romantis

Love Between Us – Part 9 (Putus)

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Banyak typo.. mohon maklum…!!!

Chapter 9

-Putus-

Jam makan siang akhirnya tiba juga. Denny menghela napas panjang. Dengan cepat ia mencari-cari keberadaan ponselnya di meja kerja. Denny ingin menghubungi Aira, semalaman gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Bahkan tadi pagi pun sama. Apa yang terjadi dengan gadis itu??.

 

Denny mencoba menghubungi Aira kembali, tapi nyatanya gadis itu lagi-lagi tidak mengangkat telepon darinya. Dengan sedikit lemas ia berdiri kemudian keluar dari ruang kerjanya untuk makan siang.

 

Di dalam lift, Denny bertemu dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya. Para wanita itu menampilkan senyuman aneh mereka pada Denny. Vita memang selalu di gosipkan dekat dengannya, maka tak heran jika teman-teman wanita Vita saat ini sesekali mendorong-dorong tubuh Vita supaya lebih dekat dengan Denny.

 

“Hai..” Hanya itu yang dapat di katakan Denny untuk menyapa Vita dan teman-temannya.

 

“Hai juga, mau makan siang?”

Denny hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Cuma mau cari kopi.” tambahnya.

 

“Emmm, boleh ikut?” Tanya Vita yang secara tak langsung menawarkan dirinya untuk menemani Denny.

 

“Boleh, lebih ramai lebih bagus,” jawab Denny sambil melirik arah teman-teman Vita.

 

“Sorry, sepertinya kami nggak ikut, takut ganggu,” Ucap salah seorang teman Vita.

 

“Kalian nggak ganggu kok, malah enak kalau ramai-ramai.” Jawab Denny cepat. Jujur saja, sebenarnya ia merasa tak nyaman jika harus berdua dengan Vita. Entahlah, Denny hanya tidak ingin membuat wanita itu berharap lebih padanya.

 

Pintu lift akhirnya terbuka ketika sampai di lobi. Denny keluar bersama dengan Vita dan tiga orang teman wanitanya, mereka masih sedikit berdebat karena tidak ingin ikut makan siang bersama Denny dan Vita. Hingga kemudian, mata Denny menatap sosok gadis cantik yang sudah berdiri sambil menatapnya.

 

“Aira..” Ucap Denny spontan. Ia berjalan cepat menuju ke arah Aira. Denny benar-benar tidak menyangka jika Aira mengunjunginya lagi ke kantor tempatnya bekerja.

 

“Hai.. Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku? Ada masalah??” Bukannya menjawab, Aira malah sibuk menatap beberapa wanita di belakang Denny yang kini juga ikut menuju ke arahnya.

 

“Siapa mereka?” Tanya Aira langsung.

 

Denny mengangkat sebelah alisnya saat mengamati ekspresi kesal yang tampak jelas di wajah Aira. Ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Vita dengan tiga orang temannya tadi.

 

“Ohh… mereka teman kerjaku,” Aira hanya diam, tidak menanggapi jawaban darinya. Aira lebih memilih mengamati para wanita yang kini sudah berdiri tepat di sebelah kekasihnya itu.

 

“Denn, kita jadi makan siang bareng?” Tanya Vita yang tanpa canggung lagi menepuk bahu Denny.

 

“Emmm.. maaf Vit, sepertinya kita nggak jadi makan siang bareng.” Jawab Denny sambil melirik ke arah Aira.

 

“Ohh, kamu makan siang sama dia? Adik kamu?” tanya Vita lagi.

 

Denny tersenyum, kemudian tanpa ragu lagi ia menggenggam telapak tangan Aira. “Dia pacarku Vit,” jawab Denny. Untuk pertama kalinya pagi itu Aira dapat menyunggingkan senyuman bahagia.

 

Siang ini Aira memang sengaja menemui Denny. Setelah semalaman galau karena memikirkan suara siapakah yang ia dengar saat menelepon Denny. Semalam Denny mencoba menghubunginya, pagi inipun entah sudah berapa kali Denny mencoba meneleponnya, tapi Aira memutuskan untuk tidak mengangkatnya. Aira tidak ingin rasa kesalnya ditumpahkan pada Denny begitu saja. Padahal ia belum tahu masalahnya. Maka dari itu, siang ini juga Aira ingin meminta penjelasan secara langsung pada Denny.

