romantis

My Beloved Man – Chapter 2

mb1

My Brother

Kak Raka udah hadir Dear.. maaf kalo nggak sesuai dengan harapan kalian yakk ceritanya.. hahahhahaha

“Kalian sangat dekat ya..” Lirih Kirana.

“Tentu saja, dia adikku.”  Ucap Raka penuh penegasan.

Dan entah kenapa itu membuat Felly semakin menundukkan kepalanya. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapannya?? Apa felly tak suka jika ia mengaggapnya sebagai adik?? Pikir Raka kemudian sambil mengamati sosok cantik yang berdiri di hadapannya.

*** 

 

Chapter 2

 

“Jadi.. Dia..” Felly membuka suara karena tak nyaman dengan keadaan di sekitarnya yang hening.

Saat ini ia sudah berada di dalam mobilnya dengan Raka yang mengemudi di sebelahnya. Sejak tadi mereka berdua diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, suasana canggung tercipta begitu saja ketika keduanya saling berdiam diri.

“Dia kenapa?”

“Emm.. Kirana, Pacarnya kak Raka??”

“Sebut saja begitu.”Jawaban Raka benar-benar tak memuaskan untuk Felly. Astaga.. Apa tidak bisa lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan jawaban iya atau tidak??

“Dia cantik, pantas sekali bersanding dengan kak Raka.”

“Aku tidak mencari wanita cantik.”

“Lalu, apa yang kak Raka cari??”

“Wanita yang mencintaiku dan mau menjadi ibu dari anak-anakku.” Meski di ucapkan dengan nada datar seperti biasanya, entah kenapa Felly merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya.

“Emm. memangnya kak Raka belum menemukan wanita itu??”

“Belum.”

“Emmm.. kalau aku adalah wanita itu, apa kak Raka mau menikahiku??”

Tubuh Raka menegang seketika. Dengan spontan ia bahkan menginjak pedal rem membuat mobil yang mereka kendarai berhenti seketika. Raka menatap tajak ke arah Felly. Hanya beberapa detik keduanya saling melemparkan tatapan aneh masing-masing, hingga kemudian Felly kembali mencairkan suasana dengan tertawa lebar.

“Apa yang kamu tertawakan??”

“Kak Raka lucu.. Hahahha, aku kan cuma bercanda.” Ucap Felly dengan tertawa lebar.

“Nggak lucu.” Ucap Raka dengan datar, kemudian kembali menjalankan mobilnya. “Jika wanita itu kamu, maka aku akan menikahimu.”

Dan jawaban Raka tersebut mampu membuat jangtung Felly berdegup tak beraturan. Astaga, kenapa juga tadi ia menanyakan kalimat tersebut??

***

Akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju. Sebuah Club mewah untuk kalangan atas, dan sepertinya club tersebut memang sudah di sewa oleh Jason dan teman-temannya, karena ketika mereka masuk ke dalam, suasana ramai dan sesak sudah memenuhi ruangan.

Tanpa canggung lagi Felly menarik sebelah tangan Raka untuk mengikutinya. Mereka masuk dan berkeliling mencari keberadaan Jason.

“Tempat ini nggak bagus untuk kamu.” Raka berkomentar masih dengan nada datarnya.

“Maka dari itu aku ngajak kak Raka kesini, supaya kak Raka menjagaku.”

“Kenapa tidak meminta Jason yang menjagamu?”

Felly kemudian menatap ke arah Raka. “Karena aku nggak pernah merasa aman dan nyaman dengan lelaki lain selain Kak Raka.”

Keduanya kemudian saling pandang cukup lama dengan kediaman masing-masing. Hingga kemudian kedatangan Jason menyadarkan keduanya.

“Baru sampai sayang??” sapa Jason yang langsung memeluk tubuh Felly tanpa canggung sedikitpun. Jason bahkan tak segan-segan mengecup singkat bibir Felly.

