romantis

Passion Of Love – Chapter 7

cast1Sang Kupu-kupu Malam

 

Note : Chapter ini banyak mengalami rombakan dariku, jadi ini bener2 sedikit berbeda dengan Chapter di Fansfic. happy reading..

 

Chapter 7

 

Di dalam Mobil.. Fiona benar-benar takut. Ben mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Tangan Fiona bahkan sedikit gemetar. Ben hanya menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik ke arah Fiona yang sudah mulai pucat.

Ben hanya diam, Fiona tau jika Ben sedang marah. Astaga.. apa yang akan terjadi nanti..? apa Ben akan berbuat kasar dengannya..? apa ia akan mendapatkan hukuman?? Pikiran Fiona mulai kalut.

Sesampainya di apartemen. Ben menyeret Fiona dengan kasar, kemudian dia menghempaskan tubuh Fiona di sofa panjang ruang tamunya. Ben lalu menyingsingkan lengan kemejanya dengan gusar. Dan itu membuat Fiona takut. Ben terlihat sangat marah, tatapan matanya tajam membunuh.

“Aku nggak suka melihat kamu dekat dengan dia.” Ben bicara dengan nada dingin, menekan dan mengancam.

“Kee.. kenapa..?”

Ben maju menunduk lalu mencengkeram rahang Fiona, mendongakan wajah Fiona keatas. “Kenapa.?? karena kamu sudah jadi milikku, ingat.. aku sudah menebusmu.” Ben menjawab dengan sedikit seringaian khas miliknya.

“Ben..”

“Sshhttt… Diam…”  Ben menjelajahi wajah Fiona dengan jari telunjuknya. “Semua yang kamu punya adalah milikku. Kamu tidak boleh membantah dan tidak boleh di sentuh oleh siapapun.” Ucapnya lalu mulai menyambar bibir Fiona dengan kasar, melumatnya bahkan sesekali menggigitnya, seakan memberikan hukuman bagi Fiona karena sudah dekat dengan lelaki lain.

Fiona sendiri merasakan jika Ben sudah terbakar oleh gairah. Sesuatu yang keras dan berdenyut menempel di perut bawahnya, seakan ingin segera di bebaskan. Fiona sedikit meronta, sedangkan Ben masih belum ingin mengakhiri hukumannya.

Ben bahkan sudah melucuti pakaian Fiona dan  memenjarakan kedua tangan Fiona ke atas kepalanya. Lalu menyerang Fiona dengan berbagai macam serangan erotis yang membangkitkan gairah.

Ben sedikit menurunkan celananya dengan cepat, membebaskan kejantanannya dari celananya yang seakan menyesakkan. Ia kemudian memposisikan dirinya untuk kembali mendindih Fiona, lalu tanpa aba-aba, Ben menyatukan diri dengan sedikit kasar pada tubuh Fiona.

Fiona sendiri hanya mampu mengerang panjang. Bibirnya kembali di bungkam oleh bibir Ben, membuatnyaa kesulitan untuk bernapas. Lelaki yang menindihnya ini benar-benar gila. Gila karena gairah dan juga karena emosi. Hingga kemudian puncak kenikmatan itu di capai oleh Ben saat lelaki itu mengerang panjang.

Ben tersungkur di atas tubuh Fiona. Napas lelaki itu masih terputus-putus, begitupun dengan Fiona. Kemudian Ben mengangkat kepalanya, menempelkan keningnya pada kening Fiona. Dan mulai berkat dengan nada penuh ancaman.

“Aku benar-benar nggak suka melihat kamu dekat dengan lelaki lain.” Fiona hanya terdiam mendengar ucapan Ben. Kemudian Ben menarik diri, membenarkan letak celananya, lalu pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja meninggalkan Fiona yang masih berantakan di sofa ruang tamunya.

***

Malamnya….

Mereka berdua makan bersama dalam keadaan saling berdiam diri. Fiona tadi memasakkan masakan sederhana untuk Ben dan juga dirinya sendiri. Fiona pikir, Ben tak mau memakannya, nyatanya lelaki itu memakan masakannya dengan lahap.

“Kamu bisa memasak juga ya..” Ben akhirnya angkat bicara sambil mengunyah makanan.

“Hanya sedikit, yang sederhana saja.”

“Masakanmu enak, aku mau kamu memasak untukku setiap hari.” Ucap Ben lagi tanpa ekspresi dan masih dengan melihat ke arah makannannya.

Fiona hanya tercengang, terkejut dengan apa yang di kataakan Ben. Apa mereka akan memainkan peran sebagai suami istri?? Dan dirinya akan berperan sebagai istri yang selalu memasakkan suaminya?? Ayolah, jangan terlalu GR Fi… Pikir Fiona kemudian.

