romantis

My Beloved Man- Chapter 3

mb1

My Brother

Maaf yaa baru Up.. tadi nggak sempat,, heheheh happy reading, semoga suka.. hahahha

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati. 

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

***

 

Chapter 3

 

Raka menatap wajah wanita yang kini sedang berada dalam pelukannya. Wanita tersebut terlihat damai dalam tidurnya, terlihat begitu cantik dan mempesona. Tapi bagaimana ekspresi wanita itu nanti?? Akankah wanita itu akan marah terhadapnya?? Mengingat itu, Raka kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly yang masih polos di balik selimut.

Pergerakan Raka yang begitu posesif akhirnya membuat Felly sedikit terusik dalam tidurnya. Sedikit demi sedikit Felly membuka matanya, mencari-cari kesadarannya. Hingga kemudian matanya mengerjap saat ia mendapati sepasang mata yang sedang mengawasi pergerakannya dengan jarak hanya beberapa senti dari wajahnya.

“Kak Raka?” Ucapnya sembali membuka matanya lebar-lebar.

“Hai..” Hanya itu yang dapat di ucapkan Raka. Raka bahkan mengucapkannya dengan pelan karena gugup. Bagaimana tidak, mereka kini masih dalam keadaan polos dan berada di atas ranjang yang sama, di bawah selimut yang sama dengan kulit yang saling menempel satu sama lain karena berpelukan.

“Kak Raka kok…” Felly tak dapat melanjutkkan kalimatnya ketika ia baru menyadari jika kini tubuhnya sedang berada dalam pelukan Raka. Wajah Felly memucat seketika saat sadar jika tubuh mereka dalam keadaan polos di bawah selimut yang sama.

Dengan cepat Felly menjauhkan diri dari tubuh Raka sembari menyilangkan kedua lengannya pada dada telanjangnya.

“Apa yang sudah kita lakukan??” Tanya Felly masih dengan raut wajah shocknya.

“Tenang.. Kakak bisa jelasin.” Ucap Raka menenangkan Felly sambil mendekat, tapi kemudian Felly kembali menjauh dengan gerakan menahan tubuh Raka dengan sebelah tangannya agar lelaki itu tak mendekat lagi.

“Jangan..” Ucap Felly dengan spontan sambil mengangkat sebelah tangannya. Kilasan-kilasan kejadian tadi malam menari-nari dalam ingatan Felly, bagaikan kolase indah yang entah kenapa membuatnya menjadi semakin malu berada di hadapan Raka.

Tadi malam Felly tidak mabuk, tentu saja ia dapat mengingat semuanya saat ini. Yang ia rasakan tadi malam hanyalah gairah, seakan-akan gairah tersebut menguasai tubuhnya dan menjauhkan dari kewarasannya. Felly hanya ingin di puaskan, dan kini Felly mengingat dengan jelas bagaimana kejadian tadi malam. Saat ia menggoda Raka, saat ia mencium lelaki itu secara membabi buta, saat ia bersikap liar di atas ranjang, bahkan saat ia menginginkan tubuh Raka lagi dan lagi seperti seorang wanita jalang yang butuh sentuhan lelaki.

Astaga… Felly benar-benar malu ketika mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami dengan Raka tadi malam. Raka bahkan tak berhenti mengucapkan kata maaf seakan menyesal telah melakukan hal tersebut padanya. Kenapa?? Apa karena Raka sudah merasa menghianati kekasihnya???

Dengan gusar Felly menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Felly mulai menangis kencang sambil sesekali berteriak.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku?? Kenapa??”

Kamu?? Ini pertama kalinya Felly memanggil Raka dengan sebutan ‘kamu’. Raka terpaku seketika saat mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Felly dalam tangisnya. Ia hanya ternganga ketika melihat wanita yang di cintainya  terlihat begitu hancur. “Aku minta maaf, aku hanya…”

“Cukup..” Teriak Felly.

