romantis

Passion Of Love – Chapter 9

SkkmSang Kupu-Kupu Malam

 

Chapter 9

                        

Fiona merasakan matanya berat untuk terbuka, akhir-akhir ini ia memang senang sekali tidur dan bermalas-malasan, mungkin karena kehamilannya yang membuatnya cepat lelah. Untung saja Fiona hanya mual-mual biasa dan tak sampai muntah parah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya, jadi Fiona bisa dengan gampangnya menyembunyikan kondisi kehamilanya dari orang-orang di sekitarnya.

Fiona merasakan lengan kekar yang masih memeluknya dengan posesif mulai meninggalkannya dan meraba-raba kulit halusnya. Kemudian Fiona merasakan sesuatu yang basah menyentuh lehernya, membuatnya merinding hampir saja berjingkat karena terkejut.

“Ben..” Fiona mengerang masih dengan menutup mata.

“Hemmbb…” Hanya itu balasan dari Ben.

“Aku masih ingin tidur, jangan lakukan itu lagi..”

“Aku sangat menyukai lehermu..” Ucap Ben masih dengan mengecupi leher Fiona, “Bangun pemalas… kamu mau tidur sampai kapan?” Ucapnya lagi.

“Aku masih ngantuk..”

“Sudah hampir jam 9 siang..”

Mata Fiona seketika terbuka lebar, sontak Fiona terduduk, “Apa? Kenapa kamu nggak membangunkanku?”

Ben pun ikut bangun dan duduk di sebelah Fiona. “Aku sudah membangunkanmu sejak tadi, tapi kamu terlihat kelelahan, Apa yang terjadi? apa kamu sakit? apa mau ke dokter?” Tanya Ben dengan penuh kekhawatiran.

“Ti.. Tidak.. aku baik-baik saja.” Jawab Fiona dengan tergagap-gagap.

“Apa kamu yakin?” tanya Ben lagi.

“Iya… aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Lalu Fiona mulai berdiri dan akan bergegas ke dapur tapi kemudian tangan Ben sudah meraih pergelangan tangan Fiona dan menariknya ke dalam pelukan .

“Aku sudah membuat masakan.” Ucap Ben sambil menatap lembut pada Fiona.

“Apa? Emmm tapi… bukankah seharusnya kamu sudah berangkat kerja sekarang?”

“Mulai saat ini aku akan berangkat jam satu siang setelah mengantarmu kerja di kafe.” Ben lalu mencium kening Fiona. Dan menggosok-gosokkan hidungnya ke hidung Fiona.

“Kenapa..??” Tanya Fiona sedikit heran dengan sikap Ben

“Aku pemilik perusahaan, jadi terserah kapan saja aku masuk, semua terserah padaku.”

“Tapi…”

“Tak ada tapi, sekarang cepat mandilah dan kita sarapan..” Ben memotong kalimat Fiona. Namun sebelum Fiona bangun Ben sudah terlebih dulu menciumnya, Fiona hanya mampu terperangah menerima ciuman dari Ben. Apa Ben memberinya Morning Kiss? Apa yang terjadi dengan lelaki itu? Fiona bertanya-tanya dalam hati.

***

 

Ben benar-benar sudah tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. apa lagi saat melihat Fiona. Pagi ini Fiona terlihat sangat seksi di mata Ben, padahal Fiona baru bangun tidur dan lagi-lagi hanya mengenakan T-shrit kebesaran milik Ben. Tapi ketika Ben melihatnya, Ben tak dapat menahan Rasa untuk mencumbui Fiona tanpa henti. Apa matanya sudah rabun? Kenapa bisa jantungnya berdetak seakan mau meledak hanya karena melihat Fiona baru bangun tidur? Ben merasa jika dirinya Benar-benar sudah gila.

