romantis

Full House – Chapter 1

fh2Full House

Haiii balik lagi nihh ama ceritaku… kenalan dulu ama abang ganteng.. Eaaa.. meski aku yakin beberapa dari kalian pasti udah pernah baca cerita ini… Yuppss Full House ini Remake dari Fansfic koreaku yang berjudul My Wife.. aku memutuskan menjadikannya novel indo karena nyatanya responnya bagus bgt, huehhehehhe yang sudah baca, baca lagi yaa.. banyak banget perbedaannya kok.. dan ku harap kalian nggak nyesel udah baca..hahhahahah  Berhubung aku nggak ada Cast, maka Chastnya menurut aku yaa tetep suamiku TOP Bigbang sama kembaranku Yoon Eun Hye buahahahaha tapi terserah kalian mau bayangin sapa aja boleh. sedikit Note, bahwa di cerita ini nanti akan banyak sekali makian dan kata2 kurang sopan -Serta beberapa penggambaran adegan erotis khas Author mesum seperti biasanya hahhaha-, jadi, mohon di maklumi.. hahhahah okay, Happy reading aja dehh kalo gitu,,,

Typo Bertebaran, harap maklum !!!

Chapter 1

 

Randy membanting beberapa majalah ke meja di hadapannya sambil mengumpat keras-keras. “Sialan!!!” dari mana mereka mendapatkan gambar-gambar ini?” teriknya frustasi.

Randy benar-benar tak habis pikir dengan para wartawan yang kian hari kian pintar. Susah payah ia menutupi hubungannya dengan Marsela, kekasihnya, tapi para wartawan sialan itu masih saja bisa mengendus hubungan mereka. Kali ini Randy kembali tertangkap basah sedang setengah telanjang di dekat kolam renang yang Randy yakini adalah kolam renang di Vila miliknya yang berada di daerah puncak.

“Lo harusnya mulai menahan diri Ran, kalau gini terus, karir kalian akan terancam. Ingat, seluruh negeri ini tau kalau Lo udah punya istri dan itu bukan Marsela, tapi Febby.”

“Jangan sebut nama wanita sialan itu.” Pungkas Randy. “Gue ke sini mau hindari dia, tapi lo malah nyebut-nyebut namanya.”

Alvin yang merupakan manager sekaligus teman dekat Randy hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika penyakit Randy yang suka meledak-ledak akhirnya kambuh lagi.

“Memangnya kenapa lo sampek hindarin dia?”

Randy hanya terdiam. Bayangan antara dirinya dan Febby tadi pagipun terngiang begitu saja dalam ingatannya….

 

Randy membuka matanya ketika ia terganggu dengan suara berisik. Mau tak mau ia bangun karena tak tahan dengan suara berisik tersebut. Randy mendengus kesal, padahal ini adalah hari minggu, hari dimana dirinya bisa tidur dengan puas sampai siang, tapi nyatanya, suara berisik tersebut benar-benar mengganggunya.

Setelah membersihkan diri dari kamar mandi, Randy lantas keluar dari dalam kamarnya kemudian menuju ke arah suara berisik tersebut. Suara itu dari arah dapurnya, dan Randy membulatkan matanya seketika saat mendapati Febby, istrinya itu sedang sibuk dengan peralatan dapur sambil menyanyi dan sesekali menggoyangkan pinggulnya.

Wanita itu terlihat sibuk hingga tak menyadari jika kini Randy sedang mengawasinya dari jauh. Randy menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat Febby yang tampak begitu berbeda pagi ini. Wanita itu hanya mengenakan Hot pant yang penjangnya jauh di atas lutut, sedangkan atasannya hanya mengenakan Camisole yang entah kenapa membuat wanita itu terlihat begitu seksi.

Ohh demi apa Randy baru saja memuji istrinya itu seksi? Randy merutuki dirinya sendiri saat pikiran mesumnya mulai kambuh. Tidak!!! Ia tidak boleh berpikiran mesum dengan wanita Kaku seperti Febby.

Dengan memasang wajah datar, Randy menuju ke arah lemari pendingin untuk mengambil sebotol air mineral sambil sesekali berdehem pada Febby.

Febby membalikkan badannya dan memekik karena ia tak menyangka jika ada Randy tepat di belakangnya.

“Apa yang kamu lakukan di sini??” Teriak Febby sambil menutup paha dan dadanya yang sedikit terbuka karena bajunya yang memang lebih mirip dengan baju dalaman.

