romantis

Passion Of Love – Chapter 10

Skkm

Sang Kupu-kupu malam

Banyak perbaikan di chapter ini dari versi Fansfic.. hahhaha

Chapter  10

 

Di sebuah  restoran, seorang wanita seorang wanita paruh baya sedang bercakap-cakap dengan seorang lelaki yang mengenakan setelan hitamnya. Itu adalah Wulaan, dengan seorang yang di bayarnya untuk menyelidiki tentang Fiona.

“Pokoknya saya mau tau apapun tentang wanita itu, entah asal-usulnya, atau apapun yang terjadi padanya hingga dia sampai tinggal dengan puteraku.”

Lelaki mengenakan setelan hitam itu mengaggukkan kepalanya. “Baiklah Nyonya.”

“Segera laporkan hasilnya, dan jangan sampai siapapun tau termasuk Ben.”

Lelaki itu kembali menganggukkan kepalanya.

Wulan mendesah dalam hati. Ben… Apa yang terjadi denganmu nak?? Apa wanitaa itu yang mempengaruhimu?? Apa wanita itu yang membuatmu jauh dari kami?? Pikir Wulan dalaam hati.

***

Ben berdiri menunduk dan mengetuk-ngetukkan sepatunya di sebelah mobil mewahnya. Malam ini hujan turun, Tapi Ben sudah seperti orang Gila menunggu seseorang ditengah-tengah hujan lebat seperti ini dengan sebuah payung yang melindungiya dari hujan.

Dingin.

Ya.. tentu saja, tapi Ben tak peduli, dan tak tau kenapa Ben  masih melakukannya, apa itu karena Fiona? Ben tak tau, tapi yang jelas malam ini ia ingin menjemputnya, padahal Fiona sudah melarangnya karena hujan sedang turun di malam ini. Tapi  Ben seakan tak ngin membiarkan wanita itu pulang sendiri. Apalagi setelah perkataannya dua hari yang lalu. Perkataan kasar yang seakan mengingatkan Fiona akan posisinya.

Bodoh!!! bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu pada Fiona? Wanita itu pasti sangat sakit hati dengan perkataannya.

Tiba-tiba Ben melihat Fiona keluar dari kafe tempat Fiona bekerja. Astaga… semakin hari Fiona semakin terlihat seksi di mata Ben.. Apa semua wanita hamil akan terlihat seperti itu? Atau apa ini hanya fikirannya saja? Ya, mengingat sejak Ben mengetahui kehamilan Fiona, Ben tak pernah menyentuh tubuh Fiona dalam tanda kutip. Entahlah, yang Ben rasakaan adalah takut menyakiti Fiona, karena Ben tau bagaimana dirinya ketika di atas ranjang.

Mungkin kini Ben terlalu rindu dengan Fiona. Ben pikir wanita hamil akan terlihat menjijikkan seperti kecebong, namun saat melihat Fionaa, Ben tak akan keberatan jika seluruh wanita di dunia ini hamil. Fiona benar-benar terlihat sangat menakjubkan.

Ben melihat Fiona berlari kearahnya. Hidung wanita itu terlihat merah, bibirnya sedikit biru, apa Fiona kedinginan??. Dan apa yang Fiona pikirkan? Wanita itu hanya mengenakan jaket biasa dan tak menggunakan mantel tebal. Apa wanita itu tidak takut kedinginan dan sakit karena hujan??  Pikir Ben ketika terpaku melihat penampilan Fiona yang sudah berdiri di hadapannya dengan payung mungil yang di bawa wanita tersebut.

Saat Ben terpaku melihat Fiona, tiba-tiba Ben merasakan tangan hangat wanita itu menyentuh pipinya.

“Ben.. apa yang kamu lakukan di sini? kamu bisa menungguku di dalam. Kamu akan mati kedinginnan jika terlalu lama berdiri disini.” Apa Fiona baru saja menghawatirkannya? benar-benar wanita bodoh.

“Tolong pegangkan payungku.” Ucap Ben dengan datar. Dan Fiona melakukan apa yang diperintahkan oleh Ben.

Ben kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya lalu ia menempelkannya pada kedua pipi Fiona. Fiona hanya menatap Ben dengan tatapan kosongnya. “Apa kamu nggak sadar, kamu yang kedinginan, hidungmu sudah merah.” Ucap Ben kemudian.

“Aku baru keluar, jadi aku tidak mungkin kedinginan.” Fiona mencoba mengelak.

Tanpa di duga, Ben lalu memeluk erat tubuh Fiona. Entah kenapa Ben ingin sekali memeluk tubuh yang terlihat rapuh di hadapannya tersebut. Setelah memeluknya Ben memandangi wajah Fiona lekat-lekat,  dan entah sejak kapan Ben sudah menempelkan bibirnya pada bibir dingin milik Fiona. Mereka berciuman dengan lembut dan intens, berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, di tengah-tengah hujan yang turun dengan deras dan hawa dingin malam tersebut.

Ben tak tau kenapa ia bisa berakhir mencium Fiona. Dan jujur saja, Ben tak pernah berciuman dengan seseorang selembut seperti saat ini, seakan-akan tak akan ada lagi hari esok, dan Ben tak ingin mengakhirinya.

Tiba-tiba Ben merasakan Fiona mendorong dadanya untuk mejauh, dan….

Haaiiisshhyymm..’

Ben tercengang, Apa Fiona baru saja bersin? Ben tak bisa menahan tawanya lagi, baru kali ini ada seorang wanita bersin setelah ia cium. Dan Fiona pun ikut tersenyum malu, pipi wanita itu terlihat memerah.. dan itu membuat Fiona terlihat semakin menggemaskan di mata Ben. ya, Ben sangat suka saat melihat wanita itu tersipu-sipu seperti saat ini.

“Lihat, kamu benar-benar kedinginan.” Ucap Ben yang masih setengah tersenyum.

Ben lalu membuka Jas yang sejak tadi menempel padaa tubuhnya, kemudian memakaikannya pada tubuh Fiona. Lagi-lagi Ben melihat Fiona terpaku menatapnya.

“Emm.. kamu nggak perlu…”

“Aku harus.” Ucap Ben singkat memotong kalimat Fiona.

“Tapi kamu akan kedinginan dengan hanya memakai kemeja ini.”

Ben tersenyum masam, Apa yang Fiona fikirkan?? Setelah mencium wanita itu tadi seluruh tubuh Ben bahkan terasa panas, mungkin Ben akan terbakar oleh gairah malam ini jika sampai rumah ia tak langsung mandi air dingin. Astaga.. Ben benar-benar menginginkan Fiona. Semua yang dibawah sana sudah menegang, apa wanita itu tak merasakannya saat Ben memeluknya tadi?? Ben benar-benar merindukan desahan-desahan dari Fiona saat berada di atas ranjang bersamanya.

Stop it  Ben.!! Sekarang bukan waktunya kau memikirkan hal-hal mesum itu, kau harus bisa mengendalikan perasaanmu sebelum kau terjatuh semakin dalam dan sebelum kau tersesat semakin jauh. Gerutu Ben pada dirinya sendiri.

Tapi sepertinya hal itu sudah benar-benar terjadi. Ben kini sudah terjatuh semakin dalam hingga tak bisa kembali lagi. Ahh sial!! Apa yang harus ia lakukan selanjutnya??

“Emmm aku rasa sebaiknya kita masuk ke dalam mobil kalau nggak mau kedinginan di sini.” Fiona menyadarkan Ben dari laamunannya.

“Baiklah.” Ucap Ben yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Fiona.

***

Di dalam mobil.

“Kita akan kemana?” Fiona bertanya, suara wanita itu lembut, dan itu mengingatkan Ben atas setiap desahan yang biasanya keluar dari bibir ranum Fiona saat mereka bercinta.

Cukup Ben, kenapa sampai kesitu lagi?

“Aku akan mengajakmu ke restoran Itali.. kamu pasti ingin makan pasta kan?” Pasta lagi.? Ya, Ben hanya tau jika makanan kesukaan Fiona adalah pasta. Dan hanya itu, Ben tak tau selebihnya karena selama ini yang di pikirkan Ben dari Fiona hanya satu, yaitu tubuh wanita tersebut. Sial!!

“Emmm aku nggak mau makan pasta.”

“Kenapa??”

“Aku nggak tau, mungkin aku merasa bosan, yang pasti aku nggak mau memakannya selama beberapa bulan kedepan.”

‘Hormon Kehamilan’

Ya, sekarang Ben tau kalau hamil sudah sedikit merubah kebiasaan Fiona. Fiona tak lagi suka pasta’ Ben harus ingat itu. “Lalu apa yang ingin kamu makan malam ini?”

“Entah lah…Ku pikir aku merindukan sup tulang kambing buatan tante Fani.”

“Apa?? Sup tulang kambing??” Sial! Kenapa harus itu? mendengar namanya saja Ben ingin muntah.

“Aku tau, kamu pasti nggak suka makanan seperti itu, apa lagi memakannya di sana. Emm… lebih baik kita pulang saja, aku bisa membuat makanan sederhana yang lainnya.”

“Tidak, Kita akan ke restoran tempat tante Fanimu itu.” Ucap Ben singkat. Dan Fiona tersenyum, apa ada yang salah? Apa kini ia terlihat lucu bagi wanita itu? “Kenapa tersenyum??” Tanya Ben kemudian.

“Ben, kita nggak akan ke restoran. Tante Fani tidak sekaya yang kamu pikirkan.”

“Apa maksudmu? lalu kita akan kemana?”

“Apa kamu yakin mau mengantarku kesana?”

“Tentu saja,,” Demi kamu dan anakku.. Lanjut Ben dalam hati.

“Baiklah.. kamu hanya perlu jalan terus dan berhenti di depan sebuah kedai kecil sebelum perempatan kedua.”

“Apa? Kedai? maksudmu kita akan makan di sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan?” Ben memohon agar Fiona menjawab tidak.

“Ya.”

“Tidak, aku nggak akan  pernah makan di warung kecil di pinggir jalan. itu tidak higeinis, lagi pula ini dingin, kita akan membeku di sana.” Ben benar-benar tak mengerti arah fikir wanita di sebelahnya ini. Ia mengajak wanita itu ke restoran mewah, tapi wanita itu malah mengajaknya ke sebuah rumah makan kecil di pinggir jalan, yang benar saja.

“Ben.. Aku hanya ingin makan sup tulang buatan tante Fani, dan tante Fani hanya menjualnya di sana, tempatnya bersih dan hangat, walau tidak senyaman di restoran mewah, tapi aku yakin kamu mau duduk menemaniku di sana.” Ben hanya diam menatap lurus ke depan. “Tapi kalau kamu nggak mau nggak apa-apa, kita pulang saja.”

“Kita akan kesana.” Ucap ben cepat dengan ekspresi datarnya, Sial!! Ben benar-benar sudah tunduk di hadapan wanita tersebut.

“Beneran?? Aahhh terimakasih.” Fiona tersenyum lebar, dan Ben sangaat suka melihatnya tersenyum. “Emm tapi aku ingin satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Ice cream.”

“Apa? Fiona, ini sedang hujan, memakan ice cream saat dingin sepeti ini bisa membuatmu sakit.”

“Tapi aku benar-benar menginginkannya..” tanpa canggung lagi Fiona merengek dan Ben lagi-lagi tak bisa berkutik.

Hormon Kehamilan sialan.!!!

“Baiklah..” hanya itu yang bisa Ben katakana sembari menghela napas panjang.

“Aahh terimakasih Ben, malam ini kamu benar-benar baik..” Lalu tanpa di duga, bibir lembut milik Fiona mengecup singkat pipi Ben. Seketika itu juga tubuh Ben kaku, kejantananya menegang seketika hanya karena kecupan lembut yang di berikan Fiona di pipinya. Apa kini Ben sudah gila?? Bagaimana mungkin hanya karena kecupan di pipi ia bisa begitu bergairah seakan tak dapat di tahan lagi?? Sial!! Ben harus bisa mengendalikan pikirannya, kalau tidak, itu akan membuatnya jatuh semakin dalam hingga takdapat tertolong lagi.

***

Sesampainya di dalam kedai..

Bagi Ben,tempat itu memang tak sedingin yang ia bayangkan. Tapi tetap saja, baginya tempat itu benar-benar tak nyaman. Hanya ada sepetak ruangan dan dengan dua meja panjang. Di sana semua pembeli berbaur menjadi satu. Dan itu benar-benar membuat Ben tidak suka.

Kedai tante Fani ini ternyata sebenarnya hanya tempat minum bagi kalangan bawah. Sup tulang kambing yang di maksud Fiona sebenarnya hanya menu tambahan saja, karena nyatanya lebih banyak orang minum minuman memabukkan di sini dari pada memakan sup tulang kambing yang di maksudkan Fiona.

“Hai sayang.. Astaga.. lama sekali kamu nggak mampir ke sini.” Sapa wanta paruh baya yang tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Fiona.

“Aku sibuk tante..”

“Sibuk apa?? Dua bulan yang lalu, aku ke tempat kerjamu, membawakan sup tulang kesukaanmu, tapi kata Jonas, kamu sudah keluar. Apa yang terjadi?? Bahkan di kontrakanmu pun sudah di tempati orang lain.” Ucap tante Fani sambil sedikit meirik ke arah Ben.

“Emm.. aku memang sudah behenti bekerja di sana.”

“Ya, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Marsha, dan dia menceritakan semua tetang keadaan kalian. Apa dia lelaki itu??” tanya tante Fani secara terang-terangan.

“Ahh ya tante, ini Ben, orang yang sudah menebusku dari Mr. Jonas.”

“Ahh.. lelaki yang tampan.” Gumam tante Fani sambil mengamati penampilan Ben. “Dan sepertinya… dia sekelas dengan Evan.” Lanjutnya lagi membuat Ben mengangkat sebelah alisnya.

“Tante..” dengan cepat Fiona memanggil tante Fani. Ia berharap jika tante Fani tak banyak cerita lagi tentang Evan.

“Oke, baiklah, tante tinggal sebentar. Akan tante siapkan Sup yang enak untukmu.” Ucap tante Fani sembari meninggalkan Fiona dan Ben.

“Siapa Evan??” Tanya Ben secara langsung.

“Emm kamu penasaran dengan dia??”

“Jawab saja siapa lelaki itu?”

“Emm dia hanya salah satu pelangganku.”

“Kenapa tante Fani mengenalnya??”

“Aku sering mengajaknya ke sini.” Ucap Fiona cepat.

“Hanya itu??”

“Ya.”

Ben kemudian menganggukan kepalanya. “Jadi, dari mana kamu kenal tante Fani??”

“Emmm.. waktu itu aku pulang dari kerja, mungkin sekitar jam empat pagi. Dengan setengah mabuk tentunya. Dan di jalan, ada segerombolan anak muda yang menggangguku. Aku hampir saja di perkosa oleh mereka jika tante Fani tak berada di sana.”

Ben menatap wajah Fiona, ia seakan menilai apa yang di rasakan wanita itu saat ini. “Kamu nggak canggung sedikitpun saat bercerita tentang masa lalumu??”

Fiona tersenyum masam. “Untuk apa aku canggung? Aku memang seorang wanita bayaran Ben, kamu tau itu dan aku tak perlu menutupi semua itu darimu.”

Ben menanggukkan kepalanya. “Mr. Jonas berkata jika kamu memiliki banyak hutang. Tapi ku pikir kehidupanmu masih saja kekurangan. Apa yang kamu lakukan terhadap uang-uang hasil menghutang dari tua bangka sialan itu??”

“Aku tidak tau. Yang ku tau aku hanya di jual oleh orang tua angkatku kepada seorang renternir lalu aku di paksa ke rumah bordir milik Mr. Jonas. Dan satu tahun setelahnya, aku baru tau jika aku memiliki banyak sekali hutang dengan dia.” Fiona menjelaskan dengan ekspresi sedihnya. “Kamu sendiri, kenapa bisa menebusku? Setauku, Mr. Jonas tak pernah melepaskan aku, berapapun tebusan yang di berikan orang tersebut.”

“Sudah pernah ada yang menebusmu sebelumnya?”

Fiona menganggukkan kepalanya. “Kak Angga pernah melakukannya, dan di tolak mentah-mentah oleh Mr. Jonas. Begitupun dengan beberapa pelanggan setiaku.”

“Kamu punya pelanggan setia?”

Fiona tersenyum. “Kenapa? Kamu cemburu?? Aku memiliki pelanggan setia, tapi tentu berbeda denganmu.”

Kali ini Ben yang tersenyum mendengar ucapan Fiona. “Aku memiliki sesuatu yang Mr. Jonas inginkan. Dan itu cukup untuk menebusmu.”

“Apa itu??”

“Kamu nggak perlu tau.”

“Ayolah Ben, aku hanya ingin tau hargaku.” Rengek Fiona.

“Sebuah Hotel.” Jawaban Ben membuat Fiona membulatkan matanya seketika.

“Ben.. aku tidak semahal itu.” Ucap Fiona masih tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ben.

“Mungkin, tapi Mr. Jonas benar-benar menginginkan Hotel yang berada tepat di sebelah Club malam miliknya yang lain. Dan kebetulan, Hotel itu milikku.”

Fiona menggelengkan kepalanya masih tak percaya. “Kamu gila. Astaga… Aku benar-benar tidak menyangka.”

Ben menyunggingkan senyuman miringnya. “Lupakan saja, yang penting aku puas dengan apa yang ku beli.”

“Ben..” Panggil Fiona. Fiona ingin bertanya tapi entah kenapa ada sedikit rasa takut untuk menanyakan pertanyaan tersebut. “Emm.. Apa ada kemungkinan jika kamu akan melepaskanku nantinya?” tanya Fiona dengan hati-hati.

Ben menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. “Aku tidak yakin. Aku adalah orang yang gampang bosan, tapi untuk saat ini, aku belum pernah berpikir akan melepaskanmu.”

“Emm… bagaimana jika aku ingin pergi??”

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Ucap Ben penuh penekanan.

Percakapan mereka kemudian terpotong oleh kedatangan tante Fani yang membawakan mereka sebuah nampan berisi satu porsi sup tulang dengan beberapa botol minuman.

“Emm.. tante, aku hanya menginginkan supnya.” Ucap Fiona cepat. Ia tentu tak mungkin meminum minuman yang di bawakan oleh tante Fani. Minuman itu adalah berbagai macam jenis arak. Dan tentunya wanita hamil seperti dirinya tidak di perbolehkan meminum minuman tersebut.

“Ya, aku sudah tau semuanya dari Marsha. Sup ini buat mu. Dan araknya untuk Ben, dia tak akan menolak ajakanku untuk minum kan??”

Ben mengernyit. Kedatangannya ke tempat ini sebenarnya hanya untuk mengantar Fiona, bukan untuk makan atau minum-minuman memabukkan. Lagi pula ia tak pernah meminum minuman seperti arak yang di bawa oleh tante Fani.

“Maaf, saya tidak pernah meminumnya.”

“Ayolah, jangan jadi pengecut. Ini hanya arak jawa, kamu nggak akan maabuk hanya karena sekali tenggak.” Ucap Tante Fani dengan seringaiannya.

Ben kemudian menganggukkan kepalanya. Biarlah, tak ada salahnya bukan jika ia meminum arak tersebut?? akhirnya Ben meraih gelas mungil yang di dalamnya sudah di tuangkan arak. Kemudian Ben menegaknya hingga tandas.

Rasanya sama dengan minuman beralkohol yang biasa ia minum. Hanya saja, rasanya lebih tajam, dan terasa begitu membakar di tenggorokannya hingga membuat Ben mengerutkan keningnya.

“Kenapa?? Kamu nggak suka??” Tanya Fiona sedikit khwatir.

“Rasanya aneh, baru kali ini aku mencobanya.”

“Hahhaaha inilah Winenya orang miskin seperti kami Ben.” Ucap tante Fani.

“Kamu sering meminumnya??” Tanya Ben pada Fiona kemudian.

“Ya, tentu saja. Aku sering ke sini dan meminumnya hingga mabuk. Kamu tentu tau kalau aku tidak akan mampu membeli minuman beralkohol yang ada di tempat kerjaku.”

Ben mengangguk. “Tapi ini tidak terlalu buruk.” Ucap Ben sambil kembali menuang minuman tersebut ke dalam gelasnya kemudian menegaknya kembali.

“Ya, aku bahkan sangat suka. Sayang, aku nggak bisa meminumnya saat ini.” Ucap Fiona yang kembali memakan sup di hadapannya.

“Tentu saja, arak tidak baik untuk kehamilan.” Ucap tante Fani dengan spontan

Perkataan tante Fani itu sontak membuat Ben membatu tak bergerak sedikitpun. Matanya melirik ke arah Fiona. Fiona pun demikian. Wanita itu terlihat shock dengan aapa yang di katakan tante Fani.

Dengan spontan Fiona memeluk perutnya sendiri. Bagaimana jika Ben tau keadaannya?? Bagaimana jika kemudian Ben memaksanya untuk menggugurkan bayi yang sedang di kandungnya?? Astaga… kenapa juga tante Fani bisa mengucapkan kalimat tersebut di saat seperti ini??

 

-to be continue-

Semoga masih ada yang mau menunggu cerita ini.. hueehehhehe

Advertisements

7 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s