romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 10 (“Genggamlah tangannya”)

tlk2-copyThe Lady Killer 2

Ahhh lama bgt yaa aku gak update.. huehehehe mohon maklum karena kesubukan haahahhaha okay, happy reading aja yaa.. KissKiss

Sialan!! Perempuan Penggoda!!! Umpat Dhanni dalam hati.

Dhanni merasakan hasratnya mulai terbangun, tubuhnya menegang seketika oleh gairah yang tersulut begitu saja karena apa yang baru saja di lakukan Nessa terhadapnya. Secepat kilat Dhanni merubah posisinya menindih Nessa.

“Apa kamu sedang menggodaku?” Tanya Dhanni dengan suara yang sedikit tertahan.

“Aku? Aku nggak bermaksud..”

“Karena saat ini aku sedang tergoda karenamu.” Dhanni memotong kalimat Nessa dengan suara serak penuh gairahnya. Kemudian tanpa memikirkan masalahnya lagi, ia mulai menyambar bibir mungil istrinya tersebut, melumatnya penuh gairah. Oh, bibir yang sangat di rindukannya. Persetan dengan semua permasalahan yang ada, kenyataannya, Nessa hanya memilihnya, mencintainya seorang, bukankah itu yang lebih penting?

***  

Chapter 10

-Genggamlah tangnnya-

 

Lumatan itu semakin memanas. Dhanni sekan tak bisa berhenti melumat bibir istrinya tersebut. Rasa rindu bercampur aduk menjadi satu dengan rasa frustasi. Ahh, wanita ini benar-benar membuatnya kehilangan logika. Harusnya ia masih marah, masih kesal, tapi entah kenapa ada sebuah rasa yang membuat Dhanni menghilangkan rasa marah tersebut.

“Kamu hanya milikku, kamu hanya milikku.” Berkali-kali Dhanni mengucapkan kalimat tersebut tanpa menghentikan pergerakannya menghujam semakin dalam ke dalam tubuh istrinya itu.

“Kak.”

“Jangan banyak bicara.” Perintah Dhanni, dan Nessa hanya mampu menurutinya.

Nessa tak berhenti mengerang saat Dhanni menggodanya. Membuatnya dihantam oleh gelombang kenikmatan lagi dan lagi. Oh, suaminya ini benar-benar pandai menggoda, pandai membuatnya melambung tinggi karena kenikmatan yang di ciptakan oleh suaminya tersebut.

Dhanni mencumbu sepanjang leher Nessa. Menghisap permukaan leher tersebut, menggigitnya seakan memberikan tanda jika Nessa hanya miliknya dan tak boleh di miliki oleh siapapun.

“Kak…” Nessa kembali mengerang ketika merasakan rasa yang sedikit pedih pada lehernya.

“Sakit.” Erangnya lagi.

Dhanni menghentikan aksinya seketika. Ia menatap wajah wanita yang kini sedang berada di bawahnya. Mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Itu hukuman buat kamu karena sudah membohongiku.” Ucap Dhanni dengan suara seraknya.

“Aku sudah minta maaf.”

“Ya, tapi aku masih kesal dan cemburu, aku ingin kamu tahu kalau kamu hanya milikku.”

Nessa tersenyum melihat keposesifan suaminya tersebut.

“Aku selalu jadi milikmu kak, kamu jangan takut kalau aku akan pergi meninggalkanmu.”

“Aku tidak takut kamu pergi, karena walau kamu pergi, aku akan menyeretmu kembali kepadaku.” Setelah perkataan tersebut, Dhanni kembali melumat kasar bibir Nessa, kembali bergerak berirama mencari-cari kenikmatan untuk tubuh mereka berdua, hingga kemudian sampailah mereka pada puncak kenikmatan tersebut.

***

Paginya, Dhanni bangun lebih pagi dari sebelumnya. Dhanni tahu jika kini mereka masih dalam sebuah masalah. Nessa belum selesai menceritakan semuanya, dan dirinya lebih memilih bercinta dari pada membicarakan semuanya tadi malam.

Sial!!!

Dhanni kemudian mengangkat omlet ke tiga buatannya. Pagi ini, ia yang memasakkan omlet untuk Nessa dan dirinya sendiri. Semoga saja istrinya itu senang saat mendapati dirinya sudah melembut kembali.

