romantis

Love Between Us – Chapter 10 (Kamu Milikku)

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

PART 10 – KAMU MILIKKU

Luka itu akhirnya mengangga kembali. Aira berusaha untuk menutupnya namun pada akhirnya merasakannya lagi. Kesakitan dikhianati dan dipermainkan oleh cinta. Dengan tubuh yang basah ia menangis seorang diri di dalam kamar. Hatinya sangat berharap pada Denny. Namun pada akhirnya kekecewaanlah yang didapatnya. Dibutakan oleh sikap pria itu yang berbeda namun nyatanya sama saja seperti Wisnu.

Air matanya tak bisa berhenti meskipun mencobanya. Duduk memeluk lutut ditepi ranjang. Derasnya hujan menyamarkan suara tangisannya. Zeeva dan Rizky yang ada dibalik pintu tidak bisa berbuat apa-apa. Istrinya meminta untuk memberi Aira ruang menenangkan diri. Dan Rizky menerima usulnya. Ia tidak mau Aira semakin sedih melihatnya dicampakkan oleh pria kembali.

“Apa tidak apa-apa, Aira sendirian?” Rizky sangat khawatir.

“Aira sudah dewasa, Rizky. Kita tidak tau pasti apa masalah mereka.” Zeeva merangkul lengannya.

“Aku tidak mau putriku tersakiti lagi. Aku akan..” telunjuk Zeeva menekan bibirnya.

“Jangan mengancam dan berbuat sesuatu kepada orang lain. Aku tidak suka kekerasan atau apa pun itu. Kita tunggu sampai Aira tenang dan menjelaskannya pada kita.” Rizky menghela napas gusar.

“Bagaimana kalau Aira tidak mau cerita?”

“Untuk apa kamu punya anak buah yang selalu mengikuti Denny?” mata Rizky melebar.

“Bagaimana kamu tau?” Zeeva malah mengedipkan matanya.

“Aku tau segalanya tentangmu,” bisiknya ditelinga Rizky. Suaminya mendesah panjang.

“Apa bisa kita lanjutkan dikamar?”

“Dalam kondisi seperti ini?” Zeeva terperangah.

“Kata mu Aira butuh waktu sendiri. Kita pun butuh waktu berdua, sayang,” ucapnya gemas.

“Baiklah,” Zeeva berpura-pura pasrah. Rizky mencium pipinya lembut sebelum menariknya ke kamar.

***

Dengan mata sembab ia berdiri dan berjalan mendekat ke jendela membuka sedikit gorden. Disana Denny masih berdiri dengan tatapan kosong. Deraian air mata Aira semakin deras seperti hujan yang turun dari langit. Melihat pria itu tak bergerak sedikit pun. Rasa sesak memenuhi dadanya.

Kenapa harus Denny yang menyakitinya?. Apa semua kesalahan berasal dari kekayaannya?.

Andai saja.. Andai saja ia gadis biasa mungkin Denny tak akan menyakitinya. Dinda memamerkan prianya sedang berbelanja ditemani gadis yang bergelayut mesra. Kejadian ini terulang lagi ketika ia bersama Wisnu dulu.

“Kenapa kamu sama seperti Wisnu, Denny. Harapanku terhadapmu sudah terlampau jauh tapi kenapa kamu sama saja dengan pria brengsek itu!” racaunya seraya menutup gorden itu kasar. Aira tidak mau melihat tampang Denny lagi!. Ia tidak mau mengenal pria itu lagi.

Aira melepaskan pakaiannya yang basah. Ia naik ke bathup yang terisi air hangat. Ia duduk menopang dagu dilututnya. Suhu tubuh yang tadinya dingin kini menghangat. Sesekali air matanya jatuh.

Aira mencintai pria itu..

Ia meraup air dengan kedua tangannya lalu mengusap ke wajah. Memejamkan mata berharap ini semua mimpi belaka. Mencoba menepis kerisauan yang menerpanya. Setengah jam berlalu, suhu air sudah berubah dingin. Aira mengambil di sisi pinggir bathup handuk dan berjalan ke walkin closet. Ia menarik gaun tidur sembarang sehingga gaun lainnya berhamburan dari dalam lemari. Aira tidak punya tenaga untuk merapihkannya, malah membiarkannya berantakan. Ia mengenakan gaun berwarna putih itu lalu naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya yang lemas. Rambutnya basah mengenai bantal. Dan ia menangis kembali, hatinya hancur berkeping-keping.

