romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 8 (Saat Dia Pergi)

TLK2The Married Life (Lady Killer 2)

Haiii.. Kak Dhanni hadir lagi siang ini dear.. maaf agak ngaret yaa,… walaupun sering telat update, tapi aku akan tetap lanjutin sampai kata ending kok, jadi tenang aja.. hehehehhe kalau di draft kasarnya mungkin cerita ini hanya sampek chapter 15, tapi bisa kurang dan lebih yaa…  okay happy reading… 😉 😉

-Typonya banyak sekali.. iyaa banyak sekali.. jadi maklumin aja yaa,, nggak sempat edit.,hhahaha-

Chapter 8

Saat Dia Pergi-

 

Nessa masih menundukkan kepalanya. Hari ini hatinya terasa sedih. Dhanni akan pergi beberapa hari ke luar kota, dan itu membuatnya semakin tak nyaman. Nessa merasa jika kini Dhanni masih marah terhadapnya, meski sikap suaminya itu sudah melembut, tapi Nessa merasakan jika suaminya itu sedikit berbeda dari biasanya.

Nessa merasakan telapak tangannya di genggam oleh Dhanni. Ia kemudian mengangkat wajahnya lalu mendapati sepasang mata lembut yang kini sedang menatapnya.

Dhanni menyunggingkan senyumannya. Ia menarik telapak tangan Nessa untuk menyentuh permukaan bibirnya. Mengecupnya lembut penuh dengan kasih sayang.

“Kamu murung sekali.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

“Aku nggak mau Kak Dhanni pergi.”

“Sayang, aku hanya beberapa hari.”

“Tapi aku nggak tenang Kak..” Rengek Nessa. Nessa bahkan tak peduli jika ada beberapa orang di sekitarnya kini yang sedang asik memperhatikan mereka berdua.

Dhanni dan Nessa kini memang sedang berada di bandara internasional Soekarno Hatta. Nessa sejak pagi merengek ingin mengantar Dhanni sampai ke bandara. Akhirnya Dhanni memperbolehkan istrinya tersebut. Kini mereka masih menunggu kedatangan Ramma dan juga Hani, Asisten pribadi Dhanni.

“Selamat pagi pak.” Sapa Seorang wanita yang akhirnya memaksa Dhanni dan Nessa mengangkat wajahnya menatap wanita tersebut. Itu Hani, maka kini tinggal menunggu kedatangan Ramma saja.

“Pagi.” Jawab Dhanni. “Kita tunggu Pak Ramma dulu.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Dhanni masih setia menggenggam telapak tangan Nessa, bahkan lelaki itu tak segan-segan mengecup telapak tangan istrinya tersebut.

Tak lama, datanglah Ramma dengan seorang wanita di sebelahnya. Siapa lagi jika buka Zoya.

“Lo berangkat sama dia?” tanya Dhanni sambil melirik ke arah Zoya.

“Tentu saja.” Jawab Ramma dengan seringaiannya. “Lo sendiri ngajak Nessa?”

“Enggak,” Jawab Dhanni sambil menatap Nessa. “Dia cuma ngantar sampai di sini.”

Ramma kemudian melirik ke arah jam tangannya. “Oke, ayo kita chek in.”

Ramma, Zoya, dan Hani akhirnya mulai berjalan masuk. Sedangkan Dhanni sendiri masih merasa tak tega dengan Nessa yang akan di tinggalnya sendiri.

“Aku pergi ya.” Ucap Dhanni dengan suara lembutnya.

Nessa hanya bisa mengerucutkaan bibirnya. Ia tidak suka di tinggal. Apalagi mengingat jika suaminya akan bepergian dengan mantan kekasihnya.

“Aku ikut.” Ucap Nessa dengan manja.

“Sayang… ingat Babby kita.” Dhanni mengusap lembut perut datar Nessa.

“Tapi aku nggak suka mengingat Kak Dhanni akan pergi dengan mantan pacar Kak Dhanni yang terlihat agresif itu.”

