romantis

My Beloved Man – Chapter 5

mb1My Brother

Haiii lama bgt nggak update yaa.. heheheh okay langsung aja…

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

***  

 

Chapter 5

 

Raka menelan ludahnya dengan susah payah saat di lihatnya Felly yang penuh dengan penyerahan atas tubuhnya. Wanita itu seakan pasrah dengan apa saja yang akan di lakukan Raka, dan itu membuat Raka semakin tak dapat menahan diri.

Raka mendaratkan telapak tangannya pada pipi lembut milik Felly, mengusapnya lembut penuh dengan kasih sayang, lalu ia mulai mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Felly. Bibirnya hampir saja menempel, tapi pada saat itu panggilan di belakangnya membuat Raka mengentikan aksinya.

“Kak Raka? Kalian ngapain?”

Itu Lili. Raka menjauhkan diri seketika dari Felly, pun dengan Felly yang sontak menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah padam karena kepergok hampir berciuman dengan orang yang seharusnya di anggap sebagai kakaknya.

“Kamu sendiri ngapain di sana?” Tanya raka dengan sedikit kaku.

“Aku? Memangnya kenapa kalau aku di sini? Ini kan rumahku. Harusnya pertanyaan itu kakak tanyakan dengan dia.” Ucap Lili dengan ketus sambil menunjuk ke arah Felly.

Tanpa basa basi lagi, Raka menggandeng tubuh Felly, dan itu benar-benar membuat Felly terpekik dengan apa yang di lakukan Raka.

“Lili, mulai saat ini, kamu harus menjaga sikapmu di hadapan calon kakak iparmu.” Ucap Raka masih dengan ekspresi datarnya.

Lili membulatkan matanya seketika, begitupun dengan Felly yang sontak menatap tak percaya pada Raka. Felly benar-benar tak menyangka jika Raka akan memberitahukan pada Lili tentang status hubungan mereka, padahal mereka belum tentu akan menikah, karena sampai detik ini pun Felly yakin jika dirinya tidak akan hamil.

“Kak Raka apaan sih?” Felly sedikit menjauhkan diri dari tubuh Raka.

“Kita benar-benar tunangan Fell.. Please, kamu jangan memungkiri kenyataan itu.”

“Aku nggak memungkirinya, tapi belum tentu kita berakhir menikah kak..”

Raka akan membuka mulutnya untuk membalas bantahan dari Felly tapi kemudian Lili lebih dulu mengucapkan kalimatnya dengan sedikit berteriak.

“Menikah? Kak Raka gila? Lihat, dia nggak pernah suka dengan Kak Raka, apa kakak memilih menjadi budaknya seumur hidup?”

“Budak? Lili, aku nggak pernah berniat memperbudak kakak kamu.” Felly sedikit tersinggung dengan apa yang di bicarakan Lili.

“Kenyataannya kamu dan keluargamu sudah seperti memperbudak kakakku.”

“Lili..!!” Seru Raka. “Pergi dari sini.”

“Kak Raka membela dia?”

“Pergi Lili.” Ucap Raka lagi dengan ekspresi yang sudah menggelap.

Dengan menghentak-hentakkan kakinya, Lili pergi meninggalkan Raka dan juga Felly yang masih berdiri membatu dengan pikiran masing-masing.

“Aku.. Aku pulang aja.” Ucap Felly kemudian sambil bergegas pergi meninggalkan Raka. Tapi, tanpa di duga, Raka dengan cepat menarik pergelangan tangan Felly lalu menarik wanita tersebut dalam pelukannya.

“Maaf..”

“Maaf untuk apa?”

“Untuk Lili dan semuanya.”

Felly menghela napas panjang. “Sudahlah.. Mungkin memang aku yang salah.”

“Kamu nggak pernah salah.”

“Ya, Aku salah, kalau aku nggak pacaran sama Jason, mungkin dia nggak akan sebenci itu denganku.”

“Nanti setelah kita menikah, otomatis kalian putus, dan setelah itu kupikir hubunganmu dan juga Lili akan membaik.”

“Kak.. Kita belum tentu akan menikah.”