***

Denny pulang dengan langkah gontai. Aira memutuskan hubungan mereka? Kenapa bisa? Bukankah hubungan mereka baik-baik saja kemarin? Apa yang terjadi dengan gadis itu?. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar membuatnya pusing. Ia bahkan tak mempedulikan pakaiannya yang kini basah kuyub karena kehujanan.

Yang ia pikirkan kini hanyalah hatinya. Hatinya terasa berdenyut sakit. Bahkan lebih sakit saat ini daripada dulu ketika ia mendapati hubungannya dengan Adelia putus.

Aira… Apa yang terjadi denganmu? Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku begitu kesakitan saat kamu meninggalkanku?

***

Paginya Zeeva memeriksa keadaan Aira. Gadis yang dianggapnya masih kecil itu sedang bersedih. Aira menceritakan semuanya. Walaupun hati kecil Zeeva tidak percaya jika Denny sama dengan Wisnu. Ia tetap memberi pengertian dan membuat Aira tidak patah hati terlalu dalam.

“Mama tau bagaimana sakitnya perasaan kamu. Tidak ada penjelasankah dari Denny?” tangan mengusap kepala Aira yang ada dipangkuannya.

“Aku nggak mau mendengarnya lagi, ma!. Hatiku terlanjur sakit. Penjelasannya nanti nggak akan merubah apapun yang ada dia hanya akan membuat alasan dan alasan lagi.” Ia kesal mengingat foto-foto itu. “Ma, apa semua pria seperti itu?.”

“Apa ayahmu seperti itu?” kepalanya menggeleng. “Tidak semua seperti itu, sayang. Pria matre memang tidak wajar tapi ada. Kamu akan bertemu berbagai macam sifat pria yang berbeda-beda. Dan kamu akan merasakan sakit sebelum kamu bertemu dengan yang tepat.”

“Aku nggak mau bertemu dengan pria mana pun lagi!” bibirnya berdecak.

“Hush! Kalau bicara sembarangan!. Kalau begitu bagaimana mama mau punya cucu!” Zeeva pura-pura marah, Aira terkikik. Hatinya merasa lega Aira masih bisa tertawa.

“Aku cuma nggak mau kecewa lagi, ma,” Aira bangun lalu duduk menatap Zeeva.

“Banyak pria diluar sana yang baik, sayang.” Nasehat Zeeva sembari mengusap pipi putrinya.

“Aku ingin yang seperti ayah,” lirihnya pelan.

Zeeva tersenyum, “Mama doakan kamu mendapatkan jodoh yang seperti ayah. Baik, tampan dan yang paling utama setia.”

“Ayah setia?” tanyanya seperti meledek.

“Tentu saja!” tukas Zeeva. “Ayah mu dulu sebelum mengenal mama tidak kaya seperti sekarang.”

“Kenapa mama mau sama ayah yang nggak kaya?”

“Mama melihat hatinya,” Zeeva teringat untuk pertama kali berjumpa dengan Rizky disekolah sewaktu Aira kecil. Ia terpana akan kehidupan Rizky jalani. Kekurangan harta bukan berarti hidup akan berhenti. Rizky yang seorang duda dengan ekonomi yang minim berani melamarnya karena gosip yang beredar. Pria itu ingin melindunginya dari terpaan gosip yang miring.

“Mama sangat mencintai ayah ya,” celetuk Aira.

“Sangat,” Zeeva memeluk Aira. “Suatu hari nanti mama berharap kamu menemukan seseorang yang bisa membuat mu bahagia disetiap detiknya.” Dalam hati ia berdoa agar putrinya bisa mengecap bagaimana dicintai oleh pasangan hidupnya nanti.

“Terimakasih, ma.” Aira mengusap punggung Zeeva. “Aku menyayangi mama,”

“Mama juga, sayang.” Balasnya.

Rizky tidak menanyakan apapun pada Aira tentang semalam. Walaupun raut kesedihan itu masih tersisa Aira menutupinya dengan keceriaan. Ia tidak mau keluarganya mengkhawatirkannya. Bodoh jika ia membebani kepada orangtuanya. Rizky sudah memperingatkannya.

“Aira, nanti siang kamu bisa melihat tempat untuk cafe mu.” Rizky telah menyetujui Aira membuka sebuah cafe. Itu adalah cara agar Aira tidak terpuruk karena cinta.

