romantis

Full House – Chapter 2

fh1Full house

Kali ini agak pendek yaa dear.. hahahha happy reading..

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

***

Chapter 2

 

“Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Brian benar-benar tercengang dengan apa yang di katakan Febby. Meski sebenarnya Brian yakin jika selama ini Randy dan Marsela menjalin sebuah hubungan, tapi Brian tak menyangka jika sebenarnya pernikahan Randy dan Febby hanyalah sebuah sandiwara. Brian berpikir jika Randy mengambil langkah terlalu jauh.

“Emm.. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Kenapa kamu mau di jodohkan dengan dia dan dia mau menerima begitu saja perjodohan kalian.”

Febby tersenyum. “Ada banyak hal yang tidak perlu kamu ketahui. Dan aku tak perlu mengatakannya pada siapapun.”

“Ayolah..”

Febby tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Maaf, tapi aku benar-benar tidak dapat mengatakannya.”

Brian menghela napas panjang. “Oke, sebagai gantinya kita akan makan siang bersama.”

“Hei, aku belum menyetujui makan siang bersamamu.”

“Karena kamu menolak bercerita tentang kehidupan rumah tanggamu, maka sebagai hukumannya kamu harus makan siang bersamaku.”

“Dan atas dasar apa aku harus menerima hukuman darimu?”

“Aku tidak ingin meladeni mulut cerewetmu, pokoknya ayo kita makan siang bersama.” Brian memksa kali ini dengan sedikit menyeret pergelangan tangan Febby.

“Brian..” Febby membuat Brian berhenti melangkah. “Bukannya aku nggak mau, tapi kamu publik figur, aku takut timbul gosip yang buruk tentangmu saat ada seseorang yang melihat kita.”

“Hei, ayolah, jangan berpikir terlalu jauh. Aku bisa memberi alasan jika kamu adalah dokter keponakanku, lagi pula kita akan ke sebuah restoran yang terkenal dengan privasinya.”

“Kamu yakin?”

“Ya, aku sering makan di sana, bahkan menginap di hotelnya.”

“Hotel?”

Brian tertawa lebar melihat ekspresi aneh yang di tampakkan Febby. “Ya, Restorannya ada di dalam sebuah hotel.” Dan febby hanya mampu menghela napas panjang, ia akhirnya pasrah dengan ajakan Brian.

***

Randy masih berada di ruangan Alvin siang itu. Hari ini ia tidak memiliki pekerjaan dan ia sangat bosan berada di rumah sendirian, apalagi jika mengingat tentang Febby pagi tadi. Randy menggelengkan kepalanya cepat.

Apa yang terjadi denganmu sialan? Kau tergoda dengan ukuran payudaranya? Yang benar saja, dasar idiot!!! Randy mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

Tak lama, Alvin kembali ke ruangannya bersama dengan Chiko, teman seperjuangan Randy. Keduanya menatap Randy dengan tatapan mengejek. Sial, pasti Alvin cerita dengan Chiko tentang apa yang terjadi dengannya tadi pagi.

“Berhenti lihat gue seperti itu, kalian terlihat seperti orang idiot.” Ucap Randy pada Alvin dan juga Chiko, sedangkan Alvin dan Chiko malah tertawa lebar menertawakan kefrustasian Randy.

“Pergi dan cari wanita yang bisa ngasih pelepasan, muka lo lucu banget.”

“Sialan!!!” Randy kembali mengumpat setelah mendapat ejekan dari Chiko.

Tak lama ponsel Randy berbunyi. Dengan sedikit malas Randy mengangkat tele[pon tersebut tanpa melihat nama si penelepon.

“Halo?”

“Sayang.” Suara itu membuat Randy menegakkan tubuhnya seketika.

“Hai, kamu kok tumben bisa menghubungiku jam segini?”

“Aku lagi break pemotretan. Aku pengen ketemu.”

“Dimana?” tanya Randy dengan semangat.

“Di restoran biasa, hanya di sana yang benar-benar bisa menjaga privasi kita.”