Felly sendiri mencoba melirik ke arah Raka, berharap jika lelaki itu menampakkan ekspresi kerasnya atau ekspresi lainnya, namun nyatanya, Felly hanya mampu menelan kekecewaan. Raka masih sama, berekspresi datar seakaan tak ada apapun yang mengusik hatinya.

“Kalau gitu aku tinggal dulu.” Ucap Raka dengan datar.

“Kak Raka mau kemana?”

“Aku cari minum dulu.” Dan tanpa permisi Raka pun pergi meninggalkan Felly dan juga Jason.

“Kenapa? Kamu kecewa dengan reaksinya?” tanya Jason dengan nada sinisnya.

“Lupakan saja.” Hanya itu jawaban Felly. Felly kemudian pergi dengan rasa kesal di hatinya, sedangkan Jason hanya mampu mengikuti kemanapun perginya wanita yang benar-benar di cintainya tersebut.

***

Raka menatap minuman di hadapannya, ia kemudian melirik ke arah bartender di hadapannya yang sejak tadi menatapnya.

“Maaf, tapi saya tidak memesan ini.” Ucap Raka dengan bartender tersebut.

“Di sini hanya ada minuman seperti itu.”

Raka sedikit menyunggingkan senyumannya. “Saya tidak pernah minum-minuman beralkohol.”

“Tapi untuk malam ini, di sini tidak ada minuman tanpa alkohol.” Jawab Bartender tersebut.

Raka menghela napas panjang. Sepertinya malam ini ia tidak akan minum. Tapi, bagaimana dengan Felly?? Ahhh Felly pastinya bisa menjaga diri supaya tidak minum-minuman seperti itu, pikirnya.

Saat Raka santai dalam duduknya, tiba-tiba saja ada dua orang wanita duduk di kursi sebelahnya sambil memesan minuman pada bartender tersebut. dua orang wanita itu tampak saling terkekeh satu sama lain sambil sesekali bercerita.

“Biar aja, biar mampus tuh si Felly.” Ucap seorang wanita dengan rambut pendeknya. Tubuh Raka menegang seketika ketika nama Felly di sebut. Memang nama Felly bukan hanya satu, tapi tetap saja Raka khawatir jika yang di bicarakan wanita-wanita itu adalah Felly yang ia maksud.

“Iya say, Astaga.. Gayanya sok alim banget. Nanti kalau dia sudah minum itu minuman, Gue jamin, si Jason bakalan jijik sama dia.” Ucap wanita yang lainnya.

Saat ini, Raka hampir memastikan jika Felly yang di maksud wanita-wanita itu adalah Fellynya.

“Memangnya lo kasih berapa tadi dosisnya?”

“Satu bungkus penuh. Hahahah.” Jawab wanita itu sembari terkekeh.

“Gila lo. Kalau segitu, Jason aja nggak akan mungkin bisa memuaskannya. Hahahahha.”

“Biar aja, biar Jason tau kalau Felly itu nggak sepolos yang di lihat. Hahhaha.”

Dan setelah ucapan wanita itu, Raka akhirnya segera berdiri dan bergegas mencari di mana keberadaan Felly dan Jason. Dari percakapan wanita-wanita tadi sudah jelas jika wanita-wanita tadi memiliki niat buruk pada Felly dengan mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Felly. Ahh semoga saja Felly belum meminum minuman yang di maksudkan tersebut.

***

Felly merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Tiba-tiba ia merasa gerah, padahal tadi ia tak merasa sepanas saat ini.

Felly memutuskan meminum-minuman di hadapannya hingga tandas, sedangkan Jason sendiri hanya menatap Felly dengan tatapan anehnya.

“Ada apa?” Tanya Jason sedikit bingung dengan sikap Felly, wajah Felly bahkan tampak merona.

Felly menggelengkan kepalanya. “Enggak, kayaknya ruangan ini panas banget.”

“Oh ya?? Perasaan kamu aja mungkin..”

