romantis

Love Between Us – Part 8 (Curiga)

14222347_1441992722483939_834886626361997697_nLove Between Us

Denny dan Aira udah hadir Dear.. maaf baru sempat Update yaa..

Part 8

-Curiga-

Di rumah Denny lantas menghambur ke dalam kamar. Di carinya ponsel miliknya yang tadi memang tertinggal di kamar. Ia berakhir mendengus kesal karena ternyata banyak sekali missed call dari nomor Aira.

 

“Kakak kenapa sih? Aneh sekali.” Denny sama sekali tak menghiraukan Clarista yang kini sudah menyusulnya ke dalam kamar. Adiknya itu memang suka ingin tau semua tentangnya. Ia memang tidak risih karena itu. Denny bahkan berpikir untuk mengenalkan Aira kepada Clarista jika ada waktu yang tepat.

 

Di tekannya tombol panggilan pada nomor Aira. Denny mulai berdo’a supaya Aira tidak marah dan mau mengangkat telepon darinya. Tapi nyatanya, nomor gadis tersebut kini sedang sibuk.

 

Apa Aira sedang menelepon seseorang?? Siapa? Pikir Denny.

 

“Kakak..” rengek Clarista pada lengan Dennny.

 

“Apa lagi sih Cla? Kakak sudah menemanimu seharian ini, lalu apa lagi?”

 

“Ada yang kakak sembunyikan dariku?”

 

“Sembunyikan? Sembunyikan apa?” Clarista memicingkan matanya ke arah kakaknya tersebut, curiga.

 

“Kakak sudah punya pacar ya?”

 

“Bukan urusan kamu.” kilahnya.

 

“Ayolah, kakak tau kan kalau aku selalu dukung kakak apapun yang terjadi?. Kenapa sekarang kakak nggak mau cerita sama aku?”

 

Denny kemudian duduk, dan entah kenapa ia seakan ingin tersenyum. Hatinya terasa berbunga-bunga ketika mengingat sosok Aira. Perasaannya saat ini sama persis dengan apa yang ia rasakan dulu dengan Adelia, mantan kekasihnya.

 

“Namanya Aira,” ucap Denny sambil menyunggingkan senyumannya.

Clarista membulatkan matanya seketika.

 

“Jadi kakak benar-benar sudah punya pacar?” Denny menganggukkan kepalanya.

 

“Ya, bisa di bilang seperti itu,”

 

“Lalu dia seperti apa? Apa cantik sepertiku? Baik? Cerewet? Lebih muda? Lebih tua? Gendut? Ramping?” Tanya Clarista bertubi-tubi membuat telinga Denny mendengung.

 

“Kenapa kamu terlihat antusias sekali?”

 

“Tentu saja, kak Denny adalah kakakku, dan aku ingin kakakku mendapatkan wanita yang terbaik,”

 

“Dia baik, cantik, dan sedikit cerewet seperti kamu.” Akhirnya ia menjawab.

 

“Oh ya? Aku ingin ketemu!” sahut Clarisa antusias.

 

“Cla, kakak masih belum tahu pasti, apa status hubungan kami sebenarnya,” desahnya bingung. Selama ini status antara mereka tidak jelas atau bisa dikatakan berpacaran atau masih berpura-pura. Itu membingungkan, di dalam permainan ini. Aira dan Denny melibatkan perasaan mereka secara tidak langsung dan tanpa mereka sadari.

 

“Loh kok gitu sih?”

 

“Awalnya kami pacaran hanya pura-pura. Tapi semakin kesini, kakak merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda, yang membuat jantung kakak nggak bisa berhenti berdebar-debar saat ingat apapun tentang dia,”

 

“Kakak beneran suka sama dia?” Denny menganggukkan kepalanya lemah.

 

“Sepertinya begitu. Kakak nggak pernah main-main dengan wanita lain Cla,”

 

“Emmm… Apa dia juga suka sama kakak?”