“Iya, yah. Nanti siang aku akan melihat tempatnya.” Aira mengangguk patuh.

“Ya sudah lanjutkan sarapannya.” Zeeva berterimakasih kepada Rizky karena tidak memgungkit masalah Aira.

***

Ini sudah dua minggu setelah keadaan malam itu. Hubungan Denny dan Aira masih sama. Bukannya ia tidak mencari tahu. Denny tentu tak berhenti menghubungi Aira, meminta penjelasan pada gadis itu. Tapi Aira tak pernah sekalipun mengangkat telepon darinya atau membalas pesan-pesannya.

Ia juga beberapa kali menemui Aira secara langsung. Tapi gadis itu selalu memiliki alasan untuk menolak bertemu dengannya. Aira bahkan seakan menyibukkan diri dengan cafe baru miliknya. Jika sudah seperti itu, Denny tidak dapat memaksa.

Sore ini, Denny berencana untuk kembali menemui Aira. Tapi ketika sampai di rumah Aira, gadis itu malah pergi. Dan ia memutuskan untuk mengikuti kemanapun gadis itu pergi.

Mobil Aira ternyata masuk kedalam area sebuah gedung besar, mungkinkah itu kantor ayah Aira? Yang dapat Denny lakukan saat ini adalah menunggu.

Tak lama. Terlihat Aira keluar sendiri dari dalam mobil tersebut, kemudian masuk ke dalam gedung. Ia sedikit menyunggingkan senyuman miring yang hampir tak penah terukir di wajahnya ketika sebuah ide melintas di kepalanya.

Jika Aira tidak ingin bertemu dengannya, kenapa ia tak memaksanya saja?. Akhirnya Denny melakukan apa yang sedang berada dalam pikirannya.

Denny menghampiri mobil Aira. Benar saja, di sana ada Indra pengawal Aira yang setia menemani kemanapun gadis itu pergi. Denny mengetuk kaca jendela mobil Aira. Indra akhirnya menurunkan kaca mobilnya.

“Loh, Mas Denny kok di sini?”

“Iya, saya. Umm, begini mau ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa Mas?”

“Kamu mau bantu nggak?”

Indra tampak mengerutkan keningnya, “bantu apa Mas?”

“Ngasih kejutan sama Aira.”

“Kejutan apa?”

“Begini, Aira kan nggak tahu kalau saya nyusul dia ke sini. Nah, saya akan gantiin posisi kamu buat nganterin kemanapun dia pergi hari ini. Kamu, tolong bawa kembali motor saya pulang ke rumah Aira.”

“Ah, nggak Mas, nanti pak Rizky marah.”

“Saya yang tanggung kalau pak Rizky marah.”

“Tapi mas, ini kan namanya melalaikan tugas. Saya bisa di pecat, mas.” Denny mendengus kesal. Sial!!! Si Indra benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya kemudian memberikannya pada Indra.

“Itu kartu nama asli saya, kalau kamu di pecat, datang ke kantor ayah saya. Bilang saja saya yang menyuruh dan merekomendasikan kamu sebagai pengawal adik saya.”

Indra tampak terperangah menatap kartu nama tersebut. Denny Handoyo, CEO Handoyo Group? Indra tidak mengerti apa yang terjadi. Jika dilihat dari kartu namanya, Denny bukanlah orang biasa. Dapatkah ia mempercayainya?. Berulang kali ia menatap kartu nama itu dan Denny.

“Indra? Saya nggak punya banyak waktu!. Cepat keluar dan biarkan saya masuk menggantikan kamu. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan Aira. Saya nggak akan menyakitinya. Lagi pula, kamu sudah tahu siapa saya yang sebenarnya. Jadi cepat keluar dan biarkan saya masuk sebelum Aira melihat saya.”

Indra yang memang tak tahu menahu tentang hubungan mereka yang sudah putus. Waktu Aira menyatakan putus Indra sedang libur. Akhirnya mengikuti apa yang dikatakan Denny. Secepat kilat Denny memasuki mobil Aira ketika Indra sudah keluar dari mobil tersebut. Ia mengeluarkan kunci motornya lalu memberikannya pada Indra.

“Bawa motorku pulang ke rumah Aira.” Dan Indra hanya menganggukkan kepalanya patuh.