“Bagaimana rasanya?” Pagi ini Ben memasak pasta untuk Fiona karena Ben tau jika Fiona sangat suka dengan pasta. Tapi kelihatannya pastanya hari ini agak berbeda, Ben melihat Fiona makan sesuap lalu wanita itu hanya membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, apa ada yang salah dengan pastanya pagi ini? “Apa tidak enak?” Ben tak dapat menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

“Maafkan aku..” Fiona berdiri, kemudian lari kedalam kamar mandi. Ben akhirnya mengikuti Fiona dari belakang, dan sesampainya di kamar mandi Ben melihat Fiona memuntahkan semua pasta buatannya.

Morning Sickness

Apakah itu yang sedang di alami Fiona..? apa separah itu,,? Atau apa memang karena pasta buatannya tak enak…? Ben kemudian mendekat ke arah Fiona, ia mengusap-usap punggung Fiona dengan lembut. Fiona kini terlihat pucat, dan entah kenapa Ben tak bisa melihat wanita itu kesakitan seperti  sekarang ini.

“Apa kamu baik-baik saja? apa mau ke dokter?”  Ben bertanya pada Fiona ketika wanita itu sudah baikan.

“Tidak.. ini tidak perlu..” Ucap Fiona dengan kekeras kepalaannya.

“Kamu mau sesuatu?”

Fiona menatap Ben dengan tatapan anehnya, “Apa kamu akan menuruti semua kemauanku?” Fiona bertanya balik.

“Jika tidak macam-macam tentu saja aku akan menurutinya.” Jawab Ben sambil mengecup lembut telapak taangan Fiona. Ben memaang sangat menyukai aroma yang keluar dari kulit lembut Fiona.

“Entahlah… Aku hanya ingin sesuatu yang manis dan dingin.”

“Kamu mau jus? Akan kubuatkan.” Ben akan bergegas membuatkan Jus untuk Fiona namun Fiona menarik lengan atas Ben dengan telapak tangan mungilnya.

“Ben… bu.. bukan itu..” Ucap Fiona dengn sedikit terpatah-patah.

“Lalu?”

“Emmm.. Aku ingin.. Sesuatu yang seperti…. Ice cream..”

“Apa?” saking kagetnya Ben tak sadar jika ia sudah sedikit membentak Fiona. “Kamu ingin makan Ice Cream?”

“Aku hanya ingin memakan itu sekarang.” Fiona mulai merengek. Dan sejak kapan Fiona berani merengek padaku??

“Tapi ini masih pagi, kemana aku harus mencarinya?” Fiona melepaskan lengan Ben seketika, kemudian wanita itu berjalan menjauh.

Oh Shit..!!!, Ben melihat mata Fiona yang sedikit berkaca-kaca, wanita itu pasti akan menangis, dan Ben benci sekali melihat wanita menangis. Ada apa dengan Fiona? Kenapa wanita itu berubah menjadi semanja ini dengannya? satu-satunya yang bisa di salahkan adalah  Hormon Kehamilan. Sedikit banyak Ben pernah mendengar tentang itu.

Ben kemudian meraih tangan Fiona lalu memeluknya kembali tubuh yang terlihat rapuh itu di hadapannya. “Baiklah… akan kucarikan ice cream untukmu.” Ucap Ben dengan sedikit melembutkan nada bicaranya sambil sedikit mengecup puncak kepala Fiona.

“Benarkah..?” tanya Fiona dengan mata berbinar menatap ke arah Ben.

“Hemm..” hanya itu yang dapat di ucapkan Ben sambil menganggukan kepalanya. Sialan. Dia sudah dapat mempengaruhiku, menyuruhku, mungkin sebentar lagi aku akan jadi budaknya. Bodoh,, Lelaki dewasa yang Bodoh!!! Ben mengumpat dirinya sendiri dalam hati.

***

Senang.

