romantis

Passion Of Love – Chapter 2

Skkm

Sang Kupu-kupu Malam

 

*Remake Fansfic korea The Passionnate Of Love -Banyak mengandung unsur Dewasa-

Chapter 2

Fiona menunggu lelaki itu di ruang tunggu dengan khawatir. Fiona memegang Jas Lelaki itu. Fiona tampak sedikit berpikir, kenapa kenapa Lelaki itu sangat baik terhadapnya?? Mereka bahkan tak saling kenal.

Fiona melihat lelaki itu keluar dari ruangan. lengan kemeja hitamnya di singsingkan, oh.. astaga… untuk ukuran lelaki, dia termasuk dalam lelaki yang Seksi untuk Fiona… Fiona bisa merasakan kalau Lelaki itu adalah lelaki yang sangat Kharismatik. Otot-ototnya yang menyembul keluar, dadanya yang kekar membuat kemeja itu sangat pas di gunakannya. Kulitnya yang kuning langsat membuatnya terlihat begitu Maskulin, dan lebih Hot untuk Fiona. Fiona baru sadar, kalau baju dan jas lelaki itu yang terlihat mahal serta tatanan rambutnya yang rapi di sisir keatas memperlihatkan kalau lelaki itu bukan dari kalangan biasa. Apalagi kalau ingat mobil mewahnya tadi…

“Bagaimana..?? apa sakit..??” tanya Fiona pada lelaki tersebut.

“Tidak, ini tidak seberapa.” Kata lelaki meyakinkan.

“Tuan.. kenapa Anda melakukan ini.. kita tidak saling kenal, tapi kenapa Anda membantu kami..??” Fiona sudah tidak bisa lagi menahan rasa heranya pada Lelaki tersebut.

Lelaki itu hanya sedikit tersenyum. Senyum pertaman yang Ia perlihatkan sejak mereka bertemu tadi. “Jangan terlalu Formal padaku, Aku nggak setua itu.” Hening.. lalu… “Panggil aku Ben, Benny Andrean” Kata Ben memperkenalkan diri.

Daan Fiona baru sadar kalau sejak tadi mereka memang belum saling mengenal.

Fiona tersenyum, “Fiona, Fiona Adelia..” jawabnya ssambil membalas uluran tangan Ben untuk memperkenalkan diri. “Ben.. Kenapa Kamu mau membantu kami..?” Fiona melanjutkan pertanyaanya tadi.

“Hahaha tentu Kamu tau bukan, kalau di dunia ini nggak ada yang gratis.” Ben tertawa hambar, lalu menatap Fiona dengan tatapan tajamnya. “Aku menginginkan imbalan darimu.” Lanjutnya lagi.

“Apa??” Fiona tidak bisa menahan rasa kagetnya. Apa yang di maksud Ben..?? Fiona pikir, jika Ben melakukan semua itu tanpa pamrih, tapi ternyata Ben sama saja dengan laki-laki diluar sana. Apa yang Ben inginkan darinya.???

“Bagaimana..?? apa kamu bisa membayarnya..?” Tanya Ben sambil melangkah mendekat kehadapan Fiona, Sedangkan Fiona dengan spontan mundur satu langkah. Ben kembali melangkah mendekat dan Fiona mundur lagi dan lagi sampai akhirnya punggungnya menempel di dinding. Ben masih saja mendekat menjepit Fiona di antara dinding dan tubuhnya, Fiona bahkan bisa merasakan napasn Ben yang berhembus di atas ubun-ubunnya, dada Ben yang menempel pada dadanya, bahkan Fiona bisa merasakan sesuatu yang keras dan berkedut di bawah sana yang sedang menempel di perut bawahnya.. Astaga.. lelaki ini sangat bergairah, apakah ini yang dia inginkan dariku..?? Pikir Fiona kemudian.

“A..Apa yang kamu maksud..??” Fiona tergagap.

“Tentu kamu tau apa maksudku kan..?”

“Ba.. Baiklah.. kalau itu yang kamu mau.” Fiona sudah idak kuat lagi menahanya, oke.. Fiona mengaku, jika Ia juga sedikit terangsang oleh kehadiar Ben, lagi pula Fiona sudah terbiasa dengan haal itu, bukankah Ia memang prempuan murahan, pelacur yang menjijikkan, ini memang pekerjaannya.

