romantis

The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 2 (Bertemu Dia)

011

The Married Life (Lady Killer 2)

 

Nahhh akhirnya aku bisa update lagi.. Mood sudah membaik, tubuh sudah kembali vit, dan keadaan sekitar sudah membaik.. jadi bisa lanjut nusi… yeeeyyy semangatt…. untuk kali ini aku update Kak Dhanni dulu yaa,,,, hahhahahah enjoy reading…. 🙂

 

Chapter 2

-Bertemu Dia-

 

Nessa masih sibuk membersihkan dapur ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata Dewi yang sedang menghubunginya. Temannya itu memang selalu menghubunginya jika ada waktu luang.

Haii Ness..”

“Ada apa lagi?? Aku masih sibuk Wi..”

“Ke Kafe dong.. Aku di sini sendiri.”

“Memangnya si Dimas kemana??”

“Dia sakit jadi nggak bisa datang.”

Dewi, Temannya itu memang sudah menikah dengan Dimas beberapa bulan yang lalu. Mereka berdua membuka sebuah Kafe yang letaknya tidak jauh dari Apartemen yang di tinggali Nessa. Dan Nessa memang sering sekali main kesana jika sedang bosan.

“Brandon masih tidur Wi..”

“Bangunin.. Please…. Ada yang mau ku bicarakan sama kamu.”

Nessa menghela napas panjang. Ia akhirnya mengalah dan memilih datang ke Kafe milik Dewi. “Baiklah, Aku akan ke sana.” Ucap Nessa kemudian yang membuat Dewi bersorak bahagia di seberang sana.

Setelah telepon di tutup, Nessa akhirnya menyelesaikan tugas rumahnya kemudian memperbaiki penampilannya dan juga penampilan Brandon lalu berangkat menuju ke kafe milik Dewi dan Dimas.

***

Siang Itu, tak lupa Nessa menghubungi Dhanni. Ia meminta supaya Dhanni tidak perlu pulang, karena Ia kini sedang berada di Kafe milik Dewi.

“Sayang… Kamu harus banyak istirahat.” Ucap Suara di seberang dengan penuh perhatian.

“Astaga Kak, Cuma santai di Kafe Dewi, aku nggak kemana-mana Kok. Lagian Bosen di rumah.”

“Kan Aku mau pulang, masak Masih Bosen.” Ucap Dhanni dengan suara menggoda.

“Ya tetap bosen, kan ketemu Kak Dhanni terus, pengen juga ketemu yang lain.”

Terdengar suara tawa di seberang. “Awas saja kalau kamu sampai ketemu yang lain.” Ucap Dhanni dengan nada yang di buat mengancam.

“Ya Ampun Kak.. nggak akan ada yang mau sama Aku, perempuan hamil yang sudah menggendong satu anak.”

Lagi-lagi Dhanni terdengar terkikik geli. “Oke.. Oke.. Hati-hati sayang.”

“Iya kak..”

“Kiss nya mana..??”

Nessa menggelengkan kepalanya. “Emmuuacchh.. Sudah kan.”

“Yaa.. tapi sayang tidak terasa.”

“Dasar, Sudah ku tutup teleponnya.”  Ucap Nessa kemudian yang langsung menutup teleponnya tanpa menghiraukan suara di dalam telepon yang memanggil-manggil namanya.

“Kalian mesra banget sih.” Dewi yang sudah berjalan menuju ke tempat duduk Nessa sambil membawa sebuah nampan yang berisi jus jeruk dan juga beberapa muffin kesukaan Nessa.

Nessa tersenyum. “Nggak tau, Kak Dhanni selalu gitu, kadang aku risih.” Ucap Nessa sambil terkikik geli.

Nessa kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang di sediakan Dewi, ruang santai kecil tempat dimana Dewi bersantai, dan kini di sana ada Brandon yang sudah kembali tertidur pulas. Nessa kemudian kembali ke tempat duduk nya tadi dimana sekarang ada Dewi yang duduk di sana.

“Tapi bagus tau, Seorang Dhanni Revaldi bisa berubah seperti itu, Kamu pantas dapat penghargaan.”

“Yang benar saja.” Gerutu Nessa. “Ehh.. tumben Kafe kamu sepi, biasanya sudah ramai.” Tanya Nessa sambil memperhatikan sekitarnya yang hanya terdapat satu dua orang yang duduk sntai di sana.