 

Rasa kesal Aira semakin menjadi-jadi saat melihat Denny dekat dengan beberapa wanita teman kerjanya itu. Tapi kemudian, semua rasa kesal itu hilang begitu saja. Saat Aira mendengar pengakuan Denny pada teman-teman wanitanya jika ia adalah kekasih dari pria tersebut.

 

“Ohhh jadi, kamu sudah punya pacar?” tanya Vita dengan nada tidak percayanya.

Denny mengangguk dengan pasti.

 

“Ya, ini Aira, pacarku.” Ucap Denny sekali lagi penuh dengan penegasan. Ohh, jangan ditanya lagi betapa bahagianya hati Aira mendengar ucapan Denny. Ia tidak menyangka jika Denny bisa berbuat semanis ini terhadapnya.

 

“Emm.. baiklah kalau begitu kita makan diluar duluan.” Ucap Vita dengan cepat, lalu pergi begitu saja. Wajah memerahnya, di ikuti dengan tiga orang temannya tadi.

 

Setelah kepergian Vita dan teman-temannya, Denny kembali menatap Aira, masih menggenggam tangan Aira. Dengan canggung ia melepaskannya.

 

“Ada masalah? Kenapa kamu nggak mengangkat telepon dariku?”

 

“Aku mau minta penjelasan dari kamu.” Ucap Aira dengan nada yang dibuat merajuk.

 

“Penjelasan apa??”

 

“Kita bahas di luar saja,” jawab Aira. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan gadis manja di hadapaannya.

 

***

 

Di sebuah cafe yang tidak jauh mereka duduk berhadapan. Denny memesankan milkshake kesukaan Aira sedang dirinya secangkir espresso. Aira sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Denny. Hatinya menuntut Denny untuk jujur. Ia tidak mau dibohongi lagi oleh seorang pria. Ya, pria brengsek seperti Wisnu. Menyebutkan namanya saja Aira sudah muak.

 

“Siapa dia Denny? Siapa wanita itu?” pertanyaan Aira membuat Denny menatapnya sembari menyunggingkan senyumannya.

 

Aira cemburu, Denny tahu itu.

 

Denny sudah menduga pasti Aira akan berburuk sangka karena mendengar suara gadis lain di sambungan telepon kemarin. Ia menjelaskan permasalahannya, nyatanya Aira hanya salah paham saat tidak sengaja mendengar suara Clarista tadi sore. Denny tahu itulah sebabnya Aira tidak mau mengangkat telepon darinya.

 

“Kamu cemburu?” tanya Denny sedikit memancing reaksi Aira.

 

“Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa wanita yang tadi sore berbicara saat di telepon.”

 

“Namanya Clarista, dia adikku,” Aira menyipitkan matanya ke arah Denny.

 

“Kamu nggak lagi bohong kan? Kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya adik!”

 

“Karena kamu nggak pernah tanya tentang keluargaku.” Aira mengerucutkan bibirnya.

 

“Aku masih nggak percaya sebelum ada buktinya.” Denny mencubit gemas pipi Aira.

 

“Aku akan mengenalkanmu dengan dia nanti,”

 

“Kamu janji?”

 

“Ya, aku janji. Tapi jangan marah lagi ya,” Aira menunduk malu, senyumnya terukir begitu saja. Pipinya merah merona karena perlakuan manis dari Denny. Sejak kapan pria dingin dan datar di hadapannya ini berubah menjadi pria yang manis seperti saat ini?.

 

“Oke, aku nggak marah. Tapi aku mau nanti malam kamu datang ke rumah. Kita akan makan malam bersama dengan Ayah dan Mamaku.”

 

“Kamu yakin? Ku pikir ayahmu masih nggak menyukaiku,”

 

“Dia bukannya nggak menyukaimu, tapi dia belum mengenalmu. Kamu mau kan makan malam bersama kedua orang tuaku?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, tentu aku mau.” Keduanya saling tersenyum satu sama lain, merasakan hati masing-masing yang sama-sama terasa berbunga-bunga.