“Nanti ikutlah bersamaku.”

“Kemana??” Tanya Fiona sedikit bingung.

“Kita ke dokter, dan memasang alat kontasepsi untukmu.”

“Aku tidak mau.” Ucap Fiona denga cepat.

Ben kemudian menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. Sedagkan Fiona menelan ludahnya dengan susah payah saat mendapatkan tatapan seperti itu dari Ben.

“Emm.. maksudku, bukannya aku tidak mau menghambat kehamilan, tapi aku hanya takut jarum suntik, dan aku nggak mau di suntik.” Jawab Fiona dengan cepat.

“Kita akan menggunakan alat kontrasepsi lain,.” Jawab Ben dengan datar lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Sedangkan Fiona hanya mampu pasrah dengan apapun keputusan yang di ambil oleh Ben.

***

Malam itu juga keduanya ke rumah sakit, berkonsultasi dengan dokter. Dan akhirnya Fiona hanya mau memilih Pil KB sebagai alat kontrasepsi mereka.

Rasa canggung menghampiri diri Fiona. Mereka seakan sudah seperti sepasang pengantin baru yang baru akan membina keluarga baru. Bagaimana pun juga ini pertama kalinya untuk Fiona bisa angat dekan dan sangaat intim dengan seorang lelaki, tidak, maksudnya bukan dekat secara Fisik, tapi kedekatan lain yang baru Fiona rasakan dengan Ben. Bahkan Fiona tak pernah merasa sedekat ini dengan Angga.

Mengingat nama Angga, Fiona sedikit sedih. Bagaimana kabar lelaki itu? apa lelaki itu merindukannya??

“Kenapa wajahmu murung seperti itu?” tanya Ben dengan datar dan dengan pandangan yang masih lurus ke depan.

“Emm.. Aku.. Aku ingin kerja.” Jaawab Fiona kemudian.

“Kerja?? Kamu butuh uang?? Kalau butuh, kamu tinggal bilang.”

Fiona menggelengkan kepalanya cepat. “Bukan, bukan karena uang, tapi, aku tidak mungkin di dalam apartemenmu sepanjang hari. Itu akan membuatku bosan.”

“Lalu kamu mau kerja apa?? Kembali ke tempat terkutuk itu? Huh, Jangan harap aku kembali melepaskanmu ke sana.”

Walau di ucapkan dengan nada sinis, tapi entah kenapa Fiona menghangat mendengar ucapan dari Ben. Setidaknya Ben tak akan pernah membiarkan dirinya masuk lagi ke dalam dunia malam yang gelap seperti kehidupan yang selama ini dia jalani.

“Tidak Ben, em, temanku memiliki kafe. dulu, aku berencana kerja di sana setelah aku melunasi hutang-hutangku pada Mr. Jonas dan keluar dari dunia malam. Karena saat ini aku sudah keluar dari dunia malam, aku ingin melanjutkan rencanaku tersebut.”

“Kamu yakin itu hanya kafe biasa??” Tanya Ben sambil memicingkan matanya ke arah Fiona.

“Ya, aku yakin. Bahkan kamu boleh main ke sana.” Ucap Fiona meyakikan.

Ben menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kamu boleh bekerja. Tapi Vano tetap akan mengawasimu, dia yang akan mengantar jemputmu nanti.”

Fiona hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tentu saja, Bukankah saat ini ia hanya seorang tawanan bagi Ben?? Hanya seorang buruh seks dari lelaki tersebut. Ben pastinya sudah menghabiskan banyak uang untuk menebus kebebasannya. Dan ia harus tau diri tentang hal itu.

***

Beberapa bulan sudah berlalu. Hari-hari yang di lalui Fiona terasa sangat cepat. Setiap harinya ia sibuk mengurus Ben. Tentu saja lelaki itu bukan hanya bercinta dengannya. Ben bahkan tanpa canggung lagi menyuruhnya ini dan itu, menyiapkan segala perlengkapan kerjanya, bahkan sesekali menyuruhnya mengirimkan bekal makan siang, dan itu membuat Fiona semakin tak nyaman. Bukan karena Fiona tidak suka, tapi karena Fiona takut dirinya tenggelam semakin dalam pada angan-angannya menjadi istri seorang Benny Andrean.

Tentu saja Fiona selalu berangan-angan seperti itu. Sikap Ben yang semakin hari semakin melembut padanya membuat Fiona seakan jatuh bangun karena perasaannya sendiri. Fiona tak menampik jika kini ia merasakan perasaan sayang untuk Ben. Lelaki yang baginya adalah seorang penyelamatnya dari dunia malam.

