romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 5 (“Dia Mantanku”)

TLK2

The married life (Lady killer 2)

 

Mari merapat yang udah kangen Kak Dhanni… panas-panas gini baca cerita panas.. makin gosong euuyyy.. hahahhahah Happy reading.. semoga suka yaa.. heheheheh

 

 

Chapter 5

-“Dia mantanku.”-

 

Dhanni mengecupi sepanjang punggung mulus wanita yang kini meringkuk di dalam pelukannya. Gairahnya kembali tumbuh hanya karena kecupan-kecupan basahnya pada pundak wanita yang kini sedang di peluknya. Astaga… Bahkan belum ada tiga jam yang lalu ia mencapai gelombang kenikmatan bersama dengan Nessa, Istrinya tersebut, tapi kini ia seakan terpancing kembali. Seakan ia tak ingin berhenti jika sudah menyentuh tubuh istrinya tersebut.

“Kak… Geli..”  Ucap Nessa dengan parau sambil sedikit menjauh karena geli dengan tingkah Dhanni.

Dhanni kembali menatik tubuh Nessa ke dalam dekapannya. Ia sedikit menyunggingkan senyumannya. Bukannya berhenti, ia malah menggoda Nessa. Menghadiahi Nessa dengan gigitan-gigitan kecil pada telinga wanita tersebut.

“Kak..”

“Iya sayang..” jawab Dhanni dengan  suara seraknya.

“Aku ngantuk.”

“Tapi aku enggak.” Kali ini telapak tangan Dhanni sudah menggoda puncak payudara Nessa. membuat Nessa memekik.

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang sambil menatap Dhanni dengan tatapan membunuhnya.“Kak.. tadi sudah..”

“Itu tadi.. Aku butuh sesi kedua sayang.”

Lalu tanpa banyak bicara lagi Dhanni mengangkat sebelah kaki Nessa kemudian menyatukan diri dengan tubuh istrinya tersebut dari belakang.

“Sial..!!!” Ucap Dhanni ketika tubuhnya menyatu seutuhnya dengan tubuh istrinya tersebut, sedangkan Nessa sendiri hanya mampu mendesah panjang.

“Kak..” ucap Nessa di sela-sela desahanya.

“Hemm??” Dhanni kembali mengecupi sepanjang punggung Nessa dengan kecupan-kecupan basahnya. “Aku nggak bisa berhenti sayang…” Lanjut Dhanni lagi.

Sedang Nessa sendiri seakan kewalahan dengan apa yang di lakukan Dhanni. Kedua telapak tangan Dhanni memainkan kedua payudaranya yang padat berisi. Bibir Dhanni tak berhenti mengucap kata-kata lembut sesekali mengecupi punggung mulusnya.

“Jangan tinggalin Aku Ness.. Aku nggak bisa tanpa kamu.”

“Aku pun sama Kak…”

Nessa menolehkan kepalanya ke belakang, dan seketika itu juga Dhanni kembali melumat bibir ranum milik istrinya tersebut tanpa menghentikan pergerakannya. Dhanni bahkan mempercepat lajunya, membuat Keduanya berada di ambang kenikmatan yang nyata. Hingga kemudian desahan panjang dari keduanya menandakan jika permainan baru saja selesai.

Dhanni kembali memeluk erat tubuh polos istrinya dari belakang, sedangkan bibirnya sendiri tak berhenti mengucapkan kalimat cinta yang membuat Nessa di buai asmara hingga kesadaran mulai merenggutnya kembali.

***

“Kamu di rumah saja yaa… aku nggak mau kamu pingsan lagi kayak kemarin.” Ucap Dhanni sambil mengusap lembut pipi Nessa dengan ibu jarinya.

Nessa sendiri yang kini masih sibuk membenarkan dasi milik Dhanni seakan tergoda dengan kelembutan sang suami, entah kenapa ia ingin bermanja-manja ria dengan Dhanni.

“Aku bosan di rumah Kak, aku boleh ke kafe Dewi kan??”

“Ingat Babby kita sayang..”

“Aku tau, tapi bosan bisa membuat stres loh, please.. aku hanya duduk-duduk saja di sana kok.” Nessa memohon tapi Dhanni masih terlihat tak ingin mengijinkannya.

Nessa kemudian menarik dasi yang sudah bertengger rapi di leher Dhanni hingga membuat lelaki itu membungkuk ke arahnya.

