romantis

Passion Of Love – Chapter 8

castSang Kupu-kupu malam

 

*Remake fansfic korea The Passionnate of love -Banyak mengandung unsur Dewasa-

 

Chapter 8

 

Hati Fiona terasa sakit melihat pemandangan yang ada di hadapannya, seperti di remas-remas, ia tau kalau mungkin saja Ben memiliki hubungan special dengan gadis itu, entah mengapa seperti tiba-tiba pandangannya berkaca-kaca, ia tau jika sebentar lagi air matanya akan menetes di pipinya.

Cepat-cepat Fiona berbalik dan masuk lagi ke dalam dapur, ia tak mau Ben melihat dirinya sakit hati dan menangis, karena bagai manapun hubungan mereka hanya tak lebih dari Partner seks semata.

Ben yang memang melihat keberadaan Fiona langsung menjauhkan diri dari pelukan Sheila. “A.. Apa yang kamu lakukan di sini?”  Ben bertanya tapi arah pandangannya masih tertuju ke Arah di mana Fiona tadi berdiri.

“Kak Ben, apa kamu nggak kangen sama aku?” Sheila terkejut dengaan reaksi Ben yang seperti orang kebingungan. Apa Ben benar-benar tidak merindukannya??

“Bukan seperti itu, tapi bukannya kamu harusnya masih ada di New york??”

“Studiku sudah selesai kak.. dan aku sudah pulang.” Lalu Sheila kembali memeluk tubuh Ben lagi. Sedangkan Ben hanya bisa diam membatu, ia tak tau apa yang harus ia lakukan.

***

Di dalam dapur.. entah mengapa tangan Fiona bergetar, kakinya terasa lemas, ia seakan tak sanggup untuk berdiri. Terpaksa Fiona duduk di lantai di  sebelah meja dapur, air matanya mulai menetes. Entah mengapa rasanya ia ingin menangis mendengar percakapan Ben dan gadis yang bernama Sheilaa tersebut karena cukup keras hingga terdengar sampai ke dapur.

Astaga.. apa yang akan ia lakukan jika Ben kembali ke sisi wanita tersebut? Bagaimana dengan bayinya nanti?? fikirnya dalam hati. Fiona lalu mengusap air matanya, ia mulai berdiri dan menyelesaikan masakannya. ia ingin segera keluar dari apartemen Ben yang seakan  menyesakkan tersebut.

Ketika Fiona sudah selesai dengan pekerjaannya, ia beriap-siap berangkat ke tempat Marsha. Fiona kemudian  menuju ke ruang tamu untuk berpamitan dengan Ben.

“Ben.. makan malammu sudah siap, mungkin kamu ingin mengajak mereka makan, aku akan keluar dulu.” Fiona berusaha bicara senormal mungkin, berusaha agar suaranya tidak bergetar karena menelan kepahitan.

Ben yang duduk di sebelah Sheila dengan lengan yamg sejak tadi di peluk oleh Sheila langsung berdiri melepas paksa rangkulan tangan Sheila.”Kamu mau kemana? apa perlu ku antar?” Tanya Ben dengan sedikit khawatir.

“Tidak perlu, kamu kan ada tamu.” Jawab Fiona sedikit melirik Amel dan Sheila sambil sedikit tersenyum. “Aku hanya ingin ke tempat kak Marsha.” Lanjutnya.

“Kak. dia siapa?” Amel yang penasaran akhirnya tak bisa menahan pertanyaan itu muncul.

Belum sempat Ben menjawab, Fiona lebih dulu memperkenalkan diri sambil membungkukkan badannya. “Aku Fiona Adelia… Aku teman atau bisa di bilang partner kerja Ben.”

“Aku Amelia, Adik kandung kak Ben, dan ini kak Sheila, kekasih kak Ben.” Amel memperkenalkan diri dengan begitu manis.

“Amel…” Ben mendesis tak suka pada dengan apa yang di kataakan Amel.

“Apa ada yang salah?” Tanya Amel dengan wajah tanpa dosanya. Ben ingin menjawab tapi Fiona mendahuluinya.

“Baiklah.. aku pergi dulu.. kalian baik-baik yaa.. Sampai jumpa” Ucapnya sedikit tersenyum sambil melambaikan tangan dan sedikit membungkukkan badan ke arah Amel dan Sheila, padahal saat ini Fiona sedang ingin menutupi perasaannya yang sedang kalut.

“Tunggu dulu.” Ben kemudian sedikit berlari kearah Fiona.

“Kenapa.?” Tanya Fiona dengan wajah bingungnya.

