romantis

Missing Him – Chapter 4

MH-01

Missing Him

Chapter 4

“En.. please.. aku pengen ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Edo yang sudah menghadangku.

Ini sudah beberapa hari setelah pengakuannya padaku… Dan aku menghindarinya. Aku tidak ingin dia kembali membahas tentang hubungan kami.

“Lepasin Do. Aku mau pulang.”

“Biar aku yang antar.”

“Enggak, aku bisa pulang sendiri.” Jawabku dengan nada ketus.

“Please En.. jangan cuekin aku seperti ini. Jangan hindarin aku.” Lirihnya.

Aku menghela napas panjang. “Oke, tapi kamu harus janji kalau nggak akan bicara seperti itu lagi padaku.”

“Oke, aku janji.”  Dan akhirnya kami pun baikan.

Hubungan kami kembali seperti semula. Ibarat teman tapi mesra, ibarat sepasang kekasih tanpa status yang pasti. Gadis-gadis di sekolah kembali memusuhiku, dan gosip kami berpacaranpun kembali gencar di beritakan di kalangan anak-anak sekolah. Tapi aku tak ambil pusing. Yang terpenting adalah satu hal, Edo tak pernah lagi mengucapkan perasaan sukanya padaku. Dan itu membuatku tenang.

***

“Kenapa Dek..??” Tanya Mas Rangga padaku dengan sedikit berbisik.

“Ahh.. enggak.” Jawabku dengan sedikit tergagap.

“Wajahmu pucat. Kamu nggak enak badan??”

“Emmm kepalaku sedikit pusing, itu saja.” Jawabku cepat.

“Kamu mau kita pulang?” Tanya mas Rangga penuh perhatian.

Aku mengangguk cepat. “Ya, aku ingin pulang.” Bisikku padanya.

“Maaf Pak, sepertinya istri saya sedang tidak enak badan.” Ucap mas Rangga dengan sopan pada Edo. “Kami akan permisi pulang terlebih dahulu jika pak Edo tidak keberatan.” Lanjutnya lagi dengan penuh hormat.

Edo menatapku dengan tatapan anehnya. Dan astaga.. Itu membuatku salah tingkah.

“Kamu sakit??” Tanya Edo penuh perhatian.

“Umm.. Maaf pak, hanya sedikit pusing.”

“Mau saya antar pulang??”

Pertanyaan Edo membuat aku dan mas Rangga saling menatap satu sama lain. Mengantar pulang?? Yang benar saja. Dia adalah atasan mas Rangga, semoga saja mas Rangga tidak curiga dengan sikap aneh Edo.

“Kami membawa mobil kantor pak.” Jawab mas Rangga cepat.

Edo akhirnya menganggukkan kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Emm semoga kita bisa bertemu lagi.” Ucap Edo sambil menatao tajam ke arahku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk.

***

Kami akhirnya keluar dari restoran tersebut. Mas Rangga berjalan cepat di hadapanku dengan ekspresi wajah yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Ada apa dengannya??

“Mas, jangan terlalu cepat.” Ucapku sambil sedikit berlari menyusulnya. Tentu sangat susah mengingat saat ini aku sedang menggendong Amel.

Tapi kemudian aku merasakan seseorang meraih sebelah tanganku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati tangan Edo yang sedang menggenggam pergelangan tanganku.

Please… Jangan lakukan apa-apa Do.. Aku nggak mau mas Rangga tau tentang hubungan kita dulu. Lirihku dalam hati.

“A.. ada apa pak??” Tanyaku dengan suara tergagap.

Lalu aku merasakan Edo menyisipkan sesuatu di telapak tanganku, ia kemudian menggeggamkan tanganku.

“Hubungi aku.” Ucapnya.

Dengan spontan aku menoleh ke arah Mas Rangga. Mas rangga ternyata sudah berdiri tepat di sebelah pintu mobil dengan tatapan menuju ke arah kami.

“Edo.. please..” lirihku hampir tak terdengar. Entah kenapa aku sangat takit, takut jika mas Rangga tau semuanya kemudian dia membenciku.

