romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 6 (Hanya Kamu)

011The Maried Life (Lady killer 2)

Chapter 6

-Hanya Kamu-

 

Dhanni mengawasi Nessa dengan matanya. Istrinya tersebut tampak shock dengan jawabannya. Pasti Nessa sedang berpikir yang tidak-tidak padanya. Dengan santai Dhanni mengusap lembut kening Nessa yang berkerut.

“Kamu mikir Apa?? Jangan berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Dhanni kemudian.

“Enggak.. aku hanya…”

“Hanya apa??”

“Kak Dhanni masih suka sama wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni ingin mengawasi wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni….” Nessa tak dapat melanjutkan kalimatnya ketika kedua telapak tangan Dhanni menangkup kedua pipinya.

“Dengar, Dia bukan siapa-siapa untukku, dan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu. Aku memberitahumu yang sebenarnya supaya kamu tidak kepikiran, dan tidak salah paham suatu saat nanti.”

“Tapi kak Dhanni mengawasinya.”

Dhanni meminum jus di hadapannya lalu mulai bercerita pada Nessa.

“Erly dulu adalah wanita yang baik. Penampilannya polos, dan aku salah sudah mempermainkan dia dulu. Sekarang, dia sudah berubah. Penampilannya berubah drastis, begitupun dengan sikapnya. Dia bahkan tak tau malu lagi mengakui perasaannya padaku, Aku hanya khawatir dia merencanakan sesuatu. Karena aku belum menemukan alasan kenapa dia kembali saat ini padaku.”

“Mungkin karena dia masih suka sama Kak Dhanni.” Jawab Nessa dengan nada yang sudah ketus.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut.  di raihnya telapak tangan Nessa yang  berada di atas meja, di kecupnya lembut punggung tangan istrinya tersebut .

“Aku suka sekali saat melihat kamu yang merajuk seperti ini.”

“Aku nggak merajuk.”

“Ya, kamu merajuk dan cemburu.” Ucap Dhanni dengan nada menggoda.

“Kak.. Aku serius.”

Dhanni tertawa. “Oke, Oke. Dia memang mengakui kalau dia masih suka denganku. Dia bahkan tak canggung-canggung lagi menggodaku. Tapi sayang, percaya sama aku. Sedikitpun aku tak pernah merasa tertarik padanya.”

“Kak Dhanni yakin??” tanya Nessa dengan memicingkan matanya.

“Kalau kamu tidak percaya, besok kunjungi aku di kantor sambil bawa makan siang.”

“Kenapa aku harus ke sana??”

“Supaya kamu tau bahwa tak ada apapun yang ku sembunyikan darimu Ness. Lagi pula aku ingin menunjukkan pada semua orang yang berada di sana jika hanya ada satu wanita yang ku cintai, siapa lagi jika bukan istriku yang paling cantik.” Ucap Dhanni sambil mencubit gemas hidung Nessa. sedangkan Nessa hanya mampu tersenyum bahagia.

***

Jonathan menutup pintu ruang kerjanya. Tubuhnya merosot ke bawah lalu turduduk menyadar pintu. Matanya memejam seakan mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Nessa, wanita yang di cintainya itu ternyata memiliki seorang suami yang ternyata adalah lelaki yang sangat di cintai kakaknya. Kenapa semua jadi semakin membingungkan untuknya??? Jonathan berpikir, bisa saja ia mengacaukan hubungan rumah tangga Nessa. membuat Nessa berpisah dengan suaminya lalu ia bisa mendapatkan wanita itu dan kakaknya bisa mendapatkan lelaki yang di cintainya, tapi nyatanya ia tak bisa.

Jonathan dapat melihat dengan jelas di mata Nessa. wanita itu sudah berubah. Sangat jelas terlihat di mata Nessa jika wanita itu sangat mencintai dan memuja suaminya. Bukankah itu tandanya ia sudah tak memiliki kesempatan lagi?? Lalu, apa ia harus menyerah?? Bagaimana dengan kakaknya??