Denny menghela napas lega, akhirnya dapat masuk ke dalam mobil Aira. Kini saatnya mencari cara untuk mengelabui gadis itu. Denny mencari-cari sesuatu di dalam dasboard mobil Aira dan hanya mendapatkan sebuah surat kabar harian. Ahh mungkin ini cukup untuk menutupi wajahnya sementara. Pikirnya.

Tak berapa lama gadis yang berada dalam pikirannya itu masuk begitu saja ke dalam mobil tersebut. Jantung Denny berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Ia melirik kearah kaca dihadapannya untuk melihat Aira dari bayangan kaca.

Gadis itu duduk di jok belakang dan tampak sibuk dengan tas yang di bawanya dengan sesekali menggerutu. Aira bahkan sama sekali tak memperhatikannya, dan itu membuat Denny senang. Tanpa aba-aba, ia menjalankan mobil begitu saja dan itu membuat Aira memekik karena terkejut.

“Indra, aku belum bilang kita mau…” Aira tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika mengetahui siapa yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Kamu? Kenapa kamu ada disini?!”

“Maaf Aira, tapi sepertinya kita harus bicara.”

“Nggak!! Berhenti!!!” teriak Aira.

“Aku nggak mau menghentikan mobilnya.”

“Denny, berhenti atau..”

“Atau apa?” tantang Denny. “Kumohon, sekali ini saja, ikutlah bersamaku. Setelah ini, aku janji nggak akan mengganggumu. Ada yang ingin aku sampaikan.”

“Apa? Kenapa nggak di sini saja?

“Nggak, aku nggak bisa mengatakannya di sini.” Aira hanya menghela napas dengan kesal. Ia kesal dengan Denny, ia kesal dengan dirinya sendiri yang nyatanya sampai saat ini tak dapat melupakan pria di depannya.

***

Sampai di tempat tujuan, Denny keluar dari dalam mobil Aira. Membukakan pintu untuk Aira lalu mengganggam pergelangan gadis itu dan mengajaknya masuk ke dalam sebuah gang.

Ternyata Denny sengaja mengajak Aira ke dalam rumah kontrakannya. Membicarakan semuanya dengan kepala dingin, begitulah yang direncanakan Denny.

“Lepaskan tanganku, lepaskan!!!” Aira meronta. Tapi Denny seakan menulikan telinganya. Ia harus meminta penjelasan pada Aira. Gadis itu tak boleh meninggalkannya begitu saja. Meninggalkannya setelah mencuri hatinya.

Sesampainya di dalam rumah kontrakan Denny, dengan sekuat tenaga Aira menghempaskan cekalan tangan Denny hingga terlepas dari pria tersebut.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa membawaku kemari?” tanya Aira dengan nada yang dibuatnya ketus.

“Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu, Aira.” Lirih Denny sambil kembali menggenggam pergelangan tangan Aira.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kita sudah nggak memiliki hubungan apapun, Denny!” jawab Aira, kini sudah melepaskan paksa genggaman tangan Denny. Aira berbalik dan akan keluar dari rumah kontrakan Denny, tapi secepat kilat Denny kembali menarik tangannya. Memaksa Aira kembali menatap ke arahnya.

“Kamu nggak boleh pergi meninggalkanku, Aira. Nggak saat ini, ketika kamu membuatku nggak bisa berpaling darimu,” desis Denny dengan nada dinginnya.

Aira membuka bibirnya ingin menjawab perkataannya. Tapi secepat kilat Denny menyambar bibir mungil Aira, melumatnya dengan penuh rasa frustasi. Oh, Denny benar-benar frustasi terhadap Aira. Beberapa minggu ini gadis itu benar-benar membuatnya gila karena penolakannya dan menghindarinya. Itu benar-benar membuat Denny semakin menginginkan Aira.

Aira sendiri meronta ketika Denny menciumnya. Ia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Denny. Aira dapat kembali menguasai dirinya dari rasa keterkejutannya. Sekuat tenaga ia mendorong dada Denny kuat-kuat, hingga pria itu menjauh dan melepaskan lumatannya.

“Apa yang kamu lakukan?!!” teriak Aira pada Denny.

Tapi bukannya menyesal dan meminta maaf. Denny malah kembali mendekat ke arah Aira, menangkup kedua pipi Aira dan kembali melumat kembali bibir ranum gadis tersebut.