Dan juga… Ayah dari bayi yang kini sedang di kandungnya…

Sudah satu bulan ini Fiona tau jika dirinya sudah berbadan dua. Dan Fiona benar-benar tak berani memberitahukan keadaannya pada Ben atau pada siapapun.

Satu bulan yang lalu…

Fiona berjalan dengan tubuh yang sedikit gemetar. Ia takut jika sesuatu yang di pikirkannya menjadi kenyataan. Sudah beberapa hari terakhir ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Selalu mual muntah pada pagi hari, indera penciumannya yang semakin tajam dan sensitif terhadap beberapa bau, dan yang paling membuatnya takut adalah periode bulanannya yang sudah terlambat beberapa minggu.

Akhirnya siang itu Fiona memutuskan untuk bertemu dengan Dokter Alice, Dokter yang dulu di kenalkan oleh Ben saat mereka memilih alat kontrasepsi untuk hubungan mereka berdua.

“Hai.. Kamu datang sendiri?” tanya Dokter Alice pada Fiona dengan akrab, karena memang sudah beberapa kali mereka bertemu. Status dokter Alice yang sebagai teman Ben membuat dokter Alice tak canggung-canggung lagi menganggap Fionaa sebagai temannya juga.

Fiona mengnggukkan kepalanya. “Ya, Ben sedang sibuk. Jadi aku sendiri.” Ucap Fiona dengan sedikit gugup.

“Jadi, apa keluhanmu?” tanya Dokter Alice secara langsung.

“Em.. Aku, Aku telat menstruasi, dan Aku takut.” Ucap Fiona maasih dengan kegugupannya. “Emm.. maksudku, aku juga mual muntah dan…”

Dokter Alice tersenyum melihat tingkah laku Fiona. “Kamu takut hamil?” tanya Dokter Alice kemudian.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Apa itu mungkin??bukankah aku sudah mengkonsumi obat pemberian darimu?”

“Apa kamu rutin meminumnya?” tanya dokter Alice dengan penuh selidik.

Fiona menganggukkan kepalanya. “Beberapa kali aku lupa, tapi kemudian aku meminumnya lagi keesokan harinya.”

Dokter Alice kemudian berdiri dan mengambil sesuatu dari lemari kecil di ujung ruangannya. “Yang memutuskan kamu hamil atau tidak itu bukan dokter Fi, kami hanya mencoba membantu menunda kehamilan dengan mengendalikan hormon pasien, bukan berarti pasien tidak bisa hamil setelah menggunakan kontrasepsi, beberapa pasien bahkan tetap bisa hamil walau mereka udah menundanyaa dengan kontrasepsi.”

“Jadi.. ada kemungkinan aku hamil??”

Dokter Alice mengangguk. “Coba tes ini, jika hasilnya positif, kita akan melakukan USG supaya lebih pasti.”

 

Akhirnya saat itu Fiona melakukan tes urin sederhana yang ternyata menunjukkan jika dirinya benar-benar positif hamil. Dokter Alice pun melakukan USG, dan ternyata memang sudah terlihat kantung kehamilan di rahim Fiona. Tak lupa dokter Alice berpesan jika ia harus segera memberitahukan kabar gembira itu pada Ben. Tapi sudah sebulan setelah ia tau keadaannya, Fiona belum juga berani memberitahukan keadaannya pada Ben.

Fiona hanya takut jika lelaki itu marah dan kembali bersikap kasar padanya. Bebeberapa saat yang lalu, setelah ia mengetahui keadaannya yang sudah berbadan dua, Fiona memancing Ben untuk sedikit bercerita tentang masalalunya. Dan itu membuat Fiona takut membahas kehamilannya dengan Ben.

Saat itu….

Mereka sedang terbaring di tempat tidur Ben, seperti biasa.. mereka selesai melakukan kegiatan panas harian mereka. kemudian tiba-tiba ada yang menggelitik fikiran Fiona. Fiona  ingin bertanya banyak tentang diri Ben. Bahkan tentang kehidupan pribadi lelaki itu, karena selama ini hanya Ben  yang tau kehidupanya, sedangkan Fiona sama sekali tak tau apaapun tentang diri Ben.

Ben..Panggil Fiona sedikit ragu-ragu.

“Hemmbb..” Ben menjawab dengan malas-malasan.

“Emmm… apa kamu nggak menikah..?” pertanyaan Fiona terlihat mengejutkan Ben. Lelaki itu  langsung membuka matanya seketika.

“Kenapa kamu bertanyaa tentang itu..?” suara Ben terdengar dingin.