“Hehh.. Kamu gampangan sekali.” Ucap Ben sambil mendengus.

“Harusnya dari awal kamu sudah tau kalau aku ini memang wanita gampangan.” Jawab Fiona yang sudah agak kesal,

Ben kemudian tersenyum melihat tingkah laku Fiona.”Oke… Aku mau malam ini juga

“Apa??” Fiona terbelalak tak percaya.

“Kenapa..?? kamu mau menolakku..?” Ben bertanya dengan nada penuh penekanan.

“Tidak, Ben.. setidaknya Aku harus menunggu Kak Marsha selesai di operasi.” Jawab Fiona dengan nada membujuk.

“Baiklah..” jawab Ben kemudian. Sebenarnya Ben sudah tidak bisa menahan hasratnya terlalu lama, tapi bagaimana lagi. Mereka memang harus menunggu Marsha selesai operasi terlebih dahulu.

“Terimakasih sudah mau mengerti.”Ucap Fiona ssambil menundukkan kepalanya.

“Pakai ini..” kata Ben yang kemudian mengagetkan Fiona. Fiona sendiri tidak tau kapan Ben melepas sepatunya, tiba-tiba saja sepatu itu sudah ada di sebelah telapak kaki Fiona.

Fiona mnatap Ben penuh tanya. “Kenapa??”

“Kenapa?? kamu dari tadi telanjang kaki, apa kamu tidak kedinginan, kamu bisa masuk angin, dan ini..” kata Ben lagi sambil mengambil jasnya yang sejak tadi di pegang oleh Fiona, lalu menaruhnya di bahu Fiona. Fiona hanya bisa ternganga melihatnya. “Pakai ini, setidaknya kamu harus tampil sopan di hadapan umum, dengan pakaianmu ini kamu bisa membangkitkan gairah semua pria yang sedang memandangmu.” Lanjut Ben lagi.

Tak tau kenapa ada desiran di dalam dada Fiona. Fiona merasakan kehangatan, lelaki itu sangat perhatian dan romantis. Beruntung sekali wanita yang menjadi pacar atau istrinya. Istri?? Apaa Lelaaki itu memang sudah memiliki seorang istri???

***

Dua jam kemudian,…

Oprasi itu berjalan sangat lama bagi Fiona. Fiona gelisah dalam duduknya. Mereka berdua tegang saat menunggu operasi tersebut. Tangan dan dahi Fiona bahkan sampai bekeringat. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang operasi. Mereka berdua langsung berdiri dan menghampirinya.

“Bagaimana dok..?” Tanya Fiona penasaran.

“Semua berjalan dengan lancar, bayinya sehat ibunya juga selamat. Namun masih harus banyak istirahat, karena belum pulih total. Kami akan menempatkannya dalam ruang prawatan biasa…”

“Syukurlah.. Terimakasih dokter…” kata Fiona lega.

Akhirnya tak lama Marha dan bayinyaa pun di keluarkan dari ruang Operasi menuju ke ruang perawatan biasa. Fiona dan Ben mengikuti suster-suster tersebut mendorong raanjang yang di baringi Marsha.

“Sekarang bagaimana..?? dia sudah lebih baik di sini. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya??” Tanya Ben tiba-tiba setelah mereka mengantar Marsha ke ruang perawatan biasa.

Fiona kembali terkejut… Apakah benar Ben sangat menginginkan tubuhnya malam ini juga..?? “Terserah kamu saja..” jawab Fiona pasrah, yahh.. Fiona memang harus menuruti kata-kata Ben, karena Fiona harus berterimakasih padanya dengan apa yang sudah Ben lakukan malam ini padanya dan juga Marsha. Walaupun Ia harus membayar cara berterima kasih itu dengan tubuhnya

“Baiklah… kalau begitu sekarang ayoo ikut aku..” kata Ben sambil menyeret Fiona keluar dari ruangan Marsha.

Mereka akhirnya keluar dari rumah sakit. Ben masih ssaja menyeret Fiona. Ben menghentikan sebuah taksi, lalu kami memasukinya. Ben hanya mengatakan tempat tujuannya pada supir taksi, lalu supir taksi itupun langsung mengerti. Saat taksi berjalan, mereka tidak berbicara sepatah katapun sampai tempat tujuan.