Dennny mengangkat kedua bahunya.

 

“Kakak nggak yakin,” Lirih Denny kemudian. Clarista sejenak berpikir tidak mungkin kakaknya yang tampan ini tidak disukai seorang gadis.  Ini sesuatu yang langka baginya.

 

****

 

Di rumah Aira hanya berleha-leha.  Ia menikmati harta orangtuanya. Namun Aira mulai jenuh dengan kehidupannya yang monoton. Aira kini ingin kembali bekerja tetapi ia bingung harus bekerja apa?. Rizky, selaku ayahnya tidak mengharuskan Aira untuk bekerja. Ia masih mampu menghidupi Aira walaupun putri pertamanya itu tidak bekerja.

 

Aira pun langsung menaiki anak tangga dan menuju lantai dua dan melewati kamar Bunga. Aira dengan kesal menuju ke kamarnya. Ia ingin bersantai mengistirahatkan pikirannya. ketika sudah di kamarnya, ia tutup kembali pintu kamar. Aira menyalakan tv untuk menghibur diri yang sedang bosan. Ia putar – putar saluran tv dan mencari acara yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bagus. Denny sulit dihubungi itu yang membuatnya kesal sekali. Tidak ada kabar dari Denny rasa hampa menyelimuti dirinya.  Aira belum tau dimana tempat tinggal Denny. Andai saja ia tau mungkin akan meluncur ke sana saat itu juga.

 

“Denny, kamu kemana?. Apa kamu sudah melupakanku?” ucapnya sedih. Di sofa ia berbaring sembari memikirkan Denny. Pria itu sudah menyelam sangat dalam dihati Aira. Pria itu yang kini ada dihatinya, terukir jelas. Di saat Aira melamun tentang Denny. Ponselnya berdering nyaring menyadarkan Aira. Diambilnya di saku celana pendeknya. Nomor baru.

 

Aira mendiamkan cukup lama sebelum menjawabnya. Ia tidak mengenal nomor tersebut. Karena penasaran ia pun menjawabnya.

 

“Halo.. ”

 

“Syukurlah dijawab, Aira,” ucap seseorang yang ada disebrang sana.  Raut wajah Aira seketika berubah malas. Suara itu milik mantan kekasihnya yang matre. “Aira.. Aira.. Kamu mendengarkan aku kan?” ucapnya lagi karena Aira tidak segera menyahut.

 

Dasar pria tidak tau malu!! gerutu Aira dalam hati.

 

“Iya, ada apa?!” sahut Aira sinis. Ia memutar bola matanya.

 

“Aira, aku merindukanmu, ”

 

“Aku tidak!” jawab Aira ketus.

 

“Aira, please berikan aku satu kesempatan lagi. Aku ingin memperbaiki diri bersamamu.” Wisnu si pria brengsek itu memohon kepada Aira.

 

“Apa kamu tau, Wisnu. Vas bunga yang pecah nggak akan bisa kembali sama setelah disatukan dengan lem. Ada guratan-guratan halus yang masih jelas terlihat. Begitu pun hatiku, masih ada goresan yang nggak bisa aku hapus dengan apapun. Apa kamu nggak sadar diri? Itu karena ulahmu!” bentaknya.

 

“Aku sadar, mangkanya aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku ingin menjalin hubungan denganmu lagi, Aira,” ucap Wisnu menyakinkan. Namun Aira tidak yakin. Yang namanya pendusta itu bermulut manis.

 

“Omong kosong! Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Awas kalau kamu telepon aku lagi sampai pakai nomor baru. Wisnu, carilah gadis yang mau dibohongi oleh mu. Atau carilah mangsa yang baru, jangan aku!. Aku nggak mau urusan sama kamu lagi!. Kalau sampai kamu macam-macam akan aku adukan sama pacarku!” Aira sedikit mengancam. Berhubungan kembali dengan Wisnu itu menjijikan. Ia bukan keledai yang jatuh untuk ke dua kalinya di lubang yang sama.