“Please sayang…” Goda Nessa sambil mengecup lembut bibir Dhanni.

Dhanni tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut. “Kamu mau menggodaku??”

“Ya, supaya Kak Dhanni mengijinkanku.”

“Oke, tapi kita berangkat bareng, dan nanti siang aku akan makan siang di sana.”

“Yeayy… Terimakasih banyak kak..” Nessa mengecup lembut pipi Dhanni sambil bersorak bahagia.

***

Sesampainya di depan kafe milik Dewi, dhanni keluar dari dalam mobilnya lalu membukakan pintu mobilnya untuk Nessa.

Nessa keluar dengan wajah senyum bahagianya. Dhanni kemudian merarik pinggang Nessa supaya mendekat ke arahnya.

“Nggak enak di lihat orang Kak.” Ucap Nessa sambil melirik ke arah sekitarnya karena kini mereka sedang berada di parkiran kafe milik Dewi yang letaknya tepat di sebelah jalan raya.

“Biar saja, mereka tentu tau kalau kita sepasang kekasih,”

“Kekasih?? Sok muda,”

Dhanni terkikik geli. “Tentu saja, kita masih muda.”

Nessa tersenyum manis. Ia kemudian merapikan kemeja milik Dhanni yang sedikit kusut di bagian dadanya.  “Kak Dhanni nggak boleh nakal dan harus selalu ingat aku dan juga Brandon.”

Dhanni mengusap pipi Nessa dengan lembut. “Kamu kembali manja kayak pas lagi hamil Brandon dulu.”

“Memangnya kenapa?? Nggak boleh??”

“Bukan nggak boleh, Aku bahkan semakin suka.”

“Huhh.. dasar.” Gerutu Nessa.

“Kamu tenang saja sayang, nggak aku nggak akan nakal kok. Kamu dan Brandon dan juga babby kita adalah yang nomer satu di hatiku.” Ucap Dhannni sambil mengusap lembut perut Nessa yang masih datar.

Dhanni kemudian mengecup dengan lembut kening Nessa, membuat Nessa memejamkan matanya saat menikmati sentuhan lembut suaminya tersebut.

“Aku pergi sayang, nanti siang kita makan siang bareng di sini.”

“Bawakan aku mangga muda.” Pesan Nessa dengan suara yang sedikit merengek.

“Ya, akan ku bawakan.” Tanpa di duga, Dhanni mengecup singkat bibir Nessa, membuat Nessa terpekik.

“Kak Dhanni….”

“Itu hadiahku karena sudah membuatmu puas tadi malam.” Ucap Dhanni yang sudah berada di dalam mobilnya sambil menggoda Nessa dengan mengerlingkan matanya.

“Dasar mesum.” Ucap Nessa yang kemudian membuat Dhanni tertawa lebar di dalam mobilnya. Dhanni pun akhirnya berlalu, sedangkan Nessa sendiri kemudian masuk ke dalam kafe milik Dewi.

Keduanya tidak tau jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi tingkah manis keduanya, sepasang mata sendu penuh dengan kesedihan yang berada di seberang jalan.

***

Dengan serius Dhanni memeriksa berkas-berkas di hadapannya ketika tiba-tiba pintu ruangannya di buka begitu saja oleh seseorang tanpa permisi. Dhanni menatap orang tersebut dengan wajah sangarnya.

“Kamu pikir ini kantor pribadimu hingga kamu bisa seenaknya keluar masuk tanpa permisi??” Dhanni bertanya dengan nada dinginnya. Ia benar-benar tak suka dengan sikap Erly yang terkesan seenaknya sendiri.

“Aku hanya ingin penjelasan. Kenapa kamu memiliki dua sekertaris pribadi??”

“Bukan urusanmu.” Jawab Dhanni dengan datar.

“Dhan.. Aku mengesampingkan semua urusan hidupku untuk masuk ke dalam kantormu, menjadi sekertaris pribadimu, dekat kembali denganmu, tapi kamu..”

“Aku tidak pernah memintamu melakukan itu Erly. Dan asal kamu tau, Aku ingin Kamu bersikap profesional di dalam kantorku.”

Mata Erly berkaca-kaca, ia tak menyangka jika lelaki yang sangat di cintainya tersebut akan memperlakukannya secara dingin seperti saat ini.

Tak lama, pintu ruangan Dhanni di ketuk seseorang.

“Masuk.” Ucap Dhanni dengan datar tanpa menghiraukan keberadaan Erly yang masih berdiri di hadapannya.