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Erly nggak ikut, aku sudah memecatnya.” Akhirnya Dhanni jujur pada Nessa.

“Apa?? Kak Dhanni nggak bohong kan??”

Dhanni menggelengkan kepalanya. “Apa kamu tadi lihat ada Erly? Enggak kan? Dia sudah ku pecat sejak kemarin, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi.”

“Tapi kemarin Kak Dhanni bilang kalau Kak Dhanni akan pergi dengan wanita itu.”

Dhanni tertawa lebar. “Aku hanya ingin membuatmu kesal. Aku terlalu emosi melihat istriku di peluk-peluk oleh lelaki lain, apalagi saat aku tahu jika lelaki itu adalah mantan kekasihnya.”

Nessa membulatkan matanya seketika. “Kak Dhanni.. Kak Dhanni tau hubunganku dengan Kak Jo dulu??”

“Ya. Semuanya aku sudah tau. Dan kamu berhutang penjelasan padaku.”

Nessa menundukkan kepalanya seketika. “Maaf, aku nggak bermaksud menyembunyikan semuanya, aku hanya nggak ingin Kak Dhanni tau lalu hal itu mengganggu pikiran Kak Dhanni. Aku benar-benar nggak memiliki perasaan apapun dengan Kak Jo saat ini. Makanya, ku pikir aku tidak perlu bercerita, karena semuanya hanya masa lalu.”

Dhanni menangkup kedua pipi Nessa, mengangkat wajah istrinya tersebut hingga menatapnya. “Sayang.. ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Tapi nanti, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Dan sampai saat itu tiba, ku harap kamu mau menceritakan semuanya tanpa ada yang kamu tutupi dariku.”

Nessa menganggukkan kepalanya dengan pasti. “Aku janji akan cerita semuanya sama kak Dhanni nanti.”

Tanpa banyak bicara Dhanni mendaratkan bibirnya pada bibir lembut milik Nessa, melumatnya sebentar, kemudian mengecupnya penuh dengan kasih sayang.

“Aku sayang kamu, jaga Babby kita. Nanti kalau sudah sampai aku hubungi kamu.” Pesan Dhanni sebelum pergi meninggalkan Nessa.

Ketika Dhanni sudah agak jauh, Nessa kembali memanggil Dhanni.

“Kak..”

Dhanni membalikkan badannya, kemudian mendapati tubuh istrinya itu memeluknya erat-erat.

“Nessa, aku hanya beberapa hari.”

“Aku tahu.. tapi aku hanya ingin bilang, bahwa aku cuma sayang sama Kak Dhanni, dan hanya Kak Dhanni, jadi ku mohon, percaya denganku.”

“Iya sayang, aku percaya kamu.”

Nessa melepaskan pelukannya, Kemudian berjinjit dan mengecup lembut pipi suaminya tersebut. “Aku ingin di telepon setiap jam.”

Dhanni tersenyum. “Ya, aku akan melakukannya.”

Dhanni akhirnya pergi sembari melambaikan tangannya pada Nessa. Terasa berat, karena ini pertama kalinya ia meninggalkan Nessa sendiri dalam keadaan hamil. Khawatir, tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi. Lagian ia sudah membayar beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga istrinya tersebut dari jauh. Nessa akan aman, tapi apa hati wanita itu juga akan aman?? Dhanni mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk pada istrinya tersebut.

***

Dengan khawatir Jonathan menatap sang kakak yang terbaring lemah seakan tak berdaya. Mata kakaknya tersebut terpejam, tapi bibirnya tak berhenti memanggil nama sialan yang selama ini mau tak mau mmebuatnya kesal. Nama siapa lagi jika bukan nama seorang Dhanni Revaldi.

Setelah berdebat sengit dengannya tadi malam, sang kakak tak lagi keluar dari kamarnya. Kakaknya tersebut memilih mengunci diri di dalam kamarnya, dan itu membuat Jonathan khawatir.