Jonathan memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pusing memikirkan semua yang terjadi. Ia sangat mencintai Nessa dan ingin memiliki wanita itu, tapi di sisi lain, ia yakin jika ia memaksakan kehendaknya, ia akan menyakiti wanita yang di cintainya, dan ia tak bisa melihat Nessa tersakiti. Cintanya benar-benar tulus pada wanita tersebut.

Apa ia harus mengalah?? Jonathan memejamkan matanya kembali dan mencoba berpikir jernih. Ya, ia harus mengalah, mungkin Nessa memang bukanlah jodohnya.

***

Nessa keluar dari sebuah mobil yang mengantarnya menuju kantor tempat Dhanni bekerja. Dhanni ternyata tak bohong. Tadi pagi, seorang supir dan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumahnya telah datang. Mengingat itu Nessa tersenyum sendiri. Ahhh suaminya itu benar-benar perhatian. Nessa kemudian berjalan masuk ke dalam lobi kantor Dhanni. Menuju ke meja resepsionis.

“Maaf ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita di bagian resepsionis tersebut.

“Saya mau bertemu dengan  Pak Dhanni Revaldi.” Ucap Nessa kemudian.

“Maaf sebelumnya, ibu sudah ada janji??” wanita itu bertanya lagi dengan ramah.

“Sudah, saya mau mengantar makan siang untuk pak Dhanni.”

Sang resepsionis tersebut tampak mengerutkan keningnya. “Dengan ibu siapa ya kalau boleh tau??”

“Nessa Revaldi.”

Si Resepsionis membulatkkan matanya seketika. “Ohh maaf ibu, Ibu istrinya Pak Dhanni?? Mari saya antar ke ruangan beliau.” Ucap wanita tersebut sambil keluar dari balik meja resepsionis.

Akhirnya Nessa pun di antar oleh wanita tersebut masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas. Ini memang pertama kalinya ia masuk ke dalam kantor Dhanni. Dhanni sebenarnya selalu menyuruhnya sekedar mengunjungi lelaki itu di kantornya, tapi tentu saja Nessa menolaknya. Alasannya masih sama, ia tak ingin menjadi pusat perhatian dan mendapat tatapan membunuh dari para wanita fans dari Dhanni, si Lady killer.

Tak lama, sampailah mereka di lantai paling atas. Sejak tadi Nessa benar-benar sangat risih dengan tatapan si resepsionis yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini???

“Mbak Hani.  Ada istri pak Dhanni mau ngantar makan siang.” Ucap Resepsionis itu pada seorang wanita lainnya yang duduk di balik mejatepat di sebelah pintu besar di hadapan mereka.

“Ohh… Ibu Nessa ya, tadi Pak Dhanni sudah pesan, mari saya antar masuk.” Ucap wanita yang bernama Hani dengan ramah dan penuh senyuman.

Sedangkan Nessa sendiri mengernyit tak suka. Jadi setiap hari seperti ini?? Dhanni selalu di kelilingi wanita-wanita cantik?? Yang benar saja. Awas saja kalau lelaki itu berani bermain api di belakangnya.

Pintu besar berwarna hitam legam itu pun di buka dan menampilkan sosok Dhanni yang duduk dengan  ekspresi seriusnya di balik meja kerjanya.  Ruangan tersebut sangat luas dan lebar. Terdapat meja panjang di ujung ruangan dengan banyak kursi-kursi di sana, mungkin itu ruangan untuk rapat pribadi atau apalah, Nessa sendiri tak tau. Tapi yang membuatnya tertarik adalah di salah satu kursi tersebut terdapat seorang wanita yang sedang sibuk membuka-buka berkas di sana. Siapakah wanita itu?? Apa itu adalah Erlyta paraswati?? Mantan kekasih suaminya??

“Pak.. Bu Nessa sudah datang.” Ucap Hani yang sontak membuat Dhanni mengangkat kepalanya menatap ke arah Nessa.

