romantis

The Married life (Lady Killer 2) – Chapter 11 (Merelakan)

bysj4kvccaajavnThe Lady Killer 2

Chapter 11

-Merelakan-

 

Jonathan melepaskan pelukannya pada tubuh Nessa. Menatap Nessa dengan tatapan lembutnya, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang jatuh di pipi wanita tersebut.

“Sudah, jangan nangis lagi, ayo kita masuk, kita temui mereka.”

Nessa menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Jonathan masuk ke dalam kamar Erly. Di sana, Erly sudah dalam posisi terbaring setengah duduk, wajahnya masih terlihat sendu bahkan sesekali masih terdengar isakan.

“Kak.” Panggil Jonathan pada Erly.

Erly mengangkat wajahnya hingga dirinya bertatapan dengan wajah adiknya tersebut. Lalu tanpa banyak bicara lagi Jonathan menghambur ke arahnya, memeluknya dengan erat.

“Maafin aku, maafin aku Jo.” Ucap Erly kembali menangis.

“Kakak nggak salah.”

Nessa sendiri kembali berkaca-kaca menatap pemandangan di hadapannya. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggenggam telapak tangannya. Nessa melirik ke arah tangannya tersebut, ternyata sudah ada tangan Dhanni di sana yang sudah menggenggamnya erat-erat. Nessa menatap ke arah Dhanni lalu tersenyum manis terhadap suaminya tersebut.

Pun dengan Dhanni yang tampak menyunggingkan senyumannya pada Nessa. Tampak kelegaan di wajah keduanya. Apa memang akan berakhir seperti ini? Atau akankah ada babak baru di antara mereka berempat? Nessa dan Dhanni sendiri tak tahu.

***

Pulang dari rumah Jonathan, keduanya masih saling berdiam diri. Tadi Dhanni memang sempat ke kantor sebentar, dan meninggalkan Nessa di rumah Jonathan. Lalu Dhanni kembali menjemput Nessa dan kini mereka pulang bersama.

Ada sebuah kecanggungan diantara keduanya. Seakan ada sesuatu yang menghalangi keduanya untuk saling bicara satu sama lain. Meski begitu Nessa merasa sangat nyaman mengingat sejak tadi telapak tangan Dhanni tak berhenti menggenggam telapak tangannya. Suaminya itu bahkan sesekali mengecup lembut punggung tangannya meski hingga kini tak mengucapkan sepatah katapun terhadapnya.

Masuk ke dalam apartemen, Dhanni lantas berjalan tepat di depan Nessa, sedangkan Nessa sendiri memilih mengekor di belakang Dhanni sembari menundukkan kepalanya. Hingga Nessa tak menyadari jika kini mereka sudah berada di dalam kamar mereka.

Dhanni menghentikan langkahnya dan itu membuat Nessa yang tepat di belakangnya menubruk tubuhnya karena tak tahu jika Dhanni tiba-tiba berhenti.

“Maaf.” Hanya itu yang di katakan Nessa sambil menundukkan kepalanya.

Dhanni membalikkan tubuhnya hingga kini menatap Nessa sepenuhnya. Ia sedikit menyunggingkan senyuman khasnya, tangannya lalu terulur mengangkat dagu Nessa, membuat Nessa menatap seketika ke arahnya.

“Kenapa minta maaf?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

Nessa hanya sedikit menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merenggangkan kedua tangannya.

“Kemarilah.” Ucapnya.

Dengan spontan Nessa menghambur ke dalam pelukan Dhanni. Oh, rasanya benar-benar sangat nyaman, seperti ada sebuah beban yang terangkat dari pundaknya.

“Aku kangen meluk kamu kayak gini.” Ucap Dhanni serak. Bibir Dhanni kemudian menelusuri kulit leher serta pundak Nessa.

“Aku juga kangen meninggalkan kecupan-kecupan basah di sini.” Ucap Dhanni lagi masih dengan menggoda leher tengkuk leher Nessa.

“Aku juga kangen kak Dhanni.”