Tak lama, Dhanni melihat Nessa keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu tampak lebih segar, mungkin sudah selesai mandi. Hanya mengenakan pakaian santainya di dalam rumah seperti biasa dan entah kenapa begitu saja sudah cukup membangkitkan sesuatu dari dalam diri Dhanni.

“Pagi sayang, kemarilah.” Panggil Dhanni yang kini sudah duduk di kursi tempat makan dengan omlet di hadapannya.

Masih dengan sedikit menunduk, Nessa berjalan menghampiri Dhanni. Dhanni kemudian menarik istrinya tersebut hingga duduk tepat di atas pangkuannya.

“Uum, kupikir kak Dhanni sudah berangkat ke kantor.”

“Aku libur.” Ucap Dhanni dengan cuek. “Ayo kita sarapan.” Kali ini dhanni sudah menyuapkan sedikit omlet untuk Nessa. Dengan patuh Nessa memakan masakan suaminya tersebut.

“Uum, ada yang perlu aku bicarakan.” Ucap Nessa dengan hati-hati.

“Ya, kamu memang perlu bicara. Mulailah dari apa yang kamu lakukan di rumah Jonathan.”

“Itu, umm, mereka adik kakak” Ucap Nessa ragu untuk memulai pembicaraan.

“Ya, aku tahu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Kak Dhanni tahu? Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena aku tahu, kalau aku memberitahumu maka kamu akan berpikir yang macam-macam, ingat, kamu nggak boleh terlalu banyak pikiran.” Ucap Dhanni sembari mengusap lembut kerutan di kening Nessa. “Lalu bagaimana lanjutan ceritanya?”

“Erly depresi, dia bahkan tak dapat bangun dari tempat tidurnya.”

“Itu bukan urusan kita.” Ucap Dhanni dengan cueknya.

“Kak, ayolah..”

“Apa? Apa kamu ingin aku kesana dan menjadikannya kekasihku atau bahkan istri keduaku agar dia sembuh? Yang benar saja.”

“Enggak, aku tidak ingin seperti itu, tapi bisahkah kak Dhanni melunakkan hati untuk mengunjunginya sebentar? Dia hanya perlu di ajak bicara baik-baik.”

“Kalau tidak bisa di ajak bicara baik-baik bagaimana? Nessa, setahuku orang yang depresi itu harus mendapat penanganan khusus dari psikiater, atau harusnya dia masuk ke dalam rumah sakit jiwa sekalian, bukan tiduran di rumah. Apa kamu nggak pernah berpikir jika ini hanya rencana mereka?” ucap Dhanni dengan sedikit kesal.

Nessa menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, ini bukan rencana mereka kak, Erly benar-benar sakit, dan aku dapat melihat kesakitan itu bahkan di mata kak Jo.”

“Ya, ya, ya, mereka membuatmu lemah dengan rasa kasihan.”

“Kak.”

“Sayang, aku tidak ingin kita berputar pada masa lalu sialan itu. Kumohon, kita harus meninggalkan mereka jauh-jauh.”

“Tapi aku tidak ingin rasa bersalah ini menggerogotiku kak, aku tak ingin bahagia di atas penderitaam orang.”

Dhanni memejamkan mata frustasi. Ah, sepertinya tak ada gunanya berdebat dengan istrinya ini. Mau seperti apapun, ia yang akan kalah.

“Oke, sekarang mau kamu apa?”

“Ayo kita ke rumah mereka, kak Dhanni harus melihat sendiri keadaan Erly. Please, ajak dia bicara baik-baik.”

“Setelah itu?”

Nessa tersenyum kemudian mengusap lembut pipi Dhanni. “Kita akan pergi saat mereka sudah menerima kenyataan tentang hubungan kita.”

***

Siang itu juga, Nessa mengajak Dhanni ke rumah Jonathan dan Erly. Jonathan sendiri menyambut hangat keduanya, tapi tidak dengan Dhanni yang tak berhenti menampilkan ekspresi kerasnya.

Mereka masuk menuju ke kamar tidur Erly. Erly sendiri masih terlihat terbaring lemah di sana.

“Duduklah.” Bisik Nessa pada Dhanni seraya memerintahkan Dhanni supaya duduk di pinggiran ranjang. Dan akhirnya Dhanni menuruti apa mau istrinya tersebut.