***

Ben masih saja menyeret Fiona, bahkan setelah mereka turun dari taksi. Mereka memasuki sebuah gedung yang tergolong mewah.

“Kita di mana..?” Tanya Fiona sesampainya di dalam Lift.

“Apartemenku.” Ben menjawab singkat.

Mereka keluar dari lift di lantai delapan, lalu menuju kesebuah Kamar Apartemen. Saat masuk ke dalam, Fiona sangat terpesona dengan interiornya. Apartemen ini benar-benar mewah, ucapnya dalam hati.

Saat Fiona belum selesai dengan rasa takjubnya, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar meraih pinggangnya. Menariknya kedalam pelukan seorang Benny Andrean. Mereka saling bertatapan mata, lalu….. Tanpa permisi Ben menyambar bibir ranum milik Fiona, Melumatnya dengan panas, memainkan lidahnya.

Fiona pun tak Mau kalah, Ia pun membalas ciuman Ben sambil melingkarkan tangannya di leher Ben. Merasa di imbangi, Ben semakin menjadi-jadi, Ia mendorong Fiona sedikit demi sedikit ke kamarnya tanpa melepaskan ciuman panasnya.

Di dalam kamar,. masih sambil berciuman, Ben membuka resleting dress yang di kenakan Fiona, lalu melepaskannya, hingga Fiona saat ini hanya mengenakan Bra dan celana dalamnya saja memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Fiona terkejut karena Ben menghentikan ciumannya, mempehatikan lekuk tubuhnya yang sudah setengah telanjang..

“Kenapa??” Tanya Fiona dengan polos.

“Tidak.. Kamu benar-benar ssangat indah..” jawab Ben sambil kembali menciumi Fiona, kali ini sambil membuka kaitan yang di kenakan Fiona, hingga Fiona saat ini sudah telanjang dada, Fiona pun tak mau kalah, Ia membuka satu per satu kancing kemeja yang di kenakan Ben, lalu membukanya membuat Ben telanjang dada juga.

Kali ini Fiona yang menghentikan ciumannya, dia terpesona dengan keindahan tubuh Ben, kulit kuning langsatnya, Dadanya yang kekar, perutnya yang Sixpack ,,wajah sangarnya,, membuatnya menjadikan lelaki yang paling seksi yang pernah di lihat oleh Fiona.

“Kenapa??” kali ini Ben yang bertanya heran sambil mengangkat sebelah alisnya, melihat Fiona memandangi tubuhnya.

Fiona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menggoda. “Kamu.. sangat Tampan.. dan Seksi..” Jawab Fiona sambil sedikit menunduk malu-malu, pipinya merah merona membuat Ben semakin gemas, ingin memilikinya.

Ben tersenyum, “Kalau begitu, kita jangan membuang-buang waktu lagi.” Kata Ben lagi sambil melanjutkan aksinya. kali ini Ia mencumbui leher Fiona, Telinganya, bahkan tangannya sudah mulai meraba-raba dada Fiona, menggoda puncaknya, membuat Fiona mengerang nikmat.

“Apa kamu ingin aku melakukannya sambil berdiri..?” Tanya Ben di sela-sela ciumannya.

“Jangan..” jawab Fiona sambil mendesah keenakan.

“Kenapa??” kali ini Ben bertanya sambil mencumbui dan membuka Panty Fiona, membuat Fiona polos tanpa sehelai benang pun.

“Berdiri membuat kakiku cepat pegal.” Fiona tak mau kalah, Ia juga membuka celana sekaligus dalaman Ben, membuat Ben telanjang bulat tepat di hadapannya.

Ben tersenyum mendengar jawaban Fiona. “Baiklah kalau begitu kita lakukan di atas ranjang.” Kata Ben sambil mengangkat dan membaringkan Fiona di atas ranjangnya. Ben kemudian mencumbu bibir Fiona, lalu Ia bangkit kembali. Bukan menindih Fiona, tapi malah membalik tubuh Fiona dan mengangkat pinggulnya.Fiona benar-benar terkejut dengan sikap Ben yang terkesan agak kasar.

“Apa yang kamu…. Aaawwww……….” Belum selesai Fiona melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja Ia merasakan sesuatu yang keras memasukinya tanpa permisi, membuatnya meringis kesakitan. “Apa yang kamu lakukan???” Tanya Fiona sambil menoleh kebelakang.