Akhirnya Jonathan membuka paksa pintu kamar kakaknya tersebut dan mendapati kakaknya yang sudah terbaring lemah dan meracau tak jelas seperti saat ini.

“Bagaimana Dok keadaan kakak saya?” Tanya Jonathan pada seorang Dokter keluarganya yang baru saja selesai memeriksa Erly.

“Untuk fisiknya, mungkin dia hanya mengalami demam biasa, tapi sepertinya psikisnya yang terganggu. Dia tak berhenti menyebut nama Dhanni, dan saya harap kamu memiliki solusi untuk masalah yang mungkin saja terjadi antara kakakmu dengan Dhanni tersebut.”

“Kalau dia seperti ini terus, apa yang akan terjadi?” Jonathan bertanya kemungkinan terburuknya.

“Jo, kakak kamu punya psikiater kan? Lebih baik ajak dia kembali terapi dengan psikiaternya, saya hanya takut, depresi yang dulu sempat dia alami kembali kambuh. Kakakmu memiliki psikis yang sangat lemah.”

Jonathan tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari Dokter tersebut. Lalu apa yang harus ia lakukan selanjutnya?? Mampukah ia bersikap egois untuk menyelamatkan kakaknya dan menyakiti hati wanita yang sangat di cintainya tersebut??

***

Nessa menatap makanan di hadapannya dengan tak berselera. Ini sudah dua hari sejak kepergian Dhanni, dan entah kenapa suasana hati Nessa semakin memburuk setiap harinya. Tak lama, Nessa mendengar suara telepon berbunyi, itu pasti Dhanni…

Suaminya itu selalu menepati janjinya, hampir setiap ada waktu luang, lelaki itu meneleponnya. Dengan semangat Nessa mengangkat telepon dari suaminya tersebut.

“Halo..”

“Pagi sayang..” Suara lembut di seberang benar-benar membuat Nessa berbunga-bunga.

“Pagi.. Kak Dhanni lagi apa? Sama siapa?”

“Aku lagi minum kopi, sendiri di balkon hotel. Kamu sudah sarapan?”

“Belum, aku mual muntah terus sepagian ini.”

“Kamu harus makan sayang..”

Nessa menghela napas panjang. “Ya, Aku akan makan nanti. Tapi, Kak Dhanni kapan pulang?”

“Mungkin besok sore. Ini masih ada sekali pertemuan lagi.”

“Janji yaa.. besok sore sudah pulang.”

Iya aku janji.” Ucap Dhanni dengan lembut. “Kamu mau di bawain apa?”

“Cukup Kak Dhanni pulang, aku sudah senang.”

Terdengar tawa Dhanni di seberang. “Ya sayang, aku akan segera pulang. Dan ingat, kamu harus siapin diri kamu untuk menjawab semua pertanyaanku.”

“Ya, aku akan menjawabnya kak..”

“Baiklah kalau begitu.” Hening sejenak, kemudian Dhanni melanjutkan kalimatnya. “Aku sayang kamu Ness, dan hanya kamu.. Jadi kamu nggak perlu berpikir macam-macam lagi yaa sayang.”

“Ya Kak, Aku tau. Dan… Aku juga hanya sayang sama Kak Dhanni, nggak ada siapapun selain kak Dhanni.”

“Ya.. Aku tau.. Baiklah kalau begitu, aku mau siap-siap buat meeting terakhir ya.. Ingat, kamu harus makan.”

Nessa tersenyum mendengar perintah dari suaminya tersebut. “Baik boss.”

“Aku ingin di Kiss.”

Nessa terkikik geli. “Emmmuaachh…”

“Terimakasih sayang.. Emmmuaachh..” balas Dhanni. Lalu kemudian sambungan telepon tersebutpun mati.

Nessa tersenyum bahagia saat mengingat hubungannya dengan Dhanni sudah membaik. Ya, kuncinya hanyalah komunikasi, Nessa bertekad jika nanti ia akan menceritakan semuanya pada Dhanni saat lelaki itu pulang. Nessa tak ingin menyembunyikan apapun lagi dari suaminya tersebut.

