romantis

Passion Of Love – Chapter 3

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

*Remake Fansfic korea The passionnate Of Love -Banyak mengandung unsur dewasa-

Haii.. maaf sebelumnya yaaa… hrusnya aku Update TLK 2 dulu, tapi karena siang ini anakku nangis ngajak renang, makanya aku nggak sempat lagi benerin draftnya.. hehehhe daripada aku nggak jadi update, maka akuupdate ini aja dulu yaa… Untuk Kak Dhanni (TLK 2), inssyaa allah Besok sore sedangkan Mas Yoga (SPH) besok sorenyaa lagi.. oke.. enjoy reading..

 

 

Chapter 3

 

Tanpa berfikir panjang lagi Fiona memunguti pakaiannya, mengenakannya kembali, lalu keluar dari apartemen Ben tanpa pamit. Baginya semua hutang budinya sudah lunas. Masih dengan bertelanjang kaki, Fiona berjalan menuju halte bus  terdekat tanpa sedikitpun menoleh kebelakang. Dia masih bingung, kenapa perasaaannya menjaadi kacau seperti itu. Bukankah dia juga sering di perlakukan seperti itu?? Setelah naik bus. Fiona menuju ke Rumahnya mengambil beberapa potong pakaian lalu kembali ke rumah sakit.. Ia ingin bersama Marsha, satu-satunya orang yang sudah seperti kakaknya sendiri.

Sesampainya di depan kontrakannya, betapa terkejutnya Fiona memandang seorang lelaki yang sedang duduk gelisah menunggunya, karena saat lelaki itu melihatnya dia langsung berdiri dan menghampirinya.

“Kamu dari mana saja? Apa kamu tau.. semalaman ini aku mencarimu kemana-mana menungguimu di tempat kerjamu tapi kamu tidak kunjung datang, Kamu dari mana saja??” Lelaki itu bertanya dengan nada meninggi, menunjukkan jika Ia marah, dan kelihatannya dia sangat khawatir. Fiona hanya bisa tercengang melihat sikap dari lelaki tersebut.

Dia adalah Erlangga. Seorang lelaki tampan, dewasa yang sangat sayang dan cinta kepada Fiona. Namun Fiona tak pernah mau menerima cinta Angga karena Fiona sangat menghormatinya. Sebenarnya Fiona juga mempunyai perasaan lebih kepada Angga, Hanya saja, Fiona mengingkarinya, menyembunyikannya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam karena Ia merasa tidak pantas untuk Lelaki baik seperti Angga, Fiona lebih menganggapnya sebagai Kakak atau pahlawan yang sering ada untuknya, membantunya di saat dia mengalami kesulitan. Tapi dimanakah Angga semalam…? Ia  sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota selama 3 hari.

Bukannya menjawab, Fiona malah langsung menghambur kedalam pelukan Angga sambil menangis. Angga pun semakin khawatir di buatnya.

“Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu padamu..?” Tanyanya sambil meremas kedua bahu Fiona, menjauhkan diri dari pelukan Fiona, dan menatap Fiona dengan tajam.

“Enggak, aku nggak apa-apa… Aku cuma merindukanmu.” Jawab Fiona sambil memeluknya kembali.

“Kamu bohong.”

“Enggak.”

“Fiona, aku sudah mengenalmu lama, kalau kamu berbohong, kamu tidak akan berani menatap mata orang yang sedang kamu bohongi, karena kamu tak dapat menyembunyikan kebohongan itu dari matamu.” Ucap Angga, kali ini dengan membalas pelukan Fiona, dan membelai punggung Fiona. “Aku juga sangat merindukanmu..” Lanjutnya lagi, sambil sedikit mencium rambut Fiona.

“Kak Angga..  Kak Marsha melahirkan tadi malam.” Kata Fiona menjelaskan ketika mereka sudah duduk di ruang tamu di kontrakannya.

“Apa? jadi itu sebabnya kamu tidak pulang semalaman?” Tanya Angga yang setengah kaget.

Fiona hanya dapat menganggukkan kepalanya. “Kak.. Aku lelah..” Kata Fiona sambil berbaring di sofa panjang di ruang tamunya, dengan berbantalkan paha Angga.

“Ya,,, Aku tau.. tidurlah.. Aku akan menemanimu di sini.” Katanya sambil membelai-belai rambut Fiona.

Kalau ada orang yang melihat mereka, pasti orang itu akan berfikir bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi. Ya, sebenarnya mreka berdua sangat dekat, saking dekatnya sampai kelihatan sebagai sepasang kekasih. Fiona sering bermnja-manja pada Angga layaknya seorang adik pada kakaknya sedangkan Angga sering memanjakan Fiona layaknya seorang kekasih. Terkadang, Fiona juga menganggap Angga sebagai kekasihnya. Namun perasaan tersebut kembali ia tepis, mengingat kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang Angga padanya membuat ia merasa tak pantas mencintai ataupun di cintai Angga karena status sosialnya yang hanya bekerja sebagai wanita penghibur.