“Keadaannya memang seperti ini sejak beberapa hari yang lalu.” Dewi terlihat tampak sedih.

“Ohh yaa?? Kenapa bisa begini??” Nessa penasaran, ya, Kafe Dewi memang selalu ramai setiap harinya,  selain harga yang di tawarkan lebih murah, menu yang di sajikan pun beragam dan tidak membuat bosan.

“Sini ikut aku.” Dewi menarik tangan Nessa lalu mengajak Nessa keluar. “Kamu lihat Kafe di sana, Nah, mungkin itu yang membuat Kafe ku sepi pengunjung.” Ucap Dewi sambil menunjuk ke sebuah Kafe baru yang ada di seberang jalan.

“Joy’s Cafe..”  Ucap Nessa.

“Ya.. Kafe Ala luar negri, katanya sih gitu.” Ucap Dewi menjelaskan. “Dan Aku.. menyuruhmu ke sini untuk meminta bantuan padamu.”

Nessa memicingkan matanya pada Dewi. “Bantuan?? Bantuan apa??”

“Please.. bantu aku yaa…  emm… Ku pikir kamu mau ke sana dan mencicipi makanan mereka.” Ucap Dewi dengan nada memohon.

Nessa membulatkan matanya. “ Yang benar saja Wi.. Astaga.. enggak.” Nessa menolak mentah-mentah permintaan Dewi.

“Ayolah Ness.. Please… masak kamu nggak mau bantu teman kamu sendiri sih.. Please..”

Nessa menghela napas panjang. “Oke, tapi hanya sekali.”

“Yes… Makasih banget Ness.. kamu memang yang terbaik.” Ucap Dewi sambil memeluk Nessa.

“Jaga Brandon. Awas kalau samnpai dia nangis.” Pesan Nessa.

“Siap boss..”

***

“Kamu Mesra sekali..” Suara itu membuat Dhanni mengangkat wajahnya. Di sana sudah ada Erly yang berdiri dengan senyuman mengejeknya.

“Tentu saja. Dan perlu kamu ingat, Walau Kamu Sekertaris pribadiku, Kamu tidak bisa keluar masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu dahulu.” Ucap Dhanni dengan suara penuh penekanan.

“Oh yaa… Ku pikir hubungan kita bukan hanya sekedar bawahan dan atasan.”

Dhanni tersenyum miring. “Sorry kalau menurut kamu begitu, tapi menurutku kita nggak lebih dari Atasan dan Bawahan.”

Ekspresi wajah Erly berubah seratus delapan puluh derajat. “Aku masih kurang apa Dhan?? Aku sudah berubah, lihat Aku??”

“Maaf Erly.. tapi Aku tidak pernah melihat wanita lain selain Nessa, Istriku. Kalau tidak ada yang perlu di bahas, silahkan keluar.” Ucap Dhanni kemudian.

Dengan mata berkaca-kaca, Erly akhirnya kembali keluar meninggalkan Dhanni. Lihat saja Dhan, Aku akan membuatmu jatuh kembali dalam pelukanku. Sumpah Erly pada dirinya sendiri.

Sedangkan Dhanni hanya mampu menghela napas panjang. Sungguh, Ia tidak bisa terlalu lama mempertahankan Erly di kantornya. Bisa saja wanita itu memiliki rencana buruk terhadapnya. Tapi apa alasan untuk memecatnya?? Sial..!!! Kenapa juga kemarin Ia menerima wanita itu kerja di kantornya??

***

Nessa akhirnya memasuki  Joy’s Cafe, melihat-lihat dekorasi ruangannya. Untuk tata letak dan dekorasinya, Joy’s Cafe memang lebih unggul dari pada Kafe milik Dewi, terasa lebih nyaman dan menenangkan. Nessa menghela napas panjang lalu duduk di ujung ruangan.

Seorang pelayan kemudian menghampirinya, membawakan daftar menu yang di sediakan oleh Joy’s Cafe. Nessa mengernyit, ternyata kebanyakan memang masakan dari luar yang Nessa sendiri tidak seberapa suka karena lidahnya yang cenderung menyukai masakan lokal. Akhirnya Nessa hanya memesan sebuah minuman saja.