Dhanni berdiri sambil tersenyum lembut ke arah Nessa. pun dengan Nessa yang kemudian melemparkan senyuman lembut pada suami yang sangat di cintainya tersebut.

“Sudah datang sayang??” Ucap Dhanni sambil berjalan menuju ke arah Nessa sambil merenggangkan kedua tangannya.

Nessa pun sontak menghambur ke dalam pelukan suaminya tersebut. Entahlah, ia hanya ingin semua orang tau jika Dhanni hanyalah suaminya, miliknya seorang. Nessa benar-benar tak suka jika suaminya tersebut bekerja dengan di kelilingi banyak wanita-wanita cantik.

“Kamu boleh keluar Hani.” Ucap Dhanni kemudian yang kali ini sudah mengusap lembut rambut panjang milik Nessa.

Hani menganggukkan kepalanya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dhanni. Sedangkan di sudut ruangan lainnya, sepasang mata menatap kedekatan Dhanni dan Nessa dengan berkaca-kaca. Erly, wanita itu seakan tak kuat menanggung rasa sakit di hatinya ketika melihat lelaki yang di cintainya tampak bahagia dengan wanita lain.

***

Dhanni memakan dengan lahap masakan Nessa. tanpa mempedulikan tatapan aneh yang di berikan istrinya tersebut.

“Kenapa menatapku seperti itu??” Tanya Dhanni masih dengan menyuapkan makan siangnya.

“Kak Dhanni senang ya kerja di sini. Di kelilingi cewek-cewek cantik.” Gerutu Nessa dengan nada yang di buat ketus.

Dhanni melirik ke arah Nessa, wanita itu menampilkan ekspresi cemberutnya. “Kamu cemburu??” Tanya Dhanni secara terang-terangan.

“Tentu saja aku cemburu.” Jawab Nessa dengan terang-terangan yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar.

Dhanni kemudian mencubit gemas pipi Nessa. “Terimakasih sayang sudah cemburu, tapi perlu kamu tau, satu-satunya wanita yang ku cintai di dunia ini hanyalah Kamu. Sejak tiga belas tahun yang lalu.” Ucap Dhanni penuh penegasan.

Wajah Nessa memerah seketika karena ucapan suaminya tersebut. “Kak Dhanni yakin nggak akan tergoda wanita lain??”

“Tentu saja.” Jawab Dhanni dengan pasti.

“Walau nanti perutku sudah membesar kembali??” tanya Nessa lagi kali ini sambil mengusap perutnya yang masih rata.

Dhanni kembali tertawa. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nessa. menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung milik istrinya tersebut, kemudian membawa telapak tangan Nessa untuk menyentuh dada kirinya.

“Bagaimana pun bentuk tubuh dan wajahmu dulu atau nanti, rasa sayang ku tetap sama Ness. Hanya kamu.. Ya.. Hanya kamu wanita yang berada di sini. Wanita yang membuat jantungku seperti ini.”

Nessa ternganga mendengar ucapan manis dari suaminya tersebut. ia juga merasakan betapa jantung suaminya itu berdebar keras seakan ingin meledak. Debaranya sama dengan debaran saat itu, saat pertama kali ia menyentuh dada Dhanni di kamarnya pada malam mereka bertunangan.

“Lagi pula, Orang hamil itu lebih seksi dan menggairahkan tau.” Dhanni kemudian mengecup singkat bibir Nessa.

“Kak Dhanni.” Pekik Nessa karena terkejut dengan kelakuan suaminya tersebut. sedangkan Dhanni hanya mampu menertawakan ekspresi istrinya yang selalu tersipu-sipu ketika mendengar kalimat-kalimat manisnya. Ahhh Nessa ternyata masih sama, wanita yang selalu malu-malu saat mereka berada dalam momen-momen manis berdua.

“Ehhem” suara deheman tersebut memaksa ke duanya menoleh ke arah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.

