romantis

My Beloved Man – Chapter 4

13606779_1382124375137441_5783693765868018757_n

My Brother

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

***  

Chapter 4

 

Satu minggu berlalu setelah kejadian itu, Felly menjalani harinya kembali seperti semula. Hari ini adalah hari pertama ia membuka toko ice creamnya setelah seminggu tutup. Felly sedikit lega karena sampai saat ini tak ada yang berbeda dengan dirinya.

Ia tak hamil, bisa di bilang belum. Dan Felly benar-benar berharap jika dirinya tidak hamil.

Bukan karena ia menolak menikah dengan Raka. Percayalah, Felly benar-benar menginginkan Raka menjadi suaminya. Tapi tentu bukan karena ia hamil. Felly tak ingin jika kehamilan mau tak mau mengikat Raka menjadi suaminya, membuat lelaki itu terpaksa bertanggung jawab padanya. Felly benar-benar tak menginginkan hal itu.

Felly menatap jari manisnya yang di sana sudah melingkar cincin pemberian dari Raka. Kemudian seulas senyuman terukir di wajahnya. Cincin itu begitu sederhana tapi melihatnya saja membuat hati Felly berbunga-bunga.

‘Dalam beberapa bulan ke depan, kamu tetap menjadi calon istriku..’ Ucapan Raka itu terngiang di telinganya. Calon istri?? Betapa senangnya Felly jika perkataan itu di ucapkan Raka dengan tulus penuh cinta, bukan karena keterpaksaan untuk bertanggung jawab.

Felly memejamkan matanya frustasi. Astaga… sejak malam itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Raka. Ia masih merasa malu dan canggung jika berhadapan dengan lelaki tersebut.

Raka sudah berkali-kali ingin menemuinya sepulang kantor, tapi Felly memilih mengurung diri di dalam kamarnya sambil berpura-pura tidur. Kini sudah satu minggu berlalu, dan Felly tak mungkin terus-terusan bersikap seperti itu pada Raka.

Setelah menyiapkan diri, Felly mengintip ke arah rumah Raka. Mobil lelaki itu masih terparkir di halaman rumahnya, itu tandanya jika Raka masih di rumah. Felly melirik ke arah jam di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, tumben sekali kakaknya itu belum berangkat.

Akhirnya Felly memilih turun dari kamarnya, menuju ke meja makan. Di sana sudah ada Dara, mamanya yang masih sibuk membersihkan sisa sarapan.

“Pagi Ma..” Sapa Felly.

“Pagi sayang.. Astaga.. Akhirnya kamu mau turun juga.”

“Aku bosan di kamar.”

“Siapa suruh kamu mengurung diri di kamar?” Dara kemudian melirik ke arah jari manis Felly yang ternyata sudah di lingkari sebuah cincin sederhana. “Tunggu dulu..” Ucap Dara sambil meraih telapak tangan Felly dan menatap lekat-lekat cincin tersebut.

Dengan cepat Felly menarik tangannya. “Apaan sih Ma..”

“Jadi Raka benar-benar melamarmu?”

Felly tak tau harus menjawab apa, karena ia sendiri bingung sebenarnya apa hubungannya dengan Raka saat ini.

“Nggak tau.”

“Loh kok nggak tau? Dia juga memakai cincin yang sama dengan cincin ini Fell.. lagi pula dia sudah melamar kamu di hadapan mama dan papa.”

“Apa??”

“Ya, dan kami menerimanya.”

“Mama.. ini nggak seperti yang mama kira, astaga..”

“Kamu hanya mempersulit semuanya Fell?? Apa susahnya menikah dengan Raka? Dia lelaki yang tampan, baik, bertanggung jawab, dan yang terpenting dia menyayangimu.”

“Tapi aku enggak Ma.. Mama nggak ngerti, dan semuanya nggak akan mengerti apa mauku.” Ucap Felly sambil berdiri lalu berjalan keluar dari ruang makan mereka. Sedangkan Dara hanya mampu menghela napas panjang saat melihat puterinya yang terlihat marah-marah tak jelas tersebut pergi begitu saja meninggalkannya.

