romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 9 (Marah)

TLKNew1Lady Killer 2

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang??” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Kak Dhanni.. apakah suaminyaa itu akan kembali marah terhadapnya dan tak mau mendengarkan penjelasannya???

***

Chapter 9

-Marah-

 

Nessa membuka matanya dan mengernyit saat mendapati dirinya berada di tempat yang asing. Ini bukan kamar tidurnya, tapi kenapa ia bangun di ruang seperti ini? Pikirnya. Tak lama pintu kamar tersebut terbuka dan mendapati sosok Jonathan yang masuk dengan membawakannya sebuah nampan yang berisi aneka makanan. Nessa baru ingat jika dirinya kini masih berada di dalam rumah lelaki tersebut.

Tadi siang, Nessa mendengarkan semua keluh kesah Jonathan. Lelaki itu sangat menyayangi kakaknya, dan lelaki itu terlihat begitu rapuh. Nessa merasa kasihan, akhirnya dengan kelembutan hatinya, ia membatu Jonathan merawat Erly tadi siang. Menyeka seluruh tubuh mantan kekasih suaminya itu, membantu mengganti pakaiannya dan lain sebagainya. Hingga kemudian Nessa kelelahan dan berakhir ketiduran di sofa. Tapi Nessa sedikit bingung saat mendapati dirinya kini bangun di dalam kamar ini.

“Sudah bangun?” tanya Jonathan dengan senyuman lembutnya. Nessa hanya mampu meganggukkan kepalanya.

“Kok aku di sini?”

“Kamu tidur seperti orang pingsan, mungkin kamu kelelahan, jadi aku memindakanmu kemari.”

“Oh ya? Astaga, kebiasaan keduaku saat hamil adalah suka tidur pulas sembarangan.” Nessa terkikik seakan menertawakan dirinya sendiri. Begitupula dengan Jonathan.

Jonathan kemudian duduk di pinggiran ranjang lalu memberikan nampan yang di bawanya untuk Nessa.

“Makanlah, kamu pasti lapar.” Ucapnya sembari menatap Nessa dengan tatapan penuh kasih sayang.

Nessa tampak sedikit salah tingkah. Ia tentu tidak nyaman dengan perhatian yang di berikan oleh Jonathan. Tadi siang, keduanya sudah sepakat untuk berteman baik. Nessa berjanji akan membantu Jonathan untuk membujuk Dhanni supaya mau sedikit lebih lembut terhadap Erly. Memberikan pengertian untuk wanita itu supaya mau melupakan Dhanni.

“Uumm, aku mau pulang.”

“Tidak, kamu nggak boleh pulang sebelum makan.” Ucap Jonathan tanpa bisa di ganggu gugat. Nessa sendiri hanya tersenyum dengan sikap Jonathan yang pengertian padanya.

“Bagaimana kak Erly?” tanya Nessa sambil menyuapkan makanan yang tadi di bawakan oleh Jonathan.

“Tadi dokter sudah memeriksanya seperti biasa. Tapi keadaannya masih sama.”

“Emm, aku akan mencoba membujuk Kak Dhanni supaya mau kemari nanti.”

“Kamu yakin?”

Nessa mengangguk cepat. “Ya, aku akan membujuknya.”

Jonathan tersenyum. Tangannya terulur kemudian mengusap lembut pipi Nessa.

“Aku benar-benar bodoh karena sudah meninggalkanmu dulu.”

Nessa tersenyum. “Bukankah kita sudah sepakat tidak membahasnya lagi?”

“Ya, tapi kamu nggak berhak melarangku untuk menyesali diri sendiri kan? Lagi pula aku tidak akan memaksamu untuk kembali bersamaku.”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Anggap saja kita bukan jodoh. Aku yakin kak Jo akan menemukan jodoh kak Jo nantinya.”

“Benarkah? Seyakin apa?”

Nessa menganggkat kedua bahunya. “Kak Jo ngingetin aku dengan seseorang.”

“Siapa?”

“Namanya Kak Renno.” Nessa tersenyum mengingat nama tersebut.

Jonathan mengangkat sebelah alisnya. “Ada apa dengan dia? Kamu ada perasaan sama lelaki yang namanya Renno?”

Nessa tertawa sedikit lebih nyaring. “Tentu tidak. Kak Dhanni nggak akan membiarkanku menyukai laki-laki lain selain dia.”

“Lalu?”

“Dulu, dia sangat mencintaiku, dan akupun sepertinya mencintai dia karena aku membiarkan diriku dekat dengannya. Tapi kemudian aku sadar, jika memang tak ada lelaki lain yang mampu menggantikan posisi kak Dhanni di hatiku. Hanya kak Dhanni yang ada di hatiku, sedangkan yang lain hanya bagaikan sebuah ujian.”