 

***

Aira mampir ke salah satu butik mamanya, Zeeva. Ia ingin merayu Zeeva untuk memberikannya sebuah gaun malam yang bagus. Aira ingin tampil menawan di depan Denny nanti malam. Untuk kecantikan Aira tidak diragukan lagi. Gadis tinggi semampai itu sangat merawat dirinya.

 

“Mama ada?” Tanyanya pada karyawan Zeeva ketika hendak masuk ke ruangan Mamanya.

 

“Ibu Zeeva ada di dalam, mbak Aira.” Jawab karyawan itu. Aira membuka pintu Zeeva sedang menulis sesuatu di sebuah kertas.

 

“Ma,” sapa Aira menghampirinya. Ia mencium pipi Zeeva.

 

“Ada apa sayang?” Zeeva berdiri membawa Aira menuju sofa. Ia meninggalkan pekerjaannya sebentar.

 

“Ma, aku boleh meminjam salah satu gaun malam koleksi mama nggak?” Aira menggunakan kata ‘meminjam’ itu hanya sebuah alasan. Tidak mungkin kan Zeeva menjual gaun bekas pakai. Aira merayu sang mama untuk mendapatkan sebuah gaun. Rizky sudah mewanti-wanti untuk tidak menghamburkan uang. Ayahnya, bukan pelit tapi Aira harus belajar menghemat. Gayanya yang dulu selalu tampil modis membuat para pria hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Rizky tidak mau itu terulang lagi. Siapapun yang menyakitkan putrinya akan berurusan dengannya.

 

“Ambilah gaun yang kamu inginkan. Mama tidak akan bilang ke ayah,” Zeeva mengusap pipi Aira.

 

“Janji?”

 

“Iya, mama janji. Sudah sana pilih gaun yang kamu suka, mama mau kerja lagi.” Zeeva mencium pipi Aira yang kegirangan.

“Nanti pulangnya kita bareng kan, ma?” Aira berdiri.

 

“Iya, mama tau ini hari bahagia kamu kan. Ayah mengajak Denny itu undangan yang sangat langka. Nanti kita persiapkan makan malamnya berdua ya,” anggukan Aira semangat sekali. Ia kembali mencium pipi Zeeva.

 

“Aku sayang mama,” ucapnya sebelum melangkah pergi. Aira bergegas mencari gaun yang pas untuk nanti malam. Di bantu karyawan Zeeva, Aira sibuk menjajal gaun satu persatu. Dari gaun yang sederhana sampai gaun yang menampilkan punggungnya. Aira meringis membayangkan jika ayahnya melihatnya. Rizky pasti tidak suka dan menceramahinya. Ayahnya terlalu over protektif kadang membuatnya sebal.

 

Pilihannya jatuh pada gaun biru laut tidak berlengan. Ia sangat menyukai gaun itu. Hatinya sedang bahagia sekali. Aira senyum-senyum sendiri sampai karyawan yang menemaninya melihatnya aneh. Aira sedang jatuh cinta. Rasa bahagianya meluap menimbulkan pancaran binar senang.

***

 

Pukul 15.30 WITA Aira dan Zeeva mempersiapkan menu untuk makan malam. Aira sangat tidak sabar menunggu malam. Zeeva sampai tertawa saat Aira membantunya memasak. Tak luput dari penglihatannya Aira bersin dan meneteskan air mata karena cabe yang ditumis. Ia membuat sambal balado kesukaan Denny.

 

Narendra yang lewat dapur menatap heran Zeeva. Ingin bertanya ‘tumben kakak rajin’. Zeeva menaikan bahunya sambil tertawa.

 

“Ma, ada acara apa?. Kak Aira sampai bela-belain masak?” Narendra duduk dikursi pantry.

 

“Pacarnya mau ikut makan malam, sayang,” sahut Zeeva.

 

“Ayah yang mengundangnya?”

 

“Iya, apa kamu tidak mendengarnya tadi malam?” kini Aira yang menyahut. Ia sibuk menuangkan sambal ke mangkuk. “Sudah sana jangan menganggu yang lagi masak!” Ia menyuruh pergi. Ada Narendra hanya akan memecahkan konsentrasinya saja.

 

“Yey, kakak tu yang memberantakin dapur mama,” ledeknya. Aira berbalik memelototinya.

