romantis

My Beloved Man – Chapter 6

001mbmMy Beloved Man

Sebelumnya aku minta maaf karena judul My Brother kini aku rubah jadi My Beloved Man, kataknya aku lebih nyaman aja  dengan judul ini.. huehhehe okay langsung aja yaa…

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

***

Chapter 6

 

Raka menghentikan mobil yang di kendarainya seketika. Wajahnya tampak mengeras menatap ke arah Felly. Sesekali matanya melirik ke arah telapak tangan Felly yang masih menangkup perutnya sendiri.

“Kenapa? Apa benar apa yang ku katakana tadi?” Tanya Raka penuh selidik.

“Emm.. Kak Raka ngomong apa sih?”

“Jangan bohong Fell.”

“Aku nggak bohong, dan aku nggak sedang hamil.”

“Tapi kenapa kamu terlihat gugup?”

“Aku nggak gugup.”

“Ya, kamu gugup, sekarang wajahmu bahkan sudah memerah seperti tomat.”

Felly mempalingkan wajahnya ke samping. Ia memilih menatap ke arah luar jendela daripada harus menataap tatapan tajam mata Raka.

“Aku nggak gugup, jadi sudahlah, lupakan semuanya.” Ucap Felly kemudian. “Dan aku nggak hamil.” Lanjutnya lagi sedikit lebih pelan.

Raka menghela napas panjang. Frustasi? Tentu saja. Ia benar-benar ingin melihat Felly hamil dan ia segera menikahi wanita yang kini duduk di sebelahnya itu. Apa takdir berkata lain? Apa memang Felly bukanlah jodohnya??

***

Felly menuangkan saus cokelat pada sebuah cup ice cream dengan tatapan mata kosongnya. Pikirannya kini sedang tidak berada di sini. Ada sesuatu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi pagi, Ya, apa lagi jika bukan Raka dan bayi lelaki tersebut yang kini sedang tumbuh dalam rahimnya? Mengingat itu, dengan spontan Felly mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya.

“Apa yang terjadi? Kamu sakit?” Tanya sosok wanita manja yang menghampiri Felly karena melihat Felly yang sedikit aneh hari ini. Wanita itu adalah Sienna, istri dari kakak sepupunya, Aldo.

“Ahh.. enggak, aku nggak apa-apa kok.”

“Ice creamku kebanyakan saus coklatnya tau… kamu mau melihatku gendut dengan memakan saus cokelat sebanyak itu?” Tanya Sienna sambil menunjukkan ke arah Cup Ice Cream yang sedang di siapkan oleh Felly.

“Astaga.. aku minta maaf, aku nggak lihat tadi.”

“Ya, karena kamu sibuk dengan lamunanmu.” Gerutu Sienna. Felly tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Sienna. “Hentikan Felly, kamu sekarang seperti Bianca saja yang selalu memperlakukanku seperti anak kecil yang menggemaskan, padahal aku kan kakak kalian.” Sienna kembali menggerutu.

“Tapi bagiku dan Bianca, kamu adalah adik kecil kami Si..”

“Dasar, kalian benar-benar..”

“Gimana? Kamu sudah memutuskan akan mengambil jurusan apa saat melanjutkan ke perguruan tinggi nanti?”

Sienna menganggukkan kepalanya. “Ya, aku masih ingin menjadi guru dan dekat dengan anak-anak kecil yang lucu-lucu.” Ucap Sienna dengan senyuman lebarnya.

“Apa dekat dengan anak kecil membuatmu nyaman?”

Sienna menganggukkaan kepalanya cepat. “Aku merindukan masa-masa itu Fell, masa-masa di mana ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutku, dan itu membuatku sedikit geli.” Ucap Sienna sembari tersenyum.

Felly benar-benar takjub menatap wanita di hadapannya tersebut. Wanita mungil yang usianya jauh lebih muda dari pada dirinya. Tapi wanita itu terlihat sangat kuat dan tegar menghadapi cobaan demi cobaan yang menimpanya.

“Kamu akan bisa merasakannya nanti Fell, saat ada sesuatu yang tumbuh di dalam rahim kamu, sesuatu yang setiap harinya akan membuatmu semakin kuat, sesuatu yang selalu membuatmu tersenyum di tengah apapun masalah yang sedang kamu alami.”

