku. Tapi Mas Robby masih setia bersamaku, dia bahkan tetap menjalankan rencananya untuk menikahiku meski tanpa restu ibu dan adiknya.

Kami akhirnya menikah, dan Mas Robby memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia tidak lagi bekerja di perusahaan Handoyo Group dan memilih hidup sederhana di kontrakan kecilku.

Dia meninggalkan ruangan nyamannya, kemeja bersihnya, sepatu mahalnya, serta bolpoin yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, dan memilih hidup denganku di kontrakan sempit serta menjadi buruh bangungan serabutan.

Tidak jarang aku menangis ketika melihatnya pulang dengan peluh di dahinya, kulitnya yang sedikit menghitam, tangannya yang putih bekas dari bahan-bahan bangunan, serta tubuhnya yang selalu basah dengan keringat maupun air hujan.

Dia merelakan kehidupan sempurnanya demi aku, dan itu membuatku terharu sekaligus sedih. Oh, aku benar-benar sangat mencintai Robby Hermawan.

Ku usap lembut perut buncitku sambil membayangkan wajah Mas Robby. Entahlah, akhir-akhir ini aku selalu merindukannya saat ia berangkat kerja, mungkin karena bayi kami yang tidak ingin jauh dari ayahnya.

Ketika mas Robby kerja, aku memilih menghabiskan waktu untuk menjahit. Mas Robby memang melarangku, tapi aku tak peduli. Dia sudah bekerja keras, dan aku ingin membantunya.

Ketika aku baru duduk di sofa, pintu depan di ketuk oleh seseorang. Aku mengerutkan keningku, ini masih jam dua siang, tidak mungkin itu Mas Robby yang pulang. Akhirnya aku berdiri kembali lalu membuka pintu tersebut.

“Mbak, anu, itu masnya..”

Itu adalan Mang Dadang, tetangga sebelah yang mengajak Mas Robby bekerja di salah satu proyek pembangunan. Dia tampak panik, dan kebingungan, apa yang terjadi?

“Ada apa Mang?” tanyaku.

“Itu, Mbak jangan kaget ya, Mas Robby jatoh dari lantai dua, sekarang di rumah sakit.”

Aku membulatkan mataku seketika. Tubuhku hampir saja ambruk jika Mang Dadang tak segera membantuku.

“Mbak, yang sabar, dan jangan berhenti berdoa, kita ke rumah sakit ya mbak.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan linglung. Mas.. jangan tinggalin aku, jangan tinggalin anak kita. Dia bahkan belum pernah melihatmu. Kumohon, bertahanlah. Do’aku dalam hati.

***  

Aku masuk ke dalam sebuah rumah besar setelah seorang pelayan rumah tersebut mempersilahkanku masuk. Ini adalah rumah Mas Robby. Setelah memiliki masalah dan pindah dari jakarta, Mas Robby tinggal di sini dengan ibu dan adiknya. Dan kedatanganku kemari memang untuk bertemu dengan mereka.

Aku membutuhkan dana.

Dokter bilang Mas Robby harus menjalani operasi. Sedangkan tempatnya bekerja tidak mau menanggung biaya rumah sakitnya karena memang Mas Robby bukan buruh tetap kontraktor mereka. Mas Robby memang berpindah-pindah pekerjaan, pekerjaannya serabutan, dan ketika ada masalah seperti ini, kami sendiri yang harus menanggungnya.

Selain itu, tadi dokter juga berkata jika Mas Robby kekurangan banyak darah. Darahnya bukan darah yang langka, tapi kata dokter lebih baik mengajak orang terdekat ke sana, karena siapa tahu saja darah mereka cocok dan berguna.

Seorang gadis cantik datang menghampiriku. “Kamu ngapain kesini?” tanyanya dengan nada yang tak enak di dengar.

Itu Tannia, adik dari Mas Robby.

“Uumm, ibu ada?”

“Ibu? Sejak kapan kamu berani memanggil saya ibu?” kali ini suara seorang wanita paruh baya yang menyahut. Itu ibu Mas Robby.

Aku meremas kedua telapak tanganku. Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menceritakan semuanya pada mereka.

“Maaf kalau saya lancang Bu, tapi, Uumm, itu Mas Robby..”

“Saya tidak menyangka kalau kamu masih berani kemari setelah kamu membawa kabur putera saya.”

“Bu, bukan itu maksud saya.”

“Kamu pikir dengan kehamilanmu bisa merubah keputusanku? Kamu salah. Saya tetap tidak akan merestui pernikahan kalian, sampai kapan pun!!”

“Mas Robby kecelakaan saat bekerja.” Lirihku sambil menundukkan kepala. Air mataku menetes begitu saja. Tuhan, jika aku harus mengemis, aku kan melakukannya demi lelaki yang sangat ku cintai.

“Apa?”

“Dia, Dia harus di operasi, tapi saya tidak memiliki biayanya. Dan dia juga butuh banyak darah.”

“Perempuan tidak berguna!!! Lihat, kamu sudah membuat puteraku sengsara. Apa kamu tidak bisa membuka mata? Dia meninggalkan semuanya untukmu, dan sekarang dia sekarat karena hidup denganmu.”