“Jadi, aku hanya sebuah ujian untuk cinta kalian?”

Nessa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.

“Lalu, apa yang terjadi dengan si Renno tadi?”

“Dia pergi, dan mengalah untuk kami.”

“Benarkah?”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Dia berkata jika dia bahagia melihatku bahagia dengan sahabatnya, oleh karena itu dia pergi dan mencoba mencari kebahagiaannya sendiri.”

“Jadi aku harus mengikuti jejak Renno? Atau kamu menyuruhku untuk mengikuti jejaknya?”

Nessa terkikik geli dengan pertanyaan Jonathan.

“Kak Jo tentu dapat menyimpulkan sendiri, mana yang terbaik untuk kita semua. Aku hanya tidak ingin kita saling menyakiti.” Ucap Nessa dengan lembut.

“Ya, aku juga berpikir begitu. Aku tidak akan sanggup menyakitimu, tapi di sisi lain, aku juga tidak bisa membiarkan kakakku seperti itu.”

“Maka dari itu aku ingin mencoba membantu kalian. Aku akan coba membujuk kak Dhanni supaya mau memberi pengertian lebih lembut terhadap kak Erly.”

“Kamu yakin itu akan berhasil?”

“Semoga saja. Jika ada yang berkeras hati, maka tidak ada salahnya bukan kalau kita melawan dengan hati yang lembut? Kak Erly hanya butuh pengertian.”

Kali ini Jonathan yang menganggukkan kepalanya. “Ya, mungkin memang begitu. Kita akan mencobanya, dan semoga saja suami kamu mau memberi pengertian dan bersikap lembut pada kakakku.”

Nessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.

***

Nessa akhirnya membiarkan Jonathan mengantarnya hingga tepat di depan pintu apartemen Dhanni. Ahh rasanya sedikit lega, mengingat saat ini hubungannya dengan Jonathan sudah lebih jelas lagi, hubungan hanya sekedar teman yang akan saling membantu untuk kesembuhan Erly.

“Terimakasih kak Jo sudah mau mengantarku sampai sini.”

“Ya, aku kan menjemputmu di sini, maka aku akan mengantarmu sampai sini.”

Nessa tersenyum lembut mendengar jawaban penuh perhatian dari Jonathan. Ahh lelaki itu masih sama seperti dulu, lelaki yang baik dan penuh perhatian terhadapnya.

“Istirahatlah, sudah jam sebelas lebih. Ibu hamil nggak baik tidur terlalu larut.” Ucap Jonathan lagi sambil melirik ke arah jam tangannya.

Nessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Jonathan pamit pergi. Sedangkan Nessa langsung masuk ke dalam apartemennya.

Di dalam apartemen sangat gelap, Nessa mencoba meraba dinding tepat di sebelah pintu apartemnnya untuk menyalakan lampu. Dan ketika lampu tersebut menyala, betapa terkejutnya Nessa mendapati sosok yang duduk di sofa penuh dengan keangkuhan. Sosok tersebut menyiratkan ekspresi kerasnya, seakan sedang menahan kemarahan.

“Kak Dhanni?” ucap Nessa dengan nada tak percayanya. Nessa membatu di seberang ruangan, seakan mencerna apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin suaminya itu sudah berada di rumah malam ini?

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut. Sedangkan Nessa sendiri masih membatu dengan apa yang akan di lakukan suaminya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang?” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Nessa merasakan De Javu, seperti dulu ketika ia pulang malam di antar oleh Renno, lalu Dhanni sudah menunggu di dalam kamarnya.

“Umm, kok Kak Dhanni sudah pulang?”

“Kecewa karena aku pulang lebih cepat?” tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Bukan begitu, aku malah senang kalau kak Dhanni…”

“Lupakan saja!” Dhanni memotong kalimat Nessa. “Jadi, bagaimana kencanmu dengan dia?” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Aku nggak kencan.”

“Oh ya? Lalu untuk apa kamu tinggal di rumahnya seharian ini?!!”

“Tinggal di sana? Aku hanya…” Nessa menghentikan kalimatnya lalu menyadari sesuatu. “Darimana kak Dhanni tahu aku di sana seharian ini?”

“Tidak penting!”

“Kak Dhanni nyuruh orang ngikutin aku? Memata-mataiku?”

“Itu Tidak Penting, Nessa!” Ucap Dhanni lebih keras dan penuh penekanan.

“Itu penting karena itu tandanya kak Dhanni nggak percaya sama aku!” Nessa mulai berteriak frustasi.

“Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu tidak pernah bercerita lebih tentang dirimu? Kamu menutupi semuanya, dan aku seperti orang Bodoh yang hanya pura-pura tak tahu.”