Dhanni tersenyum mendengar ucapan istrinya tersebut. Di peluknya semakin erat tubuh Nessa, seakan tak ingin membiarkan Nessa menjauh darinya.

“Aku kangen Brandon.”

Ucapan polos Nessa membuat Dhnni terkikik geli. Dhanni kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya.

“Nanti kita telepon Mama supaya mereka cepat pulang, aku juga kangen sama Brandon.”

Nessa tersenyum manis. “Kak Dhanni nggak marah sama aku?”

“Marah? Marah kenapa?”

Nessa mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, kupikir Kak Dhanni kesal sama aku karena aku memaksa kak Dhanni kembali dekat dengan Erly.”

“Ya, aku memang sedikit kesal. Dan berjanjilah kalau kamu nggak akan melakukan hal itu lagi.”

Nessa mengangguk cepat. “Aku berjanji. Sebenarnya aku juga sedikit cemburu melihat kedekatan kak Dhanni dengan wanita lain.”

“Lalu, kenapa kamu seakan mendorongku untuk dekat dengan dia kemaren?”

Nessa tersenyum. “Karena aku yakin, walau ku dorong menjauh seperti apapun, kak Dhanni tidak akan pernah meninggalkanku.”

Dhanni mendengus tapi tak dapat menahan senyuman di bibirnya.

“Kamu terlalu percaya diri, sayang.”

“Nyatanya seperti itu bukan?”

“Ya, memang seperti itu, walau kamu mendorongku menjauh, atau memohon padaku untuk meninggalkanmu, aku tidak akan melakukan itu.” Telapak tangan Dhanni terulur mengusap lembut pipi Nessa. “Cuma kamu satu-satunya wanita yang ku cintai, kamu adalah tujuan terakhirku, kamu adalah alasanku untuk hidup, jadi jangan pernah meragukanku lagi, jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang membuatmu tersakiti, karena aku juga akan tersakiti saat melihatmu sedih atau menangis.”

Mata Nessa berkaca-kaca seketika. Mungkin kalimat Dhanni tersedar menggelikan di telinganya, tapi entah kenapa Nessa benar-benar merasakan ketulusan di sana.

“Maafkan aku Kak.”

“Berhenti meminta maaf, semuanya sudah berlalu. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Jonathan?” Tanya Dhanni penuh selidik.

Nessa sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Dhanni yang terlihat sedikit menunjukkan kecemburuannya.

“Kak, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Jo. Aku sudah berhenti memikirkannya sejak aku pindah ke Jakarta dan bertemu denganm Kak Dhanni dan juga kak Renno. Jadi, aku sudah tak memiliki perasaan lebih padanya.”

“Kamu yakin?”

Nessa mengangguk cepat.

“Lalu bagaimana dia menyikapi hal ini?”

“Kak Jo baik, dia seperti Kak Renno. Aku yakin dia dapat menerima semua ini.”

“Oh ya? Dan aku baru ingat kalau sejak tadi kamu bicara tentang Renno lagi.”

Nessa tertawa lebar. “Ayolah Kak, aku sudah tak memiliki perasaan apapun dengan Kak Renno atau mantan pacarku yang lainnya. Apa salah kalau aku hanya menyebut namanya?”

Dhanni mendekatkan diri kemudian berbisik lembut di telinga Nessa.

“Tidak salah, tapi tetap saja aku cemburu saat kamu menyebut nama pria lain di hadapanku.”

Nessa mencubit pipi Dhanni. “Kak Dhanni menggelikan.” Nessa lalu beranjak pergi, tapi kemudian Dhanni menarik tangannya.

“Mau kemana?” tanya Dhanni dengan suara seraknya.

“Mandi.”

Dhanni tersenyum miring. “Boleh aku ikut?”

Nessa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Enggak, nanti kak Dhanni nggak cuma mandi.”

“Memangnya kenapa kalau nggak Cuma mandi?” Tanya Dhanni dengan suara menggoda sembari mendekat kembali pada Nessa.