Aira kembali memukul-mukul dada Denny, tapi kemudian pergelangan tangannya di cekal oleh Denny. Ia mendorong sedikit demi sedikit tubuh Aira ke belakang hingga membentur dinding. Sedangkan kedua tangannya masih mencekal dengan kuat kedua pergelangan tangan Aira.

Aira tak berdaya, yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah. Denny, kenapa pria ini memperlakukannya seperti ini?. Denny seperti orang lain.

Ketika Aira sudah tak lagi melawan, Denny melonggarkan cekalan tangannya. Ia tentu tak ingin menyakiti Aira, tapi di sisi lain juga tak ingin gadis itu pergi darinya.

Denny melepaskan lumatannya ketika menyadari napas Aira sudah terputus-putus. Ia masih menunduk, menempelkan keningnya pada kening Aira. Bibirnya masih dekat dengan bibir Aira, sedangkan matanya tak berhenti menatap mata Aira yang sudah berkaca-kaca

“Jangan pergi,” ucap Denny dengan suara serak. Tanpa di duga, ia mengangkat tubuh Aira menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.

“Kenapa kamu membawaku kemari?” tanya Aira dengan wajah bingung.

“Maaf, tapi aku harus melakukannya.” Denny sambil menurunkan Aira di atas ranjangnya.

“Melakukan apa?”

“Melakukan sesuatu supaya kamu nggak lagi pergi meninggalkanku.” Aira tak dapat menjawab lagi ketika tiba-tiba Denny mendorongnya hingga telentang di atas ranjang lalu menindihnya

“Denny, jangan lakukan ini!” ucap Aira dengan suara sedikit bergetar ketika bibir basah Denny mulai menyapu permukaan kulit lehernya.

Denny tak lagi menghiraukan Aira. Ia bahkan sudah memberanikan diri membuka pakaian gadis yang kini berada dibawahnya tersebut. Melucutinya tanpa meninggalkan cumbuannya pada permukaan kulit Aira. Aira sendiri hanya bisa pasrah. Otaknya menolak, tapi tidak dengan tubuhnya.

Aira bahkan tak menyadari jika dirinya sesekali mendesah saat Denny menyentuh titik-titik sensitifnya. Setelah dirasa cukup lama menggoda Aira hingga gadis itu tak berdaya dibawah tindihannya tanpa sehelai benangpun. Denny bangkit, lalu mulai melucuti dirinya sendiri hingga kini sama-sama polos.

Denny kembali menindih Aira. Jemarinya terulur mengusap bibir Aira yang sedikit merah karena lumatan panasnya tadi. Lalu merayap naik, mengusap sudut mata Aira yang sudah basah karena air mata.

“Jangan menangis,” ucap Denny dengan suara parau.

“Kumohon, jangan lakukan ini.” Aira benar-benar memohon. Ia tak bisa melakukan hal ini. dirinya bukanlah wanita yang dididik sembarangan. Ia tak ingin mahkotanya direnggut oleh seseorang yang bukan berstatus sebagai suaminya. Aira tak ingin itu terjadi. Tapi di sisi lain, tubuhnya tak dapat lagi menolak sentuhan Denny. Ia ingin pria itu memilikinya, mengikatkan diri menjadi miliknya. Bagaimana dengan kekasih Denny yang lainnya?.

“Maaf, aku nggak bisa berhenti di sini.” Denny sambil kembali melumat bibir Aira. Menggodanya hingga Aira tak mampu lagi menolaknya.

Masih dengan mencumbui Aira, Denny mencoba menyatukan diri dengan gadis di bawahnya. Sangat sulit, tentu saja, karena Denny yakin jika ini yang pertama kalinya untuk Aira. Denny akan bersikap selembut mungkin, memperlakukan Aira semanis mungkin, hingga gadis itu tak akan melupakan momen pertama mereka.

“Aku akan memulainya.” Denny dengan suaara yang sudah serak ketika hampir menyatu dengan Aira. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia takut, tentu saja. Ini pertama kali untuknya, tapi lebih dari itu ketakutan Aira hanya satu, yaitu takut jika nanti Denny akan meninggalkannya setelah sudah mendaptkan apa yang pria itu mau.

“Aira, tatap aku,” ucapnya lagi.

Aira menuruti apa yang dikatakan Denny. Matanya menatap tepat pada manik mata Denny juga menggigit bibir bawahnya seakan menunjukkan ketidak nyamanannya.