“Apa kamu nanti pulang malam?” tanya Ben penuh perhatian.

“Sepertinya begitu, aku ingin nonton di bioskop dengan kak Marsha malam ini.”

“Tunggu sebentar.” Ben lalu berlari ke dalam Kamar dan kembali lagi membawa sebuah Coat berwarna coklat dan syal untuk Fiona. “Pakai ini.. tadi hujan, nanti malam di luar pasti sangat dingin.” Ben memakaikan Coat tersebut pada tubuh Fiona dan mengancingkannya, kemudian ia juga memakaikan syal untuk Fiona. Sedangkan Fiona sendiri menatap Ben dengan tatapan anehnya.

Sheila merasa matanya pedih saat melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak menyangka jika Ben akan berbuat semanis itu dengan wanita lain di hadapannya

“Terimakasih.” Ucap Fiona sembari mencoba menghilangkan rasa tak enaknya.

Ben hanya mengangguk. “Hati-hati.” Ucap Ben sambil mengantar Fiona ke luar dan menunggu hingga Fiona tak terlihat dari pandanannya.

Ben kemudian kembali masuk dan mendapat tatapan aneh dari Amel dan juga Sheila. “Apa ada yang salah??” tanya Ben ambil megangkat sebelah alisnya.

“Kak.. sebenarnya kak Ben ada hubungan apa dengannya?” Tanya Amel dengan nada tak suka sambil berdiri menuju ke tempat Ben.

“Bukan urusanmu.” Jawab Ben dengan ekpressi datarnya.

“Kak Ben” rengek Amel.

“Apa kedatangan kami mengganggu kalian?” Sheila sendiri sudah tak dapat membendung perasaannya. Ia berdiri dan bertanya pada Ben secara langsung.

“Apa maksudmu?” Ben ingin mengelak.

“Baiklah, mungkin seharusnya kami pulang dulu, kapan-kapan aku kemari lagi kalau Kak Ben nggak keberatan, permisi.” Kata Sheila ketus namun tetap membungkukkan badannya memperlihatkan kesopanannya.

“Kak Sheila..” panggil Amel sambil ikut pergi tepat di belakang Sheila.

“Sheila…” Ben pun akhirnya ikut memanggil Sheila, tapi tampaknya wanita itu sudah tak ingin lagi menghiraukannya.

Ben menutup mata sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau hal seperti ini akan terjadi padanya.

***

Ben masih saja tak berhenti berjalan mondar-mandir di apartemennya. Kepalanya terasa berdenyut saat memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini padanya.

Dua minggu yang lalu, ia tak sengaja bertemu dengan Alice di salah satu restoran saat ia selesai makan siang dengan beberapa rekan bisnisnya. Saat itu Alice tak canggung lagi memberinya selamat atas kehamilan Fiona.

Bagaikan tersambar petir saat itu juga ketika Ben mengetahui kabar kehamilan Fiona dari dokter Alice. Kenapa Fiona tak pernah memberitahunya?? Bahkan sampai sekarang pun Ben masih menunggu Fiona mengabarkan hal itu secara langsung padanya.

Awalnya Ben memang sedikit curiga saat Ben merasakan ada yang aneh pada tubuh Fiona. Wanita itu seakan lebih terlihat cantik dan seksi di matanya, padahal kini Fiona sangat jarang mengenakaan Make Up dan hampir tak pernah mengenakan pakaian seksi seperti saat kerja di dunia malam. Dan akhirnya semua kebingungan Ben terjawab saat ia tak sengaja bertemu dengan dokter Alice.

Shock, tentu saja. Ben tak pernah menghadapi wanita hamil sebeumnya. Dulu saat tau teman kencannya hamil. Ben akan langsung menjauhinya bahkan menekan temannya tersebut hinga mau menggugurkan kandungannya. Tapi dengan Fiona, bukan seperti itu yang ia rasakan. Ia malah ingin melindungi wanita rapuh itu. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya?? Apa istimewanya seorang Fiona hingga ia tak dapat jauh dari wanita tersebut??

Kini, Ben masih tak habis pikir, kenapa sampai saat ini Fiona masih belum juga  memberitahukan keadaannya pada diri Ben.

Ben menghela napas panjang saat mengingat kejadian tadi sore. Belum juga masalahnya dengan Fiona memiliki titik terang, kini kembali muncul masalah baru dengan kehadiran Sheila. Wanita yang menjadi wanita teristimewa di hatinya. Tidak, mungkin itu dulu, karena Ben yakin saat ini tak ada lagi nama Sheila di hatinya.

