romantis

Love Between Us – Part 7 (Gadis Manja Yang Lain)

image

Part 7
-Gadis manja yang lain-

Hari minggu Denny tetap bangun pagi hari seperti biasanya. Tapi tidak untuk minggu ini. Ia dilanda rasa malas, setelah mengantar Aira pulang tadi malam. Sesampinya di rumah, Denny langsung menghubungi Aira kembali. Mengajak Gadis itu bicara semalaman. Denny bahkan sempat menyanyikan sebuah lagu untuk Aira.

FlashBack

“Kamu hari ini berbeda..” Ucap suara di seberang dengan nada manjanya.

“Apa yang membuatku berbeda??” tanya Denny kemudian.

“Kamu nggak dingin kayak biasanya, dan kamu. Eumm, lebih romantis.” Ucap Aira yang terdengar sedikit malu-malu di telinga lawan bicaranya. Denny sedikit menyunggingkan senyumannya.

“Kamu hanya belum mengenalku Aira.”

“Ya…  Dan aku ingin mengenalmu lebih jauh Den..”

“Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal.” Ucap Denny kemudian. Keduanya sejenak sama-sama terdiam seakan kecanggungan menyelimuti diantara mereka. “Aira.” Panggil Denny kemudian.

“Iyaa..”

“Emm… Apa kamu mau mendengarku menyanyi??” Aira terdengar tertawa di seberang. “Kamu bisa nyanyi??”

“Sedikit.”

“Baiklah, aku ingin mendengar kamu beryanyi.” Denny pun mulai memainkan gitarnya.

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

I can’t keep up and I can’t back down

I’ve been losing so much time

Cause it’s you and me and all of the people with

Nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

All of the things that I want to say

Just don’t coming out right

I’m tripping on words, you got my head spinning

I don’t know where to go from here

Cause it’s you and me and there all of the people

With nothing to do, nothing to prove

And it’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer you

Something about you now

I can’t quite figure out

Everything she does is beautiful

Everything she does is right

Cause it’s you and me and all of the people

With nothing to do, nothing to lose

And it’s you and me and all of the people and

I don’t know why I can’t keep my eyes offer you

You and me and all of the people

With nothing to do nothing to prove and

It’s you and me and all of the people and

I don’t why I can’t keep my eyes offer of you

What day is it?

And in what month?

This clock never seemed so alive

You And Me – Lifehouse  

Lama Denny menyanyikan lagu untuk Aira, hingga ia sadari jika diseberang sudah sepi. Tidak terdengar lagi suara cekikikan tawa Aira seperti pertama kali ia menyanyikan lagu tersebut. Apa Aira sudah tertidur??.

“Aira…Aira..” Panggil Denny, tapi ternyata tidak ada jawaban. Ia kemudian tersenyum sendiri, Aira pasti sudah ketiduran. Gadis itu benar-benar lucu. Di sini dirinya sedang berdegup tidak menentu tapi di sana Aira malah asyik tertidur. Denny akan mematikan teleponnya, tapi kemudian Ia mngingat sesuatu. “Mimpi indah Aira…” Denny menelan ludahnya dengan susah payah saat akan mengucakan kalimat selanjutnya. “Aku sayang kamu.”

Kemudian dengan cepat Denny menutup teleponnya. Shit!! Semoga saja Aira tidak mendengar ucapannya yang menggelikan tersebut. Ia merebahkan tubuh di ranjangnya sembari menatap langit-langit kamar. Sedangkan bibirnya tidak berhenti  tersenyum.

Airaa……

Flasback End

Denny kembali menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian tadi malam. Aira benar-benar membuatnya gila. Di raihnya ponsel yang berada di meja kecil di sebelah ranjangnya. Saat di buka, ternyata banyak sekali missedcall dari nomor yang sama. Siapa lagi jika bukan Aira. Tapi ada beberapa juga yang dari nomor adiknya, Clarista.

Untuk apa Clarista meneleponnya pagi-pagi??. Denny mengembalikan ponselnya di atas meja dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Tapi saat keluar dari kamarnya, seorang Gadis menghambur dalam pelukannya begitu saja membuatnya memekik karena terkejut. Itu adalah Gadis manja lainnya. Clarista, Adik kandungnya.

“Kakak……” Ucap Gadis tersebut masih dengan memeluk tubuh Denny.

“Cla.. Kamu ngapain di sini??” Denny menjauhkn tubuh Clarista yang sedang memeluknya, adiknya itu benar-benar terlampau manja.

“Aku mau ngajak Kakak kencan.”