Itulah yang di rasakan Fiona pagi ini. Bibir Fiona bahkan tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Kenapa? apa karena sikap Ben yang aneh pagi ini? Ya, seperti itulah… Ben bersikap sangat manis terhadapnya pagi ini, dan itu membuat Fiona begitu senang.

Sebenarnya Fiona sedikit khawatir kalau Ben akan curiga dengan keadaannya saat ini. Dimulai dengan Morning Sickness pagi ini yang sukses membuat Ben menyebut kata ‘Dokter’dan membuat dirinya gelisah setengah mati. Fiona benar-benar belum siap memberi tahu Ben tentang kehamilannya saat ini.

Belum lagi masalah Hormon Kehamilan yang makin hari makin sulit untuk Fiona kendalikan. Jujur saja, Fiona bukan seorang penggila Ice Cream, tapi sejak beberapa minggu yang lalu Fiona mulai ingin memakannya kapanpun, dimanapun dirinya berada. Apa ini keinginan dari bayinya? Entah lah..

Fiona kini juga sangat ingin selalu bermesra-mesraan dengan Ben, untung saja pada dasarnya Benlah yang mengajaknya bermesraan terlebih dahulu sehingga Fiona dapat menutupi keinginannya untuk menyentuh Ben penuh dengan hasrat.

Kebiasaan buruk yang terakhir saat Fiona hamil adalah setiap malam ia sangat ingin memcium telapak tangan Ben dan menaruh telapak tangaan besar itu di pipinya, Fiona akan susah untuk tidur bahkan bermimpi buruk jika ia tak melakukan itu. Jadi sebisa mungkin Fiona melakukan kebiasaan buruknya itu saat Ben sudah tidur terlelap.

Fiona tak tau apa yang akan ia lakukan jika Ben sudah bosan terhadapnya dan akan meninggalkannya suatu hari nanti. Memikirkannya saja membuat Fiona ingin menangis. Dan astaga… satu lagi pengaruh buruk dari “Hormon Kehamilan”  yang kini ia rasakan adalah, Fiona sangat mudah sekali menangis. Emosinya jadi semakin labil. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, Fiona pasti akan berkaca-kaca dan langsung menangis. Sungguh kekanak-kanakan.

Tiba-tiba Fiona mendengar bunyi bel dari pintu depan, apakah itu Ben yang sudah pulang dari mencari ice crem? Lalu kenapa dia tidak langsung masuk? Fiona kemudian membuka pintu tanpa melihat pada layar siapa yang berada di depan pintu. Setelah Fiona membuka pintu terebut, Fiona sedikit heran karena yang ia lihat adalah seorang wanita paruh baya yang cantik dan rapi sedang memandanginya dengan tatapan menyelidiki.

Reflek Fiona menganggukkan kepalanya dengan sopan sambil berkata “Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Fiona pada wanita itu. tapi wanita paruh baya tersbut masih saja memandanginya dengan tatapan yang tak biasa, dan itu membuat Fiona sedikit resah. apa ada yang salah dengan pakaian yang ia kenakan? Dan Fiona baru sadar jika kini ia hanya mengenakan T-shirt lengan panjang kebesaran milik Ben yang panjangnya mencapai lututnya, dengan bawahan sebuah hotpant  yang tentunya tertutup T-shirt terebut dan membuat Fiona terlihat tak mengenakan bawahan apapun.

Sejak hamil, Fiona memang suka sekali menghirup aroma tubuh Ben -kecuali parfum yang biasa dia kenakan kekantor- jadi Fiona sering mengenakan kaos T-shirt kebesaran milik Ben. Itu membuatnya nyaman, lagi pula, Ben juga tak marah saat ia mengenakan baju-baju tersebut..

“Apa Kau tinggal di sini?” wanita itu berbalik bertanya.

“I.. Iya.. saya..”

“Apa Ben ada di rumah?” wanita itu memotong jawaban Fiona.

“Emm.. dia sedang keluar sebentar.”