Tapi kemudian tanpa di duga, Felly malah membuka lapisan luar gaun yang di kenakannya. “Iya, ini panas.” Ucapnya sambil berdiri dan bersiap keluar dari ruang tersebut.

Dengan cepat Jason berdiri lalu meraih sebelah tangan Felly dan menariknya hingga kemudian Felly terduduk di atas pangkuanya.

Felly menatap Jason dengan tatapan anehnya sedangkan Jason sendiri tampak asing dengan sikap Felly. Felly terlihat aneh, wanita itu kini bahkan sudah meraba halus pipinya.

“Fell.. kamu nggak apa-apa kan??” tanya Jason kemudian ketika ia sedikit tak nyaman dengan tingkah Felly.

“Kamu tampan.” Ucap Felly masih dengan menelusuri wajah Jason dengan jari jemarinya.

“Kamu aneh.” Hanya itu jawaban dari Jason, karena tak di pungkiri kalau kini ia mulai tergoda dengan sosok Felly.

Tanpa di duga, Felly mendaratkan bibirnya pada bibir Jason, mencium Jason dengan ciuman penuh gairah. Jason sendiri benar-benar tersentak dengan apa yang di lakukan Felly. Setaunya, Felly bukan tipe wanita seperti saat ini.

Jason mengenal Felly beberapa tahun yang lalu saat ia mengunjungi sebuah Pub dengan teman-temannya. Di sana ia bertemu dengan Felly yang ternyata adalah teman salah satu waiters di Pub tersebut.

Meski mereka kenal dari tempat seperti Pub, tapi Jason tahu jika Felly bukanlah gadis malam. Wanita itu adalah wanita baik-baik. Bahkan dari cara berpakaiannya pun Jason tahu.

Mereka kemudian saling berhubungan lewat telepon dan sosial media. Jason bahkan sering mengunjungi Felly ke toko ice cream dan cake milik Felly. Kemudian tak tahu kapan persisnya, Jason mulai memendam perasaan untuk Felly. Ia pikir wanita itupun demikian mengingat ia sama sekali tak pernah mendapat penolakan. Akhirnya Jason menyatakan cintanya pada Felly, tapi nyatanya, wanita itu menolaknya.

Felly beralasan jika ia mencintai lelaki lain. Dan dari cara Felly bercerita, Jason tahu jika lelaki itu adalah Raka, Kakak angkatnya. Hubungan merekapun akhirnya menjadi rumit saat itu, tapi kemudian Jason dengan setia mendekati Felly lagi dan lagi hingga kini hubungan mereka sudah jauh membaik bahkan kini bisa di bilang jika mereka sudah seperti orang yang sedang pacaran. Jason tahu jika Felly dekat dengannya hanya untuk membuat kakak angkatnya itu cemburu, tapi Jason cukup senang jika hal itu membuat dirinya dekat dengan Felly.

Tapi saat ini, Wanita yang berada diatas pangkuannya ini bukan seperti wanita yang di kenalnya dulu. Felly terlihat seperti wanita penggoda, wanita liar yang haus akan sentuhan. Tapi bagaimanapun keadaan Felly, Jason tentu tak dapat menolak wanita tersebut.

Jason membalas ciuman yang di berikan oleh Felly. Ia bahkan memberanikan diri menjalankan telapak tangannya pada tubuh Felly. Felly tampak tak menolak, wanita itu bahkan sesekali mengerang dalam cumbuannya dan itu membuat Jason semakin menggila. Kejantanannya kini bahkan menegang seketika. Ia menginginkan Felly saat ini juga.

Tapi belum juga Jason memperdalam ciumannya, sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuh Felly. Menjauhkan wanita itu dari pangkuannya. Dan belum sempat Jason sadar, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya. Membuat tubuhnya jatuh terjungkal di atas lantai.

“Brengsek..!!!” ucap lelaki itu yang Jason tau adalah Raka, Kakak angkat Felly. Raka tak langsung pergi, lelaki itu malah memukulinya lagi dan lagi hingga kemudian beberapa orang menarik tubuh Raka menjauh darinya.