“Enggak, aku sibuk.”

“Ayolah… ini kan minggu..” Rengek Clarista.

Denny menggelengkan kepalanya. “Oke, tapi sebentar saja dan hanya jalan. Aku nggak mau ketemu sama teman-teman anehmu dan mengenalkan diri sebagai kekasihmu.”

“Oke bosss.. Kak Denny memang yang terbaik..” Ucap Clarista sambil mengecup pipi kakaknya tersebut. Denny memilih mengacak-ngacak poni milik Clarista.

***

Seketika mata Aira terbuka lebar. Mengingat semalam telinganya tidak salah menangkap suara. “Aku sayang kamu.” . Kata-kata itu terngiang-ngiang. Ia mencoba mengerjapkan matanya yang masih mengantuk pagi ini. Aira meyakinkan diri itu adalah sebuah mimpi. Bagaimana bisa Denny yang dingin mengucapkan kata-kata semanis itu.

“Itu hanya mimpikan Mimo??” Desahnya sembari memeluk boneka sapi miliknya. “Nggak mungkin Denny berkata seperti itu!” Bibirnya mengerucut.

“Kak Aila!!!” Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Ia segera beranjak dari ranjangnya. Aira membukakan pintu dan tara… Bunga adik bungsunya tersenyum manis. “Bunga mau ketemu Mimo” Ucapnya lucu. Aira menepuk jidatnya, Mimo selalu direbut oleh Bunga. Mungkin ia akan mencari boneka percis sama dengan Mimo agar Mimo miliknya terselamatkan dari tangan Bunga. Bunga langsung berlari lalu naik ke ranjang mengambil Mimo kesayangannya. Dengan gemas ia memeluk boneka sapi itu.

“Bunga sudah mandi belum?” Aira berjalan mendekati Bunga. Ia duduk di pinggir ranjang. Bunga menggelengkan kepalanya. Aira melirik baju yang dikenakan adiknya masih piyama frozen, memang belum. “Kita mandi bareng yuk. Kita buat busa yang banyak”

“Mau!!” Teriak Bunga sambil loncat-loncat di atas ranjang. Aira menuntun Bunga ke kamar mandi sebelumnya ia menaruh Mimo. Tidak mungkin Mimo ikut mandikan?.

***

Denny dan Clarista akhirnya sampai di sebuah Mall yang letaknya tidak jauh dari kontrakan miliknya. Seperti biasa, mereka berjalan dengan mesranya layaknya sepasang kekasih. Clarista tidak berhenti bergelayut di lengannya. Denny sendiri pun merasa sangat nyaman dengan apa yang ia lakukan adiknya.

“Kak.. Ayoo sini.” Ajak Clarista.

Denny menatapnya dengan tatapan curiga.

“Ngapain kita ke sana?? Kamu mau belikan sesuatu buat pacar kamu??” Tanya Denny memincingkan matanya.

“Aku nggak punya pacar tau. Aku cuma mau belikan sesuatu buat Kakak.”

&Nggak, Kakak bisa beli sendiri.” Ucap Denny menghentikan langkahnya ketika mereka akan memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan Pria.

“Ayolah Kak.” Bujuk Clarista

“Pasti Mama kan yang menyuruh kamu??”

“Bukan Kak, ini aku sendiri yang mau belikan Kak Denny. Lihat kemeja Kakak udah jelek, terlihat nggak sekeren dulu lagi tau.” Gerutu Clarista.

Denny tersenyum. Ia sangat tau jika adiknya tersebut sangat menyayangi dan perhatian padanya.

“Dengar, ini sudah menjadi pilihan Kakak. Kakak hanya ingn menjadi orang yang mandiri dan sederhana seperti saat ini.”

“Tapi aku sedih dan nggak tega lihat Kakak seperti ini.” Rengek Clarista.

Denny menghela napas panjang.

“Baiklah, kamu boleh membelikan apapun yang kamu mau untuk Kakak.”

“Yeeyyy!!!”  Clarista bersorak bahagia.

Akhirnya mereka memasuki toko tersebut memilihkan banyak kemeja untuk Denny. Clarista juga tidak lupa membelikan beberapa dasi dan juga sepatu. Ia ingin Kakaknya selalu terlihat keren dan tampan di mata banyak orang.

“Ini berlebihan Cla..”

“Biarin.” Ucap Clarista sambil membayar barang belanjaannya pada kasir. “Kak, setelah ini temani aku makan siang ya.”

“Pasti dengan teman-teman kamu itu.”

Clarista terkikik geli.