“Apa.. Kamu pernah menyesal mengandung dia?” Tanya Felly dengan hati-hati.

Sienna menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak pernah menyesal mengandung Alika. Dia bukanlah kesalahan seperti yang pernah di katakana Kak Aldo dulu, yang salah adalah perbuatan kami malam itu. Dan yang membuatku menyesal adalah, saat aku nggak bisa menjaganya selalu di sisiku. Hanya itu.”

“Ya, aku bisa lihat itu dari mata kamu atau Kak Aldo. Dia selalu berwajah sendu saat mengingat tentang Alika.”

Sienna kembali tersenyum. “Dan dia juga menjadi lelaki cengeng saat mengingat calon bayi kami itu..”

Felly terkikik pelan. “Jadi.. kalian nggak melakukan progam hamil lagi?”

“Dokter sudah memperbolehkanku melakukan progam hamil, tapi ku pikir, aku ingin mendapatkan bayi ketika memang di berikan, aku masih merasa jika aku belum pantan menjadi orang tua yang baik Fell.”

“Si… Kamu ibu yang luar biasa. Jika aku di posisi kamu, aku nggak akan mungkin bisa sekuat kamu.”

Sienna tersenyum lebar kemudian menepuk bahu Felly. “Maka dari itu, janganlah sampai seperti aku. Menikahlah dulu, baru hamil, dan setelah hamil, sayangi dia sepenuh hatimu sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu. Karena kamu nggak akan tau bagaimana rasa penyesalan yang ku rasakan dan di rasakan oleh Kak Aldo ketika kami kehilangan Alika.”

Dengan spontan Felly kembali mendaratkan telapak tangannya pada perut datarnya. Perkataan Sienna benar-benar menyentuh hatinya. ‘Sayangi dia sepenuh hatimu, sebelum dia benar-benar pergi meninggalkanmu..’

Tidak!!! Ia tidak boleh merasakan apa yang sudah di rasakan oleh Sienna dan juga Aldo. Dengan cepat Felly membalikkan badannya kemudian menyambar jaketnya yang berada di gantungan yang di sediakan.

“Kenapa Fell?” Tanya Sienna dengan sedikit heran.

“Aku harus pergi.”

“Kemana?”

“Pokoknya ada hal penting yang harus ku lakukan.” Ucap Felly sembari membenarkan tatanan rambutnya.

“Lalu, aku dan Bianca gimana?” Sienna menunjuk ke arah Bianca yang masih asik duduk sambil memainkan ponselnya. “Toko kamu gimana? Kalau kak Jason atau kak Raka ke sini gimana?” Tanya Sienna lagi dengan nada cerewetnya.

Felly tersenyum ke arah Sienna. “Kamu dan Bianca bisa tetap di sini sampai kapan pun, bahkan tidur di sini pun aku persilahkan, Jason nggak akan ke sini, karena dia manggung di luar kota, Kak Raka pun nggak akan ke sini, karena tadi aku berbohong padanya kalau aku akan makan siang dengan Jason, sedangkan Tokonya, bisa di tutup mereka saat waktu tutup nanti.” Jawab Felly sambil menunjuk empat pegawai tokonya yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Memangnya kamu mau ke mana?”

“Kamu nggak perlu tau. Oke, aku pergi Si…” Ucap Felly sambil menuju ke arah pintu keluar. “Bee, aku pergi dulu..” Felly juga berpamitan pada Bianca, tapi Bianca lebih memilih menganggukkan kepalanya tapi tetap menatap ke arah ponsel yang sedang di mainkannya.

***

Siang itu juga Felly menuju ke tempat Dokter spesialis kandungan. Sebenarnya tadi ia ingin menemui Raka, lalu mengabarkan kabar kehamilannya pada lelaki tersebut, hingga mereka bisa memerikasakannya bersama-sama. Tapi Felly masih tak yakin dengan keadaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Dokter spesialis kandungan terlebih dahului sebelum memberitahukan kabar kehamilannya pada Raka.

