romantis

Sweet in Passion – Chapter 4

fh1-copySweet in Passion

Banyak Typo!!!

Sial!! Jika saat ini si Alvin yang kembali meneleponnya, maka Randy akan menyumpahi temannya itu impoten seumur hidup. Benar-benar merusak suasana.

Tapi kemudian Randy mengernyit ketika mendapati nomor rumah keluarganya yang sedang menghubunginya. Ah, ini pasti ibunya. Ada apa lagi??

“Halo, Ma?” Randy mengangkat telepon tersebut sesekali melirik ke arah Febby yang sedang sibuk membenarkan tatanan rambutnya. Ahh benar-benar sial, Febby terlihat nikmat untuk di santap. Pangkal pahanya kembali berdenyut saat membayangkan bayangan erotis bersama dengan Febby.

“Randy, cepat ke sini, ada kak Mira dan suaminya di sini, jangan lupa ajak Febby.”

“Iya, Randy segera ke sana Ma, kebetulan ini sedang bersama Febby di jalan.”

Kemudian telepon di tutup. Randy melirik ke arah Febby yang sudah menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedikit terlihat bersemu merah.

“Ibu menyuruh kita ke sana sekarang juga.”

Walau tak ada yang bertanya, Randy berkata seakan memberikan jawaban untuk Febby. Dan Febby hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya. Ahh, entah kenapa suasanya di sekitar mereka terasa sedikit canggung saat ini. Dan kecanggungan tersebut benar-benar membunuh keduanya.

 

***  

Chapter 4

 

Randy mulai memparkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang sangat mewah, itu adalah rumah keluarga besar Prasaja. Ketika turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh pelukan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar Lima tahun. Dia adalah Rocky, keponakannya, putera dari kakak perempuannya yang bernama Mira.

“Om Randy, Rocky kangen sama Om.” Celoteh bocah lima tahun tersebut.

“Hei, kamu ngapain di sini?” Ucap Randy yang kini sudah menggendong Rocky dalam gendongannya.

“Jadi seperti itu caramu menyambut keponakanmu?” Suara itu memaksa Randy mengangkat wajahnya dan mendapati kakak perempuannya sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.

“Selamat siang kak.” Sapa Febby sopan dengan Mira.

“Siang Febb, ayo masuk.” Ajak Mira dengan ramah. Sedangkan Febby hanya menganggukkan kepalanya.

“Kakak ngapain sih kemari?”

“Ngapain? Aku ngunjungin mama lah, lagian kamu yang paling dekat nggak pernah kemari, apa nggak malu sama aku yang jauh datang ke sini?”

“Kak Mira tentu tahu kalau aku sangat sibuk.”

“Setidaknya luangkan sedikit waktumu, adik kecil.”

“Hei, kita sudah sepakat kalau kakak nggak akan manggil aku dengan panggilan sialan itu.” Gerutu Randy dengan nada kesalnya. Ya, ia memang tak suka di panggil dengan panggilan adik kecil. Sedangkan Febby hanya mampu tersenyum melihat tingkah kedua bersaudara tersebut.

Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut ramah oleh Nyonya Prasaja, ibu dari Randy dan juga Mira.

“Kalian sudah datang? Ayo, kita makan siang bersama.” Ajak Nyonya Prasaja.

Randy menuju ke arah meja makan, kemudian duduk tepat di sebelah seorang lelaki yang memang sejak tadi berada di sana. Itu Andrew, suami dari Mira.

“Apa kabar Kak.” Sapa Randy dengan nada yang di buatnya ramah.

“Baik, kamu sendiri?”

Randy mengangkat kedua bahunya. “Lebih dari baik, Kak.”

“Sialan!!!”

Kemudian keduanya tertawa lebar bersama sembari melakukan tos ala anak muda. Randy dan Andrew memang berteman baik dulunya. Dan Randy benar-benar tak menyangka, jika temannya itu kini menjadi kakak iparnya. Randy bahkan sering menggoda Andrew dengan memanggilnya ‘kakak’ dan bersikap seformal mungkin. Padahal Andrew tahu jika Randy hanya menggodanya seperti saat ini.

Andrew memiliki usia Tiga tahun lebih mudah daripada Mira. Keduanya sama-sama mejadi korban perjodohan kolot keluarga masing-masing. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, keduanya bisa menerima satu sama lain bahkan kini saling mencintai satu dengan yang lainnya.