Itu Erly. Wanita itu tampak berwajah sendu dengan membawa beberpa berkas-berkas kerjanya.

“Saya.. Sudah memeriksa laporan-laporan seperti yang pak Dhanni perintahkan.” Ucap Erly dengan suaranya yang terdengar sedikit tercekat.

“baiklah, kamu boleh keluar.” Ucap Dhanni dengan wajah datarnya.

Erly pun keluar dari ruangan Dhanni. Dan setelah itu Nessa mencubit lengan Dhanni, membuat Dhanni mememkik kesakitan.

“Ada apa sayang??”

“Ada apa?? Kamu keterlaluan Kak. Lihat, matanya bahkan sudah berkaca-kaca.”

“Aku nggak pedui. Aku hanya ingin Erly tau jika hanya kamu wanita yang ada di hatiku. Setidaknya itu akan membuatnya mundur teratur.”

“Mundur teratur?? Kalaiu dia semakin menjadi-jadi gimana??”

“Nggak akan. Kalau kamu sering-sering ke sini, bahkan setiap hari ke sini aku jamin, dia akan sadar jika apa yang di lakukannya untuk mendekatiku hanyalah buang-buang waktu.”

“Benarkah?? Ohh.. jadi kak Dhanni ingin aku ke sini hanya untuk membuat cemburu wanita itu??”

Dhanni tersenyum. Ia kemudian menarik tubuh Nessa dan memposisikan supaya duduk di atas pangkuannya.

“Tentu tidak sayang, Aku hanya ingin mereka semua tau, jika tak ada wanita lain selain kamu yang bisa memiliki hatiku. Dan tentunya, aku ingin kamu ke sini setiap hari untuk mengurangi rasa kangenku sama kamu.” Ucap Dhanni sambil sesekali mengecup lembut tengkuk leher Nessa.

“Dasar lebbay.” Ucap Nessa sambil menjauhkan diri tapi kemudian Dhanni kembali menarik tubuhnya mendekat dan  memeluk erat-erat tubuh wanita yang di sangat di cintainya tersebut.

***

Erly masuk ke dalam sebuah toilet untuk wanita. Ia tak dapat menahan kesedihannya lagi. Ia mnangis di sana.

Dhanni… Bagaimana mungkin lelaki itu memperlakukannya seperti tadi??

Ia sangat ingin berada di posisi istri Dhanni tersebut, tapi bagaimana caranya?? Dhanni ahkan seakan sudah tak sudi lagi untuk memandangnya. Apa ia harus mundur??

Tidak.

Ia tak boleh mundur. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan samapi seperti ini demi mendapatkan Dhanni kembali, dan ia tak akan mundur hanya karena wanita biasa-biasa saja seperti Nessa. pungkasnya dalam hati.

***

“Aku kangen Brandon.” Ucap Nessa sambil bergelayut mesra di lengan Dhanni.

“Mereka belum kembali ke jakarta sayang.Video Call aja ya..”

“Tapi aku pengen gendong dia.”

“Ya, tapi nanti kalau dia sudah balik, Oke?  ingat, kamu nggak boleh banyak pikiran dan kecapekan.”

Nessa hanya menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan ekspresi merajuknya. Tiba-tiba ponsel Nessa berbunyi. Secepat kilat Nessa merogoh ponsel di dalam tas nya. Berharap jika yang menelepon itu mamanya dan Brandon ingin berbicara dengannya, tapi nyatanya, Jonathanlah peneleponnya.

Nessa menatap Dhanni dengan tatapan anehnya.

“Kenapa??” Tanya Dhanni kemudian, sedangkan Nessa hanya mampu memperlihatkan layar ponselnya pada Dhanni. “Angkat saja.” Ucap Dhanni kemudian.

“Halo.” Akhirnya Nessa mengangkat telepon dari  Jonathan.

“Hai.. Maaf ganggu Ness, kamu masih ingat Cici dan Ervan??”

Nessa tampak berpikir sebentar, lalu ekpresinya berubah seketika. “Ahh ya.. ada apa dengan mereka?”

