romantis

Missing Him – Chapter 5

mhtttMissing Him

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Eny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan mas Rangga.

Melamar?? Astaga… Apa dia bercanda?? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku??

***

 

Chapter 5

 

“A.. apa maksud mas Rangga??” Tanyaku dengan cepat.

“Aku ingin menikah denganmu En..”

“Tapi mas.. kita tidak pernah mengenal lebih dekat sebelumnya.”

Lelaki di hadapanku itu tampak menundukkan keplanya. Entah apa yang ia pikirkan aku sendiri tak tau.

“Eny, nggak baik menolak lamaran seseorang sebelum kamu memikirkannya masak-masak.” Ucap Ibu.

“Tapi Bu..”

Pikirkanlah dulu nak..” pungkas ibuku.

***  

Dua hari berlalu setelah hari itu. Mas Rangga kembali ke rumahku. Dan astaga.. entah kenapa lidahku seakan kaku saat ingin mengatakan Tidak.Aku menerimanya, menerima lamaran lelaki yang aku sendiri tak seberapa mengenalnya.

Ini gila! Aku tau itu. Tapi mau bagaimana lagi. Lagi pula sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan sosok Edo. Sosok yang sudah menjadi cinta pertamaku, dan mungkin saja akan menjadi cinta terakhirku.

“En..” Mas Rangga duduk mendekat di sebelahku.

“Aku masih bingung, kenapa tiba-tiba mas Rangga melamarku. Kita tidak pernah kenal dekat sebelumnya.

“Aku tau. Tapi aku yakin, semua ini terbaik untukmu. Aku akan melindungimu En, Aku janji.”

Aku menurunkan kedua bahuku lemah. Ya, memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat. Mungkin memang mas Rangga di takdirkan untuk menemaniku. Lagi pula aku yakin jika tak dapat jatuh cinta lagi selain dengan Edo, maka tak salah jika aku menerima pinangan mas Rangga meski aku tak pernah menyukainya.

***

Kilasan masa lalu hubunganku dengan Mas Rangga tiba-tiba menari di kepalaku. Aku menggelengkan kepalaku.

Mas.. apa yang terjadi denganmu hari ini??? Pikirku dalam hati.

Setelah menidurkan Amel, aku lantas menuju ke kamarku. Semoga saja setelah mandi sikap Mas Rangga sudah membaik padaku. Tapi nyatanya, saat aku sampai di dalam kamar, Suamiku itu malah tidur meringkuk di ujung ranjang.

Dadaku terasa sesak. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya hari ini? Apa aku melakukan suatu kesalahan??

Aku lantas memilih masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri kemudian mengistirahaykan hati dan pikiranku yang sudah sangat lelah…

***

“Kamu yakin mau melakukannya??” Aku hanya menunduk ketika Mas Rangga bertanya pertanyaan itu padaku.

Ini sudah hampir satu tahun lamanya aku menikah dengannya, tapi sekalipun kami tak pernah melakukan hubungan intim sama sekali. Mas Rangga sangat menghormatiku, pun denganku yang tentunya tak mungkin menggodanya atau menjajakan diriku padanya.

Setiap malam kami hanya menghabiskan waktu saling bertukar cerita, bertanya tentang aktifitas masing-masing hari ini. Lalu saling tertidur setelah sama-sama lelah. Ya, kami memang tidur satu ranjang, tapi kami tak pernah melakukan apapun. Tapi tadi, tak sengaja telapak tangan Mas Rangga menyentuh permukaan kulit tanganku, tatapan kamu beradu seketika, wajah Mas Rangga kemudian mendekat, dan aku tak sadar jika kami melakukan ciuman pertama kami.

Kini, lalaki itu sudah menindihku dengan pakaian yang sudah lolos dari tubuhnya. Pun denganku yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

Aku hanya menganggukan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Mas Rangga tersebut.

“Aku baru pertama kali melakukannya,” Ucapnya dengan suara yang sudah serak.

“Aku juga baru pertama kali.” Astaga.. mungkin saat ini wajahku benar-benar sudah merah seperti tomat. Apa yang sedang ku katakan???

“Baiklah, boleh aku memulainya?” tanyanya lagi sedangkan aku hanya mampu menganggukkan kepala. Mas Rangga mulai mendaratkan kembali bibirnya pada bibirku, menciumku dengan lembut penuh gairah. Jemarinya sudah mulai bergerilya di sekujur tubuhku, dan itu benar-benar membuatku semakin menggila.

Kami saling mencumbu mesra, menyentuh satu sama lain dengan begitu intim. Ya, ku pikir ini adalah hal yang paling intim yang pernah ku lakukan dengan seorang lelaki, dan entah kenapa aku merasa bahagia sekali karena lelaki itu adalah Mas Rangga, Suamiku sendiri.

Mas Rangga mulai menyatukan diri, dan aku benar-benar merasa tak nyaman. Rasanya aneh dan sakit, tentunya, tapi Mas Rangga membimbingku selembut mungkin, ia tak berhenti mencumbuku, seakan menenangkan kembali syaraf-syarafku yang kaku karena penyatuan pertama kami.