 

“Ya ampun anak ini!” Aira bersiap untuk mengejarnya namun Narendra sudah kabur terlebih dahulu. Zeeva menertawakan Aira. Bibir Aira mengerucut namun ia melanjutkan sesi masaknya.

 

1 jam berlalu makanan sudah tersaji di meja makan. Aira segera ke kamarnya untuk mandi. Rizky baru saja pulang dari kantor. Ia menggendong Bunga yang bermain diluar membawanya masuk. Rizky mendengarkan celotehan-celotehan Bunga yang menceritakan kegiatannya seharian ini.

 

“Jadi Bunga belum mandi?” Tanya Rizky.

 

“Belum, Bunga mau baleng mama tapi mama sibuk masak sama kak Aila,” adunya. Rizky tertawa ringan.

 

“Ayah mandikan Bunga ya, kita buat busa yang banyak. Itu kesukaan Bunga kan?”

 

“Eum, Bunga suka busa yang banyak.” Ucapnya riang. Rizky menaiki tangga menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar pribadinya sembari menggendong Bunga.

 

“Ayah, sudah pulang?” Zeeva baru keluar dari walkin closet. Tak lupa ia mencium tangan Rizky dan pipi suaminya tersebut. Rizky menurunkan Bunga di atas ranjang.

 

“Iya, ma. Bunga belum mandi katanya,” ucap Rizky. Zeeva duduk ditepi ranjang. Bunga mendekatinya lalu duduk di pangkuan sang mama.

 

“Iya, tadi sibuk masak sama Aira. Bunga kita mandi dulu yuk,” Bunga menggelengkan kepalanya.

 

“Sama ayah,” serunya.

 

“Ayah, capek sayang. Sama mama saja ya,” bujuk Zeeva.

 

“Mau sama ayah,” kekehnya. Zeeva menghela napas panjang.

 

“Apa tidak capek, yah?” Suaminya baru saja pulang bekerja.

 

“Tidak, yuk Bunga,” gadis mungil itu berdiri lalu mengulurkan tangannya minta di gendong. Rizky membawanya seperti superman ke kamar mandi. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya. Rizky memandikan putri bungsunya.

***

 

Dikamar Aira sudah mandi, ia duduk di meja rias. Aira sedang menyapukan bedak ke wajahnya. Lipstick berwarna pink menghiasi bibirnya. Binar matanya sangat bahagia. Ia memoleskan blush on sedikit kedua pipinya. Wajahnya sudah beres dirias. Rambutnya pun dibiarkan tergerai. Ia hanya tinggal mengganti bajunya saja.

***

 

Tepat 19.30 Denny sudah berada di depan rumah Aira. Ia menggunakan motor maticnya. Denny berpakaian rapih sekali. Kemeja dan jeans masih baru yang ia pakai. Pakaian itu yang dibelikan Clarista, adiknya.

 

Pembantu rumah yang membukakan pintu untuk Denny. Ia dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu. Tak lama Rizky datang menemuinya. Aira belum selesai, ia masih sibuk memeriksa tampilannya. Rizky mencoba mengobrol dengan Denny. Sekaligus mencari tau kepribadian yang mengaku pacar Aira tersebut. Ia mengetahui jika Denny bekerja di perusahaan properti dan tinggal dikostan. Rizky cukup terkejut dari tampang Denny bukanlah pria biasa. Ia sedikit tidak percaya, apa yang dikatakan Denny. Namun dari orang suruhannya yang melapor memang itu kenyataannya. Dan sebuah fakta kemarin Denny pergi bersama seorang gadis lain tak luput diberitahukan.

 

Aira segera menemui Denny setelah ia merasa perfect. Dengan malu-malu Aira menyapa Denny. Kekasihnya pun terpesona akan penampilan Aira yang menggetarkan hatinya. Semakin hari perasan Denny semakin besar terhadap Aira. Rasa suka berubah menjadi cinta.

 

Acara makan malam tidak canggung dengan kehadiran Denny. Rizky berusaha menerimanya. Berusaha menekan kekhawatiran yang menyelimutinya. Ia tidak masalah jika kekasih Aira bukan dari kalangan orang kaya. Rizky menginginkan pendamping Aira yang bertanggung jawab dan memcintai putrinya tulus.