“Iya, habisnya mereka menduga jika aku dan Kak Denny sudah putus karena kakak ninggalin aku. Aku nggak mau di remehkan seperti itu.”

Denny mencubit gemas hidung adiknya tersebut.

“Itu salah kamu sendiri, kenapa juga dulu kamu kenalin Kakak pada mereka sebagai pacar kamu.”

“Habisnya pacar mereka keren-keren Kak..”

“Kalau gitu carilah pacar yang lebih keren.”

“Huhh… Sebelum aku pergi cari pacar, mungkin papa sudah mengikat kaki dan tanganku dan mengurung di dalam kamar.” Gerutu Clarista. Denny tertawa lebar.

“Oke, ayo kita pergi menemui teman-temanmu itu.” Mereka pun pergi tanpa menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang selalu mengawasi mereka dari kejauhan.

Dinda mengusap dadanya yang terasa sesak. Bagaimana mungkin Denny seperti itu??. Pria yang disukainya ternyata tidak lebih dari seorang Pria brengsek pada umumnya. Dinda tidak sengaja bertemu dengan Denny saat ia ke sebuah pusat perbelanjaan.

Ia ingin menghampiri Denny, tapi diurungkan niatnya karena ternyata ada seorang Gadis bergelayut mesra di lengan Denny. Siapa Gadis tersebut??? Bukankah kemarin Denny mengakui jika sedang menjalin hubungan dengan Aira?? Kenapa sekarang Denny jalan dengan Gadis lain?? Pikirnya saat itu. Akhirnya Dinda memutuskan untuk mengikuti kemanapun Denny dan Gadis itu berjalan.

Mereka menuju ke sebuah toko perlengkapan Pria. Dan ternyata Gadis itu membelanjakan banyak sekali pakaian-pakaian mahal untuk Denny. Apa Denny selama ini hidup seperti itu??? Hidup dari uang wanita-wanita yang menyukainya?? Sial..!!! Jika seperti itu berarti selama ini ia tertipu dengan sikap pendiam dari Denny.

Dinda kemudian masih setia mengikuti kemanapun Denny dan Gadis tersebut pergi. Sesekali ia menggerutu dalam hati karena tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Denny dan Gadis itu. Hingga tibalah ia di sebuah restoran. Ternyata Denny bertemu dengan teman-teman Gadis itu. Mereka pasti benar-benar menjalin suatu hubungan. Lalu bagaaimaana dengan dirinya?? Dan Aira??. Dinda kemudian sedikit menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Setidaknya setelah ini Aira akan menyingkir dari sisi Denny. Pikirnya sambil kemudian mengeluarkan smartphone miliknya.

***

“Aira, dari tadi Mama perhatikan kamu selalu memegang handphone mu kenapa?” Tanya Zeeva yang hendak duduk di kursi taman. “Sedang menunggu telepon dari seseorang? Denny?.” Pipi Aira merona, pertanyaan Zeeva memang benar. Dari pagi Denny belum menghubunginya. Ada kekhawatiran kenapa Pria yang status kekasihnya itu tidak mengabarinya apapun padahal ini adalah hari minggu. Mereka sedang berada di taman dibelakang rumah. Dengan ditemani secangkir teh madu.

“Iya, Ma” Jawab Aira malu-malu.

“Dia pasti akan meneleponmu, sayang. Nanti malam Ayah mau kita makan diluar. Dan kamu harus ikut!” Baru saja Aira ingin memikirkan alasan untuk tidak ikut. “Naren naik kelas, kita harus merayakannya. Kamu tidak mau kan Naren marah?”

“Baiklah, Ma” Jawabnya pasrah. “Apa aku boleh mengajak Denny, Ma” Bola matanya seakan berbinar-binar. Ini kesempatan untuk Denny lebih dekat dengan keluarganya terutama Ayahnya. Ia ingin membuktikan Denny bukanlah seperti Wisnu yang matre.

“Ajaklah, sayang. Mama pikir akan lebih seru jika banyak yang datang. Dia sepertinya baik”

“Denny memang baik, Ma” Timpalnya dengan membayangkan bagaimana Denny memperlakukannya selama ini. Aira memaklumi jika Denny terlalu kaku jika berdekatan dengannya. Namun Aira bisa merasakan semua yang dilakukan Denny tulus. Zeeva tersenyum melihat putrinya sedang berbunga-bunga. “Ma”.

“Ya?”