Kini, ia sudah duduk di dalam sebuah taksi dengan menatap foto hitam putih yang berada di tangannya. Itu adalah foto hasil USG yang baru saja ia lakukan tadi. Menurut perhitungan dokter, usia bayinya kini sudah menginjak sebelas minggu, dan astaga.. Felly sama sekali tidak merasakan apapun yang umumnya di rasakan oleh ibu hamil, seperti mual muntah atau yang lainnnya.

Felly tersenyum, kemudian telapak tangannya kembali meraba perut datarnya. ‘Apa benar kamu sedang tumbuh di sana? Apa kamu ingin ayahmu tau? Jika iya, kita akan memberitahunya siang ini juga.’ Bisik Felly dalam hati. Entah kenapa seperti ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya untuk menghadapi apapun reaksi dari Raka nanti.

Tak lama, sampailah ia di kantor milik Papanya. Raka pasti ada di dalam. Mengingat saat ini jam makan siang sudah usai. Dengan semangat Felly masuk ke dalam kantor tersebut. Menuju ke meja resepsionist dan menanyakan keberadaan Raka. Tapi belum sempat Felly membuka mulutnya untuk bertanya, tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam. Felly mengedarkan pandangannya ke arah tersebut, dan tampaklah sosok Raka yang sedang sibuk menggendong seorang wanita dengan beberapa karyawan mengerumuninya.

Felly tercengang mendapati pemandangan tersebut. Raka tampak khawatir, dan entah kenapa itu membuat Felly tak suka.

Wanita penjaga meja resepsionis itu memanggil seorang karyawan wanita yang tadi ikut mengerumuni Raka untuk menanyakan apa yang terjadi, sedangkan Felly memilih diam dan berdiri di sana mendengarkan penjelasan seorang karyawan wanita tersebut.

“Apa yang terjadi?”

“Itu, si Kirana pingsan di ruang Pak Raka.” Jawab pegawai wanita itu dengan nada sinisnya.

“Lah, kok bisa?”

“Nggak tau tuh gimana kejadian sebenernya, tapi kan memang si Kirana sering makan siang bersama dengan Pak Raka di ruangannya, mungkin saja saat itu mereka sedang makan bareng, atau ngapain gitu sampai pingsan, hahaha.” Ucap si pegawai wanita tersebut sambil tertawa lebar.

Dan pernyataan wanita tersebut entah kenapa membuat dada Felly terasa sesak. Felly meremas ujung baju yang di kenakannya. Rasa sakit memendam cinta untuk orang yang tak pernah mencintainya itu kembali muncul. Rasa sakit yang seakan tak berkesudahan.

“Mbak, embak tadi mau cari siapa?” pertanyaan resepsionist tersebut membuat Felly kembali sadar dari lamunannya.

“Ahh.. saya mau ketemu Pak Revan.”

“Pak Revan? Pak Revano maksudnya?”

“Iya.”

“Ada perlu apa mbak?”

“Saya puterinya.”

“Astaga.. Jadi ini mbak Felly.. Ya ampun.. Maaf mbak, saya tidak tau, saya baru di sini, jadi saya belum ketemu mbak sebelumnya.”

Felly tersenyum karena merasa tak enak. “Iya, nggak apa-apa.”

“Mari Mbak, saya antar.” Felly mengangguk, dan akhirnya ia mengikuti si resepsionist tersebut menuju ke ruang kerja ayahnya.

***

Raka mengamati wajah pucat Kirana. Dokter berkata jika Kirana hanya lemas karena dan maghnya kambuh, dan entah kenapa Raka merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Kirana saat ini.

Tadi memang Kirana sudah mengajaknya makan siang bersama. Tapi karena tidak nafsu makan, maka Raka menolak dengan halus dengan memberi alasan bahwa ia memiliki banyak pekerjaan. Tapi bukannya pergi dan makan siang sendiri, Kirana malah menunggunya. Dan ketika mereka akan beranjak makan siang, tiba-tiba Kirana jatuh pingsan.

Raka menatap tajam ke arah Kirana ketika wanita itu mulai membuka matanya.

“Ka…” panggil Kirana dengan suara lemahnya.

“Hemm.”