“A.. Aku,, Aku.. hanya ingin mengenalmu lebih jauh.” Fiona benar-benar takut ketika Ben menampakkan ekspresi dinginnyahingga suara Fiona terassa tercekat di tenggorokan.

Ben menatap Fiona, lalu membelai kepala Fiona.“Aku tidak akan pernah menikah.” Jawabnya singkat, kali ini dengan nada lembut, tidak dingin seperti tadi.

Kenapa??” Tanya Fiona lagi dan masih tersendat-sendat.

“Aku tak suka terikat dan tak suka berkomitmen.”

“Bagaimana dengan keturunan, maksudku keluargamu pasti ingin keturunan.”

“Aku punya adik, dia pasti akan memberikan keturunan.”

“Bagaimana dengan keturunanmu sendiri..?” Fiona masih memberanikan diri bertanaya lagi.

“Aku tak mau keturunan.”

Kenapa??

“Aku tak suka anak kecil, mereka terlalu berisik.”

“Baa.. bagaimana.. jika.. aku hamil..?”

Kamu tidak mungkin hamil, tapi jika itu mungkin, Aku akan memaksamu aborsi.” Jawab Ben dengan enteng.

Apa?” Fiona membelalakkan matanya, tak percaya jika Ben mengatakannya semudah itu. “Apa kamu pernah melakuan itu sebelumnya..?” lanjut Fiona lagi.

“Iya.. pernah, dengan teman kencanku karena keteledoran bodohku.” Fiona masih tak dapat berkata-kata saat mendengar pengakuan dari Ben. “Aku tak pernah berhubungan lebih dari tiga kali dengan perempuan yang sama, aku juga tak pernah berhubungan tanpa pengaman, aku pernah membuat satu teman kencanku hamil karena aku melakukannya pada saat mabuk sampai tak sadar jika melakukan itu tanpa pengaman, ketika dia hamil aku mengantarnya ke dokter yang paling bagus, lalu memberinya Cek lebih dari cukup, dan dia mau aborsi dan tutup mulut. Itu akan berlaku juga denganmu sayang.” Ben bercerita dan memandang Fiona sambil mengelus pipi Fiona. Astaga.. ternyata lelaki di sebelahnya ini adalah lelaki yang amat sangat kejam, Fiona bersumpah jika ia tak akan memberitahukan kedaannya pada Ben.ia hanya perlu mencari caraa supaya bisa lepas dari genggaman lelaki itu sebelum perutya mulai membesar.

 

Fiona menghela napas panjang, kemudian mengusap lembut perutnya yang kini sudah tak sedatar dulu, ia merasakan sebuah kedutan di dalam sana. Kehamilannyaa kini mungkin sudah berusia ssekitar tiga bulan, dan itu membuat Fionaa semakin pusing untuk memikirkan cara supaya bisa lepas dari genggaman tangan Ben.

Mengingat nama itu membuat Fiona sedikit bingung dengan tingkah lelak itu. Akhir-akhir ini, Ben semakin perhatian padanya, dan Ben sudah tak pernah laagi menyentuhnya selama lebih dari dua minggu terakhir. Ada apa?? Apa lelaki tu ssudah bosan terhadapnya?? Mengingat itu Fiona sedikit sedih, tapi juga sedikit senang. Jika Ben sudah bosan dengan tubuhnya, mungkin dalam waktu dekat lelaki itu akan melepaskannya, itu tandanya ia tak perlu pusing lagi menutupi kehamilannya dari lelaki terebut.

Ketika sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Fiona mendengar pintu depan apartemen en di buka oleh seseorang. Apa Ben sudah pulang?? Tapi ketika Fiona bergegas melihat si pembuka pintu tersebut, langkah terkejutnya Fiona mendapaati dua orang gadis sedang berdiri di tengaah-tengah ruang tamu apartemen Ben.

“Kamu siapa? kenapa kamu berada di sini?” Tanya salah satu gadis dengan tubuh lebih kecil.

“Maaf.. anda berdua siapa? kenapa anda bisa masuk kemari?” tanya Fiona dengan bingung. Setau Fiona, yang mengetahui password apartemen Ben hanyalah dirinya, Vano, sekertaris pribadi Ben dan juga Ben sendiri.

Bukannya menjawab pertanyaan Fiona, kedua gadis di hadapannya itu malah menatap Fiona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik.

“Amel, apa ini benar-benar Apartemen Kak Ben? apa kamu nggak salah masuk.?” Tanya gadis satunya yang memiliki paras sangat cantik.