***

Jonathan menatap lurus pintu di hadapannya. Haruskah ia melakukan niatnya?? Di sisi lain Jonathan takut jika Nessa sedih, tapi di sisi lain, Jonathan tak kuasa melihat penderitaan kakaknya tersebut. Akhirnya di mantapkannya hatinya untuk mengetuk pintu di hadapannya tersebut.

Setelah beberapa kali mengetuk pintu di hadapannya tersebut, akhirnya pintu itu di buka dan menampilkan sosok cantik yang selama ini berada di dalam pikirannya. Nessa Arianna…

“Kak Jo??” Nessa tampak terkejut melihat kehadiran Jonathan di apartemennya.

“Hai.. Boleh aku masuk?”

Nessa tampak ragu. “Emm maaf, tapi di dalam nggak ada orang, ku pikir kurang pantas kalau kita hanya berdua di dalam.”

Jonathan menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mengerti.. Emm.. mau ikut aku keluar sebentar??”

Nessa mengernyit, “Kemana?”

“Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan padamu. Please… ini benar-benar penting dan menyangkut nyawa seseorang.”

“Nyawa seseorang? Tapi aku…”

“Please Ness… aku nggak akan nyakitin kamu, aku janji.”

Nessa berpikir sebentar, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan ikut, tapi aku ganti baju dulu.” Dan Jonathan hanya mampu menganggukkan kepalanya penuh semangat. Ia tak menyangka jika Nessa masih sebaik dulu. Wanita itu masih sepolos dulu.

***

Nessa mengerutkan keningnya saat Jonathan mengemudikan mobilnya masuk ke dalam sebuah rumah mewah dengan pagar besi tingginya.

“Kak, ini rumah siapa? Kenapa kita ke sini?”

“Ini rumahku dan kakakku, ada yang mau ku tunjukkan sama kamu.”

“Apa?” Jujur saja, saat ini Nessa benar-benar merasa tak nyaman.

Jonathan mengentikan mobilnya kemudian mematikan mesinnya. “Ayo keluar.” Ajaknya. Dan Nessa hanya mampu menuruti apa yang di katakan Jonathan.

Mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Jonathan membimbing Nessa menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih. Tak menunggu lama, Jonathan akhirnya membuka pintu tersebut.

Itu kamar seorang wanita, Nessa tau itu. Tatapan mata Nessa tertuju pada sebuah ranjang yang di sana sudah terbaring seorang wanita dengan tubuh yang terlihat sangat lemah.

Nessa membulatkan matanya ketika mengetahui siapa wanita tersebut. Itu Erly, mantan kekasih Dhanni, suaminya. Dengan spontan Nessa menolehkan kepalanya pada Jonathan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Kak.. Dia.. Dia…”

“Ya, namanya Erlyta, dia kakakku.”

“Bagaimana mungkin??”

Jonathan mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak mengerti apaa yang terjadi dengan kita berempat. Kakakku adalah mantan kekasih suamimu, dan kamu adalah mantan kekasihku.”

Nessa kemudian kembali menatap ke arah Erly yang tampak lemah tak berdaya. “Apa yang terjadi dengannya??”

Jonathan menghela napas panjang kemudian mulai bercerita. “Dia begitu mencintai suamimu.” Perasaan Nessa bagaikan di iris sembilu. Bagaimana mungkin ia merelakan suaminya di cintai begitu dalam oleh wanita lain??

“Tapi kak..”

“Dhanni adalah cinta pertama kakakku.” Jonathan memotong kalimat Nessa. “Kak Erly sangat mencintainya dengan tulus, tapi nyatanya suamimu itu hanya mempermainkannya. Dhanni mencampakan kakaku begitu saja, meninggalkannya dengan rasa sakit hati yang teramat sangat. Dan itu membuat Kakakku berakhir depresi.” Jonathan mengehela napas panjang. “Ya.. dia pernah depresi lalu terapi dengan psikiater.”