“Aku… Aku kenapa?”

“Kamu pingsan, kamu belum makan sejak pagi tadi?” Tanya Raka secara langsung tanpa banyak basa-basi lagi.

Kirana menganggukkan kepalanya lemah.

“Kenapa? Kamu diet?”

Kirana sedikit tersenyum. “Aku nggak sempat makan, karena aku nyiapin makan siang untuk kita.”

Raka menghela napas panjang. “Ki.. Belum tentu aku bisa makan siang denganmu, jadi berhenti menyiapkan makan siang untukku.”

“Tapi aku ingin menyiapkannya Ka..”

“Maaf, kita nggak bisa selalu seperti ini, aku akan menikah dengan Felly, jadi berhenti bersikap seperti ini.” Ucap Raka dengan sedikit lebih tegas. Raka kemudian berdiri dan bersiap meninggalkan Kirana.

“Ka…” panggil Kirana sambil menggenggam pergelangan tangan Raka. “Kita masih berteman kan?”

Raka terdiam sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. “Ya, hanya berteman, dan nggak lebih.”

Kirana menganggukkan kepalanya. Kirana merasa sangat kecewa dengan apa yang di katakan Raka. Tapi bagaimana lagi, ia tak akan memaksakan kehendaknya pada Raka. Di lepaskannya pergelangan tangan Raka yang tadi di cekalnya, lalu Kirana membiarkan Raka pergi meninggalkannya, pergi selamanya dari genggaman tangannya. Bisakah ia melakukannya???

***

Felly sedang sibuk memainkan ponsel yang berada di tangannya. Pikirannya melayang entah kemana. Perkataan dua karyawan wanita tadi serta pemandangan Raka yang menggendong Kirana dengan raut wajah khawatirnya benar-benar mengusik pikiran Felly. Dan untuk pertama kalinya Felly merasa mual setelah memikirkan hal-hal yang mungkin saja terjadi di antara Raka dan Kirana.

“Jadi.. Kamu benar-benar mau pergi?” Tanya Revan yang baru saja menyelesaikan panggilannya pada seorang kliennya.

Tadi Felly sudah memutuskan jika ia akan pergi meninggalkan semuanya. Mengungsi di rumah neneknya yang tinggal di daerah puncak. Mungkin sementara waktu sembunyi di sana hingga melahirkan adalah solusi yang baik untuk menghindari pernikahannya dengan Raka.

Jika ia sudah melahirkan, maka Raka tak akan menuntut untuk menikah dengannya dengan alasan tanggung jawab. Jika Raka ingin tanggung jawab, maka Raka hanya perlu tangung jawab terhadap anaknya kelak, begitulah pemikiran Felly saat itu hingga ia memberanikan diri bicara dengan ayahnya untuk pindah ke puncak.

“Ya Pa.. Aku mau pindah.”

“Kenapa tiba-tiba? Kamu ada masalah dengan Raka?” Tanya Revan sembari menyipitkan matanya pada puteri semata wayangnya tersebut.

“Enggak, ini nggak ada hubungannya dengan Kak Raka.”

“Lalu?”

“Aku sumpek dengan kehidupan ibu kota, aku ingin menyendiri sementara waktu.”

“Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian nanti?”

“Pa, aku nggak akan menikah dengan Kak Raka.”

“Sayang, Raka hanya berusaha memberi yang terbaik untuk kamu..”

“Tapi aku nggak mau. Dia tidak mencintaiku, begitupun sebaliknya. Jadi sampai kapanpun aku nggak akan menikah dengannya.”

“Lalu toko kamu?”

“Aku tetap akan memantaunya Pa..”

Revan menghela napas panjang. “Papa belum bisa mengijinkan, kita akan bicarakan nanti di rumah.”

Felly mendengus kesal.

Tidak Bisa!!! Ia tidak bisa menunggu terlalu lama, kemungkinan Raka mengetahui keadaannya akan semakin besar jika ia terlalu lama berada di sekitar lelaki tersebut.

“Kalau gitu aku pulang dulu Pa..”