Anggaa pun demikain, dia sangat berbeda dengan para lelaki di sekitar Fiona yang hanya menganggap Fiona sebagai ‘tubuh yang bisa di beli’, atau sebagai wanita murahan. Angga malah menganggap Fiona sebagai harta yang harus di lindungi, wanita yang harus di hormati., Angga tak pernah menyentuh Fiona, bahkan untuk sekedar ingin menciumpun Angga meminta ijin dulu padanya. Bukannya Angga tidak tertarik dengan kemolekan tubuh Fiona, Percayalah, semua lelaki yang melihatnya pasti ‘Menginginkanya’, namun Angga dapat menahannya,, sampai Fiona benar-benar bersedia menikah dengannya. Angga tak mau di samakan dengan lelaki lain yang hanya menginginkan fisik Fiona semata..

***

Paginya…

Sudah jam sepuluh siang, Fiona berencana menjenguk Marsha setelah tadi malam dia ketiduran di dalam pangkuan Angga, begitupun Angga, dia juga ketiduran kepalanya menyandar di sandaran sofa. Membuat badannya terasa kaku dan pegal saat bangun tadi.

Pagi ini Fiona mengenakan celana Jeans yang sangat pas melekat di kakinya. Dengan sebuah T-shirt putih yang sedikit nge-pas dengan bentuk tubuhnya. Masih membuatnya terlihat seksi walaupun dia mengenakan baju casual . kali ini dia mengenakan sepatu boots abu-abu yang panjangnya sampai mata kaki dan ber-hak sedang. Semua Rambut pirangnya di kuncir keatasdan di gulung, meninggalkan sedikit poni di keningnya membuat dirinya kelihatan lebih muda dari umurnya. ia memakai make up sederhana, membuatnya menjadi lebih fresh..

“Astaga.. Apa yang terjadi..” Fiona melihat ada beberapa bekas kemerah-merahan bahkan ada beberapa yang menjadi sedikit ungu di sekitar lehernya. Lalu dia memeriksa di bagian dada dan pundak belakangnya, sejauh dia bisa melihat, bekas-bekas kemerahan itupun ada di bagian-bagian tersebut. “Astaga.. ternyata lelaki tadi malam benar-benar gila..” gerutunya pada diri sendiri.

Terpaksa, pagi ini Fiona menambahkan syal  tebal  dan melilitkannya di lehernya yang mulus. “Baiklah.. Sekarang aku sudah siap.” Katanya pada bayanganya di cermin.

Fiona keluar dari kamarnya, dan melihat Angga sedang duduk di sofanya.

“Kak Angga masih di sini?? apa Kakak mau menemaniku kerumah sakit?” tanyanya sambil mengambil air putih di dalam kulkas.

“Iya.. Aku akan menemanimu sekalian aku juga ingin melihat Marsha.” Jawab Angga kemudian.

“Baiklah.. Kita pergi sekarang..” kata Fiona sambil tersenyum lebar.. Pagi ini suasana hatinya sangat baik. Angga sudah pulang kembali dari perjalanan bisnisnya, dan dia sangat perhatian sekali. Mereka selalu bercanda gurau saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, tangan mereka pun tak segan-segan saling bergandengan layaknya sepasang kekasih. Bahkan ketika sampai di rumah sakitpun mereka masih bergandeng mesra dan sesekali saling cekikikan.

Akhirnya ketika Fiona membuka pintu ruangan perawatan Marsha, betapa terkejutnya ketika Ia melihat sosok lelaki yang sedang duduk di bangku sebelah tempat tidur Marsha, sontak senyumanya pun lenyap ketika matanya beradu pandang dengan sepasang mata tajam yang ada di seberangnya.

“Ngapain kamu di sini??”  Tanya Fiona dengan nda yang tidak enak di dengar.

***

Pagi ini Ben memiliki mood yang buruk. Tak tau kenapa rasanya Ia ingin meledak-ledak. Apa karena wanita tadi malam yang ia tiduri??  Fiona.., apa yang terjadi pada wanita itu?? bisa-bisanya wanita itu  meninggalkanya begitu saja tanpa pamit setelah mereka bercinta.

Semalaman Ben mengelilingi kota Jakarta, tapi tetap saja Ben  tidak menemukan Fiona, Sosok yaang di carinya. Ben bahkan kembali ke rumah sakit, tempat Marsha di rawat, siapa tau saja Fiona ada di sana, tapi ternyata, Fiona tidak ada di sana juga. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ia kurang memuaskan wanita itu? atau.. Apa wanita itu marah karna perlakuannya semalam? Ben berpikir dalam hati. Ben mengakui, tadi malam ia memang kasar, Ben  juga bingung kenapa ia sampai sekasar itu pada Fiona. Ben hanya tak suka melihat Fiona sebagai wanita liar. Entah kenapa itu membuatnya marah.

Pagi ini, Ben menunda semua Metting pentingnya karena ia mau menuju ke rumah sakit, menjenguk Marsha, sekaligus berharap bisa menemui Fiona di sana. Apa ia sudah gila? Kenapa juga ia ingin menemui wanita itu? yang jelas, tubuhwanita itu membuat Ben merasa ketagihan, sejak tadi malam Ben selalu gelisah, selalu terbayang-bayang wajah Fiona, lekuk tubuhnya, rasanya Ben mengininkannya lagi dan lagi,,, Bukankah itu gila?? Ya, Ben memang sudah gila.

