romantis

Pasion Of Love – Chapter 12

pol2Passion Of Love

maaf aku ganti judul ya… soalnya kayaknya judulnya lebih sopan gini deh.. hahhahahaha

Chapter 12

Siang itu, Sheila membawakan makan siang untuk Ben. Semua itu tentunya karena ide dari Fiona. Fiona berpikir jika mungkin saja hubungan Sheila dan Ben akaan membaik ketika keduanya sering di pertemukan…

“Kak, Ayo makan siang dulu.” Ajak Sheila yang kini sudah duduk di sofa ruang kerja Ben dengan menyiapkaan makan ssiang untuk lelaki tersebut.

“Aku tidak lapar, makanlah dulu.” Ucap Ben dingin tanpa memperhatikan raut wajah Sheila yang sudah kecewa.

“Kak, apa kak Ben nggak suka kalau aku yang ngantar makan siang ini, bukan Fiona?”

“Perasaanmu saja.”

“Kak.. Lihat aku..” Sheila merengek, ia tak suka Ben berbicara padanya tanpa mau memandangnya.

Ben pun kemudian menatap ke arah Sheila. “Sheila, hubungan kita sudah berakhir, aku hanya bisa melihatmu sebagai adik, jadi tolong, lupakan semuanya.” Ben menatap Sheila dengan taatapan frustasinya. Ia benar-benar tertekan jika mengingat harus memilih antara Sheila dan Fiona.

“Kak.. Please, jangan seperti ini padaku, kita akan menikah..” Sheila memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tidak.. Kita tak akan pernah menikah dan aku pun tak akan pernah menikah dengn siapapun.” Jawab Ben dengan tegas.

“Kak..” Sheila hanya bisa merengek seperti anak kecil.

“Aku ada rapat, selesaikan makan siangmu.” Ben melepaskan paksa rangkulan Sheila pada lengannya lalu meninggalkan Sheila sendiri di dalam ruangannya dengan berlinang air mata.

***

“Kamu mau kemana? apa kamu akan pulang? kamu sakit? Mau ku antar?” Tanya Angga saat melihat Fiona yang sudah rapi dan berada di ruangannya.

Kafe tempat kerja Fiona adalah milik Angga, dan angga memang tak setiap hari berada di kafenya tersebut, tapi sore itu, Angga memang sengaja seharian berada di dalam kafenya, entah kenapa i merasa rindu dengan sosok Fiona, ia ingin lama-lama memandangi wanita itu..

Sebenarnya Angga tak tega membiarkan Fiona bekerja di kafenya apalagi setelah tau Fiona sedang hamil, makanya beberapa hari ini Angga menyempatkan diri untuk berada di kafenya. Sejauh ini, perasaan Angga sendiri masih sama untuk Fiona meski dia tau kini Fiona sudah berubah terhadapnya.

“Maaf kak.. bukannya aku nggak mau.. aku sedang punya janji. Aku ingin meminta izin keluar dua jam saja, nanti aku akan tambah waktu kerjaku selama dua jam.”

“Dengan Ben?” Selidik Angga.

Fiona hanya tersenyum. “Bukan Kak… hanya teman lama.” Kali ini Fiona berbohong, karena sebenarnya Sore ini Fiona akan bertemu dengan ibu dari Ben.

“Baiklah.. apa kamu yakin tidak perlu ku antar?”

“Tidak Kak.. aku akan berjalan kaki.”

Angga mnyipitkan matanya ke arah Fiona. “Aku nggak akan membiarkanmu berjalan kaki sendiri.”

“Tempatnya dekat Kak, hanya beberapa Blog dari sini, aku juga nggak enak dengan karyawan lainnya.” Ucap Fiona masih dengan senyumannya.

“Aku nggak peduli.” Angga kemudian berdiri. “Ayoo kita berangkat.” Katanya lagi sambil meraih tangan Fiona. Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Angga maasih lelaki yang sama, lelaki baik yang selalu melindunginya.

***

Merekapun akhirnya sampai di restoran tempat Fiona dan ibu Ben janjian.Sebuah restoran yang menyediakan aneka masakan Korea.

“Apa Kak Angga juga ingin masuk?” Tanya Fiona sedikit heran karena melihat Angga yang masih berada di belakangnya saat Fiona sudah di depan pintu restoran tersebut.

“Tentu saja, Bulgogi disini sangat terkenal enaknya, jadi aku akan menyempatkan makan mumpung sudah di sini.”

“Tapi Kak…”

“Kamu tenang saja… aku akan pesan meja sendiri.”