 

“Aku nggak percaya itu pacarmu,” emosi Aira melonjak. Dalam hatinya ia ingin mencekik Wisnu.

 

“Terserah kamu saja! Dasar kepala batu!” sentak Aira menutup teleponnya dengan marah. Ia menarik napas panjang menetralisir kemarahannya. Percuma efeknya hanya sedikit.

 

Aira mendengus kesal. Wisnu, kenapa juga pria itu masih saja mengganggunya? Mengajaknya kembali menjalin kasih?. Yang benar saja, Aira tidak akan mau kembali lagi bersama pria mata duitan seperti Wisnu. Tapi tidak lama, ponsel Aira kembali berbunyi, Aira mengira jika itu pasti Wisnu yang memang tidak akan pernah berhenti mengganggunya. Dengan menggerutu Aira mengangkat telepon tersebut tanpa melihat siapa yang sedang meneleponnya.

 

“Ada apa lagi Wisnu? Aku sudah bilang berhenti menggangguku!” Ucap Aira setengah menggertak.

 

“Aira.. Ini aku..” Suara berat di seberang membuat Aira membulatkan matanya seketika. Secepat kilat Aira menjauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian melihat di layar ponsel tersebut. Ternyata Denny yang sedang meneleponnya.

 

“Denny..” ucap Aira dengan sedikit menyesal karena tadi sudah sempat membentak Denny.

 

“Ya, ini aku,” Denny kembali tersenyum saat mendengar suara lembut Aira. Tadi ia sempat mengerutkan keningnya ketika Aira mengangkat teleponnya tapi langsung marah-marah terhadapnya.

 

“Maaf, ku pikir tadi orang lain,”

 

“Kenapa? Kamu ada masalah?” tanya Denny ingin tau.

 

“Ahh, nggak, tadi ada orang iseng menggangguku,”

 

“Sepertinya itu bukan orang iseng. Namanya Wisnu kan? Karena tadi aku mendengarmu memanggil nama Wisnu. Apa dia teman sekolah yang pernah kamu kenalin sama aku saat pesta reuni minggu lalu?” Denny masih mengingatnya.

 

“Emmm… itu…” Aira terdengar ragu.

 

“Aira… Berceritalah, aku nggak akan marah.”

 

Denny mendengar gadis di seberangnya menghela napas panjang. “Ya, Wisnu yang itu.”

 

“Kenapa? Dia mengganggumu?”

 

“Sedikit, dia ngajak balikan lagi.”

 

“Lalu, kamu menerimanya?” pancing Denny. Entahlah, kini yang di rasakannya adalah rasa tidak suka saat mengetahui bahwa Aira masih berhubungan dengan pria lain, apalagi pria itu adalah mantan kekasih Aira di masa lalu.

 

“Kamu mau aku menerimanya?” Aira berbalik bertanya.

 

“Tidak.” Jawab Denny dengan tegas.

Ia sedikit mendengar sebuah cekikikan di seberang. Aira pasti kini sedang tertawa mendengar jawabannya.

 

“Kenapa?” Tanya Aira yang kini sedikit memancing reaksi dari Denny.

 

“Dia bukan pria yang baik. Kamu pernah bercerita bukan, jika dia adalah pria mata duitan. Jadi ku harap kamu nggak akan kembali dengan dia, itu akan menyakitimu.”

 

“Apa kamu yakin hanya itu alasannya?” Aira mendesak perasaan Denny. Ia ingin tau apa Denny mempunyai perasaan yang sama.

 

“Ya.” jawab Denny datar.

 

“Ayolah, kamu terdengar kaku. Aku tahu bukan hanya itu alasanmu Denny,” Aira setengah merengek pada Denny dan itu membuat ia menyunggingkan senyumannya.

 

“Aku hanya nggak suka melihatmu dekat dengan dia.” Pria itu membuat Aira bingung, apa makna dari kata-katanya.