Setelah berpamitan dengan ayahnya, dengan langkah sedikit lemas Felly keluar dari ruangan Ayahnya. Tapi baru saja ia membuka pintu ruangan tersebut, Felly terkejut dengan sosok tinggi yang sudah berdiri di balik pintu yang ia buka. Sosok yang sejak tadi berada di dalam pikiranya. Siapa lagi jika bukan Araka Andriano.

“Felly..” Ucap Raka dengan spontan.

“Hai..” Ucap Felly dengan sedikit salah tingkah.

“Kamu kok di sini? Bukannya tadi pagi kamu bilang ada acara dengan Jason?”

“Emm… Acaranya batal, aku hanya ada perlu dengan Papa.”

“Lalu sekarang?”

“Emm.. aku mau pulang.”

“Kakak antar ya..” Tawar Raka penuh harap.

“Jangan.” Jawab Felly cepat. “Emm… Aku mau mampir ke suatu tempat solanya.”

“Nggak apa-apa, Kak Raka bisa ngantar.”

“Tapi Kak Raka kan lagi kerja.”

“Aku bisa minta ijin ayah kamu, beliau pasti tidak keberatan.”

Sial!!! Kenapa Raka selalu saja menempel padanya?? Astaga.. Felly berencana untuk menghindari lelaki di hadapannya ini, tapi kenapa keadaan seakan memaksa mereka untuk selalu bersama??

***

Raka sedikit bingung saat melihat Felly yang sibuk memilih beberapa koper besar di sebuah pusat perbelanjaan. Untuk apa Felly membeli koper-koper tersebut??

“Kamu nggak salah? Untuk apa kamu membeli koper-koper ini?”

Felly tak tau harus menceritkan dari mana, tapi siap tidak siap, Felly harus mengatakannya pada Raka.

“Aku akan pindah.”

Perkataan Felly tersebut sukses merubah ekspresi Raka yang sejak tadi datar-datar saja kini berubah menjadi sedikit terkejut.

“Pindah? Pindah kemana?”

“Emm.. Nanti malam, kak Raka ke rumah saja, ada yang mau aku omongin.”

“Kenapa nggak ngomong di sini?”

“Nggak bisa, aku akan membicarakannya nanti malam.”

Raka menganggukkan kepalanya, “Baiklah, nanti malam aku ke sana.” Ucap Raka sambil sedikit menyunggingkan senyumannya sembari mengusap lembut puncak kepala Felly.

***

Malamnya…….

“Sayang.. Please, kalau kamu ada masalah, tolong cerita sama Mama, jangan tiba-tiba pergi seperti ini.” Ucap Dara dengan mata yang sudah sedikit berkaca-kaca saat melihat puiteri semata wayangnya meninggalkan rumah.

Tadi, Felly sudah meminta ijin kedua orang tuanya untuk pindah sementara ke rumah neneknya yang berada di puncak. Dara tentu melarang Felly, tapi tekat Felly benar-benar sudah bulat, dengan atau tanpa persetujuan dari kedua orang tuanya, ia tetap harus pergi meninggalkan rumahnya.

Felly menghentikan aksinya yang kini sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam sebuah koper besar miliknya. Ia menatap ke arah Mamanya dengan tatapan sendunya.

“Ma, Felly nggak ada masalah kok, Felly cuma mau jauh dari kebisingan ibu kota.”

“Tapi kamu hanya perlu sedikit liburan sayang, bukan pindah.”

Felly tersenyum ke arah Mamanya. “Liburan nggak akan cukup Ma, pokoknya aku akan pindah, hanya satu tahun, setelah itu aku janji akan pulang dan menjadi puteri yang baik untuk Mama.”

“Mama boleh ikut?”

“Enggak.” Jawab Felly cepat. “Apapun yang terjadi, Mama nggak boleh ikut atau mengunjungi Felly di sana.”

“Tapi kenapa sayang??”

“Please Ma.. Felly ingin di beri privasi..” Dara menghela napas panjang, ia akan mengucapkan kalimat bantahannya lagi tapi pintu kamar Felly lebih dulu di ketuk oleh seseorang. Pintu tersebut di buka dan menampilkan sosok Revan di sana.

“Raka ada di luar. Kataya mau ketemu sama kamu.” Ucap Revan sambil menatap puterinya tersebut.