Seorang wanita cantik lainnya masuk. “Pak Dhanni memanggil saya??” tanya wanita tersebut dengan hormat. Wanita itu sedikit mengernyit pada sosok Erly yang berdiri tak jauh dari meja kerja atasannya tersebut.

“Hani, tolong bawa kan berkas ini ke kantor Pak Ramma, dan beri tau dia jika saya tidak bisa menemuinya siang ini.” Ucap Dhanni pada Hani, sekertaris pribadi barunya. Ya, setelah dia memiliki Erly menjadi sekertaris pribadinya, Dhanni segera mencari sekertaris pribadi baru lainnya supaya komunikasinya dengan Erly sedikit berkurang.

“Baik pak, apa hanya itu??”  tanya Hani lagi.

“Ahh ya, saya hampir lupa. Carikan Mangga muda buat istri saya. Dia sedang ngidam.” Ucap Dhanni lagi kali ini dengan sedikit menyunggingkan senyuman miringnya.

“Baik pak, saya permisi.”

Akhirnya Hani keluar dari ruangan milik Dhanni. Dan hanya tinggalah Dhanni dan juga Erly di sana.

“Kenapa kamu masih di sini?? Saya membayar kamu bukan untuk menatap wajah saya,” Ucap Dhanni dengan datar.

“Kamu keterlaluan.” Kali ini Erly berkata dengan suara yang sedikit serak karena menahaan tangisnya. Erly bersiap pergi dari hadapan Dhanni tapi kemudian Dhanni kembali memanggilnya dan membuat Erly menghentikan langkahnya.

“Erly,” Panggil Dhanni kemudian. “Tolong cancel semua jadwal saya siang ini, Saya akan makan siang bersama dengan istri.” Ucap Dhanni seakan sengaja memberi tahu Erly bahwa wanita itu sudah tak memiliki kesempatan lagi di hatinya.

Erly sendiri hanya mampu melanjutkan langkahnya sambil sedikit terisak. Ia sakit, sangat tersakiti dengan sikap Dhanni, lelaki yang sagat di cintainya.

***

Nessa mengaduk-aduk jus jeruk di hadapannya dengan sedotan.  Sesekali ia masih mendengar rengekanDewi yang memintanya untuk mencari tau lebih banyak lagi tentang Kafe di seberang jalan yang tak lain adalah kafe milik Jonathan, mantan kekasih sekaligus orang yang kini di hindarinya.

“Enggak Wi, berapa kali kamu minta, aku nggak akan mau ke sana lagi.”

“Astaga.. belum tentu juga ia berada di sana Ness.”

“Ya, tapi kemungkinan besar Dia ada di sana.” Jawab Nessa dengan datar.

Pada saat bersamaan, seorang pengunjung kafe tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dewi bahkan ternganga mendapati sosok tampan di hadapannya. sedangkan Nessa sendiri menatap Dewi dengan tatapan bingungnya. Dan ketika Nessa menolehkan wajahnya ke samping, ia baru tau jika ada sosok tampan berdiri di sebelahnya.

“Apa saya mengganggu waktu kalian??” tanya lelaki itu dengan sopan.

Belum sempat Dewi menjawab, Nessa sudah berdiri  dan berbalik bertanya pada lelaki tersebut. “Kak Jo sedang apa di sini??” tanya Nessa yang sudah tidak nyaman dengan tatapan mata yang di berikan jonathan.

“Aku hanya tidak sengaja mampir dn bertemu kamu di sini.” Ucap Jonathan sambil menyunggingkan senyumannya. “Em.. maaf sebelumnya, apa bisa meninggalkan kami sebentar??” tanya Jonathan pada Dewi yang sejak tadi masih fokus dengan ketampanan yang terpahat sempurna pada wajah Jonathan.

“Ahh.. ya, silahkan.” Ucap Dewi  sambil bergegas berdiri lalu pergi meninggalkan Nessa dan Jonathan dengan tatapan yang masih tak ingin berpaling dari wajah lelaki itu.

“Jadi, kamu pemilik kafe ini??” tanya Jonathan pada Nessa saat mereka sudah kembali duduk saling berhadapan.

“Bukan, ini milik Dewi, wanita yang tadi duduk di situ.”

“Ohh..” Jawab Jonathan tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wajah Nessa. “Kenapa kamu nggak pernah angkat telepon dariku?” tanya Jonathan lagi.