“Uumm…”

Dhanni menundukkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Nessa.

“Aku kangen kamu. Aku ingin menyentuhmu setelah semua ini selesai.”

Nessa mengangkat wajahnya, menatap Dhanni dengan tatapan anehnya. Sedangkan Dhanni hanya tersenyum kemudian membopong tubuh Nessa masuk ke dalam kamar mandi.

***

Di dalam kamar mandi.

Dhanni membuka kemeja yang ia kenakan. Matanya tak pernah lepas menatap sosok di hadapannya yang tampak menunduk malu.

“Kenapa seperti itu?” tanya Dhanni ketika Nessa masih menundukkan kepalanya.

“Enggak.”

“Ini bukan pertama kalinya kita mandi bareng kan?”

“Ya, memang bukan, tapi…”

“Tapi apa? Kamu mau aku yang membuka pakaianmu?”

“Enggak, aku bisa membukanya sendiri.” Ucap Nessa cepat.

“Kemarilah.” Ucap Dhanni, dan ketika Dhanni sudah mengucapkan kalimat itu, maka Nessa tahu jika suiaminya itu ingin menyentuhnya.

Nessa mendekat. Tangan Dhanni terulur membantu Nessa membuka pakaiannya satu persatu hingga istrinya itu polos.

“Kamu masih tetap indah seperti pertama kali aku melihatmu.”

“Jangan menggombal, nyatanya tubuhku sudah berubah.”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Bagiku masih sama.”

“Sebentar lagi bobotku bertambah.” Ucap Nessa sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni tersenyum, lalu ikut mengusap perut datar Nessa. “Biarlah, aku bahkan berharap kamu nanti tetap gendut, biar nggak ada yang suka, dan kamu nggak berpikir untuk ninggalin aku.”

“Oh ya? Lalu bagaimana kalau kak Dhanni yang berpikir untuk ninggalin aku yang sudah gendut.”

“Itu tidak akan terjadi.”

“Kita tidak bisa menebak masa depan, sayang.”

Dhanni tersenyum karena Nessa kembali memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. “Aku tahu, tapi kamu bisa pegang omonganku, kalau ninggalin kamu adalah hal terakhir yang ingin ku lakukan di dunia ini.”

“Nggombal.” Ucap Nessa sambil mempalingkan wajahnya.

Dhanni menolehkan kembali wajah Nessa ke arahnya. “Aku nggak nggombal, ini kenyataan.” Ucap Dhanni serak kemudian menundukkan kepalanya lalu mencumbu bibir Nessa dengan lembut. Amat-sangat lembut. Nessa bahkan mengerang dalam cumbuan Dhanni.

Dhanni melepaskan cumbuannya ketika mereka sudah cukup lama saling bercumbu mesra. Ia mengusap pipi Nessa yang merona.

“Mau berdiri, atau…”

Nessa menggeleng cepat. Dhanni sendiri mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya tersebut.

“Baiklah, aku mengerti.”

Dhanni lalu menyalakan air, kemudian masuk ke dalam bathub. Ia duduk santai di dalam sana lalu membimbing Nessa untuk mengikutinya dan duduk tepat di atas pangkuannya.

“Kamu selalu suka posisi seperti ini.” Ucap Dhanni serak sembari mencoba menyatukan diri dengan tubuh di atasnya.

Nessa memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya lalu mengerang panjang ketika Dhanni berhasil menyatukan diri dengan tubuhnya. Matanya kemudian membuka, menatap Dhanni yang kini sedang menatapnya sembari menyunggingkan senyuman miringnya.

Nessa mengulurkan jemarinya, mengusap sebelah ujung bibir Dhanni yang tertarik ke atas.

“Jangan tersenyum seperti itu.” Ucap Nessa dengan napas yang sedikit terputus-putus.

“Kenapa?”

“Jelek tahu!” serunya.

“Oh ya? Kalau jelek, aku nggak akan menyandang gelar sebagai Lady killer.”