“Apa yang ku lakukan? Ini kan rumahku? Suka-suka ku mau ngapain aja.” Randy mencoba menjawab sedatar mungkin, padahal kini kejantanannya sudah sedikit berdenyut karena melihat Febby dari dekat. Sial!! Kulit wanita itu terlihat sangat mulus, belum lagi ukuran dadanya yang benar-benar tak pernah terpikirkan dalam benak Randy.

“Bukannya begitu, ini kan minggu, harusnya kamu nggak di rumah dan menginap di rumah pacarmu itu.”

“Hei, mau aku menginap di manapun itu bukan urusanmu, lagian untuk apa kamu menutupi tubuhmu seperti itu.” Randy melirik ke arah tangan Febby yang mencoba menutupi tubuhnya. “Aku tidak tertarik, semuanya terlihat rata dan itu membuatku tak berselera.”

“Oh ya?? Rata katamu?” Febby membusungkan dadanya dan itu membuat Randy tak kuasa membulatkan matanya.

Secepat kilat Randy membalikkan tubuhnya dengan sesekali menelan ludahnya susah payah. Sialan!!! Wanita di belakangnya itu mau tak mau memaksanya untuk mandi air dingin dua kali pada pagi ini.

“Hei.. kemana kamu? Aku belum selesai bicara!” teriak Febby kesal karena Randy pergi begitu saja meninggalkannya setelah mengatainya Rata.

Sedangkan Randy sendiri sibuk mengatur ketegangan sialan di pangkal pahanya. Ayolah, jangan sekarang!! Geram Randy dengan kesal. “Kau boleh berdiri kapanpun kau mau, tapi tidak sekarang, Tidak karena wanita kaku itu.!!” Bisik Randy pada dirinya sendiri.

***  

Cukup lama Randy menenangkan diri di dalam garasi rumahnya sambil menyibukkan diri mengecek mesin mobilnya. Ia mencoba melupakan bentuk tubuh Febby yang entah kenapa kembali terngiang di otak mesumnya. Sial!!! Mengingatnya saja membuat Randy kembali menegang.

Tak lama, wanita yang di pikirkannya itu masuk ke dalam garasi tempat dirinya kini sedang mengecek mesin mobilnya. Aroma Febby menguar di dalam ruangan, dan itu mu tak mau membuat Randy mengangkat wajah menatap ke arah Febby.

“Mau kemana?” pertanyaan itu spontan terlontar begitu saja dari mulut Randy saat melihat Febby sudah rapi. Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya, pakaiannya memang masih rapi seperti biasanya, hanya saja pagi ini Febby tidak mengenakan jas dokternya, kaca mata besarnya, dan rambutnyapun tak di gulung dengan kaku seperti biasanya.

“Tentu saja kerja.” Jawab Febby dengan datar.

“Kupikir kamu tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu saat kerja.”

Febby menatap Randy dengan tatapan anehnya. “Dan ku pikir kamu tidak pernah ikut campur urusanku.”

Oke, Randy kalah. Pagi ini ia memang benar-benar aneh, kenapa juga ia memikirkan wanita kaku di hadapannya tersebut? Karena ukuran dadanya? Ayolah Ran.. lupakan payudara sialan itu!!! Gerutu Randy pada dirinya sendiri.

Randy mencoba tidak menghiraukan Febby saat wanita itu masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya. Tapi nyatanya tak lama wanita itu kembali keluar dari dalam mobilnya.

“Sial!!!” sama-samar Randy mendengar umpatan yang di ucapkan Febby.

“Kenapa?”

“Aku tidak tau.”

Randy tersenyum mengejek. “Mogok ya?”

“Entahlah.” Jawab Febby dengan sedikit kesal.

“Ayo ku antar.”

Ajakan Randy itu membuat Febby membulatkan matanya seketika. Apa ia tak salah dengar? Sebenarnya apa yang terjadi dengan lelaki di hadpannya itu?

“Bengong lagi, Ayo masuk.” Randy yang sudah masuk ke dalam motor sportnya kembali menyadarkan Febby.

Ahh mau tak mau Febby juga ikut masuk ke dalam mobil Randy. Tentu ia tidak ingin telat hari ini karena hari ini adalah hari yang sedikit special untuknya.

Randypun menjalankan mobilnya saat Febby sudah masuk. Keduanya sama-sama terdiam tanpa sepatah katapun seakan sudah terbiasa dengan suasana seperti saat ini.

***  

Di dalam mobil…

Sesekali Randy memperhatikan Febby dari kaca spionnya. Ternyata, Febby tidak sekaku dan semembosankan seperti yang ia kira. Wanita di sebelahnya ini terlihat sedikit lebih santai, sesekali wanita itu bahkan tersenyum saat menatap ponselnya.