“Erly, aku bawa kak Dhanni ke sini, apa kamu nggak mau membuka matamu?” Tanya Nessa.

Dhanni sendiri hanya mampu menatap ke arah Nessa. Istrinya itu tampak kuat, tapi Dhanni tentu tahu jika wanita itu tak lebih dari wanita rapuh.

“Genggamlah tanganya.” Bisik Nessa lagi pada Dhanni.

Dhanni menggeleng cepat. “Tidak!!” Serunya dengan tegas.

“Kak.” Rengek Nessa.

Dhanni berdiri seketika. Raut wajahnya sarat akan kekesalan yang sudah benar-benar memuncak di kepalanya. Ia kemudian keluar begitu saja dari dalam kamar Erly. Mengumpat berkali-kali di ruang tengah rumah Jonathan. Dhanni bahkan tak sadar jika Nessa sudah mengikuti tepat di belakangnya.

“Ini gila!! Aku tidak mungkin menyentuh wanita lain selain istriku, Ness. Jauh dalam lubuk hatimu kamu tahu itu.” Ucap Dhanni tajam saat m2engetahui Nessa sudah berdiri di hadapannya.

“Aku mengerti, tapi apa salahnya menyentuh telapak tangannya sedikit? Siapa tahu itu bisa membantunya.”

“Aku tak akan membantu apapun.” Tegas Dhanni sekali lagi.

“Kak, kumohon, kita belum mencobanya.”

Dhanni tersenyum miring. “Oh ya? Kamu ingin mencobanya? Memberikan suamimu pada mantan kekasihnya?”

“Bukan itu yang ku maksud Kak.”

“Aku akan melakukannya kalau itu maumu. Dan ku harap kamu tidak menyesal memintaku untuk menyentuh wanita lain.” Ucap Dhanni dengan kesal sambil berjalan masuk kembali ke dalam kamar Erly.

Nessa sendiri hanya tercenung mendengar ucapan suaminya tersebut. Bagaimana jika keputusannya ini salah? Bagaimana jika Dhanni kemudian meninggalkannya? Tidak, Dhanni tak mungkin meninggalkannya demi wanita lain. Pikir Nessa dalam hati.

***

Dhanni benar-benar menuruti apa mau Nessa. Ini sudah dua hari setelah cekcok dengan NEssa di rumah Jonathan pada saat itu. Kini hubungannya dengan Nessa sedikit merenggang. Dhanni bahkan tak ingin untuk sekedar menyapa istrinya tersebut.

Pagi ini Dhanni kembali mengunjungi Erly, menggenggam tangannya, dan mengucapkan kata-kata lembut seperti yang di perintahkan Nessa. Rasanya kesal, tentu saja, Dhanni tentu tidak ingin melakukan hal ini, tapi tak ada gunanya melawan kekeraskepalaan sang istri.

Erly sendiri sampai saat ini belum bangun. Kadang Dhnani heran, apa yang membuat wanita ini begitu tergila-gila padanya? Ia sudah menolak habis-habisan, tapi kenapa wanita yang terbaring di hadapannya itu masih saja menyimpan cinta untuknya.

“Erly, bangunlah, apa kamu tahu kalau ini juga menyakitiku? Kamu membuatku menyakiti perasaan wanita yang sangat ku cintai, dan itu benar-benar menyakitkan untukku.” Lirih Dhanni lembut.

Dhanni menghela napas panjang kemudian mulai bercerita.

“Aku mengenalnya saat usiaku Lima belas tahun. Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sejak saat itu hatiku sudah terpaut dengan seorang wanita yang bernama Nessa Arriana. Dia membuatku gila, dia menjungkir balikkan duniaku, dia menarikku kedalam pusaran suatu zona yang dulu ku sebut dengan ‘Zona bahaya.’”

“Mata, hati dan pikiranku semua terpaut pada wanita itu, wanita yang bahkan belum pernah ku temui. Ya, aku mengenalnya hanya dari foto-foto yang di berikan orang tuaku, aku mengenalnya dari cerita yang di ceritakan oleh ibuku, dan aku sudah jatuh cinta padanya karena hal itu. Memang gila, ya, aku benar-benar gila karena seorang Nassa Arriana, hingga kegilaan itu mengubahku menjadi sosok Lady Killer, sosok penakhluk wanita, pembunuh hati wanita seperti yang kulakukan padamu.”