 

“Kenapa nggak suka?. Ayolah.. jangan berputar-putar, jawab aja dengan jujur!”

Denny kembali tersenyum saat tahu tingkah Aira yang sedikit kekanakan.

 

“Oke, aku nggak suka kamu dekat dengan pria lain karena kamu adalah kekasihku. Dan kekasihku hanya boleh dekat denganku, bukan dengan pria lain.” Denny benar-benar tidak menyangka jika ia akan mengucapkan kalimat menggelikan seperti itu pada Aira.

 

Apa Aira akan menertawakannya??

Dan benar saja, Denny mendengar sebuah cekikikan khas dari Aira. Gadis itu benar-benar menertawakannya.

 

“Hei! kenapa tertawa?” Denny sempat marah, Aira tidak tau jika didalam dada jantungnya berdegup kencang. Ia mati-matian untuk menahan segala gengsinya. Ia mengakui itu kepada Aira.

 

“Kamu cemburu?” Tanya Aira masih dengan cekikikannya.

 

“Apa salah kalau aku cemburu?” Denny balik bertanya.

 

“Nggak, aku suka melihatmu cemburu,”  Jawab Aira cepat. “Kamu kemana saja? Sejak tadi pagi aku meneleponmu.”

 

“Tadi aku keluar, ada urusan sedikit. Ponselku ketinggalan di rumah.”

 

“Ohhh..” Hanya itu jawaban dari Aira. Denny sendiri tidak tau harus menjawab apa lagi. Keheningan tiba-tiba saja membuat suasana menjadi sedikit canggung.

 

“Kak, airnya dingin sekali. Aku nggak mau mandi di sini lagi.” Suara manja tepat di belakang Denny membuatnya sedikit terkejut. Spontan ia membungkam speaker ponselnya dengan telapak tangannya.

 

“Cla! Apa kamu bisa berhenti berteriak?” Tanya Denny sedikit kesal dengan adiknya itu. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa Clarista masih saja berada di kontrakannya bahkan mandi di sana.

 

“Kenapa kakak lagi teleponan ama pacarnya ya? Sini aku mau ngomong,” Clarista mencoba merebut ponsel milik Denny tapi diangkat tinggi-tinggi ponselnya hingga Clarista tidak dapat meraihnya.

 

Lalu tanpa banyak bicara lagi, Denny memutuskan sambungan teleponnya dengan Aira begitu saja. Ia belum ingin jika Clarista ikut campur masalah asmaranya dengan Aira.

 

“Kakak nggak asik!” Denny mendengus kesal. “Lebih baik kamu pulang, mama akan mencarimu kalau kamu nggak cepat-cepat pulang.”

 

“Mama tau aku di sini.” jawab Clarista santai.

 

“Papa akan mencarimu.”

 

“Biar saja, papa terlalu kuno dan kaku. Aku kesal pada papa,” Denny mencubit gemas pipi Clarista.

 

“Kamu nggak boleh gitu. Papa sayang banget sama kamu. Sudah sana pulang.” usirnya secara halus.

 

“Kakak sendiri kapan pulang?. Air di kamar mandinya dingin, nggak ada air hangatnya. Rumah ini juga sangat kecil, aku nggak tega lihat kakak hidup di sini terus.”

 

Denny tersenyum melihat adiknya yang begitu perhatian padanya. “Aku pasti akan pulang, tapi nanti, bukan sekarang.”

 

“Kapan?? Setelah kakak mendapatkan pengganti kak Adel?” tanyanya polos.

 

“Mungkin,”

 

“Kak…” Rengek Clarista.

 

“Ya, kalau sudah waktunya pulang, kakak pasti akan pulang.”

 

“Janji ya.. Awas kalau bohong!” Clarista menunjuk Denny memperingatkan.

 

“Iya, kakak janji.”