“Febby, sini sayang.” Ucap Nyonya Prasaja. Dan Febby akhirnya mendekati ibu mertuanya tersebut. “Kamu suka makan apa? Mama belum tahu makanan kesuakaan kamu, jadi semoga kamu mau memakan masakan mama ini ya.”

Febby tersenyum dengan kelembutan yang di berikan oleh Ibu Randy.

“Saya suka memakan apa saja, Ma.”

“Ya, itu karena dia rakus Ma.” Randy ikut menyahut dan mendapat hadiah pelototan dari Febby.

Andrew menyikut siku Randy dan bertanya. “Hei, sejak kapan lo dekat sama dia?”

“Apa?” Randy bingung dengan pertanyaan Andrew.

“Jangan pura-pura, gue tahu kalau selama ini hubungan kalian tidak berjalan baik, jadi, sejak kapan kalian saling bertegur sapa bahkan saling ejek seperti saat ini?”

“Bukan urusan lo.” Jawab randy dengan cuek.

“Atau, jangan-jangan kalian sudah melakukannya.”

Meski di ucapkan dengan nada berbisik, perkataan Andrew benar-benar mengejutkan untuk Randy hingga membuat Randy tersedak bahkan terbatuk-batuk.

“Hahahhaha lo bener-bener sudah ngelakuin itu?” Andrew masih saja meledek Randy dan itu benar-benar membuat Randy kesal.

“Dasar kakak ipar mesum!!” Randy berkata pada Andrew dengan nada mengumpat, sedangkan Andrew sendiri tak berhenti tertawa melihat kelakuan Randy.

***

Malamnya…

Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul di ruang keluarga. Andrew dan Mira sesekali bercerita tentang pekerjaannya yang dan tempat tinggalnya yang kini berada di Balikpapan. Begitupun dengan Nyonya Prasaja yang sesekali bercerita pengalamannya ketika mengunjungi beberapa saudaranya yang berada di Bali dan juga di Palembang.

Setelah puas bertukar cerita, Febby kemudian menyikut lengan Randy, ia ingin mengajak Randy pulang karena besok ia harus kerja, Randy akhirnya mengerti apa yang di maksud Febby dan mulai berpamitan dengan ibunya.

“Ma, sudah malam, Randy dan Febby mau pamit pulang dulu.”

“Tidak, lebih baik kalian menginap di sini malam ini.”

“Apa? Menginap?” Febby dan Randy tanpa sadar mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan karena sama-sama terkejut.

“Iya, mumpung Mira dan suaminya menginap di sini, mama juga ingin kalian menginap di sini supaya besok kita bisa berkumpul bersama seperti keluarga besar.” Nyonya Prasaja mengatakan pendapatnya.

“Tidak bisa Ma, kami tidak bisa menginap di sini, memangnya kami akan tidur di mana?” Randy masih saja menolak, ia tentu tidak ingin sekamar dengan Febby mengingat ciuman panas mereka tadi siang.

“Tentu saja kalian berdua nanti akan tidur di kamarmu yang dulu, ibu selalu merapikannya meski kamu tidak pernah main ke sini lagi.”

“APA????” lagi-lagi tanpa sadar Febby dan Randy mengucapkan kata tersebut dengan bersamaan. Menginap bersama dan sekamar? Astaga, yang benar saja.

“Emm, Ma, besok saya akan berangkat kerja pagi, jadi saya tidak mungkin menginap di sini malam ini.” Ucap Febby cepat.

“Ya, Ma, Randy besok juga ada syuting pagi.” Sahut Randy ceepat. Ia ingin mendukung Febby. Tentu saja ia tak ingin hanya berduaan dengan Febby malam ini, mengingat ciuman panas mereka tadi siang akan membuat Randy kembali menginginkan Febby.

“Tidak bisa, kalian harus tetap menginap. Ibu akan menelepon semua orang yang akan menangani pekerjaan kalian hingga kalian bisa berangkat siang besok, atau bahkan cuti sehari.” Perintah Nyonya Prasaja benar-benar tak dapat di ganggu gugat. Randy maupun Febby tentu tak dapat lagi menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.

“Febby, kamu tentu tidak membawa baju tidur kan? Kamu bisa minta tolong dengan kak Mira, Kak Mira pasti mau meminjamkan sebuah baju tidurnya untuk kamu.”

Mira tersenyum miring. “Tentu saja Ma, aku akan meminjamkan baju tidur terbagus untuk Febby.” Ucap Mira sambil melirik ke arah Randy.