 

Aira menambahkan sambal baladonya ke piring Denny. Kali ini rasanya lumayan tidak seasin yang dulu melainkan kemanisan. Denny mengunyah seperti biasa. Padahal Rizky dan yang lainnya menatapnya curiga. Narendra sampai menahan tawanya. Syukurlah ia tidak mengambil sambal buatan Aira.

 

“Sambalnya enakan, Denny?” Tanya Aira yang disebelahnya.

 

“Iya, enak,” jawab Denny.

 

“Mau tambah lagi?”

 

“Tidak usah!” ucapnya cepat. “Yang ini saja belum abis,” lanjutnya pelan, hatinya meringis melihat piringnya.

 

“Kalau begitu nanti bawa pulang saja ya,” ucap Aira sebelum menyuap.

 

“Iya, boleh.” Cicit Denny.

 

***

 

Di suatu tempat, seorang gadis menatap layar smartphonenya dengan bibir tersenyum miringnya. Itu adalah Dinda, yang sedang sibuk menyusun rencana untuk mengganggu hubungan Denny dan Aira.

 

Di kirimnya beberapa foto hasil jepretannya pada seorang teman akun sosial medianya. Siapa lagi jika bukan Aira.

 

Foto-foto tersebut adalah foto Denny bersama seorang gadis yang sedang bergelayut dengan manjanya pada lengannya. Aira pasti merasakan sakit hati saat melihat foto-foto tersebut. Jantungnya pasti berdenyut nyeri sama sepertinya kini. Denny benar-benar lelaki brengsek!!! Umpat Dinda dalam hati.

 

Dinda menambahkan keterangan jika Aira ingin tau lebih, maka Aira harus menemuinya di sebuah cafe. Ia yakin, jika Aira pasti akan menemuinya. Dinda kembali menyunggingkan senyuman misteriusnya.

 

‘Jika aku tak bisa mendapatkan Kak Denny, maka Aira pun tidak boleh mendpatkannya…’ gumamnya dalam hati.

 

***

 

Aira begitu bahagia, ia berguling ke sana kemari di atas ranjang besarnya. Makan malamnya berjalan sangat lancar. Ayahnya kini juga sudah terlihat nyaman dengan Denny. Sikap Denny sendiri kini semakin manis terhadapnya. Aira tersenyum sendiri, menertawakan kebodohannya. Denny, bagaimana mungkin lelaki itu bisa membuatnya berbunga-bunga seperti ini?.

 

Tak lama Aira mendengar ponselnya berbunyi. Sebuah inbox dari sosial medianya. Ia bergegas melihat siapa yang sedang mengirim inbox malam-malam begini. Dan setelah membukanya, mata Aira membulat seketika.

 

Itu sebuah foto, Aira mengamati foto tersebut dengan seksama. Benarkah apa yang ia lihat? Apa benar itu Denny??. Dengan seorang gadis?? Apa gadis itu adalah gadis yang kemarin hari ia dengar saat menelepon Denny?. Tapi bukankah Denny sudah mengatakan jika suara wanita kemarin hari adalah suara adiknya. Apa Denny berbohong padanya?. Ada kemungkinan Denny berbohong, karena Aira sendiripun tidak tahu. Apakah Denny memiliki seorang adik atau tidak.

Berbagai macam pertanyaan berputar-putar pada kepala Aira. Dan pada detik itu, Aira baru menyadari. Jika selama ini ia memang belum mengenal terlalu jauh siapa sosok Denny sebenarnya.

 

***

 

Keesokannya Aira memutuskan untuk menemui Dinda di dalam sebuah cafe. Sempat ragu karena Aira tau jika Dinda adalah orang yang tidak menyukainya. Tapi rasa penasaran dengan foto-foto tersebut membuat Aira tidak berpikir ulang. Tidak ada salahnya bukan menemui Dinda?. Bukankah Dinda juga mengenal Denny sebelumnya. Bisa jadi Dinda tau lebih banyak tentang Denny, pikirnya saat itu.

 

Aira menatap seluruh penjuru cafe, lalu ia mendapati seorang gadis sebaya dengannya sedang menunggu seseorang. Itu Dinda. Dinda sendiri terlihat melambaikan tangan ke arahnya.

 

“Akhirnya kamu datang juga,” ucap Dinda saat Aira duduk tepat di hadapannya.