 

“Tapi kak, aku benar-benar ingin bertemu dengan Aira.” Adiknya memulai kembali,  Denny menghela napas lelah menjawab pertanyaan adiknya yang cerewet.

 

“Nanti, aku akan mengenalkannya nanti denganmu dan juga dengan mama dan papa.” Ucap Denny penuh tekad dan keyakinan.

 

***

 

Aira tertegun mendengar suara seorang gadis. Ia menerka-nerka Denny sedang bersama gadis lain?. Tiba-tiba dadanya penuh dan sesak. Apa Denny hanya mempermainkannya saja?. Apa arti dari ucapannya tadi hanya kebohongan belaka?. Hatinya mendadak nyeri, matanya mulai berkaca-kaca. Cintanya tumbuh layu sebelum berkembang.

 

“Denny, kamu jahat,” isaknya.

 

Aira tidak bisa berpikir jernih. Selama dimeja makan ia hanya mengaduk-ngaduk makanannya. Zeeva, mamanya curiga jika Aira mempunyai masalah. Rizky dan Zeeva saling berpandangan seolah berbicara ada apa dengan Aira?. Zeeva mengendikkan bahunya tidak mengerti. Rizky terdiam pasti ada masalah dengan kekasihnya itu. Ia harus segera mencari tau tentang Denny agar Aira tidak termakan rayuannya seperti kekasihnya yang terdahulu.

 

“Aira,” panggil Rizky. Aira diam saja masih fokus dengan makanan yang di acak-acakan. “Aira,” panggilnya untuk kedua kalinya dengan suaranya meninggi.

 

“Eoh, iya yah?” jawab Aira linglung.

 

“Besok undang Denny untuk datang makan malam.” ucap Rizky berwibawa. Dahi Aira mengerut. “Dia pacarmu kan?”

 

“Iy.. Iya yah,” Aira tergagap.

 

“Besok itu makan malam terakhir kita bersama Narendra. Adikmu akan berangkat ke Paris untuk melanjutkan kuliahnya. Kamu tidak lupakan?” Aira menggelengkan kepalanya. “Ayah mau kamu mengundang Denny, biar dia mengenal keluarga kita lebih jauh lagi.”

 

“Apa ini artinya ayah merestui hubunganku dengan Denny?” tanya Aira hati-hati dengan wajah tidak percaya. Wisnu sekali pun tidak pernah diajak makan malam. Pernah dulu Aira mengajaknya tetapi Rizky tidak mau keluar dari kamar. Hanya Denny yang di undang, apa Rizky sudah merestui?.

 

“Ayah ingin mengenal Denny saja, sayang.” timpal Rizky lembut. Mata Aira berbinar namun seketika meredup saat ia sekelibat mendengar suara gadis itu ditelinganya. Ia menunduk, perasaannya sedang dilanda badai curiga. “Kamu bisa mengajaknya kan?”

 

“Iya, ayah. Denny pasti datang.” Aira menoleh pada Zeeva. Mamanya tersenyum memberi pengertian. Ia ingin sekali curhat mengenai Denny. Zeeva lah yang menjadi pelipur lara dikala ia sedang bersedih. Aira tidak mempunyai sahabat. Setelah ia mengalami bagaimana rasanya dikhianati sahabat dan pacarnya dulu, Dinda dan Wisnu. Zeeva lah yang memberi solusi dan memberi kepercayaan dirinya kembali.

 

Bagi Aira,  Zeeva adalah mama sekaligus sahabatnya.

 

“Yah, Aira ingin bekerja,” Rizky terdiam sejenak.

 

“Kerja apa?” kedua alis Rizky menukik tajam.

 

“Aira bosan dirumah,” jawab Aira lesu.

 

“Mau bekerja sesuai mata kuliahmu?”

 

“Tidak, yah. Aku ingin buka cafe kecil-kecilan saja. Apa ayah tidak berkeberatan?” Aira berhati-hati menanyakannya. Ia sudah tau jika Rizky tidak mengizinkannya bekerja.