Felly melirik ke arah Mamanya, “Ma, Aku harus bicara dengan kak Raka di sini.” Dara kembali menghela napas panjang. Lalu memilih pergi meninggalkan kamar Felly bersama dengan Revan.

Tak lama, Felly kembali mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti Raka.

“Masuk Kak.” Ucap Felly sambil membereskan beberapa barang yang masih berserahkan di atas ranjang kamarnya.

“Kamu benar-benar akan pergi?” tanya Raka sembari melirik dua koper besar yang sepertinya sudah selesai di siapkan oleh Felly.

Felly duduk dengan lelah di pinggiran ranjangnya. “Ya, aku akan pergi.”

“Kenapa mendadak?”

“Emmm ini nggak mendadak, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, cuma aku baru memberitahukan hari ini pada Kak Raka.”

“Kenapa kamu pergi?” Tanya Raka tanpa basa-basi. Wajah Raka terlihat datar tanpa emosi, tapi jelas, matanya menatap tajam ke arah Felly. Dan itu benar-benar mempengaruhi reaksi Felly.

“Emm… Aku akan membuka usaha baru di sana.” Ucap Felly sedikit canggung karena tatapan mengintimidasi dari Raka.

“Usaha apa?”

“Kafe, tempat minum-minum kopi.”

“Benarkah?”

“Ya,”

“Kenapa harus pindah? Kamu bisa mengurusnya dari sini.”

“Emm Begini..” Felly tau jika ia harus membohongi lelaki yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya. Tangan Felly terulur untuk menggenggam kedua telapak tangan besar milik Raka. “Jason melamarku, dan kafe ini usaha kami berdua. Jadi aku mau mengurusnya sendiri di sana.”

Tubuh Raka kaku seketika. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan dari Felly.

“Melamar? Tapi kamu sudah menjadi tuanganku Fell, bagaimana mungkin dia melamarmu?”

Felly menundukkan kepalanya. “Aku minta maaf, tapi aku sudah menerima lamaran Jason, Aku akan tetap pindah ke luar kota.” Ucap Felly dengan suara yang sudah bergetar. Ia ingin menangis, tentu saja.

Di lepskannya cincin pemberian Raka, kemudian di letakkannya cincin tersebut pada telapak tangan Raka.

“Maafkan aku Kak.. Tapi aku nggak bisa melanjutkan semua ini.” Ucap Felly sambil menggenggamkan telapak tangan Raka yang di dalamnya sudah terdapat cincin yang tadi melingkar di jari manis Felly.

“Tangan kamu gemetar.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Felly mengangkat wajahnya menatap ke arah Raka dengan tatapan tak mengerti atas apa yang di ucapkan lelaki tersebut.

“Ada yang kamu sembunyikan dariku.” Ucap Raka lagi. Tatapan mata Raka masih lurus menatap kedua bola mata Felly yang sudah berkaca-kaca.

Felly menggelengkan kepalanya cepat. “Aku nggak menyembunyikan apapun.”

“Kamu terlihat gugup.”

“Aku nggak gugup.” Bantah Felly.

Raka kemudian menarik kedua tangannya dari genggaman tangan Felly. Kemudian Raka berdiri lalu melangkah membelakangi Felly.

“Baiklah, kalau kamu ingin pergi dan bahagia dengan lelaki lain, aku akan melepaskanmu. Tapi jika nanti aku mendapati kamu berbohong dan melakukan semua ini hanya untuk menghindariku, maka aku akan kembali menyeretmu pulang lalu menikahimu saat itu juga.” Ucap raka tanpa sedikitpun menatap ke arah Felly.

Felly membatu mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Ada sebuah ketakutan yang menyelimuti dirinya. Takut jika Raka menemukan kebenaran yang sedang ia sembunyikan, takut jika lelaki itu akan membencinya, takut jika ia akan kehilangan lelaki yang sangat di cintainya tersebut, dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang ia rasakan di dalam hatinya.

 

-to be continue-

Vote dan komen selalu di tunggu yaa… huehhehehhe

Advertisements

3 thoughts on “My Beloved Man – Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s