“Emm… Aku sibuk.” Hanya itu jawaban Nessa.

“Sibuk ngurus suami kamu??” ada nada sinis yang terdengar dri ucapan Jonathan.

“ku pikir itu bukan  urusan Kak Jo. Ingat, kita hanya berteman.” Nessa mencoba mengendallikan dirinya agar tak terpengaruh dengan sosok Jonathan.

“Oke, tapi ku pikir aku memiliki hak sebgai teman kamu.”

“Hak?? Hak apa??”

“Hak untuk selalu mendapat jawaban telepon darimu.”

“Kak.. Aku punya suami dan anak yang harus di urus, jadi aku tak bisa selalu menjawab telepon Kak Jo.”

Jonathan menggelengkan kepalanya. “Itu bukan alasan kamu Ness.. Kamu nggak mau mengangkat teleponku hanya karena kamu takut kembali jatuh hati padaku.”

Kali ini Nessa yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Enggak kak, percayalah. Aku tidak takut itu terjadi, karena aku yakin tidak akan jaatuh hati pada lelaki lain selain suamiku sendiri.”

Wajah Jonathan tampak  mengeras. “Apa yang tadi pagi mengantarmu kemari itu suamimu??”

“Kak Jo tau??”

“Ya, Aku melihat kalian.”

“Ya, itu saya, suaminya.” Suara dingin penuh penekanan tersebut memaksa Nessa menolehkan kepalanya ke belakang. Dan tampaklah sosok Dhanni yang sudah berdiri dengan wajah sangarnya.

Jonathan membulatkan matanya seketika. Ia bukannya takut karena bertemu dengan Dhanni, Suami dari wanita yang di cintainya. Tapi ia benar-benar tak menyangka jika suami wanita yang di cintainya tersebut adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang sangat di cintai kakaknya sendiri. Ada rasa panas dalam dada Jonathan. Seakan ada sesuatu yang menyulut emosinya.

Nessa berdiri seketika lalu menyambut kehadiran Dhanni. “Kak Dhanni kok sudah balik??”

“Aku kangen kamu sayang.” Ucap Dhanni sambil mengecup singkat bibir Nessa, seakan menunjukkan pada Jonathan jika wanita di hadapannya itu adalah miliknya seorang. “Jadi, siapa dia??” tanya Dhanni secara langsung pada Nessa.

“Ohh.. Emm.. ini Kak Jo, yang kemarin telepon dan kmu yang angkat. Kak Jo ini kakak kelasku saat SMA di  Jogja.”

Dhanni menatap Jonathan dengan tatapan menyelidiknya. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Jonathan. “Dhanni, Suami Nessa.” Ucap Dhanni memperkenalkan diri sambil menekankan kepemilikan atas diri Nessa.

“Jonathan.” Ucap Jonathan sambil membalas uluran tangan Dhanni.

“Jadi.. Hanya kakak kelas bukan??”

“Iya Kak.” Nessa menjawab cepat. “Kebetulan kafe seberang jalan adalah milik Kak Jo, jadi mungkin kami akan sering bertegur sapa.” Jelas Nessa. sedangkan Dhanni hanya menganggukkan kepalanya.

Jonathan kemudian melirik ke arah jam tangannya, “Ness, Aku pergi dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi.”

“Kenapa buru-buru??” lanjut Dhanni seakan dirinya tak ingin Jonathan cepat pergi dari sana.

“Ada janji dengan seseorang.” Jawab Jonathan. Kemudian ia berpamitan lalu pergi meningalkan Dhanni dan Nessa.

“Jadi… mau main belakang hemm??” tanya Dhanni dengan nada menggoda pada Nessa, sedangkan lengan Dhanni sudah menarik tubuh Nessa agar menempel pada tubuhnya.

“Kak.. di lihat orang.”

“Nggak ada yang lihat, Kafenya sepi.” Ucap Dhanni sambil lalu mengecup lembut pipi Nessa. “Aku kangen kamu.”

“Astaga.. Baru juga beberapa jam kita nggak ketemu. Jangan lebbay deh.”

Dhanni tertawa renyah. “Hemm.. jadi kalau aku merayu sekarang di bilang lebbay, tapi kamu mau juga di rayu sama lelaki yang lebih muda dariku.” Sindir Dhanni.

“Astaga Kak.. Kak Jo itu hanya teman, kami nggak ada apa-apa kok.”