 

“Ya sudah, buatlah konsepnya mau cafe apa?. Untuk dekorasi kamu buatlah sendiri, percuma kamu kuliah. Besok ayah akan mencarikan tempatnya.” Aira sangat senang permintaannya disetujui tanpa harus beradu mulut. Ia bangkit dari duduknya menghampiri, diciumnya pipi Rizky.

 

“Terimakasih, ayah. You’re the best!” seru Aira riang. Ia tidak lupa mencium Zeeva dan kedua adiknya.

 

“Mama, nanti ke kamar Aira ya,” bisiknya saat mencium pipi Zeeva.

 

“Iya, sayang,” Zeeva mengerti maksudnya.

 

Aku bahagia mempunyai keluarga ini. Aku menyayangi kalian, batin Aira.

 

Selesai makan malam Zeeva menidurkan Bunga terlebih dahulu sebelum ke kamar Aira.  Putrinya sudah menunggu. Ia pun tidak lupa meminta izin pada Rizky agar tidur lebih dulu. Jika menyangkut masalah wanita Zeeva dan Aira pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengobrol.

 

Tok..  Tok..  Tok..

 

“Aira?”

 

“Masuk, mama,” titah Aira dari dalam kamar.  Aira sedang menyiapkan sesuatu di meja riasnya. Zeeva tersenyum. “Aku lagi nyiapin masker, ma. Bentar ya,” Zeeva mengerti,  ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya. “Ayah,  mengomel nggak ma?”

 

“Ayah mu itu jangan ditanya, dia menggerutu tidak jelas waktu mama bilang mau ke kamar mu!” Aira tertawa kecil sembari mendekati mamanya. Ia mengolesi wajah Zeeva dengan masker alpukat di campur madu. Dengan telaten ia mengolesnya dengan kuas kecil khusus masker. Zeeva selesai dan Aira mengoles wajahnya sendiri. Lalu ia berbaring di sebelah Zeeva.

 

“Ma,”

 

“Eum?”

 

“Denny, ma,”

 

“Kenapa sama Denny?” tanya Zeeva sedang memejamkan matanya.

 

“Tadi dia telepon dan aku mendengar suara gadis lain,” terangnya sedih. Suasana berubah hening.

 

“Kamu sudah tanya itu siapa?”

 

“Nggak, malah dia menutup teleponnya.” lirihnya.

 

“Jangan berburuk sangka dulu, sayang. Mungkin itu temannya,”

 

“Masa teman bilang kalau ‘nggak mau mandi disini lagi karena airnya dingin’,” celetuk Aira dengan kesal.

 

“Mandi? Air dingin?!” Zeeva cukup terkejut lalu tertegun. Benar juga masa teman mandi segala. Hati Zeeva jadi serba salah. Ia pun turut curiga dengan Denny.

 

“Menurut mama bagaimana?” Tanya Aira ingin Zeeva memberikan solusinya.

 

“Menurut mama, kamu harus cari tau dulu. Tanyakan pada Denny yang sebenarnya terjadi. Daripada kamu curiga kan?”

 

“Tapi kalau benar bagaimana?”

 

“Ya, putuskan saja. Memangnya pria di dunia ini cuma Denny?!” sahutnya marah. “Tenanglah, sayang. Jodoh itu tidak kemana. Wanita baik dengan pria baik. Mama yakin itu. Anak mama inikan baik walaupun suka jahil,” Zeeva berbalik menatap Aira yang matanya menggenang air mata. Di usapnya rambut Aira lembut. “Ada mama, ayah dan adik-adikmu, sayang.”

 

“Ah, mama.. ” rengek Aira ingin menangis. Malam itu Aira curhat apa yang ia rasakan terhadap Denny. Zeeva hanya mendengarkan dan sesekali menimpali apa yang harus Aira lakukan.