 

“Langsung saja, kamu tau apa tentang Denny?” Dinda tersenyum miring.

 

“Semuanya aku tau. Aira.. Aira.. apa kamu nggak sadar kalau kamu sedang di manfaatkan oleh seorang cowok mata duitan?” Aira menyipitkan matanya ke arah Dinda.

 

“Apa maksud kamu?”

 

“Jangan sok polos, kamu nggak sadar kalau cowok yang jadi pacar kamu sekarang adalah cowok mata duitan?” Mata Aira melebar seketika. Ia tidak suka jika Dinda menghina Denny seperti itu. Lagi pula Denny tidak pernah meminta apapun terhadapnya seperti Wisnu dulu saat menjadi kekasihnya.

 

“Jaga mulut kamu Dinda, Denny bukan orang seperti itu.” Geram Aira yang sudah sangat kesal dengan apa yang di katakan Dinda.

 

“Lalu, apa kamu bisa menjelaskaan tentang ini?” Dinda menyodorkan banyak sekali foto-foto Denny yang sedang berada di sebuah toko mewah untuk perlengkapan laki-laki. Di sana banyak terlihat seorang gadis sedang membantu Denny memilihkan pakaian untuk lelaki tersebut. Bahkan ada sebuah foto yang menunjukkan jika gadis itulah yang membayar semua belanjaan mereka.

 

Aira tertegun cukup lama. Tidak Denny bukan orang seperti itu. Dirinya seakan ingin meyakinkan hatinya sendiri. Aira menggelengkan kepalanya. “Denny bukan orang yang seperti ini..” Lirih Aira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

 

“Apa kamu nggak pernah mikir, bagaimana bisa Denny selalu terlihat tampil keren dan modis. Padahal dia hanya bekerja sebagai staf biasa di sebuah kantor yang bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan perusahaan ayahmu?. Bagaimana bisa dia seperti itu?”

 

“Tapi dia tidak pernah meminta apapun dariku.”

 

“Karena kamu adalah tangkapan yang sempurna untuk dia. Dia tidak perlu meminta apa-apa darimu, karena saat kamu sudah menjadi miliknya. Saat itu pula dia akan mimiliki seluruh kekayaan keluargamu.” Dada Aira terasa sesak mendengar penjelasan dari Dinda. Ya, kenapa semuanya jadi masuk akal?? Penampilan Denny, sikap miterius dari pria tersebut dan sikap-sikap manis Denny akhir-akhir ini. Apa itu semua hanyalah suatu jebakan untuk mendapatkan hatinya?. Apa Denny adalah orang yang sama seperti Wisnu?.

 

***

 

Tiga hari berlalu…

 

Denny benar-benar gelisah saat memikirkan hubungannya dengan Aira. Ini sudah empat hari setelah makan malam bersama keluarga Aira. Malam itu, mereka berdua benar-benar bahagia. Denny bahkan tak segan-segan untuk memberikan kecupan perpisahan pada kekasihnya tersebut.

 

Tapi ketika paginya Denny menghubungi Aira. Gadis itu tidak mengangkat telepon darinya. Ahh  mungkin Aira sedang sibuk, pikirnya saat itu tapi sorenya Denny menelepon lagi dan lagi. Aira tak kunjung mengangkat telepon darinya bahkan sampai saat ini. Apa yang terjadi dengan gadis itu?.

 

Denny memejamkan matanya karena frustasi. Ia ingin menemui Aira malam ini juga. Ya, ia harus menemui gadis itu malam ini juga apapun yang terjadi.

 

***

 

Akhirnya, malam itu juga Denny berkunjung ke rumah Aira. Ia tidak mempedulikan langit yang kini sedikit menitikan air hujan. Gerimis tidak bisa menghalangi niatnya untuk menemui gadis tersebut. Ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya itu. Kenapa Aira seakan tak ingin mengangkat telepon darinya.

 

Setelah mengetuk pintu, Denny di sambut hangat oleh Zeeva. Mama Aira itu memang sangat baik, sikapnya selalu hangat terhadapnya.

 

“Denny, ayo masuk..” ajak Zeeva.

 

“Emm.. terimakasih tante, tapi saya menunggu di sini saja. Saya hanya ingin bertemu dengan Aira ”

 

“Kalian ada masalah?”