Tidak ada daftar harga dalam menu tersebut. Sial..!!! Nessa tidak bisa banyak membantu Dewi kali ini. Nessa kembali menelusuri Kafe tersebut dengan matanya. Terasa sejuk, karena banyak sekali tanaman hijau dalam pot yang berada di dalam kafe tersebut. Hingga mata Nessa terkunci pada sesuatu.

Seorang lelaki tampan dengan pakaian Rapinya. Lelaki yang kini juga sedang menatapnya dengan tatapan tak percayanya. Lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya…

“Nessa..” Ucap Lelaki tersebut sambil berjalan menuju ke arah Nessa.

“Kak Jo..” Ucap Nessa yang kini sudah berdiri.

“Ini beneran Kamu Ness?”

Nessa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan tanpa di duga Lelaki itu langsung menghambur memeluknya. “Astaga Ness.. Aku nggak nyangka akan ketemu sama Kamu. Aku sudah nyari-nyari kamu di jogja, dan Aku bener-bener nggak nyangka ketemu Kamu di sini.”

Nessa hanya ternganga dalam pelukan Lelaki tersebut, Ia tak menyangka jika Ia Akan Di peluk sedemikian eratnya oleh lelaki lain selain suaminya sendiri. Dan parahnya, Lelaki itu adalah Cinta pertamanya dulu.

Jonathan.. Kakak kelasnya saat SMA ketika Ia sekolah di Jogja, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu lagi dalam keadaan seperti sekarang ini?? Pada saat ini??

***

Malamnya…

Dhanni kini menatap Nessa dengan tatapan anehnya, Istrinya itu terlihat lebih pendiam. Ada apa??

“Sayang, Kamu nggak apa-apa kan??” tanya Dhanni dengaan tataapan mata menyelidik.

Nessa yang tersadar dari lamunannya seakangelagapan dengan pertanyaan suaminya terebut. “Ahhh enggak Kok Kak.”

“Kamu Aneh.”

“Aneh?? Aneh kenapa??”

“Kamu jadi pendiam .”

“Mungkin bawaan hamil Kak.” Ucap Nessa sambil berdiri lalu membersihkan piring-piring kotor di meja di hadapannya. “Aku cuci piring dulu.”

Dhanni masih menatap Nessa dengan tatapan menyelididknya. Pasti Ada sesuatu yang terjadi. Nessa tidak pernah seaneh itu.

Sedangkan Nessa sendiri memilih mencuci piring-piring kotor sembari menghindari tatapan aneh dari sang suami. Dhanni benar-benar jeli. Tentu saja saat ini Nessa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya kacau karena kejadian tadi siang. Kejadian dimana Ia bertemu dengan sang mantan kekasih yang nyatanya kembali lagi untuk mencarinya.

 

*Flashback

Nessa duduk dengan tidak nyaman karena Ia merasa kini sedang dalam tatapan mata lelaki yang sedang duduk santai di hadapannya.

“Kamu semakin cantik.” Ucap Jonathan  kemudian ketika Ia menelusuri wajah Nessa dengan tatapan matanya.

“Kak Jo bisa aja.” Ucap Nessa dengan canggung. Nessa bahkan dapat merasakan pipinya memanas karena pujian dari lelaki di hadapannya tersebut.

“Aku jujur Ness.. Aku nggak pernah lihat kamu menggunakan Dress.. dan sekarang saat aku melihatnya, Kamu tampak berbeda, Apa lagi dengan rambut terurai seperti saat ini.” Jonathan masih saja memuji apa yang ada di hadapannya tersebut sambil menatapnya dengan tatapan intens.

Ya.. tentu saja, dulu, saat SMA, Nessa tak mau tau dengan penampilannya, cukup dengan kaus oblong dan celana Jeans pun Ia bisa jalan kemanapun. Tapi tentu kini sudah berbeda. Ia sudah menjadi Ibu dan istri dari seorang Dhanni Revaldi, tidak mungkin Ia berpenampilan seperti dulu. Dress feminim, sepatu hak dan kuas Make Up kini sudah menjadi teman sehari-harinya.

“Kak Jo berlebihan. Kak Jo juga berubah.”

Jonathan melirik dirinya sendiri. “Perubahanku hanya terletak pada kemeja yang sedang ku kenakan. Tidak pada semuanya seperti Kamu.”

Nessa benar-benar tidak tau harus bicara apa. Lelaki di hadapannya ini seakan tidak ingin berhenti untuk menyanjungnya. Ahhh Siall..!!! Jika seperti ini terus, Nessa yakin dirinya akan menjadi kepiting rebus, Memerah karenapujian-pujian lembut itu.