Raka masih tercengang dengan kemarahan yang di tampilkan oleh Felly. Ia benar-benar tak menyangka jika Felly akan semarah ini padanya. Dengan cepat ia merengkuh tubuh Felly dalam pelukannya, kemudian memeluk tubuh wanita itu erat-erat.

“Lepaskan aku… Lepaskan aku..” Felly meronta dalam pelukan Raka.

“Please.. Maafkan aku..”

“Aku membencimu… Aku benar-benar membencimu…” ucap Felly masih dengan menangis dalam pelukan Raka sesekali memukul-mukul dada lelaki tersebut.

‘Bencilah aku, tapi jangan menjauhiku..’ Ucap Raka dalah hati. Raka semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Felly. Ia tidak ingin wanita itu pergi menjauhinya.

“Maafkan aku… Maafkan aku..” lagi-lagi hanya kata itu yang dapat Raka ucapkan di hadapan  Felly.

***

Di dalam mobil, Raka benar-benar tak tau harus berbuat apa. Tadi setelah menangis histeris, Felly kemudian mengurung diri di dalam kamar mandi hotel selama lebih dari satu jam lamanya, dan Raka hanya bisa menunggu dengan dada yang terasa sesak.

Raka tak pernah melihat Felly seterpukul ini. Felly pasti kini sangat membenci dirinya. Lalu apa selanjutnya?? Apa ia akan menyerah begitu saja??

“Emm… kita cari makan dulu ya..” Ucap Raka memecah keheningan.

Felly masih saja menatap jauh ke luar jendela. Ia seakan tak ingin menatap ke arah Raka. Entah apa yang di rasakannya saat ini. Malu?? Ya, Felly merasa sangat malu. Bagaimana mungkin tadi malam dirinya menjadi wanita penggoda untuk lelaki yang seharusnya ia anggap sebagai kakaknya tersebut??

“Fell..” panggil Raka lagi kali ini sambil menggenggam telapak tangan Felly yang sejak tadi berada di atas pangkuan wanita tersebut.

Dengan spontan Felly melepaskan genggaman tangan Raka. Entahlah apa yang di rasakan Felly saat ini. Yang pasti ia ingin sekali segera sampai di rumah, menenggelamkan diri di balik bantal-bantalnya, dan tentunya sedikit menjauhi lelaki yang kini berada di dekatnya.

***

Sampai di rumah Felly, Raka masih saja mengikuti wanita yang berjalan tepat di hadapannya. Wanita itu ternyata langsung menuju ke arah kamarnya, bahkan kertika melewati ruang tengah yang di sana ada Dara duduk santai, Felly bahkan seakan tak ingin menyapa mamanya tersebut.

“Felly, baru pulang??” Tanya Dara, tapi puterinya tersebut masih berjalan cepat menaiki anak tannga.

Dara mengernyit, ia tak pernah melihat puterinya tersebut berperilaku seperti itu.

“Permisi tante.” Sapa Raka pada Dara masih dengan melangkah mengikuti Felly.

“Apa yang terjadi Raka??” Tanya Dara yang sudah berdiri heran melihat tingkah laku keduanya.

Dara sebenarnya sudah tau jika tadi malam Felly keluar bersama Raka. Saat lewat dari jam sebelas malam dan Felly belum pulang, Dara lantas ke rumah Raka yang berada tepat di seberang rumahnya. Bertanya dengan ibu Raka, tapi ibu Raka sendiri tak tau di mana Raka dan Felly malam itu berada. Akhirnya ibu Raka mencoba menghubungi Raka, dan baru satu jam setelahnya, Raka menghubungi mereka dan berkata jika semua baik-baik saja dan mungkin mereka akan pulang pagi.

Sebenarnya Dara khawatir, tapi karena Dara tahu jika Felly bersama Raka, maka kekhawatiran itu sedikit memudar. Revan, Suaminya juga berkata jika tak perlu di khawatirkan kalau Felly keluar dengan Raka.