Raka menatap Jason dengan tatapan membunuhnya. Kemudian tanpa banyak bicara lagi ia menarik tangan Felly dan mengajak wanita itu pergi dari tempat tersebut.

***

Raka mencengkeram erat kemudi mobil yang di kendarainya. Sesekali ia melirik ke arah Felly yang benar-benar sudah berubah. Wanita itu tak berhenti menggeliat kesana kemari, bahkan sesekali Felly mendesah dan itu benar-benar membuat Raka frustasi.

Raka menghentikan mobilnya, di tatapnya kulit Felly yang memerah. Mata wanita tersebut bahkan terlihat berkabut.

“Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Raka dengan lembut sambil mengusap pipi Felly dengan jemarinya.

“Aku.. Panas…” Ucap Felly dengan sedikit mengerang.

“Aku harus gimana??” Ucap Raka pada dirinya sendiri. Raka memejamkan matanya dengan frustasi. Ia kemudian meraih sebelah tangan Felly dan mengecupnya lembut. “Maafkan aku.” Ucapnya. Kemudian Raka kembali mengemudikan mobilnya. Bukan ke arah pulang, tapi ke arah hotel terdekat.

***

Dengan memerah Raka menerima kunci kamar hotel dari resepsionis. Bukannya apa-apa, tapi ini memang pertama kalinya Raka membawa seorang wanita menginap di sebuah Hotel, apa lagi jika mengingat rencananya malam ini, Jantung Raka tak bisa berhenti berdegup kencang.

Malam ini Rencananya ia akan memiliki tubuh felly seutuhnya. Bukan tanpa alasan, selain karena ia tidak ingin melihat Felly kesakitan seperti saat ini, ia juga ingin mengikat diri Felly supaya menjadi miliknya seutuhnya.

Raka menatap Felly dengan tatapan sendunya. ‘Maafkan kak Raka… Mungkin setelah malam ini kamu akan membenci kak Raka, tapi kak Raka melakukan semua ini karena Kak Raka mencintaimu, tak bisa jauh darimu, ingin memilikimu dan mengikatmu menjadi milik kak Raka.’ Lirih Raka dalam hati ketia ia menatap Felly saat berada di dalam sebuah lift.

Lift akhirnya berhenti di lantai kamar yang di pesan oleh Raka. Mereka keluar dari Lift dan mencari kamar dengan nomor 202. Setelah ketemu, dengan gugup Raka masuk bersama dengan Felly yang sejak tadi memang sudah bergelayut dalam lengannya.

Setelah masuk dan menutup pintu, dengan gugup Raka menatap ke arah Felly, menelusuri tubuh wanita itu dengan tatapan matanya. Raka benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan karena ia pun baru pertama kali melakukannya.

Tapi tanpa di duga tiba-tiba saja Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka dan itu benar-benar membuat Raka sedikit terkejut. Tubuh Raka menegang seketika saat bibir mungil milik Felly menyapu bibirnya. Raka hanya dapat membatu, tubuhnya seakan kaku mendapat perlakuan tersebut dari Felly, wanita yang sangat di cintainya.

Felly melumat bibirnya penuh gairah, wanita itu juga tak segan-segan lagi mengacak-acak tatanan rambut Raka dengan jemarinya. Felly kini bahkan bergerak menggesekkan pinggulnya tepat pada kejantanan Raka dan itu membuat Raka semakin menegang.

Dengan spontan Raka membalas ciuman Felly dengan ciuman lembutnya. Tangan Raka kini bahkan sudah menarik tubuh Felly hingga menempel seutuhnya pada tubuhnya. Astaga.. Raka bahkan tak pernah membayangkan jika ia akan melakukan hal ini terhadap Felly. Ia sangat mencintai Felly dan juga sangat menghormati wanita tersebut, tapi kini ia tak bisa menutup mata jika dirinya juga ingin memiliki Felly seutuhnya.