Lalu merekapun masuk, entah kenapa setelah melangkahkan kaki kedalam Restoran perut Fiona terasa penuh, mualpun menyertainya. Bau daging panggang serta beberapa aroma makanan menusuk hidungnya, wajahnya berubah pucat pasi. Menyadari itu, Anggapun sedikit panik.

“Kamu kenapa? apa kamu sakit?”

“Enggak kak, aku baik-baik saja.”

“Apa kamu yakin?” Angga masih tidak percaya.

“Kak, aku baik-baik saja.” Kata Fiona sambil berusaha tersenyum. Lalu Fiona melayangkan pandangannya dan bertemu dengan sepasang mata yang ternyata sejak tadi menatapnya. Fionapun menganggukan kepala sambil tersenyum kepada wanita yang sudah menunggunya tersebut. “Itu orangnya, aku akan kesana Kak.”

Angga mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Fiona, kepada seorang wanita yang sedang duduk memandanginya dengan penuh selidik. “Dia siapa?”

Fiona tersenyum, “Kak angga nggak perlu tau..”

“Baiklah, aku akan duduk di sana, kalau ada apa-apa hubungi aku, oke.” lalu tanpa di sangka-sangka Angga mendaratkan ciumannya di kening Fiona. Fionapun terkejut, dan hanya terperangah menatap kepergian Angga.

Fiona melangkahkan kaki ke arah wanita yang sedari tadi memandangnya, dan itu membuat Fiona semakin gugup, belum lagi rasa mual yang entah kenapa sore ini tiba-tiba kambuh lagi.

‘Aku mohon jangan saat ini..’ Fiona memohon dalam hati supaya dia tidak mual bahkan muntah di hadapan Ibu Ben.

“Selamat sore tante, maaf saya terlambat.” Sapa Fiona sambil sedikit menganggukkan kepalanya penuh hormat.

“Tidak apa-apa, duduklah.” Dengan santai Wulan mempersilahkan Fiona duduk dihadapannya. “Siapa Pria itu.?” Tanyanya sambil menunjuk kearah Angga yang sejak tadi memang tak pernah lepas untuk memandang Fiona.

“Eemm.. dia hanya teman yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Dan juga bos di tempat saya bekerja.” Jawab Fiona sesopan mungkin.

“Benarkah..? kalian sepertinya punya hubungan pribadi.” Wulan menebak sembari mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak tante, beliau sudah sepeti kakak saya sendiri.” Ucap Fiona sambil tersenyum.

“Baiklah.. Apa kamu mau memesan makanan, Bulgogi di sini sangat enak.” Lalu Wulan mengambil sepotong daging iris di hadapanya dan memanggangnya di panggangan kecil yang sudah di sediakan.

Bau dari asap panggangan itu membuat Fiona mual. Astaga.. jangan sekarang.. Jangan sekarang… Fiona memohon dalam hati.

“Emmm sebenarnya apa hubunganmu dengan anakku Ben?” tanpa basa-basi lagi, Wulan menanyakan pertanyaan tersebut pada intinya. Dan pertanyaan itu entah kenapa membuat Fiona semakin mual. Sontak Fiona membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Permisi.. maafkan saya..” lalu Fionapun berlari menuju ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

***

Sudah hampir setengah jam Fiona berada di dalam toilet, setelah dirasa sudah baikan, diapun keluar dari toilet, dan betapa kagetnya saat ia berada di meja tempat ibu Ben menunggunya , semua makanan yang tadi di pesan ibu Ben sudah tak ada di sana.

“Emm.. maafkan saya jika saya menghilangkan selera makan Tente..”

“Tidak apa-apa, Seharusnya saya tahu kalau kamu nggak suka mencium bau-bau seperti ini.” Jawab Wulan lalu meminum Teh di depannya. “Minumlah.. itu akan menyegarkanmu.” Ucap Wulan sambil menunjuk secangkir Teh mint yang sudah di pesankannya untuk Fiona..

“Terimakasih..” Akhirnya Fionapun meminumnya.

“Sudah berapa bulan?”

Fiona tak mengerti apa yang di tanyakan oleh wanita di hadapannya. “Maaf.. maksud tante?”

“Kandunganmu sudah berapa bulan?”

Dan Fionapun hanya mampu membulatkan matanya seketika saat menyadari jika Ibu Ben sudah mengetahui bagaimana keadaannya saat ini. apa ia harus jujur terhadap wanita di hadapannya tersebut?? atau ia harus mengelak dan menyembunyikan semuanya sampai nanti??

***

“Rapat yang sangat membosankan.” Gerutu Ben.