Raka melepaskan pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Felly.

“Fell, Please, jangan membuat semuanya sulit untukku. Hamil atau tidak, aku tetap akan menikahimu.”

Felly menghela napas panjang, tanda jika dirinya memang sudah tak dapat membantah lagi apa yang di ucapkan oleh Raka.

***

Malam itu akhirnya Raka, Felly dan Ibu Raka hanya makan bertiga. Lili pergi setelah berdebat dengan Raka tadi. Dan itu benar-benar membuat Felly merasa tak enak.

Sebenarnya tadi Felly hanya mengantarkan Rendang buatan Mamanya untuk keluarga Raka. Tapi karena Tante Mirna menyuruh untuk memanggil Raka dan mengajak makan bersama, maka Felly tak dapat menolaknya.

Tante Mirna sendiri seakan sudah paham hubungan Felly dengan Lili. Maka ia tak heran jika Felly makan di rumahnya, Puteri bungsunya itu lebih sering makan di luar ketimbang satu meja makan dengan Felly.

“Makanmu sedikit sekali. Lagi diet?” Tanya Tante Mirna pada Felly.

“Ahh, enggak tante.”

“Makanlah yang banyak, terlalu kurus juga nggak baik untuk calon pengantin.”

Raka tersedak seketika. Ia terbatuk-batuk karena apa yang di ucapkan Ibunya. Sebenarnya, Raka memang belum mengatakan kepada ibunya jika ia akan menikahi Felly. Lalu dari mana ibunya tahu tentang hal itu?

“Ibu tahu?” Tanya Raka masih dengan tatapan tak percayanya.

Sedangkan Tante Mirna hanya menganggukkan kepalanya. “Cincin kalian membuat ibu tahu, dan ibu benar-benar nggak nyangka kalau hubungan kalian akan sejauh ini.”

“Ibu… ini bukan seperti yang ibu pikirkan.” Ucap Raka cepat. Ia melirik ke arah Felly yang tadi langsung menarik tangannya saat ibunya menatap cincin pada jari mereka. Felly tidak nyaman dengan pembicaraan ini, Raka tahu itu.

“Nggak seperti yang ibu pikirkan? Maksud kamu?”

“Emm… ada suatu hal yang membuat kami memang harus menikah.”

“Suatu hal?”

Wajah Raka merah padam saat sang Ibu menuntutnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang baginya sangat sulit ia jawab. Raka kembali melirik ke arah Felly yang kini sudah menundukkan kepalanya. Raka kemudian meraih telapak tangan Felly, kemudian menggenggamnya, membuat Felly mengangkat wajahnya lalu menatap ke arahnya.

“Yang penting, ibu hanya perlu tahu kalau kami akan menikah. Raka dan Felly ingin meminta restu Ibu.”

Sang ibu tersenyum lembut. “Dari dulu ibu selalu berharap memiliki menantu seperti Felly, sudah cantik, baik, perhatian lagi. Tapi ibu tak pernah berharap lebih jika Felly yang akan menjadi menantu Ibu, ibu tentu tahu, di mana posisi keluarga kita.”

“Tante…” potong Felly. “Felly nggak pernah mempermasalahkan posisi keluarga tante, Tante, kak Raka dan Lili adalah keluarga besar untuk kami.”

“Ya, tapi tante tetap merasa tidak enak. Keluarga kalian sudah lebih dari baik untuk keluarga kami. Tapi apapun alasannya, tante tetap senang kalau kalian berakhir sebagai suami istri nantinya.”

Felly hanya mampu menatap Raka dengan tatapan anehnya. Astaga… apa yang harus ia lakukan nanti? Apakah ia memang harus berakhir menjadi istri kakaknya tersebut?

***

“Emm.. aku masuk dulu.” Ucap Felly dengan canggung saat Raka tak juga pulang ketika mengantarnya sampai di halaman rumahnya.

“Tunggu dulu.” Ucap Raka sambil menarik tangan Felly. Dengan cepat Raka mengecup lembut kening Felly, sedangkan Felly dengan spontan menutup matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir Raka tepat di keningnya.