***

Pagi itu Raka memang sengaja berangkat lebih siang. Selain karena memang kesiangan. badannya kecapekan karena setiap hari ia lembur kerja. Raka juga sebenarnya berharap supaya felly keluar dari rumahnya pagi ini. Dan ternyata harapannya itu tak sia-sia.

Tak lama ia melihat sosok itu keluar dari rumahnya dengan wajah yang di tekuk. Raka sedikit tersenyum, mengingat ini pertama kalinya ia bertemu dengan Felly setelah seminggu wanita itu tak mau di temuinya.

Dengan cepat Raka keluar dari gerbang rumahnya kemudian menyusul Felly yang sudah berjalan di atas trotoar.

“Hai..” Sapa Raka.

Felly menghentikan langkahnya kemudian menatap Raka. Lelaki itu tampak Rapi dengan kemeja dan dasi yang sudah bertengger di lehernya. Mungkin lelaki di hadapannya ini akan berangkat ke kantor.

“Hai juga.” Hanya itu jawaban dari Felly.

Raka kemudian melirik telapak tangan Felly, dan berakhir tersenyum karena ternyata cincin pemberiannya masih melingkar di jari manis wanita tersebut.

“Mau ke mana? Mau ku antar??”

“Nggak perlu, aku cuma mau jalan-jalan di sekitar sini.”

“Emm.. mau ku temani?”

“Kak Raka seharusnya sudah di kantor jam segini.”

“Ya, tapi beberapa hari terakhir aku membawa pekerjaanku pulang, dan lembur di rumah. jadi aku bisa ke kantor kapan saja.”

“Kak.. antar aku kerja..” Teriak seorang gadis tepat di belakang Raka dan Felly. Keduanya kemudian membalikkan tubuh mereka dan mendapati Lili yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Kakak sedang sibuk.” Ucap Raka cepat.

“Sibuk ngapain? Ngerayu dia?? Ayolah kak..” rengek Lili sambil menarik lengan Raka.

“Apa hari ini kamu sudah kerja?” tanya Raka pada Felly tanpa mempedulikan Lili yang masih saja menarik-narik lengannya.

“Ya, aku sudah mulai kerja.”

“Bagus, nanti siang kita makan siang bersama.” Ucap Raka sedikit lebih keras saat tubuhnya semakin menjauh dari tempat Felly berdiri.

Felly sendiri hanya menatap Raka dengan tatapan anehnya. Makan siang bersama?? Mungkinkah??

***

“Berhenti bersikap kekanakan seperti itu Li..” Geram Raka ketika ia dan Lili sudah berada di dalam mobil.

“Kenapa? Aku hanya minta Kakak mengantarku.”

“Tapi sikapmu selalu keterlaluan dengan Felly.”

“Aku cuma nggak suka sama  dia Kak, kalian semua kenapa sih sayang banget sama dia, seakan dia itu Ratu yang harus di manja.”

“Kakak tidak pernah memanjakannya.”

“Kak, mendingan kak Raka fokus sama mbak Kirana deh, kak Raka lebih cocok sama dia dari pada sama Felly.”

Raka mendengus kesal. Ia benar-benar tak mengerti kenapa adiknya itu sangat membenci sosok Felly. Raka sangat ingin mengatakan jika mau tak mau adiknya itu harus menerima ketika suatu saat ia menikahi Felly, tapi sepertiya waktunya belum tepat.

“Kamu nggak tau apa-apa tentang hubungan kami.”

“Oh ya?? Yang ku tau Felly itu hanya wanita gampangan yang gampang sekali gonta-ganti pasangan Kak.”

“Cukup Lili. Kamu kelewatan.”

“Ya, bela saja terus wanita manja sialan itu.” Gerutu Lili dengan nada kesalnya. Sedangkan Raka hanya memilih diam dan mengalah.

***

Felly melamun menatap minuman yang berada di atas meja di dalam toko ice creamnya. Hari ini hari pertama ia buka setelah seminggu tutup karena sikap kekanakannya. Felly mendesah panjang mengingat masalah yang terjadi dengan Raka.