 

Lelah bercerita Aira tertidur pulas, ia sampai lupa membasuh wajahnya. Besok pagi Zeeva akan mengganti sarung bantalnya. Ia tidak tega membangunkan Aira. Dengan mengendap-ngendap Zeeva keluar kamar Aira tidak lupa mematikan lampunya.

 

Zeeva kembali ke kamarnya. Rizky sudah tidur tapi ia berniat membangunkannya. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.

 

“Ayah, ayah bangun.. ” Ia mengoyangkan bahu Rizky. “Ayah bangun, ada yang mau aku bicarakan,” Rizky mengerjapkan matanya. Matanya terbelalak terkejut apa yang terlihat dihadapannya.

 

“Astagfirullah, hantu!” teriaknya. Dengan cepat Zeeva membengkap mulut suaminya itu.

 

“Ini aku Zeeva, Rizky!!” desisnya. Bahu Rizky melemas. Ia mulai tenang perlahan Zeeva melepaskan tangannya.

 

“Zeeva? Istriku?” tanya Rizky bodoh.

 

“Memangnya kamu punya istri berapa,  hah!” bentak Zeeva.

 

“Ya, satu tapi istriku itu cantik bukan wajahnya hijau seperti hulk!.” Bela Rizky. Ia memandangi wajah Zeeva.

 

“Aku pakai masker alpukat, Rizky!” Zeeva mendengus. “Sebentar aku mau cuci muka dulu, jangan tidur lagi!. Aku mau bicara!”

 

“Baiklah,” Rizky menyenderkan punggungnya dikepala ranjang menunggu Zeeva. Ia melihat istrinya masuk ke kamar mandi. Gemerincik air terdengar. Zeeva membersihkan wajahnya dari masker. Tak lama sekitar lima menit Zeeva muncul dari kamar mandi.

 

“Aku ingin membicarakan masalah Denny,” Zeeva merangsek masuk ke dalam selimut.

 

“Kenapa? Apa dia menyakiti putri kecil kita?” Rizky mulai marah.

 

“Bukan, Aira hanya curiga saja. Tapi aku yakin Denny bukanlah pria seperti Wisnu.” Zeeva merasakan keyakinan itu dari pengamatannya bertemu Denny.

 

“Besok, aku akan mencari taunya. Aku tidak mau Aira terluka lagi.” Zeeva mengangguk. Rizky merubah posisinya.  Ia memeluk Zeeva dari belakang.

 

“Harus, Rizky!” Jawab Zeeva menggebu-gebu.

 

“Iya, sayang. Sekarang urusan kita berdua, aku tidak bisa tidur setelah kamu membangunkanku. Biar aku bisa tidur sebelumnya bisa kita olahraga malam dulu ya?” tanyanya sembari tangannya menyentuh bagian depan Zeeva.

 

“Hah! Dasar mesum!” Tanpa berkata-kata lagi Rizky melancarkan aksinya.

 

***

Dilain tempat, keluarga itu sedang menikmati acara di televisi. Keluarga kecil yang bahagia namun ada sesuatu yang kurang. Putra semata wayangnya meninggalkan rumah beberapa tahun yang lalu. Pertentangan antara ayah dan anak. Reynald yang mempunyai watak yang keras membuat Denny terkekang terlebih orangtuanya terlibat dalam masalah percintaannya.

 

“Apa kamu nggak salah dengar, sayang?” Tanya Clara pada Clarista yang kini sedang bermalas-malasan di atas sofa ruang keluarga sambil menonton acara Tv kesukaannya.

 

“Iya ma, kakak sendiri kok yang bilang kalau dia itu sekarang sudah punya pacar, namanya Aira. Dan dia janji akan mengenalkannya pada kita nanti,”

 

“Apa dia cantik? Baik? Atau gimana Cla??” Sang Mama dari Denny sangat penasaran bagaimana gadis yang bernama Aira tersebut.