Nessa tertawa lebar. “Yang ngasih gelar itu yang lebay. Pokoknya jangan senyum kayak gitu lagi, Babbynya nanti mirip gitu.”

“Biar saja, aku kan ayahnya. Jadi biar saja mirip denganku.”

“Keras kepala.” Ucap Nessa dengan mencubit hidung mancung Dhanni.

“Kamu juga sama.” Dhannipun mencubit gemas kedua pipi Nessa.

“Kak Dhanni nggak bergerak? Apa kita akan seperti ini terus sampai malam?”

Dhanni terkikik sendiri. “Sial!! Aku bahkan lupa kalau sudah berada di dalam dirimu sayang. Aku sangat bahagia, saking bahagianya sampai melupakan percintaan kita.”

Kini Nessa yang terkikik geli. Di kalungkannya lengannya pada leher Dhanni kemudian di kecupnya berkali-kali bibir suaminya tersebut dengan kecupan-kecupan kecinya.

“Bergeraklah dengan bahagia.” Bisik Nessa dengan suara seraknya.

“Ya, aku akan bergerak sayang.” Dhanni kemudian menggerakkan tubuhnya secara berirama, sedangkan Nessa sendiri memilih mengikuti irama permainan dari suaminya tersebut dengan sesekali mengerang.

***

Empat bulan kemudian…

“Brandon, astaga, kalau kamu nakal nanti mama tinggal.” Ucap Nessa dengan bocah laki-laki kecil yang sedang menghamburkan mainanya sendiri.

“Ada apa sayang?” tanya Dhanni yang sudah berpakaian Rapi tepat di belakang Nessa.

“Lihat Kak, dia menghambur mainannya lagi.” Rengek Nessa dengan setengah manja.

“Gampang kan, nanti tinggal di pungutin lagi.”

“Tapi aku capek kak, perutku sudah membesar seperti bola basket. Aku bahkan nggak bisa nunduk-nunduk lagi.”

“Aku yang beresin nanti.” Dhanni melirik jam tangannya. “Sudah siap kan? Ayo berangkat, nanti kita ketinggalan mereka.”

“Baju Brandon kotor lagi.” Lagi-lagi Nessa kembali merengek.

“Sini, biar aku yang ganti bajunya.” Nessa tersenyum dengan pernyataan Dhanni, dan akhirnya ia membiarkan Dhanni mengganti pakaian putera pertama mereka.

***

Dhanni masih setia menggenggam sebelah tangan Nessa sedangkan tangan yang lainnya menggendong Brandon, puteranya. Mereka kini berada di sebuah bandara untuk mengantarkan Erly dan Jonathan yang akan pergi ke luar Negeri.

Dari jauh, terlihat Erly melambaikan tangannya. Meski berwajah sendu, tapi sedikit terlihat enyuman di sana. Nessa tampak berjalan cepat lalu memeluk Erly begitu saja.

Ya, sejak hari itu, hubungan keduanya membaik. Entah apa yang terjadi, meski begitu, Dhanni tidak ingin membuka kesempatan bagi Erly untuk kembali dekat dengannya.

Nessa melepaskan pelukannya pada Erly, lalu beralih untuk memeluk Jonathan, tapi secepat kilat Dhanni menarik Nessa ke belakangnya.

“Cukup bersalaman saja.” Desis Dhanni yang membuat Jonathan dan Erly tersenyum.

“Apaan sih.” Gerutu Nessa. “Kak Dhanni juga harus peluk dia sebagai perpisahan.” Bisik Nessa pada Dhanni.

“Enggak!!” hanya itu jawaban dari Dhanni.

“Aku senang melihat kalian akur.” Jonathan tiba-tiba menyahut.

“Maaf, kalau kami sempat mengganggu hubungan kalian. Aku banyak belajar dengan masalah kemarin.” Kali ini Erly yang berbicara. Dhanni dan Nessa hanya menganggukkan kepalanya.