Lamunan Felly buyar ketika sebuah klakson mobil dari parkiran halaman tokonya berbunyi. Felly menoleh ke arah mobil tersebut. rupanya itu Jason, lelaki yang sudah seminggu ini tak ia temui. Felly kemudian melambaikan tangannya seakan memberi perintah pada Jason supaya lelaki itu masuk dan menemuinya.

Akhirnya jasonpun keluar dari dalam mobilnya kemudian masuk ke dalam toko milik Felly.tanpa banyak bicara, Jason langsung memeluk tubuh Felly, dan itu membuat Felly ternganga dengan sikap Jason.

“Kamu kemana aja?? Hampir setiap hari aku ke sini, dan tokomu selalu tutup. Aku juga sering ke area rumah kamu, tapi tak pernah sekalipun aku melihat aktifitasmu. Apa yang terjadi??” tanya Jason masih dengan memeluk erat tubuh Felly.

“Jase, aku baik-baik aja.”

Jason melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Terakhir kali kita ketemu kamu tidak dalam keadaan baik.”

Felly mengangkat kedua bahunya. “Aku sendiri tidak mengerti, kenapa malam itu aku bisa seperti itu.”

“Ya, ada yang jahil deganmu.”

“Jahil?? Siapa? Kenapa?”

“Cinta dan Kiki. Mereka menaruh sesuatu di dalam minumanmu”

“Apa? Kenapa bisa?”

Jason tersenyum, kemudian ia mengusap lembut pipi Felly. “Semua orag bisa melakukan apapun karena cemburu Fell.. sudah sejak lama Cinta menaruh hati padaku, jadi dia pasti melakukan apapun untuk manjatuhkan kamu.”

“Tapi mereka tidak terlalu mengenalku, begitupun sebaliknya Jase, kanapa mereka tega??”

Jason mengangkat kedua bahunya. “Lupakan saja, yang penting kamu nggak apa-apa kan malam itu??”

Felly menundukkan kepalanya, ia tak mungkin berkata jika ia sudah bercinta dengan Raka karena pengaruh obat tersebut. lagi pula hal itu tak seharusnya ia ceritakan dengan Jason.

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Lalu kenapa kamu tutup seminggu ini??”

“Emm.. Aku sedikit nggak enak badan, jadi aku memutuskan tutup.”

“Aku kangen cake buatan kamu.”

Felly tersenyum manis. “Duduklah dengan manis, aku akan membuatkan Muffin keju kesukaanmu.”

Jason menganggukkan kepalanya dengan antusias. “Jangan lupa Capucinno late nya…” Felly tersenyum hangat kemudian bergegas pergi meningalkan Jason.

***

Raka membereskan berkas-berkas di meja kerjanya. Ia melirik sekilas ke arah jam tangannya. Sudah  pukul satu lewat. Felly pasti sudah makan siang. Ia sendiri telat makan siang karena tadi ada rapat mendadak. Akhirnya saat ini ia baru bisa pergi menuju ke toko Felly untuk makan siang bersama wanita itu.

Saat Raka akan keluar dari ruanganya, tiba-tiba pintu ruangannya lebih dulu di buka oleh seseorang. Itu Kirana yang kini sedang berdiri membawa rantang makan siangnya.

“Hai.. mau kemana?” tanya Kirana sembari menatap Raka dengan tatapan menyelidiknya.

“Hai.. Aku akan keluar, makan siang.”

“Oh ya? Padahal aku sudah membawakanmu makan siang.” Kirana mengangkat rantang yang sedang ia bawa.

“Untukku?”

“Ya, tadi aku sempat memasak balado. Ku pikir kamu mau, makanya ku bungkuskan untuk makan siang sekalian.”

Raka benar-benar tak enak, ia ingin menolak tapi tentu tidak bisa. Ia bukan lelaki yang suka seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, apa lagi orang itu sangat perhatian terhadapnya.

“Baiklah, kita makan di sini saja.” Ajak Raka sambil menuju ke sofa yang berada di ujung ruangannya.

Raka kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mencari kontak Felly. Saat akan menekan tombol panggilan, sebenarnya ia sedikit ragu, tapi kemudian ia melanjutkan untuk menghubungi wanita itu.