Cici merupakan salah satu teman Nessa saat SMA di jogja, sedangkan Ervan sendiri sahabat Jonathan, dulu, Ervan sering mngucapkan rasa sukanya pada Cici, tapi saat itu Cici dengan terang-terangan menolak Ervan.

“Mereka sudah nikah beberapa bulan yang lalu, dan mereka ada di jakarta.”

“Ahh yang benar??”

“Ya, Besok mereka akan mengunjungi kafeku, kalau kamu berminat bertemu dengan mereka, kamu bisa ke sini.”

Nessa melirik ke arah Dhanni sebentar. “Oke, aku akan ke sana. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Cici.”

“Oke, ku tunggu Ness.” Dan telepon pun di tutup.

“Dia mau apa?” Tanya Dhanni dengan nada yang tak enak di dengar.

“Teman SMA ku ada yang ke kafenya besok, aku boleh ke sana kan??”

Dhanni tampak memicingkan matanya ke arah Nessa. “Itu bukan sekedar alasan dia untuk bertemu kamu kan??”

Nessa menggeleng cepat. “Kak Jo yang ku kenal bukan seorang pembohong, Cici dan Ervan pasti benar-benar ke sana.” Ucap Nessa mencoba meyakinkan suaminya tersebut.

“Oke, kamu boleh ke sana.” Kali ini Dhanni menjawab dengan perasaan ragunya. Jika boleh jujur, ia sangat tak suka Nessa berhubungan dengan lelaki bernama Jonathan tersebut. Walau Dhanni belum tau apa sebenarnya hubungan Nessa dengan Jonathan, tapi Dhanni dapat melihat dengan jelas di mata lelaki itu jika lelaki itu menginginkan istrinya tersebut, dan Dhanni tak suka dengan itu.

“Terimakasih.” Nessa merangkul leher Dhanni seketika kemudian mengecup lembut pipi lelaki tersebut.

***

Siang itu, Nessa akhirnya menuju ke kafe milik Jonathan. Jonathan sendiri menyambut dengan senang kehadiran Nessa. ia sangat senang saat tau bahwa ada alasan untuk dirinya bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya tersebut.

Tak lama, tamu yang mereka tunggu pun akhirnya datang juga. Nessa benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan teman SMA nya dalam keadaan seperti saat ini.

“Kamu makin cantik Ness.. Pantas saja Jo nggak bisa berpaling darimu.” Ucap Cici kemudian menyesap kopi di hadapannya.

Nessa mengerutkan keningnya kemudian melirik ke arah Jonathan di sebelahnya yang tampak tersenyum bahagia.

“Dan kapan kalian akan menyusul kami??” Tanya Ervan kemudian yang membuat Nessa semakin bingung. Menyusul?? Menyusul kemana??

Dan tanpa di duga, Jonathan seakan sudah tak canggung lagi meraih pinggang Nessa yang duduk di sebelahnya, menarik Nessa mendekat hingga menempel pada tubuhnya.

“Tenang saja, kami akan segera menyusul kalian, tunggu saja undangannya.”

Ucapan Jonathan tersebut yang sontak membuat Nessa menatap ke arah lelaki itu dengan mata membulatnya. Nessa benar-benar tak mengerti apa maksud Jonathan, kenapa Jonathan berbicara seakan mereka adalah sepasang kekasih yang akan melaksanakan pernikahan?? Apa maksud lelaki itu?? Apa tujuannya?? Dan masih banyak sekali pertanyaan yang membuat Nessa bingung dengan pernyataan lelaki tersebut.

 

-TBC-

Nantikan kiah selanjutnya yaa.. hehehhe

Advertisements

8 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 6 (Hanya Kamu)

  1. Permainan udah dimulai,,,knp Jo tega brbhng pd tmn2nya klo mrk mnjlin hbngan dan akan sgra menikah,,,qu kira Jo bnr2 mnyerah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s