Sedangkan Randy hanya bisa menggerutu dalam hati. Oh benar-benar sial, ini akan menjadi malam terpanjang untuknya. Semoga saja kejantanan sialannya tidak membuat ulah malam ini. Sial, benar-benar sial.

***

“Kak, aku nggak mungkin pakai baju ini.” Ucap Febby sembari menatap bayangannya yang seksi pada cermin di hadapannya. Saat ini Febby sedang mengenakan lingerie seksi milik Mira.

“Lalu, kamu tetap akan mengenakan jas doktermu itu untuk tidur? Ayolah, jangan menyebalkan. Ini tidak terlalu seksi dan sangat cocok untuk wanita dewasa yang sudah bersuami seperti kita.” Ucap Mira dengan sedikit terkikik.

“Tapi aku tidak terbiasa kak, apa Kak Mira tidak memiliki piyama biasa atau sejenisnya?”

“Apa? Piyama? Kamu masih menggunakan piyama saat tidur? Astaga, kapan-kapan kita harus belanja bersama. Aku akan mengajarimu berpakaian seksi di depan suami, aku yakin adikku yang bodoh itu akan meneteskan air liurnya saat melihatmu berpakaian seperti seleraku.”

Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dalam pikiran Febby saat Randy sangat ingin memilikinya ketika ia mengenakan baju seksi setengah telanjang. Dengan cepat Febby menggelengkan kepalanyaa.

“Tidak, tidak. Emm, cukup seperti ini saja kak, aku tidak ingin selalu memakai baju seksi.” Ucap Febby cepat dengan sedikit bergidik ketika membayangkan bayangan erotis dirinya dengan Randy.

“Baiklah, sekarang cepat pergilah ke tempat suamimu, dia pasti sudah menunggumu.” Ucap Mira dengan sedikit mengusir Febby.

“Tapi kak, ummm…” Febby sendiri masih terlihat enggan keluar dari kamar Mira dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis, bahkan hampir mendekati transparan, dan membuat bagian tubuhnya sedikit terlihat lebih jelas.

Melihat Febby yang tak kunjung keluar, Mira hanya dapat menghela napas panjang. Febby pasti tak terbiasa mengenakan pakaian itu. Terlihat jelas jika wanita itu malu-malu bahkan pipinya sampai merona merah.

“Hei, mau sampai kapan kamu di kamarku? Aku juga mau tidur tau. Haisss, anak ini benar-benar.” Gerutu Mira. Mira kemudian mengambil sebuah kimono lalu memberikannya pada Febby. “Kalau kamu malu, pakai itu untuk keluar.” Kata Mira lagi.

“Terimakasih kak.” Ucap Febby yang di jawab dengan anggukan oleh Mira. Akhirnya Febby mengenakan kimono pemberian Mira lalu segera bergegas keluar dari kamar kakak iparnya tersebut.

***

Di dalam kamar.

“Kamu lama sekali. Apa yang kamu lakukan di kamar Kak Mira?” Randy bertanya setengah marah terhadap Febby karena ia tidak suka menunggu. Menunggu? Memangnya ia menunggu untuk apa?

Febby sendiri hanya masuk dan tidak menghiraukan seruan Randy.

“Kamarmu nyaman, dan terlihat seperti orangnya.” Febby malah berkomentar tentang kamar Randy ketika ia memperhatikan seluruh isi kamar tersebut.

Kamar tersebut di dominasi warna hitam dan coklat kayu, hingga membuatnya terlihat maskulin. Di dalamnya juga terdapat beberapa buku, di rak di ujung ruangan, penghargaan Awards yang di dapatkan Randy, serta barang-barang antik lainnya. Tanpa sadar kaki Febby menelusuri semua itu dengan tatapan kagumnya. Ia suka dengan nuansa di dalam kamar tersebut.

Randy mengikuti Febby tepat di belakang wanita tersebut. Ia mengerutkan keningnya.

“Seperti orangnya? Apa maksudmu?”

“Kamar ini terlihat sangat maskulin, dan sedikit seksi.” Tanpa sadar Febby mengucapkan kalimat tersebut.

“Apa? Seksi dan maskulin?”

Febby baru sadar jika sejak tadi Randy berjalan tepat di belakangnya. Ia terkejut ketika membalikkan badan dan mendapati Randy yang sudah berdiri sangat dekat di belakanynya.