Dia tak mengucapkan apapun, tapi pergerakannya tak pernah berhenti. Bibirnya masih mengulum bibirku, sedangkan matanya sesekali menatap mataku dengan tatapan anehnya. Ya tuhan… aku benar-benar melakukannya, melakukan dengan Mas Rangga, suamiku, lelaki yaang sama sekali tak ku cintai….

***  

Bayangan malam pertama kami menyeruak begitu saja dalam ingatanku, dan aku tersenyum ketika mengingat malam itu. Ku balikkan tubuhku yang tadi tidur miring dengan posisi membelakangi tubuh Mas Rangga. Dan kini, aku masih melihat tubuh suamiku itu masih meringku membelakangiku.

“Mas.. Kamu kenapa??” lirihku.

Astaga.. dia tak pernah bersikap seperti ini padaku, dan entah kenapa saat dia memperlakukanku seperti ini, rasanya dadaku terasa sesak, hatiku terasa sakit. Seakan ada sesuatu di dalam sana yang telah terkoyak saat melihat sikap dingin Mas Rangga.

“Kamu marah?” Aku memberanikan diri bertanya. Air mataku sudah jatuh begitu saja. Ya, dia marah, tapi aku tak tau karena apa. Apa ini ada hubungannya dengan Edo?? Tidak mungkin. Mas Rangga sama sekali tak mengetahui hubunganku di masa lalu dengan Edo.

“Mas…” panggilku lagi. Dan dia sama sekali tak menjawab panggilanku. Entah dia memang sedang marah, atau dia memang sudah tidur, aku sendiri tak tahu.

***

Panginya.. seperti biasa, aku baangun lebih pagi dari Mas Rangga. Tentu saja aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku tersebut. Meski tak pernah mencintainya, tapi aku selalu mengabdi padanya layaknya seorang istri yang begitu mencintai suaminya.

Aku melirik ke arah Amel yang berada di dalam boks bayinya. Puteriku itu memang sangat pandai, ia tahu jika kini ibunya sedang sibuk dan dia memilih bermain dengan mainannya sendoiri ketimbang harus menangis rewel khas bayi seusianya.

Kemudian aku melirik ke pintu kamarku. Mas Rangga belum juga keluar. Ada apa?? Tidak biasanya dia bangun siang. Apa dia masih marah?? Apa suasana hatinya masih seburuk tadi malam??

Dan tak lama, sosok yang berada didalam kepalaku itupun menampakkan dirinya. Hampir saja aku terpekik ketika tiba-tiba saja dia keluar dari kamar kami dengan tatapan mata yang langsung menatap tepat pada manik mataku.

“Pagi Mas..” Sapaku.

“Pagi Dek..” Hanya itu jawabannya.

Aku mengernyit saat melihatnya hanya mengenakan kaus oblongnya. Ia tidak mengenakan kemeja yang biasa di kenakannya ke kantor. Kenapa? Apa dia libur kerja?

“Mas Rangga nggaak kerja?”

“Aku libur.” Jawabnya singkat.

“Kok tumben ngambil cuti di pertengahan minggu?”

“Bukan cuti, tapi aku memang di liburkan selama tiga hari ini.”

“Loh kenapa?” tanyaku sedikit terkejut.

“Aku di pindah tugaskan mulai minggu depan ke perusahaan yang bercabang di Palembang.” Jawabnya dengan ekspresi datar.

Aku membatu seketika. Pindah?? Kenapa tiba-tiba??

“Kok aku nggak tau Mas?”

“Aku memang sengaja cari waktu yang tepat buat ngasih tau kamu. Tapi sepertinya memang nggak ada waktu yang tepat.”

“Lalu, kapan kita akan siap-siap?” tanyaku sembari menyuguhkan kopi untuk Mas Rangga.

“Nanti aku akan mulai belanja kebutuhanku, lalu mulai bersiap-siap.” Aku mengernyit ketika mendengar kalimat Mas Rangga. Apa maksudnya?

“Maksud Mas Rangga??”

Mas Rangga menatapku dengan tatapan anehnya. “En, aku akan pindah ke Palembang sendiri. Dan mungkin hanya seminggu sekali aku akan pulang ke sini.”

Aku tercengang mendengar kalimat yang di ucapkannya. Dia meninggalkanku? Meninggalkanku hanya berdua dengan Amel? Bagaimana mungkin? Kenapa dia tega melakukan ini padaku??

“Kenapa aku dan Amel nggak ikut pindah saja Mas??”

Mas Rangga menundukkan kepalanya. “Maaf, nggak bisa..”

Dan meneteslah air mataku. Kenapa seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia meninggalkanku saat aku mulai nyaman dengannya? Apa yang terjadi denganmu Mas?? Apa yang kamu sembunyikan dariku??

 

-TBC-

Wuaahh.. cerita iseng2 ini akhirnya nyampek Chapter 5 juga.. huehehhehe fighting.. !!!

Advertisements

8 thoughts on “Missing Him – Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s