Fiona merasa kesal dan merasa di lecehkan. Bukankah biasanya Ia juga seperti itu saat melakukannya dengan para pelanggannya…?? Tapi kenapa dengan lelaki ini dia merasa berbeda,,??

I’m Sorry…” hanya itu yang bisa di katakan Ben sambil tersenyum menyeringai kepada Fiona. Lalu Ben pun memeluknya dari belakang, mencumbui sepaanjang punggungnya, telinganya, lehenya.

Ketika puncak itu hampir tiba untuk Fiona, Fiona mendesah, mengerang penuh dengan kenikmatan. Ben pun mempercepat lajunya, membuat mereka mencapai kenikmatan itu bersama-sama.

Merekapun terjatuh lunglai di atas ranjang, nafas mereka terengah-engah, seakan masih terpengaruh orgasme yang baru saja mereka capai bersama.

“Untuk ukuran seorang Pelacur.. Kamu benar-baner sangat nikmat, semuanya masih terasa sangat sempit dan mengcengkeramku dengan erat.” Ucap Ben masih dengan napas yang tersenggal-senggal.

Fiona hanya terdiam mendengar kata-kata Ben yang terasa menyadarkannya, bahwa lelaki yang berada di sebelahnya saat ini memang hanya memandangnya sebagai seorang pelacur. Tak lebih dari itu, tapi kenapa Ia sakit hati..?? bukankah kenyataannya Ia memang seperti itu.. entahlah yang jelas ada sesuatu yang sangat membuatnya tak nyaman malam ini.. tiba-tiba Fiona terkesiap mengingat sesuatu yang membuatnya langsung bangun, terduduk menunduk dan melihat pangkal pahanya yang masih basah.

“Kenapa??” Tanya Ben yang ikut terkejut dengan reaksi Fiona.

“Apa yang kamu lakukan..?” Tanya Fiona sambil menatap tajam ke arah Ben.

Sedangkan Ben langsung ikut bangun dan menatap ke arah Fiona dengan tatapan tak mengertinya. “Apa yang terjadi??” tanya Ben dengan raaut bingungnya.

“Apa kamu tidak menggunakan pengaman??” Fiona berbalik bertanya, kali ini nadanya sedikit meninggi, Ia tidak menyangka kalau Ben akan melakukan itu tanpa pengaman. Karena walaupun dia sudah melakukannya berkali-kali dengan pelanggannya tapi tak sekalipun mereka tak menggunakan pengaman. Tentu saja Fiona tau resikonya. Seperti hamil, atau tertular penyakit dan lain-lain.

Mendengar pertanyaan Fiona, Ben malah tertawa mencemooh sambil memalingkan wajahnya.. “Kenapa?? Apa kamu takut tertular penyakit mengerikan, kamu tenang saja, aku bersih, seharusnya aku yang takut tertular penyakit itu darimu.” Kata-kata Ben kali ini benar-benar membuat hati Fiona terasa tercabik-cabik.

“Ben..teriak Fiona tak percaya apa yang baru saja di katakan oleh Ben.

“Kenapa?? Apa kamu takut hamil..? kamu tenang saja, aku akan bertanggung jawab kalau itu terjadi padamu.” Fiona menatap Ben yang kini sudah turun dari ranjang. “Setidaknya aku akan carikan Kamu dokter Aborsi yang bagus saat kamu hamil nanti.” Lanjutnya sambil meninggalkan Fiona begitu saja menuju ke kamar mandi.

Fiona duduk sendiri tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Kata-katanya begitu dingin dan menusuk. Sangat berbeda dengan Lelaki yang berada di rumah sakit beberapa jam yang lalu, lelaki yang memberikan sepatu dan jasnya untuk dirinya. Dan kini, Ben benar-benar tak menganggapnya sebagai seorang wanita terhormat. Tapi kenapa dia ingin di hormati?? bukankah selama ini dia memang hidup dengan cara seperti ini?? Menjadi wanita bayaran hanya demi bertahan hidup?? tiba-tiba saja setetes air mata menetes di pipinya yang halus. Fiona menangis.. mengapa Ia harus menangis…??

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Passion Of Love – Chapter 2

  1. Sikap ben bikin bingung, sebentar baik dan pengertian, sebentar jahat dan tidak berperasaan, dan bikin sakit hati fiona dengan kata”nya yg tajam…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s