Lalu tiba-tiba wanita itu menyerobot masuk kedalam, Fiona hanya bisa melihatnya dengan heran. Siapa Wanita itu? apa dia orang Ibu dari Ben..?

Lalu tiba-tiba dia menuju ke kamar Ben–kamar mereka berdua-. Membukanya dan melihat seluruh isinya.

“Apa kalian tidur bersama?” Wanita itu bertanya sambil menatap tajam ke araah Fiona. Dan kini Fiona tau jika orang di hadapannya tersebut adalah ibu dari Ben

“Emmm… kami.. kami…” Fiona tak tau harus bagaimana menjelaskan pada wanita tersebut.

“Apa Kau tau kalau  Ben sudah bertunangan, dan dia akan menikah dalam waktu dekat? Berhenti menggoda anak saya.” perkataan itu membuat Fiona ternganga. Fiona merasa seperti ada belati yang menusuk tepat di jantungnya. Matanya kini terasa pedih. Dan ia kini sudah berkaca-kaca.

“Emm… saya.. saya..” suara Fiona bergetar, dan Fiona sepertinya akan menangis saat ini juga.

“Toko ice cream belum buka, jadi Aku hanya membelikanmu ice cream biasa di supermarket, kuharap ini…” Ben datang, dan ia tak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat Fiona dan ibunya diam membatu di depan kamar mereka. “Ibu? apa yang ibu lakukan di sini?” Ben bertanya sedikit tersendat-sendat. Ben lalu menatap ke arah Fiona dan Fiona hanya mampu menundukkan kepalanya.

“Aku hanya mencari anakku, kenapa jam segini dia belum ada di kantor seperti biasanya.” Ucap Wulan dengan nada sinis menyindirnya.

“Ibu, aku berangkat siang.”

“Kenapa? Apa karena wanita ini?”

“Dia tidak ada hubungannya dengan masalahku ibu..” Ben berusaha untuk membela Fiona. Dan Fiona tau, semarah apapun,  dari cara bicaranya, Ben sangat menghormati orang tuanya.

“Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu.” Kata ibu Ben, lalu mengajak Ben duduk.

Sedangkan Fiona lebih memilih meninggalkan keduanya menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk ibu Ben. Dan lagi-lagi Fiona menangis di sana. Ben akan menikah,,? Lalu apa yang harus ia lakukan nanti? Apa ia dapat hidup tanpa kehadiran lelaki tersebut nantinya??

***

 

“Apa yang terjadi padamu nak?” Wulan membelai lembut punggung Ben. “Bicaralah pada ibu” Lanjutnya.

“Ibu? Apa yang Ibu lakukan di sini?” Ben kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti pertanyaannya tadi.

“Sejak pulang dari sini, Sheila tak mau keluar dari kamarnya, Amel berkata semua itu karena Sheila melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Apa dia wanita yang di maksud Amel? Apa kalian tinggal bersama?” Wulan menodong puteranya tersebut dengan berbagai macam pertanyaan yang mengganggu di benaknya.

“Fiona, namanya Fiona, Bu.”

“Aku tak peduli siapa namanya. Aku hanya ingin tau kebenarannya.” Wulan mendesak.

“Iya.. kami tinggal bersama.” Akhirnya mau tak mau Ben mengakui kebenarannya.

“Ben. Apa kamu sadar jika yang  kamu lakukan ini salah.? Kamu akan menikahi Sheila, dalam waktu dekat, Jadi kamu harus meninggalkan wanita itu..”  Dan kini Wulan sudah mulai marah denga puteranya tersebut.

“Tidak Bu, Ibu bisa memaksaku menikah dengan siapapun, tapi tidak dengan Sheila.” Jawab Ben dengan rahang yang sudah mengeras.

“Sebenarnya Apa yang terjadi denganmu? Sejak  lima tahun yang lalu kamu sudah berubah menjadi lebih tertutup, dan kamu sama sekali tak mau di sangkut pautkan dengan Sheila lagi, apa yang terjadi Ben..??” Ibunya bingung.

Yahh… sebenarnya Ben tak pernah menceritakan kejadian lima tahun yang lalu dengan siapapun. Bahkan Sheila sendiripun tak tau jika Ben sudah mengetahui belangnya saat wanita itu tinggal di New York.  Jadi tingkah laku Ben yang berubah membuat keluarganya bingung, mengapa Ben jadi seperti itu, berubah menjadi dingin dan jarang sekali kumpul bersama keluarga apalagi setelah tinggal sendiri di apartemennyaa.

“Ibu.. aku sudah tak ada hubungan apapun dengan Sheila. Jadi tolong hormati keputusanku.”

“Kenapa..? apa ini ada hubungannya dengan wanita penggoda itu..?”

“Fiona.. Sekali lagi namanya Fiona, dan dia bukan waanita penggoda” Ben Meralat ucapan ibunya.

“Terserah siapa itu.” Wulan sudah mulai jengkel dengan sikap yang di tunjukkan Ben. Dan pada saat itu Fiona datang membawakan minuman untuk Ben dan ibunya. “Sebenarnya apa hubunganmu dengan putraku..?” Wulan akhirnya tak kuasa untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menari-nari di kepalanya.

“Kami… emm.. kami…” lagi-lagi Fiona tak dapat menjawab pertanyaan dari ibu Ben.

“Dia teman kencanku.” Jawab Ben yang kini  sudah mulai jengkel dengan keberadaan ibunya.

“Terserah apa katamu, yang penting Kau tetap akan menikah dengan Sheila.” Ucap Wulan tanpa mau di bantah sedikitpun. Lalu ia berjalan menuju pintu untuk keluar meninggalkan Ben dan juga Fiona.

Ben hanya terdiam, tapi Fiona kemudian ikut berlari menyusul Wulan. “Ibu… Ibu.. tunggu…” Panggil Fiona. Dan saat mereka ssudah di luar pintu apartemen Ben, langkah Wulan terhenti kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Fiona yang sudah menyusulnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ucap Wulan dengan nada ketusnya paada Fiona saat menyadari jika Fiona mengikutinya.

“Maafkan kami Bu.. kami tak bermaksud…”

“Saya tau” Potong Wulan. Kemudian Wulan mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam tasnya kemudian menuiskan ssesuatu di sana. “Sabtu Sore, temui saya di sini.” Ucapnya sambil memberi Fiona kertas tersebut.

“Saya??” Ucap Fiona sambil menerima kertas tersebut.

“Ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Wulan lagi masih dengan nada yang di buat seketus mungkin.

“Baa.. baik Bu..” hanya itu yang bisa di katakana Fiona.

Wulan kemudian meninggaalkan Fiona yang masih membatu menatap kepergiannya tak jauh dari pintu apaartemen Ben. Tak lama, Fiona memutukan untuk kembali masuk ke dalam apartemen Ben. Tapi sesampainya di dalam, Fiona mendapatkan tatapan tajam membunuh dari seorang Benny Andrean.

“Apa yang kamu bicarakan dengannya?” Desis Ben dengan raahang yang sudah mengeras. Fiona tau jika Ben kini sedang marah.

“Tidak… aku hanya..”

“Perlu kamu ingat, kamu nggak perlu memiliki urusan apapun dengan keluargaku.” Ben Memotong kalimat Fiona.

“Ben…”

“Fiona. Harunya kamu sadar dengan posisimu.” Ucap Ben dengan spontan karena kemarahan yang sudah mengakar di kepalanya.

Fiona menatap Ben dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, seakan ada sesuaatu yaang tersendat di tenggorokannya.

“Aku tau Ben, Aku tau siapa Aku.” Ucap Fiona kemudian.

Tentu Fiona tau, bukankah ia hanya sebuah alat untuk memuaskan lelaki tersebut? Astaga.. bagaimana mungkin Fiona bisa lupa diri jika dirinya hanyalah seorang pelacur murahan yang beruntung karena di pungut Ben dari tempat terkutuk tersebut. mengingat itu, ada Fiona kembali sesak.

Ben menghela napas panjang, ia tau jika ia salah bicara. Tapi bagaaimana lagi, ia cukup kesal dengan semua masalah dengan Sheila, ibunya, ataupun dengan Fiona. Dan Ben tak ingin jika Fiona terlibat dalam masalahnya dan juga keluarganya.

“Aku tak ingin berdebat denganmu.” Lalu Ben pergi masuk kedalam kamar begitu saja dan meninggalkan Fiona sendirian terpaku menatap keperginnya.

***

Sorenya…

“APA?? apa katamu?” hampir saja Marsha menyemburkan minumannya Saat ia tau apa yang dikatakan Fiona sore itu di kafe tempat Fiona bekerja.

“Iyaa,,, Aku Hamil.” Dan akhirnya Fiona benaar-benar mengaku pada Marsha.

“Apa kamu sudah gila? Kenapa bisa sampai hamil?? Apa Ben sudah tau keadaanmu??” tanyanya lagi.

Fiona menggeleng. “Dia tidak tahu, dan aku tak berniat memberi tahunya.”

“Apa???” dan Marsha pun berteriak dengan kagetnya.

“Kak… apa tidak bisa kak Marsha tenang dan tidak berteriak-teriak seperti ini…?”

“Apa kamu benar-benar sudah gila..? Dasar gadis bodoh!! harusnya kamu memberi tahu keadaanmu pada Ben.”

“Tidak.. tidak akan..”

“Hei…”

“Kak. Ben tidak akan suka, mungkin dia akan menyuruhku untuk menggugurkan bayi ini, atau lebih buruk lagi, dia akan meninggalkanku seperti…..” Fiona menggantung kalimatnya karena tak ingin mengingatkan kejadian pahit yang menimpa Marsha saat di tinggal pergi keksihnya sat marsha hamil.

“Fiona, Aku tau jika Ben tidak sebrengsek itu.”

Fiona menggelengkan keplanyaa cepat. “Kita tidak mengenalnya kak, kita tak tau apaa yang pernah terjadi padanya, jadi jangan menyimpulkan sesuatu yang belum kita ketahui pastinya.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Cepat atau lambat dia akan tau keadaanmu?”

“Entah lah kak… aku hanya berharap dia mau melepaskanku dalam waktu dekat ini.”

“Apa kamu siap berpisah dengannya.?” Tanya Marsha penuh selidik.

“Aku… Aku tak tau… tapi untuk saat ini aku benar-benar tak bisa jauh darinya, dia sudah berubah.” Jawab Fiona sambil menundukkan kepalanya.

“Kamu cinta sama Ben?” tanya Marsha dengan hati-hati.

Tiba-tiba Fiona menangis sesenggukan. “Aku rasa begitu kak…”

“Astaga..” lalu Marsha memeluk Fiona dan menepuk-nepuk punggung Fiona. “Tak apa-apa.. Mencintai orang tidaklah salah. Kamu tidak bersalah..” ucapnya lagi menenangkan Fiona.

Sedangkan Fiona hanya bisa menggangguk pasrah. “Aku harus bagaimana?? Aku harus bagaimana kak..??” Tanyanya lagi masih dengan sesenggukan. Marsha sendiri hanya mampu diam membatu, karena ia juga bingung dan tak tau apa yang harus di lakukan Fiona selanjutnya.

 

-To Be Continue-

Advertisements

4 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 9

  1. Kenapa sih ben gak jujur aja ke ibunya tentang sheila yg udah selingkuh dibelakangnya..jadi khan biar ibunya gak salah paham dan gak menuduh fiona gak enggak-enggak…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s