“Kamu bercanda kan?” Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tak percayanya.

“Lihat aku Ness, apa aku terlihat bercanda? Empat hari yang lalu suami sialanmu itu memecat kakakku, mencampakannyaa sekali lagi, dan lihat, kondisinya kini memburuk seperti saat ini.”

Nessa menggelengkan kepalanya, “Itu bukan salah kami kak.”

“Salah kalian!!” Seru Jonathan dengan nada meninggi. “Kalau saja Dhanni nggak masuk dalam ke hidupan kakakku, mungkin saat ini tidak akan seperti ini, kalau saja Dhanni nggak memepermainkan perasaan kakakku, maka kakakku nggak akan seperti ini.”

Jonathan kemudian menatap Nessa. Matanya sudah berkaca-kaca, dan tanpa basa-basi lagi, Jonathan berlutut di hadapan Nessa. Nessa sendiri benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan Jonathan saat ini.

Jonathan memeluk erat perut Nessa. Dan mulai memohon di sana.

“Please.. kasih kami kesempatan Ness… Kakakku akan bahagia dan membahagiakan suami kamu kalau kamu mau melepaskannya. Sebagai gantinya, aku akan mencintaimu melebihi apapun di dunia ini, aku akan menyayagimu, dan juga anak-anakmu…”

Nessa meneteskan air matanya seketika. Apa Jonathan sedang menyuruhnya untuk berpisah dengan suaminya sendiri?? Apa Jonathan sedang bersikap egois memisahkan suaminya dengan anak-anaknya?? Apa Jonathan berpikir ia akan meninggalkan Dhanni setelah mengetahuio keadaan mereka?? Jika itu yang di pikirkan Jonathan, maka lelaki itu salah besar.

“Maaf kak, aku nggak bisa.” Jawab Nessa dengaan tegas.

Jonathan mengangkat wajahnya menatap ke arah Nessa. “Ness.. Please..”

“Kak Jo bisa berbuat egois memisahkan aku dengan Kak Dhanni, tapi aku juga akan bersikap egois untuk tetap mempertahankan kak Dhanni di sisiku dan di sisi anak-anakku apapun yang terjadi.”

“Nessa…”

“Kak… Akun memiliki putera yang berusia Tiga tahun.” Nessa kemudian meraih telapak tangan Jonathan laalu mendaratkannya di perutnya sendiri. “Dan kini aku sedang mengandung bayi kedua kami yang baru berusia dua bulan, apa kak Jo berpikir aku akan membiarkan suamiku pergi meninggalkanku dan anak-anakku?” Nessa menggelengkan kepalanya. “Enggak, apapun yang terjadi, aku nggak akan membiarkan dia pergi, aku membutuhkannya begitupun anak-anakku yang pasti akan sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.”

Jonathan membatu seketika, tangannya bergetar hebat. Bayangan Nessa berdiri dengan perut besarnya bersama dengan seorang anak berusia Tiga tahun menari-nari dalam kepalanya. Ia tidak akan tega melihat wanita yang di cintainya menderita seperti itu. Tidak, ia tak akan bisa melihat Nessa seperti itu.

Jonathan mengusap wajahnya dengan frustasi. “Aku minta maaf… aku minta maaf. Aku benar-benar egois.” Ucap Jonathan yang kini sudah terduduk di lantai.

Nessa berjongkok tepat di hadapan Jonathan, kemudian ia menangkup kedua pipi lelaki di hadapannya tersebut. “Aku mengerti apa yang kak Jo rasakan, Kak Jo hanya terlalu menyayangi Erly. Aku mau membantu, tapi bukan dengan meninggalkan suamiku dan mendorongnya pada wanita lain, karena sampai kapanpun juga, aku tidak bisa melakukan itu.”

Jonathan mengangguk lemah.