“Aku sudah bilang, aku akan bercerita kak, tapi aku menunggu waktu yang tepat.”

“Kapan? Setelah aku mengetahui semuanya dari orang lain?” Dhanni tersenyum penuh ironi. “Aku bahkan nggak nyangka kejadian ini terulang lagi dan lagi. Kejadian di mana Kamu membagi hatimu dengan laki-laki lain.”

“Aku tidak membagi hatiku dengan laki-laki lain!!!” Seru Nessa.

“Oh Ya? Lalu kenapa kamu takut aku mengetahui hubunganmu dengan si Brengsek sialan itu?”

“Aku tidak takut.”

“Kalau begitu ceritakan, apa saja yang kamu lakukan di rumahnya tadi.” Tantang Dhanni.

Mata Nessa sudah berkaca-kaca. Ia tak menyangka jika Dhanni akan memperlakukannya seperti ini. Menuduhnya, tidak mempercayainya, bahkan memberondongnya dengan kalimat-kalimat yang entah kenapa terdengar menyakitkan di telinga Nessa.

“Aku tidak akan menceritakan apapun sekarang. Kak Dhanni sedang emosi, apapun yang aku bicarakan Kak Dhanni nggak akan percaya.”

“Lalu kapan? Apa kamu menunggu sampai sudah ada kata perceraian diantara kita?!!” Dhanni sudah tak dapat menahan emosinya lagi. Entahlah, diamana Dhanni yang selalu bersikap lembut dan dewasa terhadap Nessa.

Nessa membulatkan matanya seketika. Air matanya jatuh begitu saja ketika Dhanni mengucapkan kata ‘perceraian’. Sedangkan Dhanni sendiri terdiam seketika, wajahnya memucat saat sadar dengan apa yang baru saja di katakannya.

‘Sial!! Kau terlalu jauh, Bodoh!!’ Dhanni mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

Nessa akhirnya memilih mengakhiri percekcokannya dengan pergi dari hadapan Dhanni. Tapi baru beberapa langkah melewati suaminya tersebut, pergelangan tangannya di cekal oleh Dhanni.

“Kita belum selesai.” Ucap Dhanni dengan suara yang lebih lembut dari pada tadi.

“Ya, memang belum, tapi aku akan menyelesaikannya nanti, setelah kepala kak Dhanni dingin.” Nessa melepas paksa cengkeraman tangan Dhanni lalu berlari menuju ke kamarnya.

Dhanni hanya mampu memejamkan matanya frustasi. Bodoh!! Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali? Melihat Nessa yang meneteskan air mata karena ulahnya sendiri benar-benar membuat Dhanni ingin membunuh dirinya sendiri. Sialan!! Harusnya ia bisa menahan diri, harusnya ia ingat, jika kondisi istrinya itu kini sedang labil karena hormon kehamilan. Bagaimana mungkin ia bisa bersikap kekanakan dan menuduh Nessa begitu saja?? Benar-benar bodoh.

***

Cukup lama Dhanni termenung di bar dapur apartemennya. Lampu dapur ia matikan hingga ia bisa mendinginkan kepalanya dengan duduk sambil sesekali menyesap anggur di tanganya.

Sejak memiliki Brandon, Dhanni bahkan hampir tak pernah menyentuh minuman beralkohol. Ajakan-ajakan Ramma dan teman-temannya untuk minum selalu dia tolak, tapi entah kenapa malam ini ia ingin sekali menenangkan diri dengan kembali meminum-minuman sejenis anggur yang kini berada di tangannya.

Dhanni masih saja tak berhenti merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia tentu tahu jika dirinya kini sudah sangat menyakiti hati istrinya, wanita yang sangat di cintainya. Bagaimana mungkin hanya karena sebuah kecurigaan dan kecemburuan dapat merubahnya menjadi laki-laki yang kasar?

Secepat kilat Dhanni berdiri, kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya hanya menyisakan lampu tidur kecil hingga membuat kamar tersebut terlihat temaram. Tampak tubuh Nessa terbaring meringkuk memunggungi dirinya. Dhanni akhirnya mendekat lalu duduk di pinggiran ranjang.

Dhanni menghela napas panjang sesekali melirik ke arah Nessa. Ingin rasanya ia meminta maaf, tapi bibirnya terasa kelu. Akhirnya Dhanni memutuskan untuk berbaring miring dengan posisi memunggungi istrinya tersebut.

Lama Dhanni meringkuk dengan gelisah. Akhirnya setelah menghela napas panjang, ia mulai mengeluarkan suaranya.

“Berceritalah.” Ucap Dhanni dengan nada datarnya.

Tak ada jawaban dari Nessa, sial!! Istrinya itu pasti benar-benar sedang marah terhadapnya.