“Saya minta maaf, Bu.”

“Saya tidak akan pernah memaafkan kamu.”

“Bu, Mas Robby membutuhkan Ibu, dia harus segera di tangani.”

“Dengar, walau kamu nggak memohonpun, saya akan tetap menolong anak saya sekuat yang saya bisa. Tapi tolong, pikirkan baik-baik perkataan saya. Harusnya kamu tahu diri. Lihat, dia meregang nyawa hanya karena kamu. Semua ini terjadi karena kamu. Dia tidak pernah bahagia saat hidup denganmu, harusnya kamu sadar itu!!!” dan aku hanya mampu menangis ketika ibu mertuaku ini menyalahkanku lagi dan lagi.

“Saya akan mengurus semuanya, tapi dengan syarat, kamu harus angkat kaki dari kehidupan putera saya.”

Aku megangkat wajahku seketika. Air mataku deras menetes dengan sendirinya. Dengan spontan telapak tanganku mengusap perut besarku. Meninggalkanya? Apa aku bisa?

***  

Kejadian pahit lima tahun yang lalu terputar kembali di otakku. Setelah dari rumah Mas Robby, aku kembali ke rumah sakit. Tapi tidak sekalipun aku mendekatinya. Aku hanya bisa menatapnya dari sebuah kaca transparan kecil di pintu. Ibu dan Tannia tidak membiarkan aku masuk. Hingga kemudian aku memutuskan untuk benar-benar pergi.

Aku merantau ke Jakarta. Lebih tepatnya, aku meminta bantuan pada teman tanteku. Jadwal kelahiran Bulan saat itu hanya kurang dua minggu lagi, dan aku di hadapkan kenyataan jika aku sudah kehilangan suamiku saat itu.

Bulan tak pernah melihat ayahnya. Bahkan fotonyapun aku tidak punya. Sebisa mungkin aku menghapus semua memori tentang Mas Robby. Tapi ketika aku mulai melupakannya, kenapa dia datang kembali?

Lelaki itu masih setia menatapku seakan meminta penjelasan dariku. Dia benar-benar sangat tampan, mungkin istrinya yang saat ini selalu merawatnya dengan baik. Mengingat itu, hatiku terasa teriris. Aku kembali menangis, kembali lemah seperti dulu, dan aku tidak suka.

Secepat kilat aku berdiri, lalu menuju ke area bermain yang di sana masih ada Bulan yang sedang bahagia bermain dengan Ivander –Putera Mas Robby-

Aku menarik tangan Bulan untuk ku ajak pulang. Tapi kemudian aku merasakan sebelah tanganku di raih seseorang.

“Kenapa anda bersikap seperti ini? Apa anda mengenal saya sebelumnya?”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Sedangkan tangaku masih sibuk menarik tangan Bulan.

“Ayo sayang, kita harus pulang.” Ucapku sedikit lebih keras, karena Bulan tampak tidak suka dengan ajakanku.

“Please, tolong jelaskan jika ada masalalu di antara kita yang membuatmu sedih. Saya minta maaf karena tidak bisa mengingat apapun di masa lalu.”

“Maaf tuan, anda salah sangka. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, kita tidak saling mengenal. Jadi saya mohon, lepaskan tangan saya.”

“Lalu kenapa anda bersikap seperti ini terhadap saya?”

“Saya hanya memiliki sedikit masalah. Dan saya sedang menyiapkan sesuatu kejutan ulang tahun puteri saya, makanya saya ingin cepat-cepat mengajaknya pulang.” Jawabku dengan cepat.

“Benarkah?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku. Kulepaskan paksa genggaman tangan Mas Robby, lalu kutarik paksa tangan Bulan untuk mengikutiku. Aku harus menjauh darinya, aku harus menghindarinya.

Maafkan aku Mas.. Maafkan Mama Bulan..

***

 

 

-Robby-

Gadis mungil itu bernama Bulan. Dia bersekolah di sebuah taman kanak-kanak sederhana tepat di sebelah taman kanak-kanak tempat Ivander bersekolah.

Beberapa hari yang lalu, Ivander bercerita jika dia memiliki teman baru yang baik saat membeli sebuah Ice Cream di depan puntu gerbangnya. Saat itu, Ivander akan membeli Ice Cream, tapi Ice cream itu habis, dan teman barunya itu memberikan Ice Creamnya untuk Ivander.

Namanya Bulan. Seorang anak yang usianya mungkin sekitar lima tahun, sama dengan usia Ivander, tapi bagiku dia sudah seperti anak yang memiliki hati mulia. Ivander benar-benar senang berteman dengannya. Hingga kemudian hari ini aku mengajak anak tersebut ke sebuah toko mainan yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Ketika mengantarnya kembali, ternyata ibu dari Bulan sudah menunggu di sana.

Hatiku berdenyut seketika. Seperti ada sesuatu di dalam sana yang menghantam-hantap dinding hatiku. Aku baru merasakan perasaan ini ketika bertemu dengan Ibu Bulan. Kenapa seperti ini? Siapa dia? Apa aku pernah mengenalnya dulu?