Ya, Raka memang terlihat sangat baik di mata Dara dan Revan. Pemuda itu tak banyak bicara, sopan, dan tentunya tak pernah melakukan hal buruk untuk keluarga mereka. Dan itu membuat Dara dan Revan menyayangi pemuda itu seperti anak mereka sendiri.

Suatu hari, Dara bahkan pernah menyeletukkan ide supaya Felly dan Raka di jodohkan saja, supaya ikatan keluarga mereka semakin erat. Namun nyatanya ibu Raka berkata lain. Ibu Raka sudah cukup merasa bahagia di anggap sebagai kerabat dekat keluarga Revano. Dan ibu Raka meras sangat tidak pantas menyandingkan puteranya dengan puteri keluarga Revano.

Begitupun dengan Revan, Suaminya itu menolak ide dari Dara tersebut. Revan hanya takut jika suatu saat nanti rahasia mereka terbongkar dan itu akan berimbas buruk pada kehidupan Felly. Rahasia tentang kepergian ayah Raka…. Revan tak ingin puterinya menderita karena ulahnya.

Dara melihat Felly membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di hadapan Raka, sedangkan lelaki itu hanya mematung menatap pintu yang di tutup tepat di hadapannya.

“Fell.. jangan seperti ini.” Suara lirih Raka memaksa dara melangkahkan kaki mendekat ke arah lelaki dewasa yang sudah seperti puteranya tersebut.

“Ada apa Ka??”

Raka menatap ke arah Dara. Ia benar-benar tak tau harus berkata apa.

“Ada yang kamu sembunyikan dari saya??” Tanya Dara lagi.

Tanpa di duga Raka kemudian menggenggam kedua telapak Dara. “Tante, saya minta maaf. Maafkan saya.” Ucap Raka yang kemudian membuat Dara bingung.

“Maaf?? Maaf untuk apa??” Tanya Dara dengan raut bingungnya.

Raka tak tahu harus berkata apa dengan Dara. Raka tak mungkin berkata jika ia minta maaf karena sudah bercinta dengan puteri wanita tersebut.

Bukannya menjawab, Raka malah mengucapkan janji pada Dara. “Saya janji, saya akan bertanggung jawab dan saya akan menikahi Felly. Saya janji tante.”

Mendengar ucapan Raka tersebut, Dara sontak menarik kedua belah tangannya yang di genggam Revan lalu membungkam mulutnya sembari memulatkan kedua bola matanya. Dara jelas tau apa maksud Raka. Itu tandanya jika Raka sudah membuat puterinya tak suci lagi. Bagaimana ini?? Bagaimana jika Suaminya tau?? Bagaimana jika puterinya hamil???

***

Sorenya..

Setelah pulang dari kantor, Raka lantas menuju ke sebuah toko perhiasan. Memilih-milih sepasang cincin pernikahan. Tekatnya sudah bulat. apapun yang terjadi, entah Felly hamil atau tidak, ia akan tetap menikahi wanita tersebut.

Di lihatnya sepasang cincin putih sederhana tanpa mata berlian satupun.

“Saya ingin melihat yang ini.” Ucap Raka sambil menunjuk cincin tersebut pada wanita si penjaga toko.

“Ini terlalu sederhana Mas, apa pacar mas nanti mau??” ucap Si penjaga toko tersebut.

“Calon istri saya orang yang sederhana. Lagi pula saya tidak mampu membeli yang lebih mahal lagi.”

Si penjaga toko tersebut tersenyum malu. Di lihatnya penampilan Raka dengan kemeja putih sederhananya. Entah kenapa wallau terlihat sederhana tapi aura yang berada di sekitar Raka seakan membuat siapapun yang berada di dekatnya terpesona.

Si penjaga toko tersebut mengeluarkan cincin tersebut. Kemudian memberinya pada Raka. “Kebanyakan wanita ingin memiliki cincin pernikahan yang indah bahkan banyak berliannya.”

Raka tersenyum. “Calon istri saya tidak seperti itu.”

“Kenapa bisa berbeda??”

“Karena dia sudah memiliki semua yang dia inginkan. Saya yakin, dia tidak akan menginginkan berlian dan yang lainnya.”