“Maafkan aku, aku memang terlalu kasar sama kamu.” Akhirnya Dhanni kembali menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf. Ya, sampai kapanpun pasti dia yang kan mengalah. Rasa cintanya begitu besar terhadap Nessa dan itu membutakan mata Dhanni, membuat Dhanni lagi-lagi tunduk terhadap istrinya tersebut.

“Ku mohon, jangan mendiamiku seperti ini.” Lirih Dhanni yang kini sudah membalikkan tubuhnya untuk menatap punggung Nessa.

“Kak Dhanni keterlalulan.” Ucap Nessa dengan suara serak dan sedikit bergetar. Dhanni tahu jika istrinya itu kini sedang menangis. Dhanni benar-benar merasa menjadi orang terbrengsek di dunia.

Dengan spontan, Dhanni mengulurkan tangannya untuk merengkuh tubuh Nessa ke dalam pelukannya. Dhanni menenggelamkan wajahnya pada leher dan Rambut Nessa, sedangkan kedua tangannya tak berhenti memeluk erat tubuh istrinya tersebut.

“Aku benar-benar minta maaf, aku hanya terlalu cemburu.” Ucap Dhanni parau.

Nessa hanya mampu membiarkan apapun yang akan di lakukan Dhanni. Oh, lelaki ini benar-benar sangat mencintainya, dan ketika sadar akan hal itu, Nessa seakan tak dapat lagi marah terhadap suaminya tersebut.

Nessa kemudian membalikan tubuhnya hingga menghadap ke arah Dhanni, lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya tersebut.

“Jangan kasar seperti itu lagi, aku nggak suka di bentak.” Ucap Nessa dengan manja.

“Ya, aku akan berusaha menahan emosiku.”

Nessa menghela napas panjang, kemudian mulai bercerita.

“Kak Jo, memang pacar pertamaku, Dia cinta pertamaku, dan aku memang sangat mencintainya saat itu.” Tubuh Dhanni menegang seketika saat Nessa mulai bercerita. “Tapi itu dulu, saat masih SMA, sebelum aku mengenal kak Dhanni atau Kak Renno.” Lanjut Nessa.

Dhanni sedikit melonggarkan pelukannya, tangannya kemudian mengusap lembut ramput panjang Nessa yang jatuh di punggung wanita tersebut.

“Dia meninggalkanku sekolah di luar, lalu aku indah ke Jakarta, dan kami putus hubungan begitu saja. Beberapa saat yang lalu, dia kembali, kami tak sengaja bertemu, dan… Dia memang mengajakku untuk kembali padanya.” Jelas Nessa dengan jujur.

Rahang Dhanni mengeras seketika, tubuhnya kembali menegang seiring pengakuan Nessa, pelukannya terhadap tubuh Nessa semakin erat, seakan menyiratkan jika tak ada yang boleh memiliki wanita tersebut selain dirinya sendiri.

“Lalu apa jawaban kamu?” tanya Dhanni dengan penuh penekanan.

“Apa lagi? Tentu aku menolaknya. Aku sudah memiliki kak Dhanni, Brandon, dan bayi kita, aku tidak menginginkan yang lain lagi.” Ucap Nessa lembut sambil mendongakkan kepalanya melihat ekspresi dari suaminya tersebut.

“Kamu yakin? Dia kan cinta pertamamu.” Ucap Dhanni sambil menundukkan kepalanya.

Nessa tersenyum, tangannya terulur mengusap lembut kerutan di kening Dhanni. Kemudian mengecup lembut dan singkat bibir suaminya tersebut lalu berbisik di sana.

“Dia memang cinta pertamaku, tapi aku yakin kalau kak Dhannilah cinta terakhirku.” Ucapnya lembut.

Sialan!! Perempuan Penggoda!!! Umpat Dhanni dalam hati.

Dhanni merasakan hasratnya mulai terbangun, tubuhnya menegang seketika oleh gairah yang tersulut begitu saja karena apa yang baru saja di lakukan Nessa terhadapnya. Secepat kilat Dhanni merubah posisinya menindih Nessa.

“Apa kamu sedang menggodaku?” Tanya Dhanni dengan suara yang sedikit tertahan.

“Aku? Aku nggak bermaksud..”

“Karena saat ini aku sedang tergoda karenamu.” Dhanni memotong kalimat Nessa dengan suara serak penuh gairahnya. Kemudian tanpa memikirkan masalahnya lagi, ia mulai menyambar bibir mungil istrinya tersebut, melumatnya penuh gairah. Oh, bibir yang sangat di rindukannya. Persetan dengan semua permasalahan yang ada, kenyataannya, Nessa hanya memilihnya, mencintainya seorang, bukankah itu yang lebih penting?

 

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 9 (Marah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s