Lima tahun yang lalu, aku terbangun seperti orang bodoh yang tidak dapat mengingat apapun. Sangat kesal, jengkel dan lain sebagainya. Bahkan mengingat namaku sendiripun aku tidak bisa. Semuanya terasa kosong, terasa hampa, dan aku membenci semua itu.

Aku berubah menjadi sosok yang pendiam, padahal kata Ibu, aku bukan orang seperti itu, dulu. Aku suka menyendiri, dan tidak berkembang sama sekali. Ingin rasanya aku mengingat semua masalaluku, tapi seperti ada kabut tebal yang menyelimuti ingatanku dan membuatku lelah untuk mencoba mengingatnya.

Hingga kemudian, Ibu menyrankan supaya aku keluar, mengenal beberapa gadis, menikahinya dan memberikannya keturunan. Aku melakukan apapun perintah ibu, keluar, berkenalan dengan gadis, tapi entah kenapa hatiku tak dapat bergerak untuk tertarik dengan salah satunya. Seperti ada sesuatu yang menguruh hatiku untuk mendekati mereka. Dan akhirnya aku tak dapat menuruti kemauan Ibu.

Suatu hari, aku menuju ke salah satu panti asuhan untuk mengadopsi seorang anak laki-laki. Dan kini dia yang selalu berada di dekatku. Ivander Hermawan. Putera adopsiku.

Tapi melihat Bulan dan ibunya entah kenapa membuat jantungku berdegup kencang. Membuat hatiku terasa pilu karena sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti apa itu. Kenapa mereka bisa membuatku seperti itu?

“Papa, kok kita ke sini?” Suara Ivander membuatku tersadar dari lamunan. Ku lihat seorang wanita dengan seorang gadis kecil masih berjalan di atas trotoar.

“Uum, Papa hanya ingin tahu, di mana Bulan tinggal.”

“Yeaay, jadi nanti Ivander bisa berteman dan main sama Bulan kapanpun kan Pa?” Tanyanya dengan wajah riang.

Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Iya.”

Tuhan, apa rencanamu selanjutnya? Apa yang kau sembunyikan dariku? Siapa mereka? Siapa Bulan dan Bintang? Kenapa mereka membuatku seperti ini?

***

Sampai di rumah, Ivander berlari menghambur ke arah neneknya. Sedangkan aku hanya dapat tersenyum melihanya.

“Oma, Ivan pengen ketemu Ibu.”

Tubuhku menegang seketika saat mendengar ucapan dari Ivander. Sudah lima tahun berlalu sejak pertama kali aku mengadopsinya sebagai puteraku, dan ini adalah pertama kalinya dia bertanya tentang Ibu. Kenapa sekarang?

Ibu menatapku dengan tatapan bingungnya. Tentu dia sama bingungnya denganku.

“Ivan, kenapa kamu bertanya tentang Ibu?”

“Ivander pengen punya ibu seperti Bulan. Ibu yang cantik.”

“Bulan? Siapa Bulan?”

“Teman baru Ivander.” Ucapnya dengan polos.

“Uum, Ibumu sedang kerja, nanti akan pulang dan membawakanmu mainan yang banyak. Jadi jangan bertnya tentang Ibu lagi ya.” Bujuk Ibuku.

“Kalau Ivan menganggap Ibu Bulan sebagai Ibu Ivan, apa boleh?”

Ibu menatapku dengan tatapan tanda tanyanya sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepalaku.

“Ya, boleh saja.”

Ivander bersorak gembira. Ia berlarian menuju ke arah kamarnya di ikuti pengasuhnya.kini, tinggalah aku yang hanya berdua dengan Ibu.

“Siapa Bulan? Perasaan dia tidak seberapa akrab dengan teman-teman sekelasnya.” Tanya Ibu secara langsung padaku.

“Hanya seorang anak perempuan kecil yang pernah memberinya ice cream.” Jawabku. “Ibu.” Aku kembali memanggil ibu dan ingin menanyakan sesuatu padanya.

“Ada apa Robb?”

“Eemm, apa dulu aku mengenal wanita yang bernama Bintang?”

Pertanyaanku sontak membuat Ibu membulatkan matanya seketika. Terlihat dengan jelas jika ia sangat terkejut dengan pertanyaanku. Kenapa? Apa dulu aku memang mengenal wanita yang bernama Bintang? Karena jujur saja, aku tidak merasa asing dengan nama itu, dan melihat Bintang, Ibu dari Bulan, aku merasakan jika ada sesuatu yang salah di antara kami. Apa ini hanya perasanku saja?

-TBC-

Lanjut besok yaa.. hahahah jangan lupa tinggalin komentar… hahahha

Advertisements

15 thoughts on “Bintangku (Side Story of Robby) – Part 1

  1. aduhhhh bingung mo komen , q pikir mereka akan seperti bos dan sekretaris yng saling jatuh cinta , ga tau .a malah bikin baper … ga nyangka ibu na robby bkal sekejam itu , sorry bu baru sempet mmpir ☺.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s