“Halo..” Suara lembut di seberang benar-benar menenangkan hati Raka.

“Hai.. Kamu sudah makan siang?”

“Emm.. sudah, kenapa kak?”

“Oke, aku hanya menanyakan itu.” Ucap Raka dengan dada yang berdegup kencang. “Aku makan siang di kantor, itu saja.”

“Ohh iya, nggak apa-apa.”

“Baiklah, aku tutup dulu.” Dan karena tidak ada jawaban dari Felly, maka Raka memutuskan untuk mengakhiri teleponnya. Raka baru sadar jika dirinya sejak tadi di perhatikan oleh wanita yang kini sudah duduk tepat di sebelahnya.

“Kamu tadi janjian makan dengan Felly?” tanya Kirana yang kini menyibukkan diri menyiapkan makan siang mereka.

“Ya.”

“Lalu kamu batalkan?”

“Ya, Dia sudah makan juga.”

“Apa karena aku??”pancing Kirana.

Raka mengangkat sebelah alisnya kemudian tersenyum saat tahu apa maksud Kirana. “Ya, karena aku nggak mungkin nolak ajakan kamu.” Jawab Raka sembari tersenyum hangat. “Lagi pula aku nggak mau melewatkan masakanmu yang rasanya selalu enak.”

Kirana tersenyum senang ketika mendapatkan pujian dari Raka. Tapi hanya itu. Raka memang selalu bersikap baik dan ramah pada siapapun, bukan hanya dengan dirinya. Seakan Raka selalu membatasi diri untuk terlalu dekat dengan wanita lain selain wanita yang di kehendakinya.

“Raka…” panggil Kirana kemudian.

“Iya??”

“Emm.. aku boleh tanya sesuatu nggak?”

“Ya, tanya saja.”

“Emm… Pernahkah kamu menganggapku lebih dari teman?”

Pertanyaan Kirana itu membuat Raka mengangkat sebelah alisnya. “Lebih dari teman? Maksudmu??”

Kirana menelan ludahnya dengan susah payah. Ia sebenarnya tak ingin menanyakan hal ini, tapi bagaimana lagi. Perasaannya seakan sudah tak dapat terbendung lagi. Ia menyukai Raka, lebih dari sekedar teman dan ia benar-benar ingin memiliki lelaki tersebut.

Raka adalah sosok yang di idamkan banyak wanita. Pendiam, baik, ramah dengan siapapun, perhatian, dan belum lagi fisiknya yang sempurna membuat para wanita seakan rela melakukan apapun untuk mendapatkan lelaki di hadapannya tersebut. tapi nyatanya, lelaki itu seperti tak pernah tertarik melihat wanita lain. Kirana tentu tahu apa alasannya karena hanya dengan Kiranalah Raka bercerita tentang Felly.

Cara memandang lelaki itu terhadap sosok Felly benar-benar berbeda dengan cara memandang lelaki itu terhadap wanita lain. Hanya ada Felly di hati Raka sejak dulu hingga saat ini, Kirana tahu itu. Tapi apa salah jika kemudian Kirana ingin merebut posisi Felly di hati Raka??

“Emm.. lupakan saja. Ayo lanjutin makannya.” Ucap Kirana kemudian. Untuk saat ini ia akan memendam perasaannya pada Raka, hingga nanti waktunya tepat untuk mengungkapkan perasaannya tersebut.

Raka menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sedikit risih dengan tatapan mata Kirana tadi, tapi Raka mencoba mengenyahkan pikiran tersebut. Kirana adalah temannya, jadi tak mungkin jika Kirana menyembunyikan sesuatu yang serius darinya. Pikir Raka sambil melanjutkan kembali makan siangnya.

***

Sore itu Jason masih saja berada di toko ice cream milik Felly. Beberapa kali Felly mengusir jason untuk segera pergi meninggalkan toko ice creamnya, tapi dengan tegas Jason mengatakan tak ingin pergi jika Felly masih berada di sana. Bukannya apa-apa, felly hanya terlalu risih dengan beberapa gadis muda yang terang-terangan ke toko ice creamnya hanya karena ingin meminta tanda tangan dan foto bersama Jason.