“Setelah ini, kamu akan menjadi milikku. Jangan ragukan aku lagi. Aku melakukannya karena aku nggak mau kamu pergi meninggalkanku. Jangan tinggalkan aku Aira… jangan tinggalkan aku.” Denny memeluk tubuh Aira, menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Aira, sedangkan yang dibawah sana sudah bergerak mendesak, menyatu dengan tubuh Aira.

***

Denny masih menatap dalam diam punggung telanjang Aira di hadapannya. Aira meringkuk memunggunginya. Gadis dihadapannya itu masih terisak karena ulahnya. Terlihat dengan jelas beberapa bekas gigitannya dipundak Aira yang memerah. Denny benar-benar merasa jika dirinya sudah gila. Bagaimana mungkin ia memaksa Aira bercinta dengannya.

“Aira…” panggil Denny sembari merengkuh tubuh Aira untuk masuk dalam pelukannya.

“Jangan sentuh aku!!!” teriak Aira dengan kembali menjauh dari rengkuhan lengan Denny.

“Maafkan aku. Aku melakukan semua ini supaya kamu nggak ragu dan meninggalkanku lagi.”

“Apa kamu tahu? Aku membencimu. Kamu salah, aku semakin ragu kalau kamu adalah pria baik-baik. Aku membencimu!!”

“Kumohon Aira, jangan seperti ini. Kita bisa bicara baik-baik.”

“Nggak!!! Aku nggak mau bicara dengan pria sepertimu. Pria yang memiliki banyak kekasih. Pria yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau!”

Denny mengerutkan keningnya, dengan cepat ia membalikkan tubuh Aira hingga menghadap sepenuhnya ke arahnya.

“Aira, kamu ngomong apa? Aku nggak ngerti.”

“Nggak ngerti? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu memang berniat mendekati gadis-gadis kaya untuk mengeruk hartanya?. Sudah berapa gadis yang menjadi mangsamu, huh?” Denny menajamkan matanya ke arah Aira ketika mendengar kalimat penghinaan dari wanita dihadapannya tersebut.

“Siapa yang memberimu informasi murahan itu?” desis Denny.

“Kamu nggak perlu tahu, yang pasti aku sudah tahu kebusukanmu.”

“Aira dengar, aku mendekatimu bukan karena kekayaanmu. Lagi pula bukannya saat itu kamu yang mendekatiku lebih dulu?”

Aira merona malu saat mengingat jika memang benar dirinyalah yang dulu menempel pada Denny. Padahal pria itu sudah bersikap dingin dan cuek terhadapnya.

“Aku nggak peduli!!. Pokoknya aku nggak mau berhubungan dengan pria sepertimu lagi.” Aira dengan nada merajuk manjanya.

“Aira, kamu hanya belum mengenalku. Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi kumohon percayalah. Kalau semua ini nggak ada hubungannya dengan kekayaan yang dimiliki keluargamu.” Ada jeda sebentar, Denny menelan ludahnya dengan susah payah.

“Aku…  Aku benar-benar mencintaimu. Dan itu bukan karena hartamu atau apapun itu. Yang membuatmu berpikiran buruk tentangku. Aku mencintaimu karena itu ‘kamu’.” Perkataan Denny membuat Aira tersipu-sipu seketika.

Kenapa Denny mengatakan kalimat semanis itu?.

Ya ampun, ingin rasanya Aira meneriakkan kalimat ‘JANGAN MERAYUKU’ pada Denny. Tapi sungguh, perkataan pria itu bukan terdengar sebagai rayuan di telinganya. Ucapan Denny terdengar seperti sebuah ungkapan seseorang yang benar-benar tulus.

 

Apakah Denny benar-benar tulus mencintainya?

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Love Between Us – Chapter 10 (Kamu Milikku)

  1. OMG..denny..oh denny..ngeyakinin airanya jangan sambil berbuat mesum dong 😜
    Udah gemes deh, pengen airanya cepet” tahu tentang identitas denny yg sebenarnya…

    Like

  2. lama ditungguin akhirnya aira-deni muncul juga..
    ya ampun deni nekat amat sih!
    cepetan jujur, trus langsung nikahin tu aira keburu isi hahahahag
    lanjut ya kak…

    Like

  3. Mom,update love beetwen us kok lama bgt ya.sampe beberapa bln baru up lagi.kirain dah gk dilanjutin ceritanya.jadi walau sebenarnya msh penasaran,tp gk terlalu berharap bgt.up nya jangan lama2 ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s