“Ingat, apapun yang terjadi, kita akan tetap menikah.”

“Kak..”

“Jangan membuat ini menjadi sulit Fell..”

“Kasih aku waktu, Please..”

Raka menghela napas panjang. Kemudian di usapnya pipi Felly dengan ibu jarinya. “Aku akan memberimu waktu sampai kamu siap.” Dan Felly hanya bisa menganggukkan kepalanya.

***

Pagi itu, Felly duduk di atas closet kamar mandinya dengan memeluk kedua lututnya. Matanya masih menatap dengan tatapan tak percaya pada sederet alat tes kehamilan yang berjajar rapi di pinggiran bath up miliknya.

Semuanya menunjukkan garis dua yang artinya positif. Astaga… bagaimana mungkin ini benar-benar terjadi padanya?

Ini sudah dua bulan sejak ia menghabiskan malam bersama dengan Raka. Bulan lalu, sebenarnya Felly sudah sedikit curiga dengan keadaannya ketika tamu bulanannya tak kunjung datang. Tapi saat itu Felly berpikir positif, mungkin saja saat itu ia terlalu stress hingga tamu bulanannya datang terlambat. Tapi nyatanya hingga kini Felly tak juga datang bulan.

Akhirnya dengan gelisah, tadi malam ia mencoba membeli beberapa alat tes kehamilan. Dan kini, hasil nyata itu sudah berada di hadapannya.

Ia hamil… dengan kakak angkatnya sendiri.. Astaga…

Felly menenggelamkan wajahnya pada kedua lengannya yang di lipat di atas lututnya. Apa yang harus ia lakukan selanjutnya? Bagaimana cara ia menyampaikan hal ini pada Raka? Apa Raka masih mau menikahinya?? Apa Raka akan senang? Atau lelaki itu akan kesal karena terikat dengannya?? Felly benar-benar tak tau apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Tiba-tiba Felly mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Dengan gelagapan Felly mengangkat wajahnya.

“Siapa?”

“Ini aku.”

Felly membulatkan matanya seketika saat mendengar suara itu. Itu adalah suara Raka. Astaga.. ngapain juga lelaki itu datang padanya pada saat seperti sekarang ini??

Dengan cepat Felly meraih semua alat tes kehamilan di hadapannya kemudian membuangnya begitu saja ke dalam tong sampah. Ia tidak ingin Raka melihatnya, dan ia belum siap memberitahukan keadaannya pada lelaki tersebut.

“Sebentar, aku masih mandi kak.” Dan akhirnya Felly memutuskan untuk segera mandi lalu menemui Raka yang sudah menunggunya.

***

Raka menyandarkan tubuhnya pada dinding tepat di sebelah pintu kamar Felly. Ia tak mungkin dengan kurang ajar masuk ke dalam kamar wanita itu saat si pemilik kamar sedang di dalam kamar mandi.

Sesekali Raka melirik ke arah jam tangannya. Hari ini masih sama dengan hari sebelumnya. Ia akan mengantar Felly ke toko Ice Cream milik wanita tersebut sebelum ia berangkat ke kantor, begitupun dengan saat pulang, Raka akan menjemput Felly lalu pulang bersama, setidaknya itulah yang dapat di lakukan Raka dua bulan terakhir untuk bertanggung jawab dengan Felly.

Tapi semakin hari, rasa gelisah selalu membayangi hati Raka. Felly tak juga kunjung hamil, ia takut, jika wanita itu akan memutuskan pertunangan mereka dengan alasan tidak hamil, dan Raka tak dapat menerima kenyataan itu. Ia harus berakhir dengan menikahi wanita yang sangat di cintainya itu. Terdengar egois mungkin, tapi bagaimana lagi, ia benar-benar tak mampu melihat Felly bersanding dengan lelaki lain.

Tak lama, pintu di sebelahnya terbuka, dan menampilkan sosok cantik dengan wajah pucatnya. Raka menegakkan tubuhnya seketika, mengamati apapun perbedaan yang terlihat dari sosok di hadapannya tersebut.