“Kenapa?” tanya Febby yang baru menyadari jika Randy sedang memperhatikannya dari kaca spion.

“Nggak apa-apa, kamu aneh, mana ada orang kerja di hari minggu.”

“Hei, aku dokter, pekerjaanku serius menyangkut nyawa seseorang, dan itu tidak kenal waktu. Tidak sepertimu yang hanya bisa membuat sensasi.”

“Apa?” Randy benar-benar tak menyangka jik Febby bisa berkata sepedas itu.

“Lagi pula tumben sekali kamu mau mengantarku.”

“Gosip akhir-akhir ini semakin menggila. Jadi tidak ada salahnya aku mengantarmu, semoga ada wartawan yang memotret kita saat sedang bersama.”

Febby tertawa nyaring. “Ran, kamu hanya perlu memborgol kejantananmu supaya tidak melulu ingin bertemu dengan pacarmu itu dan menciptakan gosip memuakkan di seluruh stasiun televisi.”

Randy membulatkan matanya seketika setelah mendengar cibiran dari Febby.

“Aku turun di depan, nanti ada yang menjemputku.” Ucap Febby kemudian sebelum Randy membalas cibirannya tadi.

Randy akhirnya menghentikan mobilnya di tempat yang di tunjuk Febby. Febby keluar dari mobilnya lalu menunduk di jendela pintu mobil Randy.

“Bagaimanapun juga, aku berterimakasih karena kamu sudah mau mengantarku.” Sedangkan Randy hanya mengangguk dengan wajah masamnya.

Sial!!! Febby kini sudah berani mengejeknya. Memborgol kejantananya? Yang benar saja. Perhatian Randy kemudian teralihkan pada sebuah mobil yang bertenti tepat di hadapan Febby. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil tersebut, lelaki itu mengenakan topi dengan kacamata hitamnya. Randy memicingkan matanya mengamati lelaki tersebut. Dan Randy berakhir dengan membulatkan matanya saat menyadari siapa lelaki tersebut.

“Brian?” Ucapnya dengan spontan.

Ya, lelaki yang kini sedang menjemput istrinya tersebut adalah seorang Brian Winata, penyanyi sekaligus aktor papan atas yang merupakan Rival terberatnya. Untuk apa laki-laki sialan itu menjemput Febby?? Ada hubungan apa mereka?

Ingin rasanya Randy menyusul mengikuti mereka berdua, tapi sepertinya sangat beresiko, lagian ia membawa mobil sportnya yang pastinya bakal ketahuan kalau dirinya sedang mengikuti Febby dan Brian.

Dengan sesekali mengumpat kasar, Randy memutar balik mobilnya. Ia harus kembali menetralkan pikirannya dari bayang-bayang tubuh Febby dalam ingatannya.

 

“Sudahlah, jangan bahas dia lagi.” Jawab Randy datar. Padahal kini pikirannya masih sedikit penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara Febby dan Brian.

Alvin sendiri memilih diam, ia tidak ingin kembali menyulut emosi Randy. Temannya itu memang suka sekali meledak-ledak, dan itu membuat Alvin harus menjaga sikap.

***

“Jadi.. kalian sudah baikan?” tanya Brian yang kini masih duduk santai di kursi yang di sediakan di ujung ruangan Febby.

“Baikan? Maksud kamu?”

“Kupikir tadi kamu di antar dengan Randy.”

Febby menganggukkan kepalanya. “Dia aneh pagi ini, dan karena mobilku mogok, maka tidak ada salahnya jika aku menerima tawarannya untuk mengantarku.”

Brian menganggukkan kepalanya. Brian mengenal Febby sekitar satu bulan yang lalu. Saat itu keponakannya yang bernama Cinta, jatuh dari tangga. Orang tua Cinta saat itu sedang memiliki tugas di luar kota, mau tak mau Brian sendirilah yang mengantar Cinta ke rumah sakit.

Betapa hebohnya saat itu di ruang IGD, karena ada seorang penyanyi papan atas yang datang ke rumah sakit tersebut. Saat itu Febbylah yang menangani keponakan Brian. Brian mengernyit saat menyadari jika yang menangani keponakannya adalah istri dari Randy, Rival terberatnya dalam dunia intertaiment, dan entah kenapa itu membuat Brian ingin mengenal Febby lebih jauh.