“Tidak kak Sheila, Aku memang sudah lama tidak mengunjungi kak Ben, tapi aku sangat yakin jika kak Ben tidak akan pindah tanpa sepengetahuanku dan juga mama.” jawab gadis keecil yang bernama Amel tersebut

“Lalu dia siapa?” Gadis yang bernama Sheila itu bertanya lagi dengan wajah bingung sambil menunjuk ke arah Fiona.

“Aku tidak tau.” Jawab Amel.

“Apa dia kekasih Kak Ben?” Tanya Sheila lagi ketika melihat Fiona yang hanya mengenakan pakaian santai dan juga celemek seperti orang yang sedang memasak.

“Hahahah itu nggak mungkin, aku tau pasti, Jika kak Ben hanya memiliki seorang kekasih, dan dia hanya kak Sheila.” Jawab Amel dengan penuh keyakinan.“Tunggu sebentar, aku akan meneleponnya.” Lanjut Amel lalu mulai mengeluarkan dan menggesek-gesek ponselnya.

“Kak, kak Ben di mana? kenapa tidak di rumah?” Tanya Amel dengan suara manjanya.

“Aku masih di jalan,” jawaban singkat dari orang di seberang telepon.

“Aku ke apartemen kakak, tapi kak Ben nggak ada, emm.. dan siapa perempuan di apartemenmu ini kak??” tanya Amel dengan sedikit ragu.

Apa? apa yang kamu lakukan di sana? aku sudah berkali-kali bilang ‘aku tidak suka kalian mengusik kehidupan pribadiku’.” Ben terdengaar sedikit marah..

“Aku nggak ngusik kok, aku cuma ingin menemui kak Ben.” Lagi-lagi Amel sedikit merengek manja.

Oke, tunggu di sana, jangan sentuh apa pun, aku akan segera sampai.” Lalu tanpa aba-aba Ben menutup teleponnya.

“Huhh… Apa dia fikir aku seorang penguntit? Aku kan adik kandungnya sendiri, bagaimana mngkin dia menganggapku mengusik hidupnya..” gerutu Amel, sedangkan Sheila hanya sedikit tersenyum melihat kelakuan gadis yang lebih muda di hadapannya.

Sedangkan Fiona sendiri walau masih bingung, ia mencoba menetralkan perasaannya, mungkin gadis yang bernama Amel tersebut adalah adik dari Ben, sedangkan gadis yang bernama Sheila itu.. kekasih lelaki itu.

Mengingat kemungkinan itu membuat Fiona memejamkan matanya, entah kenapa rasa sesak ia rasakan begitu saja di dadanya. Fiona akhirnya memutuskan untuk kembali ke dapur melanjutkan kegiatannya tadi untuk memasak makan malam untuk Ben.

***

Beberapa saat kemudian….

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Ben dengan gusar katika sampai di dalam apartemen nya tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya.

Amel dan Sheila yang kaget dengan kedatangan Benn yang gusar dan sedikit berteriak langsung berdiri dari tempat duduknya.Bahkan Fiona pun yang masih berada di dapur seketika menuju ke ruang tamu ketika mendengar teriakan dari Ben. Sedangkan Ben sendiri ketika sadar siapa yang berdiri di hadapannya hanya terdiam membatu, menatap sesosok gadis yang sudah sekitar 5 tahun tak di temuinya.

“Kak Ben… Aku kangen..” Ucap Sheila sambil berlari memeluk Ben. Ben masih saja membatu walau tubuhnya kini sudah dalam pelukan seorang gadis yang pernah benar-benar ia sayangi. Di balik pelukannya samar-samar Ben melihat Fiona yang sedang berdiri ternganga melihatnya. Fiona seakan mencoba memahami apa yang terjadi di antara mereka.

-TBC-

Sedikit beda kan??  hahahahha happy waiting untuk Chapter sselanjutnya, yang pastinya banyak menglami dempulan dariku.. hueehehhehehe

fh1Note lagi nih… Coming soon My Wife (Fansfic koreaku) Versi indo dengan judul Full house hahhahaha

 

Advertisements

7 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 7

  1. heum iya sedikit berbeda memang
    Tapi gimana perasaan ben nich melepas fiona atau memilih sheila

    Satu lagi bakal dishare ulang my wife juga bagus

    Like

  2. Mgkin dgn kedatangan kekasih Ben,, Fiona bsa prgi dgn mmbwa anak yg tdk di harapkan Ben???
    Apakh Ben tdk ingin brkomitmen krna Sheila???

    Like

  3. Nahh bener kan si fio hamil haahh mana ada syila lagi si apa itu syeila ?? Ada hub an apa sama Ben kok ada kata di sayangi yahh ???tambah baper akunya …

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s