“Kenapa cemberut terus?? Kamu cemburu??” tanya Jason sambil mencubit gemas pipi Felly.

“Enggak ahh.. ngapain juga cemburu.” Jawab Felly masih dengan memanyunkan bibirnya.

“Ayolah.. jangan seperti itu..” kali ini tanpa sungkan lagi Jason memeluk tubuh Felly dari belakang. Sambil sesekali menggelitik wanita tersebut.

“Jase.. hentikan.. Jase.. astaga…” Felly berteriak sambi sesekali cekikikan.

“Belum tutup?” Suara itu membuat Jason dan Felly menghentikan aksinya kemudian menatap ke arah si pemilik suara.

Di sana sudah ada Raka yang berdiri tegap di ambang pintu.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Felly. “Kak Raka kok sudah pulang?”

“Ya, setelah rapat tadi aku sudah bisa langsung pulang sebenarnya.”

“Ohh..” Hanya itu jawaban Felly.

Raka sendiri masih mengamati kedekatan yang tercipta antara Felly dan Jason. Itu benar-benar membuat Raka seakan ingin marah. Tapi Raka mencoba menutupinya dengan ekspresi datarnya.

“Sepertinya aku sedikit mengganggu, jadi… Aku pulang duluan saja.”

“Ahh enggak kak.” Jawab Felly cepat.

“Kamu di antar dia kan?? Kalau begitu aku pulang dulu.” Raka berkata lagi dengan cepat. Raka kemudian tersenyum pada Felly, lalu pergi begitu saja meninggalkan Felly dan juga Jason masih berdiri saling menggenggam tangan satu sama lain.

“Laki-laki apa itu?? Kenapa dia tidak menawarimu tumpangan untuk pulang?”

“Mungkin dia tahu kalau aku memang nggak butuh tumpangan darinya.” Jawab Felly masih dengan menatap lurus ke arah kepergian Raka.

“Bagiku tetap saja. Dia lelaki pengecut.”

“Hei.. dia bukan pengecut.”

“Ya, dia pengecut.” Felly dan Jason kemudian kembali saling bercanda seperti sebelumnya. Hati Felly sebenarnya di penuhi dengan rasa kecewa dengan sikap Raka yang datar-datar saja, tapi Felly mencoba melupakan semuanya, mencoba mengendalikan perasaannya supaya tak terlalu jatuh lebih dalam lagi pada pesona Araka Andriano.

***

Di dalam mobil, Raka meraba dada kirinya. Terasa sakit dan sesak di sana. Felly tampak begitu bahagia dengan lelaki lain. Bagaimana jika nanti Felly hamil lalu ia memaksa untuk menikahi wanita tersebut??

Raka memejamkan matanya karena frustasi dengan perasaan yang di rasakannya.perasaannya begitu nyata terhadap seorang Felly, tapi di sisi lain, ia tak dapat mengungkapkannya karena ia tahu jika Felly hanya menganggapnya sebagai kakak, tak lebih dari itu.

Raka menatap jari manisnya, yang di sana sudah melingkar cincin pertunangan mereka. Raka tersenyum masam menatap cincin tersebut. ‘Jika kau tidak memaksanya, maka ia tak akan mau menikah denganmu, Bodoh!!’ Umpat Raka pada dirinya sendiri.

Raka menghela napas panjang kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan toko ice cream milik Felly.

***

Malam itu, Raka sangat malas sekali turun dari kamarnya. Padahal kini sudah masuk waktu makan malam. Raka tak pernah melewatkan makan malam bersama ibu dan adiknya kecuali memang sedang sibuk ke luar kota, atau sibuk mengurus urusan lainnya.

Tapi malam ini berbeda. Raka seakan tidak berselera makan. Apa karena pemandangan ia masih terpengaruh dengan pemandangan tadi sore??

Tak lama Raka mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Itu pasti ibunya yang mengajaknya makan malam.

“Masuk saja Bu, pintunya nggak di kunci.” Ucap Raka setengah malas.

Tapi ketika pintu di buka, tampaklah sosok cantik yang memang selalu ada dalam pikirannya. Itu Felly. Seketika itu juga Raka bangkit dari duduknya.

“Kak, waktunya makan malam.” Ucap Felly sambil sedikit menyungingkan senyumannya.

Raka hanya ternganga menatap pemandangan di hadapannya. Felly kini sudah seperti istrinya saja yang mengingatkan untuk makan malam bersama. Membayangkan itu, dengan cepat Raka berjalan menuju ke tempat di mana Felly berdiri, lalu tanpa di duga, Raka memluk erat tubuh wanita di hadapannya itu.

Felly sendiri memekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Raka. Kenapa tiba-tiba lelaki di hadapannya itu memeluknya erat-erat? Felly merasakaan pelukan Raka bukanlah pelukan seorang kakak pada adiknya, itu adalah pelukan seorang kekasih yang merindukan pasangannya. Mengingat itu, Felly sedikit meronta karena tak nyaman.

“Kak.. Kak Raka kenapa?”

“Sebentar saja kita seperti ini..”

“Tapi…”

“Fell.. Kamu masih tunanganku, dan ketika kita masih berstatus sebagai tunangan, maka lihatkah aku sebagai tunanganmu, bukan kakakmu.”

Felly benar-benar tak mengerti apa yang di katakan Raka, tapi Felly hanya menganggukkan kepalanya saja dan menikmati pelukan yang di berikan oleh Raka.

“Terimakasih kamu sudah nggak marah sama aku.”

“Aku? Aku memang sudah nggak marah sejak malam itu.”

“Tapi kamu sedikit menghindariku.”

“Ya, karena aku canggung. Sekarang sudah tidak, lagi pula sampai sekarang tidak terjadi apapun denganku.”

“Belum.” Ucap Raka dengan penuh keyakinan.

Bukannya marah, Felly malah tersenyum mendengar Raka meralatnya. “Aku heran, kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil.”

‘Karena itu yang ku inginkan..’ jawab Raka dalam hati.

“Karena aku sudah merasakannya.” Jawab Raka dengan tenang dan datar.

Felly melepaskan pelukan Raka, kemudian menatap Raka dengan tatapan anehnya. “Merasakannya??” Felly kemudian mulai tertawa menertawakan Raka, dengan spontan Felly meraih telapak tangan Raka kemudian mendaratkan pada perut datarnya. “Apa saat ini kaka Raka merasakan perutku bergerak-gerak sendiri?? Astaga,.. yang benar saja.”

Mau tak mau Raka ikut tersenyum dengan tingkah konyol Felly. Dengan gemas ia mengacak poni Felly seperti biasanya. “Bukan rasa seperti itu yang ku rasakan, aku hanya merasakan jika dalam waktu dekat, kamu akan menjadi istriku.”

Felly terpana dengan apa yang di ucapkan Raka.

Menjadi istriku…

Entah kenapa dua kata terakhir itu seakan membuat tubuh Felly bergetar karena sesuatu, Hingga Felly tak sadar jika kini wajah Raka sudah sangat dekat sekalu dengan wajahnya.

“Fell… Emm.. Karena kita masih berstatus sebagai tunangan… Bolehkah… Aku.. menciummu??”

Pertanyaan Raka benar-benar membuat Felly membulatkan matanya seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Perutnya seakan menegang, Aliran darahnya seakan terhenti saat itu juga karena keterkejutannya saat mendengar permintaan Raka.

Mencium?? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menciumnya dalam keadaan sadar?? Felly ingin menolaknya, tapi ia sendiri tak dapat memungkiri, jika dirinya juga ingin di cium oleh lelaki yang di cintainya dalam keadaan sadar sepenuhnya tanpa pengaruh obat apapun. Bolehkah ia menerima Raka untuk malam ini saja? Melupakan semua status rumit mereka dan menganggap Raka sebagai calon suaminya malam ini saja?? Dan akhirnya, Felly hanya mampu pasrah dan memejamkan matanya untuk menerima sentuhan lembut dari bibir Raka…

 

-to be continue-

jangan meleleh yaa… huaahahahha vote dan komen di tunggu lohh hehheheh

Advertisements

3 thoughts on “My Beloved Man – Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s