Dhanni akan menjawab kalimat Nessa tapi kemudian Ponselnya berbunyi. Dhanni merogoh ponselnya dan mendapti nomer baru di sana.

“Sebentar sayang, aku angkat telepon dulu.” Ucap Dhanni sambil menjauhkan diri dari Nessa. Nessa sedikit heran dengan kelakuan suaminya tersebut. di lihatnya Dhanni menuju ke tempat sepi di samping kafe.

Ahh mungkin itu dari klien yang membahas tentang pekerjaan, pikir Nessa kemudian. Akhirnya Nessa memilih menyiapkan kopi untuk Dhanni di dapur kafe Dewi.

***

Cukup lama Nessa berkutat dengan kopi dan Dewi di pantry. Akhirnya Nessa kembali dengan membawa kopi dan makan siang untuk suaminya tersebut. di lihatnya bangku tempat mereka duduk tadi, tapi Dhanni masih juga tak ada di sana.

Akhirnya Nessa berinisiatif menyusul Dhanni ke teras samping kafe milik Dewi. Dan benar saja, suaminya tersebut ternyata masih di sana dan terlihat serius berbicara dengan seseorang di ponselnya.

“Oke, baiklah kalau begitu. Ahh satu lagi, Saya juga ingin kamu mengawasi seseorang.” Nessa menghentikan langkahnya ketika samar-samar ia mendengar percakapan suaminya tersebut.

“Dia wanita, namanya Erlyta Paraswati. Nanti saya akan mengirimkan datanya.”

“….”

“Iya, terimakasih.”

Nessa sedikit tak mengerti dengan arah pembicaraan Dhanni. Erlyta Paraswati?? Memangnya siapa wanita itu?? Kenapa suaminya ingin mengawasi wanita tersebut?? karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Nessa bahkan tak sadar jika Dhanni sudah berdiri di hadapannya  dan menatapnya dengan tatapan mendamba.

“Sedang memikirkan apa sayang??”

Nessa tersadar ketika mendengar suara penuh kelembutan yang di ucapkan oleh Dhanni. “Ahh enggak, Ayo masuk, makan siangnya sudah aku siapin.”

Akhirnya mereka berduapun masuk ke dalam kafe Dewi. Dhanni kemudian menyantap makan siang yang di siapjkan Nessa di hadapannya. sesekali ia menatap ke arah istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu nggak boleh stres dan banyak pikiran Ness. Ayo katakan, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dhanni secara langsung.

“Aku nggak mikirin apa-apa Kak.”

“Kamu bohong. Ayolah, aku ingin kita saling terbuka. Apa kamu mikirin lelaki tadi??” tanya Dhanni dengan menyelidik.

Nessa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan Dhanni yang terlihat sangat pencemburu. “Aku nggak mikirin Kak Jo. Aku malah sedang mikirin kak Dhanni.”

Dhanni mengernyit. “Aku?? Kenapa denganku??”

“Erlyta Paraswati?? Siapa Wanita itu?? Kenapa Kak Dhanni menyuruh seseorang untuk mengawasinya??”

Dhanni menelan luhadnya dengan susah payah. “Dari mana kamu tau tentang hal itu??”

“Tadi saat memanggil Kak Dhanni, aku nggak sengaja dengar.”

Dhanni menghela napas panjang.  Sepertinya ia harus jujur, lagian tidak ada apa-apa diantara dia dan Erly bukan??

“Erly itu sekertaris pribadi baruku.” Jawab Dhanni dengan santai. “Dan dia mantanku.” Lanjutnya lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Nessa yang mendengarnya hanya mampu membulatkan matanya seketika. Jadi suaminya tersebut memiliki sekertaris pribadi baru yang tak lain adalah mantan kekasihnya dulu?? Bagaimana rupa wanita itu?? Kenapa suaminya ini menyuruh seseorang untuk mengawasi wanita itu?? Apa suaminya ini masih memiliki perasaan lebih pada wanita tersebut???

 

-TBC-

Maaf banyak Typo yaa… Vote dan komen selalu di tunggu… semoga masih mau nunggu lanjutannya yaa.. heheheheh

Advertisements

5 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 5 (“Dia Mantanku”)

  1. Wow wow wow erly kakaknya jonathan dan mantannya dhani dunia sempit sekali ya
    Kakak adek mantannya pasangan suami istri yang romantis ini erly mungkin sedikit membahayakan kali ya makanya dhani sampai harus minta seseorang buat ngawasin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s