“Kamu, kamu mau apa?” Febby tidak memungkiri jika dirinya sedikit gugup dengan kedekatannya bersama Randy. Dengan spontan ia merapatkan kimono yang di kenakannya dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Randy yang melihat Febby sedikit salah tingkah akhirnya memiliki ide gila untuk menggoda wanita di hadapannya tersebut.

“Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang kamu kenakan di balik kimono itu.” Dengan sedikit tersenyum, Randy menggoda Febby. Randy berjalan mendekati Febby, sedangkan Febby berjalan mundur menjauhinya. Akhirnya Randy berinisiatif untuk memegang kedua bahu Febby.

Febby sendiri merasa merinding dengan sentuhan tangan Randy. Ia lalu menampik tangan Randy dan berteriak pada lelaki tersebut.

“Apa yang akan kamu lakukan?!”

“Hahahah kamu tidak perlu marah-marah, aku juga tidak tertarik denganmu.” Ucap Randy dengan tawa mengejeknya.

“Apa? Benarkah? Baiklah, kita lihat saja nanti.” Febby benar-benar tersinggung dengan apa yang di ucapkan Randy akhirnya berkacak pinggang, lalu di bukannya kimono yang ia kenakan dengan gerakan menggoda layaknya perempuan nakal di film-film yang pernah ia tonton.

Mata Randy membulat seketika saat melihat apa yang di kenakan Febby dari balik kimononya. Febby mengenakan sebuiah Lingerie berenda yang amat sangat tipis. Bahkan saking tipisnya, bayangan pakaian dalam Febby yang berwarna hitam sangat terlihat jelas dari mata Randy. Bemum lagi potongan Lingerie tersebut yang benar-benar menggugah gairah siapa saja yang melihatnya. Lingerie itu memiliki dua tali tipis di pundak Febby, belahan dada yang sangat rendah, serta panjangnya yang jauh di atas lutut, membuat Febby terlihat begitu seksi di matanya.

Randy menelan ludahnya dengan susah payah. Yang di bawah sana sudah berdenyut minta untuk segera di bebaskan. Matanya seakan tak ingin berkedip melihat pemandangan di hadapannya. Randy lalu melihat Febby mulai berjalan menuju ke tempat tidur. Febby terlihat sengaja sedang menggodanya dengan berbaring miring menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya mirip sekali dengan wanita-wanita penggoda di dalam film-film dewasa.

Astaga, Randy bisa meledak saat ini ju8ga jika Febby tidak berhenti berpose layaknya wanita penggoda.

“A, apa yang kamu lakukan?” Tanya Randy dengan setengah tergagap karena menahan gairah yang seakan ingin meledak dari dalam dirinya.

“Aku mau tidur.” Jawab Febby dengan santai di sertai dengan senyuman menggodanya.

“Apa? Dalam keadaan genting seperti ini, kamu bisa memikirkan untuk tidur?”

“Genting? Genting kenapa? Lalu, memangnya aku harus apa?” Febby bertanya dengan mimik wajah yang di buatnya polos. Ia sungguh tak dapat menahan senyumannya. Ia tahu, jika dirinya sudah berhasil menggoda laki-laki bodoh yang hanya memikirkan kejantanannya itu.

Randy menghela napas dengan kesal. “Baiklah, kalau itu maumu.” Ucap Randy yang kini sudah membuka piyama yang ia kenakan beserta celananya hingga meninggalkannya hanya dengan boxernya saja.

Astaga. Febby terperanjat dengan apa yang di lakukan Randy. Matanya membulat seketika ketika menatap bukti gairah Randy yang menegang di balik boxer yang di kenakan lelaki di hadapannya tersebut. Randy sedang bergairah, Febby tahu itu. Tapi untuk apa lelaki itu melepaskan pakaiannya sekarang ini? Jangan bilang kalau….

“A, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Febby yang kini sudah meringsut ke ujung ranjang dengan tatapan ngerinya.

Tiba-tiba Randy sudah melompat tengkurap tepat di sebelahnya. Dengan seringaian nakalnya, Randy berkata.

“Aku akan tidur.”

-TBC-

Anggep aja Andrew di sini sama dengan Andrew di cerita Elena.. hahahhahaha hadehhh saya kekurangan nama. lain kali bantu saya cari nama yakkkk mhueehehheheh

Advertisements

4 thoughts on “Sweet in Passion – Chapter 4

  1. Hahahaha aku bacanya sambil senyum senyum sendiri liat kelakuan Febby sama Rendy bisa bisanya mereka mempermainkan satu sama laenya wkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s