Randy menyunggingkan senyuman lebarnya. “Baiklah sayang, em, kalau bisa, reservasi sebuah kamar sekalian. Aku kangen.” Ucap Randy sambil melirik ke arah Alvin dan Chiko dengan lirikan penuh kemenangan.

“Tentu sayang.” Jawab suara di seberang dengan nada manjanya.

Teleponpun akhirnya di tutup. Randy tertawa lebar seakan menunjukkan pada Alvin dan juga Chiko jika dirinya menang.

“Kalian lihat? Gue nggak perlu cari wanita, karena wanita itulah yang akan lari ke pelukan gue.” Ucap Randy sambil melompat berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan Alvin.

Alvin dan Chiko hanya mampu saling pandang. Randy masih sama, teman mereka itu nyatanya masih mementingkan gairah sialannya yang seakan selalu menggebu-nggebu dari pada memikirkan masa depan karirnya.

***

“Makanan di sini benar-benar enak.” Ucap Febby sambil kembali melahap hidangan di hadapannya tanpa canggung lagi.

Brian hanya diam menatap Febby dengan dagu yang bertumpu pada sebelah tangannya. Wanita di hadapannya itu benar-benar berbeda dengan wanita yang selama ini ia kenal. Wanita itu tak sedikitpun menjaga image nya, padahal selama ini banyak wanita yang di sekitarnya yang selau menjaga image manis supaya Brian tertarik. Tapi tidak dengan Febby. Febby juga seakan tak canggung ketika di hadapan Brian.

“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu nggak makan?” tanya Febby saat menyadari jika Brian sedang mengamatinya.

“Ahh, aku sedang tidak lapar.”

Febby mengusap bibirnya dengan lap yang di sediakan. “Maaf, kalau cara makanku membuatmu tidak nafsu makan.”

Brian tertawa lebar. “Bukan seperti itu, kamu sama sekali tidak mengganggu selera makanku.”

“Lalu? Bukannya kamu tadi yang mengajakku makan siang? Kenapa sekarang kamu malah nggak makan?”

Brian mencondongkan wajahnya ke depan supaya lebih dekat dengan Febby.

“Karena kamu.”

“Aku?” Febby menunjuk dirinya sendiri dengan sedikit bingung.

“Aku lebih menikmati saat menatapmu dari pada makanan-makanan sialan ini.”

Febby yang masih mengunyah makanannya akhirnya tersedak dengan ucapan Brian. Astaga, bagaimana mungkin Brian mengucapkan kalimat yang terdengar seperti rayuan itu padanya?

“Kamu nggak apa-apa kan? Amakanya pelan-pelan makannya.” Ucap Brian yang kini sudah membantu menepuk-nepuk punggung Febby.

“Aku sudah hati-hatu tahu, kamu saja yang bicara lebbay hingga kau tersedak.”

Brian tertawa lebar. “Sepertinya kamu tidak pernah mendapatkan rayuan dari pria manapun.”

“Tentu saja, memangnya kamu pikir siapa yang mau merayu dokter kaku sepertiku?”

“Aku bisa merayumu setiap hari.”

“Ayolah Brian, kamu mau membuatku seperti kepiting rebus?”

Brian kembali tertawa lebar. “Oke, baiklah-baiklah… aku akan berhenti merayumu.”

Febby menegak minuman di hadapannya. “Tapi, aku penasaran, kenapa kamu nggak jalan dengan kekasihmu? Penyanyi papan atas sepertimu seharusnya memiliki banyak kekasih bukan?”

“Tidak semua begitu, Febby.”

“Oh ya? Ku pikir semua artis itu brengsek seperti Randy.” Gerutu Febby.

“Ohh, jadi hubunganmu benar-benar kacau dengan dia sampai-sampai kamu menganggapnya brengsek?”

“Bukannya begitu, tapi aku memang membencinya.”

Brian kembali duduk di hadapan Febby, kemudian menyanggah dagunya dengan sebelah tangannya.

“Oke, sekarang berceritalah.”

“Tidak akan.” Ucap Febby tak mau mengalah.

Brian hanya mampu tersenyum. “Baiklah, tidak sekarang, tapi aku akan memaksamu nanti.”