“Apa Mama nggak mau menambah adik untukku??” Tanya Aira dengan cengiran. Mata Zeeva seketika terbelalak dan mulutnya menganga. Dasar putri yang usil. Jahilnya tidak pernah hilang walaupun sudah beranjak dewasa. Dengan kaki yang ancang-ancang Aira kabur berlari menuju ke dalam rumah.

“AIRA!!!” Teriaknya dengan berkacak pinggang. Di usianya seperti tidak memungkinkan untuk hamil lagi 2 anak sudah cukup yang lahir dari rahimnya. Ia ingin menggendong cucu saja dari Aira. Mempunyai anak lagi akan memulai kerepotan lagi baginya. Tubuh Zeeva tetap sama seperti dulu meskipun sudah melahirkan dan usia yang bertambah. Ia melakukan perawatan untuk menunjang penampilannya sebagai pendiri salah satu perusahaan mode.

Di dalam rumah Aira tertawa terbahak-bahak. Wajah lucu Zeeva terpampang jelas terrekam dibenaknya hingga ia terus menertawakan Mama Tirinya.

***

Denny masih duduk dengan gelisah. Adiknya ini benar-benar menyusahkan. Ini sudah lebih dari satu jam mereka makan siang dengan teman-teman Clarista. Bukannya apa-apa, teman-teman Clarista memandangnya dengan tatapan mengagumi, dan Denny tidak suka itu. Belum lagi kenyataan jika ia harus berakting sebagai kekasih dari adiknya sendiri. Ya ampun!!! Denny merogoh saku celananya. Dan betapa bodohnya ia baru menyadari lupa membawa ponselnya. Padahal ia sangat ingin menghubungi Aira. Gadis itu sekarang sedang apa ya, pikirnya.

“Sayang.. Kamu kenapa?? Kok kayaknya gelisah?” Tanya Clarista dengan mesranya. Denny sebenarnya geli dengaan panggilan Clarista tersebut. Adiknya itu benar-benar kelewatan.

Denny menatap jam tangannya seperti orang yang sedang sibuk pada umumnya. “Aku ada kerjaan jam satu nanti. Jadi mungkin aku bisa pulang lebih dulu.” Ucap Denny kemudian.

Clarista memainkan matanya padanya. Ia tidak menyangka jika kakaknya tersebut akan berbicara seperti itu. Padahal setelah makan siang, mereka berencana untuk belanja bersama dengan teman-temannya. Tapi kenapa kakaknya itu malah ingin pulang duluan??

“Ahh iya.. Aku lupa. Sore nanti kami akan ke suatu tempat. Iya kan sayang..” Ucap Clarista kemudian. Denny hanya mampu menganggukkan kepalanya. Clarista kemudian berpamitan dengan teman-temannya. Ia tidak mungkin melanjutkan acaranya tanpa Denny yang menemaninya karena dua temannya tersebut akan belanja dengan kekasihnya juga.

Denny dan Clarista pun keluar dari restoran. Denny keluar dengan wajah leganya sedangkan Clarista dengan wajah yang sudah di tekuk.

“Ayo kita pulang.” Ajak Denny dengan tangan menuntun Clarista.

“Kakak sebenarnya mau kemana sih?? Nggak asyik banget.”

“Aku nggak terlalu suka dengan keramaian Cla.”

“Aahhh selalu saja seperti itu, nggak asyik.” Denny tersenyum lalu mulai mengrangkul bahu Clarista.

“Sudah, jangan merajuk lagi. Ayo pulang, lain kali kita kencan lagi.” Ucap Denny yang kemudian membuat Clarista kembali senang. Di sisi lain, seorang Gadis masih memperhatikan mereka dengan tatapan tajam penuh emosinya. Bibir Gadis itu tidak berhenti menggerutu karena kesal bercampur dengan sakit hati.

Kak Denny, bagaimana mungkin kamu bisa sejahat ini??? pikir Gadis itu.

-Tbc-

Maaf bgt yaa telat post… alasannya masih sama… ini cerita di kerjakan 2 orang jadi pastinya waktu kamilah yg menjadi kendala… dan makasih juga buat yg udah mau nunggu dan baca sampek chapter 7 ini.. saya dan sahabat saya @cutelfishy akan berusala sebaik2nya mengerjakan cerita ini sampai ending… *kisshug.. ( ̄ε(# ̄)︴

Advertisements

5 thoughts on “Love Between Us – Part 7 (Gadis Manja Yang Lain)

  1. yahhh salah paham dech
    Adeknya mah begitu banget kan
    Tapi semoga nantinya denny bisa menjelaskan sama aira sebelum salah paham makin berlanjut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s