Ben bertemu dengan Sheila sejak Ben berumur 15 tahun, Sheila sudah seperti adik kecilnya saat itu, hingga ketika Ben berumur 20 tahun, ibunya berkata jika Ben dan Sheila sudah di jodohkan dan nantinya akan menikah, sejak saat itu Ben di paksa memandang Sheila sebagai wanita dewasa bukan sebagai adiknya.

Ben mulai menumbuhkan perasaan itu terhadap Sheila, apa lagi ketika Sheila tumbuh semakin cantik, di tambah lagi karena setiap hari mereka bertemu. ibu dan ayah Sheila  meninggal pada suatu kecelakaan dan Sheila menjadi sebatang kara, sebelum meninggal ibu Sheila menitipkan Sheila pada Wulan, Ibu Ben. tentu saja saat itu Sheila kemudian tinggal di rumah Ben. Bahkan perusahaan keluarga Sheila pun di urus oleh ayah Ben sebagai orang yang paling di percayai oleh Ayah Sheila.

Saat itu, Ben sangat menyayangi Sheila hingga tak ada wanita lain selain Sheila, namun hubungan mereka mulai merenggang ketika Sheila memutuskan untuk melanjutkan studinya ke amerika, sedangkan Ben tetap jakarta membantu ayahnyaa mengurus perusahaan.

Mereka hanya berhubungan jarak jauh. Hingga pada suatu hari, sekitar 5 tahun yang lalu, Ben dengan sengaja mengunjungi ke Flat sewaan Sheila di New York untuk memberikan Sheila kejutan. betapa kagetnya saat itu ketika Ben menemukan Sheila setengah telanjang dengan lelaki bule di dalam kamar Flatnya. Dan sejak saat itu Ben mencoba menghapus bayangan Sheila di hati dan pikirannya.

Bagi Ben, hubungan mereka sudah berakhir, meski sebenarnya Sheila belum tau jika Ben sudah melihat kejadian tersebut dan kini menghindarinya. Sheila menodai kepercayaan yang di berikan oleh Ben hingga sampai detik ini Ben tak percaya lagi dengan yang namanya wanita dan kesetiaan. Ben takut berhubungan serius dengan wanita lain lagi, Ben tak ingin menumbuhkan perasaan seperti perasaannya terhadap Sheila dulu. Dan itu merubah Ben menjadi sosok yang dingin, yang tak mudah di tembus oleh wanita-wanita yang ingin mendekatinya.

Semua waktunya Ben habiskan di kantor untuk kerja kerja dan kerja, jika Ben butuh hiburan, Ben hanya akan mencari wanita yang mau ia bayar untuk di tiduri, wanita sejenis Fiona, wanita yang tak mungkin Ben cintai karena Ben tau seperti apa jenis wanita seperti mereka.

Hingga  sekitar tujuh bulan yang lalu semua berubah ketika ia bertemu dengan Fiona dan melihat kaki telanjang wanita tersebut saat berlarian meminta pertolongan untuk temannya. Ben mulai terobsesi hanya dengan Fiona hingga mengabaikan resiko yang kini sudah terlanjur terjadi.

Fiona Hamil.. dan Astaga.. apa yang harus ia lakukan terhadap wanita itu?? Ben mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, pada saat bersamaan pintu apartemen di buka dan sontak Ben berdiri menatap siapa orang yang berdiri dari balik pintu apartemennya.

Itu Fiona..

“Di luar gerimis, dingin sekali.” Ucap Fiona sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumahan, Fiona juga sesekali mengusap rambutnya yang sedikit basah karena hujan.

Tanpa terasa kaki Ben sudah mengayun menuju ke tempat Fiona berdiri “Kenapa nggak minta di jemput?” Tanya Ben sambil membantu Fiona membuka coat yang di kenakan Fiona.

“Aku bisa pulang sendiri, aku takut kamu sibuk.” Fiona menatap Ben dengan tatapan lembutnya.

Tiba-tiba Ben merasa ingin sekali memeluk tubuh mungil Fiona, Akhirnya Ben memeluk tubuh Fiona hingga Fiona menghangat kembali. Ben merasakan sedikit gundukan pada perut Fiona, apa itu hanya perasaannya saja?? Secepat kilat Ben melepaskan pelukannya pada tubuh Fiona. Entah kenapa itu membuat Ben semakin menegang. Rasa canggung tiba-tiba saja muncul di sekitarnya, padaha ia tak pernah merasakan canggug di dekat wanita manapun.