“Wahh calon istrinya manis sekali..”

Raka kembali menyunggingkan senyuman lembutnya. “Saya mau yang ini, tolong di bungkus.”

“Baik, mohon tunggu sebentar.” Ucap si penjaga toko sambil membawa cincin pesanan Raka untuk di bungkus.

Raka kemudian terpaku. Pikirannya menerawang. ‘Felly, semoga saja kamu mau menerima kak Raka..’ Lirihnya dalam hati.

***

Raka kini duduk dalam gelisah menunggu kehadiran Revan di ruang tamu keluarga Revano. Entah kenapa ia merasa sangat gugup. Padahal hampir setiap hari ia bertamu ke rumah keluarga Revano, tapi baru kali ini ia merasa segugup ini, apa karena niatnya??

Tak lama, orang yang di tunggunya tersebut akhirnya datang juga, “Malam Raka, tumben kamu mencari saya??”

Raka kemudian melirik ke arah Dara yang ikut duduk tepat di sebelah Revan. Mungkin tante Dara belum memberi tahu Om Revan tentang apa yang terjadi. Pikir Raka saat itu.

“Emm.. itu Om..”

“Ada masalah??”

Raka menarik napas panjang kemudian memberanikan diri mengucapkan keinginannya. “Saya ingin melamar puteri Om menjadi istri saya.” Ucap Raka dengan tegas.

Revan terlihat tak percaya dengan apa yang di katakana Raka. “Melamar?? Kenapa tiba-tiba? Raka, Kamu sudah seperti putera saya sendiri. Dan Felly juga sudah menganggapmu sebagai kakaknya.”

“Tapi tidak dengan saya Om.” Ucap Raka dengan cepat.  “Saya melihat Felly sebagai wanita yang saya inginkan untuk menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya nanti.” Raka melanjutkan kalimatnya yang tampak begitu berani.

Revan membulatkan matanya seketika. Revan jelas tau dan mengerti perkataan Raka. Itu tandanya jika pemuda di hadapannya tersebut nyatanya sudah jatuh cinta pada puterinya.

“Kamu yakin?? Maksud saya, Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui Raka, dan saya tidak ingin setelah kamu mengetahuinya, kamu akan berubah pikiran dan menyakiti hati puteri saya.”

“Apapun yang terjadi, saya tidak akan merubah pikiran. Saya tetap akan menjadi suami yang baik untuk Felly.”

Revan kemudian melirik ke arah Dara. Revan tak dapat menjawab apapun karena ia juga tak mengerti kenapa bisa rumit seperti ini. Tadi, sepulang dari kantor, Dara sebenarnya sudah menceritakan semuanya pada Revan, hanya saja, Revan berusaha bersikap tenang dan datar di hadapan Raka. Revan ingin melihat seberapa berani lelaki yang secara tak langsung sudah ia didik selama ini.

“Nak Raka, naiklah ke atas. Felly belum juga keluar dari tadi pagi.”

Raka mengangguk cepat, kemudian berdiri menuju ke arah tangga.

“Raka.” Panggilan Revan membuat Raka menghentikan langkahya.

Raka menoleh ke arah Revan yang sudah berdiri menghadap ke arahnya. “Iya, Om?”

“Saya merestui, tapi kamu harus janji satu hal bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan puteri saya.”

Raka tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. “Saya janji Om, saya akan menjaga Felly seperti saya menjaga ibu dan adik saya sendiri.”

Raka hanya melihat Revan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamar Felly.

***

Raka membuka pintu kamar Felly, kemudian sedikit menyunggingkan senyumannya ketika menyadari jika kamar tersebut tak lagi di kunci seperti tadi pagi. Ia kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar tersebut.

Kamar itu hanya menyisakan sebuah lampu tidur kicil hingga membuat ruangan tersebut remang-remang. Raka melangkah mendekati ranjang, di mana ada Felly meringkuk di sana. Ia kemudian melirik ke arah meja kecil di sebelah ranjang Felly. Di sana masih ada nampan namun dengan sisa-sisa makanan. Rupanya Felly sudah memakan makan malamnya dan itu membuat Raka lega.