“Nessa, kamu beruntung mendapatkannya.” Ucap Erly dengan menggenggam telapak tangan Nessa.

“Bukan dia yang beruntung mendapatkanku, tapi aku yang beruntung karena dia mau berada di sisiku.” Ucap Dhanni dengan nada cueknya.

Semua tersenyum mendengar ucapan Dhanni.

“Erly, aku harap kita bisa menjadi teman baik setelah ini. Kamu bisa meneleponku atau mengirimku email jika ada masalah.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Terimakasih sudah mengerti.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Jonathan lalu melirik ke arah jam tangannya.

“Kak, kita harus masuk.”

Erly menganggukkan kepalanya, kemudian tersenyum pada Dhanni dan Nessa. “Aku pergi. Dan sekali lagi terimakasih sudah membuatku sadar.” Erly membalikkan tubuhnya kemudian pergi begitu saja.

Jonathan menatap Nessa dengan tatapan lembutnya. “Terimakasih Ness, kamu sudah memperbaiki semuanya.” Jonathan kemudian berbalik begitu saja lalu menyusul kakaknya dengan setengah berlari.

“Apa kita sudah jahat kak?” tanya Nessa masih dengan menatap kepergian Jonathan dan Erly.

“Tidak, bukan kita yang jahat. Tapi cinta yang terlalu kejam mempermainkan kita.” Nessa kemudian merangkul lengan Dhanni dan meneteskan air matanya di sana. Ia melihat kesakitan yang terpampang jelas di wajah Erly dan Jonathan tadi. Ahhh mereka benar-benar malang. Pikir Nessa.

***

Erly menatap ke luar jendela pesawat yang berada tepat di sebelahnya. Hanya terlihat awan putih yang indah, tapi Erly seakan tidak menikmati pemandangan tersebut. Tatapannya hanya tatapan kosong, sedangkan air matanya tidak berhenti menetes dengan sendirinya.

Erly merasakan tangannya di genggam erat oleh seseorang. Itu pasti Jonathan, adik yang selalu menguatkannya.

“Its okay, kak. Kita akan melupakan mereka.”

“Kita melakukan hal yang benar, kan Jo?”

“Ya, ini sudah benar.” Jawab Jonathan sambil menghela napas panjang.

“Apa kamu sudah merelakan Nessa?”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Belum saat ini, tapi aku yakin, nanti aku bisa merelakannya. Melihatnya tersenyum dengan lelaki lain entah kenapa membuatku sadar, kalau cinta itu bukan tentang kita memilikinya, tapi tentang bagaimana kita membuatnya bahagia.”

Erly menganggukkan kepalanya. “Aku juga senang melihat Dhanni tersenyum walau itu bukan denganku. Apa aku nanti bisa melupakannya?”

“Pasti bisa kak.”

Erly kemudian memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. “Aku akan berusaha Jo, aku akan berusaha.” Ucapnya dengan sungguh-sungguh.

 

-TBC-

Kyaaa… nggak nyangka udah sampek part ini… huuffttt padahal nulisnya tersendat2.. hahahhaha eh ya, kemaren aku bilang hanya sampek chapter 15 kan yaa. uummm sorry, sepertinya nggak sampek ke sana, draftnya ternyata nggak cukup. aku nggak bisa ngembangin ide lagi, so, mungkin Chapter selanjutnya sudah ending. Tapiiiiiiii… jangan sedih dulu, aku ada kejutan buat kalian… apalagi kalo bukannnnnn jrengg… jrengg…. -nanti aja ahh.. hahahahhaha- pokoknya pantengin terus Work ini yaakkk.. kisskisss.

Advertisements

3 thoughts on “The Married life (Lady Killer 2) – Chapter 11 (Merelakan)

  1. Siiip deh buat mrk yg udah melepas cinta mrk msing2,,,cinta yg sesungguhnya akan dtg mnghmpiri klian,,jd tinggl tnggu aja hehehe
    sngguh emng Nessa bruntung bgt dpt Dhanny yg sllu mengalah utknya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s