“Erly, aku mengerti apa yang kamu rasakan, melihat orang yang kamu cintai setengah mati mencintai orang lain. Karena aku juga pernah merasakan hal tersebut ketika tahu jika Nessa tak hanya mencintaiku. Tapi bisakah aku memohon padamu untuk tidak memaksakan kehendakmu? Karena walau seperti apapun keadaanmu, perasaanku tetap sama, hanya Nessa wanita yang ku cintai, dan aku tidak akan –Tidak akan pernah- meninggalkannya demi wanita lain.” Lirih Dhanni dengan tulus.

Pada saat bersamaan, Dhanni menatap mata Erly yang mengeluarkan buliran air mata menuruni pelipisnya. Mata tersebut kemudian sedikit bergerak lalu sedikit demi sedikit terbuka. Dengan spontan Dhanni menyunggingkan senyumannya. Senang? Tentu saja.

Erly menatap Dhanni dengan tatapan sendunya. Tampak jelas raut kesakitan di sana, dan entah kenapa Dhanni dapat merasakan hal tersebut.

“Kamu sudah bangun?” Tanya Dhanni dengan suara lembutnya.

Erly menganggukkan kepalanya pelan. “Kamu di sini?” kali ini Erly membuka suaranya. Telapak tangan rapuhnya terulur mengusap lembut pipi Dhanni.

“Ya, aku di sini, bukan karena kamu, tapi karena istriku. Dia yang memaksaku untuk berada di sini menemanimu.”

Tangis Erly semakin deras setelah mendengar ucapan Dhanni.

“Kenapa kamu mengatakan hal itu? Tak bisakah kamu sedikit berbohong padaku dan menyenangkan hatiku?”

Dhanni menggelengkan kepalanya cepat. “Maaf, aku tidak bisa berbohong tentang perasaanku. Karena aku tahu itu akan menyakiti banyak orang nantinya, termasuk kamu. Aku tidak ingin itu terjadi.”

“Aku mencintaimu Dhan.”

“Dan aku mencintai istriku.” Dhanni berkata dengan lembut seakan ingin menjelaskan pada Erly jika wanita itu tak memiliki kesempatan lagi untuk berada di sisinya.

“Kami sudah memiliki seorang putera, dan Nessa kini sudah mengandung bayi kedua kami. Kumohon, mengertilah posisi kami. Apa kamu tak dapat merasakan perasaannya ketika ia membiarkan suaminya kembali dekat dengan mantan kekasihnya? Lihat dia Erly, dia bahkan mendorongku untuk kembali dekat denganmu, karena dia memikirkan perasanmu dan mengesampingkan perasaannya sendiri. Aku tidak bisa menyakitinya terus-menerus seperti ini.” Dhanni berujar dengan tulus. Ia memang benar-benar tak dapat menyakiti perasaan Nessa dengan membiarkan Nessa melihat dirinya dekat dengan wanita lain, meski itu permintaan dari Nessa sendiri.

“Aku tak bisa melupkanmu Dhan.”

“Karena kamu selalu mengingatku, kamu terobsesi denganku. Cobalah untuk melangkah ke depan, jangan pernah menoleh kebelakang untuk melihatku, karena aku sudah bahagia dengan wanita lain.”

Erly hanya termenung mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Dhanni.

“Kamu tahu kenapa aku selalu bersikap dingin atau kasar padamu? Karena aku ingin kamu membenciku dan melupakanku. Kamu harus mencari penggantiku Erly, karena sampai kapanpun juga aku tak akan pernah kembali padamu.”

Erly memejamkan matanya, kembali terisak dengan apa yang di katakan oleh Dhanni. Ah ya, memang selama ini dirinya selalu menoleh kebelakang. Berkaca dengan masalalunya, memperbaiki dirinya hanya dengan tujuan suapaya Dhanni kembali padanya, padahal Erly tahu, dalam hatinya yang paling dalam ia mengerti jika itu salah, dan dirinya tak akan pernah berhasil walau sudah berubah seperti apapun.