Felly terlihat pucat, pipinya pun lebih tirus, wanita itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kenapa? Apa Felly sakit??

“Kamu sakit?” Tanya Raka tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Felly.

Felly menggelengkan kepalanya, kemudian ia sedikit menjauh dengan sentuhan Raka. Entah kenapa mengingat darah daging lelaki itu yang kini sedang tumbuh di dalam rahimnya membuat ia sedikit merasakan rasa aneh yang ia sendiri tak mengerti rasa apa itu.

“Kulitmu hangat.” Ucap Raka lagi.

“Aku nggak apa-apa kok, ayo, kita berangkat.” Raka kemudian menganggukkan kepalanya, lalu berjalan mengikuti tepat di belakang Felly.

***

“Emm.. nanti sore jangan di jemput.” Ucap Felly tiba-tiba ketika ia dan Raka sudah di dalam mobil.

“Kenapa?”

“Aku ada janji.”

“Dengan Jason?” Tanya Raka penuh selidik.

Felly hanya menganggukkan kepalanya.

“Kalau makan siang?” Tanya Raka lagi.

“Maaf, aku.. juga sudah janjian.” Jawab Felly sedikit mempelankan suaranya.

Sebenarnya hari ini ia tak memiliki janji apapun dengan siapapun, hanya saja, berdekatan dengan Raka membuatnya seakan tak nyaman. Ia takut, jika tiba-tiba Raka mengetahui keadaannya kini yang berbadan dua, dan tiba-tiba mengajak menikah begitu saja. Entahlah, Felly hanya merasa belum siap.

Raka menghela napas panjang. “Baiklah, hanya sehari kan?”

“Aku nggak tau.”

“Kok nggak tau? Kamu nggak sedang mengindari kakak kan?” Tanya Raka masih dengan ekspresi datarnya.

“Enggak, aku nggak menghindar kok.”

“Lalu??”

“Emm.. Beberapa hari terakhir, Jason ada acara, jadi aku menemani dia. Cuma itu aja.”

“Kamu yakin hanya itu?”

“Ya, aku yakin.” Jawab Felly cepat.

“Kamu harus menjaga kesehatan kamu, jangan terlalu lelah, nanti kalau…”

“Kak Please..” Felly memotong kalimat Raka. “Aku nggak hamil, jadi kak Raka nggak perlu memperlakukanku seperti wanita hamil.” Felly berkata dengan sedikit kesal.

Ya, selama dua bulan terakhir Raka memang memperlakukannya seperti benda rapuh yang gampang sekali pecah. Raka seakan selalu menjaga setiap apapun yang di lakukan Felly, Raka terlalu berlebihan dan itu membuat Felly tak nyaman. Ia memang senang Raka melakukan semua itu padanya, yang membuatnya tak senang adalah alasan Raka melakukan semua itu hanya karena sebuah tanggung jawab. Seakan-akan lelaki itu memang harus menjaganya karena sebuah tugas, bukan karena sebuah kerelaan.

“Aku nggak berpikir kamu hamil. Aku hanya melihat tubuhmu yang semakin kurus, wajahmu yang pucat, aku nggak mau kamu sakit. Ini nggak ada hubungannya antara kamu hamil atau tidak.” Raka terdiam sebentar, kemudian ia menatap Felly dengan tatapan penuh selidiknya. “Atau jangan-jangan, kamu memang sedang hamil?”

Felly membulatkan matanya seketika. Bagaimana mungkin Raka dapat menebak dengan benar apa yang terjadi dengannya? Dari mana Raka tau tentang keadaannya yang kini sedang berbadan dua? Apa Raka memang dapat merasakan jika saat ini ada bagian dari diri lelaki itu yang sedang tumbuh di dalam rahimnya?? Dengan spontan Felly menangkup perutnya dengan kedua telapak tangannya. Sialnya hal itu tak luput dari pandangan Raka. Astaga.. apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

-to be continue-

jangan lupa tinggalkan komentar.. insha allah besok ada bang Ben dan mas yoga yaa….  happy waiting…

Advertisements

8 thoughts on “My Beloved Man – Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s