“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, mandilah.” Ucap Ben kemudian sambil meninggalkan Fiona begitu saja. Ben terlalu sibuk mengatur debaran jantungnya yang bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa bisa seperti itu.

Sedangkan Fiona sendiri hanya mampu ternganga melihat kelakuan Ben yang terlihat aneh di matanya. Ada apa dengan lelaki itu??

***

Di tempat lain…

“Benar Ma. Amel nggak bohong… Kak Ben pasti sudah tinggal serumah dengan wanita itu.” Amel akhirnya tak bisa menahan diri untuk mengadu pada ibunya tentang apa yang di lihatnya tadi siang di apartemen Ben.”Kak Ben bahkan terlihat sangat mesra dengan wanita itu.” lanjutnya lagi.

“Seperti apa wanita itu..?” Wulan, selaku ibu Ben dan juga ibu Amel akhirnya sedikit penasaran.

“Dia kelihatan baik, sederhana, bahkan secantik kak Sheila.” Kalimat terakhir Amel katakan dengan berbisik karena takut kalau-kalau Sheila mendengarnya.

Mereka kini sedang membahas masalah Ben di kamar Amel, sedangkan Sheila sendiri sejak pulang dari apartemen Ben, wanita itu tak lagi keluar dari kamarnya. hal itu yang membuat  Wulan khawatir dan langsung menanyakan pada anak perempuannya apa yang terjadi tadi siang.

Wulan tampak berfikir. “Emm… sepertinya mama akan menghubungi kakakmu.” Ucapnya kemudian.

“Kak Ben terlihat sedikit berbeda..”

“Apa maksudmu?”

“Emm.. Amel pikir kak Ben lebih tertutup sekarang, dia bahkan tak ingin lagi tinggal serumah dengan kita.

“Mungkin dia sedang sibuk dan capek dengan pekerjaannya.”

“Semoga saja,, Amel hanya merindukan kak Ben yang seperti dulu.” Ucap Amel lalu mendapat pelukan dari Wulan, Ibunya.

***

Fiona keluar dari kamar mandi dan terkejut saat mendapati Ben yang sudah duduk di pinggiran ranjang seakan menunggunya.

Apakah Ben malam ini menginginkan Haknya setelah hampir dua minggu lelaki itu tak menyentuhnya?? Bagaimana jika iya?? Bagaimana jika Ben mendapati sesuatu yang aneh pada tubuhnya?

“Ben?” panggilan Fiona sontak membuat Ben mengangkat wajahnya menatap ke araah Fiona.

Ben kemudian berdiri lalu melangkah menuju ke arah Fiona. “Kamu nggak demam kan??” Tanya Ben dengan suara lembut penuh perhatian sambil membawa telapak tangannya pada kening Fiona seakan merasakan suhu tubuh wanita tersebut.

Fiona menggelengkan kepalanya. “Aku.. Aku nggak apa-apa.” Ucap Fiona sedikit canggung. Ia tak pernah melihat Ben memperlakukannya seperti saat ini. Ben benar-benar terlihat sangat perhatian padanya dan itu membuat Fiona sedikit tak nyaman.

Ben kemudian menarik tangannya, lalu sedikit menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fiona. Ben mengusap tungkuknya sendiri seakan ia Frustasi dengan kecanggungan yang tercipta di antara mereka.

“Aku membuatkanmu cokelat hangat, minumlah.” Ucap Ben ambil menunjuk segelas minuman cokelat yang maasih terlihat mengepul di meja kecil sebelah ranjangnya.

Tak mau tenggelam dalam kecanggungan, akhirnya Ben memutuskan untuk pergi. Ia benar-benar tak bisa selalu dalam situasi canggung jika di dekat Fiona.

“Kamu mau ke mana?? Nggak tidur di sini??”

Pertanyaan Fiona membuat Ben menghentikan langkahnya. “Aku ke ruang kerja sebentar, ada yang harus ku urus.” Kemudian Ben meninggalkan Fiona begitu saja dengan setumpuk pertanyaan di kepala wanita itu.

Ben benar-benar tampak berbeda, apa yang terjadi dengan lelaki itu?? Fiona kemudian meraba dadanya yang tak berhenti berdegup semakin kencang ketika Ben tadi berada di dekatnya. Apa juga yang terjadi dengan dirinya saat ini???

 

-To Be Continue-

Advertisements

4 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 8

  1. Jd Ben udah tau klo Fiona hamil,,,
    sprtinya Ben bsa mnrima kehamilan Fiona…
    Jd krna Sheila,,Ben gk mau brkomitmen,krn trauma masalalu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s