 

“Ya ampun, ma. Aku juga nggak tau bagaimana wajah kekasih kakak itu.”

 

“Bisa jadi dia hanya membohongi kita.” Sahut Reynald yang memang sejak tadi sebenarnya mendengar percakapan Clara dan Clarista, hanya saja ia bersikap seolah-olah tak mendengar apapun dan lebih memilih diam sembari membaca koran yang berada dalam genggaman tangannya. Clara memutar bola matanya ke arah suaminya tersebut. Entah sampai kapan suaminya itu akan keras kepala dan tidak melupakan pertikaiannya dengan Denny, putera pertamanya tersebut.

 

“Cla balik ke kamar gih, mama mau ngomong sama papa kamu,”

 

“Pasti pama sama papa mau berantem gara-gara kak Denny kan??”

 

“Udah sana!” Dengan bibir mengerucut, akhirnya Clarista pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

 

Setelah Clarista masuk ke dalam kamarnya. Clara datang menghampiri Reynald, suaminya itu tampak berwajah datar, seakan tak ingin diganggu.

 

“Rey, ayolah, kamu harus bisa melupakan semuanya. Denny juga putera kita Rey, masak kamu mau bersikap seperti ini terus sama dia??”

 

“Sayang, kamu tau sendiri bukan kalau dia sudah keluar dari rumah ini?. Itu tandanya dia memang sudah nggak mau hidup dengan kita lagi.”

 

“Bukan seperti itu Rey, ya ampun. Apa kamu nggak bisa sedikit mengalah dengan yang lebih muda?. Dia sudah melupakan Adelia, dan sudah memiliki pengganti gadis itu. Jadi ku mohon, turunkan sedikit ego kamu untuk putera kita.” Reynald mengangkat kedua bahunya.

 

“Aku nggak pernah marah terlalu lama dengan dia Cla. Bagaimanapun juga, Denny adalah putera yang sangat ku sayangi. Tapi kamu bisa lihat sendiri, kalau sebenarnya dia yang marah denganku,”

 

“Ya, dan semua itu hanya karena kesalahpahaman kecil. Mungkin saat ini Denny sudah nggak marah lagi. Jadi Please, jangan bersikap datar menyebalkan seperti tadi di hadapan Denny nanti saat dia pulang.” Clara memohon pada suaminya agar hati suaminya luluh.

 

“Kita lihat saja bagaimana sikapnya nanti,” balas Reynald tidak yakin.

 

“Rey,” rengek Clara.

 

“Berhenti merengek seperti itu, kita sudah nggak muda lagi.”

 

“Biar saja! Kamu terlalu menyebalkan!” Gerutu Clara dengan nada ketusnya. Reynald tersenyum, kemudian tanpa di duga, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Clara, lalu menarik istrinya itu semakin dekat denganya.

 

“Baiklah, aku akan berusaha bersikap baik dengan Putera kita nanti,” ia berusaha menurunkan egonya. Ya, semoga saja berhasil ketika bertemu Denny.

 

“Janji ya?” Ulang Clara.

 

“Iya sayang,” Reynald pun mengecup lembut kening istrinya.

 

Tidak terasa jika sudah dua puluh lima tahun lamanya ia berada di sisi wanita yang kini berstatus sebagai istrinya, wanita yang dulu menjadi wanita yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Clara Adista.

 

-TBC-

 

Apapun akan ku lakukan untuk kamu dan putera puteri kita, Reynald bergumam dalam hati.

Advertisements

6 thoughts on “Love Between Us – Part 8 (Curiga)

  1. Sis,nih yg love between us kok lama ya updatenya?padahal dah penasaran bgt gimana hubungan aira n denny selanjutnya setelah aira curiga ama denny

    Like

  2. Ia Bang Rey ksian Denny nya,,,heheheh
    knp qu mrasa Nama Zeeva gk asing ya,,apa dia saingannya Clara wkt dlu ?? Wkt Clara hamil Denny???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s