“Kalau kamu ingin semua baik-baik saja, please, hubungi aku.” Ucap Edo lagi lalu dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bingung.

***

Sampai di rumah, Mas Rangga tetap diam, dia seakan mengacuhkan keberadaanku. Kenapa dia seperti itu?? Apa dia tau hubunganku dengan Edo??

“Aku mandi dulu Dek..” ucapnya datar sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Dadaku terasa sesak melihat tingkahnya seperti itu, Mas rangga tak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selau lemah lembut, perhatian, dan selalu mwnganggapku sebagai ratu, tapi entahlah, aku bingung dengan sikapnya sesore ini.

Akhirnya aku memilih berdiam diri di kamar bermain Amel. menidurkan Amel di boks bayi yang berada di ujung ruangan tersebut. Kemudian aku hanya bisa membatu di sana.

***

Aku membuka pintu rumah, dan mendapati sosok tinggi di hadapanku. Kenapa dia kemari?? Pikirku saat itu.

“Mas Rangga, kenapa di sini??”

“Eny, Boleh aku masuk??”

“Ya, silahkan.”

walau dengan wajah bingung aku tetap mempersilahkan mas Rangga masuk. Rangga Kurniawan adalah rekan kerjaku di sebuah perusahaan tempatku bekerja. dia senior, tentu saja, karena sudah bertahun-tahun dia kerja di sana. Umurnya mungkin sekitar tiga sampai lima tahun lebih tua dari pada aku.

Kami tak pernah dekat, karena Rangga sendiri memang terkenal pendiam. Tapi dia bukan tipe yang pendiam karena angkuh dan tak suka berteman. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Dia ramah, banyak teman, tapi sikap pendiamnya mungkin karena memang dia tak ingin banyak bicara.

Aku mempersilahkan mas Rangga duduk di kursi tamu.

“Mau minum apa Mas?” Tanya ku sedikit canggung. sungguh aku masih bingung dengan kehadiran mas rangga di rumahku.

“Tidak perlu En.. Aku hanya ingun bertemu kedua orang tuamu.”

Aku mengernyit, untuk apa mas Rangga ingin menemui mereka??

“Untuk apa mas mau menemui mereka??” Tanyaku sedikit bingung.

“Enggak apa-apa, ada yang mau ku bicarakan dengan mereka.”

Aku mengangguk, “Baiklah, aku panggil mereka dulu ya,”

Akhirnya aku masuk, memanggil ibu dan ayahku. Merekapun tampak bingung dengan kehadiran sosok mas Rangga.

Mas Rangga sendiri langsung memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku dengan sangat sopannya. Sedangkan orang tuaku menyambut hangat kedatangannya.

“Jadi, nak Rangga, apa ada yang perlu di bicarakan dengan kami?” Ayah akhirnya bertanya secara langsung kepada mas Rangga.

“Begini pak, kedatangan saya kemari adalah untuk melamar Eny menjadi istri saya.”

Mataku membulat seketika. Aku yang dalam posisi berdiri tak jauh dari tempat duduk ayah dan ibuku, tak dapat bergerak sedikitpun. Semuanya terasa kaku, mungkin aku terlalu terkejut dengan apa yang di katakan mas Rangga.

Melamar?? Astaga… Apa dia bercanda?? Kami bahkan sangat jarang sekali berbicara satu sama lain, kenapa dia bisa-bisanya melamarku??

-Bersambung-

Yeayy akhirnya sampek chapter 4 juga… maap typonya yaa.. aku nulisnya di tab aja jadi ya gini deh.. Haha makasih udah ada yg mau baca…
Semoga kalian baca karena ceritanya bukan karena tau siaa aku… hahaha -lah emangnya siapa aku??-
Lope You ( ̄ε(# ̄)

Advertisements

6 thoughts on “Missing Him – Chapter 4

  1. Pendek banget kak, nggak puas bacanya. Cerita fiktif kakak tentang penyihir kapan lanjutannya kak. Udah lama banget nggak ada sambungannya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s