Beberapa kali bertemu saat Brian mengantar Cinta chek up, membuat hubungan keduanya semakin dekat layaknya teman biasa. Bahkan kini pegawai rumah sakit seakan sudah terbiasa dengan kedatangan Brian.

“Jadi, apa kita jadi makan siang hari ini?”

Febby tersenyum. “Boleh, asal kamu yang teraktir.”

“Ya, tentu saja aku akan meneraktirmu.” Brian berpikir sebentar kemudian bertanya lagi pada Febby. “Feb, sebenarnya aku sedikit penasaran, bagaimana awal mula kalian bisa bertemu dan menikah, kupikir Randy benar-benar menjalin kasih dengan Marsela, tapi aku terkejut saat ada kabar jika dia menikah.”

Febby menghela napas panjang. Ingin sekali ia bercerita tentang pernikahan paksanya dengan Randy, tapi tentu Febby tak bisa sembarangan berbicara mengingat sedikit saja hubungan mereka terbongkar, maka karir Randy yang jadi taruhannya.

Febby mengenal Randy beberapa bulan yang lalu, ketika mereka memang sengaja di jodohkan oleh kedua orang tua masing-masing. Kedua orang tua mereka berteman. Ayah Febby saat itu berkata jika Ayah Randy ingin menjodohkan Randy dengan Febby karena ayah Randy tidak suka dengan gosip kedekatan puteranya tersebut dengan salah seorang model papan atas. Sedangkan ayah Febby menerima perjodohan tersebut begitu saja karena selama ini ayah Febby khawatir dengan Febby yang tak kunjung membawa calon ke rumah mereka padahal usia Febby sudah hampir Dua puluh tujuh tahun.

Awal bertemu, Feby begitu gembira, karena nyatanya ia akan menikah dengan aktor papan atas yang menjadi salah satu idolanya. Tapi setelah menikah dan mengetahui seluk-beluk Randy, Febby benar-benar menyesal karena sudah menikah dengan lelaki tersebut.

Febby masih ingat, saat pertama kali masuk ke dalam kamar Randy di hari pertama mereka menikah…

“Kamu sedang apa?” tanya Randy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi di dalam kamarnya. Randy tampak sedikit terkejut ketika mendapati Febby yang sudah berada di dalam kamarnya.

“Em. Aku mau membereskan pakaianku.” Jawab Febby dengan sedikit canggung.

“Hah?? Apa kamu sudah gila? Siapa yang menyuruhmu menginjakkan kaki di kamarku? Kamarmu ada di kamar sebelah!” Seru Randy dengan suara lantangnya.

“Jadi.. kita tidak sekamar?”

“Jangan bermimpi untuk tidur sekamar denganku. Apa kamu tau kalau pernikahan ini hanya sebagai kedok untuk menutupi hubunganku dengan kekasihku? Semua ini hanya sandiwara, jadi kamu seharusnya tau diri.”

“Hei, kamu kira aku menginginkanmu? Aku menikahimu juga karena terpaksa.” Febby mencoba melawan Randy sekuat tenaga, ia benar-benar sakit hati dengan apa yang dikatakan Randy.

Randy sendiri membulatkan matanya seketika, ia tidak menyangka jika Febby akan berbalik melawannya.

“Kalau begitu cepat keluar dari kamarku.” Perintahnya.

“Baik, Aku janji tidak akan pernah menginjakkan kaki di kamarmu lagi kecuali kamu yang menginginkannya.”

“Huh, jangan bermimpi.” Randy mendengus kesal.

 

Bayangan itu menari-nari dalam ingatan Febby dan entah kenapa membuat hati Febby terasa sakit. Harga dirinya sudah di injak-injak oleh seorang Randy Prasaja, lelaki menyebalkan yang kini menjadi suaminya. Febby menghela napas panjang, Ah, tidak ada salahnya bukan jika ia bercerita pada Brian? Toh Brian terlihat baik.

“Kami di jodohkan.” Jawab Febby dengan tubuh sedikit lemas.

Brian tercengang dengan perkataan Febby. “Kamu yakin? Kamu nggak bercanda kan?”

Febby menggelengkan kepalanya. “Ya, kami hanya di jodohkan, dan hubungan kami hanya sandiwara.”

Akhirnya Febby berani mengucapkan kebenaran tersebut pada orang lain. Ahh, persetan dengan karir Randy yang terancam, toh lelaki itu tak pernah mau tau tentang dirinya bukan??

 

-TBC-

Semoga masih ada yang mau nunggu hyaa,, huehehheh

Advertisements

4 thoughts on “Full House – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s