“Maaf kalau kata-kataku terlalu kasar dan menyakitimu, tapi aku harus jujur dari sekarang. Kita bisa berteman, sangat bisa, asalkan kamu dapat menghilangkan perasaan cintamu dan mencari penggantiku. Aku tidak bisa berteman atau berhubungan dengan orang yang mencintaiku, karena aku tahu itu akan menyakiti orang tersebut.”

Erly kemudian menganggukkan kepalanya. Ia mencoba bangkit, dan Dhannipun akhirnya membantunya. Erly menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kamu juga tersakiti karena ini?” tanya Erly dengan suara lemahnya.

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Aku sakit karena melihat wanita yang ku cintai tersakiti.”

“Sedalam itukah kamu mencintai Nessa?”

Dhanni kembali menganggukkan kepalanya. “Sangat dalam, bahkan ku pikir aku sendiri tak dapat mengukur kedalamannya.”

“Jadi, aku tidak memiliki sedikitpun kesempatan?”

Dhanni tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak untuk kamu ataupun wanita lain.”

Erly menghela napas panjang sembari memejamkan matanya, merasakan rasa sakit yang menusuk hatinya.

“Bolehkan aku memelukmu sekali saja, untuk yang terakhir kalinya?”

Dhanni menggelengkan kepalanya, menolak permintaan Erly.

“Kumohon, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Kali ini Dhanni yang menghela napas panjang, kemudian merenggangkan kedua tangannya. Erly akhirnya melemparkan diri ke dalam pelukan Dhanni menangis terisak di sana. Rasa sakit bercampur dengan sediki rasa bahagia membuncah di hatinya.

“Aku akan melupakanmu, aku akan berusaha melupakanmu.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Kamu harus melakukan itu.” Lirih Dhanni.

Keduanya berpelukan cukup lama, bahkan mereka tak menyadari jika ada seorang wanita di balik pintu yang sedang menatap keduanya tersenyum dan ikut meneteskan airmatanya.

Itu Nessa.

Nessa mengerjap ketika sebuah tangan menebuk bahunya. Ia membalikkan tubuhnya kemudian menatap sosok tinggi yang tampan yang sedang menatapnya.

“Kamu nangis?” Tanya Jonathan sambil mengusap airmata di pipi Nessa.

Nessa menganggukkan kepalanya.

“Karena apa? Sedih atau bahagia?”

“Kedua-duanya.” Jawab Nessa cepat.

“Kenapa bisa?”

“Entahlah, aku hanya baru sadar jika aku memiliki suami yang sangat mencintaiku, dia rela melakukan apapun untukku, dan bodohnya aku tak pernah menyadari hal itu. Aku sedih saat melihatnya dekat dengan wanita lain, tentu saja sedih karena takut jika ada yang merebut dia dariku.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Kamu beruntung memiliki dia.”

“Ya, sangat beruntung.”

“Terimakasih untuk semuanya Ness.”

Nessa menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di sangka Jonathan memeluk tubuhnya erat-erat, seakan enggan untuk berpisah dengan Nessa, wanita yang sangayt di cintainya.

Ohh kenapa cinta bisa begitu rumit? Kenapa cinta harus saling menyakiti jika kita dapat mengambil jalan tengahnya? Nessa tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang ia tahu, bahwa ia ingin selalu bersama dengan Dhanni Revaldi. Lelaki yang sangat di cintainya, lelaki yang juga begitu dalam mencintai dirinya.

 

-TBC-

Tamat?? belom dong… hahahhahaha happy waiting.. tinggal yang manis2nya aja nihh ahahhahhah

Advertisements

8 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 10 (“Genggamlah tangannya”)

  1. Syukurlah Erly mau mengerti bahwa dhanni tidak akan pernah bisa untuk mencintainya karena cinta dhanni hanya untuk nessa..
    So sweet banget denger kata” dhanni mengenai perasaannya ke nessa..seneng deh punya suami yang pengertian dan penyayang kayak dhanni..
    Apapun kata nessa, dhanni mah ngikut aja 😁

    Like

  2. kamu beruntung nessa memilikj suami seperti dhanni yang memiliki kesetiaan diatas segalanya bahkan dia rela mengalah untuk keegoisan dan kekeraskepalaanmu harysnya kamu bisa berkaca pada suamimu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s