Febby hanya tersenyum kemudian ia berdiri, bersiap menuju ke toilet.

“Aku mau ke toilet sebentar.” Dan Brian hanya mampu menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Febby.

***

“Aku benar-benar kangen sama kamu sayang.” Ucap Marsela yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali setelah seks kilat yang dilakukannya dengan Randy siang itu.

“Aku juga.” Hanya itu jawaban dari Randy. “Aku lapar, kita makan di restoran bawah seperti biasanya, oke?”

Marsela hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya keduanya menuju ke restoran yang berada di lantai dasar hotel tersebut.

“Ran, aku masih nggak ngerti sama perilaku kamu siang ini. Astaga, kamu benar-benar panas dan seperti kehilangan kendali.”

Randy masih memakan hidangan di hadapannya. “Apa kamu membahas tentang seks kita siang ini?”

Marsela menganggukkan kepalanya.

“Kamu mau lagi? Kita bisa kembali ke kamar tadi.”

“Randy, bukannya begitu, tapi kamu agak aneh.”

Aneh? Salahkan saja pada kejantananku yang sepagi ini tak berhenti menegang hanya karena wanita sialan itu. Gerutu Randy dalam hati.

“Perasaanmu saja.” Ucap Randy dengan datar karena dia tidak suka kembali mengingat Febby.

“Kamu ada masalah?”

“Nggak.”

“Randy.”

“Marsela, kepalaku sudah cukup pusing sepagi ini, aku hanya ingin bersenang-senang. Jadi Please, jangan bikin aku tambah pusing.”

“Aku nggak bikin kamu tambah pusing, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu.”

“Tidak terjadi apapun, kamu nggak perlu khawatir.” Marsela hanya mampu menghela napas kasar. Ia tahu jika kini Randy berada dalam mode datar menjengkelkannya, dan ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan cerewet dan banyak tanya.

“Aku sudah selesai, aku ke toilet dulu.” Randy kemudian berdiri, dan bersiap menuju ke toilet. Sedangkan Marsela masih diam karena sedikit kesal dengan perlakuan Randy.

Randy akhirnya pergi ke arah lorong-lorong yang menuju ke toilet yang di sediakan restoran tersebut. Tapi saat ia berada di lorong tersebut, Randy membulatkan matanya saat mendapati seorang wanita yang sedang sibuk membersihkan pakaiannya sambil berjalan tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

Wanita itu adalah wanita yang sejak pagi tadi mengganggu pikirannya. Siapa lagi jika bukan istrinya yang selalu berpenampilan kaku tapi entah kenapa hari ini begitu menggoda untuknya? Itu Febby, kenapa dia di sini?

Randy menghentikan langkahnya kemudian kembali mengejar Febby lalu meraih pergelangan tangan wanita tersebut.

“Kamu ngapain di sini?” Tanya Randy dengan nada mendesisnya.

Febby tampak terkejut saat melihat Randy yang kini tepat berada di hadapannya.

“Kamu? Kamu sendiri ngapain ke sini?”

“Kamu belum jawab pertanyaanku. Ngapain kamu di sini? Dengan siapa?”

Febby menghempaskan cekalan tangan Randy seketika. “Aku lagi kencan, lagi pula ini bukan urusanmu.” Ucap Febby sambil mengangkat dagunya.

“Apa? Kencan? Sama siapa?”

“Bukan.Urusanmu.” Jawab Febby penuh penekanan.

Dengan cepat Randy mendorong tubuh Febby lalu menghimpitnya diantara dinding. Ia bahkan memenjarakan kedua tangan Febby dengan tangannya. Menempelkan seluruh tubuhnya pada tubuh Febby tak terkecuali tubuh bagian bawahnya yang kembali berdenyut saat melihat Febby.

“Itu menjadi urusanku, Kamu istriku.” Ucap Randy penuh penekanan.

Febby hanya mampu membulatkan matanya seketika. Ia tak menyangka jika Randy akan memperlakukannya seperti ini, berbicara seakan menunjukkan kepemilikan atas dirinya. Istri??? Yang benar saja.

 

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Full House – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s