Vano yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum masam melihat tingkah laku Ben.

“Apa yang salah denganmu?” Tanya Ben heran dengan Vano yang sejak tadi mengamatinya dengan tersenyum sendiri. Tanpa di sangka-sangka Vano malah duduk dengan santainya di sofa ruangan kerja Ben.

Ya.. Vano memang bawahannya, sekertaris pribadinya, namun ada waktunya saat mereka sudah seperti sahabat bahkan saudara sendiri, karena mereka tumbuh bersama-sama dan Ben tak mempunyai teman dekat lain selain Vano yang sekarang menjadi Sekertaris Pribadinya.

“Kau.” Jawab Vano singkat.

“Aku? memangnya ada apa denganku? apa ada yang salah?” Ben masih tak mengerti.

“Iyaa.. aku merasa kamu sedikit berubah, Ben.”

“Berubah? Berubah bagaimana?”

“Entahlah.. Aku pikir dari dulu rapat memanglah membosankan, dan kamu nggak pernah mengeluh karena itu. Tapi akhir-akhir ini kukira kamu kurang fokus dengan rapat atau pekerjaan.” Kata Vano dengan santainya mengkritik atasannya tersenut.

“Hei.. Sialan!! Kamu mengkritik kinerjaku..”

“Hahahaha bukan seperti itu… aku pikir kamu hanya sedang memikirkan sesuatu selain pekerjaan.”

Ben menghela nafas panjang, merebahkan diri di sandaran kursinya dan sedikit memijit keningnya, “Entahlah.. Aku hanya ingin cepat pulang..” jawabnya kemudian.

“Cepat pulang dan bertemu dengan istri tercinta??” Goda Vano.

“Sialan!! Apa yang kau bicarakan??” Ben berkata dngan wajah terkejutnya. Ia tak menyangka jika Vano akan mengucapkan kalimat seperti itu.

“Aku sudah mengenalmu lama Ben, Apa kamu pikir aku nggak tau kalau kamu8 sedikit memiliki rasa untuk Fiona? Kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya dengan seorang wanita Ben..” Jelas Vano. “Dan lebih baik kamu memikirkan hubungan kalian selanjutnya bagaimna.” Lanjutnya lagi.

Ben mengangkat sebelah alisnya, “Hubungan kami selanjutnya? maksudmu?”

“Menikah.” Jawaban Vano mampu membuat Ben membelalakkan matanya sketika.

“Kamu ngila, mana mungkin aku menikah dngannya? Dan aku nggak akan menikah dngan wanita manapun.”

“Sekarang apa lagi yang kamu tunggu Ben? Dia sudah menjadi milikmu, mengandung anakmu, lalu? apalagi yang kurang?”

Mendengar saran Vano, Ben langsung merebahkan dirinya kembali ke Sandaran kursinya. “Ini nggak sesederhana itu…”

“Aku tau kalau kamu masih terauma dengan komitmen karena masalah Sheila dulu, tapi bukankah Fiona dan Sheila adalah orang yang berbeda? pribadi yang berbeda? jika kamu nggak mencobanya kamu nggak akan tau..”

Ben memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap nasehat dari temannya itu. “Kamu tau kan masalalu Fiona seperti apa?” Tanya Ben kemudian.

Vano hanya menganggukkan kepalanya.

“Dia tidak seperti kebanyakan wanita yang menginginkan cinta. Kupikir yang ada dalam fikirannya adalah bagaimana caranya bertahan hidup, dan bagaimana nanti jika dia bertemu dengan lelaki yang lebih dari pada aku, bukan tidak mungkin kalau dia akan meninggalkanku.”

“Maksudmu dia mata duitan?”

“Bukan itu.. dia memang nggak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh terhadapku, aku hanya berfikir dia memperlakukan semua lelaki sama. Bahkan aku… Aku kira dia memperlakukanku nggak lebih dari pelanggan pribadinya.” Wajah Ben sedikit sendu saat mengatakan hal itu. “Dia bukanlah wanita yang memiliki cinta, wanita yang ingin di cintai maupun mencintai.

Vano menghampirinya dan menepuk bahu Ben. “Kamu jangan asal menerka-nerka perasaan orang, aku pikir Fiona memperlakukanmu special karena kalau dia memperlakukanmu sama, saat ini dia tak akan mungkin mau mengandung anakmu tanpa mau memberi tahumu.”

Ben tak menanggapinya dan hanya menghela nafas. Menenangkan fikirannya. “Aku nggak tau.. Aku hanya belum berani memikirkan sampai kesitu. Aku hanya belum bisa mempercayainya seutuhnya..”

Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk seseorang, Ben dan Vano saling pandang.

“Masuk” Tihtahnya kemudian.

Ben mengangkat sebelah alisnya ketika tau Ibunya yang berada di ambang pintu ruangannya. “Ibu..” Sontak Ben berdiri. Apa yang dilakukan ibunya sore-sore begini datang ke kantornya, sedangkan Vano pun terlihat kaget dan heran dengan kedatangan Ibu dari Ben.

“Baiklah, aku pergi dulu, hubungi aku jika ada sesuatu.” Ucap Vano kemudian. “Tante.. saya pamit dulu.” Vano beramitan dengan Ibu Ben, karena saking akrabnya dengan Ben, Vano Bahkan memanggil ibu Ben dengan panggilan Tante, bukan nyonya.

“Iya.. hati-hati di jalan.” Lalu Vano hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya saat melewati Ibu Ben.

“Ada masalah apa Bu? Kenapa datang sore-sore sperti ini? Aku sudah akan pulang.”

“Ibu ingin membicarakan sesuatu, apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Ya.. semuanya sudah selesai. Ada apa Bu?”

“Dia Hamil,.. Apa kamu tahu jika dia Hamil..?” Wulan menatap Ben dengan tatapan tajamnya.

Ben terkejut dengan apa yang dibicarakan ibunya, apa yang dimaksud ibunya adalah Fiona? bagaimana Ibunya bisa tau? Ben bertanya-tanya dalam hati.

“Kenapa kamu diam saja Ben? apa kamu mendengarku? Fiona, wanita simpananmu itu Hamil.” Nada bicara Wulan sedikit meninggi.

“Ibu.. dia bukan wanita simpanan.” Bantah Ben dengan penuh penekanan.

“Lalu aku harus menyebutnya apa Hahh,,? Diam-diam kamu mengajaknya tinggal seatap denganmu, padahal jelas kamu tau bahwa kamu memiliki Sheila sebagai tunanganmu.” Wulan sudah tak dapat menahan emosinya lagi.

“Aku dan Sheila sudah selesai Bu..”

PLaakkkkkk..

Telapak tangan Wulan mendarat sempurna di pipi putranya itu hingga wajah Ben terlempar kesamping.

“Ingat Ben.. Aku menyayangi Sheila sudah seperti putriku sendiri. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti hatinya termasuk itu kamu Ben, Sampai kapanpun hanya dia yang akan menjadi pendampingmu, hanya dia yang akan menjadi Menantuku.”

Lalu Wulan pergi meninggalkan Ben yang masih berdiri membatu meresapi apa yang telah dikatakan ibunya tersebut.

Ben kemudian terduduk lemas di kursi kerjanya sesekali mengacak rambutnya dengan frustasi.

“Fiona… apa yang harus ku lakukan padamu?” Lirih Ben dengan wajah sendu penuh dengan kesedihan.

***

“Kapan kamu akan memberitahukannya padaku?” Fiona terkejut, ketika Ben sudah terbangun dan masih setengah telanjang menghampirinya, memeluk pundaknya dari belakang dan mengecupi lehernya.

“Hemmb.. Apa maksudmu?” Fiona menjawab dengan memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya, menikmati kembali setiap sentuhan yang di berikan oleh Ben.

“Dia.. Kapan kamu akan memberitahukan keberadaannya kepadaku??” Suara Ben terdengar Serak, Ben masih mengecupi leher Fiona, namun kali ini tangannya sudah membelai lembut perut Fiona.

Fionapun mengerjap seketika, ia membuka matanya lebar-lebar, lalu berbalik memandang Ben dengan tatapan terkejutnya.

Ben… Kamu… Kamu…” saking kagetnya Fiona tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya lagi.

Ben lalu memegang kedua bahu Fiona, mencium bibir Fiona dengan lembut, “Ya, aku sudah tau..” Ben lalu memeluk tubuh Fiona dengan sangat erat, seakan takut jika wanita yang di peluknya kini pergi meninggalkannya.

Sedangkan Fiona sendiri masih bingung dengan sikap Ben. Benarkah Ben mengetahui keadaannya yang sudah mengandung bayi dari lelaki tersebut.

Ben kemudian menghela napas panjang. “Fiona… Kita… Menikah saja.”

-to be continue-

Advertisements

5 thoughts on “Pasion Of Love – Chapter 12

  1. Fiona emng daebakkkkk,,bsa merubah Ben,,skrg Ben malah ngajak nikah…
    Mngkn Ben brpikir drpd nikah ama Sheila lbh baik nikah ama Fiona heheheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s