Kini, Ben sudah menunggu Fiona di rumah sakit dari jam sembilan pagi, dan sekarang sudah hampir jam sebelas. Sudah hampir dua jam Ben menunggu Fiona di tempat yang membosankan itu. Sungguh, Ben benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri pagi ini, Ben adalah  type orang yang sangat benci menunggu. Tapi pagi ini ia menunggu seorang wanita yang tak penting selama hampir 2 jam?? Ia benar-benar sudah gila.

Tiba-tiba saja pintu itu di buka, Ben melihat sosok Fiona berada di ambang pintu menatapnya dengan tatapan terkejut, mungkin sama terkejutnya dengan ekspresi Ben sekarang ini, tapi Ben mencoba menyembunyikannya dengan cara menatap tajam mata Fiona.

Ben baru sadar kalau penampilan Fiona saat ini berbeda dengan semalam. Fiona memakai pakaian yang cukup sopan, meski tak sedikitpun mengurangi kesan seksi di mata Ben. Rambut Fiona di ikat seadanya meninggalkan sedikit poni, Fiona memakai sepatu boots, celana jeans yang ketat, serta T-shirt putih yang ketat pula, semuanya menonjolkan lekuk tubuhnya yang… Entahlah,, Ben tak bisa berkata lagi. Dan astaga… Ben baru sadar  jika ia merasakan gairahnya mulai tumbuh lagi untuk seorang Fiona, semua yang di bawah sana sudah menegang dan mengetat seakan ingin di bebaskan.

“Ngapain kamu di sini?” Pertanyaan Fiona membuat Ben sedikit marah.

“Ada yang harus kita bicarakan.” Jawab Ben dengan memasang ekspresi sedingin mungkin.

“Ku pikir semuanya sudah selesai, nggak ada lagi yang perlu di bicarakan.” Kata Fiona membuat Ben Terkejut.

Dia kah wanita tadi malam? wanita yang menangis memohon-mohon padanya? menangis dalam pelukannya? membuatnya ingin melindungi dan membantu wanita tersebut.? Jika iya, berarti wanita itu sudah berubah seratu delapan puluh derajat. Pikir Ben kemudian.

“Heii… Dasar bocah tengik.. Kamu nggak  boleh berbicara seperti itu, dia orang yang sudah menolong kita tadi malam.” Marsha terlihat membela Ben.

“Menolong? memangnya siapa dia?” Tanya Angga yang berdiri tepat di sebelah Fiona.

Ben baru sadar kalau Fiona datang dengan seorang lelaki, Fiona bahkan terlihat bergandeng mesra dengan lelaki tersebut. Sial..!! Apa buhngan Fiona dengan lelaki itu?? pikir Ben dalam hati.

“Bukan siapa-siapa Kak.. dia hanya pelangganku saja.”

Apa? Pelanggan? jadi dia menganggapnya hanya sebagai pelanggan saja? Kali ini Ben menggeram dalam hati, ia tidak suka kenyataan bahwa Fiona hanya menganggapnya sebagai pelanggan saja. Dan entah ada dorongan apa Ben langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah Fiona, meraih sebelah tangan Fiona dengan kasar.

“Ayo ikut aku, ada yang ingin kubicarakan.” Ucap Ben sambil sedikit menyeret Fiona.

“Lepaskan, kamu kenapa sih?” Fiona berkata sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Ben.

“Lepaskan dia..” Ben mendengar suara lelaki meneriakkan itu pada dirinya. Ben membalikkan  badannya, dan menatap lelaki itu dengan tajam. Ternyata lelaki itu  juga menggenggam sebelah tangan Fiona yang lainnya dengan erat. Rasanya Ben siap meledak, darahnya sudah mulai mendidih. Ben tidak suka melihat Fiona di sentuh lelaki lain.

Ben berjalan menuju kearah lelki tersebut, lalu Ben memegang tangan lelaki itu yang menggenggam tangan Fiona, “Seharusnya Kau yang melepaskannya.” Ucap Ben dengan nada dingin sambil melepas paksa genggaman tangan lelaki itu  pada tangan Fiona, lalu menyeret Fiona dengan paksa keluar dari ruangan tersebut.

“Kak Angga, jangan khawatir, tunggu aku di situ, oke?” Teriak Fiona sambil menatap ke arah Angga. Dan entah kenapa kata-kata Fiona tersebut membuat Ben semakin murka.

 

-TBC-

Pendek bgt yaa?? hahhaha maklumi sajaa, nanti akan ada 19 Chap dan semuanya pendek2.. wakakakkakaaka

Advertisements

6 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 3

  1. Makanya ben jangan kasar dong, jadinya bikin fiona trauma deh ama kamu…Moga ben gk melakukan hal yg jahat ke fiona..
    Dibalik profesinya yg gak bagus, tapi banyak banget yg sayang sama fiona..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s