“Emm.. Ngomong-ngomong, Kak Jo kenapa bisa di sini??” Tanya Nessa mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Ini Cafe milikku Ness.. Aku baru membukanya seminggu yang lalu.”

Nessa membulatkan matanya seketika. Astaga.. yang benar saja, Jadi kafe ini miliknya??

“Kenapa Ness?? Ada yang salah??”

Nessa menggelengkan kepalanya cepat-cepat. “Enggak kok kak. Tapi, kenapa bisa di sini?? Maksudku.. bukankah saat itu Kak Jo berpamitan akan melanjutkan sekolah ke Oxford, Kenapa tiba-tiba kembali dan tinggal di jakarta??”

Jonathan tersenyum. “Jadi.. Kamu masih mengingatku?? Mengingat kepergianku??” Tanya Jonathan dengan nada menggoda.

Nessa hanya mampu menganggukan kepalanya.

“Berarti kamunmasih mengingat kalau kita masih terikat dalam suatu hubungan??”

Nessa membulatkan matanya. “Maksud Kak Jo??”

Jonathan tampak menyunggingkan sebuah senyuman. “Kita tidak pernah putus Ness.. ingat itu.”

Yaa.. Nessa tentu tau kalau mereka tidak pernah putus. Mereka berpisah karena keadaan. Jonathan yang memang sudah lulus harus melanjutkan sekolah di Oxford inggris, sedangkan Nessa masih harus melanjutkan sekolahnya di SMA yang sama.

Mereka memang sempat berhubungan jarak jauh, tapi kemudian terputus begitu saja. Nessa tidak tau karena apa Jonathan jadi jarang sekali menghubunginya. Akhirnya Nessa memilih melupakan Jonathan dan melanjutkan hidupnya di jogja. Menerima lelaki lain sebagai kekasihnya hingga Ia melupakan Jonathan lalu pindah ke jakarta dan bertemu dengan Dhanni, suaminya kini.

“Emm ku pikir saat itu kita sudah putus.” Ucap Nessa sambil tersenyum.

“Tidak menurutku Ness.. Kita masih dalam suatu hubungan. Dan Aku kembali karena ingin bertemu denganmu, dan melaanjutkan Apa yang kita mulai dulu.”

Nessa menatap Jonathan dengan tatapan tanda tanya. “Maksud Kak Jo??”

“Aku pulang ke Jogja setahun yang lalu. Dan mencarimu di sana. Rumah Opa dan Oma mu kosong, tidak berpenghuni. Tetangga kalian menyebutkan jika kalian pindah ke jakarta, tapi mereka tidak tau tepatnya di mana. Akhirnya Aku memutuskan pindah ke jakarta. Dan tinggal dengan Kakak ku di sini, sambil sesekali mencarimu. Dan Aku tidak menyangka jika kita benar-benar bertemu lagi.”

“Yaa.. Kita sudah bertemu lagi. Jadi…” Nessa menghentikan kalimatnya karena Ia benar-benar terkejut ketika Jonathan tiba-tiba menggenggam kedua telapak tangannya yang berada di atas meja tepat di hadapan mereka.

“Ness.. Aku mencarimu karena aku ingin kita kembali seperti dulu.. Aku ingin Kamu menjadi kekasihku lagi dan Aku akan segera melamarmu menjadi istriku.”

Nessa benar-benar tercengang dengan apa yang Ia dengar. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengucapkan kalimat seperti itu padanya secara terang-terangan?? Apa Ia masih terlihat seperti seorang Gadis?? Astaga.. Ia sudah bersuami, sudah memiliki jagoan kecil dan kini sedang hamil anak kedua, Bagaimana mungkin mantan pacar nya itu terang-terangan ingin melamar menjadikan Ia sebagai istrinya??

 

-TBC-

Hayooo siapa yang udah penasaran ama kelanjutannya?? wkwkwkwkwk

Advertisements

4 thoughts on “The Married Life (Lady Killer 2) – Chapter 2 (Bertemu Dia)

  1. waduhhhh gk dari dhanni gk dari nessa saaa sama memiliki penggoda
    early dan jonathan
    harusnya nessa jujur aja nich kalo dia udah menikah dan memiliki anak
    masalah baru lagi akan dimulai

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s