“Aku akan membujuk Kak Dhanni supaya dia mau menjenguk Erly, supaya kak Dhanni mau memberi pengertian pada Erly bahwa cinta memang tak harus memiliki.”

Jonathan kembali mengangguk lemah, dan tanpa banyak bicara lagi lelaki itu memeluk erat tubuh Nessa. “Terimakasih Ness.. terimakasih..”

Nessa menganggukkan kepalanya. “Ya, sama-sama.”

***

Saat ini Dhanni baru saja sampai di restoran hotel untuk makan malam dengan Ramma, Zoya, dan Hani. Hari ini adalah hari terakhir mereka di Bali. Besok semuanya akan kembali ke Jakarta, dan Dhanni benar-benar sudah tak sabar ingin kembali bertemu istri tercintanya tersebut.

Ya, ia sangat merindukan Nessa, istrinya. Nessa benar-benar membuat Dhanni semakin gila. Dhanni bahkan menyadarei jika dirinya tak akan mungkin bisa marah terlalu lama dengan istruinya tersebut.

“Lo senyum-senyum kayak orang gila.” Ucap Ramma yang memang sudah duduk menunggunya sejak tadi.

“Lo juga akan sama gilanya dengan gue kalo Lo sudah nikah nanti.”

Ramma tertawa lebar. “Nikah?? Dalam mimpi..!!!” Ucap Ramma masih dengan tawa lebarnya.

Sedangkan Dhanni hanya mampu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dhanni kemudian merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya, ia merogoh ponselnya tersebut kemudian melihat siapa yang sedang menghubunginya.

Dhanni mengernyit saat menyadari jika itu telepon dari pengawal yang ia sewa untuk mengawasi Nessa dari jauh.

“Halo??”

“Pak, saya sudah mengirim beberapa foto pada Pak Dhanni via email, tolong di buka. Ibu Nessa masih di dalam rumah tersebut, dan saya masih menunggu perintah selanjutnya dari Pak Dhanni.”

Dhanni mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang di bicarakan orang suruhannya tersebut. “Baiklah, saya periksa dulu foto-fotonya.” Ucap Dhanni kemudian lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dhanni lantas membuka emailnya. Dan benar saja, ada sebuah inbox yang melampirkan beberapa foto Nessa dengan seorang lelaki. Itu Jonathan.

Rahang Dhanni mengeras seketika. Nessa sedang bersama dengan Jonathan, ada juga beberapa foto yang memperlihatkan jika mereka memasuki sebuah rumah besar. Apa rumah itu yang di maksud pengawalnya tadi??

“Ada apa Dhann?” tanya Ramma yang sedikit penasaran dengan perubahan ekspresi Dhanni.

Bukannya menjawab, Dhanni malah kembali menggesek-gesel layar ponselnya seperti sedang menghubungi seseorang.

“Halo pak??”ucap suara di seberang.

“Tunggu di sana saja, jangan lakukan apapun. Saya akan pulang malam ini juga.” Ucap Dhanni dengan nada dinginnya kemudian menutup telepon tersebut begitu saja.

Dhanni berdiri, bersiap meninggalkan meja makannya bersama Ramma, Zoya dan juga Hani.

“Lo mau kemana?” tanya Ramma yang sudah ikut berdiri.

“Gue akan kembali ke Jakarta malam ini juga.”

“Ada yang terjadi di sana?” tanya Ramma yang kini sudah menghaampiri tepat di sebelah Dhanni.

Dhanni hanya menunjukkan foto-foto yang di kirim orang suruhannya tersebut pada Ramma. Ramma membulatkan matanya seketika.

“Sejak siang dia berada di dalam rumah itu, gue harus pulaang malam ini juga.” Geram Dhanni menahan amarahnya.

“Lo jangan terbakar emodi Dhann, belum tentu apa yang lo lihat ini sama dengan kenyataannya.”

“Gue bisa ngendalikan emosi gue.”

Ramma menepuk bahu Dhanni. “Gue percaya sama Lo. Lo memang yang paling dewasa di antara gue dan Renno. Tapi ada saatnya kita tidak bisa mengendalikan emosi saat melihat apa yang tidak kita inginkan. Jadi saran gue, Lo harus berpikir lebih dingin.”

Dhanni menganggukkan kepalanya. “Ya, thanks nasehatnya.”

Ramma menganggukkan kepalanya kemudian hanya bisa melihat sahabatnya tersebut pergi begitu saja.

***

Lewat dari jam sepuluh malam, Dhanni sudah sampai di apartemennya. Ternyata Nessa belum juga pulang. Tadi, orang yang di surunya untuk mengawasi Nessa meneleponnya kembali, dan berkata jika Nessa dan Jonathan baru saja keluar dari rumah tersebut. Aakhirnya kini Dhanni memilih menunggu Nessa di dalam apartemennya.

Lampu apartemennya masih di matikan hingga membuat apartemen tersebut gelap dan hanya meninggalkan cahaya remang dari laampu mungil di sudut ruangan. Dhanni sendiri memilih duduk di sofa ruang tamunya. Duduk termenung sendiri sambil menunggu kedatangan istrinya tersebut.

Nessa… apa wanita itu kembali tergoda dengan cinta lamanya?? Apa wanita itu tak bisa mencintai dirinya seutuhnya?? Hanya dirinya seorang??? Dulu cinta Nessa padanya terbagi dengan Renno, sahbatnya sendiri, apa kini cinta wanita tersebut terbagi dengan Jonathan??

Dhanni memejamkan matanya frustasi saat membayangkan hal-hal yang tak di inginkannya menari-nari dalam kepalanya.

Tak lama, Dhanni mendengar pintu apartemennya di buka, Dhanni mengangkat wajahnya dan mendapati bayangan tubuh istrinya di sana.

Dhanni mengamati dalam diam. Nessa terlihat masuk kemudian kembali menutup pintu apartemen mereka, lalu wanita itu tampak meraba tombol lampu yang menempel di dinding tak jauh dari pintu. Dan ketika lampu tersebut menyala terang, tatapan Nessa membulat seketika saat mendapati dirinya yang sudah duduk penuh dengan keangkuhan di sofa ruang tamu mereka.

“Kak Dhanni??” ucap Nessa dengan nada tak percayanya. Wanita itu masih membatu di seberang ruangan.

Dhanni lantas berdiri. Tatapan matanya tajam seakan dapat menusuk apapun yang ada di hadapannya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Nessa, seperti seekor singa yang sedang mengitari mangsanya.

Saat sampai tepat di hadapan Nessa, Dhanni mengulurkan telapak tangannya pada pipi Nessa, kemudian mengusap lembut pipi istrinya tersebut.

“Bagaimana kencannya sayang??” Suara Dhanni terdengar lembut tapi penuh dengan penekanan, seakan siapapun yang mendengarnya tak dapat mengelak dari pertanyaan tersebut.

Tubuh Nessa bergetar seketika, ia tau jika kini dirinya sedang dalam sebuah masalah. Kak Dhanni.. apakah suaminya itu akan kembali marah terhadapnya dan tak mau mendengarkan penjelasannya???

 

-TBC-

Komentarnya jangan lupa.. huehehhehe

Advertisements

7 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 8 (Saat Dia Pergi)

  1. Aduuh maapkeun aku Kaka baru komen sekarang 😂 langsung bablas ke chapter ini 😝 aku pens kamu Kaka di watty😁
    Jujur ya aku agak sebel begimana gitu sama nessa
    Gimana Danni gamau salah paham, kalo Nessa sendiri sejak awal gamau terbuka sama Danni. Pas masih sama renno aja Nessa gamau terus terang soal hubungannya dy sama Danni sampe berujung abang rennonya depresi 😞
    Danni yang paling aku suka dari kedua temennya, Ramma and renno. karna dy yang paling dewasa nggak kekanak-kanakan kaya mereka.
    Semoga masalah mereka ceper selesai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s