 

“Ahh tidak tante,” Denny tentu menolak untuk masuk karena jika nanti ia masuk ke dalam ruang tamu keluarga Aira. Maka mau tidak mau Denny bukan hanya berbicara berdua dengan Aira, tapi juga dengan Rizky, ayah Aira. Denny ingin menunggu Aira di halaman rumah gadis itu saja.

 

“Baiklah, tante akan memanggilkan Aira untuk kamu.” Denny menganggukkan kepalanya. Ia kemudian memilih menunggu Aira di sebuah ayunan yang letaknya di halaman depan rumah Aira. Tidak lama, sosok yang di tunggunya itu akhirnya keluar juga. Denny berdiri seketika saat melihat Aira berjalan menuju ke arahnya.

 

Ada yang berbeda dengan gadis itu. Gadis itu terlihat murung tidak ceria seperti biasanya. Tampak jelas raut kesal di wajah Aira, bukan raut manja seperti biasanya. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Aira?. Hatinya bertanya-tanya.

 

“Hai, akhirnya kita ketemu juga,” ucap Denny sedikit basa-basi.

 

“Ada perlu apa?” tanya Aira dengan nada ketusnya.

 

Denny sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Aira terdengar sangat ketus, seakan tidak suka dengan kedatangannya ke rumah gadis tersebut.

 

“Kamu ada masalah? Kenapa bersikap seperti ini padaku?” Aira memutar bola matanya jengah.

 

“Ya, aku ada masalah, dan masalahnya itu kamu.” ucapnya ketus.

 

“Aku? Ada apa denganku?” tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Kamu nggak usah sok polos, kamu pikir aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahui apa rencanamu??”

 

“Aira…”

 

“Cukup!” Aira mengangkat tangannya mengisyaratkan Denny supaya tutup mulut. “Kita sudahi sampai di sini saja hubungan sialan ini. Aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi dan aku nggak mau ketemu kamu lagi.” Ucap Aira dengan tegas lalu berbalik dan meninggalkan Denny di tengah gerimis hujan yang semakin deras.

 

Denny tidak tinggal diam. Dengan segera ia menyusul Aira, kemudian menarik pergelangan tangan Aira.

 

“Jika kamu ingin memutuskan hubungan dengan seseorang, maka kamu harus memberinya alasan, kenapa kamu memutuskan dia!” Desis Denny tajam. Ia bahkan tidak mempedulikan tubuhnya dan tubuh Aira kini yang basah karena hujan yang semakin deras mengguyur.

 

“Kamu nggak perlu alasan!”

 

“Aku memerlukannya!” Seru Denny. “Kalau kamu nggak memberikan alasan yang masuk akal, maka aku akan selalu mengganggumu.” Ancam Denny sembari mengeratkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Aira.

 

“Oke, karena kamu brengsek!” ucapnya sarat akan kebencian.

 

“Brengsek??” Tanya Denny dengan wajah bingungnya.

 

“Ya, kamu brengsek dan aku membencimu. Aku sangat membencimu Denny!!!” Aira berteriak tepat ke arah Denny. Spontan, Denny melepaskan cekalan tangan Aira begitu saja. Ia membiarkan gadis itu pergi begitu saja meninggalkannya dengan serangkaian kemarahan yang Denny sendiri tidak tau karena apa. Denny membatu sendiri di tengah-tengah halaman rumah Aira dengan hujan yang semakin deras mengguyur tubuhnya.

 

Aira membencinya.. gadis itu membencinya…

 

kenapa saat ini?? Kenapa saat ia benar-benar yakin jika saat ini dirinya sangat mencintai gadis itu?

 

-Tbc-

Advertisements

5 thoughts on “Love Between Us – Part 9 (Putus)

  1. Wah si aira udah kemakan sama omongannya si dinda jahat…kenapa aira gak ngejelasin alasan yg sebenernya minta putus dari denny, biar denny ngejelasin klo yg di foto bareng denny dimall itu clarista, adiknya denny…

    Like

  2. Bnr kata Denny,,klo putus itu hrus ada alasannya,,,jgn asal skit hati gk jlas lngsung deh di putus,,itu kn gk adil bgt y gk c???? Hahayyy

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s