“Maafkan aku..” Ucap Raka ketika melucuti satu persatu kain yang menempel pada tubuh Felly hingga wanita tersebut polos tanpa sehelai benang pun.

Dengan cekatan Felly bahkan membantu Raka membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh lelaki tersebut. Felly tak berhenti menggerakkan tubuhnya menggoda Raka, menggeliat kesana kemari seakan ingin di sentuh.

Setelah keduanya sudah sama-sama polos. Felly kembali menempelkan tubuhnya pada tubuh Raka, sedangkan Raka masih dengan kekakuannya mencoba menyentuh tubuh Felly. Lagi-lagi Felly mengalungkan lengannya pada leher Raka, ia kemudian berjinjit seakan mencoba menggapai bibir lelaki tersebut. Raka yang melihatnya hanya mampu tersenyum, Felly benar-benar  menggoda, dan Raka mengaku jika kini dirinya sudah tergoda dengan tingkah Felly.

Raka menundukkan kepalanya hingga wajahnya mendekat tepat pada wajah Felly. Ia kemudian berkata dengan lembut di sana.

“Maafkan aku..” hanya itu yang di ucapkan Raka.

“Kenapa minta maaf?” Felly yang sudah setengah sadar dengan mata berkabutnya hanya mampu mengucapkan pertanyaan tersebut.

Raka mengusap lembut bibir milik Felly. “Bencilah aku setelah ini. Tapi ku mohon, jangan jauhi aku..” ucap Raka dengan parau kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Felly. Melumatnya lembut penuh gairah hingga Raka seakan dapat kehilangan kendali saat melumat bibir Felly.

Sedikit demi sedikit Raka mendorong tubuh Felly hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Felly sendiri semakin menggila ketika dirinya berada di bawah tindihan Raka. Ia kembali menggeliat kesana kemari sambi sesekali menempelkan pusat dirinya pada kejantanan Raka.

Pun dengan  Raka yang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi. Sesuatu di dalam dirinya seakan di bangunkan oleh Felly, sesuatu yang tentu saja bukan dirinya sendiri. Raka merasa sangat bergairah seakan tak dapat menahan hasrat yang selama ini mampu ia pendam. Kini ia bahkan sudah berani menggoda kedua puncak payudara milik Felly, menggodanya, memberi tanda di sana jika mereka adalah miliknya.

Felly mengerang, mendesah tak karuan  seakan ia ingin di puaskan saat ini juga ketika jari jemari Raka mulai menyentuh pusat dirinya, memainkannya sedangkan bibir Raka tak berhenti mengulum puncak payudaranya.

“Arrgghhh…” Erangan Felly benar-benar membangkitkan gairah Raka, dan Raka seakan sudah tak dapat menahannya lagi.

Raka memposisikan dirinya untuk menyatu dengan Felly, di lihatnya Felly yang seakan sudah tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Wanita itu masih tak berhenti menggeliat seakan ingin di sentuh dan di puaskan.

Berkali-kali Raka mencoba menyatukan diri tapi penghalang itu terasa sangat nyata. Kini Felly bahkan tak berhenti merintih karena tidak nyaman. Raka kembali membungkukkan tubuhnya kemudian melumat kembali bibir Felly, membuat wanita tersebut kembali rileks.

“Jangan tegang, aku nggak akan menyakitimu.” Ucap Raka dengan lembut. Raka kemudian kembali melumat bibir Felly lalu berbisik lagi di sana. “Maafkan aku… Maafkan aku..” Raka kembali mengucapkan kalimat tersebut sambil menghujamkan dirinya hingga menyatu sepenuhnya dengan tubuh Felly.

Fellypun mengerang kesakitan sedang Raka sendiri tak dapat berbuat banyak selain kembali mencumbu bibir ranum milik Felly sambil sesekali berucap dalam hati.

‘Maafkan aku… Maafkan aku…’

 

-To Be Continue-

Adakah yg masih mau nunggu cerita ini? huaahahahahah

Advertisements

3 thoughts on “My Beloved Man – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s