“Fell..” panggil Raka. “Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu.”

“Aku ngantuk.” Jawab Felly dengan ketus.

Raka tersenyum. Felly memang tak pernah bisa marah terlalu lama padanya. Terbukti saat ini wanita itu sudah mau berbicara padanya walau dengan nada ketus.

“Ayolah, ini sangat penting, dan harus di katakan sekarang sebelum aku menjadi pengecut dan keberanianku menghilang.”

Felly masih saja tak ingin bangun. Wanita itu malah menarik selimutnya untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya. Melihat itu Raka lagi-lagi tersenyum. Felly benar-benar seperti seorang adik yang sedang merajuk pada kakaknya. Akankah sampai nanti Felly bersikap seperti itu padanya??

“Fell.. Aku ingin menikah denganmu.”

Perkataan Raka ang secara tiba-tiba itu membuat Felly terbangun seketika.

“Menikah??” Tanya Felly sembari menatap Raka dengan tatapan terkejutnya.

Raka menganggukkan kepalanya. “Aku sudah melamarmu di hadapan om Revan, dan beliau merestuinya.”

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku nggak mau. Aku nggak mau menikah hanya karena kita sudah melakukan seks.”

“Aku ingin bertanggung jawab Fell.”

“Aku tau kak Raka orang yang bertanggung jawab. Tapi tak ada yang terjadi padaku. Aku bahkan tidak hamil.”

“Belum.” Ralat Raka.

“Kenapa kak Raka yakin sekali kalau aku akan hamil?? Satu kali hubungan seks belum tentu bisa membuat wanita hamil.”

“Kita melakukannya berkali-kali malam itu.”

“Cukup.” Felly menutup kedua telinganya. Ia benar-benar sangat malu ketika mengingat malam tersebut. Tentu saja mereka melakukan lagi dan lagi karena entah kenapa malam itu Felly seakan ingin lagi dan lagi.

“Fell.. aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”

“Tapi aku nggak bisa menikah dengan orang yang tidak ku cintai dan tidak mencintaiku.”

“Apa artinya sebuah cinta untuk pernikahan?? Seberapa banyak perceraian terjadi dengan pasangan yang sama-sama saling cinta saat menikah?? Dan seberapa banyak pula pasangan yang sudah menua bersama padahal mereka dulunya tak saling cinta saat menikah?? Kita tidak bisa melihat masa depan hanya dengan cinta?? Rumah tangga bukan hanya berpondasikan Cinta, yang terpenting aku menyayangimu dan aku akan menjagamu sampai nanti, sampai kita menua bersama, apa itu kurang???”

Felly tercenung mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Raka. Astaga.. ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan lelaki tersebut.

“Tapi aku ingin menikah dengan orang yang ku cintai dan mencintaiku..” Rengek Felly.

‘Aku mencintaimu…’ Ucap Raka dalam hati.

“Nanti, aku akan mencintaimu sebagai istriku.” Ucap Raka kemudian.

Felly tetap saja menggelengkan kepalanya. “Enggak, aku tetap nggak mau. Aku nggak hamil dan aku baik-baik saja, jadi kita lupakan malam itu.”

“Aku ingin tanggung jawab Fell..”

“Tidak ada yang perlu di pertanggung jawabkan.” Felly berkata dengan cepat. Felly kemudian berpaling ke arah lain lalu kembali berbicara dengan pelan. “Kita punya kehidupan masing-masing kak, Kak Raka punya Kirana, dan aku punya Jason. Jadi kita tidak bisa bersama.” Lirih Felly.

“Lalu apa mau kamu sekarang??”

“Kita jalani hidup masing-masing seperti biasa.”

“Kalau kamu hamil??”

“Aku nggak akan hamil.” Jawab Felly cepat.

Raka menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan menuruti apapun mau kamu. Tapi saat nanti aku mendapati kamu hamil karena kemarin malam, maka aku akan menikahimu, dengan atau tanpa persetujuanmu.”

Felly menganggukkan kepalanya. Ia pasrah, tentu saja. Satu hal yang ia inginkan saat ini. Semoga saja ia tidak akan hamil karena insiden kemarin malam. Karena Felly benar-benar tak ingin menikah dengan Raka hanya karena sebuah kecelakaan semalam.

“Jadi, kita baikan??” Tanya Raka kemudian.

Lagi-lagi Felly hanya mampu menganggukkan kepalanya. Lalu tanpa di duga Raka merengkuh tubuh Felly ke dalam pelukannya.

“Aku takut Fell..”

“Takut apa??”

“Takut kamu marah dan menjauhiku..” Lirih Raka. “Maafkan aku…” ucap Raka lagi sembari mengecup lembut puncak kepala Felly.

“Aku nggak akan bisa marah terlalu lama dengan kak Raka, lagian aku juga salah.”

Raka kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Felly. “Berikan tanganmu.” Ucap Raka kemudian.

Felly mengulurkan telapak tangannya pada Raka. “Untuk apa??”

Raka kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata di dalamnya berisi sepasang cincin pernikahan. Dan itu membuat felly membulatkan matanya seketika.

“Kak.. ini….”

“Dengar, karena semua belum pasti, entah nanti kamu hamil atau tidak, maka dalam beberapa bulan kedepan, kamu tetap menjadi calon istriku.”

“Tapi ini nggak adil, Jason akan bertanya tentang cincin ini.”

“Aku juga memakainya, dan aku tidak keberatan jika Kirana bertanya.”

“Kak..”

“Please…  Aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku janji, jika dalam beberapa bulan ke depan tak terjadi apapun pada kamu, kamu bisa melepaskan cincin ini.”

Felly kemudian menatap Raka dengan tatapan tak terbacanya. “Baiklah.” Ucapnya kemudian. Akhirnya Raka memasangkan cincin di jari manis Felly, begitupun dengan Felly yang memasangkan cincin di jari manis Raka.

Raka kemudian menatap Wajah Felly, menelusuri wajah tersebut. “Mata kamu bengkak.” Ucap Raka dengan sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Ya, aku tidak berhenti menangis tadi.”

Raka kemudian kembali menelusuri wajah Felly dengan tatapannya. Tatapan mata Raka terpaku pada bibir ranum milik Felly. Bibir yang kemarin malam tak berhenti ia cumbu. Bibir yang astaga.. benar-benar sangat menggoda untuk di sentuh.

Raka menelan ludahnya dengan susah payah, kemudian mempalingkan wajahnya. “Aku pulang dulu, sudah malam.” Ucap Raka kemudian dengan suara serak tertahan. Kemudian Raka berdiri dan bersiap pergi dari kamar Felly.

“Kak..” Panggil Felly. Tanpa di duga, Felly memeluk tubuh Raka erat-erat. “Terimakasih. Karena kak Raka sudah mau menjadi kakakku.” Ucapnya kemudian.

Raka hanya menganggukkan kepalanya. ‘Jika aku boleh memilih, aku tak pernah ingin menjadi kakakmu. Karena aku hanya ingin menjadi suamimu…’ Ucap Raka dalam hati.

 

-to be continue-

Vote dan komen di tunggu yaa… sedikit info, setelah ini nggak akan ada updetan lagi yaa sampek minggu karena lebaran hehhehehe udah itu aja.. 

Advertisements

5 thoughts on “My Beloved Man- Chapter 3

  1. mereka mau bahagia tapi papanya felly menyimpan rahasia kematian ayahnya raka
    takutnya nanti setelah menikah malahan raka nyakitin felly

    Like

  2. Kak raka .. paksa aja felly nikah.huh felly kmu ngegeregetinnn 😠..duh hamil gx nyaa felly.gimana jason . Next